When the smoke comes in, it'll color this town
But I'll still have you, so I'll say it aloud

I'll be your distraction

— Angels & Airwaves - Distraction


"It's totally a date." Baekhyun hampir berteriak saat mengucapkan kalimat itu. Tapi Luhan benar-benar berteriak setelah mendengarnya.

Kris memberi tatapan sinis dari balik meja kasir. Sebagai seorang Manager, Kyungsoo merasa Kris terlalu banyak mengambil alih pekerjaan di coffee shop itu. Mereka langsung merunduk dan menahan tawanya. Luhan dan Kyungsoo menyempatkan diri untuk mampir sepulang kerja hanya untuk mendengarkan hasil kencan Baekhyun minggu lalu. Tao sudah duduk menunggu dengan segelas Americano saat mereka datang.

"Ceritakan lebih lanjut, aku benar-benar ingin mendengarnya." Luhan mengenggam tangan Baekhyun erat. Mulutnya tidak berhenti tertarik ke atas.

Kyungsoo tidak mengerti kenapa Luhan selalu antusias dengan cerita cinta. Padahal, ia tidak pernah melihat Luhan berhubungan dengan seseorang selama ini.

Baekhyun mulai bercerita tentang kencannya. Awal mulanya, ia merasa gugup karena Chanyeol terus-terusan tersenyum tanpa mengucapkan apapun. Tapi seiring berjalannya waktu, Baekhyun menemukan ia dan Chanyeol saling melempar lelucon tentang diri mereka. Lama kelamaan, mereka mulai menyinggung kehidupan pribadi. Chanyeol merupakan salah satu mahasiswa jurusan Art and Design, dan dia bekerja paruh waktu sebagai Bartender di Machine. Baekhyun pun bercerita, dia dipaksa ayahnya untuk bekerja agar bisa lebih menghargai uang. Ia bahkan bercerita, jika ia mampu bertahan dengan uangnya sendiri selama satu tahun ayahnya baru akan percaya kepadanya.

Baekhyun tidak kehilangan sepeserpun hari itu. Pada akhirnya, Chanyeol yang membayar semua tagihan mereka.

"Dan kamu tahu apa yang dia katakan selanjutnya?" Baekhyun hampir tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "For today, it's all on me. Sebagai gantinya, kamu harus mau menjadi pasanganku di salah satu pembukaan museum lusa nanti."

"Gosh… That's so sweet." Tao mengerucutkan bibirnya. Kyungsoo ikut tersenyum dan memberikan cubitan di pipi Baekhyun yang memerah.

"You're one lucky bitch." Ucap Luhan sambil memukul Baekhyun berkali-kali.

Lonceng pintu coffe shop itu berdenting saat dua orang lelaki masuk.

"Oh, pelanggan." Baekhyun langsung berdiri dan menyambut mereka.

Walaupun Kyungsoo membelakangi dua lelaki itu, sayup-sayup ia dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Kamu yakin?"

"Ya. Belilah apapun yang kamu mau. Aku yang traktir."

"Aish, apa yang sebeneranya kamu lakukan? Kenapa kamu tiba-tiba baik begini?"

Salah satu dari mereka tertawa. Bulu roma Kyungsoo berdiri saat ia merasa mengenali suara itu. Tapi dia masih belum mau menoleh.

"Astaga Sehun, ini hanya satu balasan dari berpuluh-puluh bir yang kamu berikan padaku."

"Baiklah."

Dua lelaki itu berjalan melewati Kyungsoo. Perlahan, Kyungsoo memutar kepalanya ke arah mereka. Saat ia melihat ke arah kasir, matanya bertemu dengan salah satu dari lelaki itu.

"Kyungsoo?"

Kyungsoo hampir tidak mengenali lelaki di hadapannya. Ia merasa matanya sedang memainkan suatu trik untuk mengelabuhinya.

"J-Jongin?"

Jongin tersenyum dan mendekat ke arahnya. Kyungsoo tidak bisa bergerak setelah menyadari ia sedang tidak berilusi. Satu-satunya hal yang terjadi adalah pekerja di kepalanya berlarian sambil berteriak.

"Sweet. Mother. Of. God. Who the fuck is this perfect creature, Soo?" Bisik Luhan di telinganya.

"Hey, apa kabar?" Jongin memutuskan untuk bicara saat Kyungsoo masih belum bisa menggerakkan bibirnya.

Kyungsoo tidak pernah menemukan sebelumnya bahwa manusia bisa berubah hanya dalam waktu seminggu. Luka di wajah Jongin sudah hilang total. Ia melihat lelaki di depannya dengan teliti. Kulitnya yang kecoklatan, celana jeans biru tua yang membalut kaki panjangnya dengan menarik, sweater warna putih yang menampilkan bahu lebarnya, senyumnya yang tanpa luka sobek, dan matanya yang membentuk sabit saat ia tersenyum. Namun yang paling menyempurnakan Jongin-dan membuat bibir Kyungsoo kering adalah sesuatu di balik beanie-nya.

Melihat Kyungsoo yang tetap diam, Jongin menjadi sedikit gugup.

"Listen, Soo. Aku minta maaf karena tidak menelponmu atau memberi kabar. Hanya saja, aku…"

"Y-You… You blonde. Jongin, your hair is blonde."

Jongin berkedip berkali-kali dengan muka bingung. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Itukah yang membuatmu diam sedari tadi?" tanyanya bingung.

Setelah hening yang cukup panjang, Kyungsoo hanya mampu memberi satu anggukan pelan.

Jongin tergelak sambil menutupi setengah mukanya yang memerah.

"Oh God, you're too cute."

Kyungsoo merasakan tubuhnya mendidih dari ujung kaki sampai telinga.

Mereka tidak sadar beberapa pasang mata memperhatikan kejadian itu sedari tadi. Luhan, Tao, dan Baekhyun-bahkan Kris hampir tertawa mendengarnya.

"Sudah selesai dengan urusanmu di sana, buddy?" Jongin melihat ke arah Sehun yang sudah mengenggam segelas kopi di tangannya.

"In a sec." Sahut Jongin yang langsung berbalik melihat Kyungsoo. "Hey, maaf aku harus pergi. Ada pekerjaan lain yang menungguku saat ini."

Kyungsoo masih membeku di kursinya dan kembali mengangguk dengan gerakan yang sama. Jongin tertawa kecil. Kyungsoo yang seperti ini benar-benar bisa membuatnya gila. Ia menyesal tidak menghubungi Kyungsoo selama seminggu. Jongin tidak mempunyai kepercayaan diri untuk itu. Tapi setelah melihat Kyungsoo sekarang, ada sesuatu dalam dirinya yang mendadak terisi kembali. Jongin tidak tahu perasaan apa itu. Yang Jongin tahu, ia tidak mau lagi jauh dari Kyungsoo setelah ini.

Karena Kyungsoo terlalu berharga untuk hanya jadi orang asing di hidupnya.

"Soo, ketika aku bilang aku ingin mengganti semuanya, I really meant it. Kamu hanya perlu sedikit bersabar. Okay?" Jongin sedikit membungkuk lalu mengusap pipi Kyungsoo pelan dengan ibu jarinya. "See you around, prince."

Setelah Jongin hilang dari pandangannya, Kyungsoo tak juga bergerak dari posisinya.

Tao menyenggol bahu Kyungsoo sambil berbisik, "earth to Prince Kyungsoo, do you copy?"

Kyungsoo segera membenamkan wajah di kedua tangannya. Ia menarik nafas panjang beberapa kali.

"Oh, Soo… Apa yang telah kamu lakukan? Tiba-tiba kamu kenal dengan lelaki semenarik tadi." Luhan menggeleng-geleng pelan, mencoba menggoda Kyungsoo.

"Mama is so proud of you." Lanjut Baekhyun sambil meletakkan tangan di dadanya dengan gaya dramatis.

Kyungsoo langsung melempar tatapan tajam ke mereka, walaupun Tao terlihat memandang ke arah lain. Luhan menarik kursinya mendekati Kyungsoo.

"Oke, kamu berhutang cerita kepadaku. Tapi sebelumnya, apakah kamu juga kenal dengan Mister Perfect Creature No. 2?"

Alis Kyungsoo naik setengah. "Siapa yang kamu maksud, Lu?"

"You know, the one with poker face… And nice ass…"

Kyungsoo dan Baekhyun belum sempat menghilangkan rasa terkejutnya saat Tao menyahut, "Na-uh, his ass is not as good as Kris. Tell me, is he single?"

"EXCUSE ME?!" mereka bertiga berteriak bersamaan.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Kyungsoo tiba di apartemennya. Luhan benar-benar bukan orang yang bisa diajak berkompromi untuk urusan cerita pribadi. Ia terus saja memberi pertanyaan soal Jongin-dan terkadang teman Jongin di sela-selanya.

Kyungsoo menarik selimut dan sudah siap memejamkan mata saat satu senyum terputar di Distrik Ingatannya. Ia menggerutu dan terus membolak-balikan badan. Ia berkali-kali mencoba menghentikan bayangan di dalam kepalanya. Usahanya berhasil setelah tiga jam kemudian.

Sayangnya, Kyungsoo tidak tahu malam itu pekerja otaknya justru makin sibuk. Mereka mulai menempatkan Jongin dimana-mana. Senyum Jongin di Departemen Sarapannya, sentuhan Jongin di Distrik Kerjanya, suara tawa Jongin di Distrik Hiburannya, dan postur sempurna Jongin di Departemen Mimpinya.

Pagi itu, Kyungsoo bangun dengan keringat di seluruh badan dan sesuatu yang membasahi celananya.


Kyungsoo sedang melakukan inspeksi dapur saat Luhan menyerobot masuk lalu menarik lengannya. Ia membawa Kyungsoo ke sudut yang sepi dan memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka. Luhan memperhatikan penampilan Kyungsoo sebentar.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.

Kyungsoo mengeluarkan lenguhan panjang.

"Ya. Hanya kurang tidur."

Luhan masih memperhatikannya dengan tatapan curiga, "kamu yakin? You seem a little off lately."

"Yes, Lu. Tenang saja. Apakah ini alasanmu membawaku kesini?"

Kalimat itu seperti menyadarkan lelaki di depannya akan sesuatu.

"Ah. Bukan, bukan. Apa kamu sudah dengar rumor hari ini?"

Kyungsoo memberi tatapan bingung ke arah Luhan. Ia mencoba menerka apa yang dimaksud lelaki di depannya. Namun Kyungsoo akhirnya menggeleng saat tidak menemukan jawabannya.

"Black Pearl akan membuka cabang di luar kota."

Mata Kyungsoo melebar mendengar pernyataan Luhan.

"Benarkah?"

Luhan mengangguk cepat.

"Dan dari yang aku dengar, seseorang akan naik jabatan karena Junmyeon akan fokus di sana."

Luhan menunggu reaksi dari lelaki yang lebih muda itu. Tapi pikiran Kyungsoo ternyata bekerja terlalu lambat untuk mencernanya. Luhan memutar bola matanya karena kesal.

"Itu kamu, Soo. Aku yakin itu kamu!"

Kyungsoo menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia menggenggam tangan Luhan erat untuk menghilangkan rasa terkejutnya.

"Oke, aku tau ini memang belum pasti. But, Soo… Apa yang akan kamu katakan jika Junmyeon benar-benar memilihmu?"

Sesungguhnya, hal ini telah menghantuinya sejak lama. Kyungsoo sudah terlalu nyaman dengan pola hidupnya. Ketika ia nantinya menjadi Head Chef, tentu semua pola itu akan berubah. Luhan adalah salah satu yang mengerti soal keteraturan itu, sehingga ia merasa Kyungsoo butuh tahu soal ini secepatnya.

Akan tetapi, Luhan tidak tahu bahwa sejak bertemu Jongin ada beberapa pola yang sudah Kyungsoo tinggalkan. Ia merasa di dalam kotanya, ada berandal-berandal kecil yang mulai bertingkah dan menghasut para pekerjanya untuk memberontak. Tempo hari misalnya, ia mengganti Pororo dengan seri Pirates of The Caribbean yang membuatnya tidur lebih dari jam sebelas malam. Hal itu membuatnya tidak sempat sarapan bahkan terlambat kerja keesokan harinya. Dan keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi.

Ia bersungut dalam hati. Bagaimana bisa dalam kisaran waktu dua minggu, seseorang mengacaukan kerja sistemnya yang sudah bertahun-tahun.

"Soo, aku rasa ini kesempatan bagus. Take a risk. Banyak hal yang membutuhkan resiko sebelum berakhir indah di dunia ini."

Kyungsoo menggigit bibirnya. Resiko, resiko, resiko. Itu adalah momok yang selalu menghantui Kyungsoo untuk tidak keluar dari zona nyamannya.

"Aku rasa aku akan mempertimbangkan sampai itu benar-benar terjadi. But thanks untuk informasinya, Lu." Jawab Kyungsoo pada akhirnya.

Luhan tersenyum dan menepuk bahunya sebelum beranjak.


"Care to explain, lover boy?" Sehun melemparkan senyum menyebalkannya ke arah Jongin.

Dua lelaki itu duduk di ruang tamu rumah Jongin dengan Monggu yang sedari tadi berlarian di antara kaki mereka. Sepulangnya dari 3.6.5, mereka langsung berpisah dan belum sempat membicarakan soal Kyungsoo sama sekali. Jongin pura-pura tidak mendengar, ia meneguk birnya banyak-banyak dan berusaha mengabaikan Sehun.

Akan tetapi Oh Sehun selalu berubah menyebalkan dalam urusan seperti ini.

Ia melihat Sehun mengangkat Monggu ke pangkuannya.

"Hey, Monggu. Apa saja yang kamu lihat selama di apartmen itu? Apa Ninnie menodai jiwa polosmu saat berada di sana?"

"YAH!" Jongin berteriak kesal dan merebut Monggu dari pangkuan Sehun.

Lelaki di sebelahnya justru terbahak sampai mengeluarkan air mata.

"For God's sake, Sehun. Mana mungkin aku melakukan hal itu pada lelaki yang baru aku kenal."

Jongin mematikan rokok di antara jarinya. Sehun masih belum berhenti tertawa.

"Aahh… jadi kamu memutuskan untuk sedikit menundanya dulu."

Mata Jongin membelalak.

"B-Bukan itu maksudku."

"Coba katakan itu pada pipimu yang memerah."

"Ini hanya pengaruh cahaya."

"Oh, benarkah? Pengaruh cahaya, Ninnie? Apa kamu benar-benar akan menggunakan alasan itu?"

Sehun mengangguk-angguk kecil dengan muka mengejek sedangkan Jongin menunduk mencoba menutupi wajahnya.

"Aku rasa pikiranmu sekarang sedang sibuk membuat film porno."

Jongin mengutuk karena ucapan Sehun barusan justru membuat pekerja otaknya makin memperjelas imajinasi di kepalanya. Bibir merah Kyungsoo yang sedikit bengkak karena ciuman, tangannya yang melingkar erat di belakang leher Jongin, tatapannya saat berada di bawah Jongin, dan bagaimana namanya terdengar di lidah Kyungsoo saat pinggang mereka bertemu.

Seluruh badannya tiba-tiba terasa panas.

"Ah, ternyata tebakanku benar." Sehun kembali dengan senyum menyebalkannya. Jongin menggeram dan mencekik lehernya hingga Sehun terbatuk dan meminta maaf.

"Ajak dia keluar." Kata Sehun sambil mengelus bagian depan lehernya yang terasa sakit.

Jongin melepaskan Monggu dari pangkuannya sambil tersenyum pahit.

"Ide itu mampir di kepalaku berkali-kali Sehun, percayalah. Tapi kamu tahu itu bukan hal yang mudah kulakukan dengan kondisi keuanganku yang seperti ini."

Sehun berniat untuk meminjamkan sebagian uangnya, namun ia merasa itu bukan tindakan bijak. Ia ingin siapapun lelaki yang sedang mereka bicarakan ini bisa menerima Jongin apa adanya.

"Tidak harus ke restoran mewah. Bisa saja dia akan menghargai kemanapun kamu mengajaknya. Dari penampilannya, kurasa dia punya latar belakang yang tidak jauh dari kita." Sehun meneguk birnya sekali sebelum melanjutkan, "dan mungkin punya pengendalian emosi yang hebat karena bisa bertahan denganmu selama tiga hari."

Jongin mendaratkan satu pukulan di lengan Sehun. Tapi, ia mencerna ucapan Sehun perlahan. Ia tahu Kyungsoo hanya tinggal di apartemen kecil, walaupun itu terletak di daerah padat industri. Jongin juga ingat, Kyungsoo pernah menyebutkan bahwa ia selalu mengendarai bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Mungkin dalam urusan seperti ini, Sehun bisa dipercaya.

"Oh, atau ajak dia ke Festival Seni lusa nanti. You know, banyak stand makanan tradisional, kembang api, konser, aku rasa itu cukup romantis."

Jongin melihat ke arah Sehun tidak percaya.

"Apa kopi kemarin yang membuatmu seperti ini?" tanyanya heran.

Sehun hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.

"Mungkin iya. Mungkin tidak. Tapi mungkin juga karena kamu jarang mau mendengarku. Kamu lebih memilih lari padahal kamu punya sahabat sejenius ini."

Jongin menepuk kaki Sehun pelan sambil mengucapkan maaf dan terimakasih. Sehun memegang punggung tangannya dan menjawab, "you're welcome, buddy."

Segala sesuatu soal Kyungsoo membuatnya lebih bisa berpikir jernih. Dalam kota Jongin, Distrik Emosinya dirombak besar-besaran. Departemen Hiburan kini mendapatkan tempat lebih kecil. Ia berjanji untuk mulai memaksa para pekerjanya berlatih mencari solusi dari tiap permasalahan.

"Aku hanya punya satu pesan. Saat kamu sudah mendapatkannya, jangan lakukan itu di depan Monggu. Ia pasti tidak mau melihat sisi lain dari Ninnie-nya."

Jongin melemparkan tatapan paling mematikan ke lelaki di sampingnya.

"GEEZ, SEHUN. I WON'T! AND STOP CALLING ME NINNIE, YOU YEHET BITCH. IT'S UNBELIEVEABLE HOW ANNOYING YOU ARE."

Sehun terjungkal dari kursinya karena tertawa.


Sore hari itu, Kyungsoo tiba-tiba membutuhkan asupan kafein lebih banyak. Segerombolan turis membuat dapurnya sibuk siang tadi. Ia kembali memutuskan untuk mampir ke 3.6.5 dan terkejut mendapati Tao ada di sana.

Baekhyun segera duduk dengan mereka setelah selesai melayani beberapa pelanggan. Sebagai salah satu coffee shop yang ramai, Kyungsoo mengakui pelayanan di 3.6.5 sangat cekatan. Mungkin karena Kris selalu mondar-mandir untuk mengawasi dapur sampai pintu depan. Namun bagaimanapun, Kris memperlakukan karyawannya dengan baik. Ia sering mengijinkan pelayannya untuk sekedar mengobrol jika memang sedang tidak ada pekerjaan.

"Hey, aku tidak bercanda saat bertanya apakah Kris masih sendiri atau tidak." Celetuk Tao sambil terus melekatkan pandangannya ke lelaki tinggi yang sedang tersenyum ke salah satu pelanggan.

"For the love of God, Tao. Aku sudah bilang padamu he's straight."

Tao terpaksa mengalihkan pandangannya ke Baekhyun.

"Itu tidak menjawab pertanyaanku, Baekhyun. Aku Cuma ingin tahu apakah dia sudah punya pasangan atau belum."

Kyungsoo tidak sempat mendengar jawaban Baekhyun karena handphone-nya tiba-tiba berdering. Saat melihat caller ID yang terpampang di layarnya, ia langsung membeku.

"Oh, my God it's Kim Jongin."

Tao dan Baekhyun segera membelalak, mereka buru-buru melihat ke layar handphone Kyungsoo.

"Ohmygodohmygodohmygod, apa yang harus aku lakukan?"

Baekhyun berdecak dan langsung merebut handphone Kyungsoo. Ia menggeser tombol angkat lalu mengubahnya ke mode speaker. Raut muka Kyungsoo berubah panik.

"Hello, prince."

Sapaan pertama Jongin seketika membuat Tao dan Baekhyun meledak dalam tawa tanpa suara. Kyungsoo buru-buru mengambil handphone-nya sambil memberi tatapan oh-you're-so-dead-aku-akan-memotongmu-menjadi-bagian-kecil-dan-membuangmu-ke-laut-Pasifik-Selatan pada Baekhyun.

"Oh. Hey. Ya. Umm. Ada apa?" Kyungsoo berdehem untuk meloloskan suaranya.

Jongin tertawa mendengar jawabannya dan holy earth ia tidak tahu tawa Jongin bisa begitu menggoda walau hanya lewat telepon.

"Oke. Umm, jadi dengarkan baik-baik. Sepertinya aku tidak akan pernah punya cukup uang untuk membalasmu sekaligus. Jadi bagaimana kalau aku mulai mencicilnya? Katakan, apa Sabtu besok kamu luang?"

Kyungsoo menarik nafas karena jantungnya mulai melompat-lompat tak karuan.

"Ya, ya. Aku tidak ada rencana hari itu."

"Oh. Oke. Bagus. Jam enam aku jemput di apartemenmu, is it ok?

"Oke. Baiklah. Jam enam. Oke."

"Oke. Perfect. Umm, see you soon, prince."

Sambungan itu terputus. Namun Kyungsoo belum bisa menggerakkan handphone yang masih menempel di telinganya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat untuk meredam ratusan gelembung di dalam perutnya.

Baekhyun dan Tao menunggunya dengan wajah antusias.

"Jadiiiiiiii?" serobot Baekhyun yang tak sabar menunggu Kyungsoo bicara.

"Dia mengajakku keluar."

Mereka langsung menjerit bersamaan.

"Hey, schoolgirls! Keep it down." Teriak Kris dari seberang ruangan.

Kyungsoo meminta maaf sedangkan Baekhyun hanya menjulurkan lidahnya.

"Menurutmu berapa lama?" tanya Tao ke Baekhyun tiba-tiba. Kyungsoo melihat mereka dengan bingung.

"10.000 won untuk satu minggu." Jawab Baekhyun.

"Oh, benarkah? Kurasa Kyungsoo akan sedikit mempersulitnya. 15.000 won untuk dua minggu." Balas Tao dengan muka serius.

"Hey, guys. Apa yang kalian bicarakan?" Kyungsoo benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini.

"Apa menurutmu seseorang seperti Kim Jongin akan membiarkan Kyungsoo mempersulitnya? Na-uh. Aku akan menang kali ini, Tao."

"Hey, aku tidak-"

"20.000 won untuk tiga hari karena it's Mister Perfect Creature no. 1 dan hey! Terimakasih telah memulai pesta ini tanpaku." Potong Luhan yang langsung mengambil salah satu kursi di dekat mereka.

"Apa kalian mau menjelaskannya padaku?" Kyungsoo memastikan untuk menekan tiap kata saat bertanya kali ini.

Tiga lelaki di depannya hanya berpandang-pandangan dalam diam. Tao menggaruk-garuk bagian belakang lehernya yang tidak gatal. Kyungsoo menyilangkan tangannya di dada, menunggu salah satu dari mereka bicara.

"Oh, aku harus bekerja lagi." Baekhyun meninggalkan meja itu diikuti dengan desisan dari Luhan dan Tao.

Kyungsoo melemparkan tatapan tajam ke mereka berdua.

"Oke, oke. Kita sedang bertaruh." Ucap Tao kemudian.

"Bertaruh soal?"

"You know..." Luhan memutar bola matanya sebelum meneruskan dengan nada santai, "how long before you two have sex after first date."

"I'm sorry, WHAT?!"

Tidak ada satupun dari mereka yang selamat dari headlock Kyungsoo sore itu.


END OF PART 3 : HIGHWAY


Terimakasih lagi buat semua yang masih dan udah nge-review :D
Terimakasih juga buat pujian, saran dan dukungannya. Waaaaa~ aku seneng banget ada yang baca ff ini.

Oiya, akademi tari yang aku maksud sebelumnya itu kaya lembaga pendidikan informal gitu.

Sedikit sneak peek, buat bagian mature part bakalan ada di chapter 5. Tapi jangan bosen dulu yah, review terus, semangat buat yang lagi skripsi!
Kyaaa, aku diserang puppy eyes. Aku bakalan bikin OTP lain juga kok, mungkin setelah ini selesai :D

Kalau misal aku bikin sidestory dari cerita ini, kira-kira kalian bakal tertarik nggak? Kalau iya, kalian mau OTP mana yang aku angkat? Hehehehe. Mungkin dari chapter ini yang keliatan baru ChanBaek doang. Tapi kalau di chapter-chapter selanjutnya kalian ngerasa ada yang menarik, kasih tau aku yah!
Ditunggu lagi review, saran, dan kritiknya.

I love you all!

KAISOO FTW!

-RedSherr88-