ダイヤのA (c) Terajima Yuuji
Half-Blood (c) Aiko Blue
"Berhenti menatap, Miyuki." Desis Kuramochi yang berdiri di sebelahnya sambil menyortir peralatan tempur. "Aku tahu kau itu Putra Hermes dan sifat dasarmu adalah jail, tapi jangan."
Kazuya nyengir. "Aku cuma penasaran." Ia berkata, melirik sekali lagi ke arah subjek yang sedang mereka bicarakan. "Bukankah dia terlalu tua?"
Kuramochi memandangnya dengan alis berkerut. "Anak itu baru lima belas tahun." Kuramochi mengatakannya seolah Kazuya bodoh. "Dan kita enam belas tahun. Kita lebih tua darinya."
"Maksudku," Kazuya menghela nafas. "Dia terlalu tua untuk bergabung dengan Perkemahan. Biasanya anggota yang baru tiba maksimal berumur 12 tahun, kita bahkan masuk Perkemahan saat umur sepuluh."
Kuramochi tidak menanggapi, tampaknya sedang mempertimbangkan dia hendak memakai tombak atau pedang. Kazuya memakai kesempatan itu untuk merapat lebih dekat dan berbisik. "Dan lagi, dia bahkan sudah tau siapa orang tua dewatanya. Bukankah ini aneh?"
Kuramochi memutar mata dengan muak. "Tidak aneh. Tapi bisa kusimpulkan anak itu pasti lumayan jago." Kuramochi berkata bulat, melirik ke arah subjek mereka sekali lagi lalu memberi Kazuya tatapan keras. "Entah jenis monster apa saja yang sudah dihadapinya seorang diri, dan dia mampu bertahan sampai lima belas tahun tanpa pelatihan dari Chiron."
Kemudian Kuramochi melemparkan sebuah pedang ke arah Kazuya yang untungnya bisa Kazuya tangkap tanpa melukainya. "Berhenti menggosip soal anak baru, dan mulailah persenjatai dirimu! Kita bakal mulai lima belas menit lagi."
Kazuya menatap pedang di tangannya dengan enggan. "Kau tau, aku sudah mempersiapkan banyak senjata yang lebih praktis."
Kuramochi mendengus. "Maksudmu jebakan yang lebih praktis?"
Kazuya tersenyum sambil menyikut temannya. "Ayolah, bukan salahku kalau ayahku Hermes, dan lagi pula kau suka trik terakhirku."
Kuramochi terpingkal. "Harus kuakui humormu kadang memang bagus. Tapi kali ini sebaiknya kau lebih waspada," Kuramochi mengarahkan dagunya ke suatu tempat. "Azuma mempersenjatai dirinya dengan gada kali ini."
Kazuya mengikuti arah yang ditunjuk Kuramochi dan mau tak mau merasa agak ngeri. Azuma bertubuh begitu besar, dan sedang mengangkat gada tinggi-tinggi ke udara, gagang gada itu kira-kira sebesar paha Kuramochi. Tidak salah lagi, jika Kazuya lengah dia pasti akan digeprek sampai mati.
"Aku tau kau temanku, tapi aku akan kabur kalau sampai kita berdua harus berhadapan dengan Azuma hari ini." Kata Kuramochi, menyeringai dengan jahat yang membuat Kazuya girang bukan main.
Kazuya memaksakan senyuman. "Kau Putra Iris, kakimu cepat, dan kau akan menggunakan kaki itu untuk meninggalkanku. Hore!" Ujar Kazuya sarkas, ia lalu memakai helm tempurnya dan bersama Kuramochi berjalan menuju barisan di mana tim biru mulai berunding.
...
Chris selesai menjabarkan rencana, dan seperti biasa, rencananya selalu sempurna. Putra Athena itu membuat Kazuya optimis menang kali ini. Chris bukan hanya pandai siasat, tapi juga mampu menempatkan orang-orang sesuai kemampuannya, tidak ada satupun yang protes pada rencana Chris.
"Dan Miyuki," Chris menoleh padanya, tersenyum dengan penuh arti. "Aku akan senang kalau kau punya beberapa trik bagus lagi. Tentunya, yang tidak mematikan. Karena kita tidak boleh membunuh sesama demigod anggota Perkemahan."
Kazuya menyeringai senang. "Oh tentu, kita demigod baik, tidak boleh saling bunuh. Tapi membuat gosong sedikit, sepertinya tidak apa-apa." Tim biru saling tertawa seolah menyepakati bahwa mereka agak gila.
"Dan, um.. Sawamura?"
Tawa berhenti seketika, dan keadaan menjadi hening. Semua mata kini memandang pada Sawamura Eijun, Si Anak Baru.
"Kau pernah bertempur secara tim sebelumnya?"
Sawamura menggeleng kuat. "Aku bahkan baru tau minggu lalu kalau di dunia modern ini ada demigod lain."
Satu alis Kazuya terangkat tinggi, dia melirik pada Kuramochi, Serius?
Kuramochi memelototinya, Tutup mulut!
"Oke," kata Chris lagi, tampak tenang dan bijak. "Bisa kau gambarkan sedikit apa kemampuanmu?"
Awalnya Kazuya mengira Sawamura akan tampak tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Tapi ternyata anak itu malah tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya lalu berteriak. "AKU BISA MEMBUAT PANEN LEBIH CEPAT!"
Selama tiga detik tidak ada yang merespon, tampaknya terlalu kaget dengan teriakan menggelegar Sawamura. Kemudian tawa pecah, bahkan Kuramochi terpingkal begitu keras sambil memegangi perutnya.
"APA YANG SALAH DARI MEMPERCEPAT PANEN!?" Pekik Sawamura. "ITU BERMANFAAT! SEJUTA PERSEN AMAT BERMANFAAT!! KAU JADI TIDAK PERLU MENUNGGU LAMA!"
Baiklah, Kazuya memutuskan bahwa Sawamura lucu dan tidak berbahaya. Karena demigod yang bertani tentu terdengar cukup ramah.
"KALIAN TIDAK PAHAM BETAPA PENTINGNYA MASA PANEN—"
"Oke, oke." Potong Chris tegas dan ramah, ajaibnya Sawamura bisa langsung diam. "Kemampuanmu sangat baik dan bermanfaat, Sawamura. Terima kasih sudah menjelaskan."
Bibir Kazuya berkedut-kedut menahan geli. "Tentunya akan lebih bermanfaat jika kita ingin membuat perusahaan roti gandum."
"KAU!" Sawamura memelototinya dengan galak sambil menunjuk wajahnya. "SIAPA KAU?!"
Kazuya justru nyengir sambil melambai-lambai. "Miyuki Kazuya, Putra Hermes."
"KAU SANGAT—"
"Menyebalkan. Iya, kan?" Kuramochi tahu-tahu sudah berdiri di sebelah Sawamura dan merangkul bahunya dengan akrab. "Begitulah Miyuki, kau boleh menghajarnya sampai puas nanti, aku bersedia membantu."
"Sungguh setia kawan, Mochi."
Kuramochi mengabaikannya, dia terus bicara dengan Sawamura. "Tapi sekarang, kita satu tim, dan kita harus bekerja sama. Omong-omong, aku Kuramochi Youichi, Putra Iris." Dia menjabat tangan Sawamura dan tersenyum miring. "Salam kenal, Putra Dementer."
Eijun belum punya kesan yang baik tentang Perkemahan Blasteran. Tentu saja, saat pertama kali ibunya bilang bahwa ada anak-anak seperti Eijun yang berlatih dan bermukim di sebuah Perkemahan, dia sangat antusias. Selama ini Eijun mengira dialah satu-satunya demigod di era modern, demigod lainnya hanya hidup di jaman dahulu seperti Hercules, Jason, Perseus, dan masih banyak lagi. Dia kira, para dewa-dewi sudah berhenti tertarik dan berhubungan dengan manusia, dan ayahnya adalah satu-satunya manusia dalam ratusan tahun terakhir yang mampu memikat seorang dewi. Tapi ternyata Eijun salah.
Faktanya ada lebih dari tujuh puluh demigod lain di sini, dan bahkan ada belasan anak lain dari Pondok Dementer, yang berarti Eijun punya saudara-saudara tiri. Kenyataan ini membuatnya seketika pusing dan ingin kembali ke rumah, membantu ayahnya merawat tanaman sorgum. Tapi dia tidak bisa, Dementer telah memberitahu bahwa Eijun sudah cukup usia dan harus mendapat pembinaan khusus dari Chiron agar bisa hidup lebih lama. Ha! Bayangkan ibumu mengirimmu ke perkemahan agar hidupmu lebih lama! Bukankah kedengarannya aneh? Tapi Eijun sudah terbiasa dengan keanehan.
Masalahnya di sini, segalanya terlalu aneh. Banyak makhluk-makhluk mitologi yang bahkan belum Eijun tahu namanya. Terlebih lagi, para demigod hidup berdampingan dengan mereka semua seolah itu hal normal. Lagi pula, jenis perkemahan macam apa yang merayakan bergabungnya anggota baru dengan berperang?
Oke, mungkin mereka tidak benar-benar berperang, tapi jelas ini bukan permainan tangkap bendera biasa. Sebab, masing-masing telah mempersenjatai diri dengan pedang, panah, gada, tombak, belati, kapak, dan senjata-senjata lainnya yang sudah pasti tidak lulus deteksi logam. Mereka bahkan wajib memakai tameng dada dan helm tempur, terlebih lagi sesaat sebelum mulai, Chiron bilang "Pokoknya jangan sampai mati." APA ITU NORMAL?!
Tapi di antara semua hal yang membuatnya pusing, yang terparah adalah Eijun harus terjebak bersama dengan duo Miyuki-Kuramochi, Putra Hermes dan Putra Iris. Kuramochi kelihatan seperti anak SMA yang sering nongkrong di gang, menunggu anak lain lewat dan memalak uang saku mereka. Sedangkan Miyuki sekilas tampak seperti salah satu anak yang bakal dipalak Kuramochi.
"Jadi," Eijun berkata. "Coba jelaskan kenapa kita malah tengkurap di semak-semak alih-alih menghajar tim merah atau apalah?"
Miyuki terkikik. "Sabar, Anak Baru. Aku tau kau sangat ingin membuat seseorang muntah gandum dan sebagainya."
Eijun memberi Miyuki tatapan membunuh.
"Kita punya tugas bagus." Kuramochi berkata sebelum Eijun membunuh Miyuki. "Kita berjaga di sini, berkamuflase, lalu yah... mengerjai siapapun tim merah yang mencoba lewat. Miyuki sudah memasang beberapa jebakan, dia licik dan itu bagus."
"Apa kau memujiku?" Dengus Miyuki.
"Jadi kita cuma bakal menjebak mereka dengan trik licik? Tidak ada pertarungan? Huh! Terdengar pengecut!"
Kuramochi menyeringai lebar sekali hingga Eijun takut pipinya bakal terbelah. "Rupanya kau seorang petarung, eh?"
Miyuki mendengus lagi. "Baiklah, Anak Barbar."
"Jangan panggil aku Anak Barbar!"
"Kita akan menyerang mereka kalau jebakannya sudah habis. Aku yakin akan ada cukup demigod untuk kau hajar jika itu memang maumu. Tapi untuk sekarang, biarkan trik-trik milikku bekerja dan tenaga kita bisa lebih hemat."
Eijun masih ingin berdebat, tapi suara derap kaki membuat mereka bertiga sontak diam dan menunduk lebih dalam ke semak-semak. Akhirnya ada yang datang!
Eijun menyipitkan mata, dia melihat ada tiga demigod dari tim merah berlari-lari sambil mengamati sekeliling, dua diantaranya membawa pedang, satu lainnya membawa tombak.
"Oh, ini pasti bakal asyik." Miyuki cengar-cengir, dan Eijun bisa melihat jelas kelaparan yang aneh di kedua matanya. Kemudian dia menatap Eijun dan berkata, "tutup telingamu."
Eijun menutup telinganya, tak lama kemudian seseorang di antara tiga tim merah itu menginjak sesuatu, lalu terdengarlah suara teriakan melengking, dan disusul dengan suara petasan beruntun. Tiga demigod tim merah tampak linglung dan panik karena puluhan petasan tiba-tiba meledak di kaki mereka.
"INI PASTI ULAH MIYUKI!" salah satu di antara mereka berkata.
"MIYUKI SIALAN!"
Mereka mencoba menginjak-injak petasan itu tapi begitu berhasil terinjak, petasan itu meluncurkan bola-bola sebesar kelereng yang kemudian meledak menjadi lumpur di wajah mereka.
"KAU PASTI BERCANDA!!"
Ketiga demigod itu kembali berlari ke arah mereka datang, menandakan jebakan pertama sukses.
"Oke, itu boleh juga."
"Aw, apa kau mulai menyukaiku, Sawamura?"
"TIDAK!!"
Miyuki terkekeh-kekeh. Tak lama kemudian anak-anak lain dari tim merah kembali muncul, dan kali ini mereka terkena jebakan gas super bau. Selanjutnya anak-anak lain terkena jebakan entah-apa-namanya tapi saat mereka berlari mundur suara mereka telah berubah menjadi suara babi. Eijun tidak tau berapa banyak jebakan yang Miyuki pasang, tapi mereka sudah berhasil menghalau sekitar dua puluh demigod tanpa berkeringat sama sekali. Barangkali, Putra Hermes tidak seburuk itu.
"Baiklah, teman-teman, yang tadi itu jebakan terakhir. Pokoknya siapa pun yang lewat setelah ini, harus kita hadapi dengan tenaga sungguhan."
Eijun nyaris berkata yaaah, kemudian dia sadar bahwa dia punya harga diri lebih dari sekadar mengerjai lawannya.
Mereka bertiga lantas bangkit berdiri dan memastikan tameng serta helm sudah terpasang dengan benar. Eijun menimbang-nimbang pedang di tangannya, mencari keseimbangan dan memutuskan bawa properti perkemahan tidak terlalu buruk.
"Kau kidal?" Tanya Kuramochi.
Eijun mengangguk. "Musim panas lalu, aku mulai mencoba berpedang dengan tangan kananku juga, tapi sepertinya keadaan di sini tidak genting-genting amat, jadi aku cuma akan pakai satu."
"Sombong." Dengus Miyuki. "Kupikir kau lebih mahir menggunakan cangkul atau bajak."
"Tutup mulutmu, Miyuki Kazuya!"
"Atau apa? Kau bakal membuatku diserang brondong jagung?"
"HEI! BERHENTI MENGEJEK BAKATKU!"
"Teman-teman, ada yang datang!"
Mereka menoleh secara bersamaan. Tiga orang demigod dari tim merah muncul bersama kereta yang harusnya mustahil bisa berjalan tanpa ditarik kuda, tapi nyatanya bisa.
"Oh, hebat." Gerutu Kuramochi. "Tepat ketika jebakan Miyuki habis, kita justru harus berhadapan dengan Mei."
Eijun masih memandangi kereta itu dengan terkesima. "Kenapa mereka boleh pakai kereta?"
"Tidak ada yang melarang." Miyuki angkat bahu. "Kita boleh membawa perlengkapan tambahan kalau itu buatan sendiri. Sama seperti jebakan-jebakanku."
Eijun membeliak. "MAKSUD KAU KERETA YANG BAGUS ITU BUATAN DEMIGOD SINI?!"
"Sudah pasti itu buatan Tadano Itsuki, Putra Hephaestus." Jawab Kuramochi.
Eijun baru hendak bertanya mana yang bernama Itsuki, tapi kereta telah sampai tepat di hadapan mereka. Tiga demigod berdiri di atas kereta, satu di antaranya tampak begitu mencolok karena berada di tengah, dan langsung membuka helm hingga Eijun bisa melihat jelas rambut pirangnya berkilau, matanya biru cemerlang, anak panah dan busur tersampir di bahunya, sekali lihat saja Eijun yakin kalau dia pasti Putra Apollo.
"Salam kenal, Putra Dementer!" Si Pirang berkata ceria sambil memandang Eijun. "Aku Narumiya Mei, Putra Apollo. Sayang seribu sayang, aku harus menghadiahimu dengan kekalahan hari ini." Kelakarnya penuh percaya diri.
"Mei, pidatonya nanti saja." Satu orang lain bicara, kulitnya gelap, dan dia tampak sangat percaya diri karena tidak memakai tameng dada, dia bahkan tidak memakai baju!
"Carlos, bukankah Chiron bilang tameng dada itu wajib?" Tanya Kuramochi.
"Ya, tapi badanku bagus! Sayang kalau ditutupi."
Eijun melirik bergantian pada Kuramochi dan Miyuki, kenapa mereka aneh banget?
Tiba-tiba Kuramochi memasang kuda-kuda dan mengangkat pedangnya. "Ayolah, kita mulai saja!"
"Ide bagus!" Mei tepuk tangan ceria dan memakai kembali helmnya. Sedetik kemudian suara denting pedang beradu tepat di telinga Eijun.
Kuramochi berhadapan dengan Carlos yang membawa kapak. Miyuki berhadapan dengan satu demigod lain yang sepertinya Itsuki, dan Eijun terpaksa harus berhadapan dengan Mei. Eijun tidak takut, secara postur Eijun bahkan sedikit lebih besar dari Mei. Dan melihat senjata Mei, Eijun menyimpulkan bahwa Mei tidak jago pertarungan jarak dekat, jadi dia menerjang ke arah Mei.
Tapi Mei dengan cepat menarik busurnya dan menembakkan anak panah ke arah Eijun, insting Eijun bekerja cepat dan menghindar. Eijun nyaris tertawa sombong karena berhasil, tapi kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Anak panah itu entah bagaimana justru terus terbang menuju ke arah Eijun.
"Apa-apaan..."
"Panahku akan terus mengejarmu sampai setidaknya, berhasil menggoresmu, Sawamura. Itulah kenapa bidikanku tidak pernah meleset."
"YANG BENAR SAJA!!"
Eijun berlari menghindar kemudian memutuskan untuk menghadapi anak panah hidup itu dan melawannya dengan pedang. Tapi anak panah itu gesit bukan main, dan Eijun jadi tampak konyol karena melawan sebilah bambu.
"Salah satu karyamu lagi, Tadano?"
Eijun menoleh, tahu-tahu dia sudah berdekatan dengan Miyuki yang sedang melawan Itsuki. Sementara itu anak panah Mei masih berusaha mengejarnya.
Itsuki tampak malu. "Bisa dibilang begitu."
"INI TIDAK ADIL!" Eijun protes lagi. "KAU TIDAK JAGO MEMANAH! INI CUMA KARENA PANAH AJAIB!"
Mei mengumpat-umpat padanya dengan tersinggung. Di sisi lain, Miyuki malah tertawa. "Oh, Sawamura. Bahkan tanpa alat-alat Tadano, Mei sudah jago memanah, dia memenangkan kompetisi panahan tingkat nasional."
"Kau dengar itu?!" Kata Mei berapi-api. "Aku bisa saja menembakkan anak panah lain ke jantungmu sejak tadi kalau mau."
Miyuki menangkis serangan Itsuki. "Seharusnya kita ada di tim yang sama, dengan bakatmu dan bakatku, kita pasti bisa menciptakan jebakan paling hebat dalam sejarah."
"Sekarang kau mencoba untuk menyabotase tim lawan? Licik sekali!" Kata Mei.
"Kenapa kau bahkan tahan berteman dengan Mei? Dia berisik dan sombong."
Eijun berhasil menangkap anak panah hidup itu dan menahannya kuat-kuat dengan tangannya. Kemudian dia menoleh pada Itsuki. "Namamu Tadano Itsuki? Hei, kereta itu bagus sekali. Kapan-kapan aku boleh coba naik?"
Miyuki mengumpat. "Demi Hades, Sawamura! Fokus!"
"AKU CUMA MEMUJI! BILANG SAJA KAU IRI KARENA JEBAKAN-JEBAKAN BUATANMU KALAH KEREN!"
Anak panah terlepas dari genggaman Eijun kemudian melesat dan merobek lengan atasnya, Eijun menjerit.
"Nah, sudah kubilang." Kata Mei lagi. "Aku tidak akan meleset."
Tepat setelah berhasil melukainya, anak panah itu jatuh ke tanah dan tampak tidak bernyawa. Eijun mendesis memegangi luka sobeknya, darah segar menetes-netes di antara daging yang terbelah.
"Mei!" Bentak Itsuki.
"Bukan salahku!" Mei membela diri. "Aku tadi mengincar kakinya, cuma luka kecil, tapi dia malah menangkis dan lari-lari sampai akhirnya luka begitu!"
Itsuki menghela nafas. "Panah nomor empat."
"Sekarang?! Ya ampun ini bahkan baru sebentar!"
"Mei,"
Mei memutar mata. "Oh, baiklah! Hanya karena aku kalah taruhan, aku akan menurutimu, Itsuki! Setelah ini jangan harap!"
Lantas Mei menarik satu anak panah lagi, merentangkan busurnya dan menembak ke langit. Selama sedetik, tidak ada yang terjadi, kemudian panah itu meledak menjadi jaring dan jatuh tepat di atas Eijun dan Miyuki, memerangkap mereka dan menggantung mereka ke pohon.
Eijun membentur wajah Miyuki dan membuat kacamatanya retak. Hal itu membuat Eijun agak kecewa karena dia berharap Miyuki bakal mimisan juga. Eijun segera menggunakan pedangnya untuk memotong jaring, tapi tidak berhasil.
"Idiot, ini bukan tali biasa." Kata Miyuki, tampak jengkel.
"LEPASKAN AKU!" Teriak Eijun murka. "INI CURANG!"
Mei mengabaikan Eijun sepenuhnya dan cemberut pada Tadano. "Kau menyebalkan! Sama sekali tidak tau cara bersenang-senang!"
"Iya," kata Itsuki sambil kembali naik ke kereta. "Aku menyebalkan dan tidak tau cara bersenang-senang."
"HEI! JANGAN MENGABAIKANKU!"
Mei berdecak. "Sudahlah! Ayo cari Carlos dan tangkap bendera birunya!"
"HEEEY!!!"
Mei dan Itsuki meluncur dengan kereta mereka, meninggalkan Eijun dan Miyuki yang terjebak jaring-jaring dan menggantung di pohon.
"AAAARGH!!"
"Berhenti berteriak, astaga." Desah Miyuki. "Kau membuat kita tampak semakin bodoh."
"AKU TIDAK BODOH!"
"Dan rambutmu tidak coklat."
"Apa? Eh? Rambutku masih coklat.."
"Kalau begitu kau masih bodoh."
"APA HUBUNGANNYA RAMBUT COKLAT DENGAN BODOH?! RAMBUTMU JUGA COKLAT!"
"Wah, kalian sudah akrab rupanya."
Eijun dan Miyuki menoleh bersamaan ke bawah. Kuramochi sudah di sana, mendongak memandangi mereka sambil tersenyum dengan bibir sedikit sobek. Tampak lebih kotor dari yang terakhir Eijun ingat, rupanya dia berhasil mendapat duel yang cukup seru dengan Carlos.
Miyuki memutar mata. " Simpan leluconmu untuk nanti, Kuramochi. Sekarang bantu aku dan anak barbar ini turun."
"SUDAH KUBILANG JANGAN PANGGIL AKU ANAK BARBAR!!"
"Wah, wah, wah, tiga demigod kecil ini tampaknya bersenang-senang."
Eijun tidak tau kalau di Perkemahan juga ada raksasa. Raksasa itu bertubuh besar dan gempal, tingginya barangkali dua meter, wajahnya seram, dan dia tidak memakai helm. Eijun yakin alasan dibaliknya adalah karena tidak ada helm yang muat untuknya.
"Azuma..." Miyuki berbisik di sebelahnya, pemuda itu memasang cengiran menjengkelkan, tapi Eijun bahkan bisa melihat bahwa Miyuki sedang memaksa otaknya memikirkan strategi.
"Miyuki," kata Azuma Si Raksasa sinis. "Akan kubalas perbuatanmu yang terakhir."
Serius? Bisakah situasi jadi lebih buruk dari ini? Tergantung di pohon bersama Miyuki Kazuya saja sudah buruk. Sekarang mereka harus menghadapi raksasa juga yang punya dendam pada Miyuki. Eijun mulai mempertanyakan kasih sayang Dementer padanya. Bagaimana bisa ibunya mengutusnya ke tempat ini?!
"Mereka tidak berdaya!" Kuramochi berseru. "Kalau ada yang harus kau hadapi, itu aku!"
Eijun harus akui dia kagum dengan keberanian Kuramochi. Tapi tubuh Azuma empat kali lipat tubuh Kuramochi.
"Baiklah, jika itu maumu, Putra Iris." Azuma mengangkat gadanya dan Eijun menahan nafas, tapi sesaat sebelum gada itu menyentuh Kuramochi, Putra Iris itu melesat seperti angin dan berlari menghindar.
"Tukang pamer." Kata Miyuki, tapi dia tersenyum dan tampak bangga pada Kuramochi.
Azuma terus mengejar, tapi kuramochi secepat angin dan selicin air, dia berhasil menghindar.
"Sawamura, terus awasi mereka dan jangan sampai Azuma melihat ke arahku." Bisik Miyuki. "Aku rasa, aku bisa melepaskan kita dari jaring-jaring ini, asalkan waktunya cukup."
Eijun mengamati Miyuki yang sedang mengeluarkan beberapa peralatan dari sakunya dengan alis berkerut. "Sejak kapan kau membawa itu semua?"
Miyuki menyeringai. "Oh, ini milik Tadano." Ia berkata bangga. "Berpedang dengannya selama beberapa saat, tentu saja aku tergoda dengan isi sakunya juga."
"Kau pencuri."
"Aku Putra Hermes, Sawamura. Ini bakatku. Dan aku tidak ingin dikuliahi soal moral olehmu."
"Aku tidak ingin menguliahi. Aku rasa... kerjamu cukup bagus."
Eijun hampir percaya diri bahwa rencana mereka akan berhasil ketika mendengar Kuramochi memekik. Azuma telah menangkap pergelangan kaki kanannya, dan membantingnya ke tanah, suaranya begitu keras hingga Eijun takut kalau tulang-tulang Kuramochi remuk.
"Aku muak dengan kau yang berlagak jadi The Flash!" Kata Azuma. "Akan kupatahkan kakimu sehingga kau tidak lagi bisa lari-lari."
"HEY! ITU KETERLALUAN! Eijun berseru. "Kau tidak boleh berbuat begitu kepada sesama demigod!"
"Chiron hanya bilang jangan saling bunuh." Kata Azuma, dia meremas pergelangan kaki Kuramochi erat-erat hingga Kuramochi menggerang kesakitan.
"HENTIKAN! KAU MENYAKITINYA!!!"
DUG!
Eijun oleng, Azuma baru saja menghantamkan gada ke jaring-jaring.
"KAU PIKIR AKU TIDAK MELIHATMU, MIYUKI?" Seru Azuma murka. "JANGAN HARAP KAU BISA MENIPUKU LAGI!"
Oh tidak! Eijun membatin panik, alat-alat hasil curian Miyuki kini berjatuhan ke tanah sebelum sempat memutus tali dengan sempurna. Azuma kian menjadi gila, dia memelintir pergelangan kaki Kuramochi dengan begitu kuat sambil terus menghantamkan gadanya ke arah Eijun dan Miyuki. Membuat Mereka tampak seperti kotak permen di acara ulang tahun anak.
Eijun mulai pusing dan badannya sakit di segala tempat akibat gada Azuma, sementara itu di bawah Kuramochi mengerang bersama dengan bunyi tulang patah. Miyuki tampak ingin mengatakan sesuatu padanya, dan Eijun tau pemuda itu punya rencana, tapi tiap kali Miyuki membuka mulut, Azuma menghantam wajahnya. Miyuki babak belur, kaki Kuramochi patah, dan Azuma bahkan tidak berhenti.
Maka, meledaklah amarah Eijun.
Kazuya bahkan tidak yakin apa yang terjadi. Seingatnya Sawamura berteriak keras, kemudian iris matanya yang keemasan berubah jadi hijau. Lantas ranting-ranting pohon di sekitar mereka memanjang dan menjangkau jaring-jaring, membelit seperti ular sebelum menarik hingga hancur berkeping-keping.
Kazuya jatuh ke tanah, tapi Sawamura melayang di udara. Matanya menjadi sangat hijau dan bersinar seperti lampu. Sawamura merentangkan kedua tangannya dan kemudian sulur-sulur bergerak di tanah seperti ular melata, membelit kedua kaki Azuma. Cabang-cabang pohon membelit kedua tangannya, tubuhnya, lehernya, lalu mengangkatnya ke udara. Azuma tampak seperti kepompong raksasa dengan sulur berduri menyemutinya. Pemuda itu mengerang kesakitan, tapi Sawamura tidak berhenti. Dua pohon yang sangat besar, bergeser di tanah dan mulai menjepit Azuma.
Kazuya begitu terpana hingga tidak mampu mencerna banyak hal. Kepalanya membunyikan sirine bahaya. Menyuruhnya kabur. Pergi sejauh mungkin. Tapi dia terpaku di tempat, sebagaimana Kuramochi yang juga bergeming.
Kemudian Chiron berderap ke arah mereka, Sang Centaurus meneriakkan nama Sawamura berulang-ulang, tapi Sawamura tidak merespon. Demigod lain mulai bermunculan, semua orang memanggil-manggil Sawamura tanpa hasil, bahkan charmspeak milik anak-anak Aprodhite tidak mempan pada Sawamura.
Tidak hanya itu, para demigod yang mencoba untuk mengalihkan perhatian Sawamura dengan cara menyerangnya juga tidak berhasil. Tiap kali senjata melesat ke arahnya, sulur-sulur menepis, mematahkan, bahkan menghancurkan senjata-senjata itu. Sawamura tidak tersentuh.
Akhirnya Chiron menarik anak panahnya, membacakan sebuah mantra dan membidik Sawamura. Tiga detik kemudian, Sawamura jatuh ke tanah.
Dari kejauhan, Mei muncul bersama Tadano dan Carlos, mengangkat bendera biru yang berhasil mereka rampas tinggi-tinggi. Tapi saat melihat kekacauan yang terjadi, dia tidak berkata apa-apa, dia tidak merayakan kemenangan timnya.
Kazuya bertukar pandang dengan Mei, dan dalam diam menyepakati; Sawamura Eijun ternyata berbahaya.
Eijun terbangun di sebuah ruangan berbau antiseptik. Ia mengerang dan mencoba duduk, tapi seseorang dengan cepat menahan dadanya dan mendorongnya dengan lembut untuk kembali berbaring.
"Santai, kau butuh istirahat."
Eijun menyipitkan mata untuk menatap orang itu. Seorang anak laki-laki, kemungkinan seusia dengannya, suaranya lembut, dan tatapannya hangat.
"Namaku Toujo, Putra Apollo." Katanya memperkenalkan diri. "Kau sedang di Pondok Apollo."
"Ugh, kenapa..."
"Nah, minum ini." Toujo memberikan segelas minuman padanya, dan Eijun minum dengan patuh, dia kira rasanya bakal pahit karena obat biasanya tidak enak. Tapi minuman ini sangat enak, dan lebih dari itu, rasanya menyenangkan. Rasanya seperti senyum ayahnya ketika panen mereka berhasil, atau seperti strawberry segar yang baru dipetik, atau seperti daging asap favoritnya, seperti selimut kesukaannya, perasaan yang memeluknya dan membuatnya aman. Tanpa sadar Eijun menghabiskan minuman itu.
"Enak?" Tanya Toujo.
Eijun mengangguk antusias. "Itu apa? Aku belum pernah minum yang seperti itu."
"Amborsia." Jawab Toujo sambil tersenyum. "Minuman para dewa. Untuk demigod seperti kita, minuman ini punya khasiat menyembuhkan. Nah, sekarang bagaimana perasaanmu?"
Eijun berkedip, meraba-raba tubuhnya. "Eh? Kurasa lebih baik? Aku merasa sehat."
"Bagus." Toujo tersenyum puas.
"Ugh, kau seperti dokter."
Toujo tertawa kecil. "Aku anak Apollo, salah satu bidang Apollo adalah medis, aku mewarisi bakatnya yang itu."
"Aku suka dokter, aku benci pemanah."
Toujo meringis. "Kau sedang membicarakan Mei, ya?"
Eijun angkat bahu.
"Nah, Sawamura. Boleh aku tanya, apa yang terakhir kau ingat sebelum kau tiba di sini?"
Eijun mencoba berpikir. Apa yang terjadi? Dia ingat terjebak di jaring bersama Miyuki, dia ingat erangan kesakitan Kuramochi dan tawa menyebalkan Azuma, Eijun ingat di marah. Tapi apa yang terjadi?
Toujo menyentuh kening Eijun dan rasanya menyenangkan. "Tidak apa-apa, selain itu aku tidak mendeteksi luka serius pada dirimu. Kau boleh istirahat di sini dulu kalau mau."
"Miyuki dan Kuramochi bagaimana?" Tanya Eijun, menolak mengakui kalau dia khawatir.
"Mereka baru keluar dari sini sepuluh menit lalu. Mereka baik-baik saja, berkat sedikit amborsia, obat-obatan, dan bakat medis anak-anak Apollo, mereka sudah sehat kembali." Toujo menjelaskan. "Dalam permainan tangkap bendera, biasanya memang ada selusin demigod yang patah tulang."
Eijun meringis. Jadi ini normal untuk mereka?
"Aku yakin Kuramochi dan Miyuki pasti sedang kewalahan sekarang. Para pekemah menyerbu mereka dengan pertanyaan ini-itu." Toujo tersenyum geli. "Jadi sebaiknya kau di sini saja dulu, biarkan mereka yang pusing."
Mau tak mau Eijun tersenyum. "Kau jahat juga, Dokter."
Eijun lalu menarik nafas dalam-dalam dan mencoba lebih rileks dengan memejamkan mata, tapi sekonyong-konyong sebuah visi mengerikan muncul. Sulur-sulur, ranting, pohon, membelit Azuma di udara, orang-orang berkumpul dan berteriak memanggilnya—
Eijun duduk tegak dan meraih tangan Toujo, menatap pemuda itu lurus ke matanya. "Apa yang sebenarnya kulakukan? Di mana Azuma?"
Eijun duduk dengan gelisah menanti Chiron, Eijun tidak takut dihukum, kalau memang dia terbukti bersalah karena telah membahayakan nyawa demigod lain, Eijun siap menerima apapun konsekuensinya. Tapi ini hari pertamanya di Perkemahan, dan ibunya yang menyuruhnya datang ke tempat ini, jadi Eijun sedikit resah membayangkan akan seperti apa reaksi ibunya.
"Halo, Ei. Maaf membuatmu menunggu."
Eijun mendongak cepat sekali, dan langsung disambut dengan senyum penuh kebijaksanaan dari Chiron. Sang Centaurus sudah hidup berabad-abad dan melatih banyak sekali pahlawan, sepertinya dia sudah sering menghadapi kenakalan remaja, sampai-sampai bisa sesantai ini.
"Eh, sori. Bolehkah aku memanggilmu begitu?"
Eijun mengangguk cepat-cepat. "Tentu, Pak!"
"Chiron." Katanya ramah. "Panggil saja Chiron, tidak perlu terlalu formal."
"Baik, Chiron."
Chiron tersenyum puas. "Nah, jadi ada yang ingin kau katakan?"
Eijun segera membungkuk dalam. "AKU MINTA MAAF!" Katanya sungguh-sungguh. "Aku sama sekali tidak berniat mencelakai siapa pun! Aku mengaku salah dan bersedia menerima hukuman!"
Eijun bisa merasakan Chiron memegang bahunya dengan begitu lugas. "Tegakkan badanmu, Ei." Ia berkata dengan lembut. "Aku tau kau anak yang baik dan tidak bermaksud melukai siapa pun."
"A..aku… tidak tau bisa melakukan itu…"
"Kau Putra Dementer, Dewi Kesuburan. Tidak heran bahwa kau juga berbakat mengendalikan tumbuhan."
Eijun menghela nafas. "Ya, hanya saja biasanya tidak begini. Biasanya kemampuanku cuma yang baik-baik seperti menyuburkan tanaman, membuat mereka tumbuh lebih cepat atau berbuah lebih cepat dan lebih banyak. Bukan melawan orang lain."
Chiron diam sejenak sambil mengusap-usap janggutnya seolah berpikir. "Yang seperti tadi sama sekali belum pernah terjadi?"
Eijun menarik nafas panjang, dan mencoba mengingat-ingat lebih jauh. "Mungkin… entahlah… aku ingat samar-samar saat pertama kali Ibu—maksudku Dementer—muncul di hadapanku."
Chiron mengangguk dan menyimak.
"Umurku kira-kira sebelas tahun, dan aku sedang dalam masalah karena dirundung oleh anak-anak yang lebih tua. Itu bukan hal baru, aku sering dirundung karena tidak punya ibu dan bahkan tidak tau siapa atau di mana ibuku berada. Tapi hari itu mereka datang bertujuh dan membawa tongkat baseball dari kayu untuk memberiku pelajaran lebih."
"Kau tidak perlu menceritakannya kalau itu terlalu berat."
Eijun menggeleng. "Tidak apa-apa, Chiron. Ini bukan memori yang sepenuhnya buruk." Ia tersenyum kemudian lanjut bercerita. "Aku melawan, tentu saja. Tapi mereka terlalu banyak dan bersenjata, kemudian aku jadi sangat marah saat mereka mulai menghina ayahku juga. Aku ingat memelototi tongkat baseball yang mereka pakai untuk memukulku, lalu entah bagaimana tongkat kayu itu tiba-tiba malah bertumbuh menjadi semacam pohon yang hidup dan menyerang mereka."
Sekarang memori itu terasa amat segar di otak Eijun. "Pohon itu mulai menumbuhkan ranting dan sulur laku membelit tangan mereka dan membuat mereka semua ketakutan lalu berlari kabur. Tak lama setelahnya, tiba-tiba Dementer muncul dan mengatakan bahwa dia ibuku. Selama ini, aku kira, itu ulah Dementer."
Chiron tersenyum ringkas. "Itu kau, Ei. Dan itu bagian dari kekuatanmu, jadi mulai sekarang tidak perlu kaget lagi. Tentu saja, kau masih muda dan perlu belajar caranya mengendalikan kekuatanmu. Dan itulah tugasku di sini, aku akan membinamu dengan senang hati."
Eijun merasa beban berat baru saja diangkat dari dadanya. Sementara itu Chiron kembali memegang sebelah bahunya dan tersenyum layaknya guru yang baik dan penuh pengertian. "Tapi lain kali, usahakan jangan mengubah demigod menjadi kepompong raksasa lagi, oke?"
Eijun jadi salah tingkah. "A..aku, ehm maksudku iya, oke."
"Azuma baik-baik saja, masih hidup walau luka-luka. Bagaimana pun dia Putra Ares, fisiknya kuat, tapi aku menganjurkan kau tetap menemuinya dan bicara."
"Aku mengerti, Chiron."
"Dan mungkin, kau bisa pakai bakatmu untuk membantu anak-anak Apollo menyuburkan beberapa tanaman obat? Mereka pasti senang."
Mata Sawamura sudah tidak hijau lagi, Kazuya membatin. Komentar bodoh, tapi itulah yang pertama kali muncul di benaknya saat anak itu akhirnya bergabung dengan mereka setelah menemui Azuma.
Kuramochi langsung menghampirinya, memberi sebuah tinju bersahabat ke dada Sawamura. Tampak akrab dan sama sekali tidak kelihatan canggung atau takut, jujur saja Kazuya agak iri melihatnya.
"Halo, Jagoan!" Kuramochi tertawa renyah. "Bagaimana keadaanmu?"
Sawamura tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya. "Cukup baik, kurasa. Sori sudah membuat kegaduhan."
"Kyahahaha! Bukan demigod namanya kalau tidak menimbulkan banyak masalah! Pokoknya kerjamu bagus, walau agak diluar kontrol. Berkat huru-hara yang kau ciptakan, tim merah bahkan tidak tertarik lagi merayakan kemenangannya, semua pekemah lebih sibuk mengejar-ngejar aku dan Miyuki untuk menanyakanmu."
Kazuya ikut tersenyum, matanya memandang berkeliling dan benar saja, para pekemah masih mencuri-curi pandang ke arah mereka sambil berbisik-bisik.
"Mei bahkan tidak tampak antusias lagi." Kazuya akhirnya berkata, mendorong dagunya ke arah beberapa anak Apollo yang sedang berkumpul sambil memetik ukulele dan lira. Mei ada di tengah-tengah, sedang mengusap-usap busurnya dengan wajah bosan.
"Haruskah aku merasa bersalah padanya?"
"Kau bercanda?" Tanya Kazuya retorik. "Biasanya Mei yang paling jago membuat orang jengkel, tapi sekarang sebaliknya, kau berhasil membuatnya jengkel karena mencuri spotlight, dan dia bahkan tidak bisa protes."
Sawamura mendengus dengan murung. "Aku akui aku memang kurang suka dengannya, tapi bukan berarti aku mau jadi musuhnya juga."
Kuramochi menepuk-nepuk bahu Sawamura. "Santai saja, Sawamura. Miyuki bahkan pernah membuat masalah kepada separuh isi perkemahan. Tapi lihat dia sekarang, masih hidup seolah-olah tidak punya dosa."
"Hey!"
Setidaknya Sawamura berhasil tersenyum. "Oke, itu membuatku merasa lebih baik. Setidaknya aku tidak separah Miyuki Kazuya!"
Kazuya memutar mata. "Kalian yakin baru bertemu di sini? Kenapa aku punya firasat kalau kalian cocok jadi kakak-adik atau teman sekamar yang sama menyebalkannya?"
Sawamura dan Kuramochi tertawa. Tak lama kemudian jam makan malam tiba, dan mereka berpisah untuk bergabung dengan para pekemah dari pondok masing-masing. Kazuya bergabung ke meja Harmes, Kuramochi ke meja Iris, dan Sawamura dikerubungi oleh saudara-saudaranya di meja Dementer.
"Jadi, apa kau bisa menciptakan Groot?"
Eijun memutar mata bosan. Barangkali anak-anak dari Pondok Ares memang jagonya menyurut pertikaian dan peperangan, karena sudah satu minggu di Perkemahan, Eijun sama sekali tidak bisa akur dengan mereka.
"Bolehkah aku memanggilmu Flora?"
"Tidak!" Eijun berkata dengan tegas, memberi tatapan benci pada anak yang bahkan tidak ia tahu namanya. "Kenapa kalian cari gara-gara terus denganku, sih?" Apa masalah kalian?!"
Mereka tertawa-tawa seolah baru menyaksikan acara live comedy. "Karena kau menarik, Sawamura." Salah satu diantara mereka yang memiliki perawakan seperti pemain rugby merangkul bahunya sok akrab. "Kami sempat tertarik padamu karena kau berhasil melawan salah satu saudara kami, Azuma. Kami kira, kau seganas dan sekuat itu, tapi kemudian satu minggu di perkemahan dan yang kau lakukan cuma bercocok tanam, membuat bunga-bunga bermekaran, dan memetik buah."
Anak-anak Ares yang jelek terpingkal-pingkal, dan Eijun berusaha keras untuk menekan rasa marahnya. Dia tidak ingin lepas kendali lagi. "Aku tidak seperti yang kalian harapkan, jadi berhentilah mengusikku!"
"Tapi mungkin, kau memang harus dipancing dulu untuk mengeluarkan semua kekuatanmu, Flora."
"AKU TIDAK MAU! DAN JANGAN PANGGIL AKU FLORA!!"
Satu anak lain, yang memiliki bekas luka melintang di dahinya menyeringai pada Eijun. "Berhentilah bersembunyi di balik tumbuhan dan bunga-bunga."
Eijun mengepalkan tangan kuat-kuat, di sekitar kakinya tanaman berduri mulai tumbuh, mendesis dan berasap. Anak-anak Ares menatapnya dengan wajah bengong, tapi Eijun buru-buru tersadar dan memakai kesempatan itu untuk pergi.
Jangan mengubah demigod jadi kepompong! Pokoknya jangan! Eijun terus merapalkan mantra itu dalam hatinya sambil berlari memasuki hutan. Kemudian, Eijun sadar kalau dia sudah masuk terlalu jauh dan bahkan tidak ingat jalan kembali.
"Sial!" Gerutu Eijun sambil memandang berkeliling. "Sekarang aku nyasar!" Eijun menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke tanah dan menatap pohon-pohon yang mengelilinya sambil menghela nafas panjang. "Apakah kalian bisa memahami ucapanku? Kalau bisa, tolong tunjukan sedikit rasa persahabatan dengan menunjukkan jalan pulang!" Ia bicara pada permohonan dan yakin akan semakin membuat anak-anak Ares merundungnya kalau sampai mereka tahu.
Eijun tidak ingat berapa lama dia berbaring di sana, menatap pepohonan dan bicara sendiri, yang jelas hari hampir gelap saat Eijun akhirnya memutuskan bahwa dia akan mencoba memanjat pohon untuk menemukan jalan keluar. Eijun lantas bangun, memilih pohon yang paling tinggi dan mulai memanjat. Tapi bahkan saat tiba di bagian dahan teratas, dia masih belum bisa melihat dengan jelas.
Jadi, Eijun duduk di dahan pohon, bersandar dan berpikir andai bisa naik lebih tinggi lagi. Lantas, secara mengejutkan, sebuah ranting tumbuh dan menggapainya.
"Oh, tidak!" Eijun menatap panik. "Jangan serang aku!" Ia berkata, berusaha untuk turun secepat mungkin tapi ranting itu hidup dan membentuk tangan raksasa kemudian meraihnya dengan cepat.
Eijun membayangkan sebuah serangan. Barangkai diremas sampai mati, ditusuk, maupun ditelan oleh pohon raksasa, tapi itu tidak terjadi. Ranting-ranting itu justru mengangkatnya begitu tinggi ke udara, sampai melewati puncak-puncak pepohonan. Eijun mencoba untuk tidak panik dan menatap berkeliling. Dia sangat tinggi, asataga! Dan dari atas sini Eijun bahkan bisa melihat Perkemahan dengan cukup jelas, pondok-pondok, lapangan , dan…. oh, Eijun akhirnya sadar—pohon ini sedang membantunya.
"Oke, aku mengerti." Eijun berkata. "Aku sudah melihat jalurnya sekarang. Terima kasih, Pohon Yang Baik. Sekarang tolong turunkan aku?"
Ranting pohon berayun begitu cepat seperti bandul sehingga Eijun memekik keras, dia merasa berpegang pada peluru ketapel yang baru dilontarkan, kemudian ranting-ranting itu melepaskannya begitu saja saat jaraknya masih lima meter dari tanah. Eijun menjerit, merapal doa kilat kepada dewa-dewi, kemudian jatuh.
Ralat. Bukan jatuh. Melainkan terpelosok.
Menurut perhitungan Eijun, seharusnya dia sudah jatuh menghantam tanah, tapi nyatanya dia belum juga mendarat, Eijun justru meluncur ke dalam lubang gelap, terpelosok entah menuju kemana.
Saat berhenti, akhirnya Eijun mendarat di sebuah ruang persegi dengan pencahayaan yang redup. Eijun lekas memeriksa tubuhnya, dan menghela nafas panjang karena setidaknya dia masih utuh.
"Sawamura?"
Eijun terlonjak kaget dan langsung mendongak ke atas.
"Astaga, kenapa kau bisa masuk ke sana?!"
Eijun menyipitkan mata untuk mengamati lebih jelas sosok yang bicara dengannya. "Um… Itsuki?"
"Ya, ini aku." Itsuki berkata lugas, kemudian membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan tangan. "Ayo, kubantu keluar dari sana."
Eijun meraih tangan Itsuki dengan senang hati, dan pemuda itu menariknya ke luar. Saat tiba di atas (tetap bukan di permukaan) mulut Eijun sontak terbuka lebar karena terkesima.
"Whoaa! Tempat apa ini?"
Itsuki tersenyum simpul. "Selamat datang di bunker milikku." Katanya ceria.
"KAU PUNYA BUNKER?!"
"Pondok Hephaestus memang punya bunker khusus untuk dipakai bersama. Tapi yang ini bunker pribadiku."
"Keren!" Ujar Eijun takjub. Kemudian mulai berjalan melihat-lihat. "Tapi kenapa jalur masuknya harus lewat terowongan begitu, sih?"
Itsuki tertawa renyah. "Sebenarnya yang kau lewati tadi bukan jalan masuk."
"Lantas apa?"
"Jebakan untuk babi hutan."
Ya, tentu saja Eijun masuk jebakan babi hutan, kenapa tidak?
Sudut bibir Itsuki berkedut-kedut menahan geli. "Serius, sebenarnya kenapa kau bisa masuk ke sana?"
Eijun angkat bahu. "Aku, anak-anak Ares, muak, lari ke hutan, nyasar, naik pohon, naik lebih tinggi, turun, wuush! masuk jebakan babi."
Bisa dipastikan Eijun tidak jago merangkai cerita, dia kira Itsuki bakal menatapnya kasihan tapi ternyata cowok itu mengangguk seakan bisa menerjemahkan bahasa kuda.
"Terdengar kurang menyenangkan." Komentar Itsuki, senyumnya ramah dan lucu karena wajahnya tercoreng oli sana sini. "Baiklah, karena kau terlanjur masuk, kau boleh melihat-lihat. Tapi seperti inilah adanya," Itsuki merentangkan tangannya ke sekeliling. "Cuma bengkel, barangkali tidak menarik bagimu."
"Bagiku, segala hal jauh lebih menarik dibanding anak-anak Ares. Jadi sudah pasti aku akan menikmati turnya!"
Itsuki menggelengkan kepala dengan geli. "Mereka memang cenderung menyebalkan. Aku pribadi tidak terlalu suka mereka, terlebih lagi Hephaestus dan Ares hubungannya kurang harmonis."
"Ah," Eijun mendesah paham. "Soal Perselingkuhan Aprodhite dan Ares?"
Itsuki angkat bahu kemudian mengambil salah satu obeng dan berjalan ke meja kerjanya. "Aku tidak terlalu ambil pusing dengan hubungan antara dewa-dewi, tapi sebagai demigod kadang perasaan itu diteruskan kepada kita." Kemudian dia menoleh pada Eijun. "Kau keberatan kalau aku sambil kerja?"
"Oh tentu tidak!" Sahut Eijun cepat. "Silahkan lanjutkan pekerjaanmu dan jangan pikirkan aku."
Kali ini Eijun menatap keadaan bunker dengan lebih seksama. Untuk ukuran sebuah bunker pribadi, tempat ini lumayan luas, barangkali panjangnya mencapai sepuluh meter, dengan lebar sekitar empat meter. Ada sebuah tungku penempa dengan bara api menyala terang, lengkap dengan segala alat pandai besi di sekitarnya. Alat-alat mekanik tersebar di setiap sudut ruangan, beberapa mesin disusun dan terpajang di rak besi, maupun tergeletak di lantai. Tidak hanya itu, banyak sekali bola-bola logam yang mengingatkan Eijun dengan bola pokemon tergeletak di atas meja, senjata-senjata yang pastinya sudah dirancang canggih seperti anak panah Mei, dan masih banyak lagi. Segalanya membuat Eijun takjub bukan kepalang.
Sementara itu, di dinding-dindingnya banyak ditempeli oleh lembaran cetak biru, serta perhitungan fisika dan matematika yang sudah pasti tidak akan Eijun pahami. Di salah satu meja, yang lebih bersih dari meja-meja lain, terdapat sebuah laptop yang terbuka, jurnal, dan sebuah figura foto berisi potret Itsuki dengan seorang wanita. Eijun menebak itu pasti ibunya Itsuki.
"Omong-omong, di ujung kiri ada kulkas. Kau bisa ambil minuman kalau haus." Itsuki berujar, dan Eijun langsung melihat ke pojok kiri hanya untuk mendapati alisnya berkerut.
Di sudut itu, keadaannya benar-benar lain. Sebuah kulkas berpintu kaca sebesar lemari pakaian berdiri tegak, menampilkan berbagai minuman kemasan, chips, permen, jelly, dan juga ice cream. Di sebelah kulkas, terdapat satu sofa panjang berwarna kuning keemasan lengkap dengan bantal-bantal, selimut, majalah, bahkan sebuah ukulele. Karpet bulu berwarna jingga menutupi lantai di bawahnya. Tepat pada dinding di atas sofa, sebuah lukisan berukuran cukup besar menggantung, memuat gambar matahari terbit. Selain itu, lampu warna-warni menggantung di dinding, berkedip dengan ceria.
Eijun melirik pada Itsuki. "Mencolok sekali."
Itsuki menghadapnya sambil membersihkan tangan dengan serbet, lalu tersenyum geli. "Sepakat." Dia berkata. "Mei' spot."
"Mei? Narumiya Mei?"
Itsuki memberi anggukan sebagai jawaban.
"Kupikir ini bunker rahasia, tapi ternyata Mei malah sudah membuat kerajaan kecil di sini." Ujar Eijun, berharap bahwa suaranya tidak terdengar terlalu sinis, tapi Itsuki justru tertawa.
"Yang tau tempat ini adalah konselor kepala pondok Hephaestus, Mei, dan sekarang kau juga tau. Sudah tidak terlalu rahasia, tapi kuharap kau tidak membocorkan pada siapapun. Aku suka bekerja di tempat tenang."
"Aku harap aku punya bunker rahasia juga. Aku ingin sedikit ruang dari para pekemah." Eijun menghela nafas berat. "Kau tau, semejak kejadian kepompong Azuma, aku merasa sebagian besar pekemah memandangku dengan aneh, bahkan takut. Kemarin, salah seorang anak dari Pondok Athena menangis hanya karena tidak sengaja menumpahkan susu ke sepatuku, dia takut aku marah lalu mengubahnya jadi pohon pisang."
Alis Itsuki terangkat tinggi. "Pohon pisang?"
"Mereka pikir aku bisa mengendalikan segala pepohonan dan tanaman, dan bisa mengutuk manusia jadi tanaman juga. Gosip bahwa sebenarnya kepompong Azuma adalah proses mengubah manusia jadi pohon terus menyebar di perkemahan. Sekarang, aku jadi sulit mencari teman."
Eijun menghirup udara berbau besi dengan berat. "Yang tampaknya tidak takut sama sekali padaku adalah anak-anak Ares. Tapi aku lebih memilih tidak punya teman daripada berteman dengan mereka."
"Aku bisa jadi temanmu." Kata Itsuki, terdengar ringan seolah dia baru saja mengucapkan selamat pagi. "Kalau kau mau, tentu saja."
"Kau tidak takut padaku? Kau tidak takut aku bakal membelit tubuhmu dengan sulur berduri, membuat jamur tumbuh di rambutmu, atau mengubahmu jadi pohon?"
Lagi-lagi Itsuki tertawa. "Kau sekarang ada di bunkerku, dikelilingi oleh senjata-senjata buatanku, beberapa peledak, dan juga…" Itsuki mengangkat tangan kanan ke dekat wajahnya lalu tiba-tiba di atas tangan itu sebuah bola api menyala.
"KAU BISA MENGELUARKAN API?!"
Itsuki mengepalkan telapak tangannya, dan api seketika padam. "Aku masih berlatih mengendalikannya, dan jarang sekali memakainya, tapi kadang-kadang itu berguna."
"Bung! Kau bisa mengeluarkan api dari tanganmu!"
"Dan kau bisa mengubah tongkat baseball menjadi pohon."
Eijun tertawa. "Yeah, lumayan kan?"
Itsuki tersenyum lebar dan berjalan mendekat ke arahnya sambil mengulurkan tangan. "Salam kenal, Eijun."
Eijun menjabat tangan Itsuki kuat-kuat. "Salam kenal, Itsuki." Dia nyengir lebar sekali sampai pipinya ngilu. "Tapi tolong jangan minta aku akrab dengan Mei juga, ya? Aku butuh beradaptasi dengan spesies itu."
Itsuki tertawa menanggapinya, lantas berkata bahwa dia mengerti. Tak lama kemudian, Itsuki mengajak Eijun kembali ke perkemahan karena sudah hampir jam makan malam, dan mereka akan mendapat hukuman kalau sampai terlambat.
Youichi benci menunggu. Dia benci harus merasakan kegelisahan, kepanikan, harap-harap cemas, dan segala macam perasaan menyebalkan itu.
"Tenanglah," Suara Chiron dan sentuhan di bahunya membuat Youichi sedikit tersentak. "Kita tunggu sebentar lagi."
MEREKA SUDAH PERGI HAMPIR 12 JAM! Youichi ingin berkata, tapi bahkan dia pun terlampau segan karena menghormati Chiron. Jadi ia mengangguk dan kembali ke pekerjaan paling payah sedunia; menunggu.
Bahkan sampai tiba waktunya waktu makan malam, sama sekali belum ada pertanda baik. Akhirnya Chiron menepuk punggung Youichi dengan lugas, dan berkata "Kita harus sampaikan ini kepada yang lain. Dan aku akan umumkan apa tindakan selanjutnya."
Youichi hanya bisa mengangguk, kedua tangannya mengepal kuat, terasa kebas. Sebelum menuruni bukit Blasteran, ia menatap ke jalan sekali lagi, berharap ada yang muncul. Tapi tidak. Jalanan tetap gelap dan sepi, sedangkan ia punya firasat jika melangkah lebih jauh lagi, monster-monster mengerikan akan langsung menerkamnya.
Saat tiba di api unggun, para demigod telah duduk di mengelilingi meja sesuai pondoknya masing-masing. Youichi mengangguk pada Chiron dan bergabung dengan saudara-saudaranya di meja Iris. Sementara itu Chiron melangkah ke dekat api unggun dan berdiri tegap di atas keempat kaki kudanya.
Para demigod pasti sudah bisa mencium ada yang tidak beres. Karena suasana makan malam yang biasa begitu rusuh dan berisik, mendadak sunyi senyap. Bahkan anak-anak dari para pondok Hermes yang selalu ramai dengan ledakan juga pekikan, kini tampak resah sambil menatap piring-piring.
"Selamat malam, demigods." Suara Chiron menggema di antara para pekemah. "Maaf aku harus menyampaikan berita yang kurang menyenangkan di acara makan malam yang seharusnya penuh kehangatan."
Terdengar keluhan dari berbagai meja. Salah satu anak dari pondok Dementer mendesah. "Aku benci jadi demigod, sehari-hari cuma menjumpai masalah."
Chiron berdehem, dan bisik-bisik sunyi kembali. "Barangkali sebagian dari kalian sudah ada yang tahu, kalau pagi ini Kazuya dan Mei meninggalkan perkemahan untuk menjalankan tugas dariku. Bukan misi, hanya tugas belanja. Sayangnya sampai detik ini mereka belum juga kembali. Padahal seharusnya tidak butuh waktu lebih dari dua jam."
Sebuah kembang api meledak di meja Hermes, lalu seorang anak laki-laki memasang cengiran canggung saat semua orang menatapnya.
Sedangkan anak-anak di meja Apollo saling tatap kemudian menunduk. Salah satu di antaranya mulai memetik lira dengan nada sedih.
"Kami sudah mencoba mengirim pesan iris kepada mereka, tapi tidak berhasil. Tak ada visi apapun, hanya kegelapan."
Ayam panggang mendadak terbakar tanpa sebab di meja Hephaestus, tapi Tadano Itsuki cepat-cepat menyiramnya dengan air. Seorang anak di sebelahnya menatap ayam gosong dengan sedih, dan Tadano menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Mei dan Kazuya sama-sama demigod yang cakap. Kazuya panjang akal dan punya berbagai alat untuk menghalau serangan monster, sementara Mei adalah pemanah terbaik di Perkemahan. Jadi aku punya keyakinan bahwa mereka bisa menjaga diri dengan baik."
Seorang gadis dari Pondok Aprodhite menghela nafas. "Seharusnya kusihir Miyuki agar jatuh cinta padaku saja, dan mungkin dia masih duduk manis di sana menjadi pacar yang tampan." Di meja-meja lain para demigod memutar mata dengan muak.
"Yah, pokoknya." Kata Chiron lagi. "Aku akan terus berjaga malam ini dan terus mencoba menghubungi mereka. Jika sampai besok pagi mereka tidak kembali, maka tiga demigod akan kukirim untuk mencari Mei dan Kazuya. Kalau begitu, silahkan nikmati makan malam kalian!"
...
Selesai makan malam, Youichi langsung menuju Big House untuk menemui Chiron. Keinginannya sederhana, jika sampai besok pagi Miyuki dan Mei belum kembali, Youichi akan mengajukan diri untuk misi mencari mereka. Namun ternyata begitu sampai di Big House, ia sudah keduluan Tadano dan Sawamura yang entah sejak kapan telah menjadi akrab.
"Oke, jadi kita sudah punya tiga demigod sekarang." Kata Chiron. Menatap mereka bertiga bergantian. "Tiga adalah angka yang ideal untuk sebuah misi."
Youichi melirik Sawamura dan Tadano ragu-ragu. "Kalian yakin mau melakukan ini?"
Sawamura langsung memelototinya dengan tatapan. KAU MERAGUKAN AKU? Youichi lantas mendengus. "Baiklah, dasar anak kurang ajar."
"Ini akan jadi misi pertamamu, Ei." Kata Chiron, lantas kegalakan di mata Sawamura menghilang. "Aku percaya kau demigod yang tangguh, tapi penting bagimu untuk mengerti bahwa sebuah misi kelompok berbeda dengan misi tunggal."
Sawamura mengangguk dengan mantap. "Baik, Chiron." Katanya, mendadak jadi anak sayang begitu sopan.
Chiron kemudian menatap Tadano. "Dan Itsuki?"
"Ya, Chiron. Aku yakin."
Chiron mengangguk sambil meletakkan satu tangannya di pundak Itsuki. "Sebenarnya aku senang kau di sini, kerjamu hebat, kau bisa membuat banyak senjata untuk demigod-demigod lain. Tapi aku tidak bisa menahanmu jika kau memang ingin mengambil misi ini." Chiron tersenyum dan mengangkat tangannya kembali. "Senjata apa yang hendak kau bawa?"
Tadano tampak berpikir sebentar, kemudian menjawab. "Pedangku yang biasa, dan mungkin aku akan membawa perlengkapan panah untuk Mei." Dia berhenti sejenak untuk menarik nafas seolah butuh tenaga lebih. "Semoga saja dia tidak butuh anak panah tambahan, tapi aku akan bawa untuk jaga-jaga."
Youichi berdeham. "Bawa juga alat-alatmu."
"Tentu." Tadano menyahut dan tersenyum. "Dan kalian berdua boleh memilih senjata buatanku kalau mau."
"Sungguh?!" Mata Sawamura berbinar-binar. "Keren!" Dia tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Itsuki. "Makasih, Itsuki!"
Youchi akhirnya memukul belakang kepada Sawamura gemas. "Kau diberi senjata untuk melawan monster, kenapa kau girang seakan baru diberi Lamborghini?"
Sawamura memanyunkan bibir. "Soalnya senjata buatan Itsuki keren-keren!"
Harus Youichi akui, bahwa meskipun Sawamura agak bodoh, tapi dia sepakat dengan Sawamura kali ini.
"Baiklah, kalau begitu silahkan kalian ikut Itsuki dan memilih senjata yang hendak kalian bawa. Akan kuminta beberapa satir untuk membantu kalian menyiapkan perbekalan." Ujar Chiron. "Ada lagi yang hendak kalian sampaikan?"
"Sebenarnya ada satu lagi," Tadano berkata.
"Silakan, Itsuki."
Alih-alih bicara, Tadano justru bersiul nyaring. Tak lama kemudian sebuah robot anjing melompat dari balik semak-semak dan berhenti di dekat kaki Tadano. Sawamura sukses melongo. "KAU PUNYA ANJING ROBOT?!"
Tadano tersenyum salah tingkah sambil mengusap kuping anjingnya yang terbuat dari logam. "Namanya Ten." Dia berkata. "Chiron, bolehkah aku membawa Ten juga? Kurasa, mungkin dia bisa mengendus Mei dan Miyuki, itu tentunya sangat membantu."
Chiron tersenyum, tampak bangga. "Tentu, Itsuki."
Sisa malam itu Youichi habiskan dengan mencoba tidur, tapi dia gagal. Pikirannya tidak bisa diam. Besok, begitu matahari terbit dia akan berangkat bersama Sawamura dan Tadano. Dua demigod yang belum dikenalnya dengan baik.
Sawamura kuat, Youichi tau itu. Dia masih ingat bagaimana kekuatan Sawamura bisa menggantung Azuma di udara dan membelitnya dengan sulur-sulur berduri. Youichi tidak ingin jadi musuhnya.
Sedangkan Tadano? Youichi menyesal pernah menganggap anak itu tidak lebih dari kacung Mei. Mungkin Tadano bukan demigod yang selalu tampil tersorot, tapi jelas perkembangannya selama dua tahun ini begitu pesat. Chiron bahkan mempercayainya untuk membuat senjata bagi para pekemah.
Entah akan menjadi tim seperti apa mereka nantinya. Apakah mereka bisa menemukan Miyuki dan Mei? Youichi tidak tahu. Bukan lagi rahasia bahwa banyak demigod yang tidak pernah kembali dari misi. Sekarang, dia cuma bisa berharap bahwa dia bisa cukup akur dengan Sawamura dan Tadano. Karena jelas, Youichi tidak ingin diubah jadi kepompong, ataupun digigit oleh anjing robot.
end?
a/n: hehe, apalah ini akhirnya saya post juga di ffn. Saya udah gak sabar banget nungguin PJO series tayang! terus saya masaih aja denial kalo daiya udah tamat! Btw, makasih udah baca ya, saya kangen deh :) oiya kalau kalian masih asing dengan dunia demigod, mari saya kasih tur singkat!
demigod: merupakan manusia setengah dewa yang lahir dari hubungan manusia dengan dewa-dewi olympia.
Chiron: adalah centaurus yakni makhluk verwujud setengah manusia (dari pinggang ke atas) dan kuda (dari pinggang ke bawah). Chiron adalah centaurus yang banyak melatih pahlawan-pahlawan gebat seperti Perseus, Achilles, Ajax, dll.
Perkemahan Blasteran: sebuah perkemahan tempat para demigod mendapat pelatihan untuk bertahan hidup, pokoknya gitulah. Sekeliling perkemahhan telah dilindungi oleh sihirvkhusus yang dapat menghalau monster, sehingga para pekemah aman.
