HOLAA MINNA SAAAAN NEKO CHAN BALIK LAGII *ditabok* oh oke gomen ne minna san baru bisa update LP chapter 2! sibuk sih hehehehe *teheee*
oke neko chan mulai yaa :3
Disclaimer : Vocaloid bukan punya neko-chan
WARNING!
Neko-chan tidak bertanggung jawab apabila readers semua mual, muntah, de el el setelah membaca ini fanfic
Gomen ne apabila:
Typo, udah biasa, kesamaan ide, alur kecepatan, dan kesalahan lainnya yang neko-chan tidak sengaja.
?'s POV
Hari sudah larut malam. Malam ini langit tampak cerah tanpa awan, dihiasi gemerlap bintang dan sinar bulan purnama, tapi tidak dengan hatiku yang hitam, terpenuhi rasa balas dendam, aku kehilangan kontrol. Aku marah dengan sikap Kaito tadi. Berani-beraninya dia memegang tangan Rin! RIN ITU PUNYAKU! Tidak ada yang boleh mengambilnya! Lihat saja Kaito!
Aku berjalan kerumah si Kaito brengsek itu. Didepan rumah yang orang yang tak mau lagi kusebut namanya itu, kupanjat jendela kamarnya dan menyusup pelan-pelan. Ya, tengah malam, mereka sudah tertidur. Pisau disaku kananku sudah kugenggam erat. Ya, aku berniat membunuh dia, serta keluarganya. Sadis bukan? Benar benar sadis. Kalau perlu satu keluarga besarnya malah.
Tap... Tap... Tap...
Sudah 3 langkah aku mendekati dia, pisau kuacungkan, aku memang akan membunuhnya. HARUS!
3cm, 2cm, 1 cm tepat didepan wajahnya dan..
"AAAA! APA YANG KAU LAKUKAN MIKUO!?" Dia berteriak, membuatku sedikit was-was akan terbangunnya anggota keluarga yang lain. Dia banci. Hahaha, menurutku.
"Kuso! Diam kau! Atau kau akan mati dengan cepat!" Dia terlihat ketakutan, mimik mukanya berubah. Pisau yang sedari tadi kuacungkan mengkilap karena cahaya bulan yang memasuki kamarnya lewat jendela yang terkuak lebar. Terkuak lebar karena aku baru saja masuk melewatinya.
"Ap-a-apa yang kau lakukan Mikuo?" tanyanya lagi sembari memegang ujung fuutonnya, setengah berteriak, setengah berbisik, tergagap karena terlalu takut. Dia lucu. Menggelikan sekaligus menjijikkan.
"Hah? Apa yang ku lakukan? Masih bertanya? Hahaha! Tentu saja aku akan membunuhmu tuan kepala eskrim bodoh!" teriakku dengan mengecilkan 1 oktaf suaraku dari sebelumnya. Keras mengejek, menyiutkan mentalnya yang sok berani itu.
"Ta-tap-tapi, kenapa kau melakukan ini?" dengan bodohnya dia bertanya.
"Heh! Dasar bodoh! Kau tidak tau kesalahan besarmu hah?!" bentakku lagi.
"Ti-tid- " kalimatnya kupotong.
"Rin! Rin itu punyaku! PUNYAKU! Bukan punyamu! BUKAN PUNYAMU!" kubentak dia sekali lagi sambil menunjuk dadanya. Lalu mengasah pisau yang tajam itu ke dadanya lalu beranjak menuju wajah dan telinganya. Menggesek, memberikan kesan lain, ketakutan yang teramat dalam. Hanya baginya.
"Kau sudah mengambil Rin ku! Jadi akan kubunuh kau agar kau tak mengganggu hidupku lagi! Hahahaa! Bukan hanya kau saja! Keluargamu juga! Sadis bukan?" aku tertawa seperti seorang psikopat. Entahlah, aku sudah hitam dengan balas dendam yang menyesaki.
"Tap-tapi Mikuo... Argh! Mikuo!" erangnya kesakitan, karena aku baru saja menusuk pisauku tepat di dada kirinya, merobek-robek dari dalam kulitnya, tepat saat jantungnya berhenti berdetak. Dia mati dengan mata terbuka, aku tertawa puas. Tamatlah riwayatmu, Kaito.
"Kaito yang malang, CIH!" sambil meludahinya.
CRAAT! Darahnya muncrat kemana-mana, mengalir menghiasi fuuton putihnya.
CASH! CASH! CLEB! CASH! JLEEEB! SURR..
Kutusuk-tusuk mukanya, badannya, dan bagian lain. Memotong tangannya, bahkan mengiris-iris jarinya. Menusuk matanya, menguak keluar bola matanya, dan membiarkan ia bergelinding sementara waktu sebelum aku menginjaknya hingga kempis. Merobek perutnya, menarik paksa ususnya keluar, lalu mengalungkannya di leherku, dan kemudian menarik senyum lebar yang kuukir dengan pisauku yang merah.
"Hei, tersenyumlah! Apa kau senang?" tanyaku tersenyum, lalu kembali tertawa. "Hei! Ini menyenangkan juga!"
Jreeet! Kutarik paksa senyum lewat celah mulut terbukanya. Sekarang dia tersenyum dengan mata kosong dan organ tubuh tak lengkap, kau tahu apa yang kulakukan bukan? Dan sekarang jasadnya tidak terbentuk.
"Oyasumi Kaito –kun" bisikku di telinganya yang sudah tersayat walaupun aku tau dia tidak akan mendengarnya. Dia sudah MATI bukan?
Sebentar lagi aku akan diberi julukan psikopat hanya karena seberapa besar cintaku kepada Rin.
Tap... Tap... Tap...
Suara derap langkah kaki menghiasi rumah si brengsek ini, menuju ke kamar orang tuanya, karena itu yang terdekat, maka aku kesana lebih dulu.
Krieet..
Pintu terbuka, untung saja kedua insan itu tidak terbangun.
CLEB! CLEB! CRAAT! CRASH!
Tusuk. Tusuk. Tusuk. Bunuh. Bunuh. Bunuh. Darah memuncrat kemana saja. Mereka tidak sadar, baguslah, 3 orang sudah mati, aku tak membuang jasadnya. Biarkan saja membusuk disini. Aku tidak peduli.
Tap...tap...
Suara derap kaki menghiasi rumah ini lagi, aku berjalan ke kamar adiknya, Len. Dia shota juga, tapi aku tidak akan tergugah untuk membunuhnya saja hanya karena faktor mukanya yang terbilang imut. Mirip Rin. Hanya saja dia lakii-laki. Mungkin sama saja seperti abangnya. Bodoh. Jelek. Nyali ciut. Banci. Hahahahhahaa
Ckleek!
Pintu terbuka, tidak ada siapa-siapa disana. Krasak-krusuk aku mencari anak itu, dibawah kolong tempat tidur, di kasurnya, di lemari, di meja, di kamar mandi, bahkan berbalik lagi menyusuri isi rumah dia tetap tidak ada. Tapi, setelah kulihat sebuah "benda" disana dan baru menyadari kalau anak itu...
TBC.
gomen ne minna saan... alurnya kecepatan ya ? gomen-nasai! *bungkuk* ini buatnya ngebut. lain kali pas waktu chapter 3 nya neko-chan buat bisa lebih panjang ya! untuk kali ini maafkan neko chan *bungkuk lagi*
oke neko-chan pergi dulu ya *kabur*
Paiii paiii mwaaah :*
