"Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin."

― Mother Teresa ―

.

.

Disclaimer:

Saint Seiya © Kurumada Masami

Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshigori

The Two of Us © AkaKuro815

Alternative Universe

Warning :

Possible OOC, Typo's

Xoxoxo

Sesuai dengan apa yang dikatakan Manigoldo, Defteros pun menarik dirinya menuju panti asuhan tempat dimana Kardia tinggal. Dengan modal bertanya kesana-kemari akhirnya ia sampai di depan sebuah bangunan yang desain interiornya lebih mirip dengan gereja.

Besi pagar yang berkarat serta warna cat tembok yang mulai terkelupas menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah dimakan usia. Biar begitu pekarangannya terawat dengan begitu rapi, warna hijau tanaman yang mendominasi membuat kesan nyaman tersendiri.

Setelah membuat sedikit kebisingan dengan terus memanggil siapa pun penghuni bangunan itu akhirnya seorang wanita tua keluar dan mempersilahkannya untuk masuk. Tentu setelah dia memperkenalkan diri dan memberitahukan maksud dan tujuannya berkunjung.

Ini kali pertama Defteros mengunjungi tempat seperti itu. Ia sempat berdiam diri di ambang pintu masuk memperhatikan isi bangunan tersebut. Begitu sederhana, jauh dari kesan mewah seperti rumahnya.

Hanya ada beberapa anak-anak di dalam, ia sempat menghitung ada sekitar tujuh orang. Kesan hangat begitu terasa ketika langkah kakinya semakin membawa dirinya masuk. Inikah kehangatan sebuah keluarga, hal yang tak pernah dirinya rasakan di rumah mewahnya?

"Nak, Kardia ada di dalam ruangan ini. Silahkan temui dia dan anggaplah seperti rumah sendiri. Tidak usah sungkan."

Lamunan Defteros buyar. Ia segera mengangguk singkat dan mengucapkan terimakasih sebelum masuk ke ruangan berpintu kayu usang tanpa warna di hadapannya.

xoxo

"Ku dengar dari Ibu panti kalau kau datang mengunjungiku beberapa hari yang lalu."

Defteros mengangguk tanpa melihat Kardia yang duduk tepat di sebelahnya. "Ya, aku datang."

"Aku terkesan 'Anak Mama' sepertimu bisa menemukan tempat tinggalku." Jelas itu adalah kalimat ejekan. Kardia memang menganggap Defteros itu hanya anak Mama yang tersesat sejak pertemuan pertama mereka.

Tentu hal itu menuai protes dari Defteros. Tidak terima dianggap anak manja oleh Kardia terus-menerus hanya karena dia berasal dari keluarga kalangan atas. Dan itu malah membuat Kardia tertawa.

Selepas tawa Kardia yang sudah tak terdengar lagi suasana di antara mereka berdua pun tiba-tiba menjadi hening. Memang tidak ada atmosfir berat yang tercipta, hanya saja cukup membuat canggung di antara keduanya.

"...tentang keada—"

"—itu Degel!" kalimat Defteros terputus. Entah Kardia sengaja atau tidak, yang jelas sahabatnya itu mencoba menghindar. Itu yang dia pikirkan.

Kardia melompat dari tempatnya terduduk dan berdiri tegak membelakangi Defteros. "Bahkan seorang petarung terkuat pun enggan untuk membicarakan kelemahannya."

Kardia tersenyum sesaat ke arah Defteros sebelum berlari mengejar bocah lainnya yang berambut hijau. Mengejar di sini memang dalam arti sesungguhnya, karena bocah itu langsung melarikan diri setelah tahu ada 'ancaman' yang datang mendekati dirinya.

Lalu Defteros? Hanya berdiam diri memandangi bocah Scorpio yang sudah memulai aksinya menjahili si bocah bersurai hijau yang diketahui bernama Degel.

xoxo

Tidak seperti biasanya Defteros mau menghabiskan waktunya di perpustakaan rumahnya. Bahkan Aspros sendiri sampai heran dibuatnya karena sudah hampir dua jam adik kembarnya itu tidak beranjak dari kursinya dengan beberapa tumpuk buku di meja serta beberapa buku yang dibiarkan terbuka.

Penasaran sang Kakak pun menghampiri sang adik. Mencari tahu hal apa sebenarnya yang membuat adik kecil tercintanya yang dikenal benci belajar mau berkutat dengan buku-buku tebal. Bahkan sambil memasang wajah serius.

Kedua alis Aspros tertaut melihat apa buku yang sedang Defteros baca. Bisa dibilang itu buku yang terlalu berat untuk anak-anak seumuran mereka. Ehem! Sebenarnya tidak terlalu berat untuk Aspros yang terkenal jenius.

"Kenapa kau membaca buku-buku seperti itu? Setahuku tidak ada riwayatnya keluarga kita memiliki penyakit bawaan lahir seperti jantung."

Defteros sedikit terkesiap karena Aspros berbicara tepat di sebelah telinga kanannya. Terlebih lagi ia memang sedang dalam mode terfokus dalam hidupnya. Terdengar berlebihan tapi itulah kenyataannya.

"Temanku." Ucap Defteros singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

Aspros terdiam sesaat memandangi sosok adiknya. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah membaca buku-buku itu?"

"Belum tahu."

Sudah Aspros duga dari sifat Defteros, jawaban seperti itu lah yang akan ia dengar. Aspros tersenyum, memeluk dengan mengalungkan kedua lengannya pada leher Defteros dari belakang. Menyandarkan dadanya pada punggung Defteros. "Temanmu itu pasti sangat berharga. Aku jadi iri padamu, adikku sayang."

Tidak ada ucapan maupun gerak-gerik akan protes dari Defteros saat Aspros melakukannya. Keintiman kedua anak kembar itu memang sudah bukan hal yang asing lagi. Sejak dulu mereka memang selalu seperti itu. Saling mengungkapkan rasa sayang satu sama lain tanpa malu-malu.

xoxo

Sejak kejadian di siang hari waktu itu Defteros memang tak pernah lagi sekali pun membahas tentang kondisi Kardia. Namun rasa penasarannya mengalahkannya, membuatnya mencari tahu sendiri tentang kondisi sahabatnya. Karena ia peduli. Dan sampailah ia pada satu kenyataan bahwa Kardia menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir.

Dari sifat Kardia Defteros sudah sangat mengerti alasan Kardia tak mau membicarakan hal tersebut padanya. Ia tak pernah sekali pun mau terlihat lemah, karena itu adalah sifat alami Kardia.

"Aku heran kenapa Degel suka membaca buku-buku seperti ini." ucap Kardia yang tengannya sibuk membolak-balikkan tiap lembar halaman buku di tangannya tanpa membaca isinya sedikit pun.

"Lalu kenapa itu ada ditanganmu?" Tunjuk Defteros pada benda yang dimaksud.

Kardia terkekeh kecil, "Tadi pagi saat aku hendak menghampiri Degel ia melemparku dengan buku ini sebelum berlari."

"Lalu?"

"Ya aku pungut saja. Biar pun tidak berguna untukku karena aku memang tidak bisa membacanya."

"Sungguh?! Kau tidak bisa membaca?!" tanya Defteros dengan nada suara sedikit tinggi.

Kardia mengangguk cuek. "Sejak dulu aku selalu kabur jika diajak belajar."

Memang benar Defteros itu benci dengan hal yang dinamakan belajar. Tapi ia tidak menyangka akan menemukan seseorang yang ternyata lebih bodoh darinya.

"Tsk! Kau ini. Ayo ikut aku!" ucap Defteros seraya berdiri dan menarik tangan milik Kardia.

"Tunggu!"

Defteros berhenti, lalu menatap Kardia. "Apa?"

Bocah ber-scraft merah itu terlihat mengerutkan keningnya. "Kau mau membawaku kemana?"

"Ke rumahku, untuk mengajarimu membaca tentu saja!"

"APA?!"

xoxo

"Mungkin kau harus melihatnya." Aspros menyodorkan koran ditangannya.

Defteros langsung menerima koran tersebut dan segera melihat isi halaman yang dimaksud oleh Aspros. Tidak ada perubahan dari ekspresi wajahnya, hanya saja dari manik kebiruan miliknya terpancar sebuah harapan baru.

Segera setelah itu Defteros menghambur memeluk sang Kakak. Mencium keningnya dengan penuh suka cita sebelum berlari menuju pintu keluar.

"Terimakasih Aspros!"

.

"Kardia!"

Kardia yang tengah mengendap-endap mencoba menangkap seekor burung merpati layaknya seekor kucing langsung terlonjak kaget. Alhasil burung merpati itu pun terbang dari tempatnya berpijak. Membuat Kardia menggeram frustasi dicampur kesal.

"Apa?!"

"Ayo pergi berpetualang dengaku!"

"Hah?"

TBC

.

.

.

Yosh! Chapter 2 update! ^^

Entah harus ngomong apa, yang jelas akhirnya saya nggak mager buat ngetik lagi. Berkah Ramadhan mungkin. /halah

Tak bosannya saya ucapkan terimakasih buat para readers yang masih sudi membacanya dan saya nggak akan minta maaf. (?)

Ya udah ya, see you next chapter!