A/N
Disclaimer :: Harvest Moon bukan punya saya tapi punya Natsume Inc., saya hanya punya cerita ini ^_^
Warning :: OOC, typo, all normal POV, dll
Happy reading ^o^
WINTER 14, year 1
"Hei, kalian! Ini tempat umum."
Mereka berdua terkejut bukan main dan dengan tergesa-gesa menghentikan kegiatan mereka, lalu memandang teman-teman mereka sambil menahan wajah yang semakin memerah.
"Dilarang kissing di tempat umum," sahut Ann pura-pura kesal, kemudian tersenyum geli.
"Claire, sepertinya semua menjadi happy ending, ya," berganti suara Elli.
Tiba-tiba lengan Gray merengkuh Claire dari belakang.
"Ah, kalian mesra sekali!" teriak Popuri histeris.
"Lepaskan, Gray!" Claire berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Gray. Namun apa daya, kekuatannya jauh lebih sedikit dibandingkan kekuatan pria itu.
"Bagaimana jika kita merayakannya? Berakhirnya cinta yang rumit dan tidak masuk akal itu dan berbuah sesuatu yang manis," Karen angkat bicara. Claire menoleh pada gadis itu dan senyum terlukis di wajahnya. Akhirnya gadis itu bersedia membaur dengan mereka semua.
Sebuah suara kapal mengagetkan mereka semua. Secara serempak, mereka berjalan mundur dan memberi jalan bagi penumpang yang akan menginjakkan kaki di kota ini.
Sesosok pria turun dari kapal itu. Pria bersurai coklat dengan topi biru yang dipakai terbalik serta pakaian casual-nya memberi kesan cute di mata para gadis. Sejenak pria itu menyelisik mereka satu per satu dan pandangannya jatuh pada gadis yang tengah mengenakan long dress biru tanpa lengan. Pria itu tersenyum gembira dan sekejap saja pria itu memeluk sang gadis.
"Eh?!" semuanya terperanjat. Begitu juga dengan sang gadis.
"Claire, aku sangat merindukanmu," ucap pria itu.
Gadis itu makin terkejut lagi. "Si-siapa kau?" tanyanya terbata.
Sang pria melepas pelukannya. Memandang sang gadis setengah kecewa. "Kau tidak mengingatku? Padahal aku langsung menyadarimu ketika sampai di sini."
Otak Claire berpikir keras. Siapa pria yang tiba-tiba memeluknya dan berada di hadapannya saat ini? Hei, ternyata wajah ini tidak asing. Oh, gadis itu mengingatnya.
"Kau anak sulung dari Paman? Jack?"
Jack tersenyum senang. "Baguslah kalau kau ingat. Kukira kau kehilangan ingatanmu lagi." Ia tertawa.
Pernyataan itu membuat semuanya mendesah lega. Apalagi Gray yang sedari tadi menatap Jack penuh kebencian.
Claire menatap teman-temannya. "Perkenalkan, ini sepupuku, Jack. Jack, ini teman-temanku di Mineral Town."
Jack menebarkan senyum manisnya. Bisik-bisik dari para gadis memekakkan telinga pria-pria di sekitarnya.
"Ia cute sekali!"
"Tak kusangka Claire memiliki sepupu seperti itu."
"Siapa tadi namanya? Jack?"
"Aku berharap bisa menjadi kekasihnya."
Tentu saja para pria sebal, namun mereka tak memperlihatkannya. Mereka hanya menghampiri Gray dan berkata, "Gray, ayo kita pergi dari sini."
Gray yang juga sebal dengan kelakuan genit para gadis hanya mengangguk.
Saat gadis-gadis menyadari mereka telah ditinggal, mereka berseru, "Jangan tinggalkan kami!" Dan berlari menyusul para pria.
"Mm... Claire?" rupanya Jack dan Claire masih tetap pada posisi mereka.
"Ya?"
Jack terlihat malu-malu. "Siapa gadis bersurai hitam dan berkacamata itu?"
"Oh. Mary," jawab Claire singkat. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah sepupunya. "Ada apa?"
"Tidak," Jack menjawab seraya meninggalkan Claire. Gadis itu mendengar siulan gembira dari Jack.
Mata gadis itu menyipit, kemudian detik selanjutnya terbelalak. Ia segera menyusul sepupunya. "Jack!"
"Hm?"
"Kau menyukai— Mary?" tanya gadis itu. Setengah berharap jawaban yang ia terima adalah 'ya'.
Jack tersenyum, namun tidak menjawab. Pria itu kembali meninggalkan Claire.
Winter 15, year 1
"Mary?" panggil Claire ketika memasuki Inn. Semua pandangan tertuju padanya.
"Ya?" gadis yang dipanggil menjawab.
Claire berpikir sebentar. "Dapat salam dari sepupuku."
Semua gadis di dalam Inn berteriak histeris. Gray yang notabene di sekitar mereka menutup telinganya. Mary mengulum senyum dan pipinya merona.
Winter 17, year 1
"Kuharap mereka bahagia," desah Claire. Gray yang tak mengerti maksud kalimat gadis itu hanya memandang sang gadis dengan kening berkerut. "Jack dan Mary."
"Hm." Gray mengangguk setuju.
"Oh ya, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal hatiku," ucap Claire dan langkahnya terhenti.
Gray ikut menghentikan langkah. "Apa?"
Gadis di hadapannya tampak berpikir sejenak. "Mengapa kau bersedia menjalani sandiwara itu?" tanyanya. "Tak perlulah aku menjelaskannya lagi," ujarnya cepat.
Gray semakin mengerutkan keningnya. "Aku tidak ingin membahasnya."
"Oh ayolah. Aku tidak akan marah. Sungguh." Claire mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'V'.
Pria itu menghela napas perlahan. "Jadi begini ceritanya..."
"Gray, apa saja yang kau lakukan bersama Claire tadi?" tanya Mary tak sabar.
Yang ditanya hanya mengangkat bahu. "Tidak terlalu penting."
"Aku tidak akan marah pada siapapun," terang gadis itu.
Sebenarnya Gray masih ragu. Namun bola mata gadis di hadapannya memancarkan rasa ingin tahu yang tinggi, membulatkan tekadnya untuk bercerita. Ia yakin gadis itu dapat dipercaya.
Semuanya ia ceritakan. Mengenai masa lalu Claire dan Gray, kematian ibu dari Claire, kebencian Claire pada ayahnya, dan kejadian beberapa jam yang lalu. Juga mengenai perasaannya.
Setelah segala hal telah terungkap, Mary menunduk. "Padahal aku mencintaimu," suara Mary lebih mirip embusan angin.
Tapi telinga Gray menangkapnya dan membuatnya tersentak. "Maaf."
Mary mengembuskan napas. "Tak apa. Selama kau bahagia, mengapa aku tidak?" Terdapat jeda sejenak. "Aku ingin membantu kalian," ucapnya tak terbantahkan.
"Eh?"
"Aku tahu kalian berdua saling menyukai, namun tidak ada yang berani mengambil langkah. Aku ingin membantumu untuk mendapatkan Claire." Gray memasang raut wajah bingung. Tetapi Mary masih meneruskan, "Bagaimana dengan melakukan sandiwara? Aku menjadi kekasih 'pura-pura'mu. Dengan begitu Claire akan cemburu dan— jadilah pasangan kekasih paling bahagia di Mineral Town!" gadis itu berseru gembira, namun Gray dapat menangkap sorot mata terluka pada gadis itu.
"Itu tidak adil bagimu," pria itu merasa tidak enak.
Mary menggeleng-geleng. "Tidak. Tidak. Sekarang peluk aku."
"Hah?" jelas saja Gray terkejut dengan permintaan Mary yang tiba-tiba.
Gadis itu berdecak kesal. "Bukankah kita sudah menjadi pasangan kekasih, meski hanya pura-pura? Aku yakin Claire akan ke sini beberapa saat lagi, jadi mengapa tidak kita mulai saja sandiwaranya?"
Ragu-ragu Gray menatap bola mata Mary. Masih ada sorot mata itu. "Kau yang tersakiti di sini."
"Sudah kubilang jangan pedulikan aku. Barangkali aku mendapatkan kekasih setelah kalian berpacaran sungguhan." Mendadak Mary maju selangkah dan memeluk Gray. Pria itu terbeliak. "Bayangkan aku ini Claire. Peluklah aku."
Mary terluka. Jelas terluka. Tapi gadis itu berusaha menyembunyikannya. Yang ia pentingkan sekarang adalah kebahagiaan pria yang dicintainya dan sahabat yang disayanginya. Bila ia merusak kebahagiaan keduanya, bukankah ia bertindak terlalu egois? Gadis itu mempererat pelukannya, menikmati momen seperti ini untuk pertama dan terakhir kalinya.
Gray mencoba memeluk Mary, namun tak berjalan lama. "Aku tak sanggup. Maafkan aku telah begitu menyakitimu."
"Geez, kau ini susah dibilangi, rupanya. Sebentar lagi Claire membuka pintu kamar ini, jadi bersikaplah layaknya aku ini 'kekasih'mu."
"Tapi—?"
"Diamlah."
Mereka mendengar dehaman keras berasal dari arah pintu. Keduanya terkejut dan Mary melepas pelukannya.
"Ah, maaf bila aku mengganggu. Lanjutkan saja. Tapi Mary, kau dicari oleh teman-teman di bawah. Kau mau membuat mereka menunggumu?" Claire, orang yang berdeham keras, angkat bicara.
Mary tersenyum malu, sedangkan Gray berekspresi datar seperti biasa.
"Thanks, Gray," Mary memandang Gray penuh arti dan berucap pelan, lalu berjalan ke arah Claire.
Setelah pintu ditutup, Gray merenung. Pria itu berharap sandiwara itu berhasil. Ia juga berharap Mary dapat menemukan penggantinya secepat mungkin.
"Mary gadis yang baik. Ia begitu mementingkan kebahagiaan kita."
"Ya."
"Pada akhirnya keegoisan terkalahkan oleh tali persahabatan. Aku hanya berharap sepupuku itu dapat membahagiakan Mary."
"Setuju."
Fin.
A/N
Yey! Akhirnya fanfic ini selesai juga :D #celebration dan ya, ini balasan review-nya:
-Claire Hasyibara = terima kasih! Ya, ini lanjutannya sekaligus akhirnya ^^
Terima kasih banyak buat yang udah meluangkan waktu buat baca fic ini dari awal hingga akhir, saya benar" berterima kasih! Double terima kasih buat kalian yang bersedia meluangkan waktunya lebih banyak untuk me-review, mengkritik, dan memberi saran yang sangaaat berguna bagi kemajuan fic ini ^_^
Sampai jumpa di fic" yang lain! Akhir kata: semangat buat kita semua :)
