Our Dignity Based on This Umberella
Eru Ryu
'Cara seorang Luhan merayu berandal kecil dengan sebuah payung. Berhasilkah?'
Bagian 2
.
.
.
" kupikir kau akan marah dan memukulku. Minimal, satu tamparan cukup juga. Tapi nyatanya kau sangat penyabar."
Pujian Luhan terasa datar. Bukan rayuan, karena memang tidak bermaksud menggoda. Kali ini benar-benar tulus. Juga sedikit penasaran.
Mereka berbelok pada sebuah gang sempit setelah melewati tiang lampu jalan. Dimana susunan batu-batu heksagonal setinggi dua meter menyangga rumah-rumah dan apartemen di atasnya. Di kiri mereka adalah pondasi batu yang berbatas langsung dengan tembok beton hampir tiga meter. Sebuah pagar murah untuk melindungi rumah di dalamnya. Dan yang sebelah kanan, pondasi menyerong untuk mengalas rumah-rumah kecil yang berjajar rapi sampai ujung gang sana. Jalan setapak kecil yang nyaris tergenang, yang mereka lewati kini hanya plester semen dengan lebar tidak lebih dari satu meter. Sempit sekali. Meski lumayan untuk jalan berdua, setidaknya. Benar. Setidaknya masih bisa jalan bersama. Berdampingan. Seperti sepasang kekasih di tempat antah berantah, di sebuah koridor, begitu gelap. Pengap. Kumuh.
" bukan penyabar… hanya, kurasa kita impas." Jawaban Jongin seperti gema. Mengalun dibawah kegelapan langit di atas kepala. Juga batu-batu tersusun tinggi disamping mereka. Rasanya sedikit horror. Ditengah hujan ini, ya. Gerutuan air dari langit masih jauh dari harapan untuk berhenti. Titik-titik cair itu menggoyang kubangan. Buru-buru, cepat-cepat, jadi belasan lingkaran yang saling hilang dan muncul. Luhan sedikit menoleh, bingung.
" ya, impas. Kubilang anda cantik dan lemah, lalu menurut anda aku adalah seksi dan cantik. Kita saling menuduh bahwa yang lain adalah wanita. Saat aku mengatakan anda lemah, dengan begitu dewasa anda hanya diam. Pun, saat aku mengolok anda seperti wanita. Anda tidak marah, tapi malah membalikkan olokanku begitu saja. Maka, tidak pantas jika aku memukul anda semudah itu. Begitu yang namanya gentle, kan?" jelas Jongin, menyambut gurat heran pada wajah mulus Luhan. Pemuda cantik itu lalu mengangguk, paham. Antara geli dan kagum pada cara berpikir anak yang terlihat brandal ini.
" aku tidak menyangka kau sebijaksana ini."
Jongin tersenyum. Mengulum tawa. Tidak menjawab karena memang bukan pertanyaan. Dan, jujur saja agak aneh mendengar pujian seperti itu. Dari semua macam cara menyanjung orang, 'bijaksana' terlalu tua untuk diberikan pada anak berusia belasan macam Jongin. Jadi Jongin malah bingung, bagaimana cara menanggapinya.
Pada akhir lorong ini, setelah berjalan hati-hati melewati kubangan air, mereka menemukan jalan lain yang lebih besar. Juga pemukiman-nya terang. Jalan aspal yang hanya cukup untuk dilewati satu mobil, di kiri kanan aneka toko dan rumah berjajar. Dibangun berhimpitan. Gedung-gedung dua lantai, tanpa halaman yang berhias pot-pot bunga kecil di bawah jendela. Luhan ingat Ia pernah berbelanja di sekitar sini dua kali. Kalau tidak salah ketika Ia diminta membeli cutleries untuk restoran baru Paman Wu dan saat kemarin lusa Kim Minseok mengajaknya membeli bola kaki. Sebuah kawasan perbelanjaan yang tidak seramai Hongdae atau Myeondong, karena memang bukan murni pasar. Diantara toko-toko itu, ada juga rumah warga. Tidak banyak, dan bukan pula rumah-rumah mewah. Semacam rumah toko dan toko yang beralih fungsi jadi rumah. Tapi lumayan. Segala macam penjual ada disini. Lengkap dan terkenal murah. Luhan tidak menyangka anak itu tinggal di tempat macam ini. Benar. Bukan jenis pemuda kaya. Tapi entah mengapa, Luhan malah jadi semakin tertarik.
" hei, rumahmu sudah dekat?" tanya Luhan memastikan.
Jongin lagi-lagi tidak menjawab. Namun kemudian mereka berjalan semakin lambat, lalu berhenti di depan gedung dua lantai bercat putih dengan kusen jendelanya biru tua. Pintu lebar itu dari besi, masih berwarna perak, mungkin pintu baru. Luhan menengadah, memperhatikan keseluruhan gedung itu.
Sebuah gedung lama, terlihat dari model bangunan yang sederhana. Menjulang, terhimpit diantara toko penjual soju di kanan dan kios bunga di kiri. Tampak polos sekali dengan cat putih bersih, dikalahkan terang lampu jingga dan plakat besar warna merah milik toko soju yang menjadi tetangganya. Dibalik dua jendela kaca pada lantai dasar, tirai bunga-bunga terdiam kaku. Terlalu kaku, tidak ada angin yang sanggup menggoyangkan-nya. Pada lantai atas, ada pula sepasang jendela. Kali ini tirainya putih. Sisi kanan tertutup, sementara yang lain tersibak separuh. Pot-pot berisi tanaman kaktus berjajar rapi di depan rumah tanpa halaman dan pagar itu. Berderet memanjang di bawah jendela.
" rumahku. Jam enam pagi sampai dua belas malam. Selain dari itu kami tidak membuka pintu. Jadi kembalikan pada waktu yang telah kusebutkan. Anda mengerti?"
Jawaban Jongin telah menunjuk semuanya. Tentang dimana Luhan bisa mengembalikan barang pinjaman-nya. Tentang dimana mereka mungkin bisa bertemu lagi. Terutama dari cara yang seperti mengusir ini, tentang keinginan Jongin supaya Luhan lekas pergi. Hal ini, membuat pemuda cantik itu kecewa. Agak banyak. Apa semudah itu Ia ditolak? Apa cuma sesingkat ini saja pertemuan mereka? Setelah Luhan berbalik, mungkinkah mereka bisa saling menyapa? Luhan tidak yakin bisa melihat Jongin beberapa hari kemudian saat Ia mengembalikan payung merah muda itu, jadi… ini kesempatan terakhir?
Luhan menghela nafas. Tersenyum sedikit, canggung dan gugup.
" uhmm… pelajar, kau tahu mengapa para gadis suka meminjamkan payung atau syal pada seorang pria?"
Jongin tampak berpikir. Heran kenapa Ia harus meladeni pertanyaan aneh macam ini. Meskipun agak malas, tapi kemudian Ia menyahut, " hmm, keadaan darurat seperti situasiku. Karena hati mereka sangat baik dan murni, mungkin mereka rela berkorban dengan memberikan barang-barang mereka pada seorang pria. Apa itu sebuah hal yang penting? Kenapa aku harus tahu?" acuh saja Jongin menimpali. Sambil sekilas melirik ke atas, pada kamarnya di lantai dua yang sudah memanggil dirinya untuk segera masuk.
" bukan. Tidak juga. Mereka punya alasan yang lebih melankolis." Sanggahan Luhan terdengar kalem. Ia tersenyum kecil ketika Jongin tidak mau menjawab, hanya mengangkat alis sedikit, tanda bahwa Jongin menunggu pernyataan Luhan selanjutnya.
" para gadis berharap pria yang mereka pinjami payung ataupun syal akan datang mengembalikan barang milik mereka. Tentu, dalam cara yang lebih romantis. Semacam, basa-basi pada mulanya lalu berakhir denga kencan. Itu cara mereka untuk memulai sebuah hubungan. Persis, seperti apa yang dilakukan gadis yang meminjamkan payung ini padamu. Aku yakin sekali dia mengharap hal serupa." Jelas Luhan terang-terangan. Agak sok tahu memang, meskipun Luhan lebih senang jika disebut 'mengambil kesimpulan awam'.
Jongin mengernyit, sambil menyeringai. Lucu juga mendengar asumsi polos seperti itu. Ya, dalamnya hati seorang gadis siapa yang tahu? Mereka sering berkata bahwa mereka 'baik-baik saja' namun kemudian menangis di belakang. Ketulusan seorang wanita, tentu tidak bisa disamaratakan. Tapi, tidak salah juga pandangan semacam itu. Kebanyakan para gadis bisa saja memilih trik umum seperti ini untuk mendapatkan perhatian pria yang disukai.
" begitu? anda sering mengalami hal seperti itu, ya? Um… meskipun informasi yang anda berikan tidak terlalu mengesankan, tapi aku menerimanya dengan baik. Kurasa tidak sepenuhnya benar soal trik para gadis itu, namun setidaknya sekarang aku tahu bagaimana cara menghindari situasi seperti ini."
Ah. Jongin kelepasan bicara sesuatu.
" benar. Tiap minggu di musim panas dan dingin aku punya agenda mendatangi rumah seorang gadis untuk mengembalikan barang-barang mereka. Yang seperti ini, suatu hal yang terlalu sering kujalani. Tapi… hei, 'menghindari situasi seperti ini?' apa maksudmu dengan 'menghindari?" Seringai Luhan tertarik menggoda. Tidak bisa disangkal, Ia sedang berusaha mengarahkan pembicaraan mereka pada topik yang lebih sensitif.
" menghindari… ya, menghindari. Dikejar gadis-gadis. Anda bilang sudah sering menghadapi situasi semacam ini, kenapa bertanya lagi?"
" tentu, aku paham maksudmu, Pelajar. Namun pada dasarnya setiap manusia ingin dicintai, dikagumi dan ya… dikejar lawan jenis. Itu sangat manusiawi. Tapi kau pria, bukan? Kenapa diikuti seorang gadis jadi masalah untukmu? Dan lagi, gadis tadi cantik juga. Setidaknya ia mempunyai standar lipatan mata yang bagus. Ck ah, kurasa ini sedikit tidak normal. Kau harus punya alasan spesifik untuk membuatnya terdengar lebih wajar." Luhan menggeleng frustasi. Antara sok bingung dan menahan geli. Melihat wajah Jongin yang berubah tegang.
" ap-apa anda tidak pernah nonton drama? Kenapa Hwan Taekyung menghindari Yoo Heyi? Lalu kenapa Kim Tan menolak gadis cantik macam Rachel Yoo? Menghindari para gadis bukan sesuatu yang 'tidak normal. Lagipula, karena aku seorang getleman, aku memang tidak suka dikejar banyak gadis. Seorang kekasih saja cukup, terlalu banyak merepotkan." Luhan menyeringai, sangsi. Ia bersumpah menyadari perubahan air muka pemuda itu. Dari wajah datar tanpa perasaan hingga semburat merah muda samar-samar pada pipi coklatnya. Juga, cara bicara yang mendadak kikuk dan bola mata yang bergerak gelisah, tidak nyaman.
Ah, aku mendapatkanmu sayang.
" begitu, ya? Tapi Yoo Heyi ataupun Rachel Yoo adalah gadis ambisius. Kurasa seseorang yang memberimu payung ini bukan tipikal seperti itu. Dia cukup manis. Seperti Lee Bona. Sekalipun kau ini Choi Youngdo dan bukan Yoon Chanyoung, dia bukan gadis jahat yang pantas kau tolak mentah-mentah. Juga, sekalipun kau pria sejati, aneh rasanya jika kau menghindari perhatian seorang gadis. Apalagi kau masih muda, tidak mungkin kau sudah berkomitmen pada satu orang. Bahkan jika kau sudah punya kekasih sekalipun, 'menghindari' tetap saja tidak terdengar rasional. 'menghindari' para gadis… apa kau memang seorang gentleman, atau… kau memang tidak tertarik pada 'gadis'?"
Damn it! Luhan terlalu frontal.
Ia mengulum seringai yang bisa saja jadi tawa. Menahan diri untuk tidak bicara lebih spontan dan lebih menjurus.
" begitu… aku tidak menemukan hubungan antara apa yang anda maksudkan tentang payung para gadis dengan pertanyaan terakhir. Maka kurasa aku berhak untuk tidak menjawabnya. Jadi boleh aku masuk rumah sekarang?" jelas sekali Jongin sedang berusaha menghindar dari apa-apa yang tengah Luhan rencanakan. Kentara sekali, dari jawaban yang ketus itu bahwa Ia tidak nyaman pada bahasan mereka. Sebuah hal, yang membuat Luhan malah makin lancang.
" tentu saja ada. Kalau tidak kenapa aku tanyakan? Tentang payung para gadis… uhm, aku tidak akan sepasif itu dengan menunggu orang yang kusukai menghampiriku dengan sebuah payung. Daripada apa yang gadis-gadis itu lakukan, jika aku adalah salah satu diantara mereka, ketika aku punya payung dan melihat orang yang kusukai menunggu hujan dengan gelisah, aku akan mendatanginya dan berpayung bersama. Berjalan dengan santai, bicara, dan pada akhirnya aku tahu dimana Ia tinggal. Keuntungan ganda, lebih dekat dan bonus tahu alamat. Yang seperti itu terasa lebih masuk akal."
Jongin hanya diam pada penjelasan panjang itu. Mencerna satu-satu, kalimat yang semakin memojokkan dirinya. Pada awalnya Ia gugup, tapi kemudian Ia mengernyit, mulai berpikir. Mencocokan sesuatu. Semua itu… terlalu nyata untuk hanya jadi pengandaian.
" kau sedang menyindir apa yang tadi kita lakukan?" Jongin seketika lupa bagaimana bicara formal saat seringai geli Luhan yang Ia dapat setelah mengajukan pertanyaan itu terkembang sempurna. Membenarkan apa yang Jongin pertanyakan. Membuat Jongin yakin betul bahwa memang dialah obyek itu. Seseorang yang dimaksud Luhan.
" bukan menyindir. Hanya menjelaskan alasan mengapa aku bisa berdiri disini."
Jongin terdiam. Memikirkan banyak hal dalam kepalanya. Menghubung-hubungkan, mencari kesalahan dari kelakuan pemuda cantik itu. Ia pikir ini sebuah hal yang tulus dan sekedar rasa tanggung jawab Luhan. Namun lebih dari itu, ini modus. Sebuah rencana terselubung yang berdasar su… ka? Apa orang itu bilang dia menyukai Jongin?
" kau menyukaiku? Alasan mengapa kau disini?"
Luhan hanya tersenyum. Tidak berniat menjawab. Biar Jongin saja yang memutuskan. Toh Luhan sudah seterang ini, apa masih butuh kata 'ya'?
Pemuda yang lebih tinggi itu menyeringai. Merasa senang pada pengakuan ini. Namun memang bukan seperti senangnya seorang gadis ketika seseorang mengatakan cinta, lebih seperti…
" siapa kau berani menyukaiku? Apa kau idol? Aktor? Cheobol? Mengapa kau punya rasa percaya diri sebesar itu?"
Rasa puas. Mempermainkan hati seseorang.
Luhan mengernyit. Sebuah batu serasa menghantam kepalanya. Meluruhkan seluruh tulang, hingga Ia tidak bisa berpikir apapun. Ia kesal. Apa-apaan ini? Ia tidak seburuk itu untuk hanya menyukai seorang anak SMA biasa yang sedikittt… cantik.
Sexy.
Imut.
Dan tampan. Ya ampun. Ternyata tidak hanya sedikittt.
" namaku Luhan. Kau?" tiba-tiba, dalam gerakan cepat pemuda cantik itu berjinjit, mendekap erat tubuh tegap didepan-nya dengan tangan kiri. Mencari keseimbangan ketika bibirnya menggapai telinga kiri Jongin. Tudung jaket itu terlepas, seiring kasarnya Luhan mendekatkan bibirnya. Berbisik dalam jarak yang teramat dekat, menyalurkan getaran panas yang berhembus dari telinga, pelan-pelan sampai ke hati. Lalu ke seluruh tubuh. Hingga punggung Jongin yang sedang dipeluk sebuah tangan mungil itu menghangat, juga jatungnya berdesir ngilu. Terlalu cepat memompa darah ke otak sampai-sampai Jongin mendadak pening. Ia terdiam, kaku. Tidak bisa bergerak, bahkan bernafas. Satu helaan masih tertahan di tenggorokan. Sangat terkejut hingga lupa bagaimana caranya membuang. Tas sekolah yang sejak tadi menggantung, menekan perutnya. Membuat Jongin semakin sesak. Dari luar dan dalam.
Telinga Jongin seperti berdengung. Entah mengapa, mungkin karena syaraf disana berdenyut amat kuat. Merespons bisikan seseorang, yang terlalu dekat dan berbahaya.
" …"
" hei…"
" ugh…"
" jawab saja. Namamu."
" uhm…"
Lebih dari dua detik, Luhan menunggu. Dalam seringai puas tentu saja. Menggoda sejelas ini, tanpa adanya perlawanan. Benar sekali, Ia akan mendapatkan anak ini.
" orang-orang pikir kita sudah berciuman terlalu lama."
Mata Jongin membulat. Ia baru sadar sikap mereka sangat dekat seperti… ah, bahkan Ia malu untuk mengatakan-nya. Pemuda berkulit coklat mendorong bahu Luhan keras. Memberi jarak diantara mereka.
" aku harus tahu siapa yang aku cari saat mengembalikan payung ini." beberapa saat kemudian ketika rasa canggung itu menguap pelan-pelan, akhirnya Luhan membuka suara. Kali ini lebih percaya diri, karena Ia sudah sangat yakin bahwa memang ada sesuatu diantara mereka. Suatu hal yang manis dan menyenangkan.
" aku tahu caraku berkenalan cukup kurang ajar, tapi… boleh ku tahu namamu?"
Jongin memandang sekilas. Ada keraguan disana. Namun ketika sebuah senyum sangat tipis tersamar pada bibir tebalnya, Ia menjawab " Jongin. Kim Jongin." Lalu berbalik dari hadapan Luhan. Terlepas dari naungan payung merah muda itu dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Luhan beku. Seperti sepotong es batu dalam jus jeruk. Senyum itu, teramat tipis. Tapi, itu pun teramat manis. Ada ketulusan disana, bukan hanya seringai penuh muslihat. Ada harapan pula. Tidak tahu harapan untuk siapa dan bagaimana. Tapi bagi Luhan, ini adalah jalan yang lebar pada sebuah hubungan yang lebih akrab. Ia tidak ingin berasumsi bahwa mereka bisa menjadi ekhm, kekasih. Hubungan sebagus itu hanya dapat terjadi jika mereka telah benar-benar dekat. Jika keyakinan Luhan tentang Jongin sudah pasti, bahwa mereka sama. Tertarik, menyukai secara personal dan seksual. Yah, benar. Ini masih terlalu dini dan jauh. Menjadi teman saja sudah cukup baik.
Ketika Kim Jongin telah hilang terhalang pintu rumahnya, tidak ada berbalik sejenak dengan wajah tersipu. Jauh dari harapan konyol Luhan. Tapi tidak mengapa. Begini pun Luhan sudah puas.
Lama kemudian Ia berdiri di depan rumah itu. Berselimut rintik hujan di kiri-kanan-depan-belakang, terlindung dalam keringnya payung yang bersuara tik-tok. Begitu ramai, jadi harmoni untuk hati Luhan yang seperti orkestra musik klasik di sebuah gedung pertunjukan. Biola, piano, cello. Dengungnya megah sekali, menggetarkan jiwa. Membuatnya bahagia, termakan imajinasi.
Ia tersenyum sendiri seperti orang bodoh. Mengingat kejadian spontan yang baru tadi Ia lakukan. Ya… Luhan harus mengakui jika Ia tadi memang berlebihan. Cara merayu yang agak kurang ajar. Namun Ia hanya ingin memberi kesan intimidasi dan agresif. Semacam menunjukkan bahwa Ia serius tertarik pada Jongin tanpa meninggalkan sifat nakal. Bagi Luhan, dilihat sekilas pun Jongin bukan pemuda baik-baik dan penurut yang sangat manis serta lucu. Tipikal pembangkang, berjiwa bebas dan bengal. Perkenalan biasa tidak akan membuat Luhan menarik dimata Jongin. Meskipun tentu, Luhan percaya jika Jongin punya sisi imut dan baik dalam dirinya. Dan tugasnya adalah mencari sisi itu. Menemukan Jongin dalam semua sisinya.
Sekilas, Luhan memperhatikan dua toko yang mengapit rumah sederhana Jongin. Kedai penjual soju dan kios bunga potong. Kesibukan berarti tampak pada warung yang cahayanya remang-remang itu. Seorang pegawai sedang membersihkan meja dengan sebuah lap. Terlihat datar dan bosan. Sepertinya toko itu baru akan membuka beberapa saat lagi. Sementara kios penjual bunga sepi. Bunga-bunga yang dipajang tampak sibuk diangkut masuk. Menghindari hujan, juga karena kios akan tutup. Seorang bibi menenteng dua buah keranjang bunga aster merah yang hampir kosong.
Lagi-lagi, Luhan tersenyum sendiri. Ya, gara-gara Jongin Ia betulan jadi bodoh.
Kim Jongin. Ia seperti ditakdirkan untuk terlahir diantara dari dua tempat berbeda jenis itu. Ia seperti soju dan bunga. Meskipun bertolak belakang, namun terpadu. Sikapnya keras dan galak, tapi sungguh cantik seperti bunga. Laksana setangkup mawar yang berenang dalam gelas bir dingin. Begitu seksi, segar dan manis.
Ketika Luhan iseng mendongak pada jendela yang tirainya terbuka separuh, disana seseorang sedang bersandar pada kusen jendela. Seorang pemuda berkulit coklat yang melingkarkan handuk kuning di lehernya. Memakai singlet putih yang mengekspos lengan kokoh dan dua garis collarbone. Rambut Jongin basah, berwarna hitam dan seluruh poninya jatuh di mata kanan. Ia memandang bingung pada Luhan yang masih berdiri di depan rumahnya.
" pergi…"
Jongin membuka mulut sedikit, menggumam pelan seperti bisikan. Mengusir Luhan dengan senyum kikuk dan malu. Tanpa sadar Jongin menggosok rambut belakangnya dengan handuk, melawan gugup yang merayap dalam indra geraknya. Canggung, diperhatikan oleh pemuda cantik berpayung merah muda. Sebaris senyum tipis milik seseorang dibawah sana tergaris diantara dua pipi yang menebal begitu sipu Jongin menyapu sempurna wajah manisnya. Merona, merah muda diatas pucat beku pipi dan bibir ranum Jongin. Luhan tersenyum pada pemuda di lantai dua itu. Menelan ludah dengan sudah payah. Ya Tuhan, cantiknya.
.
.
.
End
To my beloved Apple, Ricky and Dikta.
Numpang curhat :
Terima kasih telah mereview di chap sebelumnya, di 'Makan Malam' juga. Setelah sekian lama nggak update, akhirnya bisa nongol juga, lega. Gue seneng ada yang masih inget gue, kekekeke… semoga ff gue memuaskan kalian. Terutama untuk BaekKai shipper yang gue pikir keberadaan-nya di dunia ini hanya mitos. Ternyata ada ya yang ngeship BaekKai selain gue,,, aigoo bahagianya :-D walaupun BaekKai sangat delusional dan nggak mungkin terjadi, gue tetep berharap couple ini akan semakin membahana dan menjadi salah satu couple favorit kalian,, itung-itung nemenin gue ngeship,,, well, karena chap diatas pendek dan berhubung lama nian gue nggak pernah bales review, gue pingin membalas ulasan kawan-kawan di chap 1 dan 'Makan Malam' kemarin,,,
MAKAN MALAM
Novisaputri09 : iya gue inget Novi,,, yang sering PM gue,,, gue juga seneng akhirnya bisa kembali lagi. Lu Han ya….? Um,,, jangan ditungguin aja deh,,, gue nggak yakin masih bisa ngelanjutin itu ff,,,
kaiNieris : karena ini ff setengah real life gitu kan, gue agak sungkan membuat Baek jatuh cinta kepada Jongin. Seperti yang mungkin lu tau ya, kak Taeyeon bikin gue trauma. Mungkin di ff AU akan lebih jelas gimana perasaan Baek sebenernya
jongin48 : Alhamdulillah kalo greget,,, : D
deathangel94 : gue juga suka BaekKai,,, kita sehati :-)
akasuna no akemi : udah end kok,,, okeship! Ditunggu aja BaekKai selanjutnya!
Sleeepyanna : lu BaekKai shipper? Yes! Ketemu teman seperjuangan!
Kkamjong : gue kurang tau keberadaan KaiBaek atau BaekKai di ffn, abis emang jarang banget. Nggak tahu dulu apalagi sekarang… lu juga dong bikin BaekKai,,, biar gue bisa baca ff mereka selain yang ada di disk gue,,, sedih banget gue susah cari BaekKai T_T maunya ekstrim kek gimana? Kalo Baek yang sangat seme udah gue bikin,,, tinggal nunggu di reveal
A Rin : kalo lu happy gue malah lebih happy lagi,,,
Kajja : gue udah nebak kalo 'kajja' ini pasti elu. Nggak ada orang yang kepo sama Eru kecuali elu. Dikit dari mane? ff gue selalu lebih dari 1k,,, itu nggak dikit tau,,, lebih greget? Mau gue bikinin Jongin mpreg? Kalo lu izinin gue bakal bikin,, kalo nggak ya udah nikmati aja yang ada,,, btw, rambut lu nggak kayak Kai, malah mirip Nam Taehyun,,,
ODBOTU
Novisaputri09 : well, gue tidak akan menjadikan Jongin seorang seme, jadi tenang aja selamanya dia adalah uke bagi gue,,, luhan macem uke? Ah masa? #garuk-garukkepala
Miyuk : JAN DIAKUIN SENDIRI JONGIN MILIK GUE JUGA
Cute/cutexoxo/xoxo/ chokailate : benar ini orang yang sama? makasih banget udah rajin review,,, kalo nggak salah inget dari jaman gue publish ff pertama user lu nggak pernah absen dari kotak review,,, hehehe thanks ya untuk masukan-nya. Well, ini ff juga sebenarnya memenuhi request lu yang minta supaya jangan bikin Jongin menye meskipun dia uke. Terus Alhamdulillah kalo lu beranggapan kalo alurnya natural,,, gue malah ngerasa ini ff jadi konfliknya malah flat bin ngebosenin dan nggak menarik. Hehehe,,, komen-nya positif sekali bikin gue semangat. Gue seneng lu suka ff bikinan gue tapi jan ngefans sama gue karena kalo entar lu kecewa gue nggak mau disalahin,,,
Kaikaikai : gue bukan pro, gue amatiran kek yang lain. kalo menurut gue yang udah beneran kek penulis tuh kak Berlindia sama Avilio (bener nggak nih nulisnya?) berasa baca novel kalo baca ff mereka,,,
Sukmawindia : welcome! Selamat membaca ff HanKai, BaekKai, dan HunKai,,, gue spesialisasi di tiga couple ini,,, semoga memuaskan,,,
