Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshigori
The Two of Us © AkaKuro815
Alternative Universe
Warning :
Possible OOC, typo's, alay detected
Xoxoxo
Merasakan sesuatu yang dingin menyentuh dahinya Kardia pun terjaga. Menemukan sosok Defteros yang mengambil kain di dahinya untuk dicelupkan kembali ke dalam wadah kecil berisi air, kemudian memerasnya.
"Kau sudah sadar, eh?" Sambut Defteros sambil meletakkan kembali kain kompres di dahi Kardia.
"Maaf merepotkanmu."— Sebenarnya Kardia tidak suka terlihat seperti saat ini di depan Defteros, begitu lemah tak berdaya. Tapi mau bagaimana lagi, tubuhnya berkata lain.—" Lucu sekali, kan? Melihatku seperti ini." terkekeh pelan di sela napasnya yang masih memburu.
Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Defteros, begitu tenang. Nampaknya ia menanggapi perkataan Kardia dengan serius. "Tidak ada yang lucu ketika melihat seseorang menderita."
Setelah perkataan Defteros tersebut Kardia tak membalas lagi. Hanya bunyi jangkrik serta serangga malam lainnya yang terdengar saling bersahutan.
xoxoxo
Pagi pun menyongsong. Sinar keemasan mentari pagi menerobos masuk menerpa wajah terlelap Kardia melalui celah-celah kemah, membuat yang bersangkutan terjaga. Segera bangkit dari tempatnya terbaring Kardia kemudian melakukan aktivitas yang biasa dilakukan setiap makhluk hidup ketika baru saja terbangun dari tidurnya. Seperti menguap, melemaskan otot-otot di tubuh dan semacamnya. Bersyukur demam hebatnya semalam sudah tak memberikan efek apa-apa lagi padanya. Bahkan ia belum pernah merasa sebugar saat ini dan itu berkat Defteros yang merawatnya dengan baik. Berbicara tentang Defteros, dimana orang yang bersangkutan?
Kardia mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok bocah berkulit tan itu masih terlelap dengan dada yang naik turun secara teratur. Nampaknya Defteros kelelahan setelah terjaga semalaman mengurus demam Kardia.
Merasa takut Defteros terkena efek begadang mengurusnya, Kardia pun mendekat dan mengecek suhu dahi Defteros menggunakan punggung tangannya. Tidak lucu kan jika bergantian Defteros yang terkena demam? Biar pun sebenarnya demam Kardia tidak menular karena bukan masuk angin atau terserang flu, melainkan itu efek dari penyakit bawaan pada jantungnya dan demam yang baru saja terjadi merupakan hal biasa untuk Kardia.
Kardia mendelik ketika tangan Defteros sudah menggenggam pergelangan tangannya. Entah apa yang ia pikirkan sampai tidak sadar bahwa Defteros sudah terjaga.
"Mau sampai kapan kau memegangi dahiku?"
Menarik tangannya dari dahi serta genggaman Defteros, Kardia pun berdiri dari tempatnya. Membuka bagian depan kemah. Membuatnya bergidik sebentar karena dingin yang cukup menusuk.
"Ngomong-ngomong, demanmu sudah tidak apa-apa?" Tanya Defteros yang kemudian beranjak keluar kemah mengikuti Kardia.
"Ya, aku merasa sangat baik dan itu berkat dirimu, —Terimakasih." Ucap Kardia yang entah kenapa bagian kata terimakasih dibuat dengan suara yang lebih kecil.
"Apa? Aku tak mendengarnya!"
Bukannya mengulangi kalimatnya seperti yang Defteros minta, Kardia malah menggerutu tidak jelas. Tidak tahu kalau Defteros tengah tersenyum penuh kemenangan di belakangnya.
xoxoxo
"Aku yang akan menjemputnya! Aku pastikan dia akan segera kembali ke rumah."
Tidak ada keraguan sedikit pun dalam ucapan Aspros. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menemukan dan membawa pulang Defteros. Membiarkan bawahan ayahnya yang melakukan tugas itu hanya akan menambah masalah saja. Sudah dapat dipastikan Defteros akan memberontak nantinya.
Lagi pula itu merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang Kakak yang tidak dapat menjaga adiknya. Dan satu hal lagi, kemungkinan besar yang membuat Defteros nekat meninggalkan rumah adalah karena selebaran di koran yang ia tunjukkan beberapa waktu lalu. Jadi dia tahu kemana tepatnya Defteros pergi. Sayangnya ia tidak berani berkata jujur mengenai hal ini kepada ayahnya.
"Bisa apa kau, Aspros? Kau tidak lah lebih dari seorang bocah naif seperti Defteros." Ucap sang ayah sarkastik.
"Ayah meragukan kemampuanku? Engkau selalu mengatakan bahwa aku ini adalah calon penerusmu, satu-satunya orang yang dapat menggantikan posisimu. Bukankah akan mencoreng nama baikmu jika masalah seperti ini saja calon penerusmu tidak dapat menanganinya?"
Entah apa yang merasuki Aspros hingga berani berkata seperti itu pada ayahnya, bahkan dengan nada yang sedikit membentak. Yang ia lihat saat ini hanya ekspresi wajah ayahnya yang tidak berubah sama sekali. Nampaknya ia sudah benar-benar membuat ayahnya sangat murka.
"Baik, jika kau seyakin itu."
Aspros sedikit terkejut dengan respon ayahnya. Sebelumnya ia sudah berpikir akan ditertawakan atau lebih parahnya lagi diseret keluar oleh para penjaga.
"Gunakan fasilitas yang ada semaumu, ajak beberapa orang bawahan sesukamu, tapi batas waktumu hanya satu minggu, Aspros. Lewat dari batas waktu yang telah ditentukan kau seharusnya sudah tahu kosekuensinya."
"Aku mengerti."
xoxoxo
"Kau yakin akan melanjutkan perjalanan tanpa menunggu para pedagang itu selesai dengan urusan mereka?" Tanya Kardia yang duduk bersila memakan sebuah apel merah sambil memandangi Defteros yang nampaknya sedang sibuk membereskan isi tasnya untuk semua keperluan mereka di jalan nanti.
"Tidak ada pilihan lain. Jika terus menunggu mereka akan semakin banyak waktu yang terbuang." Disamping ia memikirkan ayahnya yang kemungkinan sudah mulai bertindak atas perbuatannya pergi meninggalkan rumah. Ia tidak mau tertangkap dan dipaksa pulang sebelum tujuannya tercapai. Lagi pula akan sangat bahaya untuk Kardia. Entah apa yang ayahnya lakukan pada bocah Scorpio itu jika mereka tertangkap. Ayahnya yang tiran itu tidak akan menerima alasan apapun dan sepenuhnya akan melimpahkan seluruh tuduhan pada Kardia.
"Asal Tuan Muda tidak merengek karena kelelahan terlalu lama berjalan." Kekeh Kardia seraya menghindari lemparan ranting pohon oleh Defteros.
"Daripada kau terus mengoceh tidak jelas seperti itu lebih baik bantu aku mempersiapkan keperluan untuk bekal perjalanan nanti."
"Yes, my Lord!"
"Kardia!"
xoxoxo
Setelah satu setengah hari berjalan Defteros dan Kardia pun sampai di sebuah pasar. Akhirnya mereka bisa beristirahat dan membeli semua kebutuhan mereka di sana. Kebetulan persediaan mereka memang sudah menipis.
"Kita harus memanfaatkan pasar ini untuk berbelanja semua kebutuhan."
"Huh? Bukankah semua uang kita sudah kau berikan pada para pedagang waktu itu?"
Defteros pun berhenti berjalan, membuat Kardia mengikutinya. Kemudian ia merogoh isi tasnya dan menyodorkan sekantung penuh uang tepat di depan wajah Kardia.
"Kau muncurinya?!" Ucap Kardia setengah berteriak.
"Ssst! Kau terlalu berisik!" Defteros menarik kembali kantong uang tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam tas, "Aku tidak mencuri. Sejak awal uang ini memang milik kita. Lagi pula, kau sendiri yang mengatakan bahwa mereka itu penipu. Jadi tak apa mencuri barang dari seorang penipu. Pasti Dewa pun tidak akan marah, jika keberadaan mereka memang ada."
Kardia mengerjap beberapa kali memandangi Defteros. "Apa?"
"Aku terkesan kau bisa bicara seperti itu."
"Aku lebih terkesan lagi melihat reaksimu, mengingat apa saja kegiatanmu saat di lingkungan tempat tinggal kita."
Kardia terkekeh malu. Padahal Defteros tidak tahu bahwa Kardia masih mempunya rasa malu. Dan ternyata manis juga— Tunggu, apa yang barusan kau pikirkan, Defteros?
xoxoxo
Kereta kuda yang akan digunakan oleh Aspros nampaknya telah siap. Setelah melakukan persiapan selama dua hari ia pun akan memulai perjalanannya mencari Deteros dengan ditemani orang-orang kepercayaannya.
"Kau sungguh ingin ikut bersamaku, Sisyphus?" Tanya Aspros yang mengulurkan tangannya untuk membantu bocah seumurannya yang berambut coklat pendek naik ke atas kereta kuda.
"Terimakasih." Tersenyum menerima uluran tangan Aspros, Sisyphus kini sudah duduk bersebelahan dengannya. "Jika aku tidak serius mana mungkin aku ada di sini, duduk bersebelahan denganmu."
Aspros tersenyum. "Tapi, bukankah kau memiliki janji dengan El-Cid untuk melakukan revisi pada tugas laporan kalian?"
"Soal itu, aku sudah meminta perpanjangan waktu penyerahan pada Miss. Sasha. Untung saja beliau mengizinkan. Benar-benar sosok malaikat dalam wujud manusia. Sudah baik, cantik lagi." terang Sisyphus dengan wajah berbinar.
"Ya, ya, dia memang malaikat." Entah bagaimana, dari nada bicaranya Aspros seperti jengkel.
Hal itu justru membuat Sisyphus tertawa geli. "Yang sulit itu justru membuat Regulus berhenti menangis dan mau melepaskanku pergi."
"Tsk! Bocah singa itu ternyata sangat menempel padamu lebih dari yang kupikirkan."
Sisyphus kembali tertawa kecil, "Sejak bayi ia sudah bersamaku. Bukan hal aneh jika Regulus jadi menempel padaku. Padahal sekarang usianya sudah lima tahun."
"Mungkin lain kali aku akan menjauhkanmu darinya."
"Kau tak akan berani melakukan itu. Illyas kakakku bisa-bisa tidak pernah mengizinkanmu lagi untuk berkunjung ke rumah."
"Tsk!"
Perbincangan mereka pun berhenti setelah kusir kereta kuda yang mereka tumpang memberitahu bahwa mereka akan berangkat. Diikuti dengan satu kereta kuda lainnya di belakang mereka.
xoxoxo
Disini, saat ini, Defteros dan Kardia tengah membantu memunguti buah-buah jeruk yang berserakan di tanah. Memasukkannya kembali ke dalam kantung kertas berwarna coklat di samping bocah pirang yang juga ikut memunguti.
Setelah semuanya terkumpul mereka bertiga pun kembali berdiri. Kantung coklat yang tadi isinya berhampur pun kini sudah kembali ke dalam pelukan si bocah berambut pirang. Kira-kira dari postur tubuhnya, bocah itu lebih muda dari Defteros dan Kardia. Dan dilihat dari wajah manisnya yang terkesan lembut, sudah dipastikan bahwa dia perempuan. Tapi sayang, kesempurnaannya itu tidak lengkap karena matanya yang tertutup.
"Terimakasih." Ucapnya tersenyum.
Setengah malu Defteros dan Kardia pun mengangguk. "Bukan hal besar, kok. Iya kan, Defteros?"
"Uhm! Lagi pula, membantu seorang gadis kecil sepertimu itu sudah kewajiban bagi kami."
Mendengar ucapan Defteros, ekspresi wajah 'gadis kecil' itu pun berubah seakan tidak nyaman. "Maaf, saya laki-laki."
"APA?!"
TBC
.
.
.
.
Yak! Chapter 4 update! Akhirnya ada mood buat ngetik.
Terimakasih buat yang sudah membaca karya amburadul saya ini. Kurang lebihnya mohon maaf kalau ada yang tersinggung sama hint pairing di penpik ini. Sungguh, saya nggak berniat rasis. (?)
Segitu aja. See you next chapter! ^^
