A/N
Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya, saya hanya punya cerita ini ^_^
Warning :: berantakan, bahasa aneh, gaje, alur terlalu cepat, maybe OOC, typo, dll
Happy reading ^o^
SUMMER 14, year 1
Mataku terbuka perlahan dan menyadari bila aku sedang terbaring di ruang serba putih. Lagi. Hei, bukankah aku pernah mengalami ini sebelumnya?
Dan lagi, aku merasakan tanganku tertindih sesuatu. Aku menoleh dan lagi-lagi mendapati Gray tertidur di lenganku. Hanya bedanya kali ini wajahnya menghadap ke arahku, memaparkan seraut wajah tampan nan tegas yang tengah tersenyum tipis dalam tidurnya.
Pemandangan yang indah sekali.
What the—? Apa yang kupikirkan, hah?
Uh, tunggu. Aku melihat sesuatu terselip di tangannya. Mataku menyipit, agar dapat melihatnya dengan lebih jelas. Segumpal tisu, eh?
Aku melirik ke bawah dan mendapati tempat sampah yang penuh dengan gumpalan-gumpalan tisu. Siapa yang membuang tisu sebanyak ini, dan apa sebabnya?
"Gray, bangun," pintaku sambil menggoyangkan bahunya pelan. Ia bergerak gelisah, tanda ia masih belum siap bangun, lalu membuka matanya dan langsung menatapku.
Matanya membelalak dan berseru, "Claire, kau sudah sadar? Oh, astaga. Goddess, Kau begitu baik."
Aku menatapnya bingung. "Memangnya apa yang terjadi padaku?"
"Kau tidak sadarkan diri selama—" ia menoleh ke arah meja kecil di samping kasurku, tempat sebuah kalender berada. "—empat hari. Katakan padaku, apa kau mengingat sesuatu?"
Aku terperangah. Tidak sadarkan diri selama empat hari? Apa yang terjadi pada diriku? Oh ya, aku mengingatnya. Aku mengingat kejadian itu. Kejadian itu—
Ingatanku kembali.
Aku mencoba bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Aku menunduk dan tanpa sadar setetes air mata jatuh. Gray yang melihatnya hanya dapat memandangiku dengan bingung namun ia mengangkat tangannya, mengusap air mataku menggunakan ibu jarinya.
Napasku tercekat. Ini persis seperti dulu.
"Aku— ingatanku telah kembali. Semuanya," ucapku sambil terisak pelan.
Gray hanya menghela napas dan mengusap-usap bahuku. Mencoba menenangkan. Aku sadar sentuhannya memang menenangkan, bukannya menyalahkan atau menghinaku.
"Uh, Gray, mengapa ada banyak gumpalan tisu di tempat sampah?" tanyaku ketika teringat tujuanku membangunkan Gray.
Ia mengangguk. "Kau banyak menangis dalam 'tidur'mu."
Aku tertawa miris. "Sahabat?" aku mengulurkan tangan.
Pria itu mengangkat alis, kemudian tersenyum lebar. "Sahabat."
Aku memberikan pelukan sahabat padanya. Sebelum aku melepasnya, aku mendengar ia berbisik, "Aku akan selalu ada untukmu, Claire."
Aku melongo. Sejak kapan Gray dapat mengatakan kata-kata hangat seperti itu? Tapi kuputuskan untuk menjawab, "Aku juga, Gray. Aku juga."
Summer 15, year 1
Aku membuka pintu perpustakaan dan langsung mengoceh, "Mary, apa kau lupa bahwa kau telah menjanjikan novel terbaru untuk kupinjam? Sudah berapa lama kau mengingkari janjimu?" Aku mengerutkan kening, berpikir keras. "Empat puluh satu hari? Hebat sekali," aku berdecak kagum.
Mary tertawa. "Maafkan aku. Sejak saat itu kau tidak pernah berkunjung ke sini, jadi aku lupa."
Bibirku mengerucut. "Tapi kita selalu bertemu di Inn, bukan? Kau tidak bisa mencari alasan, Mary," aku memojokkannya sambil tertawa-tawa.
"Baiklah. Baiklah. Aku lupa. Ini novelnya. Kembalikan hari ini," ia pura-pura marah dan memerintah seenaknya.
Mataku melebar. "Apa? Yang benar saja. Baru saja aku meminjamnya dan aku harus mengembalikannya hari ini? Bagaimana bisa?"
"Ini sebagai balasan karena kau mengganggu pekerjaanku," ia terkikik.
"Hei, ini tidak adil! Aku—" aku membuang napas. "Baiklah." Aku berjalan lesu menuju meja baca. Aku mendengar Mary terkekeh.
"Claire marah! Ha ha ha! Aku hanya bercanda, Claire. Seperti biasa, batas meminjammu satu minggu. Tidak lebih. Tidak kurang."
Aku menoleh dan tersenyum. "Iya, Ibu Gray."
Sontak wajahnya memerah. "Claire!"
"Ya?" aku memandangnya dengan tampang sepolos mungkin.
Ia mengembuskan napas. "Baiklah. Terserah," sekarang warna mukanya mengalahkan merahnya tomat.
Aku tertawa lepas dan pandanganku beralih pada novel yang kupinjam dari Mary. Aku membaca sinopsisnya dan langsung tertarik untuk membaca isinya. Dan tak lama kemudian aku tenggelam dalam bacaan.
Tiba-tiba aku merasakan pundakku ditepuk. Uh, pasti Mary ingin mengganggu. "Tolong Mary, bercandanya nanti saja. Aku sedang sibuk."
"Hei." Jelas itu bukan suara Mary. Aku menoleh dan—
"Gray? Sedang apa kau di sini?" tanyaku bingung. Aku menoleh ke belakang dan tak mendapati Mary di sana. Lalu aku kembali menatap Gray dengan bingung. "Dan di mana Mary?"
"Aku sedang membaca buku seperti biasa. Justru aku ingin bertanya. Mengapa kau ada di sini? Dan Mary berada di lantai dua, sedang menata buku di sana," ucapnya datar. Uh, aku tak tahan untuk membuatnya berekspresi dalam berbicara satu kali saja.
Aku tersenyum simpul. "Oh," jawabku singkat, dan sedetik kemudian pandanganku beralih pada buku yang sedang kubaca.
Kemudian keheningan menyelimuti ruangan yang kami tempati. Walaupun membaca memang membutuhkan hal itu, namun tidak betah juga bila keheningan yang ada terasa janggal.
Baiklah, aku memutuskan untuk membuka suara, "Kau tidak berpacaran dengan Mary?"
"Eh?" sepertinya ia sedang membaca serius hingga ia bisa terlonjak kaget seperti itu.
"Kau tidak berpacaran dengan Mary?" ulangku dan menoleh ke arahnya. Aku tertegun. Meskipun matanya tidak menatap ke arahku, mengapa justru posisinya dengan gamblang mengatakan hal yang sebaliknya?
Ia buru-buru memperbaiki posisi duduknya, siap membaca buku. "Uh, tidak. Ada apa?"
Aku menggeleng-geleng. Terlihat seperti pasangan serasi namun ternyata jarang berpacaran? Aneh sekali. "Tidak. Hanya bertanya saja."
Keheningan kembali mengisi ruangan ini. Dan kembali terasa janggal. Mm... Sepertinya memang harus diisi dengan suara-suara kami.
"Gray, kau menyadari sesuatu?" aku mengawalinya lagi.
"Apa?"
"Bahwa sebelumnya kita tidak pernah sedamai ini dalam waktu yang cukup lama?" aku memandangnya sembari menaikkan alis.
"Mm," ia menyetujuinya.
Aku menghela napas. "Dan aku sangat bingung, mengapa perubahan ini terjadi begitu cepat?"
Ia ikut menghela napas. "Karena ingatanmu telah kembali. Ingat?"
Aku mengangguk. "Aneh, tapi nyata."
"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Apa kau bahagia bertemu denganku lagi?"
Aku tertawa kecil. "Sedikit."
"Huh, baiklah. Jika begitu, aku pergi," ia bersiap bangkit berdiri namun gagal melakukannya oleh sebab kedua tanganku yang merangkul erat tangannya.
"Tidak! Jangan lakukan itu, Gray Sayang!" aku merengek manja. Hei, sejak kapan tingkah lakuku berubah seperti ini?
Kali ini ia yang tertawa kecil. "Sudah berapa banyak sinetron yang kau tonton selama ini?"
Aku menahan tawa. "Ratusan," aku meniru nada bicara sebuah iklan di TV.
Ia memutar bola mata dan kembali menatapku. Tatapannya itu— sanggup melelehkan hati yang beku sekalipun. Namun tidak aku. Aku tak sanggup jatuh cinta lagi.
Hei, siapa yang jatuh cinta? Aku tidak mencintainya. Aku hanya menganggapnya sahabat. Titik.
"Sudahlah, bercandanya nanti saja. Baca bukumu dulu," titahnya bak seorang raja yang memberi perintah pada prajuritnya.
Aku memanyunkan bibir. "Siap, Raja!" sekalian saja aku memanggilnya 'Raja'.
"Hei!"
"Ada keperluan apa, Baginda Raja?"
"Berhenti memanggilku seperti itu!" serunya geram.
Aku terkikik. "Salahnya sendiri main perintah seenaknya." Tawa kami meledak.
Setelah kami puas tertawa, tanpa sadar aku bergumam, "Aku baru sadar bercanda denganmu memang menyenangkan. Juga menenangkan."
"Apa?"
Aku menggeleng-geleng. Berusaha untuk menyingkiran pemikiran aneh barusan. "Tidak. Lupakan."
Namun sejak tadi tidak ada di antara kami yang sadar bahwa sepasang mata menatap kami dengan tatapan nanar.
Summer 16, year 1
"Aku kembali!" seruku setelah tanganku membuka pintu Inn.
"Claire! Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu!" teriak Popuri dan Ann dengan hebohnya sambil memelukku terlampau erat.
Aku berdeham. "Teman-teman, bisakah kalian melapaskan pelukan kalian? Aku hampir tidak bisa bernapas."
Mereka tertawa dan aku pun begitu.
"Apa aku tertinggal banyak hal?" aku bertanya.
Sontak mereka cemberut. "Kau harus mengerjakan semua tugas kami nanti untuk mengganti saat kau sakit, Claire!"
"Aku tidak sakit, aku hanya—" aku terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "—baiklah," aku menunduk.
Beberapa detik belum ada yang mengangkat suara. Dan ketika aku hendak beranjak pergi, aku mendengar mereka tertawa. Aku mendongak dan memicingkan mata menatap mereka.
"Tidak. Tidak. Kau sudah bekerja kelewat keras selama ini. Tidak perlulah dibebani lagi dengan tugas-tugas kami," Ann terkekeh.
Aku berkacak pinggang dan semakin menyipitkan mata. "Kalian—!" aku berpura-pura marah.
"Claire marah! Ha ha ha!" Popuri tertawa keras, diikuti Ann.
"Hei semua!" sebuah suara sedikit mengganggu pendengaranku. Tidak. Sangat mengganggu. Seketika tubuhku membeku. Tolong, jangan—
Aku merasa bahuku ditepuk. "Sudah sehat?" suara itu bertanya padaku. Aku menghela napas dan terpaksa membalikkan badan demi menjaga kesopanan.
"Apa?" sahutku ketus pada pria berbandana ungu itu.
Ia memiringkan kepalanya. "Ada apa denganmu? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Ya!" aku berseru dengan suara keras, menyebabkan semua mata di tempat ini memandang ke arahku. Beruntung di dalam Inn hanya ada segelintir orang, panitia pengatur event dan Doug saja.
Pria itu memandang sekeliling dan berdeham, membuat orang-orang yang tadinya menatap kami penasaran berbalik ke kegiatannya masing-masing. Oh, tapi tentu saja telinga mereka sangat peka dan siap mendengar pertengkaran kami.
"Kau—," desisku. Aku mengembuskan napas guna menahan air mata yang nyaris keluar ini. "—jangan temui aku lagi. Selamanya."
Ia hanya mengerutkan alis. "Mengapa? Dan ingat, aku tak pernah menaati perkataanmu itu karena—"
Segera aku memotongnya, "Karena apa? Karena aku cinta pertamamu? Masa bodoh! Jangan temui aku lagi!" aku menekankan tiap kata pada kalimat terakhir. Oh, tidak. Air mata, jangan keluar dulu. Kumohon.
Dan pria di depanku ini tertawa. Ia sedang hilang kewarasan atau bagaimana? "Kau sedang bercanda, 'kan? Kau memang cantik jika sedang marah, namun akan lebih cantik bila kau tersenyum," ia tersenyum menyebalkan.
Inhale. Exhale. Inhale. Exhale. Menghadapi orang seperti Kai memang membutuhkan ekstra kesabaran. "Jangan. Temui. Aku. Lagi," ulangku dengan nada yang dalam dan penuh dengan penekanan.
"Mengapa?"
"Pikirkan sendiri!" teriakku frustrasi. Aku memejamkan mata dan membiarkan setitik air mata jatuh membasahi pipiku. Kai benar-benar menjengkelkan.
Aku merasakan bahuku dipeluk juga tanganku digenggam dan tubuhku dituntun menuju lantai dua Inn. Dua orang. Aku yakin itu adalah Popuri dan Ann.
Sekarang aku berada di sudut antara tangga dan tembok, dan di depanku terdapat teman-temanku yang memandangku dengan tatapan yang sukar ditebak. Dan air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku menangis. Di hadapan mereka.
"Kai. Kalian t-tentu su-sudah tahu, bu-kan?" kataku sesenggukan.
Mereka serempak mengangguk lemah. Aku menunduk, meneruskan tangisku.
Kejadian itu tentu sudah lama. Sangat lama. Telah berlalu. Namun kehilangan Ibu karena kesalahanku dan terlebih kesalahannya membuatku sungguh terpukul. Ini tidak main-main, tetapi mengapa Kai tidak mengingatnya? Apa ia kehilangan ingatan sama sepertiku atau— mengelak?
Aku butuh pelukan. Setidaknya, aku ingin memeluk seseorang. Bukannya aku bersikap manja atau apa, namun kesedihan ini membuatku tak berdaya. Kakiku mengambil satu langkah maju dan langsung memeluk orang yang ada di hadapanku begitu aku melihat bayangannya di lantai.
Hei. Mengapa orang yang kupeluk bukan Popuri atau Ann? Manusia ini— seorang pria. Gawat. Jangan-jangan Kai. Aku menarik napas dan tak sengaja aromanya masuk ke dalam indra penciumanku. Spring mine. Selain aku, manusia yang sering berada di sana adalah—
Aku melepaskan pelukanku dengan cepat dan mengangkat kepalaku. Aku terperanjat. "Gray?!"
Ia tersenyum tipis. Mataku mengalihkan pandangan ke sebelahnya. Mary. Oh, tidak. Aku dalam bahaya, rupanya.
"Maafkan aku, Mary. Aku tidak bermaksud. Astaga. Betapa lancangnya aku," aku menyembunyikan wajahku di balik kedua telapak tanganku.
Seseorang menggenggam kedua pergelangan tanganku dan menjauhkannya dari wajahku. Aku menatap tangan itu. Tangan Gray. Kini aku memandang Mary yang tengah tersenyum menenangkan. "Kau butuh bahu untuk bersandar."
"Tidak, Mary. Tidak. Maafkan aku. Aku—"
Kata-kataku terpotong oleh tindakan Mary yang sungguh mengejutkan. Ia membawaku kembali ke dalam pelukan Gray. Ya, kali ini pria itu yang memelukku duluan.
Aku balas memeluknya dan air mataku semakin deras. Bukan hanya karena kesedihan beberapa saat lalu, namun karena pelukan Gray begitu menghangatkan dan sanggup menenangkan hatiku yang tengah gundah. Namun selain tenang, suatu perasaan aneh terselip di hatiku. Ini adalah—
Cinta.
Baiklah, sekarang kuakui bahwa aku tengah jatuh cinta, pada Gray, aku mendeklarasi dalam hati. Perkataan Elli benar. Bodohnya aku yang baru mengakuinya sekarang, padahal sudah jauh-jauh hari perasaan itu tertanam dalam hatiku, dan aku sadar akan hal itu.
Tetapi ujung mataku menangkap sebuah bayangan yang mengirisku. Setitik air mata menggenang di pelupuk mata Mary dan ia mengusapnya dengan kasar.
"Aku mencintainya. Tolong jangan sakiti aku dalam waktu dekat. Ah, tidak. Tolong jangan sakiti aku selamanya."
Aku tertegun. Kalimat Mary kembali terngiang. Apa aku sudah lupa janjiku? Oh, Goddess. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan besar sekarang.
Dear diary,
Astaga. Kau telah mengingkari janjimu, Claire. Kau bukan teman yang setia. Kau jahat. Kau benar-benar jahat, Claire!
Arrgh! Aku frustrasi. Apa yang kulakukan tadi? Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, hah? Goddess, mengapa aku melakukan hal itu? Apa aku adalah manusia yang tak memiliki perasaan? Aku bergidik. Membayangkannya saja sudah membuatku merasa takut.
Namun jujur saja, aku begitu menikmatinya. Bukankah itu membuatku dua kali lebih jahat? Oke, aku mengaku jika aku memang— mencintai Gray. Kau boleh menertawakanku sepuasnya, tetapi itulah kenyataannya.
Dan karena itulah aku menyakiti kekasihnya, Mary. Melihatnya meneteskan air mata di hadapanku—meski ia berusaha menyembunyikannya—membuat hatiku sangat perih. Seperti luka yang menganga lalu diberi garam.
Oh, apa yang harus kulakukan sekarang? Menuruti kemauanku atau perasaan Mary, gadis lemah lembut itu? Ini serba salah. Bagai makan buah simalakama.
Jika menuruti kemauanku, aku bahagia tentu saja. Namun bagaimana dengan Mary? Ia akan tersakiti seumur hidup karena kekasihnya tak ada lagi di sampingnya dan temannya ini telah mengkhianatinya. Oh. Oh. Itu jelas menakutkan. Opsi ini tak layak diterapkan.
Tetapi jika menuruti perasaan Mary, aku yang akan tersakiti. Gadis itu akan bahagia, dan sebagai temannya tentu ikut bahagia. Namun bagaimana bisa bahagia jika aku adalah yang paling menderita di sini? Aku tahu itu egois. Oke. Oke. Claire tidak boleh egois kali ini. Dan opsi ini cukup dapat diterapkan.
Ah, mungkin memang seharusnya perasaan ini tidak ada sejak awal. Kesalahan ada di pihakku dan aku yang harus mengakhiri semuanya. Bagaimana jika sekalian saja menghilangkan Gray dari hidup kami? Ha ha ha! Jelas itu salah besar. Jadi, satu-satunya jalan adalah menghilangkan perasaan ini. But how?
Baiklah, aku tak boleh egois, sekali lagi. Aku harus segera meniadakan perasaan sialan ini dan membiarkan Mary bahagia. Aku bahagia atau tidak, itu bisa dipikir belakangan.
To Be Continued ^o^
A/N
Claire: aku jahat! Aku jahat TT_TT
Ann: tenanglah, Claire
Popuri: perlu kubelikan obat penenang? XD
Claire: =,.= aku serius
Popuri: hehehe ^^
Claire: apa yang harus kulakukan? TAT
Ann: O.O pilihan terakhir kurasa lebih baik
Claire: begitu? Baiklah
Penulis: T.T oke, terima kasih untuk review-nya, ini balasannya:
-ainagihara = waktu Claire sedang tidak sadarkan diri, di chapter 'Sembilan' ada kok, atau kurang jelas, ya? T.T Um, prolognya bikin gak mudeng, ya? Aku yang baca ulang juga gak mudeng *ditabok* hehehe... Oke, terima kasih ^^
-guest = terima kasih, hehehe ^^
Mohon review-nya! ^_^
