Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshigori
The Two of Us © AkaKuro815
Alternative Universe
Warning :
Maybe OOC, typo's, alay detected
Xoxoxo
Setelah kejadian saling menabrak, menumpahkan isi bawaan seorang bocah pengidap tuna netra yang mereka kira seorang gadis padahal ia seorang anak laki-laki mereka pun berakhir menginap di tempat tinggal bocah tersebut.
Mereka seharusnya sangat bersyukur bisa bertemu dengan Asmita. Bocah yang mereka tabrak itu ternyata sangat murah hati, ia menawarkan Kardia dan Defteros untuk mampir ke kediamannya dan beristirahat di sana.
Awalnya Defteros ingin menolak karena merasa tidak enak hati dan sejak kecil ia dididik untuk tidak menerima tawaran dari orang asing. Tapi kardia yang memang tidak memiliki perasaan seperti itu dan mungkin tidak tahu malu langsung menyetujui ajakan Asmita tanpa membiarkan Defteros angkat bicara.
.
Malam semakin larut namun Defteros tidak bisa tidur sama sekali. Ia merasa gelisah entah oleh apa, yang jelas perasaannya sedang tidak baik.
Ia melirik Kardia di sebelahnya yang sudah terlarut dalam tidurnya dengan mulut terbuka lebar dan segaris ilar menggantung di sudut bibirnya. Segaris senyuman yang sangat tipis dan hampir tak terlihat mengembang di wajah Defteros saat memandang sahabatnya itu.
Defteros kemudian menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya lalu turun dari tempat tidur. Ia merapihkan selimut Kardia agar kawannya itu tidak masuk angin karena cara tidurnya yang serampangan. Setelah itu ia berjalan mendekati jendela dan membukanya lebar-lebar.
Sinar rembulan menyeruak masuk menerangi sebagian ruangan, memandikannya dengan cahaya ketika ia duduk di pinggiran jendela memandangi langit malam.
"Tidak bisa tidur, eh?"
Defteros segera mengalihkan pandangannya, dilihatnya sosok mungil Asmita berjalan menghapiri dirinya. Meskipun kelopak matanya tertutup, Asmita sepertinya sangat tahu benar letak dimanakah dirinya tengah berada dan itu sedikit membuat Defteros heran.
"Bagaimana kau bisa tahu aku masih terjaga? Kau kan— ah, maaf. Maksudku—"
Asmita tersenyum dan lagi-lagi membuat sesuatu di dalam diri Defteros seperti menghangat. "Maksudmu aku buta?"
Defteros seperti baru saja merasakan sebuah tombak menghantam tepat di jantungnya. Ia sungguh tidak bermaksud menghina Asmita. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu, Asmita."
Bukannya menanggapi permintaan maaf Defteros, Asmita malah mendekat ke sisi lain jendela, meletakkan tangannya di bingkai jendela dan menyembulkan kepalanya keluar.
Angin berhembus masuk, menerpa wajah cantik asmita dan membelai lembut helai pirang miliknya. Membuat Defteros reflek tidak berkedip memandanginya.
"Kau tahu, Defteros, aku tidak tersinggung sama sekali. Aku tidak menganggap kebutaanku ini sebagai kekurangan maupun kelemahanku. Aku memang tidak diberi kesempatan untuk melihat warna-warni dunia, tapi aku bisa merasakannya. Aku tidak tahu apakah semua orang buta sepertiku mengalami hal yang sama, tapi aku sudah bersyukur bisa diberi kesempatan untuk menginjakkan kakiku di dunia ini."
Sekali lagi Defteros merasa tertegun. Kerendahan hati Asmita benar-benar telah menawan hatinya. Ia tidak menyangka bocah yang lebih muda tiga tahun darinya itu bisa berkata sebijak itu.
"Ngomong-ngomong, sebenarnya kalian mau pergi ke mana?"
Defteros menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya lalu menatap Asmita kemudian ke Kardia yang masih tertidur pulas. "Aku ingin menyelamatkan nyawanya."
Asmita sedikit memiringkan kepalanya, mungkin kalau ia bisa melihat ia akan mendelikkan matanya saat menatap Defteros ketika mendengar ucapan Defteros barusan. "Menyelamatkan nyawa siapa?"
"Kardia." Defteros merasa tidak percaya bahwa ia telah mengatakannya, selama ini ia selalu menyembunyikan keinginannya itu dari semua orang, pun Aspros. "Aku akan menemukan dokter yang bisa menyembuhkan penyakitnya."
Angin kembali berhembus meniup helai rambut mereka berdua. Asmita tidak berkata maupun kembali bertanya membuat Defteros ikut terdiam menikmati hembusan angin yang entah bagaimana begitu menenangkan. "Aku memang tidak begitu mengenalmu. Tapi aku yakin niat muliamu itu akan tercapai. Aku akan mendo'akan keberhasilanmu."
Untuk kesekian kalinya ia merasakan kehangatan menjalari seluruh tubuhnya. Ia tidak tahu bahwa mengobrol dengan Asmita bisa menenangkan kegelisahan yang sejak tadi menjalari dirinya. Sepertinya ada sesuatu yang spesial di dalam diri bocah berambut pirang tersebut. Membuat Defteros kembali berpikir dan mengutuki nasib Asmita yang tidak dapat menikmati indahnya warna-warni dunia.
Sebuah keinginan untuk membantu Asmita pun tumbuh di dasar hatinya dan semakin lama semakin membesar. Ia tidak tahu apakah Asmita akan merasa senang jika ia menyatakan bahwa ia ingin membantunya ataukah takdir yang diterima Asmita adalah hal yang benar karena ia tidak perlu melihat sisi gelap dunia ini yang begitu laknat. Ya, seharusnya memang begitu, Asmita harus tetap suci seperti apa adanya ia saat ini.
"Terimakasih."
xoxoxo
Tiga hari sudah berlalu dalam misi pencarian Defteros, itu berarti Aspros hanya memiliki sisa empat hari lagi untuk menemukan adiknya itu. Beberapa tempat yang ia datangi mengatakan pernah melihat sosok Defteros bersama temannya dan tidak sedikit pula yang mengatakan tidak pernah melihat mereka. Meski begitu Aspros tidak pernah merasa putus asa untuk menemukan adiknya. Ia sudah bertekad untuk membawa pulang adiknya dengan selamat tanpa paksaan.
Aspros menyibukkan diri dengan sebuah peta di atas meja, menandai bagian peta yang daerahnya sudah ia kunjungi untuk melacak keberadaan Defteros. Ia tampak begitu serius sampai-sampai tidak sadar bahwa Sisyphus sudah kembali ke dalam kereta kuda, membawakannya sepotong sandwich buatan rumahan dan segelas susu.
"Aku tahu betapa pentingnya peta itu sampai-sampai kamu terus mencumbuinya setiap hari bahkan hampir setiap detik. Tapi jangan lupakan cacing-cacing di perutmu yang pasti sudah melakukan aksi demo meminta untuk diberi makan." kata Sisyphus yang tersenyum memandang Aspros.
Aspros mengalihkan pandangannya menatap Sisyphus, ia membalas senyumannya lalu meletakkan alat tulisnya dan menyingkirkannya bersama peta ke sisi meja yang masih luang, membuat ruang untuk makanan yang dibawakan Sisyphus. "Kamu seperti ibuku saja."
Sisyphus terkekeh kemudian meletakkan nampan stainless berwarna perak itu ke atas meja. "Makanlah! Setelah ini sepertinya kita harus bergegas."
"Kenapa? Tumben sekali kamu tidak bersikeras untuk mendapatkan lebih banyak istirahat dengan dalih menjaga kondisi kesehatan semua orang yang ikut misi ini." ucap Aspros yang kemudian mengambil gigitan pertamanya pada Sandwich buatan Sisyphus dan rasanya begitu enak.
Gemas, Sisyphus pun menarik pipi Aspros yang mulutnya penuh dengan Sandwich. "Aku tidak berdalih, karena istirahat yang cukup itu memang penting. Hanya saja Hasgard memberi kabar bahwa beberapa hari lalu ada yang melihat Defteros berangkat bersama robongan karavan pedagang."
Mendengar hal itu Aspros pun tersendak dan buru-buru menyambar segelas susu hangat di atas meja lalu meneguk isinya. "Itu bukan hal yang baik."
xoxoxo
Defteros mengikuti Kardia tergesa-gesa menyusuri jalan setapak melewati gang-gang sempit. Tak seorang pun dari mereka yang berbicara untuk memecah kesunyian, hanya derap langkah kaki yang menggema. Menurut Defteros, ada yang tidak beres dengan kawannya itu karena tiba-tiba saja menariknya melewati gang-gang sempit dan sepi dengan terburu-buru dan setengah berlari.
Defteros yang membutuhkan penjelasan segara menarik sebelah bahu Kardia, membuat bocah berambut biru berantakan di depannya ikut berhenti dan menghadap dirinya. "Sebenarnya ada apa, Kardia?"
Kardia menghela napas, "Mereka disini. Para pedagang yang sudah kau— kita curi uangnya. Lebih parahnya lagi sepertinya mereka sedang mencari kita!"
Bagi Defteros, semua hal ini sepertinya semakin buruk. "Waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Asmita kalau begitu."
.
"Kalian sungguh-sungguh akan pergi sekarang?" Tanya Asmita yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempat Defteros dan Kardia tengah mengemasi barang-barang mereka.
"Tidak ada pilihan lain." Jawab Defteros tanpa melirik Asmita dan masih sibuk dengan isi tasnya.
Tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut Asmita. Bocah berambung pirang itu hanya berdiri sambil bersandar di tembok. Raut wajahnya tidak dapat terbaca, entah dia sedih atau tidak karena wajahnya begitu tenang seperti biasanya.
Kardia yang sudah selesai dengan bagiannya kemudian melirik Asmita. Ia kemudian berdiri dan menggendong tas ranselnya. "Aku tunggu di luar."
Kardia memang bukan termasuk orang yang peka, tapi ia merasa ada hal yang perlu dibicarakan empat mata antara Defteros dan Asmita. Jadi, ia mengambil inisiatif untuk meninggalkan ruangan.
Setelah Kardia menghilang dari balik pintu Defteros menghela napas lalu menyudahi acara berkemasnya. Asmita masih bersandar di tembok, tidak bergerak barang sesenti pun. Wajahnya yang tenang dengan mata tertutup sekilas memang seperti tidak menampakkan ekspresi apapun. Namun entah bagaimana Defteros seperti tahu bocah yang lebih muda darinya itu sebenarnya merasa sedih.
Defteros kemudian berdiri, menggendong tas ranselnya kemudian berjalan menghampiri Asmita. Ketika sudah berada tepat di hadapannya, Defteros menepuk pucuk kepala Asmita sambil tersenyum meskipun dia tahu Asmita tak akan dapat melihatnya. "Menjadi cengeng, eh? Asmita?"
Bocah berambut pirang itu bergeming, memaksa Defteros untuk menyudahi kekonyolannya mengajak Asmita bercanda disaat suasana sedang tidak pas untuk hal itu. "Maaf, Asmita. Aku—
"Sebaiknya kamu pergi sekarang."
Hati Defteros mencelos. "Kamu marah?"
"Aku tidak punya hak untuk itu."
"Aku tahu kamu marah karena kami harus pergi meninggalkanmu sendiri. Aku—
"Aku tidak marah, Defteros."
"Kamu marah."
"Aku tidak!" Asmita tidak percaya ia dapat membentak Defteros seperti itu. Baru kali ini ia merasa tidak dapat mengendalikan amarahnya sendiri. "Maaf."
Detik kemudian Asmita merasa tubuhnya diselimuti kehangatan, bau tubuh Defteros menguar memenuhi indera penciumannya. Ia baru sadar Defteros menariknya ke dalam pelukannya, mendekapnya erat hingga membuat dirinya sedikit kesulitan untuk bernapas. Namun Asmita tidak memberontak, membiarkannya seperti itu untuk beberapa saat sebelum Defteros melepaskan dekapannya.
"Pergilah, Defteros. Aku melihat mereka mencarimu dan Kardia. Disini tidak aman. Aku sudah mengatakan pada mereka bahwa melihat kalian pergi ke arah barat kota. Jadi, berusahalah untuk tidak mengambil jalan yang sama dengan mereka."
Defteros mengangguk kemudian sedikit membungkuk untuk mengecup kening Asmita. "Kami pergi."
xoxoxo
"Kamu menyukai Asmita?"
Defteros yang sedang meneguk air dari botol persediaannya lantas saja tersendak dan membuatnya batuk-batuk. Setelah batuknya berhenti dan mengelap sudut bibirnya Defteros segera melemparkan tatapan kesal pada Kardia yang kemudian dibalas dengan cengiran lebar khas Kardia.
"Daripada kamu mengoceh tidak jelas lebih baik simpan tenagamu itu untuk perjalanan."
"Kamu menciumnya."
Mendengarnya, sontak membuat Defteros menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk menatap kawannya itu. "Kamu mengintip?!"
Kardia mengedikkan bahu, "Kupikir tebakanku salah."
Daripada menyebut perkataan Kardia sebelumnya sebagai tebakan itu lebih tepat sebagai pernyataan karena dari nada bicaranya tidak mengandung tanda tanya di akhir. Defteros benar-benar sudah dipermainkan oleh Kardia. Rasa malu bercampur jengkel jadi satu. "Hanya di kening. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri."
"O, ya?" Kardia tersenyum jahil.
"Kardia!"
Yang minta dipukul ternyata sudah mengambil langkah untuk berlari lebih dulu, membuat Defteros harus mengejarnya.
xoxoxo
"Mereka pergi ke arah barat, itu yang dikatakan anak laki-laki berambut pirang yang mengaku rumahnya sempat ditumpangi Tuan Muda Defteros dengan temannya."
Aspros menatap Hasgard yang baru saja kembali untuk melapor. Mendengar laporannya barusan Aspros merasa sudah hampir menemukan titik terang. "Baiklah, terimakasih Hasgard. Aku yakin kita sebentar lagi akan menemukan bocah nakal itu."
Sisyphus yang berdiri di sebelah Aspros pun tersenyum. "Lebih tepatnya bocah nakal yang salah karena memiliki Kakak super over protective seperti dirimu."
Bukannya tersinggung alih-alih marah pada Sisyphus Aspros justru menyeringai lalu mencubit pipi Sisyphus gemas. "Kamu juga punya Kakak yang sama berlebihannya sepertiku, Sisy."
Mendengarnya, tawa kecil pun meluncur dari mulut Sisyphus. "Kurang lebih sama."
xoxoxo
Defteros memperhatikan peta yang ada di tangannya sedangkan Kardia hanya duduk-duduk santai sambil menikmati Apel hasil curiannya dari salah satu pohon Apel milik penduduk setempat.
"Seharusnya sekitar seperempat mill lagi akan ada stasiun kereta. Kalau kita naik kereta kemungkinan sampai ke tempat tujuanku akan lebih cepat."
"Jadi, kita akan naik kereta?"
Defteros mengangguk lalu menggulung kembali peta tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam ransel. "Waktu istirahat habis. Ayo kita jalan lagi!"
Erangan protes meluncur dari mulut Kardia namun Defteros abaikan. Ia ingin sesegera mungkin sampai ke tempat tujuannya. Terlalu banyak waktu yang terbuang dan ia tidak mau segera ditemukan oleh orang-orang suruhan Ayahnya.
.
Sampai di stasiun Defteros segera mengantri di loket pembelian tiket dan menyuruh kardia untuk duduk menunggu. Ketika perjalanan tadi ternyata Kardia mengalami sedikit serangan pada jantungnya yang lemah sehingga menuntutnya untuk banyak istirahat. Defteros jadi merasa sangat bersalah akan hal itu. Sejak awal ia tahu bahwa terlalu beresiko membawa seorang bocah penderita kelainan jantung untuk berpergian jauh tanpa menggunakan alat transportasi.
Setelah mendapatkan dua tiket yang diinginkan Defteros segera menghampiri Kardia yang tengah duduk meringkuk di salah satu sudut. Kardia awalnya memang sudah putih dan nyaris pucat, tapi kali ini dia benar-benar terlihat pucat seperti mayat. Berpikir tetang mayat Defteros bergidik ngeri, ia tidak akan tega menyamakan kawannya yang masih bernapas itu dengan mayat. Karena terpikirkan hal-hal seperti itu Defteros menjadi sedikit panik dan segera berlari menghampiri Kardia dengan tergopoh-gopoh.
"Kardia?" Defteros berjongkok untuk menyamai posisinya dengan Kardia. Kardia tertidur pulas dengan napas naik turun yang teratur. Ada perasaan lega menjalari hati Defteros ketika mengetahui temannya itu baik-baik saja.
Dengan perasaan sedikit tidak tega Defteros menepuk-nepuk wajah pucat Kardia untuk membangunkannya. Setelah menggeliat kecil akhirnya Kardia pun membuka matanya, menguap lalu mengucek-ngucek matanya layaknya anak kecil. Toh ia memang masih anak-anak.
"Aku sudah dapat tiketnya."
Kardia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mendapatkan fokusnya kembali. Lalu dengan dibantu oleh Defteros ia pun berhasil berdiri. "Kau tahu, tadi aku bermimpi kau menunggangi kuda poni bersama Asmita." kata Kardia yang diiringi suara kekehan kecil.
"Tidak lucu, Kardia." Cibir Defteros, namun ia juga senang Kardia masih seperti biasanya. Matanya kemudian melirik sebuah buku yang sedari tadi didekap Kardia, sejak ia tertidur. "Buku apa itu? Setahuku kau tidak suka membaca apalagi bisa membaca."
Kardia menyeringai, "Terimakasih. Tapi setiap jantungku yang merepotkan ini kambuh, hanya dengan mendekap buku ini rasanya mengurangi setengah sakitnya. Memang terdengar bodoh, tapi aku berkata yang sesungguhnya."
"Memang buku apa itu?"
"Buku yang tempo hari dilemparkan Degel padaku."
Hening. Defteros mulai berpikir bahwa Kardia memang masokis. "Oke. kita harus bergegas karena sebentar lagi—
"Itu mereka!"
Mata biru Defteros membulat sempurna. Para pedagang yang mengejarnya dan Kardia ternyata ada di sana, berlari dengan murka ke arah mereka berdua.
"Lari!" Seru Defteros yang kemudian menyambar lengan Kardia dan berlari menerobos kerumunan yang berlalu lalang. Bahkan ia sudah tak peduli kalau mereka berdua menabrak setiap orang yang mereka lewati.
TBC
.
.
.
Hallo! *tiup debu*
Akhirnya ada keinginan buat update fanfic ini. :"
Terimakasih buat yang masih setia nunggu dan mau meluangkan waktunya buat ngebaca fanfic gak jelas ini. Btw, sepertinya chapter depan saya bakal tamatkan. Kalau dibuat lebih panjang lagi saya takut malah discontinue. Ehe~
See you next chapter!
