I'm blinded by you, who shines so that all other light becomes colorless

You're a strong flashlight

― EXO - Heart Attack


Suara dentum musik di Machine sedikit memekakan telinga Jongin hari itu. Selayaknya bar berjenis klub malam, orang-orang sibuk berdansa mengikut irama dengan riuh rendah sorakan beberapa kali. Ia membawa baki kosongnya ke dapur dan memutuskan untuk beristirahat sebentar di dekat Bar Area. Senyum penuh seseorang di balik meja bartender langsung menyambutnya begitu ia duduk.

"Kamu harus berhenti membuat senyum menyeramkan itu, Chanyeol. Beberapa pelanggan mengira kamu sedang mengancam mereka."

Lelaki berambut merah di depannya justru tertawa lebih lebar. Tangannya sibuk mencampurkan beberapa minuman ke dalam shaker untuk salah seorang wanita yang duduk di bar stool. Wanita itu tidak berhenti memandangi Jongin dari atas sampai bawah. Jongin segera menemukan wanita itu melempar senyum padanya sesaat setelah ia menoleh. Bibir Jongin tetap diam dan ia segera mengalihkan pandangannya lagi. Melihat sinyal ketidaktertarikan Jongin, wanita itu langsung pergi ketika Chanyeol selesai dengan minumannya.

"How rude, Jongin. Sudah berapa orang yang menggodamu seperti tadi dan kamu hanya mengabaikannya?" tanya Chanyeol sambil membersihkan beberapa tetesan air yang bercecer di meja itu.

"Kamu bisa mendapatkan beberapa wanita-atau lelaki di celanamu dalam semalam."

Jongin menyulut rokok di antara bibirnya, ia memandang Chanyeol dengan tidak percaya.

"Aku tidak tahu kenapa orang sering mengira aku adalah orang yang mudah menyalurkan hasratku tanpa perasaan."

Kini, gantian Chanyeol yang memandangnya tidak percaya.

"Oh… You don't?"

"Nope. Never. Serius, Park Chanyeol. Aku bukanlah orang yang seperti itu."

Lelaki itu hanya mengangguk-angguk kecil. Selama bekerja di Machine, mereka jarang bertukar kata. Mungkin karena Jongin mengelilingi seluruh ruangan untuk menyibukkan dirinya, sedangkan Chanyeol hanya diam di satu tempat.

Chanyeol membalikkan pandangannya ke Jongin lagi. Ia menumpukan kedua telapak tangannya di meja bartender itu.

"Kalau begitu, mungkin aku akan merasa aman menanyakan ini padamu."

Alis Jongin naik setengah, mempertanyakan apa yang dimaksud Chanyeol.

"Ini adalah tipe pertanyaan yang akan membuat Jongdae tertawa dan teman-temanku mengejekku seumur hidup mereka. Tapi mungkin, tidak akan masalah denganmu."

"Spit it out!" perintah Jongin yang penasaran.

Chanyeol menegakkan punggungnya. Dahinya mengernyit seperti memikirkan sesuatu yang rumit.

"Apa kamu pernah bertemu atau bicara dengan seseorang dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi setelahnya?"

"Tergantung. Apa yang kamu maksud dengan aneh?"

Ia melihat Chanyeol menggigit bibirnya berkali-kali lalu membuang nafas panjang. Pandangannya beralih ke lantai di bawahnya.

"You know… Perasaan seperti matahari bersinar hanya untukmu hari itu, burung terdengar bernyanyi terlalu riang, tubuhmu seperti melayang, dan segerombolan baboon sedang melompat-lompat di jantungmu?"

Hening.

Jongin tidak tahu harus tertawa atau tidak karena Chanyeol terlihat serius. Tapi pernyataan barusan terdengar terlalu konyol di telinga Jongin. Chanyeol benar, ini adalah tipe pertanyaan yang akan membuat Jongdae bisa mati karena tertawa.

"Errr, Chanyeol. Are you drunk? Vodka mungkin? Kamu tahu, minuman itu kadang punya efek yang aneh untuk beberapa orang."

"I'm sober as hell, Jongin." Lalu Chanyeol memukulkan kepalanya berkali-kali ke meja sambil bergumam, "oh, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Apa cuma aku yang merasakannya?"

Jongin segera meraih bahu Chanyeol dan memintanya untuk tenang.

"Aku baru berkencan dengannya beberapa kali lalu hal-hal aneh ini mulai terjadi. Aku benar-benar tidak tahu apa penyebabnya."

Jongin bisa melihat keputusasaan di mata Chanyeol. Ia menjadi sedikit iba.

"Hey, Chanyeol. Selama itu terasa menyenangkan, kurasa tidak ada salahnya kamu menikmatinya. Mungkin kamu harus belajar menerimanya terlebih dahulu sebelum mengetahui ada apa di balik semua itu."

Chanyeol mengangkat kepalanya perlahan dan melihat Jongin dengan terkejut.

"Wow, aku tidak tahu kamu bisa memberikan saran yang berguna soal ini."

"Oh, percayalah. Neither do I."

Jongin tidak bohong saat mengatakannya. Ia bahkan ingin mengajak seluruh pekerja otaknya untuk berpesta karena akhirnya mereka menemukan sesuatu yang bijak untuk keluar dari mulutnya.

"Ah, gotta go." Kata Chanyeol setelah melihat beberapa orang datang ke arah mereka.

"Tapi terimakasih, Jongin. Aku rasa mulai saat ini, aku akan menganggumu untuk urusan yang sama."

Chanyeol kembali memberikan senyum penuhnya ke Jongin sebelum tenggelam dengan botol-botol alkohol di tangannya.

Dengan malas, Jongin beranjak dari kursi untuk kembali meneruskan pekerjaanya.


Jongin merapikan rambut untuk yang ke sepuluh kalinya. Ia terlambat 20 menit setelah pertarungan sengit antara kemeja mana yang lebih cocok untuk ripped jeans dan jaket kulit hitamnya. Hingga akhirnya setelah beberapa kali bertanya ke Monggu, Jongin memutuskan untuk memakai kemeja berwarna merah-karena Monggu mengonggong lebih keras pada kemeja itu. Sesampainya di pintu apartemen Kyungsoo, ia kembali tidak percaya diri. Jongin memikirkan kemungkinan bagaimana jika Monggu ternyata memberikan sugesti yang salah kepadanya. Atau mungkin Monggu punya selera fashion yang buruk. Tapi mengingat ia sudah meninggalkan kesan jelek dengan terlambat pada kencan pertama, Jongin mencoba meyakinkan diri untuk tidak berlari kembali ke rumah.

Setelah menepuk pipinya beberapa kali, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu apartemen Kyungsoo.

Ketika pintu itu dibuka, Jongin lupa cara bernafas sesaat.

Ia mengutuk dalam hati kenapa lelaki di hadapannya bisa terlihat begitu menarik hanya dalam balutan sederhana. Kyungsoo memakai sweater wol warna putih dengan sedikit pola garis-garis di lengannya dan celana jeans warna biru langit.

"Hai." Kyungsoo memulai percakapan di antara mereka.

"Oh. Hai." Jongin berdehem sesaat, "aku minta maaf karena terlambat. Kamu sudah siap?"

Kyungsoo mengangguk dengan senyum paling manis yang mampu menghidupi kota Jongin selama sebulan lebih.

Mereka memutuskan untuk berjalan kaki karena letak Festival Seni itu berdekatan dengan apartemen Kyungsoo. Saat melewati salah satu kaca besar di pertokoan, Jongin tidak sengaja melihat bayangannya dan Kyungsoo. Sepintas-dengan perbedaan warna baju yang mereka kenakan mereka terlihat seperti setan dan malaikat.

Jongin bersumpah akan membunuh Monggu setelah ini.

Lampion warna-warni langsung menyambut mereka setibanya di Festival Seni itu. Ada banyak stand makanan berjejer rapi dengan ornamen burung kertas di tiap tiangnya. Hujan sore tadi masih menyisakan tanah basah yang mengeluarkan bau khas. Jongin memandang ke Kyungsoo yang terlihat gugup.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Jongin khawatir.

Kyungsoo memainkan jari tangannya sendiri dan mengalihkan pandangannya dari Jongin.

"Aku hanya tidak suka keramaian. Ini pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini."

Jongin mengedipkan matanya beberapa kali karena tidak percaya. Namun lelaki di sampingnya masih terus memandang ke bawah. Jongin sedikit membungkuk untuk mencari mata Kyungsoo. Ia merasa tidak enak karena Kyungsoo sepertinya tidak nyaman dengan tempat ini.

"Hey, kamu mau pergi dari sini?"

"No!" sergah Kyungsoo cepat. Ia menghela nafas sebentar sebelum berani menatap Jongin kembali. "Aku hanya tidak terbiasa. Tapi, aku ingin mencobanya."

Jongin tersenyum lalu mengacak rambut Kyungsoo beberapa kali. Ia melihat pipi Kyungsoo langsung memerah saat itu juga.

"Prince memang benar-benar panggilan yang cocok untukmu."

Jongin meraih salah satu tangan Kyungsoo dan mengenggamnya erat. Kyungsoo langsung merasakan tubuhnya merinding dengan sentuhan itu.

"Hold my hands." bisik Jongin tepat di telinga Kyungsoo.

Kyungsoo segera menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan senyumnya yang mungkin akan terlalu lebar. Jongin tertawa saat menyadari tindakan bodoh Kyungsoo.

"Come on, let's find something you like."

Mereka berkeliling dari stand ke stand dan memutuskan membeli dua Matcha Latte untuk sedikit mengalahkan udara dingin malam itu. Setelah menemukan beberapa makanan kecil, Jongin mengajak Kyungsoo duduk di salah satu kursi. Begitu mereka duduk, Jongin meletakkan gelas kertasnya dan meraih tangan Kyungsoo. Ia menangkupkan kedua tangan Kyungsoo bersamaan lalu menggosok-gosoknya pelan.

"Tanganmu dingin. Apa kamu kedinginan?"

Kyungsoo hampir meleleh saat mendengarnya. Jongin meniup tangan Kyungsoo dan terus menggosoknya.

"Tidak. Tidak lagi." jawab Kyungsoo pelan.

Pandangannya tidak sedikitpun beralih dari Jongin. Saat mata mereka bertemu, Kyungsoo tersenyum kecil. Dan betapa Jongin merasa, ia bisa saja menghabiskan seluruh hidupnya dengan momen seperti ini. Suara tepuk tangan tiba-tiba menggema di sekitar mereka. Lampu-lampu sorot dari kejauhan langsung menarik mata Jongin.

"Oh, sepertinya sudah dimulai. Ayo!"

Jongin menarik Kyungsoo masuk ke kerumunan ketika seorang pria sudah mulai menyanyikan hampir setengah lagu di panggung itu. Ia menggenggam erat tangan Kyungsoo untuk memastikan lelaki itu tidak tertinggal di belakangnya.

"Jongin, tempat ini lebih ramai dari yang sebelumnya." kata Kyungsoo panik.

Jongin tidak menjawab. Ia hanya menarik tubuh Kyungsoo mendekat lalu melingkarkan lengannya di pinggang Kyungsoo.

"Tidak ada konser yang sepi, Soo. Give it some time, you'll gonna love this."

Tapi itu sudah bukan masalah bagi Kyungsoo. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah sentuhan Jongin di pinggangnya, hembusan nafas Jongin yang menggelitik kepalanya, dan tiap bisikan Jongin yang membuat kaki Kyungsoo serasa lumpuh.

Jongin mengoceh soal beberapa konser yang pernah ia kunjungi. Kyungsoo mendengarkannya sambil sesekali mencuri pandang. Ia suka Jongin yang seperti ini. Saat menceritakan sesuatu yang menyenangkan, mata Jongin selalu berbinar terang.

Lebih terang dari lampu sorot panggung itu.

Lebih terang dari bintang manapun.

Kyungsoo mencoba mengalihkan mata dari Jongin sebelum wajahnya memerah. Pandangan Kyungsoo beredar ke sekitarnya. Ia menyaksikan banyak ekspresi terjadi di sana. Bahagia, sedih, gairah, amarah, tapi ada satu yang paling mendominasi di antaranya.

Cinta.

Seperti yang diperlihatkan ayah ke anak perempuannya di samping Kyungsoo, atau segerombolan anak muda dengan teman-temannya, atau berpuluh-puluh pasangan yang tidak berhenti saling tersenyum. Suasana itu bertambah manis ketika penyanyi di atas panggung melantunkan salah satu lagu Beyonce favoritnya dalam versi akustik. Tanpa sengaja, bibir Kyungsoo ikut tertarik. Menghancurkan salah satu kotak di Departemen Paranoid Kyungsoo yang bertuliskan 'Keramaian'.

Jongin menangkap senyum Kyungsoo barusan. Ia merapatkan bahu Kyungsoo lebih dekat lagi dan berbisik ke telinganya, "aku sudah bilang, kamu akan menyukainya."

Kyungsoo hanya mengangguk sambil terus tersenyum. Satu senyuman yang selalu menarik serapah dari bibir Jongin. Ia ingin menarik Kyungsoo saat itu juga, membenamkan kepala Kyungsoo di dadanya, dan memeluk lelaki itu erat-erat.

Tapi ia menahan keinginan itu mati-matian.

Tiba-tiba, beberapa penonton dari depan mereka meyerobot untuk keluar dengan kasar. Semua penonton di sekitar Jongin mulai bergerak menjauh. Lengan Jongin terlepas dari Kyungsoo dan lelaki itu tak lagi di sebelahnya. Jongin berubah panik.

"Kyungsoo!" seru Jongin.

"Kyungsoo!" panggilnya lebih keras di tengah kerumunan penonton dan suara nyanyian dari atas panggung. Jongin mulai berjalan menyisir sekitarnya.

.

In the darkest night hour

I'll search through the crowd

.

"Kyungsoo!" suara teriakannya mulai berubah putus asa.

"Jongin!"

Ia menoleh ke arah suara itu. Saat itulah Jongin melihat seorang lelaki yang susah payah berjinjit melambaikan tangan ke arahnya. Entah karena pengaruh cahaya atau kelegaan Jongin, ia melihat wajah Kyungsoo lebih bersinar saat menemukannya.

.

Your face is all that I see

I'll give you everything

Baby, love me lights out

.

"Oh, thank God. I thought I'm gonna lost." kata Kyungsoo dengan ekspresi yang berkebalikan dengan apa yang ia ucapkan. Ia tertawa lebar sambil memegangi perutnya.

"Hey, apa yang lucu?" tanya Jongin heran. Ia menyelipkan jari-jarinya di antara jari Kyungsoo lalu menggenggamnya kuat seperti tidak mengijinkan lelaki itu lepas dari sisinya lagi.

"Aku juga tidak tahu. Hanya… Sudah lama aku tidak merasa se-excited ini." Jawab Kyungsoo dengan tawa yang lebih lebar. Menampilkan bentuk hati di bibirnya serta rona merah muda di pipinya.

And that's it.

Jongin tidak lagi bisa menahannya, ia segera menarik tubuh Kyungsoo. Membenamkan kepala Kyungsoo ke dadanya lalu memeluknya erat. Ia mengecup puncak kepala Kyungsoo. Jongin menunggu lelaki itu mendorong tubuhnya. Ia menunggu sebuah penolakan, perlawanan, apapun itu.

Tapi tidak ada.

.

We don't have forever

Baby daylight's wasting

You better kiss me

Before our time has run out

.

Tubuh mereka membeku. Saling merasakan detakan jantung satu sama lain. Mengabaikan semua yang ada di sekelilingnya. Dunia terasa kabur untuk sesaat.

.

Nobody sees what we see

They're just hopelessly gazing

Oh, baby, take me, me

Before they turn the lights out

Before our time has run out

Baby, love me lights out

.

Lalu tiba-tiba satu kembang api besar meledak di atas kepala mereka. Menampilkan puluhan warna-warni dan sinar yang menyilaukan. Perlahan, Jongin sedikit memberikan jarak di antara mereka.

Kyungsoo mendongak, Jongin menunduk.

Pandangan mereka saling mengunci.

Ujung hidung mereka mulai bersentuhan.

Salah satu tangan Jongin menarik rahang Kyungsoo mendekat.

Lalu,

bibir mereka bertemu.

Jongin merasakan ribuan mantra sihir dihujamkan ke tubuhnya saat itu juga. Bibir Kyungsoo terasa seperti laut dan matahari senja. Satu batalyon pasukan semut seperti menggelitik bagian dalam perut Jongin. Pekerja otaknya menjerit. Tidak ada satupun bagian dari distriknya yang luput terisi Kyungsoo saat ini.

Sedangkan bagi Kyungsoo, kembang api di atas mereka tidak sebanding dengan ledakan yang terjadi di kepalanya. Atau jantungnya. Atau hatinya.

Jongin menarik bibirnya lebih dulu. Ia memastikan pandangannya tak lepas dari Kyungsoo. Menyalurkan berbagai perasaan yang tidak perlu diucapkan dengan kata. Membuat suatu diplomasi besar-besaran antara kedua kota di masing-masing kepala.

Mereka jatuh cinta dan mereka tahu itu.

Dengan wajah yang masih sama-sama merah,

mereka tersenyum bersamaan.


Jongin baru melepaskan genggamannya ketika mereka sampai di pintu apartemen Kyungsoo. Rasanya, malam ini belum cukup panjang untuknya. Namun, ia harus sudah ada di Machine pada jam sebelas nanti. Setelah berbagai bujukan dan rayuan, Jongdae hanya memberinya izin dua jam untuk terlambat.

"Apa kamu ingin mampir dulu?" tanya Kyungsoo sambil mencari kunci apartmennya.

Jongin mendesah, "aku ingin sekali, Soo. Tapi aku masih ada urusan setelah ini."

Ia masih belum membuka pembicaraan soal kehidupan pribadinya. Jongin tidak bangga dengan pekerjaanya sekarang. Atau kehidupannya yang masih berantakan. Ia ingin menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Kyungsoo. Jongin bersyukur Kyungsoo sangat menghormati privasinya. Ia tidak pernah bertanya atau menyinggung Jongin mengenai itu. Jongin juga tidak mempermasalahkan sedikitnya hal yang ia tahu soal Kyungsoo.

Mereka masih punya banyak waktu untuk saling mengenal dan mereka sudah cukup nyaman dengan keadaan saat ini.

"It's okay, Jongin. Lagipula, aku sudah punya malam yang menyenangkan untuk hari ini. Thank you."

Jongin tersenyum dan memainkan rambut depan Kyungsoo, "anytime, prince. Anytime for you."

Jari Jongin perlahan turun ke leher belakang Kyungsoo lalu menariknya mendekat. Tanpa bertukar kata, Kyungsoo memejamkan matanya.

Bibir mereka kembali bertemu.

Ciuman kedua kali ini berbeda dengan sebelumnya. Bukan hanya sentuhan dari bibir ke bibir saja. Jongin memagut bibir bawah Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo membalasnya. Jongin mendorong Kyungsoo sampai bertemu dinding di belakangnya. Tangan Kyungsoo berkelana mencengkram rambut Jongin. Sedangkan kedua tangan Jongin kini sampai di pinggang Kyungsoo, mendekatkan tubuh mereka lebih erat lagi. Ciuman itu berubah lebih basah saat Jongin mulai memainkan lidahnya. Kyungsoo mengeluarkan desahan panjang. Seluruh badan Jongin bergetar saat mendengarnya.

Kyungsoo lebih seduktif daripada yang Jongin kira. Mereka harus segera berhenti.

Ia harus segera berhenti.

Jongin melambatkan ciuman mereka sebelum melepaskannya. Lalu, ia mengecup kening Kyungsoo dan melihat lelaki di depannya bersemu.

Kyungsoo merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Ia mengutuk para pekerja otak yang menyembunyikan sisi maskulinnya tiap kali berhadapan dengan Jongin.

"Istirahatlah. Kamu pasti lelah."

Kyungsoo mengangguk, ia membuka pintu apartemennya. Jongin melambai ke arah Kyungsoo sambil berjalan mundur.

"Call me. Jangan tunggu waktu seminggu kali ini."

Jongin tertawa sedangkan Kyungsoo memasang muka serius.

"Pasti. Aku janji."

Ia membalikkan badannya sambil terus tersenyum. Dada Jongin terasa penuh dan semut-semut di perutnya belum juga menghilang.

"Hey, Jongin!" seru Kyungsoo setengah berteriak saat Jongin sudah berjalan hampir setengah lorong.

Jongin berbalik melihat Kyungsoo yang tersenyum malu-malu.

"You look incredibly hot in red."

Tanpa menunggu respon Jongin, Kyungsoo masuk ke apartemennya.

Keesokan harinya, Monggu mendapati mangkuk makanannya terisi lebih penuh daripada biasanya.


"Someone just got laid last night." celetuk Tao saat melihat Baekhyun masuk dengan wajah yang lebih cerah dari biasanya.

"Twice!" teriak Baekhyun yang membuat mulut tiga lelaki lainnya menganga lebar.

Minggu malam ini, mereka berkumpul di apartemen Kyungsoo. Meja ruang tengahnya berubah penuh saat itu. Luhan membawa selusin cupcake coklat dengan frosting vanila dan taburan almond, Baekhyun dengan empat cangkir kopi bervarian berbeda, Kyungsoo membuat udang panggang saus barbeque dengan jahe dan lemon, sedangkan Tao-well, karena ia seorang fashion stylist hanya membawa dirinya sendiri.

"You're dirty bitch, Baek. Kamu bahkan belum mengenalkan lelaki ini ke kami." Luhan segera menyuruh Baekhyun duduk di sebelahnya.

"Oh, bagaimana kalau kita ke Machine? Aku akan mengenalkannya pada kalian. Lagipula, sudah lama kan kita tidak ke bar?" ujar Baekhyun sambil membuka kotak berisi cupcake Luhan. Ia segera mendesah begitu bertemu gigitan pertama.

"Gosh, Luhan. Aku tidak mengerti kenapa ini hanya menjadi sebuah hobi." Kata Baekhyun dengan mulut penuh, "kamu bisa kaya hanya dengan pantat peri ini."

Luhan mengangkat kedua bahunya.

"Entah, aku belum tertarik dengan bisnis itu."

Tao buru-buru mengambil satu cupcake dan mengeluarkan ekspresi yang sama dengan Baekhyun. Kyungsoo memperhatikan Tao yang sedari tidak berhenti mengetik pesan di handphone-nya.

"Hey, siapa yang menyibukkanmu?" tanya Kyungsoo penasaran.

"Kris." jawab Tao singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

Seluruh ruangan itu tiba-tiba hening. Kyungsoo hampir tersedak kopinya.

"What?" Tao menatap mereka heran.

"Kris?" Baekhyun mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Ya, Kris."

"That Kris?"

"Ya, that Kris."

"3.6.5 Kris?"

"Ya, 3.6.5 Kris."

"Kris manajerku?"

"Oh, astaga Baekhyun. Iya, Kris manajermu."

"Bukankah dia straight? timpal Kyungsoo yang masih tidak percaya.

Tao tertawa seakan meremehkan mereka semua lalu berkata, "Huang Zitao tidak pernah gagal dalam usahanya."

"But… How?" tanya Baekhyun lagi.

Ia terlihat paling terkejut mengenai hal ini, karena Baekhyun sangat mengenal Kris. Baekhyun tau bahwa Kris bukan orang yang mudah digoyahkan.

"Rahasia." jawab Tao yang kembali sibuk dengan handphone di genggamannya.

"THIS IS SO UNFAIR!" teriak Luhan dengan suara tinggi.

"Terlalu banyak berita hanya dalam satu malam. Baekhyun dengan Chanyeol-nya, Tao yang mungkin dengan voodoo bisa membuat Kris jatuh, dan kamu…" Luhan memincingkan matanya ke Kyungsoo, "aku harap kamu tidak akan meledakkan otakku dengan satu berita yang lain."

Kyungsoo memutar-mutar gelas di tangannya tanpa menjawab. Semua perhatian mereka kini tertuju padanya.

"Oh, tidak Soo… Apa terjadi sesuatu?" Luhan merebut gelas Kyungsoo lalu menatap Kyungsoo tajam.

"Well…" Kyungsoo menghela nafas sejenak, "we kissed."

Mendengar itu, Luhan mengepalkan kedua tangannya di udara sambil menggerutu pelan. Kyungsoo menegakkan punggungnya lalu menatapnya heran.

"Aku tidak mengerti, Lu. Banyak trainer kita yang langsung jatuh cinta saat melihatmu. Jika kamu tidak terlalu selektif, kamu mungkin sudah mendapatkan pasanganmu saat ini."

Sebelum Luhan sempat membuka bibirnya, Tao memotongnya duluan, "dia menunggu Knight in Shining Armor-nya."

"Zitao!"

Baekhyun tergelak. Ia langsung meminta Tao menceritakan tentang kisah itu.

"Aku tidak tahu pastinya, hanya saja dia jatuh cinta dengan seseorang berkostum Ksatria Templar saat berusia dua belas tahun. Dan kamu tidak akan percaya banyaknya usaha Luhan untuk menemukan anak lelaki ini."

Luhan hanya mengumpat diam-diam saat Tao menceritakan itu. Ia meminum kopi di gelasnya dalam sekali teguk.

"Oh, aku tidak tahu Lu. Tapi kurasa itu cukup romantis." Ujar Kyungsoo saat melihat tatapan putus asa Luhan.

"Jangan mencoba menghiburku, Soo. Itu tidak akan berhasil. Bisakah kita berganti topik? Oh, aku dengar kamu mengajukan cuti?"

Kyungsoo mengangguk. Luhan tahu selama masa kerjanya, Kyungsoo belum pernah mengambil cuti sekalipun. Tapi Junmyeon memaksanya, ia bilang liburan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan kreatifitas baru.

"Ya, hanya dua hari. Besok dan Selasa." Jawab Kyungsoo.

Luhan mengambil udang buatan Kyungsoo dan memakannya dalam sekali suapan. Baekhyun mulai membujuk Luhan untuk menceritakan Ksatria Templar-nya lebih lanjut saat Kyungsoo merasakan ada sesuatu yang bergetar di celananya.

Sebuah pesan.

From : Kim Jongin

Apa tidurmu nyenyak semalam?

Kyungsoo tersenyum saat membacanya. Ia mulai mengetikkan beberapa kata.

To : Kim Jongin

Ya, aku tidur seperti bayi. Kamu?

Ketika Kyungsoo mendongak, Ia melihat Baekhyun yang masih ngotot dan Luhan yang mulai gerah.

"Fine!" Luhan memijat pelipisnya, "aku baru saja pindah ke Korea saat itu. Sekolah baruku mengadakan sebuah karnaval. Kalian tahu bagaimana ketakutanku dengan laba-laba?"

Baekhyun mengangguk paling cepat.

"Ksatria Templar ini menolongku saat ada laba-laba di punggungku. Dia menggunakan helmet sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Karena Bahasa Koreaku masih buruk, aku juga tidak bisa menanyakan namanya. Aku mencarinya sejak itu tapi belum juga menemukannya. Puas?"

Handphone Kyungsoo kembali bergetar.

From : Kim Jongin

Good! Ah, aku tidak bisa tidur. Seorang pangeran lalu lalang di kepalaku. Ia punya mata yang besar, bahu yang terlalu rendah dan kaki yang pendek. Apa kamu mengenalnya?

To : Kim Jongin

No. But he must be gorgeous.

From : Kim Jongin

Oh, he totally is! Dan kamu tidak akan percaya pangeran ini bisa membuat makanan yang membuatmu lupa dunia. Aku merindukan masakannya.

To : Kim Jongin

Mungkin, jika kamu mengirimkan alamatmu. Pangeran itu akan datang berkunjung dan membuat makan siang dengan menu yang paling kamu sukai.

Kyungsoo hampir tertawa membaca tulisannya sendiri. Kim Jongin benar-benar punya cara luar biasa untuk membuat Kyungsoo ikut larut dalam dunianya. Ia membuka handphone-nya kembali dan menemukan pesan berisikan alamat serta kata 'aku tunggu' dengan emot senyum di akhirnya.

"Kalian lihat ekspresi itu, guys?" ujar Luhan sambil menunjuk ke arah Kyungsoo, "itu adalah ekspresi yang akan membuatku memenangkan taruhan terakhir kita."

Kyungsoo melemparkan sendok plastiknya ke Luhan saat itu juga.


END OF PART 4 : STREETS


Kyaaaaa~

Seneng banget denger ada yang senyum-senyum baca FF ini, ada yang ngasih tau ke temennya, buat yang baru nemu juga makasih banget udah mau nge-review.

Makasih juga buat semua pujian serta dukungannya. Aku terharu, serius.

Dan sekali lagi, serius ini murni karya aku. Hahahaha. Awal mula dapet ide ini karena baca puisinya Aan Mansyur (hurufkecil) yang 'kepalaku: kantor paling sibuk di dunia'.

Iya, bener banget! Ini semua hasil dari kebanyakan nonton film romantis, novel, sama FF Bahasa Inggris. Tapi jujur aja, aku paling sering dapet inspirasi justru dari lagu. Buat yang pas mereka lagi nonton konser misalnya, karena dengerin XO - Beyonce cover by Teza Sumendra di YouTube (kalian harus dengerin guys, feel-nya dapet banget XD) sama Heart Attack-nya EXO.

Buat couple lain cuma aku jadiin slight aja, jadi nggak begitu detail. Makanya kemarin aku kepikiran bikin sidestory (kalau ada yang tertarik). Semua saran kalian ditampung kok, tenang aja :D

Jangan lupa baca terus, ya. Tunggu adegan Nini, Prince(ss) Soo, dan Yehet Bitch selanjutnya.

Kritik, saran dan review lainnya ditunggu sekaliiiiii. *smooch*

KAISOO FTW!

-RedSherr88-