A/N
Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya tapi punya Natsume Inc., saya hanya punya cerita ini ^_^
Warning :: OOC, typo, all Claire POV, dll
Happy reading ^o^
SUMMER 18, year 1
"Ann, apa masih ada tugas yang belum kuselesaikan untuk Cow Festival lusa?"
Gadis yang kupanggil memeriksa catatannya kemudian menatapku. "Sepertinya sudah. Kau sudah menghubungi Kek Barley?"
"Su—" aku berpikir sebentar. Sepertinya sudah, tapi kapan aku melakukannya? Aku mencoba mengingat-ingat. "Belum," ucapku pada akhirnya.
Ann mendelik ganas ke arahku. "Kalau begitu, cepat kerjakan!" teriaknya.
Aku terbelalak. "Siap, Bos! Tapi kau tak perlu berteriak seperti itu juga."
Gadis itu terkikik, sementara aku berjalan lesu ke arah pintu keluar. Tenagaku sudah terkuras habis namun bodohnya aku lupa melakukan tugas yang satu itu, menghubungi Kakek Barley. Ketika aku hendak keluar, sebuah suara pria menyerukan namaku dan aku mendengar langkah-langkah kaki mendekat. Lantas aku menoleh dan menatap pria itu malas.
"Biar aku saja. Kau sudah terlalu lelah, istirahat saja dulu di dalam," ia mengedikkan kepala ke arah Inn.
Aku menggeleng tegas. "Tidak, Gray. Ini sudah tugasku."
Gray mendengus. "Dasar keras kepala. Baiklah, akan kutemani."
"Tapi—" dari ujung mataku, aku melihat Ann menyipitkan mata. Aku menghela napas. "Terserahlah."
Pria itu tersenyum tipis, namun aku gelisah. Beban 'merasa bersalah'ku semain bertambah. Sepanjang perjalanan, kami hanya diam saja. Tidak ada yang berusaha memecah keheningan yang canggung itu. Sesampai kami di Yodel Farm, aku mengetuk pintu dan membukanya ketika mendengar ada seruan dari dalam.
"Oh, Claire! Sudah lama tak bertemu, eh? Bagaimana kabarmu?" Kek Barley menyambut kami dengan sukacita.
Aku tersenyum, merasa menemukan sosok kakek yang selama ini aku inginkan. "Maaf jarang berkunjung, pekerjaan sedang menumpuk. Aku sangat baik. Bagaimana dengan Kakek dan May?"
Kakek Barley ikut tersenyum. "Aku dan May juga baik. Hanya kadang May merindukan sosok kakak. Ia merindukanmu."
Aku mendesah, merasa bersalah. "Maafkan aku. Dimana May?"
"Tidak apa-apa, kami mengerti. Temui saja di halaman belakang."
Aku beranjak dari tempatku berdiri dan menuju ke tempat yang ditunjuk Kek Barley. Aku sama sekali lupa akan tujuanku datang ke sini. Untuk mengingat aku datang bersama siapa, itu pun tak bisa.
"May," aku berseru senang.
"Kak Claire!" May ikut berseru, lalu menangis. Tangisan bahagia.
Aku berlutut untuk memeluk May. "Hei, jangan menangis. Maaf jika aku jarang menemuimu," ibu jariku menghapus air mata May.
May menangis tersedu-sedu. "May merindukan Kakak."
Aku melepas pelukan dan tersenyum haru, lalu memandang anak perempuan itu. "Aku juga. Bagaimana jika kita bermain bersama?" tawarku.
"Hore! Main apa, Kak?"
Berpikir, ayo berpikir, Claire. "Bagaimana bila—" aku membisikkan sesuatu pada May.
Anak itu mengangguk-angguk. "Ayo! Kakak duluan!" ia berteriak semangat.
Aku mengeluarkan sebuah kain berwarna biru, kemudian menggunakannya sebagai penutup mata. Aku tersenyum dalam hati, tak menyangka aku dapat kembali ke masa kecilku. Dalam hati aku mulai menghitung. Hei, May. Kau tak akan selamat dariku.
"May, di manakah kau? Jangan bersembunyi dariku," aku berseru sambil berjalan. Aku merasa telah memasuki rumah inti. "Hei, May?"
"May di sini!" aku menajamkan telingaku. Aku menganalisis. Sesuai dengan hasil analisisku, May berada di daerah sebelah kananku dan sebentar lagi aku akan—
Menyentuhnya. Benar, bukan?
Ketika tanganku tak sengaja menyentuh tangan seseorang, segera saja aku menjalankan kesepakatan kami karena aku yakin itu May. Aku memeluk orang itu, yang aku pikir adalah May. Namun tiba-tiba aku merasa aneh. Ini jelas bukan tubuh May, ini—
Aku segera membuka kain penutup mata dan terperanjat. Bukan May yang aku temukan, melainkan—
"GRAY?!" mataku melebar sempurna. Pasti mukaku merah padam.
Pria itu tersenyum tipis sembari melipat tangannya di dada, tak mengucapkan sepatah kata pun. Aku semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku. Maafkan aku." Aku menunduk berkali-kali.
Mendadak Gray mengunci wajahku dengan tangan kirinya, kemudian mendorong daguku sedikit ke atas, tepat menatapnya. Wajahku semakin memerah dan jantungku berdetak lebih cepat, menduga-duga apa yang akan pria itu lakukan padaku di Yodel Farm ini. Aku membuang jauh pikiranku dan memfokuskan diri untuk membalas tatapannya, meski sulit. Tetapi sedetik kemudian pria itu menolehkanku ke arah counter, di mana May berada, lalu ia melepaskan sentuhannya. Tanpa sadar aku mengembuskan napas lega.
"Ternyata kau ada di situ. Aku salah perhitungan, rupanya." Aku tertawa malu.
Tetapi anak perempuan itu menggeleng-geleng sambil tersenyum menggoda. Apa maksudnya itu? "Kakak tidak salah. Bahkan perhitungan Kakak jauh lebih tepat."
"Apa?!" Aku terbeliak.
May tertawa. Kakek Barley tersenyum. Gray? Aku bahkan tak sanggup untuk menoleh ke arah pria itu. Tiba-tiba aku teringat akan tujuannya datang ke sini.
Aku memandang Kakek Barley. "Kakek, kami mengundang Kakek untuk menjadi juri Cow Festival tahun ini. Apa Kakek bersedia?"
Beliau tersenyum lebar. "Tentu saja. Melihat sapi-sapi sehat selalu membuatku bersemangat."
Aku tersenyum. Dengan ekor mataku aku melihat Gray juga tersenyum. Tugas kami telah selesai.
"Bagaimana dengan May?" tiba-tiba May menyahut dan memandangku penuh harap.
"Eh?" aku berpikir lama sebelum berkata lagi, "May bisa membantuku saat acaranya nanti. Datanglah dua jam sebelum acara, akan ada briefing singkat."
"Baiklah," Kek Barley yang mengatakannya.
"Siap!" jelas ini May.
Kami pamit pada Kakek Barley dan May, lalu beranjak keluar dari rumah Yodel Farm. Di depan pintu mendadak aku teringat akan kelakuanku beberapa menit yang lalu.
"Maafkan aku, Gray. Aku tak sengaja tadi." Aku menunduk.
Aku mendengar Gray mendesah, namun kemudian mengangkat daguku dengan tangan kiringa agar pandanganku lurus ke arahnya, persis seperti tadi. "Kau sadar apa yang kau lakukan tadi?" ia berkata lirih.
Jarak kami semakin dekat, namun tidak ada di antara kami yang menyadari. Setidaknya tidak ada yang peduli.
"Maafkan a—"
"Sstt..." Gray menaruh telunjuk tangan kanannya ke bibirku. Aku melirik telunjuk itu dengan muka semerah tomat. "Kau tak pelu meminta maaf berkali-kali, karena— kau tidak salah."
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Pria itu memilih untuk menggeleng dan tak menjawab. Setelah itu ia menggenggam pergelangan tanganku lalu menarikku untuk kembali ke Inn. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Ketika sudah sampai di depan Inn, Gray berhenti yang membuat aku juga berhenti dengan kekagetan.
Gray berbisik padaku, "Karena aku begitu menikmatinya."
Aku bengong. "Hah?"
Lagi-lagi pria itu menggeleng, membuatku memandangnya dengan seribu tanda tanya.
Summer 20, year 1
Ann berseru di pengeras suaranya, membuat telingaku buntu seketika, "Hari ini Cow Festival dilaksanakan. Terima kasih untuk para pengatur event yang telah menyiapkan semuanya dengan sangat baik. Oh ya, hari ini kita kedatangan tamu spesial, yaitu Mayor Thomas, Kakek Barley, dan May! Kita beri sambutan yang meriah sekali!"
Semua panitia menepukkan tangannya sekali. Inilah ciri khas sekaligus rahasia panitia. Jika Ann berseru bahwa mereka harus memberi sambutan yang meriah sekali—yang artinya satu kali—maka semua panitia akan bertepuk tangan sekali. Mayor, Kakek, dan May bingung.
Ann terkekeh. "Tanyalah pada Claire, ialah pencetusnya," ia berkata sambil menunjukku.
Aku yang ditunjuk terkejut. Semuanya tertawa, membuatku tertawa canggung. Seseorang menepuk-nepuk pundakku. Aku memutar kepala dan mendapati Gray tengah tersenyum tipis padaku. Aku membalas senyum itu dengan kikuk dan mulai berpikir keras.
"Baiklah, sekarang semuanya diharapkan melakukan pemeriksaan terakhir terhadap properti-properti. Jangan sampai ada yang terlupakan. Dan akhir kata, semangat untuk kita semua!" Ann mengakhiri pidatonya.
Semua panitia mengacungkan kepalan salah satu tangan tinggi-tinggi. "Bravo! Bravo! Bravo! Ganbatte!" Lalu melompat bersama-sama.
Mayor, Kakek, dan May memandang mereka semua bingung.
Tiba-tiba Ann berseru, "Ini juga Claire."
Tak tahan dengan semua itu, aku ikut berseru, "Ann, tolong jangan buka aib di depan umum sekali-sekali."
Ucapanku mengundang tawa semua orang. Aku ikut tertawa lalu menghampiri Ann.
Aku pun berbisik padanya, "Ann, tolong kabulkan satu permintaanku kali ini."
"Apa? Yang tadi? Tidak akan." Gadis itu memalingkan muka dan pura-pura sebal.
Mau tak mau aku tertawa. "Tentu saja tidak. Tapi yang kali ini penting."
Ann memandangku, tampaknya mulai penasaran. "Apa?"
Aku kembali berbisik, "Jangan dekatkan aku dengan Gray hari ini."
Gadis itu memiringkan kepala. "Mengapa?"
Aku mendesah. "Turuti saja. Alasannya akan kau dapatkan setelah event ini selesai."
"Terserahmu sajalah."
Akhirnya aku tersenyum puas. "Itulah Ann yang adalah temanku."
Gadis di hadapanku itu menyipitkan mata. "Lalu Ann yang sehari-hari, siapa itu?"
Aku menahan tawa. "Bos sekaligus monster."
"CLAIRE!"
"Maaf Ann, marah-marahnya nanti saja. Aku harus memberikan briefing singkat pada May." Segera aku kabur dari hadapan Ann.
"Semua panitia, diharapkan tinggal sebentar untuk evaluasi," Ann berteriak menggunakan pengeras suaranya.
Semuanya mengeluh, merasa bahwa Ann tega membuat istirahat mereka terpotong walau hanya sebentar.
"MAY, terima kasih telah banyak membantuku. Biar kau kuantar pulang." Aku melirik jam tangan, dan mendesah puas karena waktu evaluasi masih sedikit lama.
Tapi anak kecil itu menggeleng. "May tidak ingin pulang dulu. May ingin ikut evaluasi."
Mendengarnya, aku tersenyum bingung. "Ingin ikut evaluasi? Tidak merasa lelah?"
May menggeleng keras-keras. Dalam hati aku takjub akan keputusannya dan mengingatkan diri sendiri untuk memasukkan May dalam panitia tahun depan, atau tahun-tahun berikutnya.
"Masih kuat untuk membantuku beberes?" tanyaku.
"Masih!" ia berseru gembira.
Aku mengacungkan ibu jari, kemudian kami mulai membereskan tempat itu. Mulai dari kertas yang berserakan hingga kursi-kursi yang harus ditata untuk dikembalikan.
"Claire, biar aku saja. Kau dan May istirahat dulu," sebuah suara menginterupsi kegiatan kami.
Aku menoleh sebentar, mendapati Gray sedang berbicara padaku, lalu kembali pada pekerjaan. "Tidak, terima kasih," tanpa sadar aku menggunakan nada dingin.
Dengan ujung mataku aku melihat ia mengangkat alis, namun kemudian tidak menghiraukan perkataanku. "Baiklah, kalau begitu biarkan aku berbicara denganmu setelah rapat evaluasi nanti."
"Maaf, tapi aku sudah ada janji dengan ANN," aku masih menggunakan nada dingin.
Pria itu diam sejenak. "Kau berbeda."
Aku terhenyak. Ia menyadarinya. "Aku tetap Claire—"
Ucapanku dipotong olehnya, "Tapi bukan CLAIRE yang kukenal." Pria itu beranjak pergi meninggalkanku dan May.
Aku tertegun. Memandang punggung Gray yang menjauh dengan perasaan campur aduk.
"Oke, interogasi dimulai!" Ann berakting layaknya interpol yang sedang menginterogasi seorang pembunuh.
Aku bergidik. "Kau tidak ingin membuat semuanya menjadi mudah, bukan?"
Ann terkekeh. "Baiklah. Baiklah. Apa maksud permintaanmu tadi? Masih terdengar janggal."
"Janggal bagaimana?"
Ia bergumam, "Ya, setahuku kau menyukai Gray dan tampaknya Gray juga menyukaimu—"
Segera aku memotong kalimat Ann. "Dan semuanya adalah khayalan belaka."
Gadis itu memiringkan kepala "Khayalan belaka? Omong kosong."
"Ann, dengar aku. Aku tak mungkin bisa mencintai Gray di saat Mary juga mencintainya. Setidaknya aku ingin sahabatku bahagia dengan berada di sisi pria itu," aku mendesah perlahan.
"Lalu bagaimana dengan kebahagiaanmu?"
Aku menunduk. "Aku bisa mendapatkan kebahagiaan dari yang lain. Misalnya bertani, beternak dan melihat hewan-hewan lucu, lalu—"
Mendadak kalimatku dipotongnya, "Claire, kau tidak bisa."
"Apa maksudmu?"
Gadis itu menghela napas. "Kau menjadi pihak yang tersakiti di sini."
"Tidak apa-apa. Sahabatku bahagia, aku pun harus bahagia." Aku memaksakan senyum.
Ann berpikir, lama. "Tapi bagaimana jika—?" Sial, gadis itu sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Bagaimana jika—?" Dan bodohnya aku terpancing.
"Bagaimana jika kau berpotensi untuk mendapatkan hati Gray lebih dari Mary sendiri?"
To Be Continued ^o^
A/N
Penulis: O.O oke, terima kasih untuk review-nya, ini balasannya:
-ainagihara = terima kasih ^^ semangat juga untuk ai-san (boleh aku panggil begitu? hehehe)
Mohon review-nya! Terima kasih ^_^
edited: January 2nd, 2015
