-Previous Chapter-

"Mendengar ceritamu tadi plus melihat secara langsung kejadian dua hari lalu di penginapan, aku dapat menarik sebuah kesimpulan menarik," sepertinya Cliff sengaja menggantungkan kalimatnya agar memancing keingintahuanku.

Dan ia sukses melakukannya. "Apa itu?"

Cliff tersenyum jail. "Sepertinya kau menjadi gadis yang spesial di mata Gray."

Mataku membelalak. "APA?!"


SPRING 5, Year 1

Dear diary,

Apa maksud perkataan Cliff kemarin? Apa ia sedang bercanda, eh? Asal ia tahu, itu sama sekali tidak lucu.

"Sepertinya kau menjadi gadis yang spesial di mata Gray."

Kalimat itu berputar-putar dalam kepalaku. Ini aneh. Masa iya aku seperti itu? Bahkan aku dan Gray selalu bertengkar ketika kami bertemu.

Yang aku tahu, itu adalah sebuah kesalahan besar. Sangat besar.

Kalimat itu terus menari-nari dalam pikiranku. Tunggu. Mengapa aku terus memikirkannya? Bukankah itu tidak begitu penting bagiku?

Dan mengapa aku tidak memikirkan Rick saja? Mengapa sekarang malah terbayang wajah Gray, si pria menyebalkan itu?


Spring 6, Year 1

Dear diary,

Aku menemukan satu rahasia kesuksesan dalam bertani. Yah, bisa dibilang begitu.

Karena semua pekerjaanku telah selesai, aku memutuskan untuk berjalan menyusuri kota pada siang hari. Ketika sampai di depan gereja, aku tertegun.

Terdapat sebuah jalan kecil di samping gereja. Apa aku harus berjalan ke sana? Mm... Mencoba tidak ada salahnya.

Kuikuti jalan kecil itu dan sampailah aku di sebuah pondok bambu. Aku mengetuk pintunya dan seseorang menyuruhku masuk.

Dan, tadaa! Aku bertemu dengan kurcaci. Mereka berjumlah tujuh.

"Hai Claire, kau bisa memanggilku Chef. Ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang kurcaci berpakaian merah.

Aku menaikkan alis. Bantuan apa yang bisa mereka berikan?

"Namaku Nappy. Kami bisa membantumu dalam menyiram tanaman, merawat hewan peliharaan, ataupun memanen tanamanmu," ucap kurcaci berpakaian jingga menjawab pertanyaan di pikiranku.

Aku tersenyum. Mereka akan sangat membantuku bila begitu. Aku menunjuk tiga kurcaci untuk membantuku dalam hal-hal yang disebut Nappy tadi. Mereka akan bekerja selama seminggu. Oke, ini menguntungkan se—

"Asalkan kau beri kami makanan, oke?" sahut salah satu kurcaci yang kutunjuk. Ia bernama Staid.

Aku kembali tersenyum sambil mengacungkan jempol.

Tiga kurcaci itu tersenyum senang. "Baiklah, besok kami datang pukul 6 pagi. Terima kasih."

"Terima kasih kembali," jawabku.

Dan mulai besok aku tak perlu repot-repot lagi untuk mengerjakan hal-hal yang memakan waktu.


Spring 7, Year 1

Dear diary,

Cliff bercanda, ia mengatakannya sendiri padaku tadi sore.

Oh, aku benar-benar lega mendengar itu. Menjadi gadis spesial bagi Gray? Aku bergidik ngeri. Bagaimana bila setiap hari aku menerima amukan Gray? Aku bisa mati muda.

Ah, mengapa aku tak menanyakannya saja saat itu? Aku yang terlalu kalut karena mendengar penuturan Cliff mungkin sedang kehilangan akal sehat. Jika aku dapat mengontrol emosiku, maka aku tak perlu terbebani hingga hari ini, kan? Claire, kau benar-benar bodoh.

Dan tolong jangan bertanya tentang Gray. Aku semakin membencinya. Beruntung aku tak bertemu dengannya hari ini. Entah bagaimana besok.

Lalu mengapa aku tak menemukan Rick hari ini? Kau tahu, aku sangat merindukannya.

Rick, di manakah kau? Aku merindukan wajahmu, senyummu, suaramu, tawamu, dan segala hal tentang dirimu. Apa kau juga merasakan hal yang sama?


Spring 8, Year 1

Seperti janjiku pada Harvest Sprites—kurcaci yang membantuku itu—dua hari lalu, aku akan membelikan mereka makanan. Aku berjalan ke utara kota menuju Supermarket.

Namun aku tidak menyangka akan bertemu Rick di tengah jalan. Ingin sekali aku memeluknya, melepas rindu selama ini, tetapi tentu saja aku masih memiliki harga diri sebagai seorang wanita, sehingga aku hanya menyapa sekadarnya.

"Hai Rick. Lama tidak bertemu."

Rick yang sepertinya sedang melamun, menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut. "Oh hai Claire. Ya, kau benar."

Aku mengerutkan alis, namun tak berani bertanya lebih lanjut. Aku meneruskan perjalananku menuju Supermarket.

Ketika memasuki Supermarket, aku menyapu pandanganku dan menemukan makanan yang kucari. Flour, apakah mereka menyukai ini? Semoga saja, batinku.

Aku mengambil beberapa Flour dan menuju meja kasir. Jeff, sang penjaga kasir memberitahuku berapa yang harus kubayar, lalu memberikan uang yang Jeff inginkan seraya mengucapkan terima kasih dan langsung pergi. Bawaanku sangat berat, kau tahu?

Tetapi ketika membuka pintu, aku mendengar suara orang bercakap-cakap.

"Aku tahu. Maafkan aku." Sepertinya bukan suara yang asing bagiku. Suara yang kurindukan. Rick?

Aku mengedarkan pandanganku dan tepat di sampingku, Rick dan Karen mengobrol. Sepertinya pokok pembicaraannya sangat serius.

"Hai Rick. Hai Karen," aku memutuskan untuk menyapa mereka saja. Pura-pura tidak tahu bila mereka sedang tidak ingin diganggu.

"Hai Claire. Bisakah kau menjauh sebentar? Kami tidak ingin orang lain mendengarkan kami," sahut gadis cantik di sebelah Rick itu sedikit ketus.

Aku terperanjat. Oke baiklah, aku akan pergi.

Tetapi aku merasa aneh. Rick sama sekali tidak memperhatikanku sejak tadi. Ia terus menatap Karen dengan— Ah, aku tak ingin melihatnya lagi.

Rick aneh. Sungguh aneh.


Aku lapar.

Aku melihat jam dinding di ruang televisi. Pukul 6 malam. Apa masih ada restoran yang buka?

Tunggu. Sepertinya ada. Apa ya?

Doug's Inn! Ya, itu dia!

Aku bergegas menuju kamar mandi. Mandi tiga kali sehari tidaklah buruk. Dari pada aku datang ke tempat umum dengan wajah lelah nan mengerikan? Tidak akan.

Selesai mandi, aku melilitkan handuk ke tubuh dan rambutku. Kemudian aku berjalan menuju kaca—

Tok! Tok! Tok!

Aku mengerutkan kening. Siapa yang bertamu malam-malam begini?

Tanpa teringat apa yang kukenakan sekarang, aku langsung membuka pintu dan mendapati sosok yang selalu ingin kuhindari.

"Gray?!" aku terpekik kaget.

Ah, mengapa harus dirinya yang ada di balik pintu? Mengapa bukan Rick?

Yang kusebut namanya itu mengamatiku dari atas ke bawah secara cepat, dan dengan cepat pula ia membuang muka. Walaupun hanya diterangi cahaya remang-remang, aku dapat melihat bahwa mukanya memerah. Ada apa ini?

Ia menoleh ke arahku dan menatap tajam tepat di mataku sambil bersedekap, ia berkata ketus, "Sebenarnya apa tujuanmu datang ke mari? Menjadi gadis penggoda pertama di kota ini?"

Aku melotot. Aku tak pernah melakukan hal yang salah terhadapnya. Mengapa aku terus-menerus dicelanya?

Tapi tunggu. Sepertinya ada yang salah. Aku mengamati apa yang Gray amati tadi dan terkejut luar biasa.

Aku hanya melilitkan handuk ke tubuhku dan Gray melihatnya. Gadis macam apa aku ini?

Segera saja aku bersembunyi di balik pintu dan hanya menyembulkan kepala untuk menemui Gray. "Oh astaga! Maafkan aku. Aku tak bermaksud melakukan apa yang ada di pikiranmu itu. Baru saja aku selesai mandi dan tiba-tiba mendengar ketukan pintu dan—"

"Sudahlah. Aku datang ke sini hanya mengantarkan ini padamu," pria di hadapanku memotong kalimatku dan menyerahkan sebuah cangkul perak kepadaku. Ia datang ke sini hanya untuk menyerahkan ini? Peduli sekali. Tapi tetap saja aku tidak akan terlena. Sekali membencinya, tetap membencinya.

"Ah ya, terima kasih sudah repot-repot mengantarkannya," memberinya sedikit pujian sepertinya tidak ada salahnya.

Gray mendengus. "Bila tidak disuruh Kakek, aku tak akan melakukannya. Lain kali jika memesan, ambil sendiri."

Aku menarik napas, berusaha menahan kesabaran. "Terserahmu."

"Oke, aku pergi. Jangan sekali-kali menemuiku," lalu Gray berjalan menjauhiku. Cih! Siapa juga yang ingin menemuinya?

"Gray!" aku berteriak memanggilnya ketika teringat sesuatu. Yang kupanggil berhenti berjalan, namun tidak bersuara, bahkan sekadar menoleh pun tidak.

"Tolong jangan menceritakan kejadian tadi pada siapapun," pintaku. Bahaya bila kejadian tadi tersebar luas. Reputasiku bisa hancur.

Tapi ia hanya tersenyum sinis dan berjalan menjauh. Apa maksudnya? Semoga saja ia tak melakukan hal yang aneh-aneh.


"Claire!" seseorang memanggilku. Aku menoleh ke asal suara dan menemukan Ann yang melambaikan tangan ke arahku. Di sekitarnya ada tiga gadis lainnya, yang merupakan temanku juga. Mary, Popuri, dan Elli.

Aku berjalan menghampiri meja tempat mereka duduk dan menempati kursi yang masih kosong.

Ann mengembuskan napas lega. "Syukurlah kau datang. Aku tak perlu datang ke tempatmu. Di sana gelap, kau tahu?"

Aku mengangguk. Tiba-tiba teringat pada hari pertama aku sampai ke kota ini. Dengan kurang ajarnya aku mengira Mayor Thomas adalah hantu. "Aku sedang berpikir untuk memasang beberapa lampu jalan."

Popuri mengacungkan ibu jarinya. "Ya, baguslah kalau begitu." Lalu kami tertawa bersama.

Mendadak aku teringat mengapa aku berada di meja ini. "Ada apa kau mencariku, Ann?"

Ann tersadar akan sesuatu. "Oh ya! Kau harus melihat ini." Ann menyerahkan sebuah daftar. Sebuah daftar event tahun ini.

"Lalu mengapa aku harus melihat ini? Aku sudah memilikinya di kalender."

Ann tersenyum geli. "Lihatlah halaman selanjutnya."

Aku menurut. Tulisan di halaman itu membuatku mengerutkan kening. "Ketua, sains, sosial, bahasa, komputer, instrumen, dan olahraga? Apa ini? Dan mengapa ini semua adalah mata pelajaran di sekolah?"

"Mayor selalu menyerahkan tugas mengatur event pada warganya. Karena menurut hampir semua warga menganggap anak muda seperti kita cukup lincah dalam melaksanakannya," jelas Popuri. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti dan meletakkan daftar di atas meja.

"Tolong sekarang jelaskan masing-masing pekerjaan dari jabatan dengan nama unik itu."

"Ketua. Tentu kau sudah tahu apa tugas ketua, bukan? Ia mengatur agar divisi di bawahnya bekerja dengan baik dan juga memberikan sambutan pada setiap event. Sains. Ia akan melakukan riset-riset yang berhubungan dengan event dan mendaftar apa-apa saja yang dibutuhkan dalam event," akhirnya Elli bersuara.

Kini giliran Ann yang menjelaskan. "Sosial. Ia bertugas untuk membuat poster atau apa saja yang dapat memberitahu sekaligus mengudang warga untuk datang ke event. Juga menghubungi pihak-pihak yang sekiranya mendukung terlaksnanya event."

"Bahasa. Ia mengatur warga dan peserta event apa yang harus mereka lakukan," Mary yang sedari tadi diam, akhirnya mengangkat suara.

"Komputer. Ia akan membuat poster atau apalah yang diinginkan divisi sosial menjadi nyata. Ia juga menjalankan alat-alat berteknologi canggih pada hari H event," Popuri menjelaskan lagi.

"Ah maaf, aku terlambat." Semua mata memandang ke asal suara. Karen? Ia juga—? Tentu saja, ia masih muda sepertiku.

"Sampai di mana kita?" tanyanya dengan terengah-engah. Sepertinya ia berlari menuju ke sini.

"Menjelaskan pada Claire tugas apa yang dijalankan tiap divisi. Kita sudah sampai di divisi instrumen," ucap Ann dingin. Eh?

"Jangan sampai aku mendapatkannya lagi," gumam Karen pelan. Namun karena aku di sebelahnya, maka aku mendengarnya dengan jelas.

Namun kemudian semuanya hening. Hei, tidak ada yang ingin menjelaskan dua divisi terakhir?

"Instrumen. Ia yang akan menyediakan apa yang dibutuhkan dalam event," Elli yang memutuskan untuk menjelaskan.

"Dan terakhir, olahraga. Ia bertugas untuk membantu lima divisi lainnya. Tugasnya memang berat, dan membutuhkan seorang pria dalam divisi ini," jelas Ann.

Seorang pria? Kira-kira siapa yang akan ditunjuk? Apakah Rick?

"Sekarang waktunya pembagian tugas!" seru Ann lantang membuyarkan lamunanku.

"Kali ini yang akan menjabat menjadi ketua adalah Ann!" seru Popuri tidak kalah lantangnya.

Ann terkejut. Namun detik selanjutnya ia tertawa. "Mengapa harus aku?" Ha ha ha, pura-pura merendah, rupanya.

Ann dan Popuri berdebat tentang siapa yang lebih baik menjadi ketua, dan akhirnya kemenangan ada di pihak Popuri yang memilih Ann menjadi ketua.

"Oke, giliranmu!" Popuri menepuk bahu Ann.

Ann mengambil daftar dan berkata tegas, "Jangan ada yang menyela ketika aku membacakan tugas. Baiklah, Elli divisi sains. Claire divisi sosial. Mary divisi bahasa. Popuri divisi komputer. Karen divisi instrumen. Ada yang tidak setuju?"

Aku divisi sosial? Tugasku apa tadi? Membuat poster dan menghubungi pihak yang mendukung event? Oke, aku setuju saja.

"Mengapa aku selalu ditempatkan dalam divisi instrumen? Aku tidak setuju!" Karen protes.

Ann mengembuskan napas kesal. "Oke, kau ingin bertukar dengan siapa?"

Karen memandang kami satu persatu dan seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia menjawab, "Mary."

Gadis yang tiba-tiba namanya dipanggil, terkejut. Tetapi ia langsung berkata, "Oke, aku setuju."

Aku mengerutkan alis. Semudah itu?

Ann tersenyum kecut. "Sekarang bisakah kalian membuat rencana untuk event pada Spring 18?"

"Hei, bagaimana dengan Spring 14? Spring Thanksgiving Festival? Kita bisa mengadakan acara kecil-kecilan pada malam hari," Popuri mengusul. Usul yang bagus, aku suka itu.

Ann tampak berpikir, lalu ia tersenyum senang. "Kau jenius. Mari kita membuat rencana—"

"Astaga, aku melewatkan apa saja?" sebuah suara pria tertuju ke arah kami. Sepertinya suara itu tidak asing bagi telingaku.

Aku menoleh dan merutuk. Mengapa harus pria ini?

"Kau melewatkan banyak hal, Gray." Ah, tolong Mary. Jangan sebut namanya. Telingaku terasa gatal. Tunggu. Ya, pantas saja Mary menyetujui permintaan Karen. Yang akan banyak membantunya adalah pria yang ia sukai. Pantas saja.

Aku pura-pura tidak peduli akan kehadiran Gray dan memilih untuk mendesain sebuah poster di notes yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Tapi mendadak aku bingung. Acara apa yang akan diadakan pada Spring 14 itu?

Aku ingin berdiskusi dengan Ann, tetapi ia sedang berbincang dengan Gray. Sial! Aku menoleh ke samping kiriku dan menemukan Karen tengah melamun. Tidak, jangan gadis itu. Aku menoleh ke samping kananku dan—

"Popuri, apa kau mempunyai ide acara kecil-kecilan apa yang akan diadakan pada Spring 14?" tanyaku.

Popuri berpikir. "Pesta dansa?"

Ide yang bagus, tapi terlalu klise. "Jangan. Bagiku itu sedikit klise. Bagaimana bila sedikit permainan bagi para pasangan?"

Popuri tertawa. "Apa kau bilang? Pasangan? Anak muda di sini belum ada yang berpacaran, kau tahu?"

Aku tersenyum malu. Namun aku mencoba membela diri. "Maksudku, 'pasangan'. Anak laki-laki yang mengajak gadis yang disukainya, mereka menjadi satu pasangan."

Popuri menghentikan tawanya dan berpikir. "Kurasa itu ide yang sangat brilian!" Dan kami ber-high five ria.

"Hei, kalian berdiskusi apa?" Ann bertanya.

Popuri pura-pura cemberut. "Salahmu sendiri dari tadi mengobrol dengan Gray. Nanti ada yang cemburu."

Aku tahu, yang dimaksud Popuri adalah Mary. Wajah Mary berubah menjadi merah padam.

Dan aku tahu, sejak tadi Gray menatapku dengan tajam, seolah aku adalah santapan baru baginya. Aku bergidik ngeri. Aku tak berani balik menatapnya. Aku memutuskan untuk menunduk dan melanjutkan sketsa poster.


Penulis: bagaimana, kau suka? ^^

Claire: =_=

Penulis: ada apa?

Claire: tidak ada apa-apa -_-^

Penulis: O_O oke, aku akan melanjutkannya

Claire: bolehkah sekali-kali aku menulis satu chapter?

Penulis: tentu saja tidak, itu tugasku _

Claire: oh ayolah

Penulis: baiklah, bila itu yang kau mau, kau kuberi kesempatan saat aku sibuk belajar UN

Claire: ^_^ terima kasih!

Penulis: tapi jangan merusak ceritaku, awas saja bila kau melakukannya

Claire: -.,-

Penulis dan Claire: mohon reviewnya! ^^