Satu
Preface
Kim Jongin X Oh Sehun
Angst. Romance. High School!AU. Omega!verse
PG-15
Series
...
...
...
"Layaknya kata pengantar dalam sebuah buku best seller, aku adalah sesuatu yang ada tetapi tidak pernah dianggap keberadaannya."
...
...
...
"Karena aku bukan sampul yang indah pada buku yang gagal
Bukan pula babak penyelesaian membahagiakan yang dinantikan semua orang
Tetapi...
Aku hanya kata pengantar dalam buku best seller..."
Oh Sehun tidak pernah membayangkan apalagi meminta agar alur kehidupannya menjadi seperti ini. Di masa SMA, ketika seharusnya indahnya masa-masa remaja dirasakannya justru alur pahit yang diterimanya. Sepertinya narasi kehidupannya tertukar dengan milik orang lain yang di masa lalu melakukan kejahatan... atau Tuhan memang tidak memberikan kasih sayang-Nya padanya? Tetapi... meski sebanyak apapun dia berpikir, semua tidak akan berubah. Hidupnya akan selalu seperti ini. Setidaknya sampai nanti dia lulus dari SMA atau... haruskah sampai nyawanya meninggalkan dunia ini? lulus SMP Sehun memperkirakan hal yang sama, bahwa kuncupnya akan mekar saat dia memasuki SMA, namun sekarang...
"Dengar, bukankah dia teman SMP mu? Apa dia memang selalu seperti itu?"seorang omega dengan enggan menunjuk ke arah Sehun. Sehun hanya bisa menundukan kepalanya dan kembali mengunyah makanannya. Meski hal seperti ini selalu terjadi, entah mengapa rasanya masih tetap menyakitkan.
"Yeah... bukan teman juga. Bagaimana ya menjelaskannya... eung... classmate... ya, hanya sekedar itu. Hanya peruntungan buruk yang datang kepadaku hingga bisa satu sekolah, bahkan satu kelas dengannya..."omega di depannya menjawab dengan cepat, sembari sesekali melihat objek pembicaraan yang duduk persis di seberang mereka.
"Hahaha... sungguh malang nasibmu, aku harap segala kutukan yang ada padanya tidak menular padamu!"omega pertama kemudian tertawa terbahak-bahak, yang satu lagi mendengus jijik.
"Lebih baik aku digigit anjing rabies daripada hal itu terjadi padaku..."dan entah semenjak kapan, air mata mulai turun secara perlahan dari manik violet itu. Turun dengan deras tanpa sedikitpun suara yang mengiringinya. Hasil dari kerja keras Sehun untuk mengendalikan dirinya.
"Lihat... dia bahkan diam saja, apa sekarang selain terkutuk dia juga tuli?"omega pertama mendesis kasar. Temannya nampak enggan menanggapi dengan hanya mengangkat bahunya acuh.
Karena ketika kata-kata keluar, yang bisa hanyalah dimaafkan bukan dihilangkan dari memori dan hati. Sehun selalu menyimpan semuanya dengan baik. Dan dia tidak bisa menghilangkannya atapun memaafkannya.
...
...
...
"Apakah kamu tahu berapa banyak uang yang bibi keluarkan untukmu hah?!"seorang wanita berusia tiga puluhan nampak sedang memukul tubuh seorang omega kurus di depannya dengan menggunakan gulungan kertas yang cukup tebal.
"Maaf..."kata-kata tersebut keluar dari mulut omega itu dengan pelan.
"Maaf? Maaf kau bilang? Apa hanya ini yang bisa kau lakukan dengan uang yang sangat banyak itu hah? Dasar bodoh, kau sendiri yang memaksa untuk pergi ke SMA dan sekarang kau tidak bertanggungjawab sama sekali Oh Sehun! Apa kau tidak pernah belajar hah? Apa yang kau lakukan selama di sini? Apa kau tidur bersama para alpha? Apa kau menjajakan tubuhmu untuk uang?"kata-kata jahat itu terus ke luar dari mulut wanita itu. Sehun hanya bisa menundukan kepalanya, menyimpan sedikit harga diri yang tersisa dari pandangan lapar teman-temannya yang menyaksikan adegan itu. Adegan dimana bibinya, satu-satunya walinya memarahinya habis-habisan karena kegagalannya dalam semester ini.
"Yeah... mau bagaimana lagi, bibinya saja mengatakan hal seperti itu,"seorang beta memberi komentar pelan-pelan. Temannya kemudian menanggapi, "Jadi memang benar yah..."
"Jadi penasaran, kalau memang dia tidur dengan para alpha, siapa saja yang pernah tidur dengannya... haha,"seorang alpha yang menawan tertawa keras-keras.
"Sayang sekali, aku yakin kalau dia omega yang normal, akan banyak orang yang ingin mendapatkannya..."
"Yiks... kau berpikiran seperti itu... tapi hm... kalau dilihat-lihat dia memang di atas standar... haha..."
Maka melalui bisikan-bisikan itu Sehun selalu berdoa kepada Tuhan. Setidaknya biarkan mereka yang jahat kepadanya untuk membusuk di neraka bersamanya.
...
...
...
"Untuk tugas welfare state kali ini, silahkan berpasangan dengan jenis yang berbeda, dan... eung... Sehun maaf sepertinya kau harus sendirian lagi,"sang guru berkata dengan pelan. Sehun hanya mengangguk patuh. Toh dirinya juga sudah mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas kelompok secara individual. Dan hal inilah yang terkadang sulit untuk Sehun. Terutama saat seharusnya tugas dikerjakan dari perspektif jenis yang berbeda. Maka Sehun akan selalu mendapat nilai C, atau bahkan D.
"Ah... sepertinya aku juga tidak mendapatkan pasangan sir..."seseorang tiba-tiba mengintrupsi. Membuat fokus perhatian kini tertuju padanya.
"Yeah... kau siapa?"tanya si guru nampak kebingungan. Sepertinya dia tidak pernah melihat anak ini sebelumnya.
"Saya Kim Jongin dari kelas sepuluh satu alpha... kalau boleh saya mau berpasangan dengan omega tadi,"dan mulut-mulut yang tadinya terbungkam mulai mendengungkan suara skeptis.
"Aah... begitu yah, coba saya periksa absensi dahulu... oh, iya namamu ada, kenapa kau barus masuk ke kelas?"
"Hehe... ada urusan penting yang membuatku absen berminggu-minggu, namun sekarang masalahnya sudah sedikit bisa diatasi jadi aku bisa masuk kelas..."jawab Jongin sambil terkekeh. Sang guru hanya menganggukan kepalanya.
"Baiklah... kau boleh berpasangan dengannya."
"Terimakasih sonsaenim."
"Dan hai... aku Jongin."
...
...
...
"Kapan kita akan mengerjakan tugas itu?"Jongin mengikuti langkah Sehun yang kini menuju ke perpustakaan. Sehun nampak enggan menanggapi. Dia bukannya menghindar atau menolak keinginan baik Jongin. Namun dia hanya tidak mau Jongin yang sepertinya tidak tau tentang dirinya menjadi bahan gunjingan karena dekat dengannya.
"Jika kau tidak ingin menderita, ada baiknya kau menjaga jarak denganku. Kau bisa menemuiku di perpustakaan sepulang sekolah..."ujar Sehun dingin.
"Wow... wow... wow... omega... tenangkan dirimu... kau omega dan aku alpha, seharusnya kau bisa menempatkan diri,"kata Jongin santai. Sehun mendesis tidak suka kemudian menghentikan langkahnya.
"Ini tidak seperti aku temanmu ataupun siapapun bagimu. Kita hanya partner tugas. Itu saja,"kata Sehun kemudian mulai melangkahkan kakinya lagi. Jongin yang keras kepala masih belum menyerah, nampaknya dia menjadi tertarik dengan sikap galak Sehun.
"Kenapa tidak sekarang saja? Kalau begitu ayo kita bersama-sama ke perpustakaan..."dan tanpa aba-aba Jongin menarik tangan Sehun, membuat Sehun terpekik karena kaget.
"Tunggu! Mataku masih minus dua koma lima kan? Itu Oh Sehun? Da... dan seorang alpha?"seorang beta yang kebetulan melewati koridor yang sama membatu melihat kejadian tersebut.
"Yeah... mungkin hanya salah satu alpha hidung belang menyedihkan yang tidak memiliki mangsa..."jawab temannya acuh.
"Ah... i see..."
Dan dunia memang seperti itu. Kebanyakan dari mereka selalu membuat cerita mereka sendiri tanpa tahu alur yang sebenarnya. Membuat mereka sebagai penipu ulung yang berdosa besar.
...
...
...
"Aku Jongin dan kau..."Sehun kembali mengacuhkan Jongin yang sudah mengatakan hal itu sebanyak lima kali dalam satu menit ini.
"Oh ayolah... hanya jawab Oh Sehun apa susahnya!"Jongin menjambak surai kecoklatannya frustasi.
"Kau sudah tau... kenapa masih bertanya,"kali ini Sehun ikut kesal dibuatnya.
"Hehe... hanya ingin mendengarnya langsung darimu,"kata Jongin bodoh.
"Sehun... Oh Sehun? Tunggu... Sehun yang katanya pelac... ups..."Jongin membulatkan matanya tidak percaya.
"Terserah jika memang kau mau mempercayai mulut kotor mereka,"kata Sehun.
"Mereka? Hey... bukannya jika itu dikatakan oleh mayoritas itu adalah kebenaran?"Jongin kembali bertanya dengan bodohnya.
"Apa menurutmu status pelacur yang diberikan kepada omega yang berusia enam belas tahun adalah lelucon Kim Jongin?"Sehun mengeratkan kepalan tangannya di bawah meja sana. Sudah dia duga, semua orang memang sama saja. Semua mencoba untuk membuatnya bunuh diri karena sakit yang terlalu menjadi – jadi. Bahkan Jongin sekalipun yang pada awalnya mencoba beramah – tamah padanya.
"Eum... maaf okay. Aku hanya mendengar dari desas-desus... tapi melihatmu sedekat ini, aku rasa mereka salah... kau masih keliatan dan berbau... eung... virgin?"dan sebuah buku ensiklopedia melandas di wajah tampan Jongin.
...
...
...
"Untuk apa kau kemari?"tanya Sehun saat dia mendapati Jongin berdiri di depan pintu kelasnya saat pelajaran telah usai.
"Ya ampun... berbicarah lebih manis. Apa kau mau membuat kesan galak dan menjadi virgin seumur hidup karena para alpha menjauhimu?"goda Jongin. Sehun hanya acuh kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke perpustakaan.
"Hey, aku hanya sedang berusaha untuk menjadi alpha yang baik dan menjemput omega... apa itu salah?"kata Jongin sambil berusaha mengingbangi langkah Sehun yang panjang-panjang.
"Salah, karena kau bukan teman ataupun kekasihku,"jawab Sehun dingin. Jongin tersenyum idiot mendengarnya.
"Jadi kalau kau jadi kekasihku aku boleh menunggumu di depan kelas?"
"Idiot."
Karena, sesungguhnya bakat tersbesar Sehun adalah menjadi seorang pemain drama. Dimana dia bisa menyembunyikan rasa sakitnya dengan apik dan bertingkah seperti semua hal tidak akan membuat hatinya goyah.
...
...
...
"Ini sudah satu minggu... huhhh... dan tugas ini belum juga selesai... padahal deadline kita hari jumat besok,"gerutu Jongin yang kini sedang menumukkan kepalanya di atas meja perpustakaan dengan malas.
"Kalau kau lebih rajin dan berusaha sedikit saja, kita akan menyelesaikannya tepat waktu,"jawa Sehun.
"Hmmm... terserahmu lah omega... ah, jadi ingat, jika kau sebelumnya mengerjakan tugasmu sendirian, apakah kau bisa melakukannya?"tanya Jongin antusias.
"Yeah, tapi dengan hasil akhir nilai C atau D,"Sehun kembali membuat resume sebagai bahan makalah mereka.
"Wahhh... serius? Itu sudah termasuk sangat hebat. Kalau aku yang mengerajakan, pasti tidak dapat nilai. Hehe..."Jongin terkekeh tidak jelas.
"Percaya..."kata Sehun meremehkan.
"Ya! Jahat sekali perkataanmu..."
"Mereka bahkan mengatakan hal yang lebih jahat dari ku..."kata Sehun lirih. Mendengarnya, pandangan Jongin mulai melembut.
"Hey... kan sekarang aku temanmu... meski, yeah... aku tidak terlalu berguna untuk urusan pelajaran. Tapi... aku suka mentraktir orang. Omega mau es krim?"dan untuk pertama kalinya Sehun menangis dengan suara terisak-isak.
"Kk... kenapa menangis? Aku tidak salah bicara kan? Sehun... atau mungkin kau benci es krim? Alergi susu? Lacto intorelant?"Jongin menjadi panik, terutama saat mata-mata di sana memandangnya dengan pandangan yang tajam.
"Jongin... terima kasih."
Air mata untuk ungkapan kebahagiaan. Karena, akhirnya selama enam belas tahun dalam hidupnya, ada seseorang yang melakukan sesuatu untuknya. Walaupun itu hanya dalam satu cone es krim.
...
...
...
"Kau menangis karena tidak ada yang pernah memberikan es krim kepadamu?"tanya Jongin kaget. Sehun mengangguk, dia masih menjilat es krim rasa vanillanya dengan perlahan.
"Seberapa malang sebenarnya hidupmu?"dan mulut idiot Jongin yang tidak bisa dijaga kembali mengeluarkan kata-kata yang bodoh.
"Sangat malang, hingga kau enggan untuk membayangkannya,"jawab Sehun. Suasana menjadi sedikit canggung.
"Ah... maaf. Kalau memang seperti itu, aku bersedia menjadi bagian manis dalam hidupmu... seperti... es krim ini,"dan Jongin kemudian mencolekkan es krim rasa coklatnya ke hidung Sehun. Membuat omega itu terkaget dan hampir terjungkal dari kursinya.
"Jongiiiin!"
"Maaf... maaf... hehe... oh ya ada satu lagi, untuk dua hari ke depan aku tidak bisa masuk. Jadi... kau lanjutkan sendiri yah untuk sementara waktu..."kata Jongin memohon.
"Jadi alasanmu yang sebenarnya karena itu..."geram Sehun kesal.
"Tidakkk... itu hanya salah satunya... hehe..."
...
...
...
"Nah... pelacur kebanggaan kita sekarang sendirian lagi... haha..."
"Lihat... pantatnya makin membesar... apakah si alpha Kim terlalu bersemangat kepadanya?"
"Ya... ya... ya... nampaknya dia terkena sihir Oh Sehun sehingga dia setia padanya..."
"Atau mungkin... Jongin itu mempunyai penyakit kelamin..."
"Ah... seperti HIV?"
"Yeah... maka dari itu dia yang masih berbaik hati hanya akan menularkannya pada omega kita yang malang."
"Hahaha..."
Dan Sehun tidak mengerti, mengapa setiap hari rasa sakit itu semakin menjadi. Sehun juga tidak mengeti kenapa Jongin yang kini menjadi satu-satunya temannya juga ikut menjadi tersangka. Tapi yang Sehun tau, mereka tidak akan berhenti sampai Sehun jenuh dan menyerah.
...
...
...
"Omega... bagaimana dua hari tanpa alpha yang keren ini?"Jongin menyeringai usil.
"Biasa saja..." tidak, tidak biasa, karena denga kehadiranmu aku mulai terbiasa dengan pertemanan yang nyaman.
"Ah... kau marah yah... baiklah... aku minta maaf karena sudah membuatmu mengerjakan tugas sendirian..."seharusnya aku yang meminta maaf karena telah membuatmu ikut ke dalam permainan yang mereka ciptakan untukku.
"Kalau begitu... akan kutraktir es krim sebagai bayarannya... deal?"dan sikapmu yang seperti ini yang membuatku egois. Membuatku enggan untuk melepaskanmu, meski aku tahu ini tidak baik untukmu.
"Ow... si manis Sehun kenapa masih diam saja..."
"Jongin... jika tugas ini selesai... aku masih bisa berteman denganmu bukan?"dan terdengar sebuah harapan yang besar dari nada dingin yang keluar dari bibir cherry itu.
"Eum... tentu saja,"jawab Jongin antusias.
"Kita masih memiliki waktu yang banyak bukan?"
"Y-yeah?"
...
...
...
"Kemarin kau absen lagi... urusan apa sebenarnya?"tanya Sehun.
"Eum... urusan apa yah? Ah... urusan pribadi!"Jongin menjulurkan lidahnya. Dan dada Sehun mengkerut sakit mendengarnya. Urusan pribadi macam apa yang Jongin miliki?
"Apa liburan musim dingin ini kau pulang ke rumah?"tanya Sehun pelan.
"Eum... tidak juga. Aku harus pergi ke suatu tempat... dan... melakukan sesuatu!"Jongin tersenyum lebar.
"Sesuatu tentang?"dan Sehun memang sangat berharap jika Jongin tidak menyembunyikan sesuatu darinya.
"Rahasia... hehe... pokonya itu sangat penting untuk hidupku..."dan mungkin Sehun memang harus memendam perasaan bodohnya dalam-dalam.
"Kau sendiri?"tanya Jongin.
"Mungkin tetap di sini... eung... menghabiskan waktu dengan membaca mungkin..."jawab Sehun polos. Jongin tersenyum dan kemudian mengusak rambut Sehun.
"Memangnya kenapa tidak pulang?"
"Berbeda denganmu... aku tidak memiliki sesuatu yang penting sehingga harus pulang ke rumah..."kata Sehun sedih.
"Ah... maaf yah jika tidak bisa menemanimu selama musim dingin. Ah... aku punya beberapa ekor anjing... mungkin aku bisa meminjamkanku satu selama musim dingin... bagaimana?"dan Sehun tersenyum saat mendengarnya.
...
...
...
"Monggu-ya... kenapa musim dingin terasa sangat lama yah?"Sehun mencium kedua mata besar puddle coklat di depannya.
"Apa yang sedang Jongin lakukan di luar sana... aku penasaran..."Sehun mulai melamun.
'tok... tok... tok...'
"Oh Sehun... ada yang mencarimu,"
"Ya?"
"Maaf... kami adalah orang tua Kim Jongin... bisa berbicara sebentar denganmu?"
...
...
...
Musim dingin berlalu terlalu cepat dari yang Sehun inginkan. Kini ia harus kembali ke sekokah jika tidak ingin mengulang tahun ini. Dan ini adalah minggu ke dua di musim dingin. Minggu kedua dan juga tanpa Jongin di sisinya.
"Aku menang... lihat kan dia sendiri lagi..."
"Jongin pasti sudah lelah dan mencampakannya..."
"Yeah kau menang... ini uangku..."
"Wah kasihan yah... kalau saja Jongin tidak menularkan AIDS padanya, aku sudah pasti memakainya sejak lama..."
"HAHA..."
"Atau mungkin Jongin mati karena penyakit itu? Dia tidak masuk sekolah kan?"
'PLAK'
"OH SEHUN! BERANINYA KAU!"
"APA YANG SALAH DENGAN MULUT KALIAN SEBENARNYA? APA AKU MELAKUKAN SESUATU YANG MERUGIKAN KALIAN? MENGAPA KALIAN SELALU MEMBUAT CERITA YANG MENYAKITKAN UNTUKKU!"
"MENGAPA KALIAN MENGATAKAN AKU DIPERKOSA AYAHKU KETIKA KECIL SEDANGKAN DIA SUDAH MENINGGAL BAHKAN SEMNEJAK AKU DILAHIRKAN... APA YANG MEMBUAT KALIAN BERPIKIR AKU PELACUR KETIKA DIUSIA LIMA TAHUN PAMANKU MENYENTUHKU DAN BIBIKU BAHKAN MENYALAHKANKU... AP-PP-PA... apa yang kalian pikirkan sebenarnya... hiks..."
"LALU JONGIN MATI KARENA OPERASI KANKERNYA DAN KALIAN MENYEBUTNYA TERKENA AIDS? FUCKING AIDS?! APA KALIAN TOLOL!"
"I... itu bukan salah kami... kau tidak pernah membela diri..."
"APA DENGAN MEMBELA DIRI KALIAN AKAN MENDENGARKANKU? KALIAN BAHKAN LEBIH BANGGA DIGIGIT ANJING YANG RABIES DARIPADA UNTUK SEKEDAR MENYAPAKU BUKAN! BAIKLAH... KALIAN MENANG... AKU KALAH... DAN AKU MENYERAH..."perlahan Sehun melangkah mundur.
"OH SEHUN? APA YANG KAU LAKUKAN,"
"Kalian yang menang..."dan suara itu terdengar terahir kali di hari itu, di iringi dengan jeritas histeris dari seluruh penjuru sekolah dan tubuh malang yang terhempas dengan keras di atas lantai yang dingin. Ternyata, mati tidak semenyakitkan yang Sehun bayangkan.
...
...
...
Karena meski Tuhan tidak menghendaki mereka untuk bersama, Sehun ingin sekali saja untuk menentang. Menyimpan semua kesempatannya untuk dikabulkan, menjadi hanya satu. Hanya satu untuk bisa bersama Jongin dimanapun ia berada. Karena Jongin adalah malaikatnya. Karena Jongin adalah alphanya. Dan karena Jongin yang telah membuatnya menjadi kata pengantar yang terbaca.
END.
Ampunnnn! Ampuni saya ya Alloh! Maafkan aku Sehun tercintahhhh dan reader sekalian... saya juga gak janji bakalan happy ending kan? Haha... sekali-kali angst gitu loh... haha
Dan dan... jeng-jeng... requestnya banyak sekaleee *nangisbombay
Makasih ya reader-nim dan reader-chan sekalian... *terhura
Okeh... requestan mulai diproses menggunakan panci serba guna Ibu(?) *apadehloh *sorrydehakuhomesick *kangenibu
Bye... dari akuh... yang sedih karena tes PIPOLnya gak maksimal huhu... dan merana karena matih litrikkk
Aduhhhh acak adul... maaf kalo banyak typo keburu baterai abis.
