Tittle : CONCATENATE
Pairing : KaiSoo slight! ChanBaek, HunHan, TaoRis
Disclaimer : This whole plot story is mine. Those damn guys with tempting figure are forever God's.
Rating : M (For insulting words, and some *cough* scene[s] later)
Summary :
Katanya, setiap kepala manusia adalah kota. Masing-masing orang menghidupi kota itu dengan cara mereka sendiri. Menjadikan tiap sudut dalam kepalanya senyaman mungkin. Sampai membatasi dengan ketat siapa saja yang boleh melintas di dalamnya.
Satu-satunya permasalahan adalah; ketika cinta datang berkunjung.
If it's true, then Jongin's city is a total mess.
Jongin menamakan kota di kepalanya Chaos.
Di dalamnya merupakan gang-gang sempit tanpa nama. Lengkap dengan lorong gelap dan jalanan beceknya. Tanpa terkotak-kotak antara Distrik Manajemen Waktu sampai Kesehatan. Tidak ada buleprint lengkap di dalamnya. Semua pekerja otaknya bermukim dimanapun mereka mau.
Lalu lintas di dalamnya tak pernah sepi. Pekerja-pekerja otaknya selalu lalu lalang. Menyibukkan diri mereka sendiri, atau karena tersesat saat ingin pergi ke distrik kerja mereka, atau sesederhana karena Jongin terlalu cepat berubah pikiran.
Namun, salah satu alasan yang selalu terjadi adalah karena Jongin tidak punya pola untuk para pekerjanya. Tanpa terencana. Tidak ada waktu tertentu untuk jam kerja di tiap distrik kotanya. Ia akan makan saat ia ingin makan. Ia akan tidur kapan saja ia bisa tidur. Dan ia tetap menghisap rokok dalam-dalam walau pekerja di Distrik Kesehatan berdemo menolaknya.
Distrik Emosinya bekerja tak kalah kacau. Pekerja di dalamnya enggan berkutat dengan solusi. Mereka akan langsung memanggil Departemen Hiburan untuk menawarkan cara berlari. Dan Jongin menurutinya.
Jongin sering menemukan dirinya berakhir di pinggir pantai sendirian, melarikan diri tanpa ingin menyelesaikan permasalahan selama berhari-hari. Ketika dia kembali dia akan bersikap seolah semua baik-baik saja.
Salah satu yang memahami cara kerja kepalanya adalah Sehun.
Ia bisa saja mengetuk pintu apartemen Sehun pada jam tiga pagi jika dia ingin tanpa protes dari pemiliknya. Sehun hanya akan memberikan Jongin sebotol bir dan menemaninya duduk di sofa sampai Ia mau bicara. Ada hari dimana Jongin hanya diam sampai fajar dan Sehun tertidur di sebelahnya.
Sehun bisa saja menolak Jongin. Namun, alasan-alasan singkat Jongin kadang membuatnya iba.
Mulai dari "Aku tidak suka sendirian.", "Aku tidak tahu harus kemana lagi."
Atau alasan tidak jelas seperti "Kemarin, aku memimpikanmu.","Kamu tidak merindukanku?"
Sampai hal sepele seperti "Aku kehabisan rokok.", "Di ingatanku, sofamu terlihat lebih nyaman."
Pola ini sudah berlangsung hampir dua tahun dan itu membuat Sehun terbiasa. Jadi, ketika Jongin datang pagi ini-tentu saja di waktu yang konyol- jam 3.45 Sehun sudah siap dengan sebotol bir di tangannya.
"Wow, kamu mulai sigap." Ujar Jongin sambil tertawa.
Ia langsung duduk di sofa dan membuka botol birnya. Sehun segera melakukan hal yang sama.
"So, what is fucking up?"
Tidak ada jawaban. Jongin hanya meneguk birnya sambil diam. Sehun bersandar di kursi dengan mata yang mengantuk. Hari ini dia mendapat tambahan practice setelah tiga kali mengulangi kesalahan yang sama.
"My life is fucking boring. Aku tidak tahu bagian mana yang salah." Ucap Jongin setelah hening yang cukup lama. Sehun tertawa.
"Kenapa? Apa yang lucu?" Jongin memandangnya dengan heran.
"Tidak… Hanya saja, kamu datang dan pergi seperti hantu. Dan ini adalah minggu ketiga kamu absen dari akademi. Kamu jelas tahu apa yang salah, Jongin."
Jongin menghisap puntung pertamanya, membiarkan asap rokok dan apa yang sedang dibicarakan Sehun masuk ke dalam kinerja tubuhnya.
"Yeah." Ia hanya memberikan jawaban singkat tanpa memandang ke arah Sehun. "Aku hanya merasa menari tidak lagi menyenangkan. Hanya buang-buang waktu."
Sehun menggigit bibirnya, ia tahu menjadi penari adalah satu-satunya impian Jongin. Tapi kali ini, dia sedang tidak dalam mood untuk memberi nasehat panjang. Masalah di hidup Sehun sudah cukup banyak untuk itu. Ia menarik nafas dan sebisa mungkin membuat kalimat yang selanjutnya tidak begitu menyengat.
"Look, Jongin. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang membuatmu seperti ini. Tapi aku tahu, kita tahu kamu punya bakat dalam menari."
Sehun melihat Jongin yang masih tanpa reaksi.
"Jika kamu memang ingin menyerah, lakukan. Paling tidak beri aku penjelasan. Aku menganggapmu sahabat bukan tanpa alasan, tapi karena aku memang benar-benar peduli. Semakin lama, aku semakin merasa ada sesuatu dalam kepalamu yang harus diperbaiki."
Sehun berdiri dari sofa, Jongin masih tidak memandangnya.
"...Segera." Ujarnya kemudian sambil menutup pintu kamar.
Do Kyungsoo adalah epitome dari kota yang mungkin bisa saja mendapatkan banyak penghargaan.
Distrik-distrik dalam kotanya tertata rapi. Ia menempatkan setiap distrik bekerja sesuai proporsinya. Distrik Manajemen Waktu mengatur Departemen Tidur bekerja dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi. Setelah itu, Kyungsoo akan memulai memasak sarapan paginya. Selama 30 menit Departemen Sarapan bekerja menentukan banyak pilihan. Kadang hanya setangkup sandwidch kalkun dengan tomat ceri, kadang-saat moodnya sedang baik- Kyungsoo akan membuat Kimchi Spaghetti dan mengepak satu porsi lagi untuk Baekhyun dalam perjalanan ke tempat kerjanya.
Distrik Kerja Kyungsoo mengatur seluruh organ tubuhnya untuk bekerja mulai dari jam delapan sampai jam empat sore. Dia cukup puas meraih jabatan sebagai Sous Chef di umur yang cukup muda. Semua temannya setuju, Kyungsoo mempunyai keahlian yang luar biasa dalam kuliner. Walaupun hal itu biasanya dibarengi dengan kritikan soal gaya hidupnya yang terlalu sederhana.
"Soo, kamu tahu kamu mampu membeli kendaraan pribadi." Kata Luhan, salah satu Chef de Partie-nya suatu pagi setelah mendengar cerita Kyungsoo yang berlari karena takut ketinggalan bus. Kyungsoo hanya tersenyum.
"Aku lebih menikmati fasilitas umum." Ujarnya kemudian.
Hal itu juga banyak datang dari Baekhyun.
"Belilah apartemen yang lebih besar." Diikuti dengan "Jika aku jadi kamu, aku akan membeli mobil dan pulang ke rumahmu yang mewah daripada harus tinggal di apartemen ini."
Kyungsoo tertawa mendengarnya.
"Aku hanya membelinya untuk investasi. Rumah sebesar itu hanya akan membuatku merasa sendiri. Lagipula apartemen ini lebih dekat dari tempat kerjaku."
Tapi Byun Baekhyun bukanlah Byun Baekhyun jika dia bisa diam hanya karena alasan sederhana.
"Then get a girlfriend or maybe boyfriend! Kamu sukses, berpendapatan besar, ini harusnya jadi hal mudah untukmu. Wajah sepertimu paling tidak bisa mendapatkan dua atau tiga wanita sekaligus."
Baekhyun berakhir dengan luka memar di lengannya hari itu.
Kyungsoo bukan tidak ingin mempunyai pasangan. Dia hanya merasa kehidupannya yang sekarang sudah cukup menyenangkan.
Dengan tidak adanya pasangan, sepulang bekerja Distrik Hiburannya bisa langsung mengambil alih. Kyungsoo bisa membuat supper untuk menemaninya menonton Pororo selama satu jam ke depan tanpa gangguan. Lalu dia bisa membuat makan malam sekitar pukul tujuh.
Dan tidak ada yang lebih menyenangkan dari waktu bebasnya setelah itu. Dia bisa membaca komik favoritnya, membersihkan rumah, atau pergi ke kota bersama Baekhyun dan Luhan. Walaupun dia akan selalu kembali sebelum jam sebelas malam.
Hal itu terus berlangsung selama masa hidupnya.
Dan dia bangga dengan keteraturan pola lalu lintas di kepalanya.
Hari ini adalah hari di mana Baekhyun dan Luhan memaksa Kyungsoo berkunjung ke apartemen Zitao-teman baru Luhan dari Cina. Kyungsoo menyutujuinya, pada jam tujuh dia telah bersiap pergi setelah memutuskan untuk makan malam bersama teman-temannya.
Zitao tinggal di salah satu perumahan yang paling rapi yang pernah Kyungsoo lihat. Rumah di sana berjejer dalam barisan lurus dengan taman kecil di depannya. Tipenya hampir sama, dengan petak-petak persegi yang memisahkan antara satu rumah dengan rumah yang lainnya.
Kyungsoo mengetuk salah satu rumah dengan nomor 68 di depannya. Ia menggosok-gosokkan tangannya beberapa kali karena kedinginan. Cuaca hari ini buruk, hujan besar sore hari tadi menyisakan genangan air yang mengotori sepatunya. Saat pintu itu dibuka, Luhan segera menariknya masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tengah sambil memainkan kartu-mungkin Poker karena Baekhyun selalu memperlihatkan wajah serius hanya dalam permainan Poker.
"Hai."
Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Kyungsoo segera berbalik dan mendapati seorang lelaki dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Ia segera mengulurkan tangan ke arah lelaki itu.
"Oh, hai. I'm Kyungsoo."
Lelaki itu tersenyum memperlihatkan rahangnya yang ramping. Ada tiga piercing yang melekat di telinga kanannya.
"I'm Zitao. Call me Tao. Itu lebih enak didengar, menurutku."
Kyungsoo mengangguk memandang lelaki yang lebih tinggi di depannya.
"Have a seat. Make yourself feel home." Ucap Tao sambil mengambil beberapa minuman soda dari dalam kulkasnya.
"Fold."
Baekhyun berteriak frustasi. Dia menyenderkan kepalanya di meja.
"Hah, ini benar-benar hari yang buruk." Keluhnya kesal.
Kyungsoo memandang Baekhyun sambil membuka kaleng sodanya. Luhan dan Tao ikut melihat Baekhyun dengan muka bingung.
"Ada apa?" Tanya Luhan setelah berteriak atas kemenangannya ronde itu.
"Aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke kemeja salah satu pelanggan."
"Hey! Aku berani sumpah kali ini aku tidak sengaja. Dan wanita tempo hari itu memang benar-benar menyebalkan, kalian tahu itu." Ucap Baekhyun cepat-cepat saat melihat Luhan dan Kyungsoo bertukar pandang. Tao hanya diam karena tidak mengerti apa yang dimaksud Baekhyun.
"Jadi kalian mau mendengarkan atau tidak?" Baekhyun mengeluarkan muka masam.
Bola mata Luhan berputar sebelum berkata, "Sejak kapan kamu perlu perhatian kami untuk bicara?"
Kyungsoo tergelak dan Baekhyun langsung memberinya tatapan sadis.
"Oh, sorry. Lanjutkan."
"Siang tadi Kris benar-benar marah dan mengancam untuk memecatku walaupun pelanggan itu bilang dia tidak apa-apa. Tapi Kris memaksaku untuk paling tidak mengganti rugi kemeja pelanggan tadi. Dan kau tahu apa yang terjadi?"
"Apa?" Tanya Tao tidak sabar.
"Pelanggan tadi menyuruhku untuk mentraktirnya makan Minggu pagi nanti."
Tao melongo dan mata Luhan melebar menyamai Kyungsoo.
"Apakah itu cara dia untuk mengajakmu nge-date?"
Baekhyun tertawa.
"It's not a date kalau dia berusaha menghabiskan semua gajiku bulan ini. Aku rasa dia sedang mencoba balas dendam dengan cara yang lebih tersembunyi."
"Oh, Byun Baekhyun." Luhan menarik bahu Baekhyun mendekat. "Jangan terlalu berburuk sangka. Dunia kadang tidak sejahat itu."
Baekhyun mengeluarkan nafas panjang.
"So, bagaimana penampilan lelaki ini?" Tanya Tao kemudian. Luhan bertepuk tangan kecil.
"Apakah dia tampan? Tinggi? Oh, oh, apa kau tahu pekerjaannya?" Luhan mendadak antusias.
"Namanya Park Chanyeol. Dan… Yeah… Kurasa dia cukup menarik.
Ruang tengah Tao mendadak ramai dengan sorakan dan Baekhyun yang malu-malu. Malam itu berlanjut dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan Baekhyun. Kyungsoo puas tertawa, karena ini merupakan salah satu hal yang paling ia sukai.
Kyungsoo meyakinkan teman-temannya untuk pulang duluan setelah waktu menunjukkan hampir jam sebelas malam. Walaupun sudah banyak rayuan dan bujukan yang dilontarkan temannya, namun nyatanya pekerja otak di kepalanya tidak mau bernegosiasi. Kyungsoo berjengit ketika udara luar yang dingin menyentuh kulitnya. Ia segera merapatkan mantelnya ke dada saat menyadari giginya mulai bergemeletuk.
Angin makin menjadi ketika ia menyebrangi sebuah jembatan dengan sungai di bawahnya. Ia mulai merutuk dan ingin cepat sampai di rumah. Matanya memincing saat melihat sebuah gang kumuh.
Kyungsoo mendekat untuk melihat lebih jelas. Hanya ada beberapa cahaya lampu di sana. Gang itu becek dan kotor dengan sampah yang berserakan. Kyungsoo heran bagaimana mungkin ada sebuah gang kumuh di dekat perumahan mewah yang tertata rapi seperti ini. Saat Kyungsoo memutuskan untuk beralih, ia menangkap sesosok bayangan sedang berlari dari dalam gang itu.
Kyungsoo kembali memfokuskan pandangannya untuk memastikan ia sedang tidak berhalusinasi saat figur seorang lelaki makin mendekat ke arahnya. Lelaki itu mempunyai postur tubuh yang tinggi, namun Kyungsoo tidak dapat melihat wajahnya karena penerangan yang buruk dan topi lelaki itu menutupi setengah wajahnya. Salah satu tangan lelaki itu tersembuyi di balik mantelnya, seperti menggenggam sesuatu.
Lalu kenyataan itu mengahantam Kyungsoo.
Ia menyembunyikan sesuatu dalam mantelnya.
Kyungsoo mulai panik saat lelaki itu makin dekat. Pekerja di otaknya berhamburan menyuruhnya segera berlari yang hanya dibalas tubuhnya dengan membeku.
Oh, Tuhan apakah dia penjahat?
Kyungsoo menyesal tidak menuruti saran Tao untuk tinggal lebih lama. Saat lelaki itu hanya berjarak satu meter di depannya, Kyungsoo menatapnya dengan ketakutan. Lelaki itu mengeluarkan seringai dari bibirnya dan mulai menarik tangan yang ia sembunyikan.
Pistol.
Itu pasti sebuah pistol.
Dia akan mengeluarkan pistol.
Dia akan menembakku, lalu membuang tubuhku ke sungai.
OH GOD PLEASE HELP ME, HE'S HOLDING A FRICKIN-
Eh?
Puppy?
Kyungsoo berkedip tak percaya saat lelaki itu memberikan anak anjing yang ia sembunyikan ke tangan Kyungsoo.
"Ketik nomor handphonemu. Cepat."
Ia melihat lelaki itu dengan tatapan bingung saat lelaki itu menyerahkan handphonenya.
"Aku bilang. Cepat." Nada lelaki itu berubah lebih gusar dari sebelumnya.
Kyungsoo segera menekan beberapa digit nomer sebelum memilih 'Save'. Saat ia menyerahkan handphone itu kembali, Kyungsoo melihat beberapa lelaki berlari sambil berteriak ke mereka-atau lelaki di depannya.
"Shit." Lelaki itu berbalik dan menatap Kyungsoo tajam. "Lari. Bawa dia bersamamu. Aku akan mengambilnya nanti."
Saat satu pukulan melayang ke wajah lelaki itu, ia kembali berteriak ke Kyungsoo. "Lari!"
Dan Kyungsoo tidak pernah menemukan dirinya berlari secepat itu.
Aneh.
Ini adalah malam teraneh yang pernah terjadi dalam di hidupnya.
Kyungsoo melihat ke arah anak anjing yang melingkar di pangkuannya. Ia terpaksa memberikan setengah daging untuk porsi sarapannya besok setelah tidak menemukan sesuatu yang layak untuk anak anjing itu.
Dia mengangkat Toy Poodle di pangkuannya hingga sejajar dengan matanya.
"What the hell was happened?"
Dia bertanya ke poodle itu sambil para pekerja otaknya berbondong-bondong ke Departemen Ingatan untuk memutar kembali kejadian malam ini. Kyungsoo mengingat bagaimana lelaki itu dipukul. Tapi ia tidak ingat lelaki itu menampilkan rasa sakit. Ia hanya menyeringai. Dan seringai itu tak juga hilang dari kepala Kyungsoo.
Kyungsoo tidak mengerti apa yang membuat anak anjing begitu beharga.
Ia hampir melompat dari sofanya saat handphonenya berdering menampilkan nomor tidak dikenal. Kyungsoo kembali meletakkan anak anjing itu ke pangkuannya dengan hati-hati sebelum mengangkat telepon.
"Hal-"
"Kirimkan alamatmu. Cepat."
Lalu sambungan itu terputus. Kyungsoo menatap handphonenya tak percaya. Namun-setelah beberapa kali mengumpat ia tetap mengetik alamatnya dan mengirimkan ke nomor lelaki itu.
"Dia lebih baik muncul dengan wajah babak belur atau aku tidak akan memaafkannya." Ucapnya kesal.
Dan entah kenapa dia menyesal saat beberapa menit kemudian Kyungsoo melihat lelaki itu di depan pintunya dengan luka dan darah yang masih belum kering. Mata lelaki itu bengkak dan bibirnya hampir sobek. Wajahnya menampilkan luka memar kebiruan di mana-mana. Kyungsoo menarik nafas panjang.
"Come in."
Hanya itu yang ia bisa ucapkan.
Kim Jongin duduk di sofa ruang tamu orang lain-yang bukan milik Sehun setelah "Apa kamu gila?", "Apa otakmu sudah tidak bekerja?" dan "It's not a damn bruise if you can't walk properly, just come in." dari lelaki bermata besar di depannya. Ia merintih saat lelaki itu membasuh lukanya dengan cairan alkohol.
"Kau tahu? Kau tidak perlu repot-repot. Ini hanya lu-"
"Shut up."
Dan Jongin menutup mulutnya sampai lelaki itu selesai menutup semua lukanya. Ia melihat lelaki itu beranjak ke kamar dan kembali dengan tube di tangannya. Lelaki itu berjongkok lalu menarik kaki Jongin ke atas meja.
"Hey." Jongin mencegah lelaki itu saat ia ingin mengoleskan sesuatu ke kakinya. Ia memandang Jongin sesaat lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
"Hey. Kau tidak perlu-"
"It's not 'Hey', it's Do Kyungsoo. Dan bukankah sudah kukatakan untuk diam?"
Jongin menyandarkan badannya di kursi. Dia tidak mengerti apa yang membuat lelaki ini begitu marah.
"Kim Jongin." Balasnya setelah Kyungsoo selesai mengoleskan cairan-apapun itu ke kakinya.
"Aku tidak tahu kenapa kamu melakukan ini." Lanjut Jongin.
Kyungsoo hanya tersenyum sambil merapikan First Aid Kit nya.
"Adalah pertanyaan yang sama di kepalaku saat kamu menyerahkan anjing itu."
Jongin menegakkan punggungnya. Ia melihat potongan perban di tangannya yang dikerjakan dengan rapi. Sebelum sempat menjawab, Kyungsoo memotongnya duluan.
"Berapa orang yang kamu lawan tadi?"
Jongin menarik nafas panjang sambil mengingat. Pekerja otaknya terdiam dan hanya memberikan data banyaknya pukulan yang ia terima.
"Lima. Atau mungkin paling banyak tujuh." Jawabnya datar.
"Kamu adalah orang paling bodoh yang pernah kutemui."
"Hey!" Jongin berubah gusar. Ia sering mendengar kata-kata itu. Dari Sehun, kadang juga dari Yixing- pelatih dancenya. Tapi dia tidak terima kata itu diucapkan oleh seseorang yang baru ia temui.
"Itu seperti misi bunuh diri. Kau hanya sendiri dan mereka bergerombol. Kalau bukan bodoh, aku tidak tahu harus menyebutmu apa."
Jongin merengut.
"Hero? Mungkin Superman? Atau Batman? Lihat, aku menyelamatkannya. Kamu tidak melihat bagaimana lelaki-lelaki itu menyiksanya tadi." Jongin mengambil Toy Poodle yang berputar-putar di kakinya sedari tadi. Ekor anak anjing itu berkibas dengan antusias saat tangan Jongin menyentuhnya.
Hati Kyungsoo menghangat.
"Tapi baguslah, paling tidak kamu menemukan anjingmu."
Jongin menatap Kyungsoo dengan heran.
"Dia bukan anjingku."
Kyungsoo menegakkan kakinya dan berbalik menatap Jongin heran.
"Saudaramu?"
Jongin menggeleng.
"Aku tidak kenal anjing ini."
"Apa dia punya sesuatu yang berharga di dalam tubuhnya? Atau apakah pemilik anjing ini orang penting?"
Jongin kembali menggeleng. Kyungsoo menggigit bagian dalam pipinya.
"Lalu kenapa kau menyelamatkannya?"
Jongin berkedip beberapa kali dengan tatapan kosong.
"Mmm… Because... It's a puppy? Apakah itu tidak cukup sebagai alasan?"
Kyungsoo memijat pelipisnya pelan. Lalu dalam diam ia berderap masuk ke kamarnya dan melempar bantal serta selimut ke arah Jongin. Kyungsoo mendengar Jongin mengaduh saat bantal itu mengenai salah satu lukanya.
"Tidur di sofa itu untuk malam ini. Kamu boleh kembali saat sudah bisa berjalan normal."
Jongin belum sempat membuka mulutnya untuk protes ketika Kyungsoo kembali menatapnya tajam.
"And shut up. Jika kamu tidak bisa menerima perintah sesepele itu, aku sudah tidak tahu kata apalagi yang punya arti lebih dari bodoh."
Kyungsoo menutup pintu kamarnya. Ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul dua.
Pekerja di otaknya marah. Baru pertama kalinya seseorang berhasil mengacaukan jam tidurnya sampai selarut ini.
END OF PART 1: BRIDGE
Hallo, ini adalah fic pertama saya. Maafkan jika banyak kesalahan dalam fic ini.
Ditunggu kritik dan sarannya :)
