Făn Xĭ
.
Cast akan muncul seiring berjalannya FF ini.
Rated: M
Warning : Buat yang ga suka kejam kejaman(?) mending gausah baca ya, ntar takutnya nangis(?). Typo(s) epriwer. GS for Uke.
Notes : FF ini terinspirasi dari sebuah novel yang luar biasa keren pake banget, ditambah imajinasi ga jelas dari otak Pika. Kkkk~ sudah cukup sepertinya Pika banyak bacot. Pffttt~
.
Chap. 3 : The Next
.
This is it... Happy Reading~
Bumi terus berputar dan berputar. Detik demi detik terus berjalan tanpa henti. Kecuali jika sang pencipta yang menginginkannya. Begitupula dengan Kyungsoo meski baru beberapa hari yang lalu sahabatnya meninggal karena pembunuhan keji yang tak manusiawi, tak membuat ia mengehentikan aktivitasnya sebagai seorang pelajar sekaligus penyanyi. Meski entah mengapa sedikit rasa takut terbesit dalam benaknya.
Pagi ini Kyungsoo menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Bangun, mandi, sarapan, berangkat sekolah, berlatih. Dan kebetulan malam ini ia ada perform disalah satu mall terkenal di seoul. "Eomma, aku berangkat." Pamitnya pada sang Ibu. Tanpa mendengar jawaban dari sang Ibu, Kyungsoo sudah berada dalam mobilnya, dan menjalankan mobil itu dalam kecepatan rata-rata menuju SSHS.
.
'7.30, well masih ada 30 menit untuk bersantai.' Batin Kyungsoo setelah memandang jam putih yang melingkar ditangannya. Perjalanan 20 menit dari rumahnya menuju sekolah cukup membuatnya sedikit pegal. Ia melangkahkan kaki mungil yang berbalut sepatu kets hitamnya itu menuju gedung sekolahnya. Seorang gadis menghampirinya. 'ck, penjilat kecil lagi' batin Kyungsoo saat melihat gadis itu berjalan mendekatinya.
"Selamat pagi Soo eonnie.." sapa sang gadis dengan senyum manis yang dibuat-buat. "Pagi Seulgi.." jawab Kyungsoo acuh, ia berjalan dengan diikuti Seulgi disampingnya dan tak lupa ocehan sampah Seulgi turut mengiringi langkah mereka.
Kyungsoo tau benar penjilat kecil ini, Kang Seulgi dari kelas 10 C yang sangat ingin seperti dirinya. Cantik, sukses, dan populer. Ia bahkan mengikuti segala macam gaya Kyungsoo. Dari mulai pakaian, sikap, gaya bicara. Benar-benar mirip. Seperti miniatur Kyungsoo.
"Eonnie, apa eonnie tau Irene dari kelas 10 A? Kemarin aku habis membully dia. Habisnya aku kesal sekali dengan dia.. si jelek yang sok baik itu benar-benar menjijikan! Dia sok care dengan semua orang, cari muka, pokoknya aku benar-benar membenci dia eonnie. Tapi herannya, banyak orang yang senang padanya. Tidak namja, tidak yeoja semua menyukainya. Menyebalkan." Cerocos Seulgi tanpa henti membuat Kyungsoo tertawa dalam hati. Honestly, Seulgi ini hampir mirip dengan dirinya saat SMP, mengikuti kaka kelas, membully yang lemah, cari muka agar bisa populer. Namun itu hanya dulu. Tentu saja sekarang ia tidak akan membuang waktunya untuk melakukan hal seperti itu. Ah lagi pula Kyungsoo cukup senang dengan Irene. Gadis itu memang sopan dan manis, tidak seperti Seulgi.
Kyungsoo menatap Seulgi dengan senyuman angkuh dan berkata, "Well, kau tau Seulgi? Lebih baik kau mencari kegiatan yang lebih berguna dari pada membully yang lemah. Dan asal kau tau saja, aku juga sedikit senang pada Irene dia gadis yang manis. Wajar jika semua orang menyukainya."
Perkataan itu sukses membuat Seulgi bungkam. Dan dengan wajah merah menahan marah dan malu ia mundur beberapa langkah berjalan berbalik arah dengan Kyungsoo. Ahh akhirnya bisa bebas juga, begitulah ucapan Kyungsoo dalam hati. Kyungsoo memasuki kelasnya, mengedarkan pandangannya keseluruh ruang kelas. Mata bulat itu terpaku pada sosok namja yang tengah membaca buku dengan serius. Senyum remeh tercipta dibibirnya.
"Kau rajin sekali Yifan.." ujar Kyungsoo seraya mendudukan dirinya dikursi sebelah Yifan. Yifan tak menggubris perkataan Kyungsoo. Membuat Kyungsoo mendelik kesal. Dengan santai ia menendang meja Yifan.
"Apa maumu?" tanya Yifan dingin. Yifan sebenarnya sangat malas berbicara dengan Kyungsoo. Ia juga membenci Yeoja bermata bulat ini. Wajah yang terlihat polos dan baik, namun sikap dan sifat yang berbanding terbalik dengan wajahnya. Begitulah pendapat Yifan tentang Kyungsoo.
"Santai saja Yifan.. Ah iya, Ibumu masih berjualan roti? Kapan kalian jadi orang kaya kalau terus berjualan roti seperti itu? Bagaimana kalau Ibumu bekerja sebagai pembantu dirumah ku saja? Gaji nya lebih besar dari penghasilan Toko Rotimu loh~" ucap Kyungsoo sarkatis. Tangan Yifan mengepal erat. Ini salah satu alasan ia membenci Kyungsoo. Sifat sombong dan suka menghina secara tak langsung. Tanpa menjawab ucapan Kyungsoo, Yifan mengambil tasnya, lalu mencari tempat duduk yang jauh dari jangkauan Kyungsoo.
Kyungsoo hanya tertawa remeh melihat Yifan pergi meninggalkannya. 'Dia itu.. miskin tapi terlalu banyak gaya.. beruntung dia teman Luhan.. Kalau tidak, nasib nya pasti akan sama dengan si culun itu.' Batin Kyungsoo seraya menatap Yifan dengan sinis.
.
.
Kelas Kyungsoo selesai pukul 4 sore. Dengan masih berseragam ia langsung pergi ke lokasi manggungnya. Ah segala sesuatunya sudah disiapkan oleh sang Manager, jadi ia tenang-tenang saja.
Sesampainya disana ia langsung disambut oleh penggemarnya, dengan susah payah ia turun dari mobilnya dan langsung menuju tendanya. "Manager Oppa, dimana pakaian ku?" tanya Kyungsoo pada sang Manager.
"Ini.. kau gantilah disini, aku akan berjaga diluar." Ujar sang manger seraya menyerahkan sebuah dress berwarna White broken yang cantik, dengan cepat Kyungsoo mengganti seragamnya setelah beberapa saat managernya keluar.
.
.
Beralih ketempat lain. Meski sudah 3 hari yang lalu lonceng Luhan kembali berdenting 2 kali, namun hingga saat ini tidak ada kematian yang terdengar. Hal itu tidak cukup membuat Luhan dan Kai tenang. Sedangkan Xiumin hanya bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Mungkin dia hanya berusaha menghilangkan rasa takutnya, jadi ia bersikap santai, begitulah pikir Luhan.
Saat ini Luhan tengah menghabiskan waktu dengan duduk santai dikedai bubble favoritnya, seraya membaca buku modul tentang cara mengaransemen sebuah lagu. Sejak kecil Luhan memang tertarik pada dunia musik.
"Permisi nona, boleh aku duduk disini?" sebuah suara baritone sukses membuat Luhan mengalihkan pandangannya dari buku modulnya. Luhan menautkan alis. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kedai. Pantas saja, sedang penuh. "Tentu saja." Jawab Luhan lembut dengan senyum manisnya.
"Terimakasih. Ah iya, perkenalkan.. aku Sehun." Ujar sang pemilik suara baritone itu. Luhan manutup bukunya, dan memulai percakapannya dengan Sehun. "Oh, Hai Sehun! Aku Luhan!" jawab Luhan semangat. Luhan memang gadis baik dan pandai bersosialisasi. Dia tidak peduli jika ada yang mengatakan dirinya sok kenal atau apapun itu. Hal itu justru membuat Luhan dikenal banyak orang.
"Ah Luhan.. nama yang yang cantik~" ujar Sehun yang membuat pipi Luhan bersemu merah. "Kau bisa saja.. Ohiya Sehun, kau masih SMA atau sudah kuliah?" tanya Luhan santai tanpa canggung sedikitpun.
"Aku masih SMA.. sebenarnya aku sedang mencari SMA yang bagus diwilayah ini.. kebetulan aku murid pindahan dari Busan. Kau tau sekolah yang bagus Lu?" tanya Sehun seraya meminum Bubblenya. "Bagaimana kalau kau sekolah di sekolahku saja? Seoul Senior High School. Kurasa itu cukup bagus. Kau bisa memilih jurusan disana. Disana ada 3 gedung. Gedung 1, yaitu Gedung Sains. Yang kedua Gedung Sosial. Yang ketiga Gedung Seni. Dari masing-masing gedung mempunya cabang kelas yang berbeda." Jelas Luhan dengan ceria. "SSHS? Bukankah itu lokasi pembunuhan Baekhyun?" tanya Sehun menautkan alisnya. "Ah kau tau masalah itu ya.." nada Luhan berubah murung.
"Tapi kurasa, aku akan sekolah disitu.. lebih tepatnya Gedung Seni." Ujar Sehun dengan seringainya. "Benarkah?" tanya Luhan dengan binar dimatanya. Entahlah. Luhan merasa senang bisa kenal Sehun, apalagi ia akan bersekolah di sekolah yang sama dan gedung yang sama. "Yaa begitulah.." jawab Sehun dengan eyes smilenya.
"Yey! Aku senang kau akan masuk SSHS Hun~" ujar Luhan jujur, membuat Sehun tersenyum puas dalam hati. "Sebenarnya, ada satu hal—ah maksudku ada seseorang yang membuat ku inging masuk Sekolah itu.." Mulut manis Sehun mulai melancarkan aksinya. "Ohya? Siapa?" tanya Luhan penasaran.
"Kau hehe.." jawab Sehun jujur dengan tawa kecilnya. Sedangkan Luhan hanya menunduk dengan semburat merah dipipinya.
'Kena kau Luhan..'
.
.
.
Acara manggung Kyungsoo selesai jam 9 malam. Kebetulan ia belum sempat makan malam. Ia memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu bersama salah satu temannya yang sesama penyanyi disalah satu restoran ternama diKota itu. "Jessica, apa menurutmu yang harus kita pesan?" tanya Kyungsoo sambil membolak-balikan daftar menu. "Aku pesan salad sayur saja.. kau tau? makan berat diatas jam 7 malam itu bisa bikin gemuk~" jelas Jessica sambil menutup buku menu, kemudian memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanannya.
"Salad sayur 1—" "Dua!" potong Kyungsoo cepat. "Baiklah salad sayur 2.. minumnya.. aku mau Jus Jeruk saja.. kau mau minum apa kyung?" tanya Jessica. "Jus Apel aja~"
Sambil menunggu pesanan datang, Jessica dan Kyungsoo mengobrol tentang para anti fans mereka. "Kau harus berhati-hati Kyung. Anti fans semakin menggila. Aku pikir, yang membunuh Baekhyun itu adalah Anti fansnya. Yah berhubung anti fans Baekhyun cukup banyak.. bisa saja kan?" ujar Jessica yang membuat Kyungsoo terdiam.' Kalau dipikir-pikir benar juga ya. Bisa saja itu anti fans Baekhyun. Benar-benar menyeramkan..' batin Kyungsoo sambil mengingat berita kematian Baekhyun yang dibunuh dengan cara kejam itu.
.
"Kau yakin mau pulang sendiri?" tanya Jessica memastikan saat mereka diparkiran. "Iya tenang saja.. aku sudah terbiasa pulang malam dan mengendarai sendiri." Jwab Kyungsoo singkat. "Baiklah hati hati Kyung~" ujar Jessica lalu memasuki mobil mewahnya.
"Hahhh lelah sekali~" keluh Kyungsoo seraya melempar tasnya ke jok belakang mobil. "kalau bukan demi kepopuleran dan uang.. aku benar-benar muak jadi artis seperti ini~" gerutu Kyungsoo sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Perjalanan dari lokasi manggung Kyungsoo dengan rumahnya cukup jauh. Harus melewat beberapa jalan protokol. Namun beruntungnya, ia tau jalan pintas agar cepat menuju rumah. Ia membelokkan stirnya menuju jalan yang sangat sepi. Jalan ini memang jarang dilewati orang terlebih saat sudah malam seperti ini. Kanan kiri hanya perkebunan, dan bangunan bangunan tua yang sudah tak berpenghuni. Kyungsoo sedikit merinding saat mobilnya melewati jalan ini. Masalahnya ia hanya sendiri, ditambah ini sudah jam 10 malam. Kyungsoo menambah kecepatan mobilnya, namun dipertengahan jalan tiba-tiba laju mobilnya menjadi tersendat-sendat. Dan akhirnya mati total.
Melihat suasana yang gelap, ketakutan menyeruak ke diri Kyungsoo. Entah kenapa, ia teringat tentang kematian Baekhyun.. seketika ia panik. Jantungnya berpacu dengan cepat. Ia menyambar ponselnya untuk menghubungi Ibunya. 'Sial! Ponselku mati. Bagaimana ini?!' batin Kyungsoo panik.
DUG! TANG!
Jantung Kyungsoo semakin berpacu, keringat mengalir dipelipisnya saat mendengar sesuatu membentur body mobilnya. "EOMMAAA! SIAPA ITU?!" teriak Kyungsoo dalam mobilnya. Ia benar-benar takut sekarang. Bahkan ia menangis. Pikiran negatif mulai menghantui pikirannya. 'Bagaimana kalau itu orang jahat? Bagaimana kalau dia ingin menyakitiku? Bagaimana kalau aku akan dibunuh seperti Baekhyun?!' batin Kyungsoo menerka buruk.
10 menit berlalu. Suara itu tak terdengar lagi. Kyungsoo hanya berdiam didalam mobil. Tak berani keluar. "Baiklah tenang Kyungsoo. Tenang. Diluar hanya kucing. Mobilmu hanya mogok. Tidak akan terjadi hal buruk. Baiklah sekarang keluar. Dan periksa keadaan." Dengan memberankan diri, Kyungsoo meraih senter dari laci mobil miliknya lalu membuka pintu mobilnya. Dengan cepat ia langsung mengarahkan senternya ke bagian belakang mobilnya. Pemandangan gelap, kosong, hening menyambutnya. 'Tidak ada apapun.. benarkan itu hanya kucing..' batinnya menenangkan.
Baru saja sarafnya mengendur tiba-tiba ada seseorang yang menikamnya dari belakang. Membekap mulut Kyungsoo juga sebuah belati menempel dipipinya. Menengok sedikit saja, itu bisa menusuk pipinya.
Kyungsoo ketakutan setengah mati. Air mata mengalir. Demi apapun ia benar-benar takut sekarang. "Ingat aku Do Kyungsoo? Gadis berwajah polos dengan sejuta kebusukan didalamnya.. Ceh munafik!" ujar seseorang itu dengan suara beratnya. Jelas sekali bahwa orang itu seorang pemuda.
"Ka—kau...tidak.. tidak mungkin!" Kyungsoo berucap susah karena bibirnya masih dibekap. "Apa yang tidak mungkin? Kau terkejut?" "AHH!" Kyungsoo menjerit keras saat belati itu menggores dalam pipi mulusnya. Rasa nyeri dan perih langsung menjalar ke pipinya.
Kyungsoo berbalik, mendorong orang itu hingga ia terhuyung. Belum sempat Kyungsoo lari, betis kirinya tersabet oleh benda tajam lain yang dibawa oleh pemuda itu. Raungan kesakitan memekakan telinga. Darah berceceran walaupun tak terlihat, Kyungsoo dapat merasakan darah mengalir dari betisnya. Kyungsoo berusaha bangkit dan berlari. Ia berteriak keras, sesekali ia menoleh kebelakang untuk melihat si pemuda itu. Saat ini ia benar-benar berharap ada seseorang yang mendengarnya. Ia terlalu sibuk berteriak dan tak fokus, hingga akhirnya ia tersandung batu besar yang membuat dirinya tersungkur. Kini bukan hanya betisnya yang mengeluarkan darah. Lutut dan sikutnya juga turut mengeluarkan cairan merah berbau anyir itu.
"TOLOOOONG! TOLONG AKUU! KU MOHOOONN SIAPAPUN DENGAR AKUU!" Jerit Kyungsoo saat melihat si pemuda berjalan mendekatinya dengan pedang ditangannya. Setengah mati Kyungsoo berusaha bangun, namun kakinya benar-benar sakit.
"Do Kyungsoo.. ingat perbuatan menjijikan mu itu? Perbuatan yang kau anggap remeh, sekarang menjadi malapetaka untukmu. Sifat sombong dan suka menghina. Ceh jalang!" teriak si pemuda menghunuskan pedangnya ke perut Kyungsoo. Kyungsoo menjerit kesetanan. Sakit bukan main.
"Ma—afkan aku! Ku mohon maafkan aku! Lepaskan aku. Aku masih ingin hidup! Kumohon!" mohon Kyungsoo sambil menahan sakit dikaki dan perutnya. "Maaf katamu? MAAF?! KAU PIKIR ITU SETARA DENGAN RASA SAKIT HATI YANG KAU BERIKAN SAAT KAU MENGHINAKU HAH?! JALANG! KU KIRIM KAU KE NERAKA!"
Satu hunusan pedang lagi. Kali ini bukan diperutnya melainkan didadanya. Sang pembunuh kejam itu berjongkok disamping tubuh Kyungsoo. Kyungsoo hanya menatap pedih pada sang pembunuh. Ia menyesal. Sangat menyesal. "Ku buat kau tidak bisa menyanyi lagi Do Kyungsoo!" ia menyayat leher Kyungsoo perlahan. Menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Sungguh rasanya seperti sedang dikuliti hidup-hidup! Ia lebih memilih langsung dipenggal saja sekalian dari pada seperti ini caranya. "Bagaimana rasanya? Sakit?" tanya sang pembunuh semakin membperlambat mengucur deras dari lehernya. Ia terlihat seperti sapi yang dipotong kepalanya sekarang.
"AARGGGHHHHH!" Satu teriakan mengerikan dari Kyungsoo dan saat itu juga pita suaranya terputus. Matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka seperti orang berteriak. Saat itu juga ia mati.
Setelah teriakan itu sang pembunuh masih saja menyayat leher Kyungsoo, namun tidak sampai putus. Mengoyak, mencabik leher putih mulus yang sekarang berwarna merah itu.
Sang pembunuh terengah-engah. Hal mengerikan yang ia lakukan tadi cukup membuat nafasnya tersenggal. Ia menatap mayat Kyungsoo yang tak bernyawa itu datar. Sama seperti korban sebelumnya.
"Sudah 2.. tinggal 3 lagi.." desis sang pembunuh lalu tertawa layaknya seorang psikopat. "Tunggu giliran kalian.." tambah sang pembunuh lalu melempar sebuah foto usang lima orang remaja. 2 diantaranya sudah tercoret tinta merah.
.
.
TBC
.
Review juseyo-_- Jangan jadi siders yaa ntar Pika santet tau rasa! Pika udah fast update nih. Padahal males karna yang review dikit, tapi tangan gatel aja gitu pengen ngetik wkwk. Yodahh di Review yaa! Kritik dan saran ditunggu~
