-Previous Chapter-

Gray hanya mengerutkan alis. Lidahku berdecak. "Bukankah kau sudah menjadi kekasih Mary? Selamat!" aku mengatakan itu sambil mengulurkan tangan.

Namun pria menyebalkan itu hanya membalas uluran tanganku singkat dan membalas ucapanku secara singkat pula, "Thanks."

Lalu pria itu membuang muka dan kembali berjalan melewatiku. Mm... Sepertinya ada yang aneh darinya. Kira-kira apa yang membuatnya seperti itu?

Dan mengapa aku begitu peduli, hah? Tidak penting!


Penulis: kau boleh membuat ceritamu kali ini

Claire: HORE ^o^


Aku berjalan santai menuju Inn. Sepertinya tempat itu sudah menjadi rumah keduaku. Bayangkan saja, tiap hari aku harus menginjakkan kaki di sana.

Mungkin karena aku sedang melamun atau tak memperhatikan jalan, aku menabrak seseorang. Seorang pria berambut pirang dengan bandana putih. Tunggu. Bukankah itu—

"Rick?" seruku tertahan. Namun segera aku bersikap biasa saja. Huh, jangan sampai memalukan di depan Rick, Claire bodoh.

"Oh, hai Claire. Maaf aku sudah menabrakmu," katanya sambil tersenyum kecil.

"Tidak. Tidak. Aku yang menabrakmu. Seharusnya aku yang minta maaf," kilahku. Lalu aku teringat sesuatu. "Lama tak mengobrol, eh?"

Rick mengangguk dan tampak memikirkan sesuatu. "Bagaimana bila kita mengobrol di Inn?"

Inn? Malas, ah. "Aku sudah bosan berada di Inn. Bagaimana bila jalan-jalan saja? Cuaca hari ini sedang sangat normal."

"Ide bagus."


"Kau sangat menyenangkan. Aku senang bisa mengobrol denganmu," kata pria yang kupuja dengan sikap tulus.

Aku tersenyum senang. "Aku juga."

Sepertinya Rick sedang termenung, tetapi beberapa saat kemudian ia dengan yakin bertanya, "Bagaimana bila kita berpacaran saja?"

"Apa?" sepertinya telingaku perlu dibawa ke dokter. Dokter Trent, aku butuh bantuanmu! Telingaku! Telingaku!

Claire aneh. Tentu saja Dokter Trent tidak mendengarnya.

"Bagaimana bila kita berpacaran saja?" ulangnya.

Ternyata telingaku masih normal-normal saja. Tapi apa katanya?

"Kau bercanda, kan?" aku masih saja tidak percaya.

Namun pria memesona ini hanya menggeleng dan membelai rambutku. Sentuhannya itu—

Benar-benar membuatku kehilangan kemampuan otak untuk sementara.

"Terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa," Rick melambaikan tangan namun yang kulakukan hanyalah mengangguk. Itupun sudah sangat sulit untuk kulakukan. Sebab otakku masih dalam keadaan mengenaskan.

Terima kasih untuk semuanya, Rick, ucapku dalam hati mengikuti kalimatnya.


Penulis: singkat sekali O_O

Claire: aku mengakui bahwa kau jauh lebih hebat daripada aku soal ini

Penulis: pastinya ^^

Claire: apa kau akan mengabulkannya?

Penulis: tentu saja—

Claire: HORE ^o^

Penulis: —tidak -.,-

Claire T^T

Penulis: kau membuang dan mengganti banyak hal dama cerita ini

Claire: tidak =.,=

Penulis: dan Rick? Kurasa tidak

Claire: bukan dengan Rick?! Aku membencimu T.T


SPRING 25, year 1

Aku berjalan santai menuju Inn. Sepertinya tempat itu sudah menjadi rumah keduaku. Bayangkan saja, tiap hari aku harus menginjakkan kaki di sana. Tidak siang, tidak juga malam. Terkadang aku harus merayu Zack agar tidak marah bila melihat hasil pertanianku yang relatif sedikit. Maafkan aku Zack, ini semua demi kesejahteraan kota ini. Eh, apakah aku sedang berkampanye sekarang?

Pikiranku buyar ketika aku merasa telah menabrak seseorang. Seorang pria berambut pirang dengan bandana putih. Tunggu. Bukankah itu—

"Rick?" seruku tertahan. Namun segera aku bersikap biasa saja. Huh, jangan sampai memalukan di depan Rick, Claire bodoh.

"Oh, hai Claire. Maaf aku sudah menabrakmu," katanya sambil tersenyum kecil.

"Tidak. Tidak. Aku yang menabrakmu. Seharusnya aku yang minta maaf," kilahku. Lalu aku teringat sesuatu. "Lama tak mengobrol, eh?"

Rick mengangguk dan tampak memikirkan sesuatu. "Bagaimana bila kita mengobrol di Inn?"

Inn? Bila salah seorang dari Ann, Popuri, Mary, dan Elli mengetahuinya, aku akan disekap lagi. Tidak. Aku tahu aku tak akan selamat jika itu terjadi. Dan bila Karen yang melihatnya— entahlah, mungkin aku harus rela mati muda. "Bagaimana bila jalan-jalan saja? Cuaca hari ini sedang sangat normal."

"Ide bagus."


"Kau sangat menyenangkan. Aku senang bisa mengobrol denganmu," kata pria yang kupuja dengan sikap tulus.

Aku tersenyum senang. "Aku juga."

Sepertinya Rick sedang termenung, tetapi beberapa saat kemudian ia dengan yakin bertanya, "Bisakah kau datang ke Supermarket besok?"

"Supermarket?" bukankah tempat itu merupakan tempatnya dan Karen bertemu setiap hari? Bisa jadi itu menjadi tempat favorit mereka. Tapi mengapa aku harus pergi ke sana? Apa aku akan menggantikan tempat Karen?

Aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia jika itu adalah sebuah kenyataan.

"Bagaimana? Kau bisa?" tanyanya lagi.

Aku menimbang-nimbang. Apa aku harus menuruti permintaannya? Apa aku masih bernyawa bila menuruti permintaannya?

Claire, kau tahu itu sangat berlebihan.

Apa aku akan bahagia jika menuruti permintaannya?

Semoga saja.

Akhirnya aku hanya mengangguk kecil. Pria di hadapanku ini tersenyum—entah mengapa aku menganggap senyumnya bukan menandakan sesuatu yang baik—dan membelai rambutku. Sentuhannya itu—

Benar-benar membuatku kehilangan kemampuan otak untuk sementara.

"Terima kasih untuk semuanya. Sampai jumpa," Rick melambaikan tangan namun yang kulakukan hanyalah mengangguk. Itupun sudah sangat sulit untuk kulakukan. Sebab otakku masih dalam keadaan mengenaskan.

Terima kasih untuk semuanya, Rick, ucapku dalam hati mengikuti kalimatnya.


Dear diary,

Akhirnya aku memiliki waktu untuk menulismu. Aku tahu bahwa seharusnya aku tak melakukannya sekarang. Bahkan untuk mengurus pertanian pun tidak sempat. Aku menyerahkan semuanya kepada Harvest Sprites. Sebab waktu inipun adalah waktu yang kuambil dengan status ilegal. Kenapa? Karena seharusnya aku berada di Inn sekarang.

Tetapi ada satu hal yang perlu kudiskusikan denganmu. Tidak. Tidak. Bukan berdiskusi, melainkan aku yang bercerita dan kau hanya menyimaknya.

Ini berhubungan dengan Rick. Pria yang selama ini kurindukan karena keberadaannya sulit dicari, mengajakku mengobrol sepanjang hari ini dan memintaku untuk menjadi kekasihnya!

Ah, tidak. Maksudku ia memintaku untuk datang ke Supermarket besok. Ini kebenarannya, yang di atas hanya sebuah khayalan belaka.

Apa yang akan ia lakukan besok? Apakah ia akan mengabulkan khayalanku?

Semoga saja begitu. Tapi mengapa aku tak begitu menginginkan hal—

Tentu saja aku menginginkannya. Lupakan kalimat sebelumnya.

Mm... Namun mengapa aku tidak terlalu bahagia menyambutnya? Mengapa justru aku berfirasat jika besok ada sesuatu yang buruk menimpaku?

Tidak. Aku yakin tidak ada yang buruk besok. Bukankah perasaan tidak selamanya menjadi kenyataan? Mm... Aku sendiri tidak yakin itu.

Baiklah, aku harus menikmati hari esok. Berpikirlah positif, Claire. Berpikir positif.


Spring 26, year 1

Aku melihat jam besar di sebelah cermin. Pukul 8 pagi. Sepertinya Supermarket sudah buka dan aku harus bersiap-siap pergi. Selain memenuhi permintaan Rick, aku juga perlu berbelanja biji-bijian sebagai cadangan untuk tahun depan.

Berjalan santai adalah pilihanku. Bahasa tubuh yang terlalu tegang akan membuat keingintahuan warga lain terpancing dan habislah riwayatku. Selain itu membuatku terlihat tidak terlalu mengharapkan apa-apa.

Padahal dalam hati— aku ingin Rick melamarku!

Melamar? Menyatakan cinta saja belum.

Oke, aku sudah berdiri di depan Supermarket, tetapi sejauh mata memandang, aku tak melihat Rick. Sehingga aku memutuskan untuk membeli bibit dahulu.

"Jeff, aku membutuhkan beberapa bibit Spring," pintaku kepada kasir Supermarket sekaligus ayah dari Karen.

"Ada di counter depanmu. Tapi mengapa kau membeli bibit Spring sekarang? Bukankah Summer sebentar lagi akan datang?" tanya Jeff heran.

Aku mengangguk membenarkan. "Ya, tapi aku membutuhkannya sebagai cadangan."

Lawan bicaraku mengangguk-angguk. "Kau petani yang hebat."

Yang kulakukan hanyalah tersenyum sopan dan mengambil beberapa kantong biji. Benarkah kata Jeff? Kurasa tidak. Aku sering mengecewakan Zack dengan hasil taniku.

"Terima kasih, Jeff," kataku seraya memberikan gold sebagai alat pembayarannya. Kemudian aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Kini aku harus mencari—

"Apa aku harus mengatakannya sekarang?" sebuah suara terdengar cukup lirih. Namun aku dapat menangkapnya dengan jelas. Tunggu. Bukankah itu suara Rick?

Aku menelusuri jalan di depan Supermarket dengan mataku, dan aku melihat Rick duduk bersebelahan dengan Karen sambil membicarakan sesuatu yang serius.

"Jika kau mencintaiku, lakukan sesuai perintahku," giliran Karen yang berbicara. Kalimatnya terdengar janggal. Jika kau mencintaiku

Sontak mataku membelalak. Rick mencintai Karen?!

Aku melihat Rick menghela napas panjang. "Oke, aku memang mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu karena alasan apapun, termasuk Claire. Tidak. Terlebih Claire."

Aku terperanjat. Ini semua hanya mimpi, kan? Tolong bangunkan aku segera dari mimpi buruk ini.

Setitik air mata mengalir di pipiku. Tidak. Aku tidak boleh menangis. Setidaknya dalam satu menit ke depan. Aku mengambil langkah panjang menuju kursi taman dekat Supermarket.

"Rick, tolong katakan padaku bahwa ini hanya mimpi. Atau sandiwara. Atau apapun yang tidak nyata. Tolong katakan!" aku berseru sambil berusaha menahan air mata yang ingin keluar lagi.

Rick hanya terdiam sedangkan gadis di sebelahnya tersenyum mengejek padaku. Aku benci melihat Rick seperti ini. Dimana karisma yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya? Mengapa ia seolah terintimidasi oleh Karen?

"Maaf," kata pria penyuka ayam itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tetapi aku masih dapat mendengarnya.

Aku mendengus. "Maaf? Hanya itu yang bisa kau katakan? Kau tahu apa yang kau lakukan padaku? Kau—" bibirku bergetar hebat, dan ternyata air mataku sudah tak dapat kubendung lagi. "—telah menghancurkan kepercayaanku. Kepercayaanku terhadap makhluk yang berlawanan jenis denganku."

Aku langsung berlari meninggalkannya sambil mencucurkan air mata, tak mengacuhkan seruan Rick yang memanggil namaku. Yang ingin kulakukan hanyalah berdiam diri dalam rumah dan menangis sampai puas. Tidak peduli jika besok mataku akan berubah menjadi panda.

Begitu sampai di dalam rumah, aku duduk bersandar di depan daun pintu dan menangis.

Ini seperti de javu. Aku pernah mengalaminya, ketika aku belum kehilangan ingatanku.


Aku memasuki kamar dan membanting pintu dengan keras lalu duduk bersandar pada pintu. Aku menyapu pandangan pada kamar yang aku tempati selama empat belas tahun ini dengan mata yang sudah sembab ini. Setelah itu aku menghela napas. Kini aku tak pantas mendiami kamar ini. Tidak. Aku tak pantas mendiami rumah ini. Itu kata Ayah.

Aku memang yang bersalah. Akulah yang paling bersalah pada kejadian satu bulan yang lalu. Tapi bisakah orang yang kusebut Ayah selama hidupku itu tidak menimpakan semua kesalahan padaku dan mengusirku dari rumah sendiri? Tidak bisakah ia lebih memilih aku sebagai anaknya ini daripada calon istrinya itu? Apa selama ini aku tak berguna di matanya?

"Kau selalu menyusahkanku. Tolong sekarang angkat kaki dari rumah ini."

Kalimat yang berasal dari mulutnya itu lebih sakit daripada pisau terasah yang menyayat-nyayat kulit.

Apa semua pria di dunia ini suka menyakiti hati wanita? Apa semua pria di dunia ini berlaku jahat seperti Ayah?

Aku mengepak semua barangku dan memutuskan untuk mengikuti apa kata Ayah, selama aku masih mempunyai harga diri. Juga memutuskan untuk tak lagi memercayai pria manapun.

"Claire, maafkan aku," teriakan itu sukses membangunkanku. Sepertinya aku menangis hingga tertidur dengan posisi tidak mengenakkan ini.

"Claire, kau dengar aku? Maafkan aku," teriakan itu kembali terdengar. Itu suara Rick, bukan?

"Pergilah," aku hanya membalasnya singkat dan menutup telingaku.

"Bisakah kau mendengar penjelasanku dulu? Ini semua—"

"Per-gi-lah," aku berkata dengan penuh penekanan pada setiap suku katanya. Kau menghina kemampuan telingaku? Aku mendengarnya dengan sangat jelas.

"Claire, aku—"

"Pergilah, atau aku akan memanggil Harris untuk membuatmu pergi."

Setelah aku berteriak, aku mendengar derap langkah menjauh. Baguslah.

Eh, tapi mengapa aku mendengar langkah-langkah mendekat? Rick lagi.

"Pergilah. Apa kau tak mengerti arti kata itu?"

Di balik pintu, aku mendengar ia mendengus, tetapi ia tak mengucapkan apa-apa.

Aku mengembuskan napas kesal. "Kau sudah menghancurkan kepercayaanku dengan perkataanmu itu, Rick. Sekarang kau ingin menghancurkan apa lagi?"

"Jika ingin sambutan bervariasi untuk tiap tamu, maka lihatlah terlebih dahulu tamumu itu."

Aku terlonjak kaget. Jelas itu bukan suara Rick. Itu suara—

"Gray," kataku lirih setelah membukakan pintu untuknya.

"Kau bisa memercayaiku." Sepertinya kalimat itu selalu bisa membuat hatiku luluh dan menceritakan segalanya pada pria yang mengucapkannya.


"Rick. Ia mem-buatku ti-tidak perca-ya la-lagi pada pria ma-manapun," aku berkata pada Gray sambil terisak. Mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu membuatku bersedih lagi.

Aku duduk di sebuah sofa di depan TV dan memandang TV yang sedang menyala tanpa suara dengan tatapan kosong. Gray yang duduk di sebelahku sengaja menyalakan TV seperti itu agar pemandangan di depanku berganti-ganti sehingga sedikit demi sedikit aku bisa melupakan kesedihanku. Caranya itu sedikit ampuh. Kini ia mengusap rambutku, berusaha menenangkanku. Kurasa sentuhannya itu juga sedikit manjur.

"Aku sudah per-caya padanya se-sepenuhnya. Tapi justru i-ia menghancurkan ke-percayaanku hingga tak ber-sisa," aku menyandarkan kepalaku pada sofa. Menangis membuat tenagaku terkuras habis. Eh, namun mengapa keempukan sofaku berbeda dari biasanya? Aku kembali mengangkat kepala dan menoleh ke belakang. Astaga, ternyata tangan Gray yang menjadi bantalan kepalaku.

"Bersandarlah." Ya sudahlah, aku menurut saja.

"Apa semua pria di dunia ini suka menyakiti hati wanita? Apa semua pria berlaku kejam?" tanyaku dengan suara sangat pelan, berharap Gray tak mendengarnya.

"Tidak." Oh, sial. Jelas saja Gray mendengarnya. Di rumah ini hanya ada aku dan dirinya, juga posisi Gray cukup dekat untuk mendengar suaraku, sepelan apapun itu.

"Lalu aku harus bagaimana?"

Gray mendesah pelan. "Kau hanya harus menghilangkan traumamu pada pria dan membuka hatimu—"

"Dan rela untuk disakiti lagi? Tidak akan," segera aku memotong kata-katanya. Aku tak ingin mendengar lanjutannya.

"Bagaimana dengan pria yang mencintaimu?" kalimat tanyanya sontak membuatku menoleh padanya.

Gray segera membuang muka. Sepertinya ia tak ingin bertatap muka denganku. Ah, sudahlah. "Bagaimana jika ternyata Rick mencintaimu dan yang ia lakukan tadi hanya sekadar sandiwara? Atau mungkin Cliff yang diam-diam mencintaimu."

Aku memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Nada suaranya terdengar aneh di telingaku. "Rick dan Karen bersandiwara? Sama sekali tidak mungkin. Cliff? Hubunganku dengannya hanya sebatas sahabat. Tidak lebih. Lagipula ia sudah menyukai Ann," aku tak perlu menyembunyikan itu dari Gray, sebab sudah menjadi rahasia umum. "Dokter Trent? Pria sedingin es itu tak mungkin menyukaiku. Juga aku tak mungkin melukai Elli yang sudah menyukai Dokter sejak lama. Kau? Kau sudah menjadi kekasih Mary, dan aku sama sekali tidak menyukaimu. Kai? Melihatnya saja belum pernah."

"Ah, bagaimana bila Kai menyukaimu ketika ia melihatmu nanti dan kau juga menyukainya?" desaknya.

Aku memutar bola mata. "Aku bukan tipe gadis yang mudah jatuh cinta. Sudahlah, jangan mencari-cari alasan." Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Gray, ada apa kau ke sini?"

Mendengar ucapanku, sontak matanya melebar. "Kita ada rapat di Inn dan Ann menyuruhku datang ke mari karena takut kau tidak datang lagi seperti kemarin. Dan sekarang sudah pukul— 11!"

"Kau disuruh Ann untuk menjemputku agar datang ke Inn karena kemarin tidak datang? Memangnya aku buronan?" tanyaku kesal.

"Tepat sekali. Ann berkata seperti itu."


To Be Continued ^o^


Claire: aku benar-benar membencimu T.T

Gray: seharusnya kau berterima kasih padanya, ia membuatmu tahu sifat Rick sesungguhnya

Penulis: ha ha ha, Gray benar ^_^

Claire: huh! Terserah =_=^

Ann: ada apa ini? O_O

Popuri: sepertinya kita tertinggal banyak hal penting, Ann

Claire: oke, terima kasih untuk ainagihara atas review-nya... author-san boleh, tapi keiko-san saja *maksa* hehehe, saya pasti ceritakan.. Terima kasih ^^

Mohon review-nya ^_^