A/N

Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya tapi punya Natsume Inc., saya hanya punya cerita ini ^_^

Warning :: OOC, typo, all Claire POV, dll

Happy reading ^o^


FALL 1, year 1

Dear diary,

Musim yang baru kembali tiba, menggantikan kedudukan musim yang lama. Sinar matahari yang terik kini menjelma menjadi embusan angin yang menerbangkan daun-daun berguguran. Suasana seakan berubah menjadi syahdu, sungguh menenangkan hati. Namun aku tak peduli. Musim apapun itu, mau tak mau harus kunikmati—hei, aku pernah menulis hal yang serupa, bukan?

Di musim ini, aku mengalami dilema yang besar. Jika pepatah mengatakan, bagai makan buah simalakama, itulah yang terjadi padaku—meski tidak seekstrem itu. Sejujurnya, aku tak tahu apa yang harus kuputuskan sekarang. Apakah aku harus memilih untuk membalas cinta Gray—astaga, ternyata pria menyebalkan itu juga mencintaiku, aku tak dapat membayangkan hal mengejutkan apa lagi yang harus kuhadapi nantinya—dan menyakiti hati Mary, sahabatku, atau aku harus memilih untuk tetap menjadi sahabat Mary tanpa adanya Gray di sisiku, meski itu berarti aku harus mengubur kebahagiaanku sedalam-dalamnya. Goddess, bolehkah aku bersikap egois untuk kali ini? Bolehkah aku mendapatkan keduanya sekaligus, Mary yang menjadi sahabatku dan Gray yang menjadi— kekasihku?

Baiklah, aku tahu memiliki keduanya sekaligus hanya akan menyakiti salah satu pihak, dan pada kenyataannya keegoisan seperti itu tidak pernah nyata di dunia ini. Well, aku tak berharap apapun pada musim ini. Tak mengharapkan kebahagiaan. Tak mengharapkan sebuah konflik. Juga tak mengharapkan kesedihan. Kini bagiku berharap hanya akan mendatangkan kesia-siaan.

Di musim ini, aku bertekad satu hal. Bekerja untuk pertanianku sekeras mungkin dan menghindar dari siapapun sebisa mungkin.


"Ada yang bisa kubantu, Pastor?" tanyaku ketika menyadari bahwa Pastor Carter sudah berdiri di depan pintu rumahku ketika aku hendak membukanya.

Pastor tersenyum. "Claire, kau tahu besok lusa merupakan event apa?"

Aku mengerutkan kening. Berpikir lama sebelum menjawab ragu-ragu, "Music Festival?"

Kali ini senyum Pastor lebih lebar. "Tepat! Aku mengundangmu untuk berpartisipasi dalam event tersebut. Apa kau bisa memainkan okarina besok?" tanyanya penuh harap.

"Sebenarnya aku tak begitu mahir okarina," jawabku dengan tampang menyesal.

Pastor menepuk dahinya. "Ah, bodohnya aku. Tentu saja kau boleh memainkan cello."

"Dari mana Pastor tahu?" aku mengernyit. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam kepalaku. Huh, tentu saja orang itu. "Maaf, Pastor tak perlu menyebutkan namanya. Aku sudah mengetahuinya."

"Bagaimana? Jika kau setuju, datanglah ke gereja pukul empat sore nanti. Akan ada gladi kotor."

Aku terbeliak kaget. "Aku hanya dapat latihan bersama dua kali? Pastor kejam sekali."

Ia tertawa. "Aku percaya kemampuanmu. Ia yang mengatakannya padaku."

Aku berdecak. Ia lagi? "Baiklah. Aku setuju."

"Bagus."

Tekadku sepenuhnya gagal.


Music Festival tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, setidaknya itu menurut Ann. Berkat ide yang tak sengaja aku lontarkan, Music Festival kali ini dikemas dengan begitu rupa agar tidak terasa monoton dan membosankan. Music Festival dibagi menjadi tiga kegiatan besar: orkestra, paduan suara, dan permainan.

Kegiatan pertama adalah paduan suara yang dipimpin oleh Pastor Carter dan diikuti oleh Lillia, Manna, Karen, dan Popuri sebagai pengisi suara sopran, Sasha dan Anna sebagai pengisi suara alto, Harris, Jeff, Duke, dan Doug sebagai pengisi suara tenor, kemudian Gotz dan Basil sebagai pengisi suara bass. Cukup seimbang untuk menghasilkan suara yang akan memanjakan telinga para pendengar nantinya. Mereka akan menyanyikan lagu Ave Maria, entah apa yang dipikirkan Pastor Carter sehingga beliau memilih lagu yang dapat mengantar orang untuk tidur—setidaknya itu pendapatku.

Lalu kegiatan kedua adalah orkestra yang dipimpin oleh Gray—aku benar-benar tidak percaya pria itu menjadi konduktor orkestra merangkap violinis utama—dan diikuti oleh Mary yang memainkan piano, Trent dan aku yang memainkan cello, kemudian Popuri, Elli dan Rick yang menjadi violinis kedua, serta Cliff dan Ann yang memainkan viola—Goddess, mereka serasi sekali. Dan ada yang dapat menebak lagu apa yang dipilih Gray? Dari sekian banyak lagu, ia memilih salah satu karya Antonio Vivaldi. Ya, kau benar. The Four Seasons. Ia memilih Autumn.

Kurang ajar sekali! Pria menyebalkan itu tega sekali membuatku semakin bersedih hanya dengan mengingat nada-nada lagu tersebut.

"Bukankah Music Festival diadakan pada Fall 3? Wajar saja bila aku memilih lagu ini," jelasnya tak berdosa.

Dan kegiatan terakhir adalah permainan. Seperti Thanksgiving Festival Game yang diadakan ketika Spring dulu, kali ini nyaris sama, hanya perbedaannya terletak pada temanya, yang ialah musik.

Tak kusangka, Music Festival ternyata seseru ini. Dan serumit ini.


Aku mengaduk-aduk isi koperku. Aku sangat yakin benda yang kucari ada di sini. Setelah membongkar seluruh isinya, aku menemukan buku itu. Buku partiturku. Setelah itu aku membuka halaman demi halaman, menyadari bahwa aku begitu mencintai musik. Dan di sanalah ia. Partitur The Four Seasons: Autumn.

Segera aku beranjak dari posisiku lalu menjinjing case cello dan berjalan tergesa-gesa menuju gereja. Namun selama di perjalanan, aku membaca partitur dengan cepat dan menggerakkan jari-jari tangan kiriku tanpa sadar, berharap dapat menguasai lagu ini dengan cepat pula.

"Maaf aku terlam—" seruku begitu membuka pintu gereja, namun aku tak menemukan siapa-siapa di dalamnya, "—bat." Bukankah latihan dimulai pukul empat sore? Mengapa gereja masih kosong? Aku melirik arlojiku dan seketika terbelalak.

Aku salah membaca jam. Sekarang masih pukul dua siang.

Aku mengembuskan napas kesal dan memasuki gereja—sudah telanjur di sini, mengapa tidak sekalian saja?—kemudian duduk dengan lemas pada salah satu kursi kayu panjang yang berjejeran di seluruh area gereja. Aku melirik pada case cello yang sejak tadi kubawa. Tidak ada salahnya berlatih sendiri, bukan?

Aku membuka case tersebut dan mengeluarkan isinya, sebuah cello berwarna coklat tua beserta bow. Dengan gerakan perlahan aku mencoba menggesek nada dasar dan bermain-main sebentar. Tidak ada nada yang janggal, baguslah.

Setelah menghela napas berat, aku memainkan karya Vivaldi itu dengan segenap perasaan.

Dan, selesai. Aku mengembuskan napas lega seraya bersandar pada kursi. Memainkan lagu dengan durasi sekitar sepuluh menit tanpa henti membuatku sangat letih. Namun mendadak aku merasakan sebuah earphone menyumpal pendengaranku dan sedetik kemudian aku mendengar alunan musik yang familiar. Apa lagi kalau bukan Four Seasons?

Aku menoleh dan mendapati Gray tersenyum lembut memandangku. Wajahku memerah dan seketika memalingkan muka. Pria itu tak boleh melihatku seperti ini.

"Sebuah karya tidak selamanya diliputi rasa sedih. Ada kalanya ia harus merasakan kebahagiaan yang layak bagi dirinya," aku mendengar ia berbicara. Aku mencoba mencerna tiap kata-katanya. "Permainanmu bagus sekali, kau memainkannya dengan penuh perasaanmu. Tapi, apa kau sesedih itu sampai tidak menyelipkan kebahagiaan dalam permainanmu tadi?" tanyanya pelan.

Aku menunduk. Ya, aku sesedih itu. Namun aku memilih untuk tidak mengutarakannya. "Entahlah," itulah yang keluar dari mulutku.

Ia merangkul bahuku dengan tangannya yang menghangatkanku, kemudian merapatkan jarakku dengannya. Aku meronta tetapi langsung terdiam ketika ia berbisik, "Tetaplah seperti ini."

'Seperti ini' yang dimaksud adalah aku yang bersandar pada bahu Gray sambil mendengarkan The Four Seasons: Autumn.


"Trent, apa kau sudah mempelajari lagu ini?"

"Sudah."

"Apakah kau menemukan nada-nada yang sulit?"

"Tidak."

"Bolehkah aku mendengar permainanmu?"

"Tidak."

"Apakah aku boleh bermain untukmu, agar kau bisa mendeteksi kesalahanku?"

"Terserah."

Aku geram mendengar jawaban-jawaban kelewat singkat dengan nada datar seperti itu. Kurasa aku mendapat partner yang salah.

"Trent, kau tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun juga Claire bermain bersamamu dan untuk menciptakan nada-nada yang baik harus ada kerja sama," Elli menyahut.

"Hm." Dokter stoic itu menoleh padaku dan berkata datar, "Bermainlah. Aku mendengarkanmu."

Aku tersenyum pada Elli. Bagus, Elli. Kau benar-benar membantuku. Teringat perkataan Trent, aku menarik napas dan membuangnya sebelum menggesek nada pertama. Saat aku bermain dengan lagu itu, semuanya mendadak bungkam. Seluruh insan di gereja melayangkan pandangannya ke arahku.

Eh? Mengapa suasana berubah menjadi begini?

Oke, aku berusaha untuk tidak memedulikannya.

Sepuluh menit pun berlalu. Aku menyelesaikan lagu tersebut. Aku jengkel ketika mataku menyusuri setiap orang di dalam gereja. Mereka tak berkedip melihatku.

"Hei! Mengapa kalian memandangku seperti itu? Sudahlah, fokus pada bagian kalian saja," teriakku memohon. Namun setelah itu aku mendengar suara tepukan tangan, diikuti tepukan tangan yang lain.

"Tsk!" aku menoleh ke samping dan menatap Trent, "Bagaimana?" tanyaku sedikit takut.

"Bagus."

Baiklah. Jawaban datar lagi?!

"Kau hanya perlu memberi perasaan bahagia porsi yang lebih banyak dalam lagumu," telingaku menangkap kalimat yang Trent ucapkan. Hei, ia tidak sedang menjiplak perkataan Gray, bukan?


Fall 2, year 1

Gladi bersih tadi sungguh membuatku lelah, baik fisik maupun mental. Sejak jam dua siang hingga jam tujuh malam, tak henti-hentinya Gray memforsir kami dengan latihan dan latihan. Bahkan ia tidak segan-segan membentak kami bila kami melakukan kesalahan, melamun, dan berbuat sesuatu yang minor namun berpengaruh pada jalannya latihan. Ia pun selalu menegurku bila perasaan sedih masih mendominasi pada permainanku.

Cih, harus kuakui permainan Gray benar-benar hebat. Jari-jarinya bergerak lincah mengikuti not-not yang terpampang dalam partitur, kadang ia melakukan improvisasi yang membuat lagu tersebut semakin sempurna. Permainannya penuh emosi dan aku terkagum ketika emosi-emosi itu memiliki porsinya masing-masing, sehingga ia dapat membawa para pendengar turut merasakan gejolak perasaan pada musim gugur, dan juga gejolak perasaannya.

Aku merasakannya. Ia tampak—

Kesepian.

Seandainya aku dapat berada di sisinya, menjadikan diriku tempatnya bersandar, dan—

Sudahlah, Claire. Kau membencinya, ingat itu.

Kakiku menginjak pasir pantai yang lembut. Aku memandang sekeliling dan menemukan sebuah siluet yang duduk di ujung dermaga. Aku sangat mengenali siluet itu. Dengan langkah panjang aku menghampirinya.

"Cliff, masalah Fireworks Festival— maafkan aku," aku menduduki tempat di sampingnya.

Cliff menoleh dan menyunggingkan sebuah senyum. "Tidak apa-apa. Setidaknya masalah itu tidak lebih berat dari masalahmu sekarang."

Aku mendesah pelan. "Aku— aku tidak tahu apa yang harus kurasakan kini."

"Mau bercerita?"

Awalnya aku ragu-ragu, namun mengingat hampir setiap malam kami membunuh waktu dengan cara seperti ini membuat bibirku mengalirkan cerita dari awal kehidupanku hingga saat ini.


Fall 3, year 1—Music Festival

Hari ini telah tiba. Menunggu dari pukul delapan pagi hingga enam sore sukses membuatku jenuh. Meskipun waktu-waktu tersebut telah diisi oleh latihan bersama untuk yang terakhir kalinya, duduk diam sambil menanti hasil polesan makeup di wajahku yang dikerjakan oleh Popuri serta penataan rambut yang dikerjakan oleh Karen, dan mengganti overall merahku dengan dress berwarna pastel dengan panjang selutut, tetap tak bisa mengurangi rasa jenuhku.

Kini yang kulakukan adalah memandangi taman belakang gereja—semua pengisi acara standby di tempat ini sedangkan gereja sedang mengalami finishing touch dalam hal dekorasi dan penataan—dengan pikiran kosong.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada kejadian kemarin malam. Saat aku bingung setengah mati dan Cliff yang bersedia mendengarkan seluruh kebingunganku.

"Memikirkan perasaan orang lain itu sangat baik, terlebih bila kau harus menekan perasaanmu untuk itu," Cliff berpikir sejenak sebelum meneruskan, "Tapi bila orang lain justru ingin kau bahagia, mengapa harus bersusah-susah mengabaikan perasaanmu sendiri?"

Aku terhenyak. Cliff benar. Mary ingin aku bahagia, namun aku justru mengecewakannya.

"Claire," suara yang memanggil namaku itu memecah lamunanku. Aku memalingkan kepalaku. "Paduan suara sudah mulai. Bersiap-siaplah."

Aku mengangguk.

"Dan, ya," ia berdeham sebentar dan melanjutkan, "Bermainlah dengan segenap emosimu dan berikanlah setiap emosi porsi yang seimbang."

Aku memutar bola mata. Bosan mendengar kalimat bernada sama.

"Satu lagi. Kau sangat cantik malam ini," ujarnya. Aku dapat melihat pipinya bersemu merah.

Sayangnya hal yang sama terjadi padaku. "Kau— kau juga tampan, dengan jas itu," ucapku terbata-bata. "Tapi lepaskan topi itu."

"Tidak."

Mm... Baiklah.

"Mari kita sambut penampilan terakhir, orkestra dari Mineral Town!"

Er, setidaknya mereka memberikan 'nama' pada kami.


Concerto No. 3 in F major, Op. 8, RV 293, "L'autunno" memiliki tiga movement, yaitu Allegro, Adagio molto, dan Allegro. Karya Vivaldi yang biasa disingkat Autumn itu berdurasi sekitar sepuluh menit dan didominasi oleh perasaan sedih. Namun seperti kata Gray, sebuah karya tidak dihayati oleh satu perasaan secara keseluruhan saja. Ada kalanya perasaan yang berlawanan turut menghiasi sang karya agar ia menjadi lebih sempurna.

Sebelum duduk di tempat kami masing-masing, bersama-sama kami menunduk hormat kepada penonton dan tepuk tangan menggema di dalam gereja. Setelah semuanya siap, Gray mengetuk tempo dengan sepatunya dan pada ketukan keempat, musik mulai mengalun.

Pada movement pertama, perasaan bahagia langsung menyelimutiku. Ini mengingatkanku bahwa pada waktu aku masih kecil, aku memiliki keinginan untuk memiliki lahan pertanian yang luas dan menjadi petani hebat seperti Kakek. Aku bangga ketika kini aku mendapatkan semua hal itu. Kemudian aku pun menemukan seorang sahabat yang begitu baik dan selalu berada di sampingku apapun keadaanku. Sahabat itu bernama Gray.

Aku mencoba menatap Gray disela-sela permainan kami. Aku yakin pria itu juga merasakan hal yang sama.

Namun mendadak kesedihan muncul. Kesedihan yang tidak diharapkan kedatangannya. Nada-nada yang terdengar begitu memilukan. Nada yang mengingatkanku akan kematian ibuku yang berakibat pada penyalahan diri sendiri dan orang lain. Membuatku kehilangan sosok seorang ayah. Membuatku mengalami hilangnya ingatan.

Perlahan, kebahagiaan menampakkan jati dirinya lagi. Tetapi kali ini tampak berbeda, meski tak begitu terlihat. Aku ingat, aku mengulang semuanya dari awal, setelah hilang ingatan itu. Semua tampak baik-baik saja hingga aku mengemas seluruh barangku dan pindah ke kota ini.

Kesedihan demi kesedihan kembali muncul. Ingatan-ingatan itu mulai kembali. Dan ketika telah kembali sepenuhnya, aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Kembali menyalahkan diri sendiri. Kembali menyalahkan orang lain yang tak mengerti apa-apa. Namun Gray ada di sisiku. Ia ada di sisiku. Ketika aku menyadarinya, suatu perasaan bahagia muncul dari lubuk hatiku. Ialah cinta.

Pada movement berikutnya, kesedihan kembali merajalela hidupku. Cinta itu tak dapat bertahan lama, ia dirusak oleh sebuah kenyataan yang menjelma menjadi suatu sandiwara. Sandiwara tak kasat mata, bahkan aku tak menyadarinya bila Ann tidak kelepasan bicara saat itu. Mengingat itu membuat hatiku semakin perih. Pada kenyataannya, aku masih belum bisa beranjak ke movement terakhir. Kehidupanku masih menetap di sini.

Tapi, aku ingin berharap lebih. Aku merindukan kebahagiaan.

Movement terakhir ini aku mengandalkan kekuatan imajinasiku. Aku yang bahagia karena dapat berdamai dengan masa lalu. Aku yang bahagia karena Mary menerimaku dan kembali menjadi sahabatku. Aku yang bahagia karena dapat memaafkan Gray dan menjadikannya bagian penting dalam hidupku.

Aku sempat melakukan kontak mata dengan Gray, namun tak lama karena aku segera mengalihkan pandangan ke arah partitur. Dapatkah aku bahagia?

Tentu saja. Tuhan menciptakan manusia dengan happy ending-nya masing-masing.


"Mary?"

"Ya?"

"Terima kasih."

"Untuk—?"

"Untuk segalanya. Terima kasih." Aku memeluknya. Kuharap Mary mengerti.


To Be Continued ^o^


A/N

Claire: T_T terima kasih sudah menyadarkanku

Penulis: begitu?

Claire: dan langkah apa yang harus kuambil nantinya?

Penulis: tidak tahu, itu terserahmu

Claire: -.,-

Penulis: oke, terima kasih untuk review-nya, ini balasannya:

-Ariel Wu'i = hehehe, terima kasih... Iya nih, sejak kemarin Claire nangis terus :P

Claire: hei! Kau membuatku malu *.*

Penulis: XD

-Claire Hasyibara = terima kasih, ini udah dilanjutin ^_^

-muni = wkwkwk, mereka pasangan yang manis ya ^^ semoga chap ini cukup panjang, tapi kayaknya membosankan deh *mojok* terima kasih!

-ainagihara = wkwkwk, saya ngiri sama mereka XP hehehe, terima kasih, semangat buat ai-san juga ^_^

-everdistant utopia = terima kasih ^^ mungkin alasan perubahan sikap Claire bisa ditemukan di chap ini dan kayaknya Claire kasihan juga kalau disuruh nangis terus :P oke, terima kasih sudah mengingatkan tentang kesalahan yang saya buat di chapter 13, saya sudah mengubahnya dengan format biasa. Sekali lagi terima kasih ^_^

Mohon review-nya! Terima kasih ^_^ (P.S : selamat tahun baru 2015!)