"Life is messy. Love is messier." – Catch and Release
Bacon. Tepung. Telur. Susu. A pancake?
Jongin membuka mata dan mendapati seluruh badannya berdenyut. Dahinya mengernyit saat melihat pemandangan yang berbeda di sekitarnya. Dan aroma yang ia cium sebelumnya jelas bukan sesuatu yang akan terjadi di rumahnya-atau apartemen Sehun. Sebelum pikirannya mencerna lebih banyak, gonggongan kecil membuyarkannya.
Ah…
Seperti sebuah saklar, ingatannya mulai terkumpul. Anak anjing itu melompat ke dada Jongin, ekornya berkibas-kibas cepat. Jongin perlahan bangkit untuk memeluk anjing itu. Dari sofa, ia mendapati Kyungsoo yang sedang sibuk di dapur. Walaupun samar, ia juga bisa mendengar Kyungsoo menyenandungkan beberapa nada dari bibirnya.
"They might say 'Hi'
And I might say 'Hey'
But you shouldn't worry about what they say,
'Cause they got nothing on you, baby…"
"Haruskah aku melengkapi bagian rap-nya?"
Kyungsoo melompat dan menjatuhkan egg beater dari tangannya. Ia hampir lupa ada seseorang yang tidur di sofanya. Jongin menyandarkan dagu di tangannya dan melihat ke arah Kyungsoo sambil tertawa.
"Bukan saja bodoh. Kamu bisa menyebabkan orang sakit jantung." Rutuk Kyungsoo yang langsung mencuci egg beater yang ia jatuhkan.
Masih dengan terpincang, Jongin mencoba berjalan ke arah dapur. Ia menyandarkan badannya ke salah satu dinding di dapur itu. Mata Jongin berkeliling. Ia merasa di antara semua bagian apartemen Kyungsoo, dapurnya mempunyai dekorasi yang paling muluk. Sebuah jendela besar di atas tempat cuci piring, wallpaper dengan hiasan jeruk yang sedang ranum dan alat-alat dapurnya yang tergantung rapi. Ada banyak hiasan magnet yang tertempel di lemari es Kyungsoo. Kebanyakan berbentuk penguin-atau mungkin burung? Jongin tidak tahu- yang menggunakan kacamata. Sebagian lainnya adalah dinosaurus warna hijau dengan mata besar. Di antara kaki-kaki penguin itu, ada beberapa catatan terselip dengan tulisan tangan yang sedikit bengkok.
"Apa ini resep?" tanya Jongin saat membaca salah satu catatan yang berjudul Crab Soy Sauce dan beberapa instruksi di bawahnya.
Kyungsoo menoleh, tangannya masih sibuk mengeringkan egg beater.
"Ya, itu ide-ide spontan yang kadang keluar dari kepalaku. Jadi aku menuliskannya agar tidak lupa."
Jongin mengangguk-angguk kecil. Ia membuka lemari es di depannya dan segera terkejut dengan apa yang ia lihat. Isi lemari es itu tertata berurutan mulai dari susu, sayuran, buah, daging, telur sampai makanan beku.
"What a freak." Pikirnya.
Ia sedikit kecewa mendapati tidak ada bir di dalam sana. Lalu tangannya beralih ke sebuah apel merah dan segera menggigitnya. Kyungsoo tercekat.
"Hey, siapa yang mengijinkanmu memakannya?!"
Jongin melihat ke arah Kyungsoo dengan tatapan mengejek sambil membuat satu gigitan lebih besar.
"Ups, terlambat."
Mata Kyungsoo yang makin membesar justru mendorong Jongin untuk memakan apel itu dalam gerakan cepat.
"Yah! Yah! Kim fucking Jongin."
Dan tawa Jongin meledak.
"I can't fuck myself. I'd rather fuck you."
Jongin terdiam ketika melihat wajah Kyungsoo memerah sampai ke telinganya. Detak jantung Jongin tiba-tiba mengalami pecepatan melihat rona di pipi Kyungsoo. Waktu tiba-tiba berjalan lambat. Jongin sudah tidak ingat apel di tangannya atau di mulutnya. Pekerja otaknya berhenti sesaat. Tanpa permisi mereka merekam wajah Kyungsoo lalu diam-diam menyembunyikannya di sudut terpencil yang Jongin tidak bisa temukan. Lamunan Jongin buyar saat merasakan ada yang menyundul kakinya. Ia berdehem pelan-hanya untuk membuatnya lebih sadar dan membawa anak anjing itu ke atas pundaknya.
"Aku lapar. Cepat selesaikan pancake-mu." Kata Jongin sambil mengacak rambut Kyungsoo. Ia memutuskan untuk kembali ke sofa sebelum kepalanya melakukan tindakan-tindakan aneh lagi.
"Ka-Kamu... Masak pancake-mu sendiri!"
Kyungsoo berbalik untuk menyembunyikan wajahnya dan berpura-pura tidak mendengarkan Jongin yang berteriak protes-atau sentuhan Jongin yang tertinggal di rambutnya. Ia berusaha meneruskan adonannya kembali.
"Apa aku benar-benar tidak boleh merokok?" teriak Jongin dari ruang tengah.
"Jika kamu merokok, aku akan memberikan sarapanmu ke Toy Poodle itu."
"But… Soo…"
"Shut up!"
Kyungsoo mendesah panjang. Ini adalah Sabtu pagi paling ribut dalam sejarah hidupnya.
Akhir minggu adalah waktu yang paling dinanti Kyungsoo. Ia hanya bekerja pada hari Senin sampai Jumat pada shift pagi. Saat memilih jadwal ini Kyungsoo tau benar apa alasannya. Ia tidak suka ramainya tempat ia bekerja pada akhir minggu. Bagaimana tidak, Black Pearl langsung melejit sebagai salah satu restoran seafood paling dituju hanya dalam satu tahun. Saat Kim Junmyeon melantik Kyungsoo sebagai tangan kanannya, ia langsung bernegosiasi dengan Junmyeon soal bagian kerjanya. Dan Junmyeon merupakan orang yang tidak ambil pusing mengenai itu. Ia hanya meminta Kyungsoo tetap bisa cekatan untuk menggantikannya saat ia ada urusan mendadak. Kyungsoo jelas mengerti itu adalah tugas utamanya sebagai bawahan langsung dari Head Chef. Ia langsung setuju dan menyerahkan sisa tugasnya ke Sous Chef kedua restoran itu, Kim Minseok.
Minseok adalah orang yang menyenangkan sebagai rekan kerja. Ia tidak segan untuk mengkritik Kyungsoo saat menemukan kesalahan. Selain itu, ia adalah konsultan yang baik. Didorong dengan Junmyeon yang selalu menuntut kreatifitas baru, mereka menemukan banyak resep yang dianggap menjadi daya tarik dari Black Pearl.
Tapi akhir minggunya kali ini sedikit berbeda. Ia memandang lelaki di sebelahnya yang sedang sibuk memakan ice cream. Jongin menuntut banyak supper untuk menyibukkan mulutnya karena Kyungsoo melarangnya merokok. Kyungsoo benar-benar tidak mengerti kenapa lelaki di sebelahnya bisa berubah menjadi orang menyebalkan hanya dalam satu malam.
Walaupun mereka banyak bicara hari ini, tapi mereka sama sekali tidak menyinggung topik kehidupan pribadi. Kyungsoo sampai saat ini tidak tahu apa pekerjaan Jongin, ia tinggal dimana, atau bahkan usianya. Well, mungkin karena 'banyak bicara' yang dimaksud Kyungsoo kebanyakan hanyalah mereka yang saling meributkan hal-hal kecil. Atau Jongin yang bertindak menjengkelkan sehingga Kyungsoo mulai mengumpatnya.
"Siapapun yang nantinya menjadi pasangan lelaki ini pastilah orang yang sial." Pikir Kyungsoo dalam hati.
"Apa kamu yakin ingin menonton ini?" Jongin menunjuk ke televisi dengan sendok ice cream-nya saat melihat penguin-yang sama dengan magnet di lemari es Kyungsoo mulai bermain.
Kyungsoo hanya duduk di sofa dan tidak menjawab. Ia kembali kesal karena apel yang ia siapkan untuk supper malam ini telah lenyap. Ia bahkan terpaksa membatalkan janjinya dengan Tao karena tidak ingin meninggalkan orang asing sendirian di dalam rumahnya. Tapi ia juga tidak sampai hati untuk mengusir Jongin yang masih pincang. Jongin berkata sebelumnya, dia bisa saja menyuruh seorang teman menjemput. Namun, teman yang ia maksud tidak mengangkat teleponnya sedari kemarin.
Maka Kyungsoo menyuruhnya untuk tetap tinggal. Sebenarnya, Kyungsoo merasa aneh. Karena untuk orang yang baru ia kenal, Jongin sudah menyita banyak perhatiannya. Tapi Kyungsoo tidak ambil pusing, ia anggap itu sebagian dari kerja Distrik Perasaannya.
"My house, my rules." Sahut Kyungsoo saat Jongin tidak juga mengalihkan pandangan darinya. Ia melihat mata Jongin yang masih bengkak dan beberapa luka lebam di pipi sampai bibirnya.
"Masih sakit?" tanya Kyungsoo.
Jongin memegang luka di lengannya.
"Getting better."
"Butuh ice pack?" tanyanya lagi.
Jongin menggeleng pelan. Kyungsoo bersumpah di antara luka di wajahnya, ia bisa melihat Jongin tersipu barusan. Ia mendadak tersenyum mengetahui kemungkinan itu.
Penglihatan Jongin mungkin masih kabur, namun tiap kali Kyungsoo tersenyum hatinya terasa penuh. Diam-diam Jongin memperhatikan bagaimana setiap warna bisa berpadu dengan manis di kulit putih Kyungsoo. Bagaimana bibir Kyungsoo membentuk hati saat dia tertawa. Ia menikmati saat sinar matahari yang terlihat begitu kontras jatuh di rambut hitamnya. Atau suara Kyungsoo yang menghasilkan melodi paling indah yang pernah ia dengar.
Dan bagaimana tiap pertanyaan dengan nada peduli dari Kyungsoo menggilitik bagian dalam dadanya.
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
Jongin hanya mengangkat bahu dan alisnya.
"Yah! Kenapa kamu begitu menyebalkan?"
Kyungsoo melempar bantal ke arah Jongin. Dalam satu gerakan, Jongin langsung menangkap bantal itu dan melemparkannya kembali ke Kyungsoo.
"Apa kamu tidak melihat senyummu saat aku bilang sudah membaik? Aish, kamu pasti benar-benar ingin aku pergi."
Kyungsoo melemparkan bantal itu lagi ke Jongin.
"Because you are such pain in my ass."
Jongin tertawa dan memeluk bantal yang dilemparkan Kyungsoo.
"Don't say such a thing. Atau aku akan benar benar mewujudkannya."
Kyungsoo membeku sedangkan Jongin yang tertawa puas melihat ekspresi lelaki di sampingnya.
"God. Pipimu sampai matang hanya dengan kalimat begitu."
Kyungsoo merebut bantal di pelukan Jongin dan memukulnya berkali-kali.
"You pervert bastard."
Jongin dan Kyungsoo saling melempar bantal malam itu. Diantara tawa, makian, dan sengatan listrik saat kulit mereka tidak sengaja bersentuhan.
Melupakan anak anjing kecil yang memandang ke mangkuk makan kosongnya.
Melupakan Pororo yang bermain di layar ruang tengah itu.
Melupakan satu pola di kota Kyungsoo yang mulai riuh.
Bagi Jongin, ini adalah malam paling bahagia dalam hidupnya.
"A puppy?"
Walaupun hanya lewat suara, Jongin tau Sehun sedang marah di seberang sana. Ia lega akhirnya Sehun mau mengangkat teleponnya. Jongin sempat khawatir Sehun menghindarinya karena percakapan terakhir mereka.
Ia belum siap untuk kehilangan sandaran lagi. Sebagai satu-satunya anak, ia sering merasa kesepian. Walaupun ketika Ibunya meninggal, ayahnya menyempatkan waktu lebih banyak untuknya. Ia rindu percakapan di meja makan dengan ayahnya. Hatinya mendadak berdenyut. Sudah tiga hari Ia tidak menjenguk ayahnya. Jongin merasa sangat bersalah, tetapi di samping itu ia belum siap melihat kondisi ayahnya yang semakin memburuk.
Jongin mencintai ayahnya lebih dari apapun, bahkan dirinya sendiri. Saat ia bertekad untuk menyumbangkan salah satu ginjal untuk ayahnya, ayahnya tertawa. Ia mengatakan bahwa itu tidak perlu, bahwa ia memang sudah tua dan ini waktunya pergi, bahwa Jongin lebih berharga. Saat itu Jongin ingin membantah bahwa tidak ada yang lebih berharga dari ayahnya.
Mulai dari situ, ia menemukan dirinya berhenti merasakan nyawa dari tiap tarian yang ia pelajari. Maka, Jongin menyibukkan diri dengan bekerja untuk mendukung tiap pompa darah bersih yang masuk ke tubuh ayahnya.
"A fucking puppy?" Sehun berteriak dan Jongin segera menjauhkan handphone dari telinganya.
"Kamu lebih baik punya alasan bagus untuk ini." Gerutu Sehun dari dalam speakernya.
"Aku tidak tahu kenapa kamu punya pikiran yang sama dengan seseorang."
Jongin melirik ke arah Kyungsoo yang sedang membaca buku di tangannya dengan muka serius. Ia mendengar Sehun membuang nafas panjang.
"Aku tidak bisa menjemputmu. Latihan diperketat karena pemeran utama pertunjukan minggu depan tiba-tiba menghilang sebulan terakhir ini. Dan kamu tahu persis siapa dia."
"Yeah." Jawab Jongin datar.
"Mungkin Senin siang aku bisa kesana. Kirimkan saja alamatnya."
"You're the best." Ujar Jongin puas, ia bisa membayangkan bola mata Sehun yang berputar saat ini.
"And you're the worst."
Sebelum Jongin sempat menutup teleponnya, ia mendengar Sehun berteriak.
"What?"
Ada hening yang panjang sebelum akhirnya Sehun menjawab.
"Be nice, ok? Dia adalah orang asing yang mungkin tidak memahamimu-atau memaklumimu seperti aku. Jangan bertingkah."
Rasa hangat menjalar memenuhi dada Jongin. Dalam hati, ia berjanji akan memperlakukan Sehun selayaknya sahabat lebih baik dari sebelumnya.
Tapi mungkin, satu kalimat lagi untuk menggoda Sehun tidak akan masalah.
"Kamu terdengar seperti ibuku."
Dalam sepersepuluh detik kemudian, sambungan itu terputus. Menyisakan tawa Jongin yang memenuhi ruang tengah dan tatapan terganggu Kyungsoo dari kejauhan.
"Bagaimana kalau kita menonton yang lain?"
Jongin menatap Kyungsoo dengan sedikit berharap. Ia mengakui penguin kecil dan temannya membuatnya tertawa barusan, tapi dia hanya ingin menggoda Kyungsoo. Jongin merasakan jarum jam cepat sekali berlalu saat di apartemen ini. Setelah Kyungsoo meminta ia kembali menetap karena Sehun tidak bisa menjemputnya, mereka kembali ke perdebatan waktu hiburan Kyungsoo.
"No. Dan kamu tahu? Untuk seorang tamu, kamu terlalu menyamankan dirimu." Keluh Kyungsoo sambil mengunyah popcorn di mulutnya.
Kyungsoo menghela nafas, dia benci situasi seperti ini. Jongin akan terus menatapnya saat tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan-seperti cake siang tadi, atau saat Jongin menginginkan menggunakan sikat gigi Crong daripada cadangan sikat gigi biasa Kyungsoo yang lain.
"Baiklah. Setelah jam tujuh kamu boleh menonton apapun yang kamu mau. Biarkan aku menonton ini sebentar." Lanjut Kyungsoo yang dibalas dengan gerakan kemenangan oleh Jongin.
"Apa Monggu sudah makan?" Jongin menoleh mencari Toy Poodle-nya.
Ya, anak anjing itu sekarang punya nama. Kyungsoo mendengus mengingat pertengkaran kecil mereka sebelumnya. Hal itu dimulai saat Kyungsoo menanyakan arti kata Monggu.
"Tidak ada arti khusus. Hanya kata itu enak didengar." Jongin menjawabnya santai.
"Kenapa kamu tidak memberinya nama dengan arti agar lebih manis? Seperti Browny, atau Choco, oh atau mungkin Candy?"
Tapi Jongin malah menggeleng dan tertawa. "Nama-nama itu membuatku terdengar seperti pemilik wanitanya."
Kyungsoo menggigit lidah sambil mengatur nafasnya. Ia lalu bertanya dengan nada hati-hati, "apakah secara tidak langsung kamu mengatakan aku seperti wanita?"
"Tidak. Bukan. Ma-Maksudku… Oh, God. Tidak bisakah kamu setuju saja bahwa Monggu lebih enak di dengar?"
"Tidak." Jawab Kyungsoo singkat.
Jongin membelalak, ia mulai mengigiggit bibir bawahnya karena gugup.
"Fine. Nama itu terlalu cute untuk seekor anjing dengan pemilik laki-laki yang tinggal sendiri, oke?"
"Oh, oh, kamu pikir Monggu tidak terdengar terlalu cute? Kamu pikir seleramu lebih baik dariku?"
Argumen mereka berhenti setelah tiga belas umpatan, dua cubitan, dan tiga pukulan Kyungsoo di lengan Jongin kemudian. Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Jongin. Semuanya terlalu sederhana, tanpa pikir panjang. Sedangkan untuk setiap langkah, Kyungsoo memastikan ada alasan kuat di baliknya. Kadang, Kyungsoo merasa ada banyak hal yang ia lewatkan karena ketakutannya.
"Hey, Soo? Apa kau mendengarkanku?"
Kyungsoo segera mengangguk cepat.
"Ya, dia sudah makan."
Jongin menatap Kyungsoo yang mendadak diam. Ia mengambil beberapa popcorn di pangkuan Kyungsoo dan membiarkan hening mengambil alih sejenak.
"Let's watch another movie." Cetus Kyungsoo tiba-tiba.
Jongin berhenti mengunyah popcorn-nya. "Kamu yakin?"
Kyungsoo hanya mengambil remote televisi di depannya. Ia memencet tombol beberapa kali sebelum Jongin berteriak.
"Oh, Pirates of the Caribbean!"
Ia menoleh ke arah Jongin, "kamu ingin menonton ini?"
"Ya! Ini film kesukaanku."
Kyungsoo meletakkan remote televisi itu kembali. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa lalu membawa salah satu bantal ke dadanya.
"Bajak laut?" tanya Kyungsoo penasaran.
Raut muka Jongin berubah cerah saat ia mengangguk.
"Ini adalah bagian ketiga. Kamu harus menonton film pertama dan keduanya. Aku yakin kamu akan menyukainya."
Lalu Jongin mulai membeberkan berbagai trivia soal film bajak laut itu. Kyungsoo terkejut menemukan dirinya antusias dengan apa yang ia dengar-atau lihat. Jongin melakukan gerakan-gerakan lucu saat bercerita soal Captain Jack Sparrow. Mata Jongin berbinar ketika film itu sampai di bagian favoritnya. Kyungsoo menduga-duga bagaimana wajah asli Jongin tanpa luka. Ia hanya bisa memperhatikan bibir atas Jongin yang penuh membentuk lengkungan unik saat ia tersenyum. Atau warna kulit kecoklatannya yang hampir senada dengan warna rambutnya. Kyungsoo segera mengalihkan pandangan saat Jongin berbalik menatapnya.
Mereka merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu sejenak.
Saat film itu selesai, Kyungsoo segera beranjak dari sofanya. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan dan Kyungsoo baru menyadari Departemen Makan Malamnya menunggu untuk bekerja.
"Aku akan membuat makan malam."
"Oke. Aku akan membantumu." Balas Jongin yang perlahan ikut bangkit dari sofa.
"Setelah kamu mencoba membakar dapurku tadi siang? No, no, no. Duduk kembali."
Jongin mengerucutkan bibirnya melihat Kyungsoo yang memandangnya sinis.
Saat mereka akhirnya menikmati makan malam buatan Kyungsoo, Jongin tidak bisa berhenti bicara. Ia terus-terusan memuji makanan Kyungsoo dalam tiap suapan.
Tiap.
Suapan.
"Oh, God. Give me some mercy." Bisik Kyungsoo dalam hati.
Namun bibir Kyungsoo tidak bisa berhenti tersenyum saat Jongin memaksa untuk mencuci semua piring kotor malam itu. Jongin berkata, ini sebagai ucapan terimakasih karena Kyungsoo telah membuatnya mencicipi rasa surga.
Jongin memutuskan untuk pergi Senin pagi sebelum Sehun menjemputnya. Jongin merasa tidak enak hati ketika Kyungsoo menyebutkan dia harus ada di tempat kerja pada pukul delapan. Kyungsoo membantunya membawa Monggu sampai ke depan. Jongin sempat protes dan berkata dia tidak punya cukup uang ketika Kyungsoo bersikeras untuk memanggil taksi. Namun Kyungsoo tetap memaksanya masuk setelah memberikan beberapa lembar uang ke supir taksi itu.
"It's my treat, okay? Anggap saja sebagai sogokan agar kamu tidak melakukan hal-hal bodoh lagi." Kata Kyungsoo lewat jendela taksi itu.
Jongin baru kali ini menemukan seseorang yang sebaik dan senaif Kyungsoo. Bahkan Sehun butuh waktu lebih lama untuk bersikap baik padanya. Lucu, bagaimana dalam tiga hari terakhir seseorang bisa membuatnya merasa mereka telah lama berteman. Kyungsoo benar-benar dengan mudah membuatnya nyaman.
Saat Kyungsoo menjauh, ia meraih tangan Kyungsoo lalu menariknya mendekat.
"Jaga diri. Jangan terlalu baik pada orang asing. Kamu beruntung aku bukan pembunuh berantai. Tapi bisa saja seseorang yang kamu temui selanjutnya adalah salah satunya."
Jongin berdehem sesaat sebelum melanjutkan. Ia melihat Kyungsoo yang sepertinya terkejut dengan kalimat barusan.
"Aku akan mengganti ini semua suatu hari nanti."
"Kamu tahu itu tidak perlu, Jongin." Sergah Kyungsoo cepat.
"Tapi aku mau. Dan kamu harus mengangkat teleponmu saat hari itu tiba. Promise me?"
Kyungsoo mengangguk dengan gerakan kaku dan pelan. Jongin dapat melihat wajah Kyungsoo bersemu dengan warna merah yang paling ia sukai.
"Ah, kamu mudah sekali tersipu." Kelakar Jongin. Ia memberi banyak ucapan terimakasih dan lambaian terakhir ke Kyungsoo.
Saat Jongin menutup jendela taksinya, Kyungsoo tertawa kecil karena menyadari wajah Jongin tak kalah merah darinya.
Jongin melupakan satu masalah dari tiga hari masa lumpuhnya. Masalah itu bernama Kim Jongdae. Saat handphone-nya berdering menampilkan 'Chensaurus' di layarnya, ia hanya bisa mendesah.
"What's up, bro?" Jongin berusaha bersikap biasa walaupun ia tahu orang di seberang sambungannya sedang tidak ingin bercanda.
"Kemana kamu tiga hari kemarin?" tanya Jongdae tanpa basa-basi.
Jongin sedikit berdesis dan mencoba mencairkan suasana. "Ahh… Ada sedikit masalah. Singkatnya aku berakhir dengan kaki pincang dan mata lebam. Jadi aku tidak bisa bekerja."
"Kamu benar-benar bisa membuatku gila suatu saat nanti." Rutuk Jongdae kesal.
"Aku minta maaf, Jongdae. Tapi aku serius soal cedera kakiku. Tenanglah, aku sudah bisa berjalan saat menjenguk ayahku tadi. Aku pasti datang malam ini."
Jongin bisa mendengar Jongdae membuang nafas panjang.
"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Jongdae dengan nada pelan.
Jongin memainkan ujung telinga Monggu untuk mengalihkan rasa sedihnya. Setelah mendengar cerita Jongin soal ayahnya, Jongdae memperlakukannya dengan amat baik. Jongin kadang benci perlakuan ini, ia tidak suka orang menaruh belas kasihan kepadanya. Namun, Jongdae memberinya lebih dari itu. Ia meminjamkan uang dalam jumlah besar untuk pengobatan ayahnya selama sebulan. Saat Jongin bertanya apa yang mendorong Jongdae melakukannya, ia tertawa getir.
"Aku pernah ada di posisimu. Bedanya, saat itu tidak ada yang membantuku."
Ia bisa melihat mata Jongdae yang berkaca-kaca saat mengatakan itu.
Jadi Jongin memutuskan untuk bekerja lebih giat. Untuk membalas Jongdae juga untuk ayahnya. Pekerjannya sebagai pelayan di bar yang penuh pikuk membuat Jongin selalu menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Dan itu sudah cukup membuat Jongdae menghargai usahanya.
"Jongin?" Panggil Jongdae setelah ia lama terdiam.
"Buruk, Jongdae. Buruk" Gumam Jongin.
"Oh... Aku ikut sedih mendengarnya."
Ia tidak ingin Jongdae khawatir. Jadi Jongin memaksa dirinya untuk tertawa sebelum melanjutkan, "Apa itu akan memberikanku libur untuk sehari lagi?"
"Yah! Kau benar-benar melunjak Kim Jongin."
Jongin tertawa membayangkan ekspresi Jongdae saat ini.
"Oke ini peringatan pertamamu. Karena kamu tahu sulitnya mencari pelayan yang tidak tergoda untuk mabuk sepertimu. Tapi kamu tahu apa konsekuensinya jika kamu tidak juga menyeret kakimu kesini malam ini. Are we clear?"
"Sir, yes Sir!"
Jongdae menutup teleponnya dan Jongin mengeluarkan nafas lega saat itu juga. Jongin benar-benar bersyukur menemui banyak orang baik di sekitarnya. Mungkin, ini sedikit balasan Tuhan karena telah mengambil orang-orang berharga di hidup Jongin.
Ia memutuskan untuk mengambil kaleng makanan anjing saat melihat Monggu berputar-putar kebingungan di kakinya. Anak anjing itu menyalak riang lalu makan dengan cepat. Jongin mengelus-elus punggung Monggu pelan. Ia menyempatkan diri untuk membeli beberapa peralatan yang dibutuhkan Monggu sepulang dari rumah sakit. Setelah melihat ayahnya yang hanya bisa membuka mata tanpa bicara padanya, Jongin merasa beruntung ada Monggu di sampingnya. Paling tidak anjing kecil ini bisa jadi salah satu hiburan di rumahnya yang terlalu kecil-dan sepi.
"Malam ini, kamu akan tinggal sendiri. Jangan macam-macam, oke?"
Saat mengembalikan makanan Monggu ke tempatnya. Jongin merasakan sesuatu dari kantung jaketnya. Ia tersenyum saat menemukan botol kecil warna coklat berisi beberapa butir pil di dalam sana. Kyungsoo mengatakan itu semacam painkiller yang mungkin saja ia butuhkan. Jongin ingat ia menolak dan memberikannya kembali ke Kyungsoo. Namun sepertinya Kyungsoo diam-diam memasukkan botol itu lagi saat ia lengah.
Monggu melihat ke arah Jongin dan memiringkan kepalanya. Ia menatap mangkuk makannya yang kosong lalu kembali menatap Jongin.
"Don't give me that look."
Tapi Monggu tetap melakukan gerakan itu berulang-ulang.
"Oh, Baiklah. Sedikit saja." Sesal Jongin yang kembali mengisi mangkuk Monggu. Ia menjilati jari Jongin beberapa kali sebagai ucapan terimakasih.
"Kamu benar-benar akan membuatku bangkrut suatu hari nanti. Kamu tahu itu?"
Monggu tidak menjawab, anjing itu sibuk mengunyah makanan tanpa melihat ke arahnya. Jongin tertawa kecil lalu mengelus-elus anjing itu kembali.
"Tapi, aku senang aku menemukanmu."
Namun saat ia mengucapkan itu, otaknya justru menampilkan wajah Kyungsoo yang sedang tertawa.
Jongin mengumpat, sedangkan para pekerja di kepalanya cekikikan.
END OF PART 2 : GATE
Pertama dari semuanya; terimakasih banyak buat yang udah sempetin review! Kyaaa~ Review dari kalian berharga banget, serius. Aku senyum-senyum sendiri bacanya.
Oke, di sini aku bakalan jawab beberapa pertanyaan kalian.
Cerita ini 100% buatanku sendiri dan bukan terjemahan dari cerita manapun atau film apapun :D
Rating M di sini karena banyak kata umpatan, obrolan mengenai hal-hal yang "menjurus", dan beberapa adegan *ehem* nantinya.
It's YAOI. Enggak ada yang aku rubah gender-nya di sini.
Oh khusus untuk D'vil, terimakasih juga karena udah nemuin kesalahan di penulisan aku.
Btw, penggunaan Bahasa Inggris di sini karena ada beberapa kata dalam Bahasa Indonesia yang terlalu kaku. Selain itu juga biar jalan ceritanya lebih lugas. Tapi kalau kalian ngerasa porsinya terlalu berlebihan, bilang aja :D
Aku kira-kira bakal update di kisaran waktu seminggu. Bisa lebih, bisa kurang. Karena kehidupan nyata tanpa KaiSoo lebih kejam. *sob*
Kalian bisa manggil aku Unnie, atau Sher, it's up to you~
Terakhir tapi bukan yang paling akhir; jangan lupa review lagi. Kasih tau kalau jalan ceritanya mulai ngebosenin. Semua saran dan kritikan dari kalian aku terima banget.
KAISOO FTW!
-RedSherr88-
