A/N

Claire: aku bingung dengan diriku sekarang O.O

Penulis: sabarlah sedikit ^^

Claire: informasi yang kau berikan bertubi-tubi

Penulis: ya aku tahu. Maafkan aku T^T

Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya, saya hanya punya cerita ini ^_^

Warning :: berantakan, bahasa aneh, terlalu panjang, maybe OOC, gaje, dll

Penulis: happy reading ^o^


SUMMER 7, year 1

"Bagaimana jika aku ingin menjadi ingatanmu?"

Kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Gray sukses membuatku terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalaku, membuatku sedikit pusing. Namun aku berusaha mengabaikan rasa sakit itu dan memandang Gray dengan pandangan bingung. Ya, aku benar-benar bingung.

"Kau bingung karena aku mengajukan permintaan macam itu? Begini. Pertama, aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Trent kemarin. Kedua, karena aku adalah salah satu orang yang menjadi saksi masa kecilmu," jelasnya.

Aku terperangah. Apa katanya? Ia tahu masa kecilku? Apa ia menjadi bagian dari masa kecilku? Jika begitu, apakah ini adalah jawaban mengapa ia tampak tak asing di mataku? Penjelasan Gray bukannya menenangkanku, namun membuat rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi. Aku memijat-mijatnya, berusaha membuat rasa sakit itu berkurang.

"Ada apa?" pria itu memandangku dengan khawatir.

Aku menggigit bibir bawahku. "Uh, tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit pusing," ucapku berbohong. Mm... Tidak sepenuhnya. Kepalaku memang pusing, tetapi rasanya aku harus menghilangkan kalimat 'tidak apa-apa' dan mengganti 'hanya sedikit' dengan 'sangat'.

"Akan kuantar ke klinik." Aku mengerang. Satu-satunya hal yang paling kuhindari adalah merepotkan Gray. Tapi kali ini?

Yah, sakit kepala ini membuatku benar-benar tak berdaya. Marah dan menghindar adalah cara terbodoh yang hanya akan memperparah sakitnya kepalaku. Satu-satunya yang dapat kulakukan sekarang adalah mengangguk, menyetujui tawaran—tidak, paksaan—pria bertopi 'UMA' di sebelahku ini.

Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah tangan menggenggam tanganku dan melalui itulah tubuhku bergerak mengikuti arah tangan itu menarikku. Lalu aku mendengar pintu dibuka paksa, sebuah percakapan yang terkesan tergesa-gesa, dan sepertinya aku dibawa ke ruangan serba putih kemudian seseorang menyuruhku untuk berbaring di kasur yang putih pula. Namun sakit di kepalaku ini mengalahkan segalanya, hingga aku tak dapat berkonsentrasi untuk mengetahui di mana aku sekarang.

Lalu pandanganku mulai kabur dan semuanya menjadi gelap.


Summer 8, year 1

Mataku terasa berat tetapi kupaksa untuk terbuka karena sepertinya mata ini terlalu lelah untuk terpejam terus menerus.

Tunggu. Aku ada di mana? Aku berusaha mengedarkan pandangku ke sekeliling dan menyimpulkan dua hal. Aku berada di klinik dan hari masih begitu pagi. Huh.

Aku merasa sesuatu menindih tanganku. Aku melirik ke bawah dan mataku melebar, terkejut dengan pemandangan yang tersaji di depan mataku.

Seorang pria tertidur dengan posisi duduk yang kepalanya membelakangiku. Meski tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, aku tahu pria yang tidur begitu pulas dan memakai tanganku sebagai bantalannya ini adalah pria paling menyebalkan di dunia.

Gray.

Entah mengapa, memikirkan namanya saja membuat penyakit jantungku kambuh. Kurasa ini bahaya. Jika dibiarkan, akan berakibat fatal bagi tubuhku. Karena sekarang aku berada di klinik, aku memutuskan untuk bertanya pada Trent sesegera mungkin.

Namun kuurungkan niatku. Pertama, karena aku tak tega membangunkan Trent di pagi buta seperti ini. Kedua, karena aku tak tega mengganggu tidur pria di sampingku ini.

Oleh sebab tak ada pemandangan menarik di sini, terpaksa aku memandang Gray. Aku tersenyum kecil. Ia tampak begitu pulas dan nyaman dalam tidurnya. Tanpa sadar aku menyentuh helaian rambut oranyenya yang kini tak beraturan. Rambut acak-acakan yang mengudang tangan para gadis untuk merapikan sembari mengelusnya. Yah, harus kuakui, para gadis itu termasuk aku.

Lalu jari-jariku bergerak ke atas, tepatnya ke arah topinya. Topi yang selama ini menaungi kepala sang pemilik. Topi yang sedikit menyembunyikan identitas sang pemilik. Topi yang membuat penasaran semua orang. Topi yang— membuatku ingin melepasnya dari sang pemilik.

Dan tanpa sadar pula aku melakukannya. Topi itu sudah ada dalam genggaman tanganku yang menganggur. Aku memandang Gray sekali lagi dan terkesiap.

Aku, Claire, begitu terpesona dengan Gray untuk yang pertama kalinya.

Ah, tidak. Mataku tak dapat mengalihkan pandangan. Berkedip pun susah. Bagaimana ini?

Tetapi mendadak aku merasa tangan yang tertindih kepala Gray dapat bergerak bebas lagi. Oh, tidak. Jangan sekarang—

"Hei, kau sudah bangun?" tanyanya dengan nada sedikit— lembut?

Aku menoleh ke arahnya dan terbeliak kaget. Kini ia hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Dan aku mengutuk wajahku yang mulai memanas.

Sekarang Gray malah menatapku dengan kening berkerut. "Mengapa kau terkejut, begitu? Dan mengapa wajahmu memerah? Kau demam?" sambil berkata begitu, ia menyentuhkan punggung tangannya ke dahiku. Tidakkah ia tahu bahwa tindakannya itu membuat panas di wajahku semakin parah?

Aku buru-buru menggelengkan kepala, kemudian berusaha menyingkirkan tangan Gray dari dahiku. Dan itu membuat Gray semakin bingung.

"Mengapa kau tampak aneh hari ini? Dan—" ia mengernyit, lalu tangannya terangkat untuk meraba-raba puncak kepalanya, tampak mencari sesuatu. Sesuatu yang kini ada di tanganku.

Gray memicingkan mata. "Kau menyembunyikan topiku? Cepat berikan!" nada suaranya mulai meninggi. Sekarang ia bukan Gray beberapa saat lalu, tapi ia Gray yang setiap hari kukenal. Baguslah. Kukira ia terkena semacam benturan dan berubah sikap seperti tadi. Namun mengapa aku sedikit— kecewa?

Huh? Apa sih yang terjadi pada diriku?

"Claire? Kau dengar aku? Cepat berikan!" serunya sambil menahan amarah. Sekarang ia berdiri menjulang di hadapanku, tidak sedekat beberapa detik yang lalu.

Tidak ingin emosi Gray meledak di pagi buta ini, aku langsung menyodorkan topi kesayangannya dengan kasar. "Kau sangat tampan tanpa topi seperti itu. Sering-seringlah lepas topimu. Ah, ya, juga tersenyum," tanpa sadar kalimat-kalimat itu meluncur bebas dari bibirku tanpa sempat kucerna dulu. Aku membelalakkan mata dan segera berucap, "Lupakan."

"Apa?" hanya itu respons Gray. Sebenarnya tidak juga. Ia mengerutkan dahi dan menyipitkan mata.

Aku menggeleng berkali-kali. "Tidak. Tidak. Lupakan."

"Kau menghinaku?"

Aku semakin bingung dengan pria di hadapanku ini. "Kau benar-benar aneh, ya? Diejek, balik mengejek. Dipuji, dibilang menghina. Lalu aku harus bagaimana? Diam seperti orang bisu? Itu sama sekali bukan aku."

"Kau—" Gray menatapku tak percaya, membuatku semakin gerah. "Terima kasih," ucapnya lirih.

"Hei, ada apa ribut-ribut? Dan kau sudah sadar, Claire?" tiba-tiba Trent sudah berada satu ruangan dengan kami. Aku hanya mengangguk lemah, pikiranku masih kalut dengan kejadian beberapa saat yang lalu.

Terima kasih.

Kata-kata yang diucapkan Gray itu terus terngiang dalam kepalaku. Aku tak pernah mendengarnya mengucapkan kata itu sebelumnya, sarat akan nada tulus pula. Baru kali ini.

Ya, baru kali ini.


Beruntung aku boleh langsung pulang hari ini. Yah, setelah dapat berbagai nasihat dari Trent.

Ah ya, aku lupa bertanya pada Trent tentang kesehatan jantungku. Aku beranjak dari sofa klinik dan berjalan menuju ruangannya. Namun segera kuhentikan langkahku. Aku melihat Trent dan Gray sedang berbicara serius, aku tak berani mengganggu mereka.

"Aku yang akan menjadi ingatannya," oh, itu suara Gray. Dan kalimatnya itu begitu— membahagiakan? Entahlah, aku tak peduli.

Aku mendengar suara langkah kaki yang berasal dari tangga penghubung lantai atas dan lantai yang kuinjak sekarang. Aku menoleh dan mendapati Elli yang tampaknya baru bangun tidur. Dengan piyamanya, rambutnya yang sedikit acak-acakan, dan mulutnya yang menguap berkali-kali, menguatkan dugaanku bahwa ia memang baru bangun tidur.

"Claire, ayo ke kamarku," serunya.

Aku terperanjat. HAH?!


Kini aku sudah berada di kamar Elli. Elli menyuruhku untuk duduk di tepi ranjang, sementara ia sendiri duduk di kursi kecil. Selama beberapa saat kami terdiam. Aku masih berkutat dengan pikiranku, mereka-reka alasan mengapa Elli mengajakku ke sini. Entah apa yang dipikirkannya.

"Sepertinya kau punya sesuatu yang perlu diungkapkan. Apa?" akhirnya Elli membuka suara.

Aku menatapnya dengan berjuta pikiran di benakku. Yang kini berada di hadapanku adalah suster atau peramal, sih?

Kuputuskan untuk menceritakan kronologisnya. Semua. Tak terlewatkan. Toh Elli adalah seorang suster—atau seorang peramal?—yang mengerti mengenai gejala 'penyakit'ku ini.

"Mengapa setiap ada Gray di sekitarku, jantungku ini berpacu lebih cepat? Dan mengapa ketika pria itu menatapku, wajahku terasa panas? Apa ada sesuatu yang salah?" aku mengakhiri ceritaku dengan berbagai pertanyaan.

Namun tanggapan Elli tidak dapat kuduga sama sekali. Ia tertawa lepas.

Aku menyipitkan mata, berusaha mengetahui apa penyebab Elli tertawa seperti itu. Tapi aku tak dapat menemukan jawabannya. "Ada apa?"

Elli menggeleng dan berusaha untuk menghentikan tawanya. "Kau benar-benar polos, Claire."

"Maksudmu?"

Gadis itu tersenyum bijak. "Dari ceritamu itu, aku dapat menyimpulkan satu hal."

"Apa?" tanyaku dengan nada tak sabar.

"Kau sedang jatuh cinta. Pada Gray."

"APA?!"


Summer 9, year 1

Dear diary,

Astaga. Apa aku sudah benar-benar gila sekarang?

Aku sama sekali tak menyangka Elli akan mengatakan itu. Yang benar saja! Aku yang sebal setengah mati pada Gray, justru jatuh cinta pada pria yang sama. Kesimpulan yang begitu aneh, sekaligus membuatku memikirkannya seharian penuh.

Baiklah, mari kita sedikit berpikir kritis. Jika perkataan asisten Trent itu benar, mau tak mau aku memang harus mengakuinya. Namun sejak kapan aku memiliki rasa itu terhadap Gray? Sejak ia ada di sampingku ketika aku sakit hati karena perlakuan Rick? Bisa saja. Sejak aku bercerita mengenai masa laluku dan ia begitu menghormatiku ketika mendengarnya? Ah, jujur saja, aku senang diperlakukan seperti itu. Atau sejak aku melihatnya tersenyum dan senyumannya itu— begitu memesona?

Sial. Membayangkannya saja sudah membuat wajahku memanas.

Tetapi, jika perkataan Elli itu salah total, tak perlu dipaksakan, aku akan bahagia luar biasa. Segala sesuatu yang kukerjakan tidak akan terganggu oleh ada atau tidaknya Gray di sisiku. Ada atau tidaknya pria itu tidak akan mengganggu ketenangan hidupku. Tentu saja aku begitu berharap untuk kenyataan kedua ini, karena aku akan tetap baik-baik saja meski pria itu berbulan madu dengan Mary sampai ujung dunia sekalipun.

Uh, tapi mengapa hatiku sama sekali tidak tenang walau hanya dengan memikirkannya saja? Benarkah itu yang kuinginkan, jauh dari Gray?

Tentu saja itu yang kuinginkan. Ada-ada saja!


Summer 10, year 1

"Bisakah kau menyingkir sedikit dari hadapanku dan membiarkan hidupku tenang sehari saja?" ucapku ketus pada pria di sampingku. Siapa lagi yang dapat menyulut emosiku selain Gray? Oh, Kai juga, sih. Namun jelas berbeda. Jika sedang bersama Kai, aku hanya dapat merasakan amarah saja. Tetapi jika bersama pria ini, entah mengapa ada suatu perasaan yang terselip. Sesuatu yang membahagiakan.

Ah, tidak! Aku tak ingin kenyataan pertama yang terjadi pada diriku sekarang. Tidak akan.

"Terserah saja. Tapi kau benar-benar tidak ingin ingatanmu kembali lebih cepat?" sahutnya santai.

Aku menghentikan langkahku. Kalimatnya— kalimat yang sejak dulu ingin kudengar dari siapapun yang mengetahuinya. Mengetahui masa laluku. "Benar juga," kataku lirih. Lalu aku berpikir sebentar, kemudian menarik tangannya. "Ayo kita membicarakan ini di rumahku saja."

Dan aku mendengar ia tertawa kecil. Dasar!

"Baiklah, sekarang tolong ceritakan apa saja isi masa laluku," ucapku tidak sabar.

Sekarang kami berada di ruang TV di rumahku, dan seperti dulu, Gray sengaja menyalakan TV tanpa suara agar pemandanganku berganti-ganti. Cara yang aneh, namun hebatnya begitu ampuh menghilangkan rasa sedih.

Gray menggeleng. "Kau bertanya, aku akan menjawabnya."

Aku memutar bola mata. Baiklah. Baiklah. Jika itu yang ia inginkan. "Semua yang kuceritakan padamu itu— benar?"

Ia mengangguk tetapi tak mengucapkan sepatah kata pun. Aku menggerutu dalam hati. Oke, banting setir ke pertanyaan lain.

Tiba-tiba aku teringat suatu benda. Benda biru yang selama ini menyaksikan perjalanan hidupku di kota ini. Sebuah buku harian. Aku bangkit berdiri dan mengambilnya. Lalu aku kembali ke sofa nyamanku dan membuka halaman pertama. Aku membacanya cepat dan berhenti pada satu kalimat. "Kau tahu apa impian masa kecilku?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari buku.

Aku merasakan hening selama beberapa detik. "Uh, ya. Impianmu tentang memiliki rumah di desa dengan lahan pertanian yang luas, juga tentang menjadi petani yang hebat seperti kakekmu."

Kini mataku beralih pada Gray yang juga menatapku. "Petani yang hebat seperti kakekku?" aku membeo kalimat terakhirnya. "Maksudmu?"

"Ya. Kakekmu adalah seorang petani yang sukses di sini. Itu sebabnya kau tinggal di sini tanpa perlu membayar sepeser pun. Karena ini adalah warisannya untukmu. Dan soal keinginanmu tentang menjadi petani hebat itu, mungkin bisa dihubungkan dengan seringnya kau datang ke sini saat kau masih kecil dulu," jelasnya panjang lebar.

Aku mengangguk-angguk. Tiba-tiba sebuah ingatan berkelebat dalam kepalaku. Hanya sepersekian detik, sehingga aku tak dapat mengingat-ingatnya lagi.

Aku membalik halaman buku dan membaca cepat lagi. Namun tak kutemukan apa-apa, yang ada hanyalah curahan perasaanku terhadap Rick. Astaga, sebegitu sukakah aku pada Rick dulu? Mengingatnya membuatku tersenyum geli. Aku begitu bodoh dulu, sehingga bisa menyukai pria yang sungguh lembek jika ada Karen itu.

"Mengapa kau tersenyum-senyum begitu? Ada sesuatu yang lucu?" pertanyaan Gray menyadarkanku dari lamunan singkat mengenai Rick. Kini ia berusaha untuk mengintip tulisan pada buku harianku. Segera saja aku menjauhkan buku itu setelah membalikkan halamannya dan menggeleng.

Aku membaca lagi namun tak kunjung menemukan apa-apa tentang masa laluku. Tunggu. Mengapa tiba-tiba kepalaku sedikit pusing? Apa karena sebuah ingatan telah tergali? Tetapi mengapa tak ada ingatan yang masuk dalam otakku? Apa satu-satunya dokter di kota ini telah melakukan kesalahan?

Namun mendadak aku teringat sesuatu. "Mengapa tiba-tiba kau baik padaku, padahal sebelumnya kita adalah musuh bebuyutan? Apa ada kaitannya dengan ini? Seingatku, kau berubah sejak kejadian 'itu'," tak perlulah aku menjelaskan apa 'itu' yang kumaksud. Ia pasti mengerti.

Ia mengangkat bahu, lagi. "Sepertinya begitu." Lagi-lagi jawaban tak meyakinkan seperti itu. Aku mendengus, ingin sekali memaksanya untuk memberi jawaban yang pasti.

Tanganku membolak-balik halaman secara acak dan mataku menemukan satu kalimat janggal. Segera saja aku bertanya, "Kau masih ingat jika aku pernah berkata bahwa hanya dengan mendengar nama Kai saja, aku tahu aku begitu tidak menyukainya? Mengapa bisa seperti itu?"

Gray mengangkat bahu, entah yang keberapa kalinya. "Mungkin karena ia menjadikanmu cinta pertamanya?"

Aku menggeleng berkali-kali. "Tidak. Bukan itu. Itu juga menyebalkan. Tapi ini lain. Sepertinya ada yang tidak beres dalam masa laluku. Benar begitu?"

Astaga. Rasa pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi. Namun kuabaikan saja agar mendapat jawaban memuaskan dari pria di sebelahku ini.

"Kau ingin tahu mengapa tiba-tiba aku berubah dan kau merasa seperti itu terhadap Kai?" tanyanya, entah mengapa ia menggunakan nada yang super lembut dan hati-hati.

Nah, itulah yang kutunggu-tunggu. Sebuah jawaban yang pasti. Aku mengangguk tak sabar. Uh, semoga aku siap mendengarnya, karena aku tak tahu mengapa, sepertinya ini begitu menyakitkan.

"Karena aku telah melihat tanda lahir di bahumu itu, dan aku yakin kau pasti Claire yang kukenal."

"Mm," aku mengangguk-angguk. Jadi pria berambut oranye itu Gray? Tapi mengapa sekarang ia memakai topi, padahal ia begitu tampan tanpa topinya?

Huh, mengapa pikiranku ini sempat untuk membayangkan hal yang aneh-aneh?

"Dan—" ia menggantungkan kalimatnya, membuatku menatapnya tanpa bisa berkedip. "—aku adalah salah satu tetanggamu dulu, begitu juga Kai yang kau anggap telah membunuh ibumu secara tidak langsung."

JEDER! Petir menyambar di otakku. Napasku tercekat. Kepalaku semakin pusing. Berbagai kejadian masa lalu berputar tak tentu arah dalam pikiranku seperti kaset rusak. Pandanganku mengabur, lalu gelap. Lagi.

Semuanya menjadi jelas sekarang. Dan aku merasa kembali ke masa kecilku.


To Be Continued ^o^


A/N

Penulis: Gray, cepat angkat Claire ke klinik!

Gray: aku? Mengapa harus aku? O.O

Penulis: -_-^ siapa lagi? Cepat!

Gray: baiklah -_-

Penulis: oke, terima kasih untuk semua review-nya, itu semua membuat saya semangat menulis lagi ^^ Ah ya, saya juga sedikit memperbaiki beberapa chapter,—chapter 'Tujuh' dan 'Delapan'—tidak terlalu penting, sih, tidak dibaca juga tidak apa-apa, karena perubahannya itu tidak terlalu kelihatan *dihajar* terima kasih sekali lagi ^^

Mohon review-nya ^_^