Claire: Apakah aku akan bertemu Rick hari ini?

Penulis: Tentu saja ^^

Claire: ^_^ Lalu bisakah aku tidak bertemu Gray?

Penulis: Kau tidak membencinya, kan?

Claire: Tentu tidak ^o^

Penulis: Baiklah, aku akan mempertemukan kalian bila begitu

Claire: TIDAK! T_T


SPRING 3, Year 1

Dear diary,

Aku tak percaya, kehidupanku di kota ini berjalan dengan begitu baik. Sangat mulus. Sempurna.

Hampir semua warga kota bersikap ramah kepadaku. Mungkin karena aku seorang warga baru? Entahlah, yang terpenting aku senang. Kau tahu, banyak sekali dari mereka yang sangat membantuku. Kek Saibara yang bersedia membuatkanku alat-alat berkebun. Lillia yang menyediakan ayam beserta makanan dan keperluan lainnya. Kakek dari May yang mempunyai sapi dan domba dan bersedia menjualnya kepadaku. Doug yang menyajikan makanan enak tiap harinya. Manna yang menjual anggur memabukkan itu. Jeff yang menjual bahan masakan yang sebenarnya belum kuperlukan, namun pada akhirnya akan kubutuhkan juga, lalu ia dan Won juga menjual biji-bijian yang sangat kuperlukan. Dan juga Dokter yang seperti namanya, bertugas untuk memeriksa kondisi tubuh pasiennya, dalam hal ini adalah aku.

Sungguh menyenangkan bila kita dapat mengenal seluruh warga di kota kita, bukan? Ya, itu benar. Aku dapat mengenal karakter-karakter yang sangat beragam. Stu seorang anak kecil yang suka merengek dan mempunyai kakak perempuan yang sabar dan baik hati bernama Elli. Zack seorang yang menyebalkan namun asyik untuk diajak bercanda dan tinggal seatap dengan Won yang dingin dan suka bersungut-sungut. Gotz yang begitu menyayangi alam. Anna seorang yang sedikit angkuh dan suka bergosip tetapi memiliki anak yang selalu tersenyum dan lembut hatinya bernama Mary. Juga Manna yang walaupun malu-malu untuk berbicara, namun sekali berbicara, maka butuh waktu yang lama untuk menunggu sampai ia menyelesaikannya.

Dan yang paling aneh di antara semuanya, sekaligus yang sedikit tidak patut dicontoh, aku diharuskan memanggil setiap warga dengan namanya, tanpa embel-embel di depan atau di belakangnya. Kecuali untuk Mayor Thomas dan warga yang sudah berumur seperti Kek Saibara dan Kakek dari May. Aku sangat menghormati mereka, tentu saja.

Mineral Town, kota yang penuh warna-warni dan memiliki keunikan yang khas.

Aku memutuskan untuk bersahabat dengan semua orang, tak peduli dengan karakter mereka. Tak peduli bila ternyata mereka sama saja dengan Gray.

Gray. Pria itu membuatku jengkel sekaligus penasaran dalam satu kali melihatnya. Saat pertama kali bertemu dengannya saja aku sudah dibuat sakit hati. Tetapi itu tak membuatku putus asa untuk berusaha menjalin pertemanan dengannya. Sejahat apapun dirinya.

Ah, mengapa justru aku bercerita tentang Gray, pria menjengkelkan itu, dan bukannya Rick? Arrgh!

Rick. Aku makin menyukainya. Ia pria yang dewasa dan sangat baik, bertolak belakang dengan Gray. Senyumnya selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Bahkan hari ini ia mengusap puncak kepalaku, yang membuat jantungku semakin berdebar-debar dan mukaku memanas. Ia berkata itu tak sengaja, tapi aku bahagia.

Aku merasa ia juga menyukaiku. Hei, jangan kaget seperti itu. Aku hanya merasa. Sebenarnya, aku tak cukup yakin. Tidak ada tanda-tanda yang pasti.

Yah, bukankah berharap tidak ada salahnya?


Spring 4, Year 1

"Hai Mary! Bisakah aku mendapatkan koleksi terbarumu?" tanyaku segera setelah membuka pintu perpustakaan.

Mary. Ia seorang gadis yang memiliki senyuman malaikat. Tingkah laku dan perkataannya sungguh menyenangkan. Yah, ia memang malaikat.

"Ah, hai Claire! Coba kemari," jawabnya.

Aku tersenyum dan melakukan apa yang Mary minta. Ketika aku mendekat, aku melihat Mary memegang sebuah novel. Novel yang belum pernah kulihat. Mungkin...

"Novel baru?" tanyaku antusias.

Mary tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol. Detik itu juga aku berseru gembira.

"Hei, ini perpustakaan atau pasar?" sahut sebuah suara di belakangku. Aku menoleh dan menemukan sosok yang kubenci. Lalu aku melirik ke arah Mary, siapa tahu ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi apa yang kulihat?

Mata berbinar dengan senyum malu-malu? Apa-apaan ini?!

"Tolong menyingkir dari hadapanku," desis sosok yang kubenci itu. Aku merasakan ia tengah memandangku dengan tajam.

Aku menyipitkan mata dan balas memandangnya, "Apa hakmu melakukan itu?"

Ia tersenyum sinis sambil memasukkan tangan ke dalam saku. Lihat saja, seluruh gadis di dunia pasti terpikat dengan gayanya itu. Tidak. Aku tidak boleh menjadi salah satu dari mereka. "Jelas hakku. Aku warga kota ini dan aku berhak kemanapun aku suka."

Aku melotot. "Bukan itu maksudku! Gray, kau... Sudahlah, lupakan saja! Mary, bila kau mencariku, aku ada di lantai dua." Dan aku bergegas menuju ke tempat yang kusebut tadi.

Namun sebelum aku menginjak tangga, aku mendengar sebuah seruan tertuju ke arahku, "Lalu kapan kau akan menjalankan misimu berteman dengan Gray? Ah, tidak. Itu permintaan Cliff!"

Aku terkejut. Dari mana ia tahu semua itu? Ia menguping pembicaraan kami? Aku hanya menatapnya tajam dan tanpa banyak bicara, aku meneruskan langkahku.


Apa aku sebegitu membenci Gray? Separah itu? Kurasa itu bukan aku.

Pria dengan sikap sinis dan tingkah menjengkelkan seperti Gray memang mudah untuk dibenci. Yah, tapi aku bukan seperti itu.

Entah mengapa aku tak mudah untuk membenci seseorang. Sejauh yang aku ingat, aku percaya bila setiap manusia mempunyai sisi baik dibalik sifatnya yang tampak dari luar.

Namun entah mengapa pula, aku tak dapat menerapkannya pada pria bernama Gray itu.

Apa aku harus tetap memenuhi permintaan Cliff seperti yang Gray bilang tadi, atau mundur saja? Atau pergi dari kota ini sekalian?

"Claire, kau membuka buku namun kau tidak membacanya," tiba-tiba Mary sudah duduk di sampingku.

"Tidak, aku membacanya. Lihat, aku baru tahu di kota ini ada dua tempat penambangan. Benar-benar menguntungkan bagiku," aku mencoba mengelak.

Mary tersenyum. Saat itulah aku sadar aku dapat memercayai Mary sepenuhnya. "Apa yang Gray perbuat padamu sebelum ini? Aku rasa kau tidak tiba-tiba membenci Gray begitu saja."

Aku menceritakan semuanya. Mulai dari Gray yang mengusirku, Gray yang merendahkanku, hingga permintaan Cliff yang menyangkut Gray juga. Ketika aku mengeluarkan seluruh isi hatiku, Mary mengangguk-angguk tanpa sedikitpun bersuara. Gadis yang sangat menghargai lawan bicaranya, sungguh bertolak belakang dengan Gray.

"Sebenarnya aku ingin menjalani permintaan Cliff itu, tapi melihat sikap Gray, aku jadi urung melakukannya," akhirnya aku selesai bercerita dan meminta pendapat pendengarku satu-satunya.

Mary terdiam sejenak, kemudian menyunggingkan sebuah senyum seraya berkata, "Jalani saja, kau akan merasakan kehangatannya."

"Kau sedang promosi bersama Cliff?" lalu tawa kami meledak.

Namun mendadak aku teringat suatu kejadian saat aku berada satu lantai bersama Gray dan Mary. "Mary, kau menyukai Gray?" tanyaku.

Pipinya bersemu merah dan tersenyum malu. Tetapi ia menjawab, "Tidak. Tentu saja tidak."

Aku tersenyum geli. "Kalau begitu coba jelaskan mengapa wajahmu memerah dan bibirmu bisa tersenyum seperti itu."

Mary membuang muka sambil tertawa pelan. "Ya."

Aku yang tidak puas dengan jawaban singkat itu, terus mendesaknya. "Ya bagaimana?"

Ia memanyunkan bibir dan akhirnya menjawab, "Ya, aku menyukainya. Puas?"

Aku tersenyum puas dan mengacungkan ibu jari. "Tenang saja, kau sedang bercerita pada penjaga rahasia terbaik di kota ini." Dan kami tertawa bersama.

Sepertinya aku sudah terlalu lama berada di perpustakaan. Aku melihat jam yang melingkar di tanganku dan kurasa aku harus pamit pada Mary.

"Maaf, tapi aku harus pergi. Lain waktu aku akan membaca novel yang kau bawa tadi. Sampai jumpa dan selamat berjuang untuk mendapatkan hati Gray!"

Mary tersenyum lebar. Namun ketika baru saja aku berdiri, Mary berkata pelan, "Bisakah kau berjanji untuk bisa selalu kupercaya dan menjadi sahabat yang baik?"

Aku tak mengerti maksud perkataannya. Aku merasa ada makna tersembunyi dibaliknya dan sepertinya Mary dapat melihat hal yang jauh di depan. Tetapi kujawab saja, "Tentu saja. Aku janji."

Dan saat aku berjalan menuruni tangga, aku mendengar Mary berkata lirih, "Aku mencintainya. Tolong jangan sakiti aku dalam waktu dekat. Ah, tidak. Tolong jangan sakiti aku selamanya."

Tentu saja aku takkan menyakitinya. Siapa juga yang menyukai Gray? Tetapi aku memilih untuk tidak berkata apa-apa.


"Lillia, bisakah aku mendapatkan satu ekor ayam?" tanyaku pada penjual ayam satu-satunya di kota ini.

Ia mengangguk. "Tentu saja, Claire. Kau akan segera mendapatkannya. Rick, bisa tolong Claire?"

Aku tersenyum. Mendengar nama Rick saja sudah membuatku semakin merindukannya.

"Baik, Ma. Claire, ayo ikut aku," Rick berkata sambil menggenggam tanganku. Spontan saja mukaku memanas, dan sialnya Lillia memergoki hal itu.

"Kau baik-baik saja, Claire? Apa kau sedang sakit?" suara Lillia sarat akan kekhawatiran. Ah, untung saja ia mengartikannya lain.

Aku menggeleng. "Tenang saja, aku tidak apa-apa. Tunggu, Rick. Aku membayarnya dulu."

Setelah aku membayarnya, Rick mengajakku ke peternakan depan rumahnya. Aku terperangah. Banyak sekali ayam yang Rick pelihara. Rick benar-benar peternak yang hebat.

Ketika kami berjalan mendekat, seekor ayam berlari mendekati kami dan Rick langsung menggendongnya. Ah—

"Inilah mengapa aku meninggalkan pekerjaanku yang dulu," kata Rick pelan. Tetapi aku dapat menangkap setiap kata-katanya dengan jelas. Apa memang seperti ini orang yang sedang jatuh cinta?

"Hmm..." aku hanya bergumam, karena aku tak tahu harus menanggapi apa.

Rick tersenyum. Oh, tolong jangan melakukan itu. Kau semakin membuatku jatuh dalam pesonamu bila kau melakukannya. Benar-benar indah di mataku, kau tahu? Andai saja aku adalah gadis yang cukup berani menyatakan cinta padanya, tentu aku sudah menjadi gadis paling bahagia di dunia ini.

Kira-kira kapan Rick akan menyatakan cinta padaku, ya? Ah, aku menunggu saat-saat paling menyenangkan itu.

Lalu mengapa tidak aku yang melakukannya duluan? Tentu saja tidak! Aku masih punya harga diri sebagai seorang wanita.

Pikiranku buyar ketika seseorang menepuk pundakku. Oh, ternyata Rick. Aku memegang pipiku. Tolong, jangan sampai terjadi—

"Hei Claire, ada apa denganmu? Dari tadi aku bertanya, tapi kau diam saja. Dan mengapa wajahmu memerah seperti itu? Kau sakit?" Rick memberondongiku dengan beberapa pertanyaan.

Aku menutupi mukaku dengan tangan. Malu juga tertangkap basah sedang melamun oleh Rick.

"Apa sekarang kita sedang bermain petak umpet?" tanya Rick geli.

Aku menurunkan tanganku dan bertanya, "Eh, tentu saja tidak!" Tanpa sadar aku berteriak.

Rick mengerutkan alis. "Mengapa kau berteriak?"

"Maaf. Bukan itu maksudku. Aku hanya— lupakan." Aku hanya sedang melamun. Tentangmu. Tapi kau memergokiku, dan aku merasa sedang menyangkal diri atas itu, kalimat itu hanya kukatakan di dalam hati.

"Rick, bisakah kau memberikan pesananku? Maaf, karena setelah ini aku harus bekerja lagi," aku pura-pura sedang dikejar deadline.

Rick sedikit kaget. "Secepat ini? Kau tidak ingin mengobrol denganku lebih lama?"

Aku menaikkan alis. Rick berharap aku mengobrol dengannya lebih lama? Berharap? Apa telingaku tidak salah dengar, ya? "Maafkan aku. Kukira lain waktu," aku memasang tampang menyesal.

"Oke, ini ayammu. Jaga dia baik-baik. Bila kau butuh bantuanku, datanglah ke sini," Rick tersenyum dan membelai rambutku. Seketika tubuhku membeku, bahkan untuk mengucapkan terima kasih saja sulit. Yang dapat kulakukan hanya tersenyum padanya.

Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju rumahnya. Tapi aku masih tetap mematung. Sentuhannya itu, sukses membuatku tak berdaya.

Kau tahu, Rick? Sesungguhnya semua pekerjaanku telah kuselesaikan sebelum aku ke sini. Sesungguhnya, aku hanya ingin tahu perasaaanmu. Beri aku petunjuk sedikit saja. Sesungguhnya aku juga ingin menghindarimu selama beberapa waktu. Namun sepertinya aku gagal. Belum menjalaninya saja aku sudah tidak kuat. Kau sungguh membuatku terpesona. Hari-hari tanpamu sepertinya menjadi kutuk bagiku.


Ah, sejuknya. Udara di pantai pada malam hari sukses membuatku tenang. Setenang hatiku. Seumur hidupku, aku tak pernah merasakan hal ini. Baru kali ini. Ya, baru kali ini.

Aku mendongak. Bintang-bintang bersinar malam ini, tidak akan ada hujan dalam waktu dekat. Syukurlah. Aku ingin di sini lebih lama lagi.

"Cuaca yang indah, eh?" suara yang berasal dari belakangku mengagetkanku. Aku menoleh. Semoga seseorang yang kuharapkan kedatangannya.

"Cliff?" seruku kaget. Sedikit menyesal juga. Mengapa bukan orang yang sangat kuharapkan? Memangnya siapa yang kuharapkan?

"Jangan kaget seperti itu. Aku jadi ge-er," Cliff berkata sembari duduk di sampingku.

Aku cemberut. Aku tahu ia bercanda. "Tumben ke sini malam-malam?"

Cliff memandang lurus ke depan. "Yah, aku tak suka suasana penginapan."

Aku mengerutkan kening. "Mengapa?"

Cliff terdiam. "Aku tak punya sahabat yang bisa kuajak bercerita."

"Eh?" Aneh juga. Pria ceria dan menyenangkan seperti Cliff tidak punya sahabat? "Aku bisa menjadi sahabatmu," kata-kata itu keluar tanpa kucerna dulu. Ah biarlah, sudah telanjur. Aku juga senang bila Cliff bisa menjadi sahabatku.

"Terima kasih," Cliff berkata pelan. Aku mengangguk.

Selama beberapa saat tidak ada yang bersuara. Namun tidak ada kecanggungan. Kami sahabat, bukan? Tidak selamanya seseorang mengeluarkan isi hatinya dalam bentuk suara.

"Bagaimana dengan Gray?" tanya pria di sampingku.

Mukaku langsung berubah menjadi masam. "Sekali menyebalkan, tetap menyebalkan."

Cliff menaikkan alis. Dari pada membuat Cliff heran lebih lama, maka aku menceritakan kejadian di perpustakaan tadi siang. Semuanya, tidak ada yang terlewat.

"Begitu?" Cliff hanya menanggapi ceritaku seperti itu. Giliran aku yang bingung. Hanya seperti itu? Aku yang bercerita panjang-lebar hanya ditanggapi seperti itu?

Ketika aku ingin membuka mulut untuk memprotesnya, Cliff juga melakukannya. "Kau—" kami mengucapkan kata yang sama di waktu yang hampir sama pula. Lalu kami tertawa bersama.

"Kau dulu," sekali-sekali wanita yang mengalah, boleh bukan?

"Mendengar ceritamu tadi plus melihat secara langsung kejadian dua hari lalu di penginapan, aku dapat menarik sebuah kesimpulan menarik," sepertinya Cliff sengaja menggantungkan kalimatnya agar memancing keingintahuanku.

Dan ia sukses melakukannya. "Apa itu?"

Cliff tersenyum jail. "Sepertinya kau menjadi gadis yang spesial di mata Gray."

Mataku membelalak. "APA?!"