Lucy : 10 tahun


"tuan, dalam mengatasi masalah ini, duke sawarr memberikan bantuan dengan syarat anak anda akan menikahi Duke."

"Apakah dia tidak mengetahui umur anakku?" Jude mengerutkan dahinya, syarat yang tidak masuk akal. Asistennya menghela nafas frustasi dan memberikan jawabannya.

"Dia berkata tunggu sampai usia legal baru menikah dengannya, tuan."

Kemudian tidak ada suara lagi terdengar. Jude berpikir lama, masalah bisnisnya harus ditangani segera tetapi dia membutuhkan bantuan dari luar, sayangnya ada syarat yang harus dilaksanakan.

Mereka berdua tidak tahu ada anak kecil yang bersembunyi di balik pintu, ia mendengar semua percakapan kedua lelaki tersebut. Anak kecil itu ialah Lucy, kini ia bersembunyi dan jantungnya terus berdebar, ketakutan mendengar percakapan ayah dan asistennya. Tidak mungkin ayahnya akan menjual ke orang asing demi bisnisnya. Tetapi melihat sifat ayahnya yang tidak memperdulikannya membuat ia berpikir bahwa ayahnya akan menjual cepat atau lambat untuk kepentingan bisnis. Tanpa sadar air matanya turun dan rasa ngilu di hatinya semakin parah, karena sudah tidak tahan lagi, ia memutuskan untuk kembali ke kamar.


Kalian pasti bertanya-tanya mengapa Lucy berada dekat kantor ayahnya. Sebelumnya ia ingin meminta izin untuk pergi keluar tetapi karena sedang ada pertemuan dengan

asisten yang wajahnya tidak ramah, ia memutuskan untuk menunggu. Akan tetapi, ia mendengar hal yang tidak menyenangkan untuk didengar. Hati nuraninya masih berpikir ayahnya memiliki kasih sayang untuknya tetapi malu untuk menunjukkan. Akan tetapi, hal itu merupakan mimpi bodoh yang tidak akan dicapai.

Pada kenyataan kejam yang harus diterima adalah ayahnya tidak pernah menyayanginya.

Sebelumnya, Lucy berpikir ayahnya memberikan kunci untuk memperbaiki hubungan antara dia dan ayah, tetapi hal tersebut harus dipertanyakan lagi maksud tujuan ayahnya.

Ia tidak mengerti mengapa ayahnya memberikan kunci emas. Apakah dia sengaja membelikannya karena mereka berasal dari pasar gelap, dimana penawaran tertinggi yang akan dapat. Mungkin saja ayah ingin memamerkan kekuasaan dan kekayaannya dengan menawarkan harga tertinggi untuk kunci tersebut. Kebetulan saja kunci emas merupakan barang langka dan antik yang diinginkan oleh banyak orang. Tidak hanya itu, putrinya merupakan penyihir surgawi sehingga barang tersebut memiliki kegunaan.

Kini ia yakin, hadiah pemberian ayahnya mempunyai tujuan tersendiri yaitu ayahnya menunjukkan kekayaan kepada bangsawan lain saat penawaran berlangsung.

Lucy tertawa sinis memikirkannya, ia tidak peduli lagi dengan ayahnya. peduli setan!

Sialan, air matanya terus mengalir. Ia sesak nafas melihat kenyataan yang kejam di depannya.


Sesampainya di kamar, ia mengambil bantal dan menangis dengan keras. Virgo muncul membuka gerbangnya sendiri dam berdiri di samping Lucy, kemudian tangan kanannya mengelus surai rambut Lucy dengan lembut agar tangisan tersebut berkurang. Dia tidak menanyakan apapun yang membuat Lucy tenang dan nyaman. Tubuhnya meringkuk ke arah Virgo, tangan kanannya melingkar Pingangnya dan menangis lebih keras.

Capricorn merasakan suasana sedih dari tuan kecilnya memutuskan membuka gerbangnya sendiri. Dia berdiri di samping Virgo dan melirik Lucy, wajahnya sedih melihat tuan kecilnya menangis. Capricorn memutuskan memanggil Spetto untuk membuat kue kesukaan Lucy agar suasana hatinya membaik ketika selesai menangis. Setelah selesai memanggil, Capricorn tetap berdiri dengan tenang, menunggu tuan kecilnya menjelaskan yang terjadi.

Tidak lama kemudian, Spetto datang dan mendorong kereta makanan ke dalam. Lucy melirik Spetto yang masuk dan berusaha duduk untuk melihatnya. Spetto memandang wajah Lucy dan tersentak kaget melihat nyonya kecilnya memerah dengan air mata mengalir. Spetto menghampiri Lucy dan memeluknya, tangannya mengelus pundak Lucy, berusaha membuatnya tenang. Tetapi bukannya tenang, Lucy semakin keras menangisnya. Spetto juga menahan tangis melihat nyonya kecil yang sudah ia anggap anak dalam keadaan sedih.

Spetto mengelus wajah Lucy, lalu bertanya dengan nada lembut.

"Lucy-sama, Kenapa anda menangis?" Tanya Spetto dengan khawatir, Lucy mendongak dengan air mata yang menumpuk di kedua matanya dan ingus yang mengalir.

"Ayah ingin menjualku kepada orang tua untuk dinikahkan." Ucapnya dengan nada rendah sembari terisak. Lucy menjelaskan semua yang ia dengar kepada semuanya. Capricorn mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi, mata Virgo terdapat emosi marah di wajah datarnya, dan Spetto menangis mendengarnya.

"Saya tidak percaya tuan besar begitu kejam kepada putrinya." Kemarahan Spetto bisa dirasakan oleh Lucy. tangan kecil Lucy mengelus tangan Spetto untuk meredakan amarahnya. Spetto tersenyum kecil kemudian ia mencium pelipis Lucy.

"Oi, bocah nakal." Suara Aquarius bergema di telinga Lucy. Lucy melirik ke sumber suara dan tersenyum lebar melihat roh yang sudah ia anggap sebagai ibu. Aquarius berkacak pinggang melihat wajah menyedihkan Lucy ia menghela nafas kemudian menghampiri Lucy dan menidurkan kepala Lucy ke pangkuannya.

"Kenapa kamu tidak kabur saja dari sini?"

Ucapan yang dilontarkan Aquarius membuat yang lain menahan nafas. Capricorn menyetujui ucapan Aquarius dengan menganggukkan kepalanya dan Virgo juga setuju dengan perkataan Aquarius. Spetto tidak setuju karena resiko yang akan datang di masa depan, tetapi di satu sisi ia juga menyetujui ide tersebut.

Jude Heartfilia merupakan orang gila yang diotaknya hanya harta, bisa saja di masa depan ia menjual putrinya untuk bisnis. Terlebih lagi ia menjualnya kepada orang yang lebih tua dari umur Lucy. Hal itu menjijikkan melihat orang tua kandunf berusaha menjual anaknya demi harta. Lucy mual memikirkan masa depannya jika ia tidak memberontak, ia akan dijadikan burung sangkar oleh ayahnya dan terjebak untuk hal yang tidak diinginkan. Tetapi jika ia kabur, nasib para pelayan bisa bahaya, antara pemecatan dan hukuman berat.

"Kalau aku kabur, bagaimana orang-orang yang ada disini." nada suara khawatir terdengar membuat Spetto tersenyum lembut. ia menepuk kepalanya, berusaha menenangkan Lucy.

"Tenang saja, Lucy-sama. Saya ingin melihat anda bahagia. Saya setuju dengan ide Aquarius-sama untuk kabur dari sini. Kamu juga punya tabungan di dunia roh kan?"

Lucy menganggukkan kepalanya. Ia sengaja menyimpan uang di dunia roh dengan cara menitipkan uangnya kepada Virgo untuk ditabung. Hal ini berguna sebagai dana darurat jika sesuatu yang buruk akan terjadi. Beruntung ia mempunyai tabungan 300.000.000 jewel, hasil dari uang jajan yang diberikan ayahnya serta ia rajin menarik uang saham yang dia punya dari bank.

(Catatan Author : Saham tersebut merupakan saham kerata api milik ibunya Lucy yang diberikan kepada anaknya. Hal ini sudah disetujui oleh Ayahnya dan ibunya ketika dia lahir. Jadinya uangnya banyak. Saham tersebut 25 persen sedangkan ayahnya 60 persen dengan sisanya yang dipegang oleh perusahaan lain selain Heartfilia.)

Ia tidak akan menarik uang tunai dulu sehingga ia tidak bisa dilacak. Ayahnya tidak akan bisa membekukan rekeningnya karena ibunya sudah menyuruh pihak bank agar tabungannya tidak bisa dibekukan oleh ayahnya.

Hohoho... sungguh senang, dia sangat mencintai ibunya yang sudah memprediksi masa depan yang akan datang.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?! Kemasi Barang-barangmu dan kita akan pergi." seru Aquarius, Capricorn mengerutkan keningnya sembari berpikir.

"Tunggu dulu Aquarius, kita membutuhkan rencana untuk kabur dari sini." Aquarius mendengus marah, ia terlalu terburu-buru dan tidak memikirkan rencana kabur tanpa ketahuan.

"Mengapa kita tidak bekerja sama dengan para pelayan?" Suara dengan emosi datar menyela pemikiran kedua roh seniornya. Aquarius menjentikkan jempolnya, seakan menyetujui ide dari Virgo. Ia menoleh ke Spetto dan bertanya apakah para pelayan ingin membantu mereka.

"Tentu saja para pelayan sangat mencintai Lucy-sama sehingga akan memenuhi permintaannya. Lucy-sama jarang membuat permintaan yang merepotkan." Spetto mengelus rambut Lucy, berusaha menenangkannya.

"Walaupun permintaan ini dianggap gila? "

"Iya, walaupun permintaan ini sungguh ceroboh tetapi demi senyum putri kecil yang manis, kami akan mempertaruhkannya."

"Karena semuanya sedang sibuk dan penjagaannya tidak ketat... Hmm.. Kalau begitu para pelayan akan mengalihkan perhatian para penjaga, bagaimanapun caranya agar ia tidak dalam penjagaan yang serius. Sementara kami akan pergi ke hutan belakang yang jarang dihuni untuk memanggil pegasus dan terbang dari sini."

"Ide bagus Capricorn. Ayo kita mulai sekarang! " Dengan suara lantang dan tegas, Aquarius berucap. Spetto mengangguk kemudian pergi ke perkumpulan pelayan untuk mengalihkan perhatian.

"Virgo, tolong siapkan semua barang yang diperlukan untuk Lucy-sama."

"Baik." Virgo mengangguk kepalanya kemudian membereskan barang-barang yang akan dibutuhkan seperti baju, kotak perhiasan, kotak surat Lucy yang berisi surat untuk ibunya, barang pribadi Lucy, senjata, serta buku-buku yang ada di kamar.

Dengan secepat kilat barang pribadi Lucy tersebut sudah dibereskan dan disimpan di dunia roh.

"Semua sudah beres, aku akan kembali ke dunia roh. Putri, Jika membutuhkan sesuatu, harap panggil saya. " Setelah itu dia kembali ke dunia roh.

"Ugh.. Aku belum mengucapkan terima kasih kepada Virgo." Lucy cemberut dan mengerucutkan bibirnya. Aquarius menggelengkan kepalanya kemudian menyentil dahinya dengan pelan.

"Pikirkan itu nanti. Kita harus keluar dari sini. Aku juga akan kembali ke dunia roh. Hubungi aku jika ada masalah. "

"Terima kasih Aquarius."

"Tidak masalah, bocah. Capricorn, aku titip bocah nakal ini. "

"Tentu saja."

"Tunggu paman Capricorn, aku akan memanggil Aquila untuk menghilangkan keberadaanku."

"Ide bagus Lucy-sama."

Kunci Aquila sudah ada di tangan kanan Lucy dan ia memanggil Aquila.

"Ada apa putri?" Aquila membungkuk dan bertanya.

"Aku minta tolong untuk menghilangkan keberadaanku." Aquila mengangguk kemudian dia menghilangkan keberadaan Lucy.

"Terima kasih banyak, ini benar-benar hebat!" Lucy tersenyum lebar yang dibalas Aquila dengan senyuman kecil. Kini bertambah roh yang menemani Lucy untuk kabur. Aquila berada di samping Lucy agar sihirnya masih bekerja untuknya.

Setelah mereka berhasil kabur ke hutan belakang, Lucy berdiam diri dan memfokuskan sihirnya ke tangan. Kunci perak konstelasi pegasus muncul di tangannya, ia merentangkan tangan kanannya sembari mengucapkan pelan mantra pemanggil.

"Terbukalah gerbang kuda bersayap, Pegasus."

Ringkihan kuda terdengar dengan suara hentakan kaki. Lucy menepuk dahinya mendengar suara pegasus yang terdengsr kencang. Ia mengelus kepala pegasus sembari mengisyaratkan jari telunjuk ke bibirnya untuk tidak bersuara kencang.

"Ssshh, Pegasus jangan berisik. Aku sedang berusaha kabur dari sini. Kemudian tolong ganti warna dengan warna langit agar aku tidak ketahuan."

Pegasus memiringkan kepalanya kemudian meringkik pelan. Kulitnya berubah menjadi warna biru, sungguh indah melihatnya. Kulitnya masih lembut seperti biasa. Setelah selesai berganti warna, pegasus mengirim telepati ke Lucy.

"Kamu mau membawaku ke atas awan? Baiklah kalau begitu. Tolong antarkan aku sampai ke stasiun tetapi jangan stasiun yang ada disini soalnya itu masih terhubung dengan ayah jadi bisa ketahuan."

Pegasus mendengus seakan menyetujui permintaan tuan kecilnya. Lucy tersenyum lebar kemudian mengelus moncong Pegasus.

"Terima kasih banyak atas pengertianmu. Paman Capricorn dan Aquila, aku akan berangkat. Kamu bisa kembali ke dunia roh dan Terima kasih banyak atas semuanya."

"Tidak masalah Lucy-sama, kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga."

"Semoga perjalanan baru yang anda inginkan membuat anda bahagia." Aquila menyeringai kecil membuat Lucy tersenyum lebar.

Capricorn dan Aquila membungkuk kemudian menghilang. Pegasus meringkik pelan kemudian terbang ke atas langit.


Kini Lucy sudah sampai Stasiun di kota hargeon. Dia memekik kegirangan melihat kota laut. Dia tidak pernah ke luar kota, karena dia selalu berada di rumah untuk menjalani pendidikan yang menyebalkan.

Lucy turun dari Pegasus, tidak memperdulikan tatapan penasaran di sekitar. Lucy mengelus pegasus dan berbisik terima kasih sembari mencium kepalanya. Pegasus memajukan kepalanya dan mengusap pipi Lucy yang membuatnya tertawa. Setelah itu, pegasus kembali ke dunia roh.

Matanya melirik sekeliling untuk mencari penjual tiket. Menemukan lokasinya, dia berlari kecil menuju pembelian tiket disana. Ada antrian panjang tetapi tidak memakan waktu lama yang membuat Lucy menghela lega.

"Tolong satu tiket menuju magnolia." Lucy tersenyum sembari mengeluarkan uang dari tas kecilnya. Namun, penjaga tiket menyipitkan matanya dan mendengus. Dia menolak untuk menjual tiket kepada Lucy dengan alasan masih kecil dan harus dibimbing dengan orang yang lebih tua. Hal ini membuat Lucy mengerutkan dahinya mendengar penolakan.

"Aku sudah besar. Umurku sudah 10 tahun, bisakah aku mendapatkan tiket?"

"Mohon maaf nak, aku tidak bisa memberikan tiket karena kamu sendiri disini." Wanita penjual tiket tetep keras kepala tidak menjualnya. Apakah dia mengira kalau Lucy tidak mempunyai uang karena masih kecil? Mungkin saja seperti itu atau memang harus ada pengawasan dari orang tua? Tetapi anak-anak yang ada di guild bisa membeli tiket kereta tanpa pengawasan.

Kalau begini caranya, aku meminta paman Capricorn untuk menemaniku. Lucy mengerucutkan bibirnya sembari mencibir.

"Memangnya kenapa kalau aku sendiri? Aku sedang menuju rumah."

Dia tidak berbohong, Fairy Tail akan menjadi rumah baru untuknya. Tetapi perempuan penjaga tiket hanya mendesah lelah melihat gadis kecil yang keras kepala.

"Tetap saja tidak bisa, nak."

"Kenapa anak kecil dibawah naungan guild bisa mendapatkan tiketnya sedangkan aku tidak bisa?" protes Lucy, nadanya mengandung amarah.

"Karena guild memiliki surat untuk mengizinkan anak dibawah umur bepergian untuk misi, sedangkan kau tidak memiliki surat itu."

"Ayolah!" Lucy berteriak frustasi melihat wanita dewasa yang tetap menolaknya.

"Menyingkirlah nak, antrian sudah panjang disana."

"Maka dari itu, tolong berikan tiket menuju Magnolia. Aku mohon, karena aku ingin kesana."

Ketika ia hendak mengeluarkan air matanya, suara bariton rendah terdengar.

"Dia bersamaku, tolong tiket menuju magnolia dua orang."

Lucy menoleh ke belakang untuk melihat penolongnya. Ternyata kakek tua bertubuh kecil menolongnya untuk membelikan tiket dan mengatasi masalah yang ada.

Penjual tiket hanya menghela nafas kemudian menuruti permintaannya dan memberikannya kepada kakek tua.

Kakek tua itu menarik tangan kecil Lucy agar tidak menghalangi antrian yang panjang. Lucy menurutinya sampai ke mereka duduk di kursi yang ada di stasiun.

"Anu.. Terima kasih banyak kakek sudah membelikan tiket ini. Aku akan mengganti uangmu sekarang."

Lucy mengeluarkan dompetnya dari tas kecil. Tetapi kakek tua tersebut menolak uangnya.

"Kamu masih muda, nak. Memangnya kamu mau kemana?"

"Aku sedang menuju ke Fairy Tail." Kakek tua tersebut menaikkan alisnya mendengar tujuan Lucy.

"Memangnya kamu tahu dimana Fairy tail?" Pipi Lucy memerah dan jari telunjuknya bersatu sembari mengerucutkan bibirnya.

"Ugh.. Sejujurnya aku tidak tahu lokasi fairy tail. Aku hanya melihat majalah penyihir setiap minggu yang membahas setiap guild sehingga aku memutuskan untuk masuk ke Fairy Tail."

"Apa alasanmu masuk kesana, nak? Aku melihatmu sebagai orang dari kalangan atas."

"Aku benci dengan kekayaan, karena uang membuat ayahku sibuk dan berbeda. Selain itu aku kabur dari rumah karena mendengar hal tidak menyenangkan yang aku dengar sehingga membuatku ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku seperti apa jika tetap di rumah. Lalu alasan aku memutuskan untuk ke Fairy Tail karena aku melihat banyak sekali anak yang seumuran denganku di majalah sihir, wajah mereka tampak ramah sehingga aku ingin masuk kesana."

"Kalau kamu tidak keberatan, apa yang didengar olehmu?"

"Aku akan dijual kepada orang yang lebih tua dan kaya untuk dinikahkan denganku setelah usiaku beranjak dewasa. Aku tidak sengaja mendengar saat asisten ayahku memberikan saran untuk mendapatkan bantuan dari bangsawan dengan syarat seperti itu dan ayahku hanya terdiam, seolah-olah memikirkan syarat tersebut." Entah kenapa di hadapan kakek tua yang menolongnya membuat ia tidak gugup dan mengeluarkan cerita yang ia alami tanpa ada kebohongan. Kakek tua tersebut menganggukkan kepalanya seolah-olah mengerti alasan Lucy kabur.

"Apakah kamu mau ikut denganku? Aku akan membawamu ke Fairy Tail."

"Benarkah?" Kakek tua tertegun melihat binar mata dengan kerlap-kerlip dan kepolosan tanpa tahu dunia luar yang kejam. Kakek tersenyum lembut memandang wajah Lucy, ia jadi teringat dengan cucu Laki-lakinya yang menjadi pendiam dan kerasa kepala ketika ayahnya diusir.

"Tentu saja, nak. Pegang ucapanku, karena aku tidak akan melanggar janji."

"Seperti janji penyihir surgawi?"

Walaupun tidak tahu janji apa yang dimaksud oleh Lucy, ia hanya mengangguk kepalanya. Lucy memekik kegirangan dan menghentakan kakinya yang mungil. Terlalu bersemangat membuat ia lupa jika ada orang di sekitarnya.

"Astaga aku tidak menyangka hal seberuntung ini. Terima kasih kakek yang baik hati, aku tidak akan melupakanmu yang sudah menolongku."

"Ucapan itu nanti saja nak, ayo kita naik kereta."

Lucy mengangguk kepalanya dengan semangat. Ia mengikuti dari belakang dan duduk di samping jendela. Waktu perjalanan akan memakan waktu jadinya dia memanggil virgo untuk meminta bekal.

Ia memejamkan mata dan mengirimkan telepati kepada Virgo untuk menyiapkan bekal. Setelah itu, Lucy mengambil kunci di dimensi saku dan memanggil Virgo dengan suara kecil.

"Aku sudah menyiapkan bekal sesuai keinginanmu. Kotak besar berwarna biru milik laki-laki tua, dan kotak pink milikmu."

Kakek tua itu menaikan alisnya melihat roh surgawi, ia juga terkejut melihat Lucy menggunakan sihir requip. Setelah mendapatkan bekalnya, Lucy mengucapkan terima kasih sembari mencium pipi Virgo. Virgo mengangguk kepalanya lalu menghilang. Hal ini membuat ia tertarik dengan hubungan Lucy dan rohnya.

"Jadi, kamu adalah penyihir roh surgawi?" Sebelum menjawab pertanyaan darinya, Lucy memberikan kotak biru dan diterima dengan senyum kecil.

"Bener kakek. Yang tadi itu Virgo, dia temanku yang berharga. Ngomong-ngomong kakek belum memberi tahu namamu? Aku lupa menanyakan hal itu."

"Namaku Makarov Dreyar, nak." Lucy melotot mendengarnya, tidak ia sangka kakek yang menolongnya adalah master dari guild yang ingin dikunjungi.

"Jangan bilang kamu adalah master dari Fairy tail?" Ia melihat Makarov menyeringai usil, menyebabkan ia menggembungkan pipinya.

"Maafkan aku jika kurang sopan kepadamu." Lucy membungkuk minta maaf tetapi Makarov hanya menepuk kepalanya.

"Kamu tidak perlu sopan, anakku. Tingkahmu tidak ada apa-apanya dengan anak-anak di guild."

Lucy memirinngkan kepalanya, bertanya-tanya maksud dari Makarov. Sepertinya anggota serikat yang lebih muda mempunyai sifat nakal sehingga membuat wajah kakek terlihat lelah untuk mengurus mereka. Lalu ia tersadar, tidak ada wajah sang master di halaman yang terdapat foto perkumpulan serikat di majalah mingguan. Sehingga ia tidak tahu seperti apa rupanya walaupun terdapat nama master di majalah tersebut.

"Kakek saat berfoto untuk edisi mingguan di bulan Mei, kenapa wajahmu tidak ada?"

"Aku sedang melakukan rapat dewan bulanan sehingga aku tidak ikut foto."

"Heeee.. Pantas saja aku tidak melihatmu."

Percakapan berhenti dan keheningan datang. Dia melihat Makarov sedang makan dengan tenang sedangkan makanannya sudah habis. Setelah selesai makan, Virgo membuka gerbangnya sendiri dan mengambil kotak bekalnya. Lucy menggumam terima kasih yang dibales senyuman kecil Virgo.

Perjalanan kereta memakan waktu hampir 2 jam sehingga ia tertidur karena tidak ada percakapan lagi. Ia merasa ada seseorang disampingnya tetapi karena lelah, ia tidak memperdulikan kehadiran tersebut.


continue...


Review please! Semoga kalian menyukainya!!

chapter next merupakan pertemuan Lucy dan teman-teman!