A/N

Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya, saya hanya punya cerita ini ^_^

Warning :: berantakan, bahasa aneh, maybe OOC, gaje, full of flashback, typo, dll

Happy reading ^o^


"SELAMAT datang di rumah baru kita berdua, Claire," seru seorang pria berumur tiga puluh tahunan, yang sepanjang hidupku kusebut 'Ayah'. Ia tersenyum, tapi bagiku senyumnya terlampau manis, sehingga terkesan dibuat-buat.

"Rumah baru kita bertiga," ralatku dengan nada yang cukup sadis hingga membuat pria di hadapanku ini terkejut. Namun dengan segera ia mengganti mimik mukanya menjadi sukacita. Pemain sandiwara yang handal sekali. "Ibu pasti suka," lanjutku tanpa menghiraukan ekspresinya yang berubah lagi. Entahlah, sepertinya ia geram, sedih, kecewa, dan semuanya tercampur aduk menjadi satu. Namun aku tak peduli.

"Ayah masuk dulu," ia membalikkan badan dan mengambil langkah untuk masuk ke dalam rumah. Namun aku memanggilnya, membuatnya menghentikan rencananya dan menatapku dengan satu alis terangkat.

Aku mengembuskan napas. "Kapan Ibu akan pulang?" tanyaku penuh harap.

Ia hanya memutar bola mata dan kembali mengambil langkah dan berjalan menjauhiku. Tanpa menjawab pertanyaanku. Aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh dan tanpa sadar setitik air mata mengalir di pipiku. Aku tak berusaha mengusapnya, karena hanya akan membuat teman-temannya mengikuti jejaknya.

Ibu. Clara. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya. Sudah lama ia meninggalkanku sendirian dengan Ayah dan itu membuatku kesepian. Entah kapan ia pulang, karena sepertinya ia tak akan pulang dalam jangka waktu yang dekat. Ia telah nyaman di sana, dan mungkin saja akan selamanya nyaman di sana. Kalau saja Ayah tidak mendesak Ibu untuk mengambil kuliah S2 dan Ibu juga tidak tergila-gila dengan artis Korea, tentu saja Ibu tak akan merantau ke Negeri Gingseng itu.

Ah, tidak. Aku tak boleh menyalahkan siapapun. Itu keputusannya dan aku harus menghargai itu.

"Hei, jangan menangis," sebuah suara membuyarkan lamunanku dan aku merasa seseorang menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mataku. Aku mendongak dan menemukan sepasang mata berwarna biru yang menatapku. Warna matanya mengingatkanku pada batu safir. Indah sekali. Ia juga tersenyum. Menakjubkan. Eh, tunggu. Aku mengambil langkah mundur dan memandang sosok di depanku, yang ternyata adalah anak laki-laki yang mungkin umurnya tak beda jauh denganku.

"Siapa kau?" tanyaku.

Ia mengulurkan tangannya. "Gray. Aku adalah tetangga barumu. Rumahku tepat di sebelah rumahmu."

Aku tersenyum lebar dan menjabat tangannya. "Aku Claire. Dan— terima kasih," ucapku lirih.

Ia melebarkan senyumnya dan mengusap kepalaku. Astaga, sentuhannya lembut sekali.

"Bagaimana jika kita bermain bersama di taman?" ajaknya.

"Setuju."


Aku bersenang-senang dengan Gray hingga matahari terbenam. Sebenarnya tidak hanya dengan anak laki-laki itu, tapi juga dengan teman-temannya yang langsung menerima kehadiranku dengan senyum lebar yang terlukis di wajah mereka. Ah ya, ada satu teman Gray yang menyita perhatianku. Tidak. Tidak. Bukan karena ia menarik dan sebagainya, namun karena tingkah lakunya yang kelewat manis di hadapan anak-anak perempuan. Di hadapanku juga. Sering aku memergoki ia tengah memandangiku dengan pandangan kagum yang tidak ia tutup-tutupi. Kai namanya. Ia sangat baik, tetapi kelakuannya itu yang membuatku sedikit tidak nyaman.

"Terima kasih sudah mengantarku. Sesungguhnya kau tak perlu melakukan itu, mengingat rumah kita bersebelahan," kataku pada anak laki-laki di sampingku, yang tak lain adalah Gray.

Ia tersenyum. Aku menyukai senyumnya itu. "Tidak apa-apa. Tak baik membiarkan anak perempuan berjalan sendirian di hari yang hampir gelap."

Aku tertawa pelan. "Baiklah. Terserah saja. Terima kasih."

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Alisku terangkat. "Boleh saja. Ada apa?"

Ia menggigit bibir, pertanda ia ragu-ragu. "Uh, maukah kau menjadi sahabatku?"

Aku melongo. Mataku melebar dan mulutku terbuka. Dan sedetik kemudian tawaku meledak. "Astaga, kukira apa. Mengapa tidak?"

Gray tersenyum lebar. Aku juga. Entah mengapa aku—

"Sampai jumpa besok!" ia berjalan menuju rumahnya sambil melambaikan tangan ke arahku.

Aku melangkah memasuki rumah dan melanjutkan pikiranku yang sempat terputus tadi. Aku tak tahu mengapa, tapi aku merasa telah menemukan belahan jiwaku.

Uh, aku masih sangat kecil untuk mengerti itu. Aneh-aneh saja.


Aku menghela napas. Aku tak pernah suka keramaian, tapi hari ini mengharuskanku untuk berada di tengah-tengahnya. Hari ini adalah hari ulang tahun salah satu teman sekolahku dan ia merayakannya di sebuah gedung pada malam hari, juga sialnya ia mengundang banyak orang. Astaga. Mungkin kalimat 'ajak satu temanmu' yang tertera di undangan harus dihapuskan.

Di sampingku berdiri Gray dengan setelan jas—yah, temanku ini sedikit aneh, memberi dresscode yang terlalu dewasa di usia kami. Ya, aku mengajaknya, setelah memohon-mohon dan menjanjikannya segala hal yang ia suka, karena sama sepertiku, ia tak suka keramaian. Namun akhirnya ia bersedia menemaniku dan sepertinya ia akan mendapat kekasih sebentar lagi, dilihat dari banyak sekali anak perempuan yang menatap kagum ke arahnya.

Tiba-tiba saja aku merasa seisi perutku teraduk-aduk. Selalu seperti ini. Berada di tengah keramaian membuat kerja organ tubuhku tidak beraturan. Ya, persis seperti sekarang. "Gray, aku harus ke toilet sekarang. Tunggu saja di sana," sambil berkata begitu aku menunjuk salah satu sudut ruangan yang cukup terang.

Ia hanya mengangguk dan berjalan menjauhiku. Segera mataku mencari letak toilet dan berjalan ke sana. Di dalam toilet, aku mengaduk-aduk isi tasku dan menemukan sebotol minyak kayu putih. Aku mengoleskannya ke leher dan menghirup aromanya. Ah, jauh lebih baik.

Pintu toilet terbuka. Sontak aku menoleh dan pandanganku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik, mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Namun lagaknya sama sekali tidak bersahabat, membuatku menggerutu dalam hati. Paras cantik tapi hatinya buruk.

Ah, masa bodoh! Aku beranjak keluar dari toilet dan langsung menuju ke sudut yang kutunjuk pada Gray tadi. Aku tersenyum usil melihat anak laki-laki itu dikelilingi teman-teman perempuanku. Persis seperti yang kuduga.

"Permisi," aku berseru karena jika tidak, suara musik yang memekakan telinga serta seruan orang-orang akan meredam suaraku. Kemudian ketika aku dapat melihat Gray, segera saja aku menarik tangannya, menjauhkannya dari keramaian. Aku melakukannya sambil tersenyum minta maaf pada teman-temanku.

Gray mendesah lega. "Terima kasih, Claire. Kau menyelamatkan hidupku."

Aku tertawa. "Berlebihan. Mereka hanya teman-temanku—"

"Yang berubah menjadi monster pemakan segalanya," potongnya. Tawa kami meledak.

Lalu aku tersenyum usil. "Bagaimana? Ada yang menarik perhatianmu?"

Ia mendelik. "Kau sama saja dengan mereka." Aku tertawa mendengar jawabannya.

Karena sedikit bosan dengan pesta ini, aku melirik ke ruangan sebelah yang hanya dibatasi oleh kaca. Di sana juga terdapat pesta, yang sepertinya dihadiri oleh pengusaha-pengusaha. Lalu mataku menangkap sebuah bayangan yang familiar. Aku menyipitkan mata agar dapat melihatnya dengan jelas, lalu menyesal telah melakukannya. Aku mendapat pemandangan yang menyakitkan.

Seorang pria berumur tiga puluh tahunan dengan badan tegap dan rambut cepak. Itu Ayah. Ya, aku sangat yakin itu Ayah. Di sampingnya terdapat seorang gadis yang— kutemui di toilet tadi. Oh, dunia ini sempit sekali. Namun bukan itu masalahnya. Masalah terdapat pada kelakuan Ayah. Ia— ia merangkul bahu gadis itu.

Aku marah. Kecewa. Sedih. Kesal. Bagaimana caranya agar Ayah menyingkirkan tangannya dari tubuh gadis itu? Bagaimana caranya agar ia menjaga jarak dari gadis itu? Bagaimana caranya agar ia memikirkan dan terus memikirkan Ibu? Dan bagaimana caranya agar ia mencintai Ibu selalu dan selamanya?

Setetes air mata membasahi pipiku. Aku menutup mata dan lagi-lagi tak berusaha untuk menghapusnya. Gray yang melihat itu menatapku dengan bingung dan mengikuti arah pandangku tadi. Kemudian aku mendengar ia menggeram kesal dan menarik tanganku untuk keluar dari tempat menyeramkan ini.

"Pestanya?" tanyaku pelan. Tidak enak hati juga meninggalkan pesta tanpa pamit pada pembuatnya.

Gray hanya mendengus. "Lupakan saja."

Ia membawaku ke taman gedung. Pikiranku melayang ke novel yang kemarin kubaca. Taman adalah tempat mainstream untuk menenangkan diri. Tapi biarlah. Hanya tempat ini yang sepi.

Sesampainya kami di taman, aku langsung memeluknya dan menangis di bahunya, menumpahkan segala kesedihan di sana. Beberapa detik aku merasa tubuh Gray membeku, namun detik selanjutnya ia balas memelukku.

Tanpa ada kata-kata yang terucap. Tanpa ada hadiah istimewa. Hanya dengan ini saja aku merasa diriku tenang. Aku tak pernah sendirian. Di saat seperti ini, ada yang mengerti aku. Dan itu adalah Gray.

Sejak saat itu kami tahu, kami selalu punya tempat untuk berlabuh.


"Gray, ibuku akan pulang besok!" seruku gembira sesaat setelah aku melihat Gray berdiri di depan rumahku, menungguku untuk keluar.

Ia tersenyum lebar dan mengusap kepalaku begitu aku berdiri di hadapannya. Lagi-lagi aku merasakan sentuhannya yang menenangkan hati.

"Bagaimana jika besok kau bermain di rumahku? Kau akan menjadi orang kedua yang melihat ibuku pulang," kataku bersemangat. Ya, aku orang pertamanya dan Ayah—? Tadi pagi ia berkata bahwa ia tak akan pulang dalam waktu dekat, dan jelas saja ia tak akan melihat kepulangan Ibu. Ayah hanya mementingkan pekerjaannya dan gadis barunya itu, tanpa memedulikan separuh hatinya yang akan pulang besok setelah pergi bertahun-tahun.

Oke, Claire. Berpikirlah positif. Jangan memikirkan ayahmu dulu. Pikirkan kedatangan ibumu besok.

Aku tersadar ketika Gray mengangguk. "Baiklah."

"Aku juga mau," sebuah suara menginterupsi percakapan kami. Kami berdua menoleh dan mendapati Kai dengan tatapan memohonnya.

Aku berpikir sebentar, lalu mengangguk. Kai dan aku cukup dekat. Kurasa tidak akan terjadi apa-apa. "Aku tunggu kalian besok jam 10 untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan, karena Ibu akan datang pada sore hari."

Semuanya mengangguk sembari mengacungkan jempol. Kami tertawa bersama.

"Terima kasih."

Aku yang mengucapkannya.


"Kebersihan?"

"Oke."

"Dekorasi?"

"Sip."

"Tatanan meja?"

"Rapi."

"Makanan dan minuman?"

"Aman dikonsumsi."

Aku mendelik marah mendengar jawaban itu dan memutar kepalaku ke arah sumber suara. Gray mengikik. "Maaf. Maaf," sahutnya mengalah.

Tawaku meledak, diikuti oleh Gray dan Kai. Namun sepertinya ada yang tidak beres. Apa itu? Aku mengedarkan pandang ke tiap sudut rumah dan tampak tertata serta dijamin baik-baik saja. Perasaanku mengatakan ada yang tidak sesuai rencana. Apakah itu?

Aku mengabaikannya karena perasaan tidak sepenuhnya bisa diandalkan. Ya, itu menurutku saja.

"Sambil menunggu, nyalakan saja TV sembari aku membuatkan minuman lagi untuk kalian," ucapku.

Gray yang pada dasarnya sudah bosan sejak tadi langsung menghempaskan diri ke sofa dan menyalakan TV. Sedangkan Kai mengekoriku.

"Ada apa?" tanyaku bingung tanpa menoleh ke belakang.

"Bagaimana jika kau telepon ibumu, menanyakan di mana lokasinya sekarang?"

Langkahku terhenti dan akhirnya aku menoleh. Alisku terangkat. "Begitu?"

Kai mengangguk. Aku menoleh ke arah Gray untuk meminta pendapat tetapi ia hanya mengangkat bahu acuh tak acuh tanpa memutuskan pandangannya dari TV.

"Oke," aku berkata sambil berjalan ke arah meja telepon. Aku menekan tombol yang sudah kuhafal di luar kepala dan menunggu hingga yang di seberang mengangkat teleponnya. Sengaja aku menggunakan fitur loudspeaker agar seisi rumah mendengarnya, dalam hal ini adalah aku, Kai, dan Gray.

"Halo, ada apa, Claire?" suara di seberang menyambut dengan nada yang keibuan.

Astaga. Aku merindukan suara itu, padahal tidak sampai dua puluh empat jam yang lalu aku meneleponnya.

"Ah, tidak, Bu. Aku hanya ingin tahu sampai di mana Ibu sekarang."

"Oh. Ibu sudah berada di perjalanan menuju rumahmu. Maaf Ibu membuatmu menunggu lama. Jalanan di sini basah dan licin, membuat Ibu harus menyetir pelan-pelan."

"Tak apa-apa, Bu. Maafkan Claire telah mengganggu Ibu. Hati-hati ya, Bu," kataku sambil tersenyum. Sayang sekali Ibu tak dapat melihatnya.

"Iya, Claire. Mungkin Ibu akan—AHH!"

BRAK! Sambungan telepon terputus secara tiba-tiba. Kami semua mendengar jeritan Ibu dan suara benturan yang sangat keras, kemudian telepon putus tiba-tiba. Apa itu tadi? Apa Ibu baik-baik saja? Semoga saja. Namun kejadian tadi membuat harapanku hanya tinggal harapan.

"Claire, ke sini!" teriak Gray dari ruang TV. Aku segera berlari menuju tempat Gray berada dan menonton TV setelah mendapat isyarat Gray untuk melakukannya. Di sana aku melihat seorang pembawa berita mengatakan bahwa ada kecelakaan yang terjadi di daerah dekat rumahku. Aku mematung. Jangan-jangan—

"Sebuah truk dengan kecepatan tinggi tergelincir karena jalanan basah. Truk tersebut menabrak beberapa kendaraan yang melaju berlawanan arah. Satu korban tewas di tempat dan yang lainnya luka parah."

Pembawa berita itu membacakan nama korbannya dan tubuhku lemas seketika bahwa satu korban yang tewas adalah—

Ibuku.

Tetes demi tetes air mata mengalir, membentuk anak-anak sungai di wajahku. Tangisku semakin menjadi-jadi ketika layar TV menayangkan kondisi korban yang tewas secara blur. Astaga, aku tak dapat berpikir lagi.

"Maafkan aku," suara lirih itu menembus gendang telingaku. Tanpa menoleh pun aku tahu pemilik suara itu. Aku tak menghiraukannya.

Gray yang ada di sebelahku mengusap-usap bahuku, mencoba menenangkanku. Namun aku merasa kini sentuhannya seolah menghinaku. Menyalahkanku atas semua yang terjadi.

"Kalian semua, PERGI DARI RUMAH INI!" bentakku. Mata mereka melebar dan tanpa kusuruh dua kali, mereka menurutiku.

Kini aku sendiri. Tak punya siapa-siapa lagi. Ibu telah tiada. Ayah yang mungkin nantinya hanya akan menyalahkanku. Teman-teman yang telah kuusir dari hidupku.

Aku benar-benar sendirian.

Kalau saja aku tak menelepon Ibu. Kalau saja aku tak menuruti kemauan Kai. Kalau saja aku tak mengundang Kai datang ke rumahku. Kalau saja—

Ini semua salahnya! Semua salahnya! ARRGH!


Aku memasuki kamar dan membanting pintu dengan keras lalu duduk bersandar pada pintu. Aku menyapu pandangan pada kamar yang aku tempati selama empat belas tahun ini dengan mata yang sudah sembab ini. Setelah itu aku menghela napas. Kini aku tak pantas mendiami kamar ini. Tidak. Aku tak pantas mendiami rumah ini. Itu kata Ayah.

Aku memang yang bersalah. Akulah yang paling bersalah pada kejadian satu bulan yang lalu. Tapi bisakah orang yang kusebut Ayah selama hidupku itu tidak menimpakan semua kesalahan padaku dan mengusirku dari rumah sendiri? Tidak bisakah ia lebih memilih aku sebagai anaknya ini daripada calon istrinya itu? Apa selama ini aku tak berguna di matanya?

"Kau selalu menyusahkanku. Tolong sekarang angkat kaki dari rumah ini."

Kalimat yang berasal dari mulutnya itu lebih sakit daripada pisau terasah yang menyayat-nyayat kulit.

Apa semua pria di dunia ini suka menyakiti hati wanita? Apa semua pria di dunia ini berlaku jahat seperti Ayah?

Aku mengepak semua barangku dan memutuskan untuk mengikuti apa kata Ayah, selama aku masih mempunyai harga diri. Juga memutuskan untuk tak lagi memercayai pria manapun.

Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku menjatuhkan tasku ke rumput halaman. Ya, aku kabur. Sialnya kamarku berada di lantai dua, jadi sedikit menyusahkanku. Lalu aku mengambil tambang yang sudah kusiapkan dan mengikatnya pada ujung tempat tidur. Kemudian aku menjatuhkan sisa tambang ke luar dan menggunakannya untuk turun.

Setengah perjalanan. Sejauh ini tampak baik-baik saja. Tak ada yang memergokiku melakukan ini. Kemudian sedikit lagi aku dapat menginjak tanah. Namun aku tak memperhitungkan panasnya tanganku dan sulitnya untuk berpijak pada tambang, karena detik selanjutnya aku tergelincir dan kepalaku terbentur batu taman.

Pandanganku seketika gelap dan aku tak mengingat apa-apa lagi.


Aku membuka mataku perlahan dan mengerjap-ngerjap untuk membiasakannya dengan intensitas cahaya di ruangan ini.

Aku ada di mana? Pertanyaan itu langsung terlintas dalam pikiranku.

"Hai Claire. Syukurlah kau sudah sadar," sahut sebuah suara yang ceria.

Keningku berkerut. Aku menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum padaku.

"Siapa kau?" wajahnya tampak familiar, namun aku tak dapat mengingatnya.

Wanita itu menatapku sedih. "Aku bibimu."

Oh ya? Bagaimana bisa aku melupakan bibiku sendiri?

"Maafkan aku, tapi kau harus kehilangan ingatanmu karena benturan di kepalamu sangat keras."

Wanita ini bicara apa, sih? Tunggu, apa yang ia katakan tadi?

"APA?!"


To Be Continued ^o^


A/N

Claire: TT_TT

Popuri: Claire, aku turut berduka T.T

Ann: aku juga

Claire: ah, tidak apa-apa, aku hanya sedih karena ingatanku telah kembali

Popuri dan Ann: O.O maksudmu?

Claire: lebih baik aku hilang ingatan selamanya, daripada bersedih karena ingatan itu begitu menyakitkan

Popuri dan Ann: Claire T^T

Penulis: T_T oke, terima kasih untuk semua review-nya, itu membuat saya semangat menulis lagi di tengah-tengah writer's block, hehehe.

Mohon review-nya ^_^