Uzumaki Naruto memang dikutuk untuk kurang peka. Namun pria itu tidaklah buta. Manik yang serupa siang saat ini jelas menyadari sendu nan hadir pada istri manisnya, Hinata. Melihat mata yang sedikit sembab itu, Naruto tentu merasakan hal yang sangat berlawanan dari kata suka. Seharusnya malam yang cerah ini keduanya bahagia.

Sebenarnya Hinata masih—dan akan selalu—menggemaskan, cantik, juga wangi. Senyumnya selalu sehangat mentari. Tubuh mungil dengan lekukan ideal itu senantiasa menjadi magnet bagi Naruto dalam berbagi afeksi. Manik unik itu memang selalu dengan damba dan cinta memandang dirinya sebagai suami. Namun, setitik noda mungkin tengah menganggu hati. Naruto ingin mencucinya, tak ingin perasaan Hinata ternoda sama sekali.

"Hinata habis menangis, ya?" Tiga hari belakangan Naruto memang sedang menjalankan misi sebagai seorang Shinobi yang taat, bahkan pengejar gelar Hokage. Mau tidak mau, pria itu tak dapat berada di dekat wanita yang telah dinikahinya empat bulan lalu. Rindu sudah pasti, tetapi kesedihan Hinata bukanlah hal yang Naruto harapkan saat ini. "Kenapa?"

"T-tidak," Hinata menggeleng, poni tebalnya bergoyang ke sana-kemari. Naruto merasa gemas, menahan diri untuk mengasihi. Dibawanya Hinata makin memasuki apartemen kecil yang telah menemani Naruto hampir puluhan tahun, menutup pintu asal, duduk pada tatami—dan akhirnya tak tahan pada rambut nila untuk dikecupi. Hinata merah merona pada pipi.

"Aih, Hinata, kenapa?" Naruto kukuh bertanya. Hinata kembali menggeleng, tampak enggan untuk mengatakannya. Membuat si pria makin gemas sendiri melihat istrinya. "Hinata..."

"Tidak apa-apa, Naruto-kun. T-tadi habis memotong bawang, aku masak kare. Ayo, kita makan malam." Hinata mencoba tersenyum, menatap Naruto sembari mencubit gemas pipi bergaris milik sang pria pula. Akan tetapi, tindakan manis Hinata dirasakan Naruto diselipkan sebuah ragu. "Apa kamu ingin mandi dahulu? Atau Naruto-kun sudah mandi di pemandian sebelumnya?"

Hinata masih benar-benar tak ingin membicarakan apa pun. Naruto hanya dapat bersabar, menunggu. Pria itu menghela napasnya, memilih untuk mengalah hanya untuk sementara. Digenggamnya telapak tangan yang kecil dan hangat itu. "Aku sudah mandi bersama Sai tadi, ayo kita makan malam. Aku lapar."

"Huum, aku ingin menata meja makan dulu. Sebentar, ya." Hinata beranjak menuju dapur, helai nila panjang yang diikat lemas ke bawah bergoyang lembut. Dapur dan meja makan mereka yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempat mereka tadi, terkadang membuat Naruto sesak karena belum dapat memberikan segala nan terbaik. Apartemen sejak zaman bujang yang luasnya tak seberapa dan penuh kekurangan. Namun, bukan Uzumaki Naruto namanya jika tak akan berusaha. Hinata suka merawat tanaman, Naruto juga—mungkin rumah dengan taman akan sangat baik. Untuk hunian sampai tua dan membesarkan anak-anak yang akan dimiliki mereka nanti.

Aroma kari menggugah selera yang tiba-tiba muncul ketika penutup panci dibuka oleh Hinata, membuat pria itu sadar dari pemikiran masa depan. "Ah, aku akan membantu juga. Tunggu sebentar, Hinata."

•••

Hinata dan Lewah Pikir (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T(plus)

Warning(s): (semi) Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

•••

Masakan Hinata masih dan akan selalu memanjakan selera Naruto, masakan yang dapat membuat koki terbaik di dunia pun iri. Walaupun hanya sederhana—nasi, sup miso, dan potongan sayur juga daging dengan kare nan wangi. Pokoknya segala yang dimasak Hinata pasti dari hati. Hasil yang takkan mengkhianati.

"Hinata?" Hangatnya nasi pulen baru saja ditelan Naruto, kini Hinata tampak tak bergerak—seakan-akan memikirkan sesuatu. Sendok milik sang wanita hanya dibiarkan tergenggam di udara, tanpa menyendok apa pun. Wajahnya malah terlihat makin sendu, menunduk menatap kosong pada semangkuk kecil sup miso yang masih mengepul. Hinata yang sama sekali tak menjawab panggilan pelannya, jelas membuat Naruto khawatir. Diletakkannya sendok, bahkan pergerakan sang pria tak disadari, Naruto bangkit dan memeluk istrinya dari belakang kursi. "Hinata? Serius, ada apa?"

Hinata segera berbalik, dari wajah mereka yang sedekat ini—Naruto melihat segalanya. Manik kecubung pucat keperakan itu membesar, napasnya tertahan, dan bibirnya sedikit terbuka. Raut wajah penuh keterkejutan. Naruto merasa gemas untuk mengecup tubir Hinata, tetapi pria itu memiliki prioritas utama untuk memastikan keadaan istrinya saat ini. "N-Naruto-kun?"

"Hmmm? Kau tidak menyentuh makan malammu sama sekali, hanya bengong. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu, pasti tadi kau menangis bukan hanya karena bawang 'kan?" Naruto memang tidak terlalu suka basa-basi, lebih suka langsung pada inti—apalagi teruntuk hal sepenting ini. Hinata merupakan yang sosok terpenting baginya, dan akan selamanya begitu.

Hinata menghela napas, terlihat seperti mengakui kekalahan. Istrinya meletakkan sendok yang masih tergenggam ke atas piring nan masih penuh dengan nasi dan kare, tubir Hinata bergetar pelan. Membuat degupan khawatir Naruto makin tak tertahankan. "A-apa—"

"Apa?" Naruto membeo, berusaha sabar untuk mendengar lanjutan kata demi kata yang Hinata rangkai mati-matian. Wanita itu kini berbalik ke arahnya, duduk menyamping—membuat Naruto makin leluasa melihat segala dari rupa sang istri.

"—apa N-Naruto-kun benar-benar mencintaiku?" Pertanyaan itu tak terduga. Rasanya seperti diserang mendadak oleh musuh ketika hampir terlena dalam istirahat kala misi, melemas dirasakan sang pria.

Hening membumbung tinggi. Naruto merasa malu menghunjam diri. "K-kenapa tiba-tiba?"

"Hanya—" Hinata kembali diliputi keraguan. "—penasaran?"

Alis Naruto terangkat, pelukannya pada Hinata makin mengerat, bahkan sang Uzumaki kuning kini merendahkan posisi. Semata-mata ingin melihat dengan jelas seluruh ekspresi Hinata yang sekarang menunduk. Helai demi helai anak rambut di sekitar wajah manis istrinya itu, disampirkan Naruto ke belakang telinga. Naruto benar-benar ingin melihat segala dari Hinata walau harus melepaskan pelukan hangat itu sementara, menggantinya dengan genggaman yang terasa makin nyata akan seluruh rasa. "Kita sudah sejauh ini dan kau baru mempertanyakan hal itu?"

"A-aku minta maaf," Suara Hinata memelan, hampir berbisik. Namun sendu malah makin menggila hadir pada wajah Hinata. Matanya berkabut akan air mata. Makin bergetar saja tubirnya. Kini menahan isakan yang sama sekali tak dimengerti sang pria. "L-lupakan saja."

Terjawab sudah. Dada Naruto agak sesak. Hinata masih mempertanyakan cintanya. Apa Hinata tadi menangis tentang hal ini? Benar-benar Naruto sedikit terluka dalam hati. Walaupun pria itu tahu bahwa istrinya tak bermaksud menyakiti hati siapa pun.

"Apakah aku ada salah denganmu, Hinata? Apakah perkataanku selama ini tidak menunjukkannya sama sekali? Kalau kamu merasa begitu, itu berarti bukan salahmu." Naruto dapat melihat luka dari tatapan Hinata, tetapi pria itu tahu bahwa kini wanitanya mengharapkan sebuah kepastian. "Sejujurnya, hingga detik ini, aku tak terlalu mengerti apa itu cinta, setiap orang punya pandangan berbeda yang tidak bisa kupahami seluruhnya. Tapi aku yakin, segalanya yang kurasakan padamu ini memang cinta. Jika tidak, lantas apa?"

"K-kata orang, laki-laki hanya jatuh cinta sekali dalam hidup mereka. Cinta pertama katanya paling berkesan dalam hidup manusia. Sisanya hanya sekadar melanjutkan hidup," Hinata sama sekali tak menjawab retoris Naruto, justru secara tak sadar telah menumpahkan setetes air mata—sang suami dengan sigap menghapusnya dengan hati-hati. Namun wanita itu kini malah tersenyum, lengkungan bibir yang benar-benar mengandung segala tulus dari hati. Naruto makin tak mengerti, tetapi sekali lagi—hatinya menjadi semakin nyeri. "Aku sering mendengar kata-kata ini dahulu, awalnya aku tidak mengerti—atau lebih tepatnya, tidak terlalu peduli. Namun, aku tidak bisa membohongi diriku lebih lama. Memang ada setitik rasa sakit, tetapi aku lebih merasa bangga. Meski aku tak tahu bagaimana perasaan terdalam dari dirimu, Naruto-kun. Aku hanya dapat berharap-harap semata."

Kembali kening Naruto mengerut, benar-benar tak memiliki pengetahuan akan arah pembicaraan istrinya. "H-Hinata? Apa maksudnya?"

"T-terima kasih, Naruto-kun." Hinata mengujarkan terima kasih tiba-tiba, walau tak dapat menahan kembali seluruh tangis. "Kau memilihku untuk menjadi teman melanjutkan hidupmu dengan segala kekuranganku, aku benar-benar merasa bahagia dan berharga. Walaupun aku bukanlah pemilik perasaan penting yang akan selalu merajai hatimu, tetapi izinkanlah aku untuk berusaha menjadi teman seumur hidup yang baik. Aku akan berusaha menjadi—jika istilah ini memang ada—cinta terakhir dalam hidupmu, kuharap juga yang sejati. Maaf kalau terkesan egois."

Dipandangi Naruto wajah Hinata yang kini memerah, bukan merona malu seperti biasanya. Sang pria Uzumaki mencerna kata demi kata yang dilontarkan Hinata. Pemilik manik sebiru safir itu kemudian menyadari sesuatu, setelah hening kembali mereka rasakan agak lama.

Naruto saat ini benar-benar menyadari kerisauan istrinya. Hinata yang tengah galau entah apa sebabnya.

"Hinata, aku pernah berkata padamu setelah misi penyelamatan Hanabi. Aku yang baru menemukan jawaban pertanyaan Iruka-sensei saat kita masih berada di akademi. Pertanyaan yang itu—jika dunia berakhir, dengan siapa aku ingin menghabiskan waktu? Aku telah menemukan jawaban terbaik, ya—kamu. Aku ingin kita menua bersama, aku ingin kamu tetap berada di sisiku sampai dunia berakhir." Naruto membawa telapak tangan mungil milik Hinata untuk dikecup penuh sayang. "Dan sekarang, aku punya tujuan lain juga."

"T-tujuan lain?" Naruto mengangguk serius ketika kini Hinata melontarkan pandangan penuh tanya.

"Keinginanku tadi rasanya terlalu singkat, hanya terfokus pada dunia yang fana. Aku ingin bersama denganmu, selamanya. Jika kita mati nanti, kalau memang kehidupan setelah kematian ada—aku ingin tetap memelukmu erat di alam itu, bolehkah?

"Atau jika kita harus direinkarnasi—aku tetap ingin menjadi suamimu, walau sesulit apa pun itu. Bolehkah aku tetap bersama denganmu di kehidupan yang baru nanti—kalau memang ada? Namun, jika malah selama ini tak ada apa pun yang menanti setelah kematian, berarti sejarah akan menyebutkan bahwa aku adalah pria paling bahagia di semesta karena terikat dengan seorang Hinata. Bolehkah aku menganggap diriku begitu?"

Panjang bagai deklarasi, ya, memang deklarasi penting dari Naruto untuk Hinata. Safir bertemu kecubung pucat, langit siang cerah bertemu penguasa langit malam—bulan purnama. Hinata dengan masih berkabut mengangguk pelan, tetapi masih dan makin menghunjamnya pula dengan segala tanya. "K-kenapa aku?"

"Karena hanya kamu, Hinata. Hanya denganmu aku merasakan jantungku ingin meledak tiap kali aku memikirkan hubungan kita berdua, hanya denganmu aku merasakan segala afeksi hangat yang melimpah ruah bersamaan dengan kasih sayang, hanya denganmu pula aku ingin merasakan segala suka maupun duka. Kamu lah yang membuatku menjadi segila ini, tetapi aku sangat bahagia karenanya." Naruto tersenyum tipis, tetapi mengusahakan agar segala emosi dari seluruh kalimatnya dapat ditangkap dengan jelas oleh sang wanita.

Naruto sama sekali tak berbohong dengan segala perasaannya saat ini, pun takkan pernah begitu. Kali ini, jemari sang pria memilih untuk menangkup wajah istrinya. Seluruh tindakan Naruto saat ini sarat akan segala afeksi. "Sekali lagi, jika semua itu menurutmu bukan cinta. Maka, tak apa—mulai detik ini, aku akan menunjukkan segalanya yang kurasakan padamu, Hinata. Karena lagi-lagi, hanya kamu dan anak-anak kita nanti lah harta berharga bagiku—bagi diriku seorang—dari seluruh apa pun yang ada di dunia ini. Aku bersyukur kamu hadir di hidupku, Hinata. Terima kasih banyak, Istriku."

Bisikan itu memanjang, tak luput Naruto mengambil sejumput helai nila serupa malam cerah itu untuk dikecupinya. Merah memang masih hadir pada wajah Hinata, tetapi lebih terasa hidup—rona malu yang membuat Naruto kini benar-benar merasa lega. Mereka hanya perlu bicara empat mata. Entah apa yang mengawali ini semua, tetapi Naruto mulai tersenyum pula ketika melihat anggukkan pelan Hinata. "Entah kau akan percaya atau tidak kali ini, tapi aku benar-benar mencintaimu, Hinata. Aku mencintaimu. Aku tidak peduli dengan cinta pertama, terakhir, sejati—atau apa pun yang mereka bilang. Yang kutahu, aku hanya mencintai Uzumaki Hinata seorang. Mungkin juga dengan anak-anak kita nantinya. Tolong, jadilah egois dalam mencintaiku—karena aku juga sama. Aku yakin kamu diciptakan Kami-sama hanya untukku, punyaku."

Seluruh curahan hati Naruto dalam menjawab kerisauan itu terlontar, diakhiri oleh ciuman yang diinisiasi sang istri secara tiba-tiba. Hari ini terasa banyak kejadian mendadak, tetapi tak mengapa karena Naruto ialah ninja yang penuh kejutan pula. Ciuman itu dibalas manis dan dalam oleh sang pria.

"A-aku mencintaimu, Naruto-kun."

Hinata milik Naruto telah kembali. Rona yang benar-benar hidup telah muncul lagi di pipi.

"Aku tahu, Hinata. Karena aku lebih-lebih—mencintaimu juga."

"M-maafkan aku, entah mengapa akhir-akhir ini emosiku tidak terlalu stabil." Hinata berusaha menghentikan air matanya sendiri. Wanita itu menutupi wajahnya, entah sangat malu atau merasa apa. "A-aku benar-benar tidak tahu kenapa, tiba-tiba kepikiran begitu sejak kamu pergi misi kemarin. Hampir tiap malam pemikiran aneh dan berlebihan itu muncul, dan aku jadi sedih sendiri. Maafkan aku, Naruto-kun. Sekali lagi, maafkan aku jadi terkesan meragukanmu."

"Tidak apa-apa, Hinata. Sumpah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kaget karena terasa tiba-tiba." Naruto mengedipkan mata tiga kali dalam senyap singkat. Pria itu lagi-lagi baru menyadari sesuatu. Hinata yang tadi mempertanyakan cintanya memang sedikit menyakitkan, tetapi Naruto baru menyadari emosi yang terkandung dalam obrolan mereka tadi.

Cemburu. Kini Naruto lah yang memerah. Hinata mengungkapkan kecemburuannya langsung, membuat Naruto merasa benar-benar sangat berharga.

Apa penyebabnya? Entahlah, Naruto tak terlalu yakin. Semenjak menyadari perasaannya sendiri dan perasaan Hinata, pria itu tak lagi menggubris gadis lain hingga detik ini. Mungkin Naruto memang masih berbicara, hanya sekadar menunjukkan kesopanan belaka. Teman-teman puan sang pria bahkan telah dikenali semua dan diketahui segala kedekatannya oleh Hinata. Lagi pula, bagaimana bisa Naruto melihat perempuan lain lagi ketika segalanya tentang Hinata selalu muncul pada setiap aktivitasnya? Saat misi—jelas pria itu merindukannya; saat belajar penyetaraan jounin juga tata pemerintahan terbayang suara lembutnya; saat tidur pasti memimpikannya; saat makan kepikiran apakah Hinata menikmati sajiannya apa tidak—pokoknya apa pun yang Naruto lakukan selalu saja terdapat ruang nan diisi oleh sang wanita berhelai nila. Dan hanya Hinata seorang, tidak ada yang lain lagi. Naruto sudah dibuat gila akan dan oleh Hinata.

"Naruto-kun?"

Entah pada siapa atau karena apa Hinata cemburu saat ini, Naruto akan membuktikan bahwa hanya istrinya saja yang menjadi seluruh dari semesta si pria.

"Dan sekarang, aku merasa sangat senang. Kamu cemburu! Kamu cemburu untukku. Astaga, Hinata. Kenapa kamu bisa semanis ini?" Dicubitnya gemas pipi gembil milik sang istri sebelum mereka kembali menyatukan tubir dan napas. "Sedekat apa pun dengan perempuan lain, betulan deh—hanya kamu yang ada di hatiku, Hinata. Hanya kamu yang buat aku berpikir aku telah gila karena terbayang akan dirimu sepanjang waktu. Hanya Uzumaki Hinata yang membuat Uzumaki Naruto ingin selalu bersatu dengannya."

Naruto menyeringai, mengira bahwa mereka akan segera pergi menuju kamar keduanya. Tiba-tiba pria itu ingin bercinta gila-gilaan dengan istrinya. Meninggalkan nasi, kare, dan sup miso begitu saja di atas meja. Namun belum sempat pria itu menggoda lebih jauh, Hinata sekonyong-konyong—muntah, mengenai bajunya. Menghunjamnya dengan cairan isi perut—walau hanya air belaka—begitu saja. Tanpa aba-aba maupun tanda sebelumnya.

"M-maaf, N-Naruto-kun!"

"Selamat Naruto, Hinata! Kalian akan jadi orang tua." Suara Tsunade yang tengah mengunjungi rumah sakit Konoha itu sarat akan bahagia, pekikan Sakura murid nan melanjutkan perjuangan gurunya dalam ruangan yang sama dengan mereka sarat akan euforia pula.

Jika Hinata tidak muntah malam itu, dan kalau pula Naruto tidak memaksa wanitanya untuk pergi melangkahkan kaki kemari—mereka tidak akan akan dikejutkan oleh sebuah kabar yang luar biasa. Kabar yang lagi dan lagi—terasa tiba-tiba, seketika, mendadak begini.

.

.

.

Selesai?

.

.

.

"Oi, Naruto..."

Hinata diboyong oleh Sakura dengan rasa bahagia keluar ruangan periksa. Naruto yang masih tak percaya dengan apa nan didengarnya tadi berjalan lambat di belakang mereka. Sebelum pria Uzumaki itu benar-benar keluar dari sana, Tsunade memanggilnya.

"Ya, Baa-chan."

"Sekali lagi selamat," Tsunade masih mempertahankan senyum, sebelum mengubah ekspresinya seketika. "Dan—aku tak tahu apakah Hinata akan mengalaminya atau tidak—berjuang."

"Berjuang?" Tanpa sadar sebelah alis Naruto terangkat, wajahnya penuh tanya.

"Para Ibu hamil biasanya akan mengalami morning sickness atau night sickness—mual dan muntah di pagi atau malam hari. Itu terjadi hampir pada setiap Ibu hamil pada trimester pertama, mungkin Hinata bakal susah makan—tetapi sebagai suami dan calon Ayah, kau harus memastikan Hinata terpenuhi semua nutrisinya." Wajah serius mantan Hokage kelima itu membuat Naruto merasakan bahwa ini sebuah perintah. Sebenarnya, tanpa diperintah seperti apa pun—Naruto jelas akan melakukan seluruh kewajibannya.

"Tentu saja. Tanpa disuruh pun, aku bakal memastikan istri dan anakku sehat, Baa-chan." Bibir Naruto menyungging penuh determinasi nyata.

"Bukan hanya itu saja, Naruto. Ada sesuatu—yang mungkin bisa terjadi, tetapi bisa juga tidak pada Hinata. Biasanya wanita hamil akan jauh lebih sensitif—emosinya tidak stabil, dan juga sering lewah pikir. Kau harus mendukung dan membantu Hinata dalam menjalani kehamilannya. Kau harus benar-benar perhatian dengan istrimu, manjakan dia. Kau mengerti?"

Rupanya Tsunade benar-benar belum selesai dengan seluruh wejangan, Naruto agak jengah karena dirinya benar-benar tertinggal dari Hinata. Namun terdapat pula hal-hal yang menarik perhatian Naruto dari seluruh perkataan wanita tua dengan fisik muda itu. "U-uh, lewah pikir?"

"Itu artinya berpikir berlebihan tentang apa saja, ya, jatuhnya jadi lebih emosional juga. Memikirkan apa pun yang kadang sepele secara berlebihan, hingga dapat berasumsi sendiri juga. Overthinking."

"Apa saja? Masa penyebabnya apa saja? Apa saja itu apa?" Naruto kembali menghunjam Tsunade dengan tanya yang mengorek.

"Penyebabnya bisa apa saja, Gaki. Kan tadi sudah kubilang. Pokoknya semua hal di dunia ini bisa jadi pemantik lewah pikir Hinata nanti. Bisa dari hal-hal sepele maupun yang dalam, masalah-masalah tertentu, kekhawatiran—atau tak sedikit juga pikiran acak yang terlintas di kepalanya tentang suatu hal dengan tiba-tiba. Aduh, intinya kau harus menjaga Hinata dan calon anakmu baik-baik!"

Uzumaki Naruto terdiam sejenak sebelum menyadari sesuatu yang benar-benar penting.

Astaga, pria itu kemudian tersenyum lagi—kali ini bak orang tolol. Kening Tsunade berkerut melihatnya.

"Apa yang kaupikirkan?" Suara dari orang yang telah Naruto anggap bak nenek sendiri itu menyentaknya kembali kepada realita.

"Astaga! Berarti yang semalam itu Hinata sedang lewah pikir! Lewah pikirnya jadi cemburu? Aaaa, jadi ini nyata? Aku benar-benar bakal jadi Ayah?! Astagaaa, tunggu aku, Hinata-sayangggg!"

Tak menjawab Tsunade, pria Uzumaki itu lebih memilih untuk berlari kesenangan mengejar istrinya dengan hati yang berbunga.

•••

Catatan penulis:

Lewah pikir adalah padanan kata dari overthinking.