"semuanya itu berawal dari lukisan langit yang cerah tanpa awan yang melindungi saat itu..
Semuanya terlukis indah dari atas, sayangnya robek di akhir canvasnya… "
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi
All Chara pure from Tadatoshi
OC (Minami) & Story From me
Enjoy Reading! Don't like Don't Read!
Warning : Akashi x OC x Kuroko (seems agak OOC yeah)
Genre : Drama , Angst (gagal /3), Romance etc.
Minami P.O.V
Saat itu penampilanku benar – benar, sangat , super kurang pergaulan. Mungkin itulah cerminan yang sangat jelas tentangku jika murid – murid Teiko memikirkan hal tentangku. Singkatnya, dulu sebenarnya aku tidak bisa bergaul dengan baik saat itu. Aku tidak pernah mengawali pembicaraan, aku hanya membaca Light Novel yang begitu menarik perhatianku. Aku juga jarang sekali berbicara, bahkan orang – orang nyaris mengira aku cacat fisik, padahal aku bersuara. Hanya saja sangat kecil.
Saat itu adalah hari kelima aku masuk sekolah, ada yang menarik dengan orang yang ada di sampingku saat itu, tentu saja. Kuroko – kun, dia adalah orang yang pertama kali kusapa duluan dalam seumur hidupku. Karena aku belum pernah melihat semacam sosok sepertinya, bagaimana tidak? aku baru kali ini melihat orang yang memiliki keberadaan yang sangat tipis hingga orang – orang tidak menyadari kehadirannya. Biasanya orang – orang meminjam pensilku, padahal jelas – jelas pensil cadangan Kuroko – kun jauh lebih banyak dan di jejerkan sangat indah di mejanya. Itulah yang membuatku terkadang sedikit khawatir, siapa tahu orang yang disampingku ini adalah makhluk halus?!
" a..ano.. kau .. baik – baik saja?" ia melirikku untuk pertama kalinya, mata kita bertemu saat disana. "tidak apa – apa.. ada apa?" jawabnya kemudian. "aneh.. kenapa orang – orang tidak ada yang merasa keberadaanmu disini?" heranku saat itu. Kemudian ia hanya diam "justru yang aneh itu adalah kamu , kenapa kamu bisa menyadariku disini?" tanyanya yang semakin membuat suasana horror tercipta. "ee..ee… kau i..i,ini.. makhluk apa.. eh?" kau tahu , seumur hidupku aku paling benci suasana horror walau hari begitu cerah sekalipun. "aku hanya bercanda, Kuroko Tetsuya desu. Yoroshiku.." tambahnya sambil tersenyum. "namaku,.. Minami Touka.. salam kenal" semenjak itulah. Dimulailah kisah antara kita berdua.
.
.
"aah.. tugas kelompok ini begitu merepotkan.. apa yang harus kita lakukan?" cerutuku sambil melihat setumpuk kertas yang terpapar indah diatas meja. "ayo kita kerjakan dirumahku saja" ajaknya sambil berdiri dan menyimpun – menyimpun buku ke dalam tas selempangnya itu. "apa kau bisa? aku sangat lemah dalam pelajaran ini" keluhku. Aku memang sangat bodoh dalam setiap pelajaran yang aku temui.
"kita bisa mengerjakannya sama – sama, rumahmu dimana Minami – san?" disana aku mulai tidak meragukannya, sepertinya dia cukup bisa diandalkan. "mm.. persis belakang sekolah ini kok" jawabku santai. "oh.. berarti kita tetanggaan" sambutnya dengan wajah yang kelewat datar. "a? Sou nan desuka?! Kita tetanggaan? Itu luar biasa Kuroko – kun!" aku memang perempuan yang berapi – api dengan kejutan atau hal yang tak terduga, bahkan bisa jadi sangat berlebihan. Sangat jauh berbeda dengannya. "menurutku itu biasa saja" aku hanya berpundung ria ketika kata – kata seperti itu terucap di mulutnya. "hah.. baiklah, ayo kerumahmu" seruku kemudian.
Aku ingat dengan suasana jalanan yang sangat hangat ketika kita pulang sekitar jam 4 sore itu, langit begitu terlukis sangat hangat dan sejuk. Kami disinari matahari yang mulai bersembunyi dari kami. "kau tinggal dengan siapa.. kalau boleh tahu Kuroko – kun?" lagi – lagi aku memulai pembicaraan. "aku tinggal dengan ibu dan nenek dirumah.." jelasnya.
Sesampainya , tidak sampai 10 menit kami sampai. "aku pulang" sambutnya. "ah.. Tetsuya – kun, aa? Ada temannya..? ayo masuk" ramah ibunya yang membukakan pintunya. Aku hanya tersenyum simple menyambut ibu dan neneknya dirumah, berbagai masakkan juga tercium di rumah itu. "tidak latihan basket , Tetsuya – kun?" papar ibunya yang sepertinya sangat sibuk di dalam dapur "tidak bu" sementara Kuroko – kun naik ke lantai atas, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Ternyata aku dibawa ke dalam kamarnya.
Tanpa tahu tata krama aku duduk dengan manisnya di atas lantai kamar tersebut. Sangat sesuai dengan kegemarannya, ia sangat terobsesi dengan dunia basket yang mungkin baginya sangat menyenangkan. Sepatu, kaus jersey , poster – poster pemain basket terkenal tertempel di dinding kamarnya. Tapi seketika mataku membulat dengan epicnya dan menundukkan wajahku dalam - dalam. Dia sedang ganti baju. "su.. sumimasen" ini untuk pertama kalinya aku dimasukkan ke dalam kandang laki – laki. Aku bodoh sekali saat itu.
"tidak apa – apa Minami – san.. lama – lama kau juga akan terbiasa" jawabnya santai. "A,apa maksudmu!?" semburat merah di wajahku sudah terlanjur terpapar jelas di pipiku yang jerawatan itu. "itu memang benar, kita masih 5 hari masuk sekolah tugas kelompok sudah menumpuk.. jika kau melihatku ganti baju , kau akan terbiasa dengan pemandangan seperti ini" ada benarnya juga, ta..tapi tidak seharusnya begitu jugakan!?. Mungkin lebih baik aku mengeluarkan setumpuk soal yang harus kita selesaikan saat itu daripada memperhatikannya yang sedang ganti baju.
"sebelum kita mengerjakannya , lebih baik kita makan malam saja dulu. Minami – san pasti sangat lapar" tebaknya. "tu, tunggu, bagaimana kau bisa tahu Kuroko – kun?" tanyaku polos. "kau tidak ada beranjak dari kelas hingga pulangan tadi, aku sangat tahu kau pasti lapar" ternyata ia seperhatian ini denganku di awal berkenalan. "baiklah.."
Ketika aku dan Kuroko - kun turun , sudah tersusun makanan diatas meja yang lebar tersebut dengan sangat rapih dan indah, tentunya mengguggah selera. "waaa.. banyaknya" ujarku kagum. Tentu saja, aku sudah lama tidak merasakan kehangatan keluarga saat pertama kali duduk di bangku SMP ini, aku selalu dibuatkan masakkan oleh pembantuku yang hanya bekerja pada siang hari "aa.., ayo makan yang banyak, tidak perlu malu – malu" tawar nenek Kuroko - kun. "tidak perlu nek, perempuan tidak bagus jika makan terlalu banyak" senyumku. "aku lebih suka dengan perempuan yang banyak makan" tambah Kuroko.
Mendengar itu, aku bertanya – tanya dalam benakku. "kenapa Kuroko – kun?" sambil menatapnya dalam – dalam dengan kacamataku yang amat besar itu. "perempuan yang banyak makan pasti sangat sehat , itulah mengapa aku sangat suka dengan wanita yang banyak makan" jelas Kuroko panjang lebar. Entah kenapa, hatiku berdebar ketika ia berbicara seperti itu.
Sejujurnya aku sangat suka makan banyak, ibuku selalu melarangku untuk makan banyak. Karena itu akan membuatnya gemuk, padahal begitu banyak yang ingin aku santap di dunia ini. Sayangnya aku dilarang menyicip semuanya. "begitu ya.. aku.. jadi ingin banyak makan.." ucapku pelan. "hm? Apa yang kamu katakan Minami – san?"
"u..un, nande monai.."jawabku sambil menggelengkan kepalaku. Huntung saja ia tak mendengarnya. "kalau begitu ayo kita makan" seru ibunya setelah itu. "ittadakimasu!"
Membayangkan aku bisa sedekat ini dengan Kuroko – kun itu benar – benar membuatku serasa seperti berada di masa depan, bisa tertawa bercanda dengan keluarganya. Aku tak pernah menyangka bisa sedekat ini dengan ibu dan neneknya. "Kuroko – kun, kalau mencari jodoh itu .. carilah yang seperti Minami ini" jawab ibunya yang melihatku ikut memberes – bereskan piring diatas meja. Kuroko hanya terdiam mendengar celotehan ibunya itu. "kaa – san, jangan berkata seperti itu.. aneh kalau di dengar" bisik Kuroko tertuju kepada ibunya. "aku mendengarnya kok.. hehe" jawabku dengan tawa kecil yang aneh , reaksiku benar – benar tidak nyambung , kemudian keheningan pun terjadi. "aa! , kita harus cepat mengerjakan prnya, sudah jam 7.. apa tidak apa – apa jika kau pulang larut malam seperti ini?" tanya Kuroko yang mulai cemas dengan keadaan. "tidak apa – apa Kuroko – kun.." jawabku setelah itu.
Dikamar , ya.. dikamar. Kita mengerjakan soal – soal itu. Kita sama – sama mengerjakannya dengan sangat kerja keras. Tentu saja, semua soal yang disana tidak ada jawabannya di buku!. Kami harus mencari di internet yang tergolong sulit di dapatkan di zaman SMPku dulu, huntung saja aku orang yang sangat up to date untuk persoalan seperti ini. Tapi tentu saja, soal yang setumpuk ini tidak cukup untuk kita kerjakan semalaman suntuk ini.
Aku melihat Kuroko – kun menguap , namun ia tetap teguh mengerjakan soal tersebut. Aku tahu, ia pasti sangat lelah karena klub basket di Teiko memiliki jangkauan waktu yang sangat gila untuk latihan anak SMP seperti kita waktu itu. Atlit yang professional saja belum tentu bisa menghabiskan waktu latihan sambil belajar di sekolah seperti dirinya!
Aku tidak ada memperhatikannya, dan tetap serius dengan soal yang kukerjakkan diatas meja belajarnya sementara ia mengerjakannya diatas kasur. Tidak sampai 15 menit, aku memecahkan keheningan antara kita berdua. "Kuro..ko.." celah aku memanggilnya suaraku memelan, ia tertidur diatas kasur dengan setumpuk kertas.
Aku terus memandanginya. Aku hanya ingin memastikan bahwa ia tertidur apa tidak, aku mendekatinya dan.. aku tidak salah, ia benar – benar terlelap dan masuk ke dunia mimpi. Entah jam berapa ia menginjak dunia mimpinya, tapi kurasa itu adalah hal yang wajar untuk seorang pekerja keras seperti Kuroko Tetsuya. Melihatnya tertidur pulas seperti itu, ia terlihat… manis. Cara ia memegang erat kain kasur, bentuk bibirnya.. tanpa kusadari aku terus memandanginya.
"ah.. tidak! aku tidak boleh memperhatikannya seperti ini! Ti..tidak sopan.. tapi, ia sangat manis.. ah! Mou, Minami! Kau tidak boleh memandanginya seperti ini! Sekarang berpikirlah, apa yang harus aku lakukan.." itulah yang kira – kira ada di benakku saat itu.
"baiklah.. aku akan mengerjakan tugasnya juga.. kurasa ia perlu banyak istirahat, daripada tugasnya tidak selesai" akupun mendekatinya pelan, mengambil kertas – kertas itu tanpa membangunkan acara tertidurnya. Saat aku selesai meletakkannya di dalam tasku, aku sempat berfikir. Aku sering menonton film romantis ketika seseorang yang kita cintai itu tertidur, alangkah baiknya kita menyelimuti orang itu dengan pelan tanpa membangunkannya, hingga pagi hari ia bingung dengan apa yang terjadi tadi malam. Aku selalu memiliki hasrat , ingin mencobanya.. kira – kira bagaimana rasanya ya?
Dengan pelan, aku mengambil selimut persegi yang tebal itu. Kututup gorden kamarnya agar ia tak terkena sinar lampu dari luar rumahnya. Kemudian aku mematikan lampu dan menutup pintu dengan perlahan – lahan "oyasumi.." bisikku yang menyentuh ganggang pintu. Aku sadar, hatiku terasa damai berbuat seperti ini padanya.
"ah, sudah pu–" belum selesai bicara, aku menunjukkan telunjukku kemulutku. "pshh, diamlah.. ada yang ketiduran" bisikku kepada ibu Kuroko itu. "oh.." ibunya ber 'oh' ria di depanku dan memelankan suaranya juga. Kemudian aku berpamitan dengan ibunya. "sampaikan salamku pada nenek ya bu" pesanku sambil membungkukkan tubuhku. "hai.. itterashai" salamnya. "ittekimasu"
Skip time.
Hingga malam hari menjelangpun , aku mengerjakan tugas – tugas kelompok yang segudang itu. "hmm…, kira – kira jam berapa aku mampu menyelesaikan.. a?" aku terkejut hebat melihat ada kertas yang asing di mataku. Kertas itu tak seperti kertas tugas kelompok. Namun kertas itu.. tugas matematika yang dimiliki siswa untuk dikerjakan perindividu!, betapa bodohnya aku ikut membawanya. Ternyata sekalian ia mengerjakan tugas kelompok , ia juga belum mengerjakan tugas matematika itu. Padahal tugas itu sudah lewat dari batas pengumpulan, berbicara tentang aku sudah mengerjakannya apa belum. Tentu saja aku sudah mengumpulnya sekitar 2 hari yang lalu.
"mungkin waktu itu ia ada pertandingan di sekolah lain makanya ia tidak mengumpulnya.. mudah – mudahan.. besok tugas ini masih diterima" jawabku santai. "eh.. tunggu, besok..? besok..? kyaaaa! Besok ada pelajaran menyedihkan itu! Bahkan Kuroko – kun tidak mengisinya sama sekali pula.. argh, aku jadi merasa bersalah terbawa kertas ini.." aku jadi mencak – mencak sendiri dalam kamar.
Sepertinya tidak ada cara lain bagiku, aku harus mengerjakan tugas matematika ini untuknya. Yah , bagaimanapun juga aku sangat mengerti dengan keadaannya 'kan? Lagipula aku cukup ingat dengan jawabannya walaupun aku belum yakin benar apakah itu jawaban yang benar atau salah. Sudah itu, guru yang mengajar juga sangat galak. Dan yang terpenting aku menolongnya 'kan? Yosh, selesai aku mengerjakan tugas kelompok yang tidak lama lagi selesai ini, aku akan menguatkan segala ingatanku tentang tugas matematika Kuroko – kun!
1 jam kemudian..
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 12. Ya, malam. Aku baru menyelesaikan tugas kelompok itu mati – matian karena terlalu lama berfikir. Setelah itu aku melanjutkan tugas keduaku, mengerjakan tugas Kuroko – kun. Aku memaksakan mataku yang benar – benar mengantuk, namun aku tidak perduli. Aku harus mengerjakannya.
2 jam kemudian…
Dan , akhirnya. Jam 1 pagi, aku menyelesaikannya!, hanya satu pintaku lagi. Mudah – mudahan aku baik – baik saja untuk esok hari. Aku memasang jam alarmku tepat jam 6 pagi dan membanting tubuhku dikasur itu.
Tidak lama, wajah Kuroko – kun yang tertidur menganggu pikiranku. "manisnya… aku baru kali ini melihat laki – laki tertidur semanis itu.." gumamku tak sadar diri. "mo..mou! lagi – lagi aku memikirkannya…" aku menyembunyikan wajahku dengan gulingku malu. "ke..kenapa ya.. perasaan ini.. aneh" aku sadar, mungkin ini yang disebut cinta pertama.
.
.
.
Pagi itu, kerlap – kerlap. Aku terbangun dari kasurku, dan melihat jamku. "7.. 7.45?!" aku langsung terguncang dari atas kasur. "aah! Bisa gawat jika aku terlambat! Bodohnya lagi pelajaran pertama matematika.. aku gak bakal bisa dimaafkan kalau begini jadinya!" aku langsung mencuci wajahku dengan kecepatan angin , menggunakan bajuku dengan benar. Anehnya saat itu pembantuku tidak ada satupun dirumah, kurasa mereka juga kesiangan di hari ini. Benar – benar hari kesiangan sedunia!
Aku membopong kertas – kertas tugas kemarin di tanganku sambil berlari dengan kencangnya. Jelas, sekolah Teiko sudah masukan. Aku berlari dengan suara yang ngos – ngosan. "o..ohayou" salamku ketika masuk kelas. Seperti biasa, guru yang terseram itu menatapku tajam. "kenapa kamu terlambat?" pertanyaan yang membuat orang sepertiku bergidik. Namun aku melihat sekitarku, kenapa Kuroko – kun berdiri di depan kelas?
"a..ano sensei.. aku, kesiangan.." jawabku gugup. "oh pas sekali, kalian sama – sama dihukum. Kuroko tidak mengerjakan tugas, kau terlambat… bersihkan kolam renang diluar!" aku tersentak dengan teriakan keras guru gorilla itu, dia itu bodoh atau apa?! Kuroko – kun kan juga sibuk dengan kegiatannya. Aku saja sampai mengerjakannya sampai tengah malam.
"tidak.. sensei, aku yang bersalah. Kemarin aku mengerjakan tugas kelompok bersamanya, tidak sengaja aku membawa kertas tugasnya, ia mengerjakan tugas matematikanya kok" aku memberikan kertas itu, aku mampu melihat wajah Kuroko sangat terkejut hebat melihat kertas itu diisi penuh dengan tulisanku. "benarkah .. dia yang mengerjakannya?" kemudian hening. "iya, dia yang mengerjakannya!" tekasku setelah itu. "baiklah, kamu kembali ke tempat dudukmu" perintah guru gorilla itu tertuju pada Kuroko yang tidak tahu apa - apa.
"kau, bersihkan kolam renang sendiri!" perintahnya padaku. "Hai.." aku meletakkan tasku diatas meja dan segera keluar dari kelas itu. Mungkin ini yang terbaik untuk Kuroko – kun kan? Dia perlu banyak energi untuk latihan klub basketnya besok, aku tahu itu. Karena itulah aku melakukan ini.
.
.
.
Skip Time.
Di sela aku membersihkan kolam renang itu sendirian, aku mendengar cercaan orang dan beratus mata melihatku sedang melakukannya, dari lantai atas, bawah.. semuanya menertawaiku. Mungkin karena tampangku yang pas untuk menjadi 'tukang pembersih kolam renang' makanya mereka mengata –ngataiku. Namun , siapa perduli? Semua orang punya penilaian masing – masingkan? Jadi aku tidak akan pernah perduli apapun dan bagaimanapun. Inilah 'aku' dan aku harus mensyukurinya. "Jangan beranjak bila belum bersih!" perintah tukang pembersih kolam renang yang biasanya melakukan tugasnya itupun tidak memperdulikanku. Tapi aku senang di beri peringatan seperti itu, itu artinya ia menganggapku ada.
"Minami –san" aku mendengar suara, suara yang jelas – jelas kukenal. Kenapa Kuroko – kun tiba – tiba disini?
"Kuroko – kun? Kenapa kau disini? Pelajaran masih berlangsungkan?" jawabku spontan. "jangan seperti itu!" tekasnya tiba – tiba.
"aku tidak akan membiarkanmu membersihkannya sendirian.. apalagi kamu yang mengerjakan tugasku sampai kau kesiangankan?" tanyanya sambil menunduk. "tidak Kuroko – kun.. kamu harus istirahat, habis ini kan– "
"Minami – san!, aku tidak suka jika kau menganggapku lemah seperti itu! Aku laki – laki, aku bukan selemah yang kau bayangkan!" jawabnya dengan lantang. Aku baru kali ini melihat raut wajah laki – laki ini begitu serius memandangiku. "kau tidak perlu berkerja keras hingga seperti ini.. aku tidak tega melihat keadaanmu yang seperti ini, biarkan aku membantumu" kemudian , aku hanya mengangguk kecil. iapun mengambil pel besar di sudut ruangan. Kami membersihkannya bersama – sama. Aku sadar, hidup sendirian itu sama sekali tidak berguna.
Di suasana panas dan melelahkan saat itu, kami justru tertawa bersama – sama, berbagi cerita pengalaman, bahkan aku menertawainya karena lantai kolam renang itu licin, ia terpeleset dengan anggunnya dan pantatnya yang terhantam lantai itu. "kau jahat sekali Minami – san, alangkah baiknya jika kau menolongku yang terjatuh ini" jawabnya melesu. "bukankah kau laki – laki yang kuat?" aku menggodanya untuk pertama kali. Kemudian ia hanya tertawa kecil. "lain kali aku harus terlihat lebih kuat di depanmu" jawabnya kemudian. Aku hanya tertawa mendengarnya "jadi kau selama ini terlihat lemah di depan wanita lain?" tambahku lagi, kemudian kita jadi tertawa bersama.
Selesai itu, kami melakukan pengisian air. Inilah bagian yang tak bisa kulupakan! Kami saling menyiprat pompa air dan menyiram satu sama lain. Huntung saja aku menggunakan kaos yang dipinjamkan oleh tukang pembersih kolam, jadi tidak masalah mau seberapa basahnya. Yang ironis itu , aku menyiram baju seragam Kuroko – kun tanpa rasa bersalah, namun ia benar – benar menikmatinya.
Diam – diam.. aku merasa nyaman di sampingnya, tak kenal sebarapa lelahnya saat itu. Aku senang bisa berada di sampingnya saat itu, apalagi bisa melihatnya tertawa seperti itu. Aku belum pernah melihat orang sependiam dirinya bisa tertawa lepas seperti ini. Dalam diam, aku sendiri bahagia.
Pengisian airpun selesai, aku terduduk lemas dan meluruskan kakiku di dekat kolam renang tersebut."Douzo, Minami - san" kemudian ia melemparkan sekaleng kopi ke arahku dan aku menangkapnya. "ah, untukku? Arigatou!" aku membukanya dan cepat – cepat meminumnya. Hari itu benar – benar melelahkan. Kemudian ia duduk dan meluruskan kakinya. Kini hanya kita berdua di kawasan itu. "seharusnya.. aku yang harus banyak berterima kasih padamu, Minami – san" balasnya.
Aku yang meneguk kopi itu berhenti sebentar. "kenapa, Kuroko – kun? Soal tugas matematika itu?" aku langsung menjawabnya to the point. "tidak.. bukan hanya itu" balasnya. "jadi apa?"
"aku berterima kasih padamu, karena aku bisa sesenang ini. Dari dulu aku tidak bisa tertawa lepas seperti ini.." jelasnya. Aku jujur, sangat bahagia jika mendengarnya berkata seperti itu. "sebelumnya.. kau tidak pernah sebahagia ini?" kemudian ia menatapku dalam – dalam. Entah apa maksudnya itu, aku terpana melihat ukiran warna biru langit yang terpancar di iris matanya itu, benar – benar indah. "sebelum itu .. , apakah kau mau berjanji denganku , Minami – san?" tanyanya kemudian. "apa itu Kuroko – kun?"
"apakah.. kau mau berbahagia denganku, selamanya?"
seketika hatiku sangat berdebar mencerna kalimat yang sulit aku mengerti. Mungkin saat itu terlalu dini bagiku untuk bisa mencernanya dengan baik. Karena ia pandai dalam berbahasa , mungkin karena itu aku gagal paham dengan maksudnya. "tentu saja!, hal seperti ini saja kau cukup bahagia kan? Siapa yang tidak mau berbahagia dengan temannya. Semuanya pasti mau'kan? Mana mungkin aku tidak bisa membahagiakanmu.." kira – kira begitulah jawabanku. Bodoh.
"sou..ka" nadanya terdengar kecewa, bodohnya aku.
"aku pasti akan terus membuatmu bahagia.. bahkan lebih dari ini!"
Itulah 'janji' yang aku katakan padanya.
"be.. benarkah?"
Namun semuanya kelam jika kita membuka mata lebar – lebar dengan apa yang terjadi sekarang.
"tentu saja!"
Justru sekarang, aku membuatnya sakit, sakit dan terus sakit.
"terima kasih…"
Sampai kapan… ia bisa berterima kasih lagi padaku?
.
.
.
Skip time.
Sekarang , kami benar – benar kelelahan. Aku tidak menyangka , begitu banyaknya waktu di sekolah yang terbuang karena momen yang menyenangkan itu. Alhasil, kami terkapar di meja bangku kami. "tubuhku pegal.." keluhku. "benar – benar sama sekali kegiatan yang tidak melelahkan di dunia ini" jawabnya setelah itu. "ngomong – ngomong.. setelah ini, kau ada kegiatan di klub basketmu?" tanyaku kemudian. "ada apa tiba – tiba bertanya seperti itu? Kau mengkhawatirkanku lagi?" aku menyangkal, sepertinya dia cukup kegeeran disini. "tidak ,akukan menganggapmu kuat sekarang" aku tertawa kecil di akhir kalimat yang aku lontarkan. "terima kasih , Minami – san.. memangnya kenapa jika aku latihan hari ini..?" tanyanya semakin penasaran. "aku ingin sekali melihatmu bermain basket" jawabku.
Glek. Suara itu terdengar jelas di telingaku. "mumpung aku tidak ada kegiatan apa – apa besok.. tidak apa – apakan jika aku melihatmu bermain basket?" tanyaku dengan percaya diri.
"ano.. Minami – san" ia berwajah lesu dan menunduk di depanku, terlihat ia mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat. "aku agak malu jika kau melihatku bermain basket.." jawabnya.
"ayolah, tidak apa – apa kan Kuroko – kun! Aku hanya melihatmu bermain saja kok…" aku memaksanya, karena aku begitu penasaran dengannya. Selama ini , aku belum pernah melihatnya bermain basket. "aku tidak sehebat yang kau bayangkan.. aku memang mencintai basket.. tapi aku sebenarnya sangat payah dalam permainan ini" sangkalnya setelah itu. Tersentak mendengarnya, aku masih belum mengerti apa maksud 'payah' dalam gaya bermain basketnya. Aku tetap pada pendirianku.
"aku tidak perduli, aku tetap akan melihatmu bermain!" tangkisku. "bisakah kau tidak menertawaiku saat aku bermain basket?" tanyanya kemudian. "mou! , untuk apa aku tertawa jika tidak ada yang lucu, Kuroko – kun! Santai saja.." lalu , ia hanya tersenyum kecil. "terima kasih, selama ini belum ada yang pernah ada orang seniat Minami – san ingin menontonku bermain basket.." jawabnya sambil bernafas lega.
.
.
Sekolahpun berakhir , sesuai janjiku. Aku menontonnya saat Kuroko berlatih di gym dengan .. orang – orang tergolong cukup banyak. Awalnya , aku melihat semacam pemberitahuan disampaikan oleh pelatihnya mungkin? Kemudian mereka ditinggal pergi dan latihan membentuk dua tim untuk berduel.
Aku bisa melihat Kuroko , namun orang – orang tidak bisa melihatnya. Kira – kira itulah yang terjadi. Ketika Kuroko – kun ingin mengambil bola , orang yang disekitarnya kaget tiba – tiba ia berada disana. Namun ada hal yang perlu aku ketahui mengapa ia mengatakan kalau ia malu untuk ditontoni.
Ia tidak bisa melakukan shooting.
Setiap kali ia melakukannya. Pasti gagal , gagal , gagal dan gagal. Ia dimaki habis – habisan oleh pemain lain yang ada disana. Bahkan dalam mendribble bola, orang – orang masih bisa mengambil atau 'steal' dengan mudah. Sebenarnya apa yang membuat Kuroko – kun begitu mencintai basket? Mengapa ia seniat itu?
Selesai latihan , semuanya terlihat sepi. Malam jam 8. Ya aku menunggunya hingga larut seperti ini. "Minami – san.. kau tidak pulang?" tawar Kuroko – kun. "tidak, aku masih ingin mau disini. Aku tidak ada teman dirumah" jawabku. ".. baiklah, nanti kita akan pulang bersama ya Minami – san?" sambil melakukan shoot yang lagi - lagi gagal , kemudian aku hanya memanggut setuju. "… aku benar – benar , payahkan, Minami – san?"
Aku menggeleng kuat. "tidak mungkin kamu payah, Kuroko – kun.." mungkin saatnya aku harus memberikannya sedikit semangat. "lalu apa?" ia menggenggam erat bola basketnya itu. "orang yang payah mana mau berlatih hingga malam larut seperti ini, kau tidak berfikir sampai situ?" jawabku bersemangat, kemudian ia 'sedikit' terpukau dengan perkataanku.
"kalau kau orang payah, kau pasti sudah dirumah, tidur kemudian mengeluh jika tubuhmu sakit. Kau bukan orang yang seperti itukan? Maka itu , bersyukurlah! Kamu tidak payah.., mungkin belum saatnya kamu kuat, jika kau terus berlatih dan berlatih. Kau pasti bisa!" aku berharap kalimat sok 'memotivasi' orang ini bisa dimengerti dengan baik. "Kuroko – kun!, kau tidak boleh putus asa seperti ini. Kita memang tidak sehebat orang – orang yang ada di sekitar kita, tapi aku percaya. Semua manusia tidak ada yang sempurna, tapi ada manusia yang terhebat!"
Kemudian ia hanya tersenyum lembut. "terima kasih sudah membuatku bahagia lagi , Minami – san"
"sudah kubilangkan? Mana mungkin aku tidak bisa membahagiakanmu!" jawabku percaya diri.
"kalau begitu, aku boleh minta satu permintaan?" tanyanya lagi. "apa?"
"bolehkah aku menantangmu…. sebagai perasaan bahagiaku?" Sial, tantangan apa ini. Aku tidak berbakat dalam dunia olahraga!
"a..a.. ha.. haha.. siapa takut, tapi jika aku gagal, maka.. aku gagal membahagiakanmu deh" aku tertawa garing sekaligus sangat nervous ketika berbicara seperti itu. "sou desu.. ,aturan mainnyaberikan aku kesempatan 3 kali untuk memasukkan bolanya.." seketika aku kebingungan dengan 'aturan main' yang ia jelaskan.
"jika aku berhasil memasukkan bola 1 kali, maka aku akan memelukmu"
"jika aku berhasil memasukkan bola 2 kali, maka aku akan menciummu"
"jika aku berhasil memasukkan bola 3 kali, maka…
aku akan memeluk dan menciummu"
Lepas. Sial , jantungku berdegup spektakuler seperti konser AKB48.
"tantangan.. macam apa… Itu?" kali ini, wajahku benar – benar seperti kepiting rebus bercampur saus tomat. "tantangan kebahagiaan desu" jawabnya datar. "apakah kau membencinya?" pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Aku bukan membencinya, aku hanya ragu menerimanya. Tapi dia bilang ini adalah kebahagiaannya… "baiklah… aku menerima tantangannya" wajahku bersemu merah. Panas sekali, aku berdegup sangat kencang saat itu.
Bola pertamapun siap didaratkan.
Syuut~! Krek!
Gagal masuk, jadi kesempatan ketiga tidak ada. Namun kesempatan kedua dan pertama masih ada.
Bola keduapun akhirnya siap didaratkan.
Syuut~! Dung!
Bo, bolanya masuk. Apa ia benar – benar niat memasukkan bolanya saat ini ya? "ini untuk pertama kalinya aku bisa memasukkannya.." jawabnya bangga. "selamat Kuroko – kun.." aku bingung ingin berkata apa, karena jika ia memasukkan bola keduanya.. maka.. kita akan.. ah tidak! terlalu dini untuk bisa dirasakan…
Bola ketigapun akan di daratkan. Ini adalah penentuan.. jika ia memasukannya lagi , maka aku harus… ah, aku bisa mati.
Syuuut~!
.
.
.
Krek! Bolanya gagal masuk! aku menghela nafas terpanjang sungai nil dalam hidupku. "ah, aku gagal" jawabnya lesu. Mungkin kali ini hanya sebuah pelukan yang mendalam untuknya. Walaupun hanya sebuah pelukan.. tapi, hatiku sangat berdebar. "karena aku hanya memasukkan 1 kali, maka aku hanya akan memelukmu saja.. sayang sekali, tapi aku senang bisa memasukkan bola kedua.." ucapnya kemudian.
Iapun mulai melangkah dan mendatangiku. Wajahku sudah sangat bersemu merah, di depannya. Begitu juga dengannya, aku bisa melihat semburat merah yang begitu sama denganku. Kami saling berpandang – pandangan. "Minami – san, bisa kah kau melepas kacamatamu sementara?" aku terputus dengan pandangan itu. Aku hanya menuruti keinginannya. Tersiratlah mata berwarna hijau Emerland ku bertatapan dengan iris Sky Bluenya. "Minami – san, sebenarnya kamu sangat manis…"
Deg. Aku tahu , mata Kuroko - kun pasti salah lihat. "aku tidak bohong.. tapi bukan itu yang aku lihat darimu kok, aku suka dengan tipe wanita pekerja keras sepertimu" jelasnya, sial aku terpukau mendengarnya. "tolong… manfaatkan waktu ini baik – baik… aku tidak bisa merasakannya selain hari ini"
Ia meraih tubuhku yang kecil ini,kali ini kepalaku berada di dadanya yang bidang. Kedua tangannya menusukku erat kedalam dunianya. Desahan nafas yang terdengar di telingaku berbunyi jelas. Detak jantungnya juga berpacu jelas dengan nafasku yang terhimpit oleh tubuhnya. Tangannya bergerak pelan kearah ubun – ubunku dan mengelusnya lembut. Kehangatan di tubuh ini jelas terasa, aku benar – benar lupa diri ketika berada dipelukannya yang terhangat itu.
Aku sadar , aku begitu nyaman disisinya. Aku sadar , aku begitu menyayanginya dan mencintainya lebih dari 3 kata 'I Love You'
Aku juga membalas pelukannya dengan menyentuh erat punggungnya "Kuroko – kun…. , tolong lakukanlah.. apa saja yang bisa membuatmu bahagia di hari ini… aku rela melakukan apa saja, jika itu memang yang terbaik untuk Kuroko – kun" ditengah kehangatan itu, aku tak sadar mengeluarkan isi hatiku. Bibir ini seperti gatal ingin berbicara seperti itu.
"benarkah,… Minami – san?"
"iya , sungguh…" entah bagaimana rasa bahagianya terluapkan diisi hati ini. Aku mengeluarkan sedikit cairan bening yang membasahi pipiku, aku bahagia. Itulah yang aku rasakan.
Ia memandangiku dengan wajahnya begitu memerah. Ia memperlihatkan wajah itu sambil tersenyum lembut, sepertinya ia bahagia. Sama seperti yang aku rasakan. "terima kasih sudah menepati janjimu… aku sangat senang" ia mendekatkan wajahku yang memerah sepertinya.
Bibir itu, mendarat begitu saja ke bibirku. Cinta pertama , ciuman pertama dan pelukan pertama yang kami rasakan. Sulit untuk kami lupakan. Momen yang paling indah seumur hidupku. Baru kali ini aku merasakan, ternyata seperti ini bahagianya..
"aku juga sangat berterima kasih… aku juga sangat senang… Kuroko – kun"
.
.
.
.
Skip time.
Tersungkur lemah, itulah yang kurasakan diatas kasur nan empuk ini. Masih terbayang – bayang dengan kejadian yang berlangsung barusan. Aku benar – benar tidak menyangka hal gila ini bisa terjadi!, bagaimana bisa , aku berada di posisi menggila ini. Kuroko – kun adalah termasuk cowok yang lumayan tampan di kelas, jika ia bisa menyukaiku.. itu adalah suatu prestasi yang sulit dipercaya! Me,mangnya.. aku semanis apa dimatanya?! Mana mungkin wajahku yang penuh jerawat ini bisa dibilang manis.. palingan Kuroko – kun hanya sekedar membuatku sedikit lebih nyaman disampingnya , itulah mengapa ia berbicara seperti itu… dan yang lebih parahnya lagi…
FLASHBACK
Ribuan sinar bintang menyaksikan kami, malam itu begitu sejuk. Kami jalan berdua disana. Keheningan kami rasa mungkin wajar bagi kami. Siapa yang tidak malu setelah berbicara dari hati ke hati dengan orang yang kamu sayangi? Rasanya anehkan?
"untuk kali ini, aku belum siap menjadikanmu sebagai 'pacar'" terpecahkan keheningan menjadi kesesakkan dalam tubuh ini.
"memangnya.. kenapa, Kuroko – kun?"
"entahlah.. aku masih belum siap melakukannya.. lagipula masih banyak yang harus kebahagiaan harusku lewati selain ini kan?" mungkin dia ada benarnya juga. Tapi ini semacam hubungan tanpa status, bagiku?
"ee.. aku baru mendengar istilah 'status yang tertunda'"
"tidak apa kan? Lagipula.. aku tidak terlalu mempentingkan status, bagiku semua status itu sama saja. Kecuali status saat menikah" wow, ternyata Kuroko – kun sudah berfikir sejauh itu. Dia benar – benar hebat. "Kuroko – kun.. kau serius sekali dengan dunia romantika…"
Seketika aku mendongakkan kepalaku keatas, aku melihat sinar bintang menghujani kita malam itu, angin bertiup sangat dingin. "pakailah jaket, angin malam tidak baik untuk kulitmu.." ia memasangkan jaketnya jersey Teikonya padaku, aku bisa mencium bau maskulin di jaket itu. "terima kasih.."
Seketika aku terpana dengan 1 bintang yang begitu terang dibandingkan yang lain. "bintang itu terang sekali…" "yang mana..?" "yang itu!" aku menunjuk – nujuknya dengan riang. Aku bisa melihat wajah Kuroko – kun juga ikut terpana melihat bintang itu.
"bintang itu.. sama terangnya dengan dirimu.. Minami – san"
"apa… maksudnya Kuroko – kun?"
"tidak perduli seberapa gelap dimana kau berdiri, kau tetap bersinar dan sangat indah ketika di pandang… itulah Minami - san" aku terpukau dengan nilai bahasanya , yang cukup tergolong tinggi dibandingkan dari pada aku. Padahal cita – citaku menjadi seorang novelis.
"…. Kau hebat sekali Kuroko – kun.."
"benarkah? , aku hanya memikirkan apa yang ada di pikiranku.."
FLASHBACK OFF
Hubungan tanpa status ya,.. baru kali ini aku mendengarnya. Kira – kira kebahagiaan seperti apa ya yang akan datang kepadaku? Aku jadi tidak sabar.
Selain itu aku juga berfikir, apakah ia sudah tertidur ya saat ini? Aku ingin mengatakan 'oyasumi' dan menyelimutinya dengan selimut seperti waktu itu … walaupun ia tidak sadar dengan apa yang kuperbuat, tapi aku senang dengan hanya melakukan itu.
Ah, aku jadi banyak memikirkannya sekarang. Sulit dilupakan.
Sakin banyaknya aku memikirkan Kuroko – kun, aku jadi lupa memikirkan diriku sendiri. Bodohnya.
Tapi , aku masih bingung dengan perkataannya. Katanya , 'aku seperti bintang yang begitu bersinar, tidak perduli betapa gelapnya ditempatku berada, aku tetap bersinar dengan terang dan terlihat indah…' apa maksudnya bagian 'gelap ditempatku berada'? memang aku berada di tempat yang gelap? … rhh.. peribahasa Kuroko – kun sulit sekali untuk dicerna. Kenapa aku lebih bodoh darinya ya..
Tapi aku kagum sekali dengannya, kita baru saja kenal bisa sampai sedekat dan seromantis ini.. lain kali aku harus jauh lebih hebat dan hebat lagi darinya. Itulah motivasiku sekarang. Aku akan menutup mata ini. Kira – kira..
Apa yang akan terjadi besok?
.
.
.
Pagi hari , aku terbangun dengan normal. Kurasa , ini adalah hal yang jauh lebih baik daripada yang kemarin. Aku menggunakan bajuku dengan serapih mungkin. Dan menggunakan kacamata besarku dengan benar. "yosh" aku akan berangkat.
Ketika aku berjalan, cukup kaget. Jelas saja aku kaget, aku melihat Kuroko – kun di depan rumahku. "Kuroko – kun?" sapaku sambil menatapnya. "ohayou… ayo kita ke sekolah bersama – sama" sapanya datar. "ee.. un, baiklah" sambutku lagi.
Awkward , itulah yang terjadi saat aku jalan berdua dengannya. "ano, Minami – san" lagi – lagi ia memecahkan keheningan momen ini. "hai..?"
"hari ini aku latihan basket lagi, apakah kau mau menontonku lagi?" tawarnya. Mungkin ini semacam kencan versi kami. 'latihan basket'. Kemudian, aku sedikit berfikir. Mungkin nanti aku harus mengerjakan berberapa tugas sekolah. Hm , tapi sayang sekali jika aku menolak tawarannya. Aku ingin sekali melihatnya latihan.. argh. Aku harus bagaimana ya?
"Minami – san?"
"aah… ah, hm.. entahlah Kuroko – kun, aku memiliki tugas yang ingin aku kerjakan.. tapi aku ingin sekali melihatmu bermain basket lagi.. bagaimana ya.." aku mengacak – ngacakkan rambutku kebingungan. "kerjakanlah tugas – tugasmu dahulu Minami – san" jawabnya. "bagaimana dengan tugas – tugasmu Kuroko – kun?" selama ini, aku belum pernah melihatnya mengumpulkan tugas. Jelas , ia pasti sangat sibuk dengan kegiatan basketnya.
"kau tahu, aku tidak punya waktu untuk itu. Lagipula , aku juga tidak jago sepertimu" Kuroko – kun memujiku? Apa – apaan itu?
"otak IQ jongkok seperti ini kau bilang pintar Kuroko – kun? Nilaiku benar – benar pas – pasan!" cerutuku. "jangan begitu Minami – san, justru jika aku mengatakannya kamu harus berusaha seperti apa yang aku katakan.." ah, dia benar juga.
"maa… ma, bagaimana jika aku mengerjakan tugasmu lagi Kuroko – kun? Kau pasti maukan?" tawarku. Siapa yang tidak suka dibantu? Kurasa semua lelaki memang sangat senang dibantu perempuan. "aku bukan laki – laki yang seperti itu Minami – san… aku berjanji untuk terlihat kuat di depanmu kan? Jangan khawatir.." sangkalnya. Sugoi… dibandingkan laki – laki lain, dia memang berbeda. Mungkin itu sebabnya aku menyukainya, ups.
"baiklah Kuroko – kun…, jika ada yang sulit. Tanyakan saja padaku" tawarku sambil tersenyum lebar di hadapannya. "hai.. arigatou gozaimasu" senyumnya kembali.
.
.
.
Skip time.
Saat ini, adalah hari yang kutunggu – tunggu, pembagian kelas. Kali ini aku tidak bersama dengan Kuroko – kun, Ia seperti biasa sibuk dengan kegiatan basketnya.
Mungkin hanya aku yang perduli dengannya hingga sejauh ini, sudah semester 2 berlalu. Kosong, tidak ada yang mengerjakkan piket sama sekali kecuali aku. Mentang – mentang aku tak sekuat mereka aku diperlakukan semaunya, seenak jidatnya saja. itulah yang terjadi padaku di kelas 10 yang menyuramkan bagiku. Aku semakin terkenal karena sakin payahnya dan tidak berdayanya. Mungkin karena sering absennya Kuroko – kun, aku jadi kesepian. Tak banyak juga Kuroko – kun bisa lakukan padaku. Tentu saja , karena ia masuk ke string 1 bermain dengan pemain tim inti. Dia benar – benar hebat bukan?
Aku jadi menyesal gara – gara aku menolaknya melihat ia latihan waktu itu. Mungkin itu saat terakhir kita sering bersama, sisanya tidak ada lagi kebahagiaan yang tersirat. Dunia ini semakin membosankan. Dan semakin yang membuatku khawatir adalah.. aku takut aku tidak bisa sekelas dengan Kuroko – kun lagi, sebentar lagi kita akan duduk di bangku kelas 2 SMP.
"ah itu dia daftar namanya…" aku melihatnya dengan seksama. "aa?, tidak ada nama Kuroko – kun.. sayang sekali" aku melesu. Aku pasti sangat menyendiri di kelas ini. Aku masuk ke dalam kelas itu. Benar – benar tidak ada yang kukenal. Menyedihkan.
Semuanya punya pasangan masing – masing, tertawa bersama, bercerita dengan teman lamanya. Sementara aku lagi – lagi duduk di pojokkan tanpa diketahui banyak orang. Biasanya di pojokkan aku menyadari Kuroko – kun di sampingku dan menyapaku. Benar – benar kenangan yang tak terlupakan.
Seketika, seorang wali kelas kami masuk. Guru yang biasa – biasa saja bagi kami. Tidak terlalu galak.
"selamat pagi semuanya, saya adalah wali kelas disini. Kita akan melakukan voting untuk pemilihan ketua kelas dan wakilnya ya" kemudian hening. Kurasa mana ada yang mau–
"aku akan menjadi ketua kelas" seseorang bermata tajam, surainya merah darah. Kulitnya putih porselen, ia berdiri dengan tegap dan terlihat oleh semua anak – anak di kelas itu. "oh, Akashi ya.. boleh juga.. nah , sekarang semuanya kamu yang atur ya. Bapak masih ada urusan diluar" apa – apaan itu? Dengan percaya dirinya dia menjadi ketua kelas tanpa voting? Sudah itu, Tidak sampai berberapa menit guru itu disini. Dia keluar?! Bodohnya si cowok bantet itu juga hanya mengangguk. Dia bodoh?
"minna.." sapanya di depan kelas, aku bisa melihat jelas tangannya yang memegang sebuah benda tajam , alias gunting..? untuk apa ia mengenggam gunting itu? "jika aku mendengar suara.. aku tak sungkan membiarkanmu merasakan sensasi dinginnya benda ini" ia menunjukkan guntingnya di depan anak – anak seusia kami?! Hei , dia pembunuh atau apa?
Semuanya merinding disko.
"bagus, siapa yang menjadi wakil ketua kelas?"
"a, aku.. Akashi – kun!" sesosok wanita berdiri dari tempat duduknya. "waah… pasangan serasi tuh, ketua kelasnya ganteng, yang jadi wakilnya cantik.." kira – kira begitulah komentar orang – orang disekitarku.
"sou ka…" ia melihat penampilan perempuan itu. Tapi memang, sangat cantik kudengar dia juga pintar, kurasa. Aku iri dengannya. "ditolak"
Ehhhh? Kenapa? "dari tatapanmu saja, kau ingin menjadi wakilku hanya memiliki alasan tersendiri bukan untuk memimpin, pada dasarnya kamu memang pintar. Tapi kamu tidak rajin" bagaimana ia bisa menolak mentah – mentah seenaknya begitu?!
"kau yang diujung sana" semua orang melihatku, eh? Kenapa?. "a.. ada apa.. ya?"
"kau sangat rajin, kau harus jadi wakil ketua kelas"
Ehhhhh?!
.
.
.
TO BE CONTINUED
Myahahahah gaje ah gaje gaje gaje /dilempar
Aku bener – bener gagal soal cinta – cintaan duh , someone help (?)
Apalagi endingnya , duh gagal banget hiks byeee /dies
Bdw , terima kasih ya pada silent reader dan yang ngefav tentunya yang pada mau baca, tanpa kalian aku tidak ada semangat untuk melanjutkan fic ini sampe tembus 5800+ words , aku kerasukan apa ya /jders
Terima kasih juga yang mungkin nunggu kelanjutan fic ini ,apalagi yang ngereview .. aku bahagia sekali /?
Chap selanjutnya, GoM akan berhamburan (?) kurasa. Bdw tetap stay tuned yaaaa hwhw
Mind to RnR? Sankyuu . v .
