-Previous Chapter-

"Ah, bagaimana bila Kai menyukaimu ketika ia melihatmu nanti dan kau juga menyukainya?" desaknya.

Aku memutar bola mata. "Aku bukan tipe gadis yang mudah jatuh cinta. Sudahlah, jangan mencari-cari alasan." Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Gray, ada apa kau ke sini?"

Mendengar ucapanku, sontak matanya melebar. "Kita ada rapat di Inn dan Ann menyuruhku datang ke mari karena takut kau tidak datang lagi seperti kemarin. Dan sekarang sudah pukul— 11!"

"Kau disuruh Ann untuk menjemputku agar datang ke Inn karena kemarin tidak datang? Memangnya aku buronan?" tanyaku kesal.

"Tepat sekali. Ann berkata seperti itu."


SPRING 30, year 1

Aku menghela napas perlahan. Kini aku telah berdiri di depan cermin dengan tubuh yang hanya dibalut handuk. Ini mengingatkanku pada kejadian ketika aku mengenakan hal yang sama di depan Gray. Wajahku memerah. Kejadian itu tak pantas untuk dikenang.

Lalu mataku menangkap sesuatu yang ada pada tubuhku. Tepatnya di bahu kananku. Terdapat sesuatu yang berwarna cokelat kehitaman. Mm... Sepertinya itu tanda lahir. Aku mengarahkan bahuku lebih dekat dengan cermin, dan ya, itu memang tanda lahir.

Dan itu— berbentuk huruf 'C'.

"Apa itu yang ada di bahumu?"

Aku tersenyum misterius. "Tebaklah," kataku pada anak laki-laki yang bertanya itu.

Ia mengetukkan jari telunjuknya di dagu dan mengerutkan kening. "Tanda lahir?"

Aku tersenyum lagi, kali ini adalah sebuah tanda kepuasan. "Kau benar."

Ia membelalakkan mata dan bertanya, "'C' untuk Claire?"

"Ya, 'C' untuk Claire," aku membeo. "Dan Clara."

Lawan bicaraku mengangguk-angguk. "Ibumu?"

Aku tertawa kecil dan menjawab, "Ya."

Tiba-tiba sebuah peristiwa yang tak pernah kuingat berkelebat dalam kepalaku. Apa itu tadi? Sebuah ingatan masa lalu, eh? Ingatan tentang sebuah tanda lahir berbentuk huruf 'C' yang terdapat di bahuku. 'C' untuk Claire— dan Clara.

Kurasa tinggal di Mineral Town dapat membangkitkan ingatanku kembali, walau sedikit demi sedikit. Apakah aku harus senang— atau sedih? Aku termenung. Ingatan masa lalu tak ada gunanya lagi bagiku. Aku berpendapat bahwa masa lalu hanya akan merusak masa depan, seperti yang biasa kutonton di film-film.

Yah, kepalaku ini terlalu banyak diisi oleh film-film roman tidak jelas. Tapi pendapatku tadi ada benarnya, bukan?

Tunggu. Siapa laki-laki yang berbicara padaku waktu itu? Rambut berwarna oranye dengan alis tebal serta hidung yang tegas. Sepertinya pernah kukenal akhir-akhir ini.

Akhir-akhir ini? Aneh-aneh saja.


"Besok ia datang!" seru Popuri kegirangan. Kami yang duduk satu meja dengannya menutup telinga. Suara Popuri sepertinya tidak ada bedanya dengan petir di luar.

"Iya, Popuri, besok ia datang. Bisakah kau berhenti melompat-lompat begitu?" tegur Ann.

Popuri tersenyum terlalu manis dan duduk. Kami semua mengembuskan napas lega dan mengambil posisi ternyaman untuk mendengarkan pidato Ann.

"Siapa yang kalian sebut 'ia'?" aku tak tahan untuk tidak bertanya. Sedari tadi aku hanya bengong menatap mereka semua.

Mata Popuri langsung berbinar-binar. "Pria yang kucintai setengah mati. Ia seperti malaikat—"

"Stop! Kai, tentu saja," Ann yang akhirnya menjawab. Aku mengangguk-angguk.

"Selamat pagi teman-temanku. Bagaimana dengan—" Ann memulai pidatonya. Sontak aku menguap lebar dan bersiap untuk tidur. Tetapi bodohnya aku yang tidak belajar dari pengalaman, posisiku tepat di sebelah Ann. Jadi, mau tidak mau aku harus mendengarkannya, bila tidak ingin kakiku diinjak sampai membiru.

Kai. Aku merasa dengan mendengar namanya saja dapat menimbulkan rasa benci. Entah mengapa.


"Sepertinya kau tak terlalu menyukai pria bernama Kai itu, Gray? Ada apa?" aku bertanya pada pria yang berjalan di sebelahku. Aku bingung dengannya. Ia menjalin hubungan dengan Mary tetapi lebih sering pulang denganku. Dan anehnya, Mary tidak marah padaku.

Ah, biarlah. Toh aku tak perlu ikut campur dengan hubungan mereka yang tampaknya rumit itu.

Gray tersentak. Sepertinya ia sedang melamun tadi. Kira-kira ia melamunkan siapa?

Hei, mengapa aku peduli? Huh.

"Ia pria yang menyebalkan," jawabnya singkat.

Aku mendengus kesal mendengar jawabannya. "Kau juga menyebalkan," celetukku tanpa sadar. Gray menoleh dan menatapku dengan tatapan yang tak dapat kumengerti. Aku melanjutkan kalimatku, "Lalu apa yang membuatmu beranggapan bahwa ia juga menyebalkan?" aku menekankan kata 'juga' agar pria ini tahu bahwa ia pun menyebalkan.

Aku mendengar Gray berdecak. "Memangnya kau bukan gadis yang menyebalkan?"

"Kau lebih menyebalkan."

"Kau."

"Kau!" nada suaraku mulai sedikit meninggi.

"Kau," anehnya Gray membalas dengan sikap santai. Oke, membentak bukanlah solusi yang tepat untuk menyerang Gray. Itu hanya akan membuat energiku terkuras habis.

"Huh!" aku mendengus untuk yang kedua kalinya. Sikap Gray benar-benar menyebalkan. Aku heran mengapa Mary bisa-bisanya mencintai pria macam Gray.

"Sekarang jawab pertanyaanku tadi," kataku dengan nada sedikit memerintah, berharap pria itu langsung takut dan membiarkan aku menang.

Namun harapanku pupus sudah ketika melihat Gray menyeringai. "Pertanyaan yang mana?"

Aku hanya dapat melongo mendengarnya bertanya balik. Ia pura-pura bodoh atau memang ia bodoh, sih? Atau ia sedang mengerjaiku?

Segera aku mengambil langkah panjang meninggalkan Gray. Gray berseru memanggilku dan kini ia sudah berada di sampingku lagi. "Hei, aku bercanda," ucapnya sambil tertawa kecil. Aku membuang muka.

"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi menurutku Kai adalah pria yang pintar merayu gadis-gadis, apalagi gadis sepertimu."

Alisku terangkat. "Sepertiku? Apa maksudmu?"

Lawan bicaraku berdeham sebentar kemudian melanjutkan, "Ya, gadis yang keras kepala dan tak mudah termakan rayuan pria sepertinya," ia berkata begitu sambil mengangkat bahu.

Pernyataannya membuatku mengerutkan kening. Aku keras kepala? Memangnya ia tidak? "Terserah. Yang jelas—" aku berpikir sebentar, sepertinya memberitahu Gray tidak ada salahnya, "—mendengar namanya saja sudah membuatku muak."

Ia tampak terkejut. "Kau sudah mengingat sesuatu?" tanyanya hati-hati.

Aku mengerutkan keningku lebih dalam. Tampaknya ada yang ia sembunyikan. "Eh?"

Ia buru-buru menggeleng. "Tidak. Tidak penting."

Aku hanya mengangkat bahu tak acuh dan pamit pada Gray yang telah memasuki toko kakeknya, Saibara. Sepanjang perjalanan aku merenung. Hari ini Gray sedikit aneh. Ia sedikit baik padaku, bersedia menemaniku sepanjang perjalanan pulang, dan entah mengapa kalimat pedasnya tak pernah keluar lagi. Ada apa ini?

Dan apa pula yang ia sembunyikan? Tidak penting, katanya? Mungkin saja.

Atau sebaliknya?


Dear diary,

Musim panas akan datang beberapa jam lagi. Rasanya tak sabar menghirup udara musim yang baru dan merasakan matahari bersinar begitu terik serta mengalami musim di mana hujan jarang terjadi. Kau akan begitu bahagia menyambut musim ini ketika kau menganggap hujan adalah sesuatu yang menghambatmu untuk menikmati indahnya kota. Namun sayang sekali jika kau adalah manusia tipe penyayang penampilan, karena kau akan menyadari bila mentari akan mempersiapkan sinarnya yang paling menyengat untuk kulitmu.

Ya. Ya. Aku tak peduli hal itu. Bagiku keduanya sama saja. Sama-sama cuaca yang mau tidak mau harus kunikmati.

Tetapi aku merasa aku tak akan begitu menikmati musim yang akan datang ini. Tidak. Tidak. Bukan karena cuacanya. Tapi karena salah satu penduduknya. Bisa dikatakan ia adalah seorang nomad, berkelana dari satu tempat ke tempat lain tanpa memiliki tempat tinggal yang tetap. Yang kudengar dari penduduk lain, ia selalu datang ke Mineral Town pada musim panas. Ya. Pada musim yang datang tak lama lagi.

Kai.

Yang kudengar lagi, ia adalah salah satu pria pujaan para gadis di kota ini. Apa salah satu kelebihannya? Apa ia seorang yang tampan namun memiliki sikap tertutup sehingga membuat gadis-gadis penasaran seperti Dokter Trent? Apa ia seorang yang pemalu tetapi mempunyai sikap lembut seperti Cliff? Atau ia seperti Gray yang—oke, kuakui—sangat tampan tapi sifatnya tidak dapat ditebak siapapun itu?

Rick? Maaf, tapi aku tak sudi untuk memujinya lagi.

Tetapi entah mengapa mendengar nama penduduk nomad itu membuat tingkat amarahku melonjak naik. Oh ya, mungkin saja aku merasa bahwa ia adalah pria yang pintar merayu seperti yang dikatakan Gray.

Mungkin saja. Mm... tapi aku tak begitu yakin.


Summer 1, year 1

Aku terbangun ketika sebuah sinar menembus tirai jendela dan menyinari wajahku. Aku bangkit dari tempat tidur dan menyibak tirai-tirai itu, lalu menyadari bahwa aku terbangun di musim yang baru. Aku tersenyum kemudian teringat jika jam 10 nanti akan ada event yang menanti, Beach Opening Day. Segera aku membersihkan diri dan sarapan sambil menonton TV. Setelah selesai mempersiapkan diri, aku berjalan ke arah pintu, membukanya, dan—

Aku mengerutkan kening dan melirik jam tanganku. Pukul 7 pagi. Siapa yang pagi-pagi sudah bertandang ke rumahku ini?

"Siapa kau?" tanyaku, namun aku ingat bila satu-satunya penduduk baru yang belum pernah kulihat adalah penduduk nomad itu.

Ia tersenyum terlampau manis. "Selamat pagi gadis yang manis dan cantik. Aku—"

"Oh, Kai rupanya. Aku punya nama. Claire. Ada perlu apa?" potongku sarkastik. Malas juga melihat wajahnya pagi-pagi begini. Lebih baik aku melihat wajah Gray seharian penuh dari pada ini—

Claire, apa yang kau pikirkan, hah? Gray sangat menyebalkan, ingat itu.

Tunggu. Seperti yang kurasakan ketika melihat Gray pertama kali, aku merasa pernah melihat Kai sebelumnya.

Tapi itu semua kapan?

"Oh. Oh. Jangan kasar begitu, gadisku. Walaupun wajah marahmu itu menarik, tapi jika kau tersenyum, itu akan lebih menyenangkan," ia berkata begitu sambil meraih salah satu tanganku. Refleks aku menarik tanganku kembali dan menatap sinis ke arahnya. Aku memutuskan untuk tidak berbicara apa-apa untuk meladeni tingkah menyebalkan pria ini.

"Gadisku, kau tentu tahu aku akan tinggal di sini selama musim panas ini. Dan selama itu pula, aku akan membantu pekerjaan Gray dalam— mm..."

"Divisi olahraga," aku membantu menyelesaikan kata-katanya. "Dan jangan memanggilku dengan sebutan lain selain nama saja," tambahku. Mendengarnya menyebutku dengan sebutan 'gadisku' padahal kami belum lama berkenalan membuatku emosi.

Dan ia akan berada di divisi olahraga selama ia tinggal di sini. Huh, aku tak ingin ia membantuku sedikitpun. Lebih baik Gray menemaniku seharian dari pada—

Gray lagi. Gray lagi. Apakah otakku sedang bermasalah hari ini?

Lebih baik aku mengerjakan tugasku sendirian dari pada dibantu oleh mereka. Terlebih oleh Kai. Uh, tidak. Mereka sama saja.

"Baiklah, jika tidak ada keperluan lain, silakan pergi," dengan tega aku mengusirnya.

Mata Kai membelalak. "Kau mengusirku? Oke. Oke. Kau memang gadis yang menantang. Baik, aku pergi. Sampai jumpa di acara nanti!" Kai beranjak pergi sambil melambaikan tangan. Aku hanya diam.

Gadis yang menantang? Menyebalkan. Sampai jumpa di acara nanti? Maksudnya Beach Opening Day? Oh Goddess, mengapa aku harus bertemu dengan dua pria menyebalkan sekaligus?


"Rapat evaluasi akan diadakan lima menit lagi. Panitia diharapkan tinggal sebentar," seru Ann melalui microphone. Aku menghela napas. Haruskah aku bertemu dengan Kai dengan jarak yang lebih dekat? Sejak acara berlangsung saja aku harus berpindah-pindah tempat agar Kai tidak mengikutiku. Tetapi tetap saja ia terus memandangiku meski di sebelahnya ada Popuri yang jelas-jelas menyukainya. Apa ia tidak puas, hah?

"Claire, kau melamun," itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Aku menoleh dan mendapati Mary yang sedang tersenyum. Senyumnya dapat membuat pikiranku sedikit tenang. Aku heran. Mengapa Mary yang sangat baik ini bisa menyukai pria menyebalkan seperti Gray? Ah sudahlah. Tentu saja ia punya alasan mengapa bisa menyukai pria yang kini menjadi kekasihnya itu.

Mm... Sepertinya mereka jarang bersama. Setidaknya ketika mereka berada dalam jarak pandangku. Mungkin saja mereka bersama ketika aku tak melihatnya, tetapi entah mengapa ada yang terasa janggal.

Apa mereka sedang berpura-pura? Sepertinya tidak mungkin. Melihat wajah bahagia Mary ketika aku memergoki mereka sedang berpelukan—setidaknya aku melihat Mary memeluk Gray—cukup membuktikan bila mereka tidak sedang berpura-pura. Lagi pula apa untungnya bila mereka berpura-pura? Untuk membuat yang lain iri? Jujur saja, aku tak merasakan hal itu.

"Mary, apa kau menyukai Kai?" tanyaku spontan. Tetapi ketika aku melihat Mary mengerutkan dahi, aku melanjutkan, "Sebagai teman, maksudku."

Mary menyunggingkan senyum. "Ah, tentu saja. Ia pria yang baik dan menyenangkan."

Opini yang dilontarkan Mary sukses membuat mataku melebar. "Baik dan menyenangkan? Dari mana? Ia sangat menyebalkan, kau tahu?"

"Kau belum terlalu mengenalnya, Claire. Bertemanlah dengannya, kau akan tahu bahwa pendapatku itu benar," Mary terkikik geli.

Aku mendengus. "Huh, aku tak sudi berdekatan dengan pria perayu macam Kai."

Mary hanya tertawa, tidak menanggapi atau menyangkal pendapatku. Mungkin ia setuju bila Kai adalah pria yang pintar merayu. Namun yang tidak aku mengerti, mengapa nilai Kai tidak jatuh di mata gadis-gadis karena 'kelebihan'nya itu?

"Hati-hati Claire. Batas antara benci dan cinta itu tipis," tawa Mary berhenti, digantikan dengan senyum khasnya. "Bisa saja kau menyukai Kai setelah mengatakan hal tadi, seperti kau yang mulai tertarik pada Gray setelah kau berkata padaku dulu bahwa kau begitu membencinya."

"APA?!" mataku melebar sempurna. "Gray menyebalkan. Aku tidak pernah tertarik dengan pria menyebalkan sepertinya. Gray untukmu saja."

Mary tertawa lagi. Tanpa sadar aku tersenyum. Aku menghargai usaha Mary untuk membuatku tidak melamunkan Kai lagi. Tidak. Tidak. Bukan karena aku merindukannya atau semacam itu. Tetapi karena tingkah Kai yang begitu menjengkelkan yang membuatku membencinya setengah mati.

"Hei gadis-gadis, kalian merindukanku?" suara itu begitu menggangguku. Aku memutar kepalaku dan aku melihat dua pria menyebalkan berada di dekatku. Kai dan Gray. Tetapi melihat wajah Gray yang menyiratkan rasa tak suka melihat tingkah Kai, aku yakin mereka tidak memiliki perjanjian untuk datang ke tempat kami bersama-sama.

Sekali lagi aku merasakan hal ini. Merasakan bahwa aku pernah mengenal mereka sebelum aku pindah ke Mineral Town. Dan anehnya aku merasakan bahwa aku pernah dekat dengan mereka.

"Oh, ternyata kau di sini, gadisku. Mau kutemani melihat bintang-bintang? Aku yakin wajahmu akan terlihat sangat cantik ketika disiram cahaya bintang," untuk yang kesekian kalinya ia tersenyum terlalu manis.

Aku menutup mukaku dan menggeleng-geleng. Bagaimana bisa aku bertemu dengan orang seperti Kai di kota kecil yang kutinggali ini? Apa tidak ada orang yang lebih aneh lagi?

Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang merangkul bahuku. Aku menoleh dan melihat Kai yang melakukan itu padaku. Dengan cepat aku menyingkirkan tangannya, menjauh dari tubuhku.

"Jangan pernah menyentuhku selamanya. Dan jangan pernah menemuiku," aku berkata ketus dan segera meninggalkannya.

Beruntung sekali Kai tidak mengejarku. Namun aku masih dapat mendengar ia bergumam, "Aku tidak akan pernah menaati kata-katamu itu ketika aku menyadari bahwa cinta pertamaku kini telah kembali."

Bisakah kau diam, Kai? Tunggu. Apa yang baru saja ia katakan, eh?


To Be Continued ^o^


Claire: bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya kurasakan? O_O

Penulis: ^_^

Claire: uh, terserahmu. Tapi tolong jangan membuatku dekat dengan Kai itu. Lebih baik aku bersama Gray— ah tidak, keduanya sama saja

Penulis: kau menyukai Gray?

Claire: APA?! Tidak!

Penulis: iya juga tidak apa-apa ^^

Claire: Tidak! TT_TT

Penulis: oke, terima kasih untuk ainagihara atas review-nya... Sampai chapter berapa? Jujur saja, saya tidak tahu. Melanjutkan chapter ini saja sudah terasa berat, karena saya sedang mengalami writer's block T.T... Tapi saya janji akan menyelesaikan fanfic ini secepatnya ^^ Terima kasih juga untuk Satsuki Kobayakawa atas review-nya... Terima kasih dan saya akan berusaha lebih maksimal lagi dalam memeriksa kesalahan ketik ^^ Dan terima kasih untuk Mugi Hattori yang sudah tidak sabar menunggu kelanjutan fanfic ini ^^ Ah, maafkan saya yang terlalu cerewet kali ini #ditendang# terima kasih sekali lagi ^^

Mohon review-nya ^_^