AKU bingung. Takut. Tersesat. Entah di mana aku sekarang. Yang jelas, aku merasa asing mengenai tempat ini. Apa lagi tak ada siapa-siapa di sekitarku. Semua gelap. Sunyi. Sepi.
"Hei, siapa di sana?" suara lantang itu membelah kesunyian tempat ini. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tak menemukan pemilik suara itu. Mendadak aku merinding. Apa aku berhalusinasi? Atau...
"Hantu!" teriakku ketakutan sambil berlari tak tentu arah. Pikiranku kalut. Yang terpenting adalah keluar dari tempat mengerikan ini, tak peduli dengan penampilanku sekarang.
Tiba-tiba sebuah cahaya menerangiku. Cahaya senter. Mataku menyipit karena silaunya.
"Ternyata kau. Jangan panik. Ini aku," suara itu menenangkan dan bersahabat, seolah-olah kami telah kenal sangat lama. Yang benar saja. Aku tahu, aku tak kenal siapapun di tempat ini. Boro-boro kenal, datang saja baru kali ini.
Tunggu. Aku kenal suara itu. Bukankah...
"Mayor Thomas," jeritku lega. Akhirnya orang yang kucari-cari ada di hadapanku sekarang. Dalam hati aku mengucap syukur berkali-kali.
Meski hanya diterangi cahaya senter, aku dapat melihat orang yang baru saja kusebut namanya tersenyum. "Kau sudah datang rupanya. Kau tahu, kau tersesat di rumahmu sendiri."
Aku melongo. Tersesat di rumahku sendiri? Kukira tadi aku berada di tempat asing. Syukurlah aku berada di rumah nyamanku. Namun bukankah aku sudah meninggalkan rumahku sendiri sejak satu hari yang lalu? Bukankah sekarang aku berada di tempat yang benar-benar asing?
Seakan Mayor Thomas membaca pikiranku, ia menuntunku ke depan sebuah rumah tua. Ia menoleh dan berkata pelan, "Ini rumahmu. Selamat datang kembali."
Aku mengerutkan alis. Kurasa ada yang salah dalam ucapannya barusan. "Selamat datang kembali?" Aku menekankan kata terakhirnya.
"Ah ya, aku lupa bercerita. Kau pernah datang ke sini saat kau masih kecil. Aku yakin kau sama sekali tidak ingat. Dan soal rumah ini, ini rumahmu. Kakekmu yang mewariskannya padamu."
"Mengapa Kakek memilih aku menjadi ahli warisnya?" tanyaku.
"Entahlah. Mungkin karena kau seorang pekerja keras?" tebaknya.
Aku mengangkat bahu, tak peduli dengan hal semacam itu. "Lalu, apa yang harus kulakukan di sini?" tanyaku pura-pura bosan.
Mayor Thomas tersenyum lebar. "Rumah ini sudah lama tak berpenghuni, sehingga tak terawat. Tugasmu adalah 'menghidupi' rumah ini. Lihat, " ia mengarahkan senternya ke suatu tempat yang dipenuhi rumput, bebatuan, dan kayu, "Kau harus membersihkannya dan menanaminya dengan berbagai tanaman."
"Aku? Tapi mengapa harus aku?"
Ia mengangkat bahu. "Jika kau butuh bantuanku, datanglah ke rumahku. Selamat malam, Claire." Dan ia pergi meninggalkan aku sendirian di rumahku.
Ragu-ragu aku membuka pintu dan menemukan isi rumah yang cukup rapi. Hanya saja debu ada di mana-mana. Aku menggerutu dalam hati. Tentu saja kau yang harus membersihkannya, bodoh!
Dua jam kemudian, aku terduduk di tempat tidur dan menatap puas isi rumah. Sudah bersih. Rumah ini sederhana, tidak terlalu luas, namun cukup nyaman. Kukira aku akan betah tinggal di sini dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.
Pada hari pertama di tahun yang baru, aku mendapatkan kehidupan yang baru. Benar-benar baru. Aku mendapatkan kehidupan yang aku inginkan.
Dear diary,
Aku tak tahu mengapa, tapi hari ini aku punya firasat bagus. Tidak biasanya aku dapat memasak nasi dengan kelembutan yang pas. Tidak biasanya aku menerima pujian dari bos galak itu berkali-kali. Dan tidak biasanya aku mendapat senyum dari Rick, seorang yang cool dan sudah kusukai sejak lama. Namun aku yakin bukan hal-hal itu yang akan membuat hariku menjadi indah. Pasti ada puncaknya. Itu pasti.
Sejak kecil aku ingin memiliki rumah di desa, dengan lahan pertanian yang luas. Keinginan yang aneh, bukan? Ya, aku sadar itu. Ah ya, jujur saja, aku tak tahu mengapa aku memiliki keinginan seperti itu. Mungkin aku mempunyai kenangan masa kecil tentang itu.
Dan kenangan itu ikut terhapus bersama kenangan masa kecilku yang mengerikan lainnya.
KRING!
Ah, suara telepon itu mengganggu saja.
"Halo?" sapaku tak bersemangat.
"Halo? Apa saya sedang berbicara dengan Claire?" sahut suara di seberang sana. Suara yang asing di telingaku.
"Ya, benar. Maaf, saya sedang berbicara dengan siapa?"
Hening sebentar. "Saya Mayor Thomas."
Aku mengerutkan kening. Namanya saja tak pernah kudengar. Namun ketika ia bercerita hingga ia menyudahi pembicaraannya, aku tahu, hidupku akan berubah sebentar lagi.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku mengedarkan pandang ke setiap sudut rumah, dan menemukan sebuah televisi kecil. Mungkin menonton TV sedikit menghabiskan waktu.
"Langit akan cerah di pagi hari dan berlanjut hingga hari berakhir."
Laporan cuaca? Membosankan.
"Spring 1. Acara musim ini: Spring 18..."
Tidak begitu penting bagiku. Aku dapat melihatnya di kalender.
"Hidup di pertanian..."
Ah, tidak. Aku sudah mempelajarinya bertahun-tahun.
"Ini adalah permainan Tahun Baru..."
Mm... Terlihat seru.
Aku bermain cukup lama dan mendapatkan hadiah yang kuinginkan, seperti rumput-rumput yang sepengetahuanku dapat dijual.
Kukira aku harus keluar rumah dan berkenalan dengan penduduk kota. Aku membuka pintu dan...
"Selamat pagi, Claire. Saya akan menghantuimu tiap hari," lalu sosok itu tertawa.
Aku bingung. Siapa lagi sekarang?
"Perkenalkan, namaku Zack. Masalah kalimat pembuka tadi, aku hanya bercanda. Tapi kalimat itu tidak sepenuhnya salah," kata sosok yang mengaku bernama Zack itu.
"Baiklah. Langsung saja katakan apa tujuanmu datang ke rumahku?" sahutku sedikit ketus. Biasa, untuk menjaga wibawa.
Mata Zack membelalak. "Hei, jangan galak seperti itu. Aku tak akan membantumu bila begitu."
Aku melunak. "Oke, sekarang katakanlah. Aku tak punya waktu banyak."
Ia mengacungkan ibu jarinya. Lalu ia berceloteh bagaimana caranya bertani. Astaga, masakah aku harus mendengarkan pelajaran ini lagi?
Ia masih terus menjelaskan dan ini membuatku kehilangan kesabaran. "Ayolah Zack, aku sudah bosan mendengarnya."
Zack mengerutkan alis. "Bosan? Ini pelajaran untuk para petani. Aku lihat kau tidak tampak seperti orang petani."
Mendengar ucapannya, aku melotot galak. "Hei, jangan meremehkanku! Aku ini alumnus dari fakultas pertanian terkemuka di kotaku."
Zack ber-oh panjang-lebar. "Oke, inilah yang dimaksud dalam kalimat pembukaku tadi."
Kemudian Zack menggiringku ke kotak misterius yang sejak kemarin membuatku bertanya-tanya. Ternyata kotak itu bernama Shipment Box. Ah, dari namanya aku sudah dapat menebak fungsinya. Sepertinya untuk menaruh benda-benda yang dapat dijual.
"Kau harus menaruh hasil pertanianmu di sini. Lalu benda-benda seperti rumput dan jamur yang dapat kau temukan di hutan, itu juga harus kau taruh di sini. Apapun yang bisa dijual harus kau taruh di sini."
Benar, bukan? Bedanya, penjelasanku lebih singkat dari pada penjelasan Zack yang terlalu bertele-tele.
"Aku datang ke sini pada pukul lima sore untuk mengambil hasilnya," akhirnya Zack menutupi pembelajaran singkatnya hari ini dan pergi begitu saja. Aku merutuk dalam hati.
Aku mengedarkan pandanganku pada lahanku. Melakukan study tour sendirian tidaklah terlalu buruk.
Akhirnya sampai di tempat terakhir. Doug's Inn. Bukan karena tempatnya terletak di ujung kota, namun karena jam bukanya paling lama dibandingkan tempat yang lainnya.
Aku sudah mengenal banyak orang. Tak kusangka, mereka menyambutku dengan baik. Bahkan beberapa tempat menyediakan keperluan bertani yang sangat kubutuhkan dengan harga terjangkau. Tidak salah aku menerima penawaran Mayor.
Aku sudah membeli biji-bijian di Supermarket dan di rumah Zack. Tentu saja bukan Zack yang berjual, aku yakin ia tidak ingin bersusah-susah seperti itu. Seseorang yang memakai baju berwarna kuning, bertopi, dan berkacamata yang menjual biji-biji yang tidak dijual di Supermarket itu. Dari peta aku tahu bahwa seseorang itu bernama Won.
Oh ya, tidak kusangka aku bertemu Rick di sini. Kami berbincang-bincang cukup lama. Kukira ia menjadi pegawai tetap di perusahaan tempat aku bekerja dulu, tetapi katanya ia tidak tertarik. Ia lebih suka memelihara ayam di desa ibunya. Maksudku di Mineral Town, tempat aku tinggal sekarang.
Kau tahu, aku semakin menyukainya. Ia memiliki karisma dan sangat menawan di mataku. Ia sangat tampan dan senyumannya manis sekaligus hormat. Aku yakin ia menjadi idola di kota ini. Tapi ada yang janggal. Sedari tadi aku tak melihat seorang gadis berada di sisinya.
"Kau masih tersedia?" tanyaku di sela pembicaraan kami.
"Tersedia? Apa maksudmu?" ia balik bertanya.
Oke, ia tak mengerti maksudku. Tentu saja. Itu bahasaku, hanya aku yang mengerti. "Are you still available? Bukankah arti dari 'available' adalah tersedia?"
Rick tertawa terbahak-bahak. "Ah, kau sangat lucu, Claire. Tapi, mengapa kau bertanya seperti itu? Kau tertarik padaku?"
Saat itu wajahku bersemu merah. "Tidak. Tidak. Aku hanya ingin bertanya."
Lalu Rick tersenyum. Astaga, itu membuatku makin meleleh. "Yes. I'm available. Single."
Tak kusadari aku mengembuskan napas lega.
Aku tersenyum mengingat kejadian tadi siang. Lalu aku membuka pintu Doug's Inn dan terkejut melihat tempat yang dipenuhi banyak orang.
"Hai Claire. Kami selalu berkumpul di sini saat malam," jelas Saibara yang rupanya dapat menjawab pertanyaan yang ada di pikiranku.
Aku berjalan menuju meja kasir dan membeli makanan. Sayang sekali makanan tersebut tak dapat kubawa pulang, melainkan harus dimakan saat itu juga.
"Hai, namaku Ann. Kau pasti Claire," aku mendengar sebuah suara berasal dari sampingku. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis yang mirip dengan pemilik sekaligus kasir di tempat ini.
"Hai, salam kenal. Bukankah ini tempat penginapan?" aku mengutarakan pertanyaan lain yang belum terjawab sejak tadi.
"Ya. Tempat penginapan ada di atas. Mau kuantar?" tawar gadis itu.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Terima kasih," aku menolak tawarannya secara halus lalu menaiki tangga menuju tempat penginapan.
Ketika menginjak lantai dua dari Doug's Inn, aku terheran-heran. Hanya ada dua kamar? Bagaimana bisa?
Untuk memuaskan rasa penasaranku, aku mengetuk pintu terdekat dari tangga. Karena tak ada sahutan dari dalam, aku membukanya secara perlahan. Tidak ada orang? Pemilik kamar ini tidak takut bila pencuri masuk ke dalam kamarnya?
Aku meneliti ruangan itu. Kurasa ini adalah kamar seorang gadis. Tidak. Di sini terdapat tiga buah kasur, mungkin kamar tiga gadis.
Karena tidak ada siapa-siapa yang dapat kuajak bicara, maka aku berjalan menuju kamar sebelah. Aku mengetuk pintu dan suara pria menyuruhku masuk. Aku membuka pintu dan mendapati dua orang yang tak kalah tampan dengan Rick tengah memandangiku. Hanya saja yang satu memandangiku dengan galak dan yang lainnya dengan tatapan bingung.
"Kamarmu ada di sebelah! Kau salah alamat," seru pria yang memandangku dengan galak. Aku langsung mengkerut.
"Gray, jangan kasar terhadapnya. Lagi pula ia bukan turis, ia adalah gadis bernama Claire yang diceritakan Mayor," pria yang satunya membelaku. Ah, pria galak itu bernama Gray rupanya.
Tunggu. Nama itu tidak terdengar asing bagiku. Wajahnya juga sepertinya sudah pernah kukenal. Sebenarnya, siapa dia?
"Siapapun dia, itu tak penting bagiku. Sekarang kau keluar dari kamarku, kau salah alamat!" bentaknya.
Aku melotot. "Kau tak berhak mengusirku. Aku mempunyai hak untuk datang ke sini."
"Hak untuk apa? Menggoda kami, begitu?" ia tak mau kalah rupanya.
"Asal kau tahu, aku tak serendah itu. Jangan menuduh sembarangan," aku tidak terima ia meremehkanku.
Pria bernama Gray itu berdecak kesal. "Lalu apa? Bila tidak penting, pergilah. Kau menggangguku."
Aku dibuat jengkel olehnya. "Aku hanya ingin berkenalan dengan kalian. Apa itu salah?"
Gray mendesah keras. "Namaku Gray. Puas. Sekarang pergilah!" usirnya.
"Sudahlah Gray. Kau membuatnya sakit hati. Bisakah kau menghapus sifat jelekmu itu?" tegur pria yang belum kuketahui namanya itu. Ia baik, tidak seperti Gray yang bermulut pedas dan super galak itu.
"Hei Claire, namaku Cliff. Bisakah kita bicara di luar saja? Tampaknya Gray memang tak ingin diganggu," kata pria itu kepadaku yang langsung membawaku keluar kamar.
Cliff menatapku dengan serius. "Semua kata-kata Gray, tolong jangan dimasukkan dalam hati."
Aku mengangguk. "Apa ia memang seperti itu?"
"Sebenarnya tidak. Ia pria yang sangat baik. Hanya saja ia tak suka ada yang mengganggunya, apa lagi tersangkanya adalah seorang gadis," tutur Cliff.
"Apa ia seperti itu terhadap setiap gadis di kota ini?" tanyaku lagi.
Cliff tampak berpikir sebentar. "Di awal perkenalan, iya. Tapi ketika Gray sudah mengenal gadis itu, maka ia menjadi sangat baik. Percayalah, ia akan baik kepadamu nanti."
Aku menggeleng. "Ia telah membuatku sakit hati di pertemuan pertama. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk tidak lagi berdekatan dengannya."
"Oh, ayolah. Jangan menyerah seperti ini. Itu membuktikan bila kau sepenuhnya kalah," Cliff memohon.
Aku memutar bola mata. "Biar saja. Aku membencinya."
Cliff tersenyum misterius. "Batas antara benci dan cinta itu tipis, ingat itu."
Aku menatapnya garang. "Hei! Aku benar-benar membencinya. Titik." Cliff tertawa.
"Kau harus mendekatinya sekali lagi. Mencoba tidak ada salahnya, bukan?" kata Cliff setelah berhenti tertawa.
Cliff benar. Aku harus mencoba. Lalu aku mengangguk. "Tapi hanya sekali, ya?"
Cliff berdecak. "Ya tidak benar-benar satu kali saja. Cobalah dulu. Kau akan merasakan kehangatannya."
Aku tersenyum geli. "Kau sedang promosi?" Lalu tawa kami meledak.
Tanpa kami sadari, sepasang telinga mendengarkan pembicaraan kami dengan saksama.
