A/N
Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya tapi punya Natsume Inc., saya hanya punya cerita ini ^_^
Warning :: OOC, typo, all Claire POV, dll
Happy reading ^o^
FALL 5, year 1—Ann's Mom's Memorial
Aku berjalan tergesa-gesa menuju Inn dan ketika kakiku telah menginjak tempat itu, segera langkahku tertuju pada gadis bersurai jingga yang sedang berjaga di meja kasir.
"Ann, aku turut berduka atas kematian ibumu," kataku sembari memeluk gadis itu.
Ia terisak. "Aku masih tak percaya Ibu telah meninggalkan kami. Padahal waktu telah berjalan lima tahun." Ia tertawa getir.
Aku mengusap punggungnya, memberi kekuatan pada sahabatku ini. Tapi aku tak berkata apa-apa. Otakku beku.
"Ini semua salahku. Kalau saja aku lebih memperhatikannya, Ibu tidak akan sakit separah itu. Paling tidak aku dapat membawa Ibu ke klinik dan penyakitnya dapat ditangani lebih dini. Kalau saja aku tidak sedang berkunjung ke rumah Popuri disaat Ibu sedang dalam masa kritis—saat itu aku tidak tahu mengapa begitu bodohnya aku meninggalkan Ibu—aku yakin Ibu pasti menyunggingkan senyum lebih lebar pada napas terakhirnya. Aku yang paling bersalah, Claire!" isakannya semakin keras, menggema di seluruh sudut Inn.
Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi, Ann. Semuanya sudah digariskan seperti itu, dan kematian ibumu bukan salah siapa-siapa. Jangan pernah mengelak takdir, karena beliau pasti sedih bila melihatmu seperti ini," kalimat demi kalimat itu meluncur lancar dari bibirku. Aku terkaget sendiri. Jelas sekali aku sudah menjiplak kalimat Gray waktu itu. "Trust me, I really know that feel."
Selama beberapa saat aku merasakan tubuh Ann membeku. Gadis itu berkata lirih, "Terima kasih, Claire, kau sungguh menyadarkanku. Aku harus bisa merelakan kepergian Ibu tanpa menyalahkan diri sendiri lagi."
Aku mengangguk.
Fall 9, year 1—Harvest Festival
"Aku ke sini sekadar mengingatkan, pukul sepuluh nanti akan ada Harvest Festival dan kita akan memasak sup ikan. Jadi, bawalah bahan makanan yang sekiranya dapat dimakan dan cocok." Kemudian Mayor mendekat, berbisik padaku, "Jangan seperti Karen."
"Ada apa dengannya?" tanyaku dan memasang raut wajah bingung.
Mayor Thomas terkikik dan kembali berbisik, "Ia tidak pernah membawa bahan makanan yang cocok dengan menu yang diangkat. Parahnya, ia pernah menaruh poisonous mushroom dalam masakan."
Tawaku meledak. Pantas saja gadis itu nyaris tidak disukai oleh semua orang.
Fall 13—Festival at Mother's Hill
"Hei, bagaimana bila kita mengadakan acara kecil-kecilan pada hari itu?" aku mengajukan ide.
Ann menggeleng. "Sehebat-hebatnya acara itu, aku tak akan mengabulkannya."
Mendengar jawaban itu sontak membuatku terperanjat. "Mengapa?"
"Karena itu adalah momen paling spesial dimana kita menatap penuhnya bulan dengan cinta kita masing-masing." Mata gadis itu menerawang.
Sialan.
Disaat semua pasangan berada di Mother's Hill, justru aku terdampar di pantai, duduk di ujung dermaga layaknya malam-malam sebelumnya. Aku masih dapat melihat full moon, meski view-nya tidak terlalu bagus bila dibandingkan dengan Mother's Hill.
Sebenarnya aku kesepian, namun aku tak berharap Cliff datang menemaniku seperti biasanya karena ia sangat ingin bermesraan dengan Ann di 'momen spesial' seperti ini.
Huh. Pasangan itu membuatku iri saja.
"Sudah kuduga kau ada di sini," suara berat itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke belakang dan menatap wajahnya.
Tampan sekali, apa lagi ketika disiram cahaya bulan.
Aku memalingkan pandangan. Pipiku memanas.
Tunggu. Dari mana ia tahu aku berada di sini? Oh, aku yakin Cliff yang membocorkannya.
Ia duduk di sebelahku. Menatap perairan.
"Sudah berapa lama kau seperti ini bersama Cliff?" ia bertanya.
Aku mengikuti kegiatannya, memandangi laut di hadapanku. "Sekitar dua bulan. Mungkin lebih. Ada apa?" aku membalikkan pertanyaan padanya.
"Apa yang biasanya kau bicarakan dengannya?" Ia tidak menghiraukan pertanyaanku. Oke, aku kesal.
"Hal penting, juga yang tidak." Aku mengangkat bahu.
"Hal-hal seperti apakah itu?"
Aku mengerutkan kening. "Mengapa kau—" aku memutus kalimatku sendiri karena mendadak tebersit suatu ide. "Yah, kegiatan yang itu-itu saja, teman-teman yang seru, segala jenis percintaan di kota ini," aku menggumam. "Kadang kami juga saling berbagi perasaan," lanjutku.
"Berbagi perasaan? Apa maksudmu?" Aku mendeteksi ada nada tak senang dalam suaranya. Ideku berjalan dengan baik.
"Mm... Seperti menceritakan perasaan masing-masing, lalu saling memberi semangat. Kegiatan seperti itulah."
Terjadi jeda sejenak sebelum ia melanjutkan 'interogasi' ini, "Kau pernah menceritakan siapa yang kau sukai pada pria itu?"
Aku menyeringai. "Tentu, karena ia melakukan hal yang sama."
"Memangnya siapa yang kau sukai?" tanyanya dengan nada tak sabar.
"Jika aku berkata itu bukan urusanmu, bagaimana?" aku bertanya balik.
Ia mendengus. Aku tertawa dalam hati. Rasakan! Siapa yang menyuruh melakukan sandiwara konyol itu?
Aku kembali melanjutkan ide itu dengan berkata, "Sudah membalas cinta Mary?"
Detik itu juga ia menoleh ke arahku dan menyipitkan mata, tanda tak suka dengan pertanyaan macam itu. Aku meneruskan, "Kuharap begitu. Karena aku juga ingin jatuh cinta pada seorang pria dan berharap cintaku dibalas, seperti Mary."
"Siapakah pria itu?"
Aku mengedikkan bahu. "Sudah kubilang itu bukan urusanmu, 'kan?" Aku melenggang pergi.
Sejatinya aku tak perlu melakukan itu. Aku tahu cintaku pasti terbalas. Sebuah senyum menghiasi wajahku ketika aku meninggalkan pantai.
Fall 18, year 1—Fall Horse Race
"Cliff, ternyata kau benar-benar tidak keberatan membantu kami pada event ini. Aku menduga Ann telah memberikan rayuan maut padamu." Aku tersenyum geli.
Pria itu tertawa malu. "Ya, begitulah. Aku juga jatuh kasihan pada Gray yang selama ini selalu bekerja keras sendirian."
Hah, pria itu lagi? "Tidak juga. Kai membantunya selama musim panas." Tiba-tiba kejadian di pantai bersama Gray terlintas dalam kepalaku. "Kau yang memberitahu Gray tentang pertemuan kita di pantai setiap malam, 'kan?"
"Bisa dibilang begitu. Itu semua bocor karena game aneh Kai. Maafkan aku," ia berkata dengan penuh penyesalan.
"Game?"
"Kapan-kapan aku akan menceritakannya, tapi tidak sekarang." Cliff menunjuk kursi-kursi yang harus ditata.
Aku terkekeh. "Perlu bantuan?"
"Bila kau tidak keberatan." Kami berdua tersenyum.
Kemudian aku melayangkan pandanganku pada suatu sudut di Rose Square. Ia ada di sana. Menatap kami dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
Ideku masih berjalan mulus.
Fall 21, year 1—Sheep Festival
"Melihat domba-domba sehat selalu membuatku bersemangat."
Jawaban Kakek Barley nyaris sama dengan jawabannya ketika aku mengonfirmasi mengenai Cow Festival musim kemarin. Aku tersenyum sopan padanya.
"Baiklah. Datanglah dua jam sebelum acara, akan ada briefing singkat." Ini juga kalimat yang sama yang aku ucapkan.
Aku melangkah pergi dan Gray mengikutiku. "Nyaris sama, bukan?" tanyaku miris.
Pria itu mengangguk setuju. "Bagaimana jika aku melakukan hal yang sama kali ini, tapi aku akan lebih mendekatkan wajahku," ujarnya sambil tersenyum jail.
Cih! Melakukan penyerangan, eh? "Boleh saja. Asal kau tidak menyakiti gadis yang menyukai seorang pria ini."
Ia terperangah. "Huh. Siapa pria itu? Akan kuhajar jika aku bertemu dengannya," sahutnya geram.
Aku tertawa kecil. "Apakah ia telah melakukan kesalahan?"
"Tidak." Ia berjalan lesu meninggalkanku.
Mengingat itu semua membuatku tertawa dalam hati. Hajar saja diri sendiri, batinku.
Fall 30, year 1—Pumpkin Festival
"Halo, Kak!"
Cokelat pertama kuserahkan pada May.
"Kak, bagi cokelatnya!"
Cokelat kedua kuberikan pada Stu.
"Kak, aku menginginkan cokelat!"
Cokelat ketiga—
Tunggu. "Mengapa kau ada di sini, Popuri?"
"Sudah kubilang aku menginginkan cokelat."
"Apakah kau seorang anak kecil?"
"Tidak juga. Aku ingin berlaku seperti Stu dan May. Sebuah keuntungan dapat berdiri di depan pintu-pintu rumah dan mendapatkan cokelat hari ini."
"Baiklah, terserahmu." Aku menyerahkan cokelat ketiga pada Popuri.
Winter 2, year 1—Thomas' Winter Request
"Hai, Claire," sapa Mayor tepat setelah aku membuka pintu.
"Mayor, ada yang bisa aku bantu?"
Mayor mengangguk. "Aku sedang membutuhkan black grass untuk kutukarkan pada walikota di desa sebelah. Bisakah kau membantuku menemukan benda itu?" pintanya.
Kebetulan sekali aku menemukan beberapa black grass kemarin dan sekarang berada di dalam ranselku. Aku membukanya dan mengambil salah satunya. "Ini. Apa masih ada lagi?"
"Kau sudah memilikinya? Syukurlah. Kukira aku harus menunggumu hingga jam tujuh malam. Kau tahu, menunggu itu membosankan," Mayor berkata sembari menerima benda itu.
Aku tergelak.
Winter 14, year 1—Valentine's Day
Acara dansa akan segera dimulai.
Ya, pada akhirnya acara dansa diadakan pada hari ini. Sungguh, aku merutuk sepanjang hari ini karena setengah yakin bahwa tidak ada yang ingin berdansa denganku. Semua memiliki pasangan masing-masing, kecuali Popuri, Mary, dan aku. Tapi kedua gadis itu tampak menikmati acara ini.
Aku jengkel.
Namun sejak sore tadi, aku tak melihatnya berada di Inn. Ann berkata bahwa pria itu meninggalkan Inn dengan setelan jas—dresscode para pria untuk pesta dansa ini—beberapa menit sebelum aku berada di Inn. Baiklah, ternyata berdandan selama berjam-jam sendiri dan menghasilkan makeup yang alami, menata rambut pirang ini sedemikian rupa, serta mengenakan long dress tanpa lengan berwarna biru berakhir sia-sia. Aku tak dapat—atau belum?—membuat pria itu terpesona dengan penampilanku.
Aku semakin jengkel.
Aku sadar telah berlaku keterlaluan padanya. Jujur, aku menyesal. Maka dari itu aku berniat menyusulnya dan meminta maaf.
Setelah meninggalkan ingar-bingar di dalam Inn, aku bingung sendiri. Kira-kira di mana pria itu berada saat ini? Sejenak aku berpikir keras. Tentu saja tempat itu.
Kakiku mengambil langkah panjang menuju pantai. Setelah sampai, aku menangkap sebuah siluet berada di ujung dermaga. Berdiri membelakangiku. Pasti dirinya.
Aku berjalan ke arahnya. Menahan gejolak rindu di hatiku.
"Ada seorang gadis kecil menangis di depan rumah barunya. Seorang anak laki-laki menghampirinya dan menghiburnya. Mereka bermain bersama dan terbentuklah sebuah tali persahabatan di antara mereka." Langkahku terhenti seketika. Pada siapa ia bercerita? Padaku?
"Tapi semua itu berjalan terlalu singkat. Kematian ibu dari gadis kecil itu membuat sang gadis menjauhi anak laki-laki itu. Tidak lama setelah itu, anak laki-laki itu mendapat kabar bahwa gadis kecilnya tidak lagi tinggal di samping rumahnya. Tentu saja ia kecewa, apalagi karena suatu perasaan mulai tumbuh dalam hatinya." Aku menatap punggungnya. Apa yang ia ceritakan?
"Sepuluh tahun kemudian, kedatangan gadis kecil itu begitu mengagetkan sang anak laki-laki. Semuanya telah berubah. Anak laki-laki itu telah tumbuh dewasa, begitu juga gadis kecil itu yang semakin cantik dan matang di matanya. Belum cukup ia dikejutkan dengan kenyataan itu, ia dikejutkan pula bahwa sang gadis telah kehilangan ingatannya." Apa aku salah atau pria itu memang menceritakan kisah tentang kami?
Aku mendapati ia menghela napas. "Pria itu berusaha untuk tidak menghiraukan sang gadis namun perasaan yang telah ternanam sepuluh tahun kembali bersemi. Ia tidak punya pilihan selain menuruti perasaan itu. Sayangnya sang gadis selalu bersikap dingin padanya. Namun semuanya berubah ketika ingatan sang gadis kembali." Jujur, aku kagum padanya. Bahasa yang ia gunakan puitis sekali.
"Semuanya kembali persis seperti sepuluh tahun yang lalu. Tapi lagi-lagi itu berjalan terlampau singkat. Sang gadis mulai menjauhinya, tidak menghiraukannya meski ia telah memanggil nama sang gadis berkali-kali. Hal itu semakin parah ketika akhirnya gadis itu mengetahui bahwa pria itu pura-pura berpacaran dengan gadis yang mencintainya." Ia memutar badannya dan langsung menatap kedua bola mataku. Aku berusaha keras untuk balas menatapnya.
"Tak lama setelah itu, sang gadis mendeklarasikan dirinya yang telah menyukai seorang pria di depan sang pria. Hati pria itu sakit sekali. Sekian lama perasaannya tumbuh, sekian lama itu pula perasaannya tak pernah terbalas. Justru sang gadis semakin gencar mengatakan kalimat yang senada. Tidak sadarkah gadis itu bahwa ia telah menyakiti hati sang pria begitu dalam? Kira-kira, apa yang harus dilakukan sang pria?" Ceritanya berakhir dengan sebuah pertanyaan.
Aku mengulum senyum. "Yang tidak pria itu sadari, sang gadis tidak pernah mengucapkan 'pria lain' atau semacamnya dalam deklarasinya. Gadis itu selalu mengatakan bahwa ia telah menyukai seorang pria, yang berarti pria yang dimaksud termasuk sang pria itu."
Iris matanya melebar, mungkin kaget dengan apa yang kukatakan. Aku meneruskan, "Juga yang tidak pernah pria itu tahu, gadis itu memiliki perasaan yang sama pada sang pria. Gadis itu heran sendiri. Sang pria selalu sukses membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Sebelum hilang ingatan, saat hilang ingatan, dan ketika ingatan itu kembali, gadis itu selalu mencintai pria yang sama."
Aku mengambil satu langkah ke depan. Ia juga melakukan hal yang sama. "Gadis itu menyesal telah mengatakan hal seperti itu pada sang pria, meski ia tak bermaksud menyakiti pria itu. Kini yang dapat gadis itu lakukan adalah menyusul sang pria ke pantai dan meminta maaf." Aku menunduk dalam-dalam seraya berkata, "Maafkan aku."
Ketika aku menegakkan badanku kembali, mendadak ia memelukku. Aku balas memeluknya. "Tidakkah sang pria tahu bila gadis itu begitu merindukan pria yang tengah memeluknya ini?" bisikku tepat di telinganya.
Ia melepas pelukannya, tetapi tangannya masih bersandar di bahuku. "Aku memaafkanmu, tapi segala kesalahan pasti ada konsekuensinya, bukan?"
"Apa hukuman yang harus kutanggung?"
"Ini hukumannya." Ia mencondongkan tubuhnya, mengecup bibirku begitu saja.
Jelas saja aku tersentak, tetapi perlahan aku menikmati dingin bibirnya yang menghangat di bibirku. Aku memejamkan sepasang mataku. Saat ini, darah yang terselip di bilik jantungku terasa ingin meledak. Aku tak percaya, happy ending yang kuterima ternyata begitu indah, mampu menghapus semua kesedihan selama ini.
"Strawberry flavour," ucapnya ketika ia melepaskan bibirnya dariku.
Aku menyentuh bibirku dan memandang pria di hadapanku sedikit kesal. "Kau menghapus lipgloss-nya! Tega sekali."
"Biar saja." Ia menjulurkan lidah.
Aku memanyunkan bibir dan berjalan menuju ujung dermaga. Oke, aku memang tak pernah bosan dengan pemandangan seperti ini, laut jernih berwarna biru yang dihiasi oleh pantulan cahaya bulan. Namun harus kuakui, pria di belakangku jauh lebih menarik.
Ia memeluk pinggangku dari belakang. Aroma maskulin yang terkuar dari tubuhnya membuatku terbius tidak sadar.
"Tetap seperti ini," pintanya kepadaku sambil meletakkan dagu pada puncak kepalaku.
Napasku tercekat. "Gray? Apa kau masih belum puas dengan yang tadi?"
Aku merasakan tawa kecilnya.
"Aku mencintaimu," kami mengucapkan frasa yang sama di waktu yang hampir sama pula.
Tangan Gray beralih ke pundakku. Dengan sekali gerak, ia berhasil memutar tubuhku, tepat menghadapnya.
Dengan gerakan cepat, ia menyentuhkan bibirnya padaku. Lagi? Astaga, ia begitu mencintaiku, rupanya. Aku membalas ciumannya.
Tidak ada lagi di antara kami yang kesepian. Kini semuanya telah menemukan bahu untuk bersandar, terutama tempat hati kami berlabuh.
To Be Continued ^o^
A/N
Penulis: mm... Manisnya pasangan satu ini ^^
Claire dan Gray: mau kulempar, hah? *pipi bersemu merah*
Penulis: ha ha ha! Kalian lucu sekali... Oke, terima kasih untuk review-nya, ini balasannya:
-Ariel Wu'i = hehehe... Perasaan Mary akan diceritakan di chapter berikutnya ^^ terima kasih!
-ainagihara = ya, suka banget :) tapi chapter itu aku mengandalkan internet XD oke, terima kasih ^_^
Mohon review-nya! Terima kasih ^_^
