A/N

Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya tapi punya Natsume Inc., saya hanya punya cerita ini ^_^

Warning :: berantakan, bahasa aneh, gaje, alur terlalu cepat, maybe OOC, typo, dll

Happy reading ^o^


SUMMER 20, year 1

Bagaimana jika kau berpotensi untuk mendapatkan hati Gray lebih dari Mary sendiri?

Sekujur tubuhku membeku. "A-apa?"

Mata Ann melebar sempurna, seakan ia telah mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk dikatakan. "Tidak. Lupakan."

"Bisa kau jelaskan apa maksudnya?" tanyaku lirih.

Gadis di hadapanku menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Tidak. Tolong lupakan, Claire."

"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" mataku menyipit. Jelas ini ada hubungannya dengan tingkah laku gadis berambut oranye ini yang menentang hubungan Gray dan Mary.

Ann gelagapan. "Ti-tidak. Su-sungguh."

"Begitu? Kau menolak untuk menjawab, hm? Tak apa. Ada baiknya bila kau bersiap-siap dihantui oleh pertanyaan yang sama," aku memberikan senyuman yang menakutkan baginya kemudian beranjak pergi dari kamarnya.

Ia pasti berpikir aku seorang psikopat. Aku mendengus pelan.


Summer 21, year 1

"Baiklah, hari ini kita kan evaluasi event Cow Festival kemarin dan—" mendadak Ann terdiam dan matanya memelototi buku kecilnya.

Aku menyeringai.

'Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?'


Summer 22, year 1

Ann menguap dan merentangkan tangannya sangat lebar. "Ah, aku lelah," ia berkata sambil berjalan menuju kamarnya. Ketika ia sampai di depan pintu, mata yang nyaris menutup itu kini terbuka kembali. Hanya karena satu kalimat tanya.

'Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?'


Summer 23, year 1—Fireworks Festival

"Indah sekali," seorang gadis menatap kagum ke arah langit dimana percikan kembang api menghiasinya.

"Ya, indah sekali," pria di sampingnya membeo kalimat sang gadis. Merasa ada sesuatu yang janggal, sang gadis menoleh dan mendapati pria di sampingnya itu tengah menatapnya. Wajah gadis itu bersemu merah.

Susah payah gadis itu berkata, "Cliff, kau bercanda?"

Pria yang dipanggil Cliff itu mendesah. "Mengapa Tuhan menciptakanmu begitu indah di mataku?"

Napas gadis itu tercekat. Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya Cliff mengakui ada sebuah perasaan di antara mereka.

"Ann, kau tahu jawabannya, bukan?" Cliff melanjutkan.

Sang gadis bernama Ann itu mematung. Yang dapat ia lakukan hanyalah mengakui bahwa Cliff begitu tampan malam ini. Dengan bentuk wajah yang begitu memukau yang dibingkai oleh surai coklat itu, dihiasi oleh mata amethyst dan bibir yang tersenyum tulus itu, astaga, ia tak dapat menahannya—

"Karena Ia ingin aku bahagia, hanya dengan berada di sisimu," pria itu menjawab pertanyaannya sendiri, lalu memandang Ann dengan intens. Kini warna wajah Ann sudah menyerupai kepiting rebus.

Cih, rayuan maut, rupanya. Aku terkikik mendengar perkataan terlampau manis dari Cliff dan reaksi gadisnya itu. Lalu aku melihat Cliff mendekatkan wajahnya pada Ann dan—

Oh, sudah saatnya.

Dengan sangat perlahan aku menyelipkan sebuah kertas tepat sebelum bibir mereka bertemu, dan dengan sangat perlahan pula kembali pada tempat persembunyianku semula. Aku tertawa lepas ketika menyaksikan pasangan itu terkejut luar biasa. Dengan tingkat amarah yang sudah mencapai ke ubun-ubun, Ann mengambil kertas itu dan membacanya, namun pada akhirnya kertas itu diremas dengan segenap emosi dan dihanyutkannya ke laut.

'Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?'


"CLAIRE! Aku membencimu! Mengapa kau tega melakukan itu, hah?" Ann berteriak histeris saat pantai menyisakan kami berdua. Aku hanya dapat tertawa karena ternyata Ann begitu mengharapkan momen itu, tetapi dengan hebatnya—salah, teganya—aku merusak momen tersebut. Kau menganggap aku kejam? Memang kenyataannya begitu.

"Salah sendiri menyimpan hal penting dariku."

Ann mengembuskan napas. "Itu bukan hal yang penting, Claire. Percaya padaku."

Aku menggeleng keras. "Tidak. Setelah melihat kenyataannya dengan mataku sendiri."

Gadis itu terperanjat. "Apa? Kau sudah tahu?"

"Kurang-lebih. Mary yang memeluk Gray, Mary yang mendeklarasikan Gray sebagai kekasihnya tepat setelah gadis itu cemburu setengah mati padaku, Mary yang selalu menyuruh Gray untuk menemaniku pulang, mereka yang tak pernah mengumbar kemesraan di depan umum, Gray yang berkelit bila aku bertanya tentang Mary, mereka yang—"

Ann memotong kalimatku, "Cukup! Jika ini informasi yang ingin kau dengar, akan kuberikan. Tapi berjanjilah padaku agar jangan membenci siapapun."

"Ya. Ya. Ya. Terserahmu."

Ann membalikkan badan dan memandang tepat ke arahku. Meski hanya diterangi cahaya bintang, aku dapat melihat ia menelan ludah. "Yang selama ini kau amati itu— benar."

Aku diam mematung. Gadis itu melanjutkan, "Meski Mary begitu mencintai Gray, tetapi pria itu tak pernah membalas cinta Mary. Mereka hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih untuk membuatmu cemburu—"

"Cemburu? Yang benar saja. Mary tidak sejahat itu," aku berkelit demi menghilangkan perasaan yang berkecamuk ini.

"Jangan potong kata-kataku. Tidak hanya cemburu, Mary ingin kau menyadari perasaanmu sendiri dan gadis bodoh itu juga ingin Gray menyadari perasaannya terhadapmu."

Perkataan Ann sukses membuat mulutku terbuka lebar. Terperangah. "Jadi selama ini mereka hanya bersandiwara?" tanyaku lirih.

Dengan berat hati Ann mengangguk. Tubuhku lemas. "Aku— mengapa ketika aku menginginkan sebuah sandiwara, yang menjadi sandiwara justru ini?" kataku nyaris berbisik.

"Kau menginginkan sandiwara? Sejak kapan?" aku merasa lidah Ann kelu, seakan ia juga bersalah atas semua ini.

Aku menghela napas. "Kau masih ingat Rick?" Lalu mengalirlah cerita tentang kejadian pahit itu. Kejadian dimana pria yang dulunya kukagumi ternyata justru membuatku semakin tidak percaya pada makhluk berjenis kelamin pria.

"Maafkan aku, sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahu ini agar tidak berlarut-larut, tapi pada akhirnya kau mengetahuinya sendiri," Ann memelukku. Aku terisak pelan. "Kau tidak membenciku?" tanyanya.

"Tidak."

"Kau tidak membenci Mary?"

"Tentu saja tidak. Ia sahabatku."

"Kau tidak membenci Gray?"

Mendadak aku melepas pelukannya dan mencengkeram bahunya. Aku menggeleng berkali-kali. "Aku— tidak menjamin itu." Aku berjalan meninggalkannya.

Sejujurnya aku tidak tahu apa yang seharusnya aku rasakan. Senang atau sedih? Bahagia atau justru menangis? Tapi satu hal yang aku mengerti.

Aku membenci pria itu. Gray. Dengan seenaknya ia mempermainkan hati Mary untuk sebuah sandiwara konyol seperti itu. Huh, kukira aku mencintai orang yang benar. Namun kenyataan selalu berkata lain.

Aku justru mencintai orang yang menyakiti sahabatku sendiri.


Summer 25, year 1

Sampai berapa lama aku harus terus begini?

Keheningan menyelimuti rumah ini. Sejak dua hari ini aku hanya mendengar perseteruan suara-suara di pikiranku.

"Kau mencintai orang yang salah, Claire. Camkan itu dalam kepalamu," sahut sebuah suara.

"Tidak. Tindakan Mary benar. Kau saja yang terlambat menyadari perasaanmu terhadap Gray," bisik suara yang lain.

"Hei kau yang tidak berperasaan, lihat keadaan Claire sekarang ini. Ia menderita karena Gray yang selama ini ia cintai ternyata melukai Mary, sahabat yang Claire sayangi!" suara yang pertama terdengar marah.

"Cih, kau saja yang tidak bisa memahami perasaan orang lain. Claire hanya bingung, itu saja. Hei Claire, kau ingat bagaimana Gray menyelamatkanmu dari trauma akan lawan jenismu sebanyak tiga kali?"

Tiga kali?

"Ya. Pertama, ia bersedia mendengar semua cerita tentang ayahmu dan menghiburmu dengan senyum yang sampai sekarang kau ingat itu. Kedua, lagi-lagi ia bersedia mendengar keluh kesahmu mengenai Rick yang tega menyakiti hatimu demi Karen. Ketiga, ia berusaha menghiburmu dari kelakuan Kai yang menurutmu jahat dan memberikan bahunya untuk kau bersandar," suara yang lain menjelaskan panjang-lebar.

Suara itu benar. Terlampau benar. Aku mendesah. Tak tahu harus bagaimana lagi.

Tok! Tok! Tok!

Aku langsung menatap pintu, kemudian mataku beralih pada jam besar di samping cermin. Aku mengernyit. Masih terlalu pagi bagi Zack untuk ke rumahku dan bertanya mengenai hasil taniku.

Setengah yakin bahwa satu-satunya orang yang mengetuk pintu rumahku belakangan ini adalah pria bertubuh besar itu, aku memutuskan untuk membuka pintu. Ketika pintu setengah terbuka, aku menyesal telah membukakan pintu untuknya. Dengan cepat aku menutup pintu kembali, tetapi insan di depanku ini ternyata lebih cepat dalam menahannya. Aku berdecak kesal.

"Biarkan aku masuk. Setidaknya jangan buat perjalananku ke sini berakhir sia-sia," ucapnya. Suaranya yang berat dan dalam begitu kurindukan. Orang yang selama dua hari ini memenuhi pikiranku.

Ya, kau benar. Gray.

Sambil menggerutu dalam hati aku mengizinkan Gray masuk. Setelah menutup pintu, aku bersandar pada dinding. Menghiraukan tamu yang-entah-berada-di-mana-sekarang itu.

Tiba-tiba sebulir air mata membasahi pipiku. Aku tak percaya ini. Setelah sekian lama, aku baru menangis sekarang? Dan mengapa sekarang?

Sebuah ibu jari mengusap air mataku. Aku mendongak. "Maafkan aku, Claire," nada yang sarat akan penyesalan itu memasuki telingaku. Aku memberanikan diri untuk menatap langsung matanya. Mata biru itu merefleksikan kesedihan yang begitu dalam.

"Kau sadar apa yang kau lakukan?" air mataku semakin deras, namun aku berusaha keras untuk meneruskan apa yang selama ini mengganjal dalam otakku, "Menyakiti Mary dengan sebuah sandiwara konyol itu? Dasar bodoh. Mary mencintaimu, Gray!"

"Aku tahu."

Aku geram mendengar jawaban yang kelewat singkat itu. "Jika kau tahu, mengapa kau masih melakukan itu? Sudah tidak mempunyai perasaan lagi, hah?"

Pria itu tidak menjawab, justru menghapus jarak di antara kami dan menggunakan salah satu telapak tangannya untuk menumpu sedikit berat badannya di dinding tepat di samping kepalaku. Jantungku berdegup kencang. Sial. Setelah apa yang Gray lakukan pada sahabatku, mengapa aku masih bisa menyimpan perasaan ini?

"Mengapa kau menyakiti hati Mary? Mengapa kau tidak mencintainya?" tanyaku frustrasi.

Gray menaikkan alis. "Mengapa?" ia mengunci wajahku dengan telapak tangannya yang lain agar tidak berpaling darinya. Aku sangat yakin tangannya itu pasti merasakan panas di wajahku sekarang. "Karena—" wajahnya terus mendekatiku. Semakin dekat, semakin de—

Bibir kami bertemu. Tunggu. APA?!

Selama beberapa detik seluruh tubuhku mendadak lumpuh. Yang dapat kurasakan hanyalah ciuman Gray yang begitu menenangkan, menyenangkan, sekaligus membahayakan. Harus kuakui, aku sangat menikmatinya.

Claire jahat. Claire hina.

Pria itu melepaskan bibirnya dariku dan membuka mulutnya, "—aku mencintaimu, Claire."

Belum cukup ia memberiku kejutan, kini aku dikejutkan oleh kenyataan yang lain. Aku memalingkan muka. Lidahku kelu.

Dengan ujung mataku aku melihat ia melipat tangannya di dada. "Kau boleh membenciku sekarang, tapi yang harus kau tahu adalah bahwa aku tak memiliki perasaan apapun pada gadis manapun selain dirimu," aku mendengar ia mengembuskan napas, setelah itu berkata lagi, "Dan juga, tolong maafkan Kai. Kematian ibumu, itu bukan salahnya, itu bukan salahmu, itu bukan salah siapa-siapa. Kematian ibumu adalah sebuah takdir. Aku yakin ibumu tidak ingin melihatmu seperti ini, menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Beliau pasti menginginkan anaknya dapat berdamai dengan masa lalu. Dengan takdir."

Setelah ia berkata begitu, ia berjalan menjauhiku dan pergi meninggalkan rumahku. Tubuhku merosot dan jatuh terduduk.

Kematian ibumu, itu bukan salah siapa-siapa. Ibumu tidak ingin melihatmu seperti ini, menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Ia pasti menginginkan anaknya dapat berdamai dengan masa lalu. Dengan takdir.


Summer 30, year 1

"Semuanya, ayo kita ke dermaga sekarang. Kita akan mengantar kepergian Kai."

Popuri menangis tersedu-sedu di pundakku. Aku merenung.

Memaafkan Kai? Apa aku bisa melakukannya? Tapi ia bersalah atas—

Tiba-tiba kalimat Gray terngiang dalam pikiranku. Aku harus bisa memaafkannya. Bagaimana menyampaikannya atau bagaimana reaksi Kai, itu bisa dipikir belakangan.

Sepanjang perjalanan, Popuri membasahi bajuku dengan isak tangisnya. Namun aku tak peduli. Pikiranku bercabang ke mana-mana.

"Popuri!" meskipun aku bukanlah sang pemilik nama, aku menoleh juga. Itu Kai. Aku menggigit bibir.

Kai menghampiri kami semua. Ann, Elli, dan Mary menitikkan air mata. Aku tersenyum tipis. Tidak bertatap muka dengan teman baik selama berbulan-bulan itu menyedihkan dan Kai memang memikat, dengan caranya sendiri.

"Kai," panggilku.

"Ya?"

Aku terdiam sejenak. "Maafkan aku, karena selama ini aku selalu menyalahkanmu atas kematian ibuku. Maaf."

Kai mengangkat salah satu alis. "Aku juga minta maaf, Claire. Seharusnya aku tidak—"

"Sudahlah. Aku sudah memaafkanmu. Teman?" aku mengulurkan tangan.

Pria berbandana ungu itu tersenyum manis. "Teman. Terima kasih, Claire."

"Tidak. Berterima kasihlah pada pria itu," aku menunjuk Gray yang berada agak jauh dari kami menggunakan ibu jariku. Kai tersenyum pada Gray.

"Kau sudah memutuskan untuk membalas cintanya?" tanya Kai serius.

Aku memutar bola mata. "Aku membencinya."

"Apa? Yang benar saja. Aku tidak mau tahu, ketika aku kembali ke sini tahun depan, aku ingin kalian sudah menjadi pasangan suami-istri."

"Sialan," aku beranjak dari tempatku berdiri dan mendengar pria itu tertawa.

"Sampai jumpa, Kai!" semuanya berseru ketika kapal yang ditumpangi Kai mulai bergerak menjauhi dermaga. Aku tersenyum lega. Setidaknya bebanku berkurang sedikit.

Ha ha ha! Satu lagi. Claire kejam.


To Be Continued ^o^


A/N

Penulis: Claire, kau jahat sekali -_-

Claire: Ha ha ha XD

Penulis: Dan ya, wajahmu- memerah saat ini

Claire: O.O APA?! Sial

Penulis: ^^ oke, terima kasih untuk review-nya, ini balasannya:

-Hakubi Yukishiro = terima kasih atas pendapatnya, saya tidak akan membuat model skenario lagi karena sekali mencoba terbukti gagal XP Terima kasih ^^

-Audrey Belle = hehehe... Terima kasih banyak, semangat buatmu juga ^_^

-shiramiu = terima kasih banyak karena sudah membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan fanfic ini dengan review miu-san (saya boleh panggil miu-san, kah?), hehehe... Terima kasih juga atas koreksinya, lain kali saya akan lebih teliti XD semangat buat miu-san! Look forward to your another story ^^

-Mnema = Thank you so much, I hope you enjoy this story (sorry for bad english T_T) :)

-ainagihara = hehehe, ai-san dapat jawabannya di chapter ini :D iya, chap itu model skenario, tapi kayaknya gagal XD semangat buat ai-san juga ^_^

Oh ya, semoga chapter ini bisa jadi hadiah natal yang indah buat kalian #ke-PD-an *ditendang* Mohon review-nya! Terima kasih ^_^