-Previous Chapter-

"Hei, kalian berdiskusi apa?" Ann bertanya.

Popuri pura-pura cemberut. "Salahmu sendiri dari tadi mengobrol dengan Gray. Nanti ada yang cemburu."

Aku tahu, yang dimaksud Popuri adalah Mary. Wajah Mary berubah menjadi merah padam.

Dan aku tahu, sejak tadi Gray menatapku dengan tajam, seolah aku adalah santapan baru baginya. Aku bergidik ngeri. Aku tak berani balik menatapnya. Aku memutuskan untuk menunduk dan melanjutkan sketsa poster.


SPRING 11, Year 1

Dear diary,

Maafkan aku, kukira hari-hari selanjutnya akan jarang menulismu. Kini hari-hariku dipenuhi kesibukan baru, yang tak pernah kudapat di kota manapun.

Aku menjadi salah satu orang yang mengatur semua event tahun ini. Ini tugas terberat yang pernah kujalani. Apa lagi event di kota ini tidak dapat dibilang sedikit. Setidaknya ada tiga event dalam satu musim, atau mungkin lebih. Ini gila.

Aku ditugaskan untuk membuat sesuatu yang dapat memberitahu sekaligus mengundang warga untuk datang pada event juga menghubungi pihak-pihak yang mendukung berjalannya event. Cukup menyenangkan bagiku. Yah, meski sangat melenceng dari gelarku, tapi setidaknya dulu aku memiliki teman yang pernah mengajariku hal-hal seperti itu.

Ah ya, divisi bagian ini adalah divisi sosial. Nama yang unik, bukan? Nama divisi-divisi lainnya pun begitu, diambil dari mata pelajaran di sekolah. Sungguh kreatif.

Sekali lagi maafkan aku. Tapi aku akan menyempatkan diri bila ada waktu luang. Kali ini aku harus menyiapkan event untuk Spring 14, Spring Thanksgiving Festival. Poster dan brosur yang kudesain sudah ada di tanganku sekarang dan kini aku menunggu seseorang dari divisi olahraga datang ke rumahku untuk membantuku dalam menempel poster dan menyebarkan brosur.

Kau ingin tahu siapa yang ditunjuk untuk divisi olahraga?

Seorang yang kubenci. Gray.

Baiklah, fighting Claire!


Tok! Tok! Tok!

Ah, pasti seseorang yang tak kuharapkan kedatangannya.

"Masuklah. Aku belum mandi. Menunggulah di dalam," aku menyambutnya dengan keengganan yang tidak kututup-tutupi.

Matanya melebar kaget. "Aku datang ke sini untuk menunggumu mandi? Tidak akan." Ia membuang muka.

Aku mengembuskan napas kesal. "Oh, ayolah Gray." Aku menariknya untuk masuk ke dalam rumah. "Masakah aku harus selalu menyeretmu untuk mengikutiku?"

"Cepatlah mandi. Aku tak ingin berada lama-lama di rumah pengap ini," ia mendorongku menjauh.

Aku sudah tak peduli lagi dengan omongan pedasnya. Bagiku, biarlah hal-hal itu berlalu bagaikan angin.

Aku mandi secepat yang kubisa. Bukan hanya Gray yang tidak ingin berlama-lama di rumahku. Aku pun juga tidak ingin. Tapi sebagai tuan rumah—nyonya rumah untukku—yang baik, tentu aku tak membiarkan tamuku berada di luar rumah sedangkan aku bersenang-senang di dalamnya.

Sepuluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Aku tak ingin mengulangi kejadian tempo hari.

"Acara televisimu membosankan sekali. Hidup di peternakan memang selalu membosankan."

Anggap itu angin.

Aku berjalan menuju kaca untuk menyisir rambutku dan mengikatnya.

"Gadis sepertimu memang harus berdandan. Sudah berdandan saja masih tidak enak dipandang, apalagi tidak."

Ini bukan berdandan, ini hanya merapikan rambut. Oke, anggap itu angin saja.

Ketika aku mematutkan diri di depan kaca dan merasa sudah tampak rapi, aku berjalan menuju kotak yang menyerupai peti harta karun. Aku membukanya dan menaruh peralatan yang mungkin kubutuhkan dalam tas.

"Apa itu? Kotak harta karun? Ternyata masih ada kotak kuno seperti itu di zaman modern seperti ini."

Kuno? Bila dalam peti ini terdapat harta karun sungguhan, aku akan menyombongkan dan menertawakannya sampai menangis. Baiklah, aku harus menganggapnya angin.

"Ayo keluar. Kau ingin terkunci dalam rumahku?" aku berjalan keluar dan hendak menutup pintu.

Ia mendelik dan mengambil langkah panjang agar hal yang kuucapkan tidak terjadi. Ha ha ha!

"Ingat, bersikaplah profesional kali ini."


Ah, akhirnya. Hanya tinggal menempel poster di Rose Square, pekerjaanku selesai! Tak kusangka, warga kota menyambut acara ini dengan semangat menggebu-gebu. Mereka beranggapan bila acara menarik seperti ini belum pernah diadakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Sepanjang pembagian brosur dari rumah ke rumah, Gray terus mengoceh. Ia terus mengejekku, entah mengapa ia tak pernah kehabisan akal untuk melakukannya. Tetapi terkadang, ia menceritakan secara singkat tempat-tempat yang kami kunjungi. Dari Gray aku mengetahui banyak hal, salah satunya adalah ibu Rick, Lillia, yang ditinggal suaminya yang sedang mencarikan obat untuknya, tetapi belum kunjung kembali. Kasihan sekali.

Berarti dalam kata lain, Gray suka bergosip? Ha ha ha!

Kami sudah sampai di Rose Square. Dan mataku tertuju pada sebuah papan tak terurus.

"Ini papan pengumumannya?" aku menunjuk papan itu dan menatap Gray tak percaya.

Gray mengangguk.

"Lalu bagaimana di waktu-waktu yang lalu warga tahu event apa yang akan diadakan?" aku bingung. Seingatku Ann menyuruhku untuk membuat poster. Atau apa saja. Ah, aku lupa kata-kata itu.

"Dulu tidak ada yang pernah menjabat di divisimu. Divisi ini dikerjakan oleh panitia secara bersamaan. Yang kuingat, mereka melakukan pemberitahuan secara langsung dari rumah ke rumah tanpa media apapun," kata Gray. Alisku terangkat. Benarkah itu? "Kau yang pertama, dan kau sangat kreatif."

Aku mengerutkan dahi pertanda bingung. Aku yang pertama? "Dalam kata lain, sesungguhnya aku tak perlu bersusah payah seperti ini?"

Gray menggeleng. "Bukan itu maksudku. Ini adalah sebuah kemajuan dalam mengatur event."

Aku sudah mengerti dan bersorak dalam hati. "Lalu?" kali ini aku ingin menggodanya.

"Kau berbakat," sepertinya Gray sedang tidak sadar mengatakan itu.

Aku tersenyum jail. "Lalu?"

"Kau hebat, aku salut," Gray masih saja tidak sadar.

"Ada lagi?"

"Kau—" ia menoleh ke arahku dan menyipitkan mata. "Kau sedang memerasku untuk mengatakan pujian untukmu? Kau mengerjaiku?"

Aku terkikik geli. "Sudah kubilang, bersikaplah profesional kali ini. Bila memang aku kreatif, berbakat, dan hebat seperti yang kau katakan, mengapa tidak kau akui saja?"

Ia memutar bola mata. "Huh, dasar gadis menyebalkan!"

"Yang mengatakan itu berarti juga menyebalkan," sahutku enteng.

"Tsk, berisik. Ayo kita selesaikan pekerjaanmu."

Aku kembali menatap papan pengumuman yang kotor dan tak terawat. Kemudian aku membongkar isi tas yang kubawa. Ini dia.

Dua buah lap untuk membersihkan debu dan kaca.

Sebuah masker untuk melindungi hidungku dari debu.

Sebuah pembersih kaca untuk membersihkan kaca.

"Gray, bisakah kau membersihkan kaca? Ini," aku menyerahkan sebuah lap dan pembersih kaca padanya. Ia menatapku heran.

"Tunggu apa lagi, sekarang kerjakan," perintahku.

Matanya melebar dan segera melakukan pekerjaannya. Sedangkan aku yang akan membersihkan debu papan.

Beberapa saat kemudian, kami selesai membersihkannya. Aku tersenyum puas menatap papan pengumuman. Setidaknya kali ini papan tersebut enak untuk dipandang.

Aku segera mengambil poster dari dalam tas dan mengambil beberapa pushpin. Kebetulan bagian dalam papan adalah softboard, sehingga sesuatu yang akan dipajang akan mudah ditempel dan mudah untuk dilepaskan.

Selesai sudah. Aku menatap puas pada papan pengumuman. Di sana sudah terdapat poster. Desainku sendiri, yang diwujudkan oleh Popuri yang pintar mengoperasikan komputer.

Hari sudah mulai gelap. Aku melihat jam tanganku. Pukul 6 malam.

"Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang ke penginapan," kataku pada Gray.

"Aku akan mengantarmu."

Aku terkejut. "Apa aku tidak salah dengar? Apa kau bilang?"

Gray mengembuskan napas kesal. "Aku akan mengantarmu. Bukankah aku harus bersikap profesional? Tidak baik bila seorang gadis berjalan di tengah kota pada malam hari."

Aku terdiam. Gray peduli padaku? Ini adalah sebuah kejadian langka.

"Oh, ayolah. Aku sangat lelah. Jangan membuang waktuku lebih lama lagi," Gray berkata seraya menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku menjauhi Rose Square.

Aku melihat genggaman Gray pada tanganku. Ada sesuatu yang salah. Tangan Gray menyalurkan rasa kehangatan, yang tak pernah kurasakan pada pria manapun sebelumnya.

Jelas saja. Bahkan ayahku dengan—

Claire, jangan pernah mengingat kejadian itu lagi, kau harus kuat. Ya, aku harus kuat. Aku tak boleh menangis, setidaknya sekarang, disaat aku masih melihat ada orang lain di sekitarku.

"Sudah sampai," kata Gray membuyarkan pikiran kalutku.

"Terima kasih sudah bersikap profesional hari ini," kataku sedikit sinis sambil membuka pintu. Padahal aku bermaksud untuk tulus berterima kasih, tapi mengapa aku mengucapkannya dengan nada seperti itu?

Aku melihat Gray mendengus. "Kau yang membuat desain poster itu?"

Aku mengangguk. Apa Gray ingin memujiku lagi? Aku bersorak dalam hati.

"Standar." Apa?

"Huh, dasar. Selamat malam," ucapku lalu menutup pintu. Saat aku berbalik, mataku menemukan sebuah case alat musik yang cukup besar. Di saat sedih seperti ini, aku harus menyalurkannya pada apapun di hadapanku. Mungkin bermain musik adalah sasaranku kali ini.

Aku meraba case itu dan membukanya perlahan. Sebuah cello terpampang di depan mataku. Aku mengambilnya dan tak lupa mengambil bow. Lalu aku mencoba menggesek nada dasar, dan tidak terasa janggal dengan nadanya. Baguslah.

Perlahan namun pasti, aku mulai menggesekkan sebuah nada. Perasaanku sedang kalut. Tanganku bergerak begitu saja, menekan dan menggesek nada. Nada-nada itu menghasilkan lagu yang terdengar begitu pilu. Sepilu hatiku.

Sebuah air mata mengalir di pipiku. Aku tak berusaha untuk menghapusnya. Lama kelamaan air mata mengalir dengan derasnya. Aku menyudahi permainanku dan meletakkan cello ke dalam case-nya. Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menangis sepuasnya hingga tertidur.

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa terdapat sepasang mata yang memperhatikanku sejak tadi.


Spring 14, Year 1—Spring Thanksgiving Festival

"Selamat datang di acara Spring Thanksgiving Festival Game! Saya selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda pada acara malam ini. Ah ya, sebenarnya kami tidak pernah mempunyai rencana untuk merayakan hari ini, karena seperti yang Anda tahu, Anda dapat merayakannya sendiri dengan pasangan Anda." Ann berhenti sejenak oleh karena banyak yang berdeham menggodanya. Maklum, yang menghadiri acara ini adalah orang dewasa yang tentunya sudah tahu tanda-tanda seseorang sedang jatuh cinta. Kontan saja pipi Ann bersemu merah.

Dehaman sudah sedikit mereda sehingga Ann melanjutkan pidatonya, "Tetapi salah satu dari panitia mengusulkan agar merayakan acara ini secara kecil-kecilan, hitung-hitung sebagai ajang bersosialisasi, katanya. Orang yang saya maksud berada di ujung sana, si tukang merepotkan tapi sangat kreatif. Claire!"

Aku yang tiba-tiba disebut namanya langsung saja melotot ke arah Ann. Yang kupelototi hanya terkikik geli. "Kasihan sekali Claire. Ia tidak bisa mengikuti permainan seperti kita karena ia tak memiliki teman kencan. Maklumlah, ia orang baru di sini, jadi masih malu-malu."

"Sedangkan kau sudah memalukan," balasku sambil mengangkat bahu. Ganti Ann yang melotot.

Semuanya tertawa. Aku menunduk. Yah, mengapa aku harus menjadi pusat perhatian tadi? Beruntung Ann adalah teman baikku, aku tahu ia hanya bergurau.

"Sekian sambutan dari saya. Selamat menikmati acara ini," gadis yang menjabat sebagai ketua panitia itu menutup pidatonya. Semua bertepuk tangan.

Setelah Ann beranjak pergi, Karen maju ke depan dan menjelaskan acara ini. Aku membuang muka. Ia cantik, tapi sepertinya ia kelewat mengetahuinya dan menggunakannya sebagai ajang memamerkan diri. Lihatlah, ia menggunakan gaun sedangkan yang lain hanya menggunakan kaos dan jeans.

Ann sudah berdiri di sampingku. Aku memanggilnya dan menunjuk Karen sambil memberi tatapan bertanya-tanya. Tapi ia hanya mengangkat bahu dan memberikan tatapan masa-bodohnya.

"Sungguh kau tidak ingin ikut? Kau bisa bermain bersamaku," sebuah suara dari samping mengejutkanku dan Ann.

Aku menoleh dan mendapati Gray yang tengah berbicara padaku. Aku menatapnya heran. "Kau bermain saja dengan Mary, aku dan Popuri yang akan menjadi pemandu acaranya," tolakku secara halus. Bersikap kasar terhadap Gray di muka umum bukanlah ide bagus.

"Oh, baguslah," lalu ia berjalan pergi. Sebenarnya siapa sih yang mengajak? Mengapa ia tampak senang ketika kutolak? Tapi mengapa aku berharap ia kecewa? Malah aku senang bila ia juga tidak suka padaku. Aku tidak perlu merepotkan diri menghiraukan pria aneh itu.

Ann menyikutku dan memandangiku dengan heran. Aku hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.

"Baiklah, permainan segera dimulai!" Karen menutup penjelasannya. Semuanya bersorak dan bertepuk tangan.

Sepanjang jalannya acara ini, aku dan Popuri adalah orang tersibuk. Kami yang memandu peserta agar melakukan permainan dengan benar sekaligus menjadi juri yang menentukan kalah-menangnya peserta. Dengan tidak berperasaan, panitia lainnya malah ikut menjadi peserta dan bermain dengan asyiknya. Huh!

Akhirnya acara selesai pada pukul 8 malam. Tidak terasa dua jam telah kami habiskan untuk acara ini. Ah tidak, bagiku sangat terasa lamanya.

"Panitia jangan pulang dulu. Rapat evaluasi akan diadakan sebentar lagi," kata Ann melalui mikrofon.

Aku mengembuskan napas lelah. Badanku sudah remuk, Ann. Mengapa kau tidak membiarkanku pulang saja?

"Ini," seorang pria menyodorkan segelas air kepadaku. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia duduk di sampingku. Aku memalingkan muka. Aku tak ingin melihat wajah Gray sekarang.

"Kau lelah?" tanyanya.

Aku berdecak kesal. "Tentu saja. Kau tidak kasihan padaku? Ah, pasti tidak. Kau hanya bermain bersama Mary dan tidak membantuku sama sekali."

"Mary?"

Aku menoleh padanya, dan terperanjat bila yang kuajak bicara dari tadi bukanlah Gray. Ia bukan Gray. Ia— Rick!

"Ah, maafkan aku. Kukira kau Gray," wajahku bersemu merah. Rick, akhirnya ia mendatangiku dan berbicara padaku! Apa aku sedang bermimpi?

"Sepertinya kau begitu membenci Gray," simpulnya.

Aku mengangkat bahu. Entah berapa kali aku melakukannya hari ini. "Begitulah."

"Kak, aku pinjam Claire dulu. Ia harus rapat evaluasi. Nanti setelah itu kau bisa mengambilnya lagi. Sampai malam juga boleh," tiba-tiba Popuri menghampiri dan menggoda kami seperti itu. Aku menatapnya garang.

Rick hanya tersenyum simpul. "Oke, sampai jumpa Claire."

Aku mengangguk dan ketika Rick sudah tidak berada dalam jangkauan pandanganku, aku langsung menghujani Popuri dengan cubitan.


"Acara ini sukses. Selamat untuk kita semua!" teriak Ann gembira. Terang saja ia yang paling gembira. Ia yang sangat bertanggung jawab dalam acaraini.

Semua panitia bertepuk tangan. Aku juga, namun aku tak punya cukup tenaga untuk bersorak seperti Ann dan Popuri. Huh, mereka punya tenaga cadangan berapa karung, sih?

"Aku mengucapkan banyak terima kasih pada kalian, terlebih pada Claire dan Popuri. Mereka benar-benar hebat, aku salut."

Aku menghela napas. "Tidak ada embel-embel lain, seperti Claire yang merepotkan dan suka mengeluh?"

Ann terkekeh. "Tadinya aku ingin mengatakannya, tapi kau sudah mengatakannya sendiri."

Aku pura-pura cemberut. Dan semuanya tertawa lepas, aku pun ikut tertawa bersama mereka.

Tapi pria menyebalkan yang duduk di seberangku hanya tersenyum. Aku mendengus. Gengsi tertawa heboh di depan umum?

Tunggu. Senyuman jenis apa itu? Mm... Meski aku tak tahu jenis-jenis senyuman di dunia, namun senyumnya kali ini adalah jenis yang kudambakan sejak dulu.

Senyuman bangga.

Kudambakan? Entahlah, sepertinya begitu.


Popuri dan Ann: sepuluh karung -_-^

Claire: wow, berikan seperempatnya padaku

Popuri: cari saja sendiri ^^

Claire: =_=

Penulis: kau hebat

Claire: terima kasih, tapi Gray benar-benar menyebalkan -_-

Penulis: tapi kau suka, kan?

Claire: T_T jauh lebih baik bersama Rick

Popuri: kau suka pada kakakku? Ah, berita baru!

Ann: sebenarnya kau lebih cocok dengan Gray, tapi biarlah, BERITA BARU!

Claire: =_=^

Penulis: mohon review-nya ^_^