-Previous Chapter-
Tapi pria menyebalkan yang duduk di seberangku hanya tersenyum. Aku mendengus. Gengsi tertawa heboh di depan umum?
Tunggu. Senyuman jenis apa itu? Mm... Meski aku tak tahu jenis-jenis senyuman di dunia, namun senyumnya kali ini adalah jenis yang kudambakan sejak dulu.
Senyuman bangga.
Kudambakan? Entahlah, sepertinya begitu.
SPRING 17, Year 1
"Maaf Zack, tapi aku tak bisa memberimu banyak belakangan ini."
"Oh, tidak apa-apa, Nona. Event?"
"Ya."
"Kau begitu gigih mengerjakannya, hingga kau sedikit menelantarkan pekerjaanmu."
"Ah, maafkan aku, Zack. Aku akan mengusahakannya selagi ada waktu luang."
"Waktu luang? Ini pekerjaanmu, Claire!"
"Ah ya, maaf. Jangan marah begitu. Kau bertambah jelek."
Sebuah handuk kumal melayang tepat ke wajahku.
Spring 19, Year 1
Wajah-wajah di sekitarku tampak lesu dan ingin protes keras, begitu juga denganku. Tetapi Ann tidak memberikan kami celah sedikit pun untuk melakukannya.
"Ayolah Ann, mengapa tidak kemarin saja dan membiarkan kami tidur seharian hari ini?" keluh Popuri.
Ann menggeleng tegas. "Aku sudah memberikan kalian waktu istirahat selama dua belas jam kemarin. Masih kurang?"
"Ya! Trent sudah mengizinkanku untuk libur hari ini, tapi kau malah merusaknya dengan rapat ini," Elli yang biasanya kalem, ikut mengajukan protes. Trent? Oh, Dokter maksudnya.
Ann menampakkan wajah bersalahnya. "Maafkan aku. Kemarin aku lupa karena—"
"Sibuk berkencan dengan Cliff!" seru semuanya, termasuk aku.
Muka Ann langsung memerah seperti kepiting rebus. Langsung saja kami tertawa.
Tiba-tiba pintu Inn terbuka. Semua menoleh ke arah pintu. Tampaklah seorang yang baru saja kami sebutkan namanya. Lalu semuanya, kecuali Ann, terkikik geli.
"Hei, ada apa?" tanya Cliff heran. Semua memandang ke arahnya sambil terkikik, bukankah itu sangat mencurigakan?
Semuanya masih saja terkikik, sehingga aku memutuskan untuk mengangkat suara. "Cliff, kekasihmu ini telah melalaikan pekerjaannya demi kau," aku berkata sambil menunjuk Ann.
Mata Ann membelalak lebar. "Claire!"
Aku tertawa sambil membungkukkan badan pertanda minta maaf.
Tapi Ann sepertinya tidak menghiraukan permintaan maafku. Ia balik menyerangku dengan berkata, "Dari pada kau, menyukai—"
Perkataan Ann terpotong karena aku membekap mulutnya. Jangan sampai ada yang tahu rahasiaku selain Ann dan Popuri. Itu saja sudah membuatku khawatir setengah mati.
"Ayolah Claire. Kami ingin tahu siapa yang kau sukai," sahut Mary.
Aku menggeleng berkali-kali. Tapi melihat Ann, aku menyerah juga. "Oke, tapi tidak saat ini. Ada saatnya ketika—" aku melirik Gray dan Cliff yang menjadi alasanku untuk tidak mengatakannya saat ini, namun aku urung mengucapkan yang sebenarnya. Nanti bisa-bisa mereka kege-eran. "—Aku sudah siap."
Semuanya berseru kecewa dan aku melepaskan tanganku dari Ann. Ia mengembuskan napas lega.
"Baiklah teman-temanku, terima kasih sudah—" Ann membuka pidatonya. Aku memandangnya malas dan bersiap untuk tidur. Tapi sialnya posisiku ada di sebelah Ann, jadi ketika mataku mulai terpejam, aku harus siap bila Ann menginjak kakiku dengan keras.
Spring 21, Year 1
Aku berlari menaiki tangga Inn dan bergegas menuju pintu kamar yang terjauh dari tangga. Aku sedang mencari seseorang dan kini aku terburu-buru.
Aku membuka pintu tanpa mengetuknya dan berseru, "Cliff! Aku butuh bantuan— Gray?"
Gray mendengus kesal. "Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? Mengagetkan saja."
"Oke, maaf." Aku melangkah mundur dan mengetuk pintu.
Ia membuang muka. "Gadis yang tak tahu sopan santun. Apa tidak diajari orang tuanya?"
Oke, ia memang pria bermulut pedas. Tapi tolong jangan disangkut-pautkan dengan—
Aku merasakan tetesan air mengalir di pipiku. Oh, tidak. Aku melakukan sebuah kesalahan besar. Menangis di depan pria menjengkelkan sedunia.
"Eh?" Gray berjalan mendekatiku karena tersadar bila aku tiba-tiba terdiam. "Kau menangis?" Ia menggiring dan mendudukkanku di ranjang.
"Kau tidak apa-apa? Maaf karena perkataanku tadi," suaranya sarat akan penyesalan. Ia berlutut di depanku dan ragu-ragu mengusap air mataku.
Aku memalingkan muka. "Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku pergi dulu," aku mengusap air mataku secara kasar lalu berdiri dan beranjak pergi. Namun sebuah tangan menahan langkahku. Tangan Gray.
"Kau bisa memercayaiku," katanya tegas.
Aku menghela napas perlahan. Bisakah aku memercayainya? Melihat raut wajah Gray, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku berusaha melepas genggaman Gray dan berbalik. Kemudian aku berjalan ke arah ranjang dan mendudukinya. Gray tersenyum seraya mengambil kursi dan duduk di hadapanku.
Mm... Baru kali ini aku melihat Gray tersenyum. Dan hal langka yang dilakukannya itu— sangat menawan.
Huh, apa yang kupikirkan? Dasar otakku yang tidak bisa bekerja sama dengan perasaan. Bukankah aku menyukai Rick?
"Jadi—" aku memulai cerita kehidupanku di masa lalu. Sebenarnya aku tak ingat apa-apa lagi, tapi ini versi pamanku.
Sepanjang aku bercerita, Gray mendengarnya dengan saksama dan menatapku seolah hanya ada aku di dunia ini.
Aku terpesona melihatnya serius seperti itu.
Tidak! Otak, mengapa kau berkhianat padaku?!
"Oh, begitu. Baiklah, jangan menangis lagi. Kau jadi bertambah jelek. Dan maaf akan perkataanku tadi."
Aku mengangguk dan menghapus air mataku. Benar-benar memalukan. Kira-kira apa yang ada dalam pikirannya ketika melihatku seperti ini?
"Oh ya, ada apa kau mencari Cliff?" pertanyaannya membuatku tersadar akan tugasku hari ini.
Aku membuka isi tasku dan menunjukkan setumpuk brosur pada Gray. Ia membacanya sekilas dan langsung protes, "Bukankah ini tugasku?!"
Aku mengangguk pasrah. "Sejujurnya aku ingin mencari suasana lain. Bosan bekerja denganmu." Aku menarik napas, siap menghadapi amukannya.
Tetapi Gray hanya tersenyum simpul sambil merebahkan dirinya ke ranjang. "Oke, aku tidur dulu. Selamat bekerja!"
"Hei, kau tidak bekerja?"
Ia menggeleng dan menutup matanya.
"Dasar pemalas."
"Aku tidak pemalas, aku hanya—"
"Buktikan."
Gray berdecak. "Baiklah. Aku akan menemanimu. Puas?"
Aku terkekeh dan mengacungkan jempol. "Ayo, aku tak punya waktu banyak," aku berkata sambil menarik Gray keluar dari zona nyamannya itu.
"Ya, ya."
"Claire, mengapa kau lama sekali di atas? Apa saja yang kaulakukan dengan— Gray?" sepertinya Ann langsung mengoceh ketika mendengar langkah-langkah menuruni tangga tetapi seketika terdiam ketika melihat bahwa di sampingku bukanlah pria yang disukainya, tapi orang lain.
Namun sedetik kemudian ekspresi wajah Ann berubah drastis. Kini ia tersenyum menjengkelkan. Oh tidak.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi tolong jangan katakan sekarang. Aku tak punya waktu banyak," aku langsung melarikan diri dari Ann.
Ketika sudah di luar Inn, Gray yang mengikutiku langsung menatapku aneh. Aku memutar bola mata dan memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
"BERITA BARU!" aku mendengar suara menggelegar berasal dari dalam Inn. Pasti Ann sedang menelepon teman-teman lain. Aku menghela napas. Bersiaplah untuk diinterogasi sepulang kerja, Claire.
"Sungguh, aku tidak melakukan apa-apa. Mary, tolong jangan menatapku seperti itu."
Kini aku sudah disekap di ruang interogasi dengan tangan dan kaki diikat dan diterangi oleh cahaya minim. Oke, itu terlalu berlebihan. Aku sedang berada dalam kamar Ann yang berada di belakang counter. Ann, Popuri, Mary, dan Elli berdiri di sekelilingku dengan raut wajah yang aneh-aneh.
Ann dengan senyum menjengkelkannya.
Popuri dengan ekspresi menahan tawa.
Elli dengan ekspresi ingin tahu.
Tapi yang paling mengerikan adalah Mary, dengan tatapan membunuhnya.
"Oh ayolah, percaya padaku. Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa. Kalau berani, tanya saja pada Gray." Aku sudah speechless, entah apa lagi yang dapat membuat teman-teman yang sekarang sudah menjadi monster di hadapanku ini percaya.
"Oke, aku akan bertanya padanya sekarang," putus Mary sambil berjalan pergi menjauhi kami.
Tawa Popuri langsung meledak. Aku menatapnya garang. "Sesungguhnya aku menertawakan Mary yang menganggap ini terlalu serius," jelasnya.
Semua mengangguk membenarkan, termasuk aku.
"Sepertinya ia begitu menyukai Gray," ucap Ann.
Memang begitu. Tapi aku tak ingin mengatakannya. Mary sangat lembut hatinya, aku tak pernah ingin untuk menyakitinya.
Namun tadi ia sangat mengerikan. Mary yang tadi bukanlah Mary yang kukenal. Ia berubah drastis ketika mendengar berita melenceng Ann. Apa iya cinta itu mengubah segalanya?
Segalanya?
"Ann, aku baru teringat sesuatu. Kau punya nomor Gourmet yang bisa dihubungi? Mayor tidak ada ketika aku mengunjungi rumahnya tadi."
Ann mengerutkan kening. Lalu ia berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil daftar event. Ia menelusurinya dengan teliti lalu tak lama setelah itu ia tersenyum dan menunjukkannya padaku.
"Ini."
"Terima kasih."
Popuri menyahut, "Hei, Mary lama sekali. Jangan-jangan—"
"Popuri, pikiranmu itu harus dibersihkan. Claire, jemput Mary sana," perintah Ann. Aku membelalakkan mata. Memangnya ia atasanku? Yah, setidaknya saat ini tidak. Tetapi karena Ann tidak suka bila dibantah, maka terpaksa aku melakukannya. Aku berjalan lesu ke tempat Gray berada.
Aku menaiki tangga dengan semangat yang sudah mendekati titik nol karena pekerjaanku tadi yang sungguh menguras tenaga plus diinterogasi layaknya pencuri saja.
Kini aku sudah berada di depan pintu kamar Gray. Apa aku harus membukanya? Bagaimana bila mereka sedang—
Gawat, pikiranku sudah sama dengan Popuri.
Sedang berbicara dengan serius, itu maksudku. Oke, membuang pikiran tidak-tidak dan menggantinya dengan pikiran yang lebih baik.
Oleh karena tenagaku sudah terkuras habis, aku tak sempat berpikir untuk mengetuk pintu dulu. Dan mataku melebar kaget. Apa yang kulihat?
Mary memeluk Gray. Bisa-bisa bila aku tidak datang, mereka akan—
Ah tidak. Pikiran itu datang lagi. Menyingkirlah, pikiran jelek.
Sepertinya mereka masih tidak sadar bila ada orang lain yang sudah berada satu ruangan dengan mereka, sehingga aku berdeham keras.
Jelas saja mereka terkejut dan Mary melepas pelukannya. "Ah, maaf bila aku mengganggu. Lanjutkan saja. Tapi Mary, kau dicari oleh teman-teman di bawah. Kau mau membuat mereka menunggumu?"
Mary tersenyum malu, sedangkan Gray berekspresi datar seperti biasa. Eh, apakah tadi Gray juga memeluk Mary? Yah, mengapa mataku tidak jeli? Ini bisa menjadi berita baru, bukan?
Ini mengerikan. Lama-lama otakku bisa rusak karena teman-teman. Namun menyenangkan juga berteman dengan Ann, Popuri, Mary, Elli, dan teman-teman yang lain.
"Thanks, Gray," Mary memandang Gray penuh arti dan berucap pelan, lalu berjalan ke arahku, tetapi telingaku sangat jelas mendengarnya. Berita baru! Berita baru!
Dasar Claire.
Sebelum menutup pintu, aku sempat melihat Gray menatap tajam ke arahku. Sebagai balasannya, aku menjulurkan lidah.
"Claire."
"Ya?"
"Maafkan aku."
"Karena?"
"Telah salah sangka padamu. Gray sudah menceritakan semuanya, dan aku turut berduka atas kematian—"
"Sudahlah. Itu sudah sangat lama."
Mary menepuk pundakku perlahan, berusaha menyalurkan semangat. Mary, kau sangat baik.
Dan apa yang Gray katakan? Besok ia tak akan bisa melarikan diri dariku.
"Gourmet, saya butuh bantuan Anda."
"Maaf, saya sedang berbicara dengan siapa?"
"Claire, penduduk baru Mineral Town."
"Oh, Mineral Town," terdapat jeda sejenak. "Cooking Festival?"
"Benar. Bisakah Anda memberikan tema masakan sekarang, agar kami bisa memberitahukannya pada warga?"
"Tentu. Tema kali ini adalah," jeda lagi. "Kehidupan."
"Kehidupan?"
"Aneh, ya? Aku hanya memikirkan kata itu dari tadi. Entahlah."
"Ah, tidak. Tidak. Tema yang sangat unik. Terima kasih sudah meluangkan waktu Anda. Dan terima kasih bila Anda bersedia untuk menjadi juri besok."
"Saya selalu bersedia. Terima kasih."
Kehidupan?
Spring 22, Year 1
"Gray sudah menjadi orang penting bagi hidupku," ucap Mary pelan.
"Tentu saja. Bukankah kami, teman-temanmu ini, juga menjadi orang penting bagi hidupmu?" balas Ann.
Mary menggeleng. "Bukan itu maksudku. Gray sudah menjadi— kekasihku."
Ann menaikkan alis. "Begitu?"
Yang ditanya hanya mengangguk.
Tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian kemarin, setelah aku menjemput Mary dari kamar Gray. Kapan mereka resmi menjadi sepasang kekasih? Kemarin?
"Thanks, Gray." Mary memandang Gray penuh arti dan berucap pelan, lalu berjalan ke arahku, tetapi telingaku sangat jelas mendengarnya.
Ah, itu dia!
Kemudian aku tersadar ketika melihat sesosok yang berjalan melewatiku. Tunggu. Itu Gray?
"Hei!" seruku menghentikan langkahnya. Tapi ia terus berjalan. Apakah telinganya sedang error?
Aku berlari dan berhenti di depannya. "Selamat! Mengapa kau tidak bilang padaku?"
Gray hanya mengerutkan alis. Lidahku berdecak. "Bukankah kau sudah menjadi kekasih Mary? Selamat!" aku mengatakan itu sambil mengulurkan tangan.
Namun pria menyebalkan itu hanya membalas uluran tanganku singkat dan membalas ucapanku secara singkat pula, "Thanks."
Lalu pria itu membuang muka dan kembali berjalan melewatiku. Mm... Sepertinya ada yang aneh darinya. Kira-kira apa yang membuatnya seperti itu?
Dan mengapa aku begitu peduli, hah? Tidak penting!
Claire: Mary, bisakah aku memercayaimu?
Mary: tentu saja ^^
Ann dan Popuri: ada apa ini? O_O
Claire dan Mary: tidak ada apa-apa ^_^
Ann: Claire, kau sudah berdamai dengan Gray?
Claire: gencatan senjata, tapi aku terpaksa melakukannya
Mary: mengapa?
Claire: sekali menyebalkan, tetap menyebalkan
Mary: hei!
*terjadilah perang antara Claire dan Mary*
Penulis: untuk ainagihara, terima kasih untuk review-nya ^_^ yah, memang karakternya aku buat berbeda, hehehe. Terima kasih ^^
Mohon review-nya ^_^
To Be Continued ^o^
