-Previous Chapter-
Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang merangkul bahuku. Aku menoleh dan melihat Kai yang melakukan itu padaku. Dengan cepat aku menyingkirkan tangannya, menjauh dari tubuhku.
"Jangan pernah menyentuhku selamanya. Dan jangan pernah menemuiku," aku berkata ketus dan segera meninggalkannya.
Beruntung sekali Kai tidak mengejarku. Namun aku masih dapat mendengar ia bergumam, "Aku tidak akan pernah menaati kata-katamu itu ketika aku menyadari bahwa cinta pertamaku kini telah kembali."
Bisakah kau diam, Kai? Tunggu. Apa yang baru saja ia katakan, eh?
Summer 5, year 1
"Mm... Mungkin sedikit ke kiri, Gotz."
Aku sedang memantau pekerjaan Gotz di pertanianku. Kini ia tengah memosisikan tiang lampu jalan sesuai dengan kesepakatan kami yang telah ditorehkan di sebuah kertas yang sedang kupegang sekarang.
Ya, tiba-tiba saja aku teringat akan janjiku yang kuucapkan pada beberapa orang, entah pada siapa—sejak kejadian 'itu', ingatanku semakin lemah saja—dan seketika itu juga, aku pergi ke rumah Gotz untuk membicarakannya. Ternyata ia sependapat denganku, tentang pertanianku yang sangat mengerikan di malam hari. Pria paruh baya itu bersedia membantuku, bahkan tidak keberatan bila aku tidak membayarnya.
"Tidak perlu. Kau sudah banyak memberiku hadiah tiap hari. Sudah sepantasnya aku membantumu tanpa imbalan," kata Gotz saat itu.
Aku ingat, aku melongo ketika mendengarnya. Gotz terlalu berlebihan. Aku hanya memberinya keju dan telur—itu pun tidak selalu—sebagai salah satu bentuk pertemanan. Namun ia menganggapnya 'banyak'.
Dengan berpikir panjang, akhirnya aku setuju, walaupun aku akan tetap menaruh dua puluh ribu koin emas di tasnya secara diam-diam.
"Bagaimana dengan ini, Claire?" tanya Gotz, membuyarkan lamunanku.
Aku memiringkan kepala sambil mengetukkan jari ke dagu. Kemudian aku menunduk, menatap kertas yang sedang kupegang. Mm...
Untuk memastikan, aku mundur beberapa langkah, tetapi mendadak aku merasakan tubuh bagian belakangku menabrak sesuatu. Tidak. Lebih tepatnya, seseorang.
"Siapapun yang kutabrak, tolong maafkan aku," ucapku tanpa susah payah menoleh untuk mengetahui sosok yang kuajak bicara.
Kepalaku mendongak dan menatap tiang lampu jalan itu. "Mm... Kau benar-benar hebat, Gotz!" seruku gembira.
Ia tertawa pelan. "Kau juga, Claire. Ingat, ini semua idemu." Aku tersenyum mendengarnya. Pujian dari orang lain adalah sesuatu yang langka bagiku. Semenjak tinggal di Mineral Town, hidupku banyak berubah.
"Ya. Ya. Hebat," sahut sebuah suara yang berasal dari belakangku. Aku menoleh dan langsung melengos. Mengapa harus pria menyebalkan ini yang pertama kali melihat hasil dari ideku?
"Oh, Gray, kau di sini juga rupanya. Bagaimana? Bukankah ide Claire memang hebat?" sepertinya Gotz berusaha memanas-manasiku. Aku memandangnya. Ah, tidak. Ia tidak punya maksud apa-apa saat mengatakannya.
Gray mengangguk, membuatku mengembuskan napas kesal.
"Ah, maaf Claire. Sudah pukul 8 malam. Aku harus pulang sekarang dan besok akan kulanjutkan dengan memasang kabel. Sampai jumpa!" Gotz pamit dan berjalan ke selatan pertanian menuju rumahnya.
Aku memandang Gray tajam. "Ada apa kau ke sini?" tanyaku ketus.
Pria itu berdecak kesal sambil menyerahkan sabit emas. "Bila tidak disuruh Kakek, aku tak akan ke sini malam-malam."
"Ya, terserah. Terima kasih dan— keberatan untuk mampir sebentar?"
"Apa?"
Aku gelagapan ketika tersadar bahwa aku sedang mengatakan hal yang aneh di hadapannya. "Uh, maaf. Maksudku, aku ingin menawarimu masuk karena sepertinya aku tak pernah mengizinkanmu masuk secara baik-baik," hanya itu kalimat yang dapat kupikirkan.
Gray mengerutkan kening sambil menatapku dalam. Entah apa yang salah dalam diriku, tapi seketika itu juga jantungku berdetak lebih cepat. Aku langsung membuang muka, sama sekali tidak berharap untuk mati cepat. Mungkin aku harus pergi ke klinik besok.
"Baiklah bila kau tidak mau. Aku masuk dulu," kataku sambil membalikkan badan dan berjalan menuju pintu rumah.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku dan membuat langkahku terhenti. Aku memutar kepalaku, memandang tangan besar dan hangat yang melakukannya itu, dan kemudian memandang pria pemilik tangan itu.
"Oke, aku terima tawaranmu," sahutnya cepat.
Aku menyipitkan mata, lalu mengedikkan bahu tanda bila aku tak peduli. Dan ketika mengingat kalimatnya barusan, aku tertawa dalam hati. Kalimatnya seperti menggambarkan jika aku sedang menawarinya pekerjaan, atau semacam itu. Huh, aneh-aneh saja.
Sejurus kemudian, kami telah masuk ke dalam rumahku dan aku menyuruhnya untuk duduk di kursi di ruang makan, sedangkan aku memasak baked corn untuknya. Ini makanan kesukaan Gray, yang informasinya kudapat dari Ann.
Ketika aku membawa dan menaruh makanan itu di hadapannya, ia kembali menatapku tajam. Dan aku kembali memalingkan muka. "Tahu dari?"
Sudah kuduga ia bertanya itu. "Ann yang memberitahuku," jawabku singkat.
Aku tidak tahu ini benar atau salah, tetapi sekilas, sorot matanya tampak kecewa, namun dengan lihai ia mengubahnya menjadi datar. Kecewa? Aneh sekali.
"Bisa aku tinggal dulu untuk mandi? Dan jangan memandangku seperti itu. Aku tak akan mengulangi kejadian beberapa minggu yang lalu," ucapku sambil mengambil overall putih dan handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku berusaha untuk menyelesaikan urusan mandiku dengan kecepatan yang nyaris seperti petir. Oke, itu terlalu berlebihan. Mandi cepat agar Gray tidak pulang membawa barang-barang berhargaku. Ya. Ya. Aku tahu Gray bukanlah pria seperti itu, namun antisipasi itu perlu, bukan?
Setelah mandi dan memakai overall sambil mengamati penampilanku di cermin kamar mandi—sungguh, aku tak ingin kejadian dulu terulang lagi—aku beranjak keluar dan langsung menatap ke arah meja makan. Tanpa sadar aku mengembuskan napas lega, Gray masih duduk manis dengan piring yang hanya tersisa jagung tanpa biji-biji kuning di hadapannya.
Mataku melebar. "Kau menghabiskannya? Kukira kau akan berpendapat bahwa masakan buatanku akan beracun dan kau tidak sudi menyentuhnya," aku tahu kata-kataku barusan terdengar sangat kasar, namun entah mengapa aku mengucapkannya juga.
Sebagai bentuk defensif, mungkin?
Huh, ada-ada saja. Itu hal yang mustahil.
"Duduklah, aku ingin berbicara denganmu," ia berkata sambil menunjuk kursi di seberangnya, mengabaikan kata-kata sarkastik yang kulontarkan barusan.
Aku mengerutkan kening. Nada bicara Gray serius sekali, sepertinya membantah bukanlah jalan yang tepat. Jadi aku memilih untuk menurut saja.
Ketika aku sudah duduk di hadapannya, lagi-lagi ia hanya menatapku tajam. Dan lagi-lagi aku hanya dapat membuang muka.
"Kau sama sekali tidak ingat apa-apa?" akhirnya ia bersuara. Ada yang janggal dari kalimatnya.
Tunggu dulu.
"Tahu apa kau tentang ingatanku?" tanpa sadar aku berseru.
"Tidak. Aku hanya merasa bila kau sama sekali tidak ingat tentang— ah, sudahlah, tolong lupakan. Aku pulang."
Aku tertegun. Ia yang tadi mengajakku bicara, namun dengan seenaknya ia membatalkannya. "Hei, kau ingin bicara apa?" tanyaku setengah kesal pada punggungnya yang sudah hampir menghilang tertutup pintu.
"Lain kali saja," karena keadaan rumahku cukup sunyi, gumaman Gray terdengar sampai di telingaku. Aku mengerang. Hari ini Gray sungguh aneh.
Ah, biarlah. Itu tidak penting. Bukan urusanku.
Benarkah begitu?
Summer 6, year 1
Dear diary,
Aku senang ketika kita bertemu lagi. Sudah lama aku tidak menyentuhmu, ya?
Tadi pagi, sekitar pukul sembilan, aku pergi ke klinik dan menanyakan riwayat kesehatanku. Datang ke klinik bukan untuk menghabis-habiskan uang, namun karena kejadian kemarin malam.
Entah mengapa, setiap berada di dekat Gray, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Bisa saja aku memiliki penyakit jantung yang akan kambuh ketika Gray ada di sekitarku. Atau bisa saja Gray memberi pengaruh buruk pada kesehatanku. Untuk memastikan, aku datang ke klinik pagi ini.
Namun pernyataan Trent—oke, sekali lagi aku berlaku tidak sopan, namun ini diharuskan—benar-benar mengejutkanku. Aku sama sekali tidak mengidap penyakit apa-apa. Ia berkata bila tubuhku sehat total. Aku memaksanya untuk jujur dan tidak akan syok berat bila aku mendengar penyakit mematikan ada dalam tubuhku.
Ia akhirnya memang berkata jujur, namun bukan itu yang aku inginkan.
Trent berkata bahwa dalam otakku, bagian yang mengatur tentang memori sedikit berantakan—itu yang aku tangkap, kata-katanya mengenai hal medis sungguh berat dan memusingkan kepalaku—dan ia juga berkata bila seiring berjalannya waktu, bagian itu akan pulih dan ingatanku akan kembali.
"Jika ada yang bisa menjadi ingatanmu, itu akan mempercepat pemulihan," katanya. Bahasa novel dan medis menjadi satu, membuatku bingung setengah mati.
Apa ada yang bisa menjadi ingatanku? Memangnya siapa?
Pengakuan Trent bukanlah hal yang kuinginkan. Ia sama sekali tidak menjelaskan mengapa jantungku terasa aneh. Dan bodohnya aku yang tidak bertanya.
Aku butuh ingatanku kembali. Sepertinya ada hal yang penting di sana. Namun siapa yang bisa menjadi ingatanku?
Summer 7, year 1
Aku berjalan santai menuju Inn. Seperti biasa, datang ke Inn untuk mengikuti rapat entah untuk acara apa—terlalu banyak acara yang harus kuingat, hingga pikiranku bisa meledak saat ini juga. Sepanjang perjalanan, aku memanjakan mataku dengan pemandangan di samping kiri dan kananku. Meskipun dalam kota, pohon-pohon besar masih berbaris rapi. Rumah-rumah di kota ini pun tampak sederhana, namun begitu menarik untuk dipandang. Mineral Town adalah kota terindah yang pernah kulihat dengan mataku sendiri.
Sesampaiku di Inn, aku langsung mengambil tempat duduk di samping Ann dan Elli, tidak seperti biasanya ketika aku duduk di antara Ann dan Popuri. Bukannya aku membenci Popuri. Tidak. Ia sama sekali tidak bersalah. Tetapi orang di sebelahnya yang membuatku terganggu dan memilih untuk pindah tempat.
Kai. Pria menyebalkan itu terus menatapku sedari tadi. Membuatku gerah dan merasa tak nyaman.
Kini kami rapat dengan posisi yang baru. Dengan posisi yang mengitari meja, dimulai dari Ann, aku, Elli, Mary, Gray, Karen, Kai, dan Popuri—aku menyebutnya sesuai dengan arah jarum jam. Ketika memikirkan Mary dan Gray, aku tersenyum. Dari namanya saja, mereka tampak cocok.
"Hei, mengapa kau tersenyum? Ada sesuatu yang menyenangkan?" sebuah suara berasal dari samping, mengagetkanku. Aku menoleh. Ann rupanya.
Aku menggeleng cepat. Jangan sampai Ann tahu bila aku memikirkan kecocokan Mary dan Gray. Sejak Mary dan Gray resmi menjadi sepasang kekasih, Ann satu-satunya—atau salah satu?—yang menentang hubungan mereka. Ia berpendapat bahwa mereka tidak cocok, dalam hal apapun. Namun gadis itu hanya mengatakan pendapatnya padaku. Bagaimana sepasang kekasih itu bisa introspeksi jika Ann tidak mengutarakan pendapatnya?
Ann tersenyum kelewat manis padaku, namun tatapan menuntutnya tidak dapat membuatku bebas setelah rapat ini. Ah, sial.
"Baiklah, kita mulai rapat kita sekarang. Pertama, karena divisi olahraga terdapat dua orang, mari kita bagi. Kai akan membantu Popuri, Elli, dan Karen, sedangkan Gray akan membantu Claire, Mary, dan aku," kata Ann dengan semaunya.
Aku langsung mengajukan protesku, "Apa? Mengapa aku harus— AH!" Sialan, Ann menginjak kakiku dengan kekuatan supernya. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan sadis.
Ekor mataku melirik Mary, ingin mengetahui bagaimana reaksinya. Tetapi yang kudapatkan hanyalah wajah damai Mary. Mengapa ia sama sekali tidak marah ketika tahu bahwa Gray juga membantuku? Dan mengapa hanya aku yang sengsara di sini?
"Kedua, mari kita bicarakan..." Ann mulai dengan perkataan panjangnya. Aku sudah mempersiapkan jurusku, tidur dengan mata terbuka. Semoga saja jurus yang kubaca secara tak sengaja di perpustakaan Mary ini benar-benar ampuh.
"Baiklah, sekarang jelaskan padaku," ucap Ann yang seketika membuatku mematung. Nada yang digunakannya berhasil membuatku gagal melarikan diri secepatnya. Yang terjadi justru aku terdiam di hadapannya.
"Aku hanya sedang memikirkan kecocokan antara Mary dan Gray," jawabku sedikit takut. Takut menghadapi reaksi Ann selanjutnya.
Benar saja, ketika mendengar jawabanku, Ann mendelik dan berseru, "Mereka sama sekali tidak cocok, kau tahu? Jangan mencoba-coba mencari kecocokan dari mereka lagi."
Aku mengerutkan alis. "Mengapa kau begitu keukeuh menentang hubungan mereka? Apa ada yang salah?"
"Tentu saja! Karena sebenarnya Gray tidak—ah, maksudku mereka terlihat sangat tidak cocok," nada suara Ann mengecil. Sikap Ann malah membuatku semakin dapat membaui sesuatu yang mencurigakan.
Namun melihat Ann yang gelisah dan sedikit takut, kukira aku perlu mengabaikan kecurigaanku untuk sementara. Aku bisa dibunuh Cliff bila ia tahu bahwa penyebab matinya Ann adalah karena gelagapan untuk menjawab pertanyaanku. Sekali lagi, ini terlalu berlebihan.
"Dan Ann, mengapa kau menyuruh Gray untuk membantuku selama musim panas ini? Ah tidak, ia akan membantuku sampai tahun ini berakhir. Sialnya aku," aku melengos ketika mengingat bahwa Gray akan terus berada di dekatku sampai tahun depan tiba. Dan itu benar-benar lama sekali.
Ann langsung tertawa. "Secara tidak langsung, aku telah membantumu dalam berbagai hal."
"Membantu? Membantu apa maksudmu?" tanyaku sinis. Tanpa sadar nada suaraku mulai meninggi.
"Selama ini aku tahu bahwa kau sangat tidak menyukai bila Kai ada di sekitarmu. Jadi aku mempersempit kemungkinan itu terjadi," jelas gadis itu, membuatku sadar bahwa aku memang membutuhkan hal itu. Jauh dari Kai.
Aku mengangguk dan tersenyum. "Ah, terima kasih Ann. Kau sahabatku yang terbaik!"
"Ada apa di sini? Terdengar ribut sekali dari luar," sebuah suara memecah suasana kegembiraan kamar ini. Aku menoleh dan seketika membelalakkan mata. Gray?! Kurang ajar sekali ia membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu? Memangnya mengetuk pintu adalah kegiatan tersulit untuk dilakukan?
"Aku sudah mengetuk pintu ini dari tadi, namun sepertinya kalian terlampau asyik untuk mendengarnya." Astaga, aku harus mengaku dosa di gereja setelah ini karena telah menuduh Gray sembarangan.
"Ada angin apa kau ke sini? Mencariku?" ledekku.
"Ya. Mary menyuruhku untuk mengantarmu pulang," ucapnya malas.
Mataku melebar. "Lagi? Mengapa ia tak pernah membiarkan sahabatnya sendiri bersenang-senang dengan pulang sendirian?"
Gray hanya mengedikkan bahu, sementara Ann tertawa geli.
"Ini alasanku mengapa Mary dan Gray sama sekali tidak cocok," bisik Ann di telingaku, membuatku menatapnya dengan bingung. Tetapi Ann hanya mendorongku dan melambaikan tangannya, tanpa bersusah payah menjelaskan lebih lanjut. Huh!
Aku melengos dan menerima ajakan Gray—tidak, ini adalah permintaan Mary—untuk pulang bersama.
Sepanjang perjalanan, aku terdiam sambil menatap pemandangan di samping kiriku. Aku tak akan bosan pada kota dengan pemandangan menakjubkan seperti ini. Sementara di samping kananku, Gray, sepertinya sedang asyik dengan pikirannya sendiri dan tidak ingin diinterupsi dengan apapun. Yah, lebih baik seperti ini.
"Kau yakin tidak ingat apapun?" itu suara Gray. Namun mustahil bila detik sebelumnya aku melihat bahwa Gray sedang melamun. Aku memutuskan untuk tidak menoleh.
"Claire? Kau yakin tidak ingat apapun?" kalimat yang sama terulang lagi. Baiklah, aku menyerah. Aku menoleh dan menatap Gray malas.
"Ada apa? Apa pedulimu tentang ingatanku? Bagaimana jika aku menjawab bahwa aku sama sekali tidak ingat apapun, kecuali tentang seseorang yang mengaku sebagai ayahku dulu, yang baru saja aku ingat beberapa hari yang lalu?" seruku ketus.
Gray menatapku tajam. Lagi. Namun aku berusaha keras untuk tidak memalingkan muka. "Bagaimana jika aku ingin menjadi ingatanmu?"
To Be Continued ^o^
Terima kasih untuk yang sudah membaca cerita berantakan saya. Maafkan saya bila tidak sesuai harapan. Terima kasih juga untuk yang sudah merelakan waktunya untuk me-review. Saya akan berusaha melanjutkan cerita ini secepat yang saya bisa, hehehe... Thanks to you all ^_^
