Făn Xĭ
.
Cast akan muncul seiring berjalannya FF ini.
Rated: M
Warning : Buat yang ga suka kejam kejaman(?) mending gausah baca ya, ntar takutnya nangis(?). Typo(s) epriwer. GS for Uke.
Notes : FF ini terinspirasi dari sebuah novel yang luar biasa keren pake banget, ditambah imajinasi ga jelas dari otak Pika. Kkkk~ sudah cukup sepertinya Pika banyak bacot. Pffttt~
.
Chap. 2 : Wu Yi Fan
.
This is it... Happy Reading~
Keesokan harinya berita mengenai kematian Baekhyun secara kejam itu langsung menyebar keseluruh daratan Korea. Heboh. Sangat heboh. Banyak penggemar Baekhyun berdemo didepan kantor polisi setempat untuk meminta keadilan. Menangkap sang pelaku, lalu menghukumnya sesuai dengan perbuatannya.
Berita ini pun tentu saja menjadi topik hangat berita ditelevisi. Seorang pemuda tampan berwajah dingin, bermata seperti elang menyalakan televisi berukuran 14inch itu seraya memakan rotinya
"Seorang remaja putri ditemukan dalam keadaan mengenaskan, dengan setengah kaki kiri dan kepala terpisah dari tumbuhnya. Menurut hasil otopsi, diketahui remaja ini merupakan model cantik yang tengah naik daun, Byun Baekhyun, putri dari seorang Mentri Luar Negeri, Byun Daehyun..."
Pemudah itu menatap televsi yang tengah memberitakan Baekhyun dengan senyum remeh. Terbesit perasaan senang. Mengingat dulu betapa sakit hatinya dia karena Baekhyun.
"Bukankah dia mantan kekasihmu Kris?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja duduk disebelah pemuda itu. "Aku Wu Yi Fan ma.. bukan Kris. Kris sudah mati." Sahut si pemuda itu dingin. "Tapi itu nama pemberian ayahmu Kris." Sergah Mamanya—sebut saja Yixing— dengan lembut.
"Aku tidak peduli. Dan mama benar Baekhyun itu mantan kekasihku saat kelas 3 SMP.. aku senang gadis sombong seperti dia mati juga." Jelas sang anak seraya memeluk pinggang Mamanya.
"Kau tidak boleh seperti itu sayang~ dia hanya gadis yang kurang diperhatikan oleh orang tuanya, ditambah salah pergaulan.. Mama yakin dia adalah gadis baik." Ujar Lay seraya mengusap lembut surai pirang anaknya. 'baik apanya? Kerjaannya hanya membully orang lemah' jawab Yifan dalam hati.
"Sana segeralah mandi.. Walaupun ini hari libur kau harus tetap mandi! Bukan kah kau mau pergi kerumah Luhan?" suruh Yixing sambil mendorong pelan tubuh anaknya. "Aa tapi hari ini aku akan membantu Mama ditoko saja~" jawab Yifan seraya bangkit dari sofa, lalu berjalan pelan menuju kamarnya.
Klek!
Terbukalah pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan kamarnya. Tak terlalu besar namun cukup nyaman. Ditambah tergantung benda-benda antik pemberian kakeknya di China menambah indah dekorasi ruangan itu. Mata Yifan terpaku pada seuah benda tajam bersarung yg tergantung didinding kamarnya, kemudian ia mengambil selembar kain bersih, lalu membersihkan pedang pemberian kakeknya dengan penuh kehati hatian, lalu menaruh kembali pedang itu ditempatnya.
Ia pun segera memasuki kamar mandi dan memulai ritualnya(?)
[ proses mandinya disensor ya(?) ]
.
.
~Beralih ketempat lain pemirsa. Disebuah rumah megah, disalah satu kamarnya, terdapat gadis cantik berpipi bakpao tengah memainkan laptopnya dengan earphone terpasang ditelinganya. Gadis itu menulis sebuah alamat web yang menyediakan berbagai berita update tentang selebritis.
Mata sipit milik gadis itu terfokus pada sebuah tulisan besar yang menjadi headline web tersebut.
"Pembunuhan dikoridor Seoul Senior High School"
Terkejut? Sangat! SSHS merupakan sekolahnya bersama para sahabatnya itu. Dengan cepat ia meng'klik' berita tersebut dan muncul lah foto korban yang terpampang dengan jelas beberapa centi setelah headlinenya yang membuat dirinya semakin terkejut, matanya membulat menatap tak percaya.
Ia sering melihat orang itu, bahkan ia kenal, sangat kenal. Dengan mata yang masih terfokus pada layar laptopnya, ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Ekspresi wajahnya masih diliputi perasaan terkejut serta tak percaya. Nada sambung itupun tergantikan oleh suara gadis diseberang sana.
"Halo Luhan!" seru sang Gadis.
"Ada apa Xiumin? Tumben sekali kau menelfon pagi-pagi begini?" tanya Luhan santai.
"Kau sudah tau tentang berita pagi ini?!" tanya Xiumin heboh.
"Berita apa?" Luhan malah bertanya balik.
"Berita...tentang Baekhyun!" pekik Xiumin.
"Tentang pembunuhan itu ya?" balas Luhan, nada suaranya berubah. Yang tadinya bersemangat menjadi sendu. Ya. Xiumin tau Luhan sangat sedih, bagaimanapun dulu Baekhyunn merupakan sahabat dekat Luhan juga, namun semenjak jadi model Baekhyun lebih suka bergaul dengan sesama Model. Meskipun Luhan dan Baekhyun berada disekolah yang sama mereka sangat jarang saling bicara. Ditambah berbeda kelas hubungan persahabatan meraka semakin jauh.
Mereka berdua terdiam. Terhenyak memikirkan memori dimasa lalu bersama Baekhyun. Mereka adalah sahabat saat SMP namun Xiumin tidak terlalu dekat dengan Baekhyun. Tiba-tiba suara Luhan memecah keheningan diantara mereka..
"Siapa Xiu? Siapa yang tega membunuh Baekhyun? Apa salah Baekhyun? Bukankah ia gadis yang baik?" Terdengar suara Luhan bergetar dari sana.
"Aku tidak tau.. tapi kurasa ini ada kaitannya sama.." Xiumin menggantungkan kalimatnya. Tiba-tiba Xiumin teringat tentang Lonceng Luhan.
"...ah iya Luhan, jadi orang yang dimaksud lonceng mu itu Baekhyun ya..Apakah lonceng itu tidak memberitau siapa pelakunya?" tanya Xiumin.
"Sama siapa Xiumin? Ya. Aku tidak menyangka..tapi aku sedikit bersyukur orang itu bukan kau Xiu. Ku rasa Tidak. Bukankah aku sudah mengatakan lonceng ini hanya menunjukan cara matinya saja?"
"Bukan siapa-siapa Lu. Ah iya aku lupa. Kau ingin kepemakamannya Lu?"
"Iya.. tadi Eomma Baekhyun menelfonku dan memintaku untuk datang. Kau mau ikut? Aku juga akan mengajak Kai, Yifan, dan Kyungsoo."
"Ya! Aku ikut. Jam berapa Pemakamannya dimulai?"
"Sore ini. Kita bertemu di Pemakan Umum Bukit Seoul."
"Baiklah sampai nanti Luhan! Bye~"
.
.
Kembali ke Yifan yang tengah membantu Mamanya diToko Roti. Yifan bukan lah seorang kaya raya. Namun dengan usaha Mamanya diToko Roti dapat mencukupi biaya sehari-harinya. Memang dulu saat kecil ia merupakan anak dari pengusaha terkenal, ia dulu adaah anak yang selalu dilimpahi kekayaan. Sayangnya, Baba Yifan senang bermain perempuan, hingga akhirnya Yixing memilih bercerai dan membawa Yifan yang saat itu baru lulus sekolah dasar ke Korea dengan hanya berbekal sedikit uang.
Saat itu hidupnya bersama Yifan sangatlah susah, ia berkali-kali diusir dari tempat tinggal karena tak sanggup membayar. Namun dengan baik hatinya keluarga Luhan memberikan Yifan dan Yixing tempat tinggal serta sebuah toko Roti. Dan mulailah sedikit demi sedikit Yifan dan Yixing bangkit dari kesusahannya.
"Kris.." "Yifan Ma!" ralat sang anak.
"Baiklah Tuan Muda Yifan. Kau tidak kepemakaman Baekhyun?" tanya Yixing lembut sambil membalik tulisan 'Closed' menjadi 'Open'. "Aku tidak tau dan aku tidak peduli." Jawab Yifan dingin sambil menaruh roti hangat yang sudah matang pada Raknya. "Ma kurasa mama membutuhkan.." "Bibiii.." sebuah suara memotong pembicaraan Yifan. Ia tidak marah, malah ia tersenyum melihat gadis yang memotong pembicaraannya itu.
"Luhan? Ada apa kesini? Kau menyusulku?" tanya Yifan sambil menghampiri Luhan yang tengah memeluk Yixing.
"Ceh percaya diri sekali kau tiang berjalan. Aku kesini karena aku merindukan Bibi Yixing tau!" cibir Luhan seraya memeletkan lidahnya. Yixing tertawa. Yifan tersenyum seraya mengacak rambut Luhan. Ia tau. Luhan bukan hanya merindukan Mamanya. Dari raut wajahnya terlihat jelas ia sedang sedih. 'Pasti Baekhyun' pikir Yifan.
"Luhan, bibi harus kembali kedapur. Kau duduklah dan mengobrol bersama Yifan ya.. ah Yifan, ambilkan roti dan susu untuk anak Mama ini ya!" titah sang Mama yang disambut tatapan tajam dari Yifan. Ayolah! Yang anak itukan dia-_-
Luhan dan Yifan duduk salah satu sudut toko itu. "Kau..sudah dengar tentang Baekhyun, Yifan? Tanya Luhan sambil menyeruput susu hangat yang baru saja dibuatkan oleh Yifan. "Hm. Lalu ada urusannya dengan ku?" tanya Yifan acuh.
"Kau ini..masih belum bisa memaafkannya hm? Jangan-jangan kau ada kaitannya dengan kasus ini ya?" tanya Luhan memandang Yifan menyelidik.
"Astaga kau bercanda.." Yifan mendengus kemudian melanjutkan, "Kau mengenalku dengan baik kan Luhan? Tidak mungkin aku melakukan hal sebejad itu." Sambung Yifan tenang.
"Yahh haha iya aku tau kau tidak mungkin melakukannya.." kekeh Luhan dengan senyum tulus yang terpatri dibibirnya.
"Nanti kita datang kePemakamannya ya!" ajak Luhan ragu. "Anything for you deer~" jawab Yifan lembut dengan senyum tampannya. "Baiklah nanti aku jemput ya!" "Tidak perlu. Kita bertemu dimakamnya saja.. Pemakaman Bukit Seoul kan?" ujar Yifan cepat. "Yaa baiklah." Jawab Luhan pasrah.
Yifan dan Luhan terdiam. Mengingat masa lau untuk sekian kalinya. Ingatan mereka terbang ke 3 tahun silam. Saat Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, Kai, dan Xiumin merupakan sebuah Geng sampah. Geng sampah? Ya itulah anggapan Yifan. Memang Yifan dan Luhan merupakan sahabat baik, namun Yifan tidak ikut dalam geng itu. Ia cukup tau diri. Mengingat geng itu berisi anak anak borju, dengan kepopuleran kosong yang mereka manfaatkan untuk menindas yang lemah. Luhan memang termasuk geng itu, namun beruntung ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Yifan.
'kemungkinan besar geng sampah itu pasti akan berkumpul nanti. Dan membicarakan hal hal tak penting.' Pikir Yifan sarkatis.
.
.
.
Pemakaman Umum Bukit Seoul sore itu terlihat ramai. Sebuah motor sport hitam terparkir dekat dengan beberapa mobil mewah. Terlihat banyak sekali wartawan lalu lalang. Pemuda yang mengendarai motor itu hanya menatap datar. Tak bergeming. Tak berniat sedikitpun untuk turun dari motornya. Hingga seorang gadis yang berbalut dress hitam selutut, sepatu hitam, topi hitam, dan kacamata hitam menghampirinya. Dan tak lupa, sebuah pin lonceng tersemat didadanya.
"Tunggu apalagi Yifan? Ayo yang lain sudah berkumpul." Ujar gadis itu sambil menarik paksa tangan Yifan.
"Kalau bukan karena mu, aku benci datang ketempat ini!" ketus Yifan yang disahut gumaman tak jelas dari Luhan.
.
"Yo! Yifan kau datang juga?" sambut Kai saat melihat Yifan digandeng oleh Luhan. "Seperti yang kau lihat Kai." Jawab Yifan seadanya. "Aku pikir kelas dance dan kelas teater tidak jauh berbeda, kenapa kita jarang bertemu ya?" tanya Kai lagi. Yifan hanya diam, tak tau harus menjawab apa.
"Padahal kemarin aku masih melihatnya bermain dengan teman modelnya itu.. Kau tau Xiu? Aku sedikit tak percaya saat mendengar kabar kematian Baekhyun yang tak wajar itu.." Celetuk gadis bertubuh langsing bermata bulat seraya membenarkan letak kacamatanya.
"Kematian tidak ada yang tau Kyung~" jawab Xiumin sigkat yang diangguki oleh Kyungsoo. "Jadi kau bersedia juga datang kesini Yifan? Aku terkejut." Ujar Xiumin dengan senyum remehnya sambil memandang Yifan. "Kalau bukan karena Luhan, aku tidak sudi Xiu." Jawab Yifan datar.
"Sudah sudah, lebih baik kita kesana. Acara sudah mau mulai." Saran Luhan kemudian pergilah mereka ketempat dimana Baekhyun akan dikebumikan.
Lima pasang kaki itu melangkah, mendekati kerumunan manusia yang mengelilingi sebuah lubang ditanah. Kerumunan manusia itu terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, yang tentu saja mayoritas adalah orang orang ber'ada'. Para wartawanpun cukup banyak disana. Pemakaman Umum Bukit Seoul yang biasa sepi kini menjadi ramai.
Suasana begitu tenang. Angin bertiup lembut ditambah sinar jingga yang menambah keindahan alam ini. Semua orang terdiam, tak ada yang berani berbicara. Hanya seorang Pendeta yang tengah berceramah, membicarakan tentang kehidupan dan kematian.
Setelah kurang lebih 30 menit Pendeta itu berceramah, peti itu ditimbun tanah. Sebuah makam baru tercipta di Pemakaman Umum Bukit Seoul. Orang-orang bergantian mendatangi makam itu, kemudian mengucapkan rasa bela sungkawa pada Tuan Byun dan Nyonya Byun.
Ketika suasana jauh lebih sepi. Keluarga Byun mendekati makam itu. Mengucapkan kata demi kata yang entah didengar atau tidak oleh Baekhyun. Luhan dan sahabatnya pun turut mendatangi makam itu setelah keluarga Byun meninggalkannya.
Luhan berlutut. Meletakkan sebuket bunga Lili Putih tepat didepan nisan tersebut. "Kau.. Sungguh aku tak percaya kau meninggalkan kita secepat ini Baek.. kita bahkan belum lulus SMA.. Tenanglah disana Baek.. Kita tidak akan melupakanmu." Bisik Luhan lembut seraya menghapus air matanya. Ia mengusap pelan nisan Baekhyun, lalu bangkit. Dan Kai, Kyungsoo, Xiumin juga melakukan hal yang sama. Hingga tibalah yang terakhir.. Yifan.
Yifan tidak mengucapkan apa-apa, ia hanya membungkuk untuk menaruh 3 tangkai Bunga Matahari, lalu kembali bangkit, memandang nisan itu nanar. Ekspresi wajahnya tak tertebak.
Mereka semua pun kembali keparkiran, Luhan jalan paling belakang. Saat hendak mencapai kendaraan mereka, tiba-tiba Luhan terdiam kaku. Kakinya seolah terpaku pada tanah. Jantungnya berpacu dengan cepat, wajahnya pucat pasi. Hal itu membuat teman-temannya berbalik menatapnya bingung.
"Ada apa Luhan?" tanya Kyungsoo menatap Luhan heran.
"Xiu.. Loncengku berdenting 2 kali.." jawab Luhan lirih dengan pandangan kosong.
.
.
.
TBC.
.
Hohoo yang review dikit amat ya-_- padahal yang baca banyak. But, sebagai author yang bertanggung jawab, Pika mau lanjutin aja. Wkw semoga aja nambah reviewnya yesh! Ohiya, makasih Buat Author Senior, Eclaire Oh yang udah ngereview! Mwehehe Pika tersanjung lohJ Makasih juga buat Taohan03 ya!
.
Yaudah gitu aja. Review please! /puppy eyes/
