Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshigori
The Two of Us © AkaKuro815
Alternative Universe
Warning :
Possible OOC, typo's, alay detected
Xoxoxo
Tawa Kardia meledek saat setelah ucapan naif Defteros. Ya, bagi Kardia itu terlalu naif untuk seukuran bocah seperti Defteros yang merupakan anak rumahan dan tak tahu betapa kerasnya dunia di luar sana.
"Apa yang lucu? Tidak ada hal yang perlu ditertawakan di sini."
Hening.
Dari nada bicara Defteros bisa dipastikan bahwa ia sangat lah serius. Tak ada keraguan atau pun candaan di dalamnya.
Kardia menghela napas berat sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia heran dari mana Defteros mendapatkan ide seperti itu. "Lupakan soal berpetualang itu, Defteros. Kau terlalu naif, sobat." Menepuk bahu sahabatnya itu Kardia pun berlalu.
Kesal, Defteros pun menjambak syal yang biasa melingkar di leher bocah Scorpio itu dengan sekuat tenaga. Membuat yang bersangkutan terjerembab ke belakang. Untung saja Kardia memiliki keseimbangan tubuh yang cukup bagus, tak merelakan pantatnya mencium tanah dengan tidak elitnya. Belum lagi rasa tercekik yang disebabkan jeratan syal yang ditarik dengan tidak manusiawi.
Maka dengan sigap Kardia berbalik dan langsung mencengkram kerah baju Defteros. Membuang jarak di antara mereka berdua. Membiarkan dua pasang manik kebiruan yang berbeda itu saling menatap dan mengintimidasi satu sama lain. Tidak dipungkiri perbuatan Defteros tadi itu memicu amarah Kardia yang notabennya memang gampang meledak.
"Kenapa? Mau berkelahi denganku?"
Kardia melepaskan cengkramannya dibarengi sebuah decakan kecil yang meluncur dari mulutnya. "Lakukan sesukamu."
Xoxo
Hari masih sangat lah pagi, tetapi Aspros sudah terlihat sibuk berlari kesana-kemari dengan secarik kertas di genggamannya. Bagaimana ia tidak panik mengetahui adik tercintanya kabur dari rumah hanya dengan meninggalkan selembar surat dan tidak meminta izin padanya terlebih dahulu.
Baiklah Aspros, dalam catatan sejarah mana pun tidak ada ceritanya orang yang akan melarikan diri meminta izin terlebih dahulu. Terkadang keposesifan dirinya terhadap Defteros bisa menjatuhkan IQ-nya yang menjulang menjadi jongkok dalam sekejap.
Awalnya ia berpikir Defteros sengaja meninggalkan 'surat cinta' di atas meja pribadinya sama seperti saat mereka masih belum menginjak usia belasan. Jujur saja Aspros merasa rindu dengan isi-isi tulisan sayang Defteros untuk dirinya yang terkadang disertai gambar berbentuk hati. Bahkan pernah beberapa kali adik kembarnya itu membuat formulir pernikahan untuk mereka berdua.
Namun semakin mereka beranjak dewasa Defteros sudah tak pernah lagi melakukannya karena ia sadar bahwa tindakannya itu salah dan membuatnya bergidik ngeri ketika mengingat-ngingatnya kembali. Berbeda dengan Aspros yang memang sejak awal sangat senang menerima hal semacam itu dari Defteros.
Kembali ke permasalahan utama, Defteros menghilang!
Demi para Dewa – Dewi Yunani yang senangnya pamer aurat (setidaknya itu kesimpulan yang ia dapat dari buku-buku yang ia baca), Defteros menghilang! Adik kecilnya menghilang!
Disamping bagaimana caranya nanti ia memberitahukan kedua orang tuanya tentang hal ini, Aspros lebih memikirkan mengapa adiknya yang ia anggap 'imut' itu bisa melakukan hal semengerikan ini. Parahnya lagi kenapa ia tidak diajak?! Padahal dulu Defteros tidak pernah bisa lepas dari dirinya. Iblis macam apa yang telah merubah adiknya hingga sejauh ini?!
"Baik. tenangkan dirimu, Aspros. Ini tidak separah saat Sisyphus mengalahkanmu bermain sambung kata— Tunggu, ini lebih buruk!" teriakan frustasi pun menggema ke seluruh ruangan. Membuat beberapa pelayan yang lewat di luar ruangan mengelus dada kaget.
Aspros, sebelas tahun. Diduga –dipastikan- mengidap brocon akut stadium akhir.
xoxo
Melompat dari jendela dengan sebuah ransel di punggung, menghampiri kawannya yang tengah menunggu tak jauh dari balik jeruji pagar yang berkarat. Kardia tak punya pilihan. Membiarkan Defteros pergi ke dunia luar sana sendirian sama saja merelakan sahabatnya itu untuk menantang maut.
"Aku tahu ini, kau pasti akan pergi."
Kardia hanya berdecak, sama sekali tak menggubris ucapan Defteros. Mengangkat dagunya kilat mengisyaratkan untuk segera berangkat. Mengerti, Defteros pun segara menyusul Kardia hingga mereka berjalan bersebelahan.
"Setelah ini aku pastikan namaku akan terkenal karena menjadi tersangka penculikan seorang anak bangsawan."
xoxo
Matahari sudah tinggi. Menandakan sudah hampir setengah hari Defteros dan Kardia habiskan untuk berjalan kaki. Bukannya mereka tak ingin menaiki kendaraan, hanya saja di zaman mereka itu kendaraan umum masih sangat lah jarang. Hanya beberapa kereta kuda yang mereka lihat berlalu-lalang, itu pun hanya sesekali.
Merasa lelah, dua bocah itu pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Bersandar pada sebuah batang pohon besar yang rindang. Melindungi diri dari panasnya sengatan sinar matahari. Hanya sebotol air yang secara bergantian mereka gunakan untuk melepas dahaga setelah berjalan cukup jauh.
"Jadi, kemana tujuan kita sebenarnya?"
Setelah meneguk air bagiannya dan kembali menutup botol yang masih menyisakan setengah isinya, lalu memasukkannya ke dalam ransel baru lah Defteros menjawab. Dengan sebuah peta yang direntangkan di atas rerumputan Defteros mulai menjelaskan secara rinci dengan sebisa mungkin menggunakan kalimat yang mudah dimengerti oleh Kardia.
Namun percuma saja, Kardia lebih bodoh dari perkiraannya. Bahkan bocah Scorpio itu malah banyak mengeluarkan protes, alih-alih tak mau benar-benar dikira dirinya sebodoh itu.
"Baik, terserah. Yang jadi pertanyaanku sekarang untuk apa kau mengajakku pergi sejauh itu, huh?"
Jeda sejenak sebelum Defteros menjawab, membuat kardia menautkan kedua alisnya. "Kau akan tahu nanti."
xoxo
Merelakan sekantung uang koin yang entah isinya berapa reichsthaler, Defteros dan Kardia akhirnya mendapat sebuah tumpangan di karavan pedagang yang memang sedang melakukan perjalanan ke arah yang sama dengan mereka.
Awalnya Kardia protes pada Defteros karena ia menganggap bahwa pedangan tersebut hanya ingin menipu mereka. Memanfaatkan dua bocah lugu untuk mendapatkan uang mereka yang bisa dibilang tidak sedikit.
"Yang terpenting sekarang kita bisa santai di karavan ini." ucap Defteros yang tengah merapihkan isi tasnya.
Sebuah decakan kecil meluncur dari mulut Kardia seraya merebahkan dirinya. "Hidupmu mudah sekali ya, 'tuan muda'."
Tak menggubris ejekan Kardia Defteros hanya terdiam. Masih sibuk mengatur barang bawaannya sendiri.
xoxo
Aspros tertunduk diam. Menghadapi ayahnya memang bukan keahliannya. Terlebih jika beliau sudah marah. Mengajukan pembelaan diri pun akan menjadi percuma. Ayahnya tidak akan menerima alasan dalam bentuk apa pun. Jika di matanya itu adalah salah maka itu salah, tak perlu ada alasan yang merubahnya menjadi benar. Karena semua tindakan yang dilakukannya adalah absolut.
Siku tertumpu pada pinggir kursi sedangkan punggung tangan dijadikan sandaran kepala, pria yang merupakan gambaran dari sosok Aspros dewasa itu menatap putranya intens. Tak membiarkan bocah yang mirip dengannya itu tak bergeming.
"Jadi, bagaimana bisa Defteros melakukan hal se-bar-bar ini, Aspros?"
Diam. Aspros tak dapat menjawab. Kedua tangan terkepal di atas paha dengan wajah tertunduk. Toh jika ia menjawab pun hasilnya akan tetap sama. Defteros akan terkena masalah besar, begitu pula dengan dirinya sendiri.
"Aspros, aku tak mengajarkanmu untuk mengabaikan orang yang derajatnya lebih tinggi darimu." Tak ada nada yang digunakan dalam ucapannya, dingin dan menusuk.
Sepersekian menit pria itu ikut terdiam, menunggu respon sang putra. Mengetahui bahwa putranya akan tetap seperti itu maka ia hanya bisa membiarkannya. Namun salah jika kalian menganggap dua kembar itu sudah terlepas dari masalah. Justru masalah besar sudah menunggu mereka, terlebih untuk orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan masalah ini.
Bangkit dari tempatnya terduduk, pria itu berbalik membelakangi Aspros yang bergeming di tempat. "Jika itu jawabanmu, baiklah. Mungkin kompleks panti asuhan kumuh di pinggir kota itu bisa menjawabnya."
xoxo
Sudah dua hari karavan yang ditumpangi Defteros dan Kardia tidak melanjutkan perjalanan. Para pedagang tersebut malah bermain-main dengan membawa banyak wanita ke perkemahan mereka. Mau tak mau dua bocah di bawah umur seperti mereka harus memisahkan diri, mendirikan kemah jauh dari para orang dewasa yang brengsek itu.
Berbaring dengan hanya beralaskan karpet tipis serta selimut seadanya tentu tidak melindungi keduanya dari cuaca dingin yang menusuk. Nyala api unggun yang dibuat Defteros pun belum cukup untuk menghangatkan badan mereka.
Defteros yang merasa sedikit tak nyaman akhirnya bangkit, duduk menatap ke arah perkemahan para pedagang yang tampak begitu riuh. "Tsk! Mau sampai kapan para orang dewasa itu melakukan hal tak berguna seperti itu?"
Meraih ranting, Defteros pun merapihkan bara api yang mulai berantakan. Berusaha membuatnya untuk tetap menyala. "Oi, Kardia! Setidaknya bantu aku."
Tidak ada jawaban. Yang bersangkutan tetap bergeming pada posisinya yang terbaring meringkuk membelakanginya.
Setengah jengkel Defteros mendekatkan diri pada Kardia. Menarik kain tipis yang menyelimuti bocah berambut biru berantakan itu. "Oi!"
Hanya sebuah gerakan kecil yang tak berarti dari Kardia sebagai respon dari tindakan Defteros. Merasa diabaikan Defteros pun menyentuh pipi Kardia. Niatnya ia ingin menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu, namun ia urungkan ketika merasakan panas menyengat menyentuh kulitnya.
"Kardia? Kau baik-baik saja? Oi! Kardia?"
Tetap tak ada respon jawaban. Yang terlihat hanya gerak teratur yang biasa disebabkan ketika sedang bernapas. Setelah Defteros perhatikan keringat sudah membanjiri tubuh bocah yang lebih kecil darinya itu. Satu kesimpulan yang ia dapat, Kardia terkena demam.
"Shit!"
Segera bocah berkulit tan itu berlari menghampiri kemah para pedagang setelah menyelimuti tubuh sahabatnya untuk meminta bantuan. Ia yakin bahwa mereka pasti memiliki sesuatu untuk menurunkan panas tubuh Kardia.
.
"Ada apa, bocah?" Pria itu memandang ke arah Defteros remeh. Seakan tidak peduli, ia kemudian kembali menenggak minuman keras dari botol yang dipegangnya, membelai manja gadis yang ada di pangkuannya.
Tentu saja hal itu membuat bocah seperti Defteros jengah. Belum lagi kelakuan orang dewasa lainnya yang ada di sana.
"Aku membutuhkan sesuatu untuk menurunkan panas temanku."
Namun apa yang Defteros dapat? Hanya gelak tawa yang terdengar. Merasa akan percuma jika ia melawan akhirnya tanpa permisi lagi Defteros masuk ke salah satu kereta kuda penyimpanan barang. Mencari wadah serta kain dan air untuk kompres.
Merasa sudah menemukan semua hal yang ia butuhkan Defteros pun segera beranjak keluar. Namun sesaat kemudian matanya teralih pada satu kotak berukuran sedang berbentuk kotak peti harta karun di salah satu sudut ruangan.
TBC
.
.
.
Chapter 3 apdet!
Terimakasih buat para readers yang sudah sudi membaca, mem-follow, mem-favorite dan me-review fanfic ini. Saya sangat menghargai semuanya.
Maaf lama dalam meng-update. Dan maaf juga kalau alurnya kecepetan atau setiap chapter terlalu singkat.
Yosh! Segitu aja. See you next chapter!
Reichsthaler : Mata uang di Berlin abad itu ketika masih dalam kawasan pemerintahan Prusia.
