AD·DIC·TION

əˈdikSH(ə)n/

(noun)

the fact or condition of being addicted to a particular substance, thing, or activity.

.

warning : this chapter is just another ball of fluffiness with (a lot of) sexual tension. Be prepare for some dirty talk.

And i am not sorry for causing jealousy effect.

Because damn you Kim Jongin, you're just too hot to handle.

.


Kyungsoo sampai di depan sebuah rumah dengan pagar yang sedikit berkarat. Ia memperhatikan nomor rumah itu kembali dan memastikan ia tidak salah alamat. Setelah menekan bel beberapa kali, seorang lelaki keluar dari dalam pintu rumah itu dengan mata yang masih setengah terpejam. Rambutnya berantakan dan dia hanya mengenakan celana tidur serta kaus tanpa lengan.

"Kyungsoo?"

Kyungsoo tersenyum menatap Jongin yang mencoba membuka kunci pagar itu.

"Aku kira kamu menyebutkan makan siang kemarin. Bukankah ini baru jam delapan?"

"I'm sorry, aku benar-benar tidak ada pekerjaan di rumah Jadi aku memutuskan kesini lebih pagi. Apa aku mengganggu tidurmu?"

Jongin membuka pagar itu lalu mempersilakan Kyungsoo masuk.

"Tidak. Hanya saja…" Jongin buru-buru mendahului Kyungsoo saat ia sudah sampai di pintu depan, "kamu tidak akan menyukai apa yang kamu lihat setelah ini."

Dahi Kyungsoo berkerut, ia memperhatikan Jongin yang berubah panik.

"Berjanjilah kamu akan tetap mau bertemu denganku setelah melihatnya." Jongin mengatakan kalimat itu dengan nada serius.

Kyungsoo tertawa, "apakah ini sesuatu yang sangat buruk?"

"JustPromise me."

"Oke, oke. Aku berjanji."

Jongin mendesah panjang sebelum membuka pintu depan rumahnya.

Kyungsoo tercengang dengan apa yang ada di hadapannya. Ia melihat berkaleng-kaleng bir kosong, puntung rokok, dan pakaian kotor berserakan di lantai. Meja dan kursi tidak tertata dalam direksi yang rapi. Ada noda minuman tumpah tepat di bawah kakinya. Dan yang paling Kyungsoo tidak mengerti adalah, setiap vas di dalam rumah itu sebagian badannya pecah.

"Apa seseorang merampokmu?" tanya Kyungsoo cemas.

Jongin mengedipkan matanya beberapa kali. Ia memandang Kyungsoo dengan tatapan geli.

"Apa itu yang kamu pikirkan? Well, kalau begitu ya. Ya, seseorang telah merampok rumahku."

Tapi Kyungsoo dapat melihat Jongin yang menahan tawanya mati-matian.

"Don't mess with me, Kim Jongin." ancam Kyungsoo.

Jongin berkacak pinggang, ia menjilat bibirnya sendiri beberapa kali.

"Oh, baiklah. Aku berniat membersihkannya pagi ini sebelum kamu datang. Aku minta maaf."

Ia tidak berani menatap Kyungsoo saat ini. Jongin merasa malu karena lagi-lagi ia memberikan kesan buruk kepada Kyungsoo. Tiba-tiba, seekor anak anjing berlari ke arah mereka. Jongin melirik Kyungsoo yang segera berlutut dan tersenyum saat anak anjing itu melompat ke pelukannya.

"Hey, dia masih mengingatku." Kata Kyungsoo riang. Ia mencium kepala Monggu berkali-kali.

Jongin menatap Kyungsoo penuh harap.

"Apakah ini berarti kita melupakan mas-"

"No! Sudah berapa lama kamu tidak membersihkan rumah ini, Jongin?"

Jongin menarik nafas dalam, "sebulan mungkin. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Lagipula, terkadang aku harus menjenguk ayahku."

Ada jeda sejenak sebelum Kyungsoo memberanikan diri untuk bertanya.

"Ayahmu?"

Jongin mengangguk.

"Oh, apa beliau sakit?"

"Bisakah kita membicarakan ini di dalam?"

Tanpa mengucapkan apapun, Kyungsoo masuk ke dalam rumah itu.


Jongin bercerita mengenai penyakit ayahnya sambil sesekali menguap. Kyungsoo tidak mengerti apa yang membuat Jongin terjaga sepanjang malam sampai ia terlihat sangat mengantuk. Walaupun Kyungsoo bersyukur, dari sekian banyak misteri kehidupan Jongin akhirnya ia bisa mengetahui salah satunya.

Jongin menyandarkan kepalanya di bahu Kyungsoo sambil terpejam.

"Hey, kamu terlihat lelah. Istirahatlah sebentar."

Jongin mengerucutkan bibirnya dan menggeleng cepat.

"Lalu meninggalkanmu sendirian saat kamu sudah repot-repot kesini? No, Soo."

Kyungsoo beranjak dari sofa lalu memperhatikan ke sekeliling. Rumah itu memiliki satu dapur, ruang tengah, dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Ada beberapa foto Jongin kecil yang tergantung di atas sofa ruang tengah itu.

"Dimana ruang tidurmu?" tanya Kyungsoo saat melihat Jongin yang berusaha menahan kantuknya.

Jongin hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Kyungsoo langsung menangkap apa yang ada di pikiran Jongin saat ini. Ia memukul perut Jongin keras.

"Singkirkan pikiran kotormu, pervert! Kamu butuh tidur. Jika kamu tidak menurutiku, aku akan pulang sekarang."

Mendengar itu, Jongin langsung meraih tangan Kyungsoo lalu menggandeng Kyungsoo menuju ruang tidurnya.

Ruang tidur Jongin tidak kalah berantakan. Kyungsoo melihat lemari baju Jongin terbuka dengan pakaian yang terlipat asal-asalan. Ada abu rokok yang berceceran di meja samping tempat tidur Jongin. Dinding kamar itu penuh dengan poster squad Chelsea dan Fernando Torres. Ia melihat Jongin yang sudah merebahkan badannya ke tempat tidur dengan mata terpejam. Kyungsoo segera menarik selimut ke atas tubuh Jongin.

"Satu jam. Bangunkan aku setelah satu jam." gumam Jongin sambil merapatkan selimut ke dadanya.

Kyungsoo mengangguk. Ia membelai kepala Jongin sampai lelaki itu tertidur. Saat melihat Jongin yang sudah pulas, ia berjalan keluar kamar. Kyungsoo mendesah panjang dengan apa yang dilihatnya.

"Ini akan membutuhkan waktu yang sangat, sangat lama." pikirnya dalam hati.

Kyungsoo melipat lengan kemejanya lalu memutuskan untuk memulai dari pakaian kotor Jongin.


Jongin bangun empat jam kemudian. Ia tercengang melihat seluruh bagian rumahnya berubah bersih dan rapi. Setelah mandi, Jongin segera mencari Kyungsoo. Ia menemukan lelaki itu sedang bermain bersama Monggu di halaman rumahnya.

"Kenapa kamu tidak membangunkanku?"

Jongin merasa bersalah telah meninggalkan Kyungsoo dan membiarkannya membersihkan seluruh isi rumah.

"Will you drop it? Kamu butuh istirahat, Jongin. Lagipula Monggu menemaniku sedari tadi."

Jongin duduk di salah satu kursi teras lalu menyulut rokoknya. Kyungsoo melemparkan tatapan tidak suka saat melihat itu.

"Benda itu akan membunuhmu. Kamu tahu itu."

Jongin hanya mengangkat alisnya tanpa menjawab.

"Apa kalian membicarakan aku?" tanya Jongin.

Kyungsoo menggendong Monggu lalu duduk di sebelahnya.

"Oh, tentu. Monggu bilang ia punya majikan paling malas di seluruh dunia ini." ujar Kyungsoo dengan nada yang dibuat-buat.

Jongin tertawa sambil mengelus-elus kepala Monggu.

"Apa Monggu tidak bilang kalau majikannya sekarang sedang lapar?"

Kyungsoo memutar bola matanya.

"Aku akan membuatkan omelet karena hanya telur dan sayur yang ada di refrigator-mu. Setelah itu, kita berbelanja. Aku sudah berjanji membuatkan masakan layak makan untukmu."

Jongin bersorak riang. Ia melompat bangkit dari kursinya lalu membungkuk di depan Kyungsoo.

Dengan gerakan cepat, ia mencium kedua pipi Kyungsoo, "itu sebagai ucapan maaf karena aku meninggalkanmu. Dan ini-" Jongin memagut bibir atas Kyungsoo dengan lembut, "sebagai ucapan terimakasih."

Mata Kyungsoo membesar, ia melihat Jongin yang berlalu sambil menahan senyumnya.

"Yah Kim Jongin! Y-You... Brat!"

Tawa Jongin menggema dari dalam rumah.


Mereka pulang dengan tiga kantong plastik besar dan dalam keadaan basah kuyup. Saat di tengah perjalanan hujan tiba-tiba mengguyur deras. Mereka terpaksa berlari karena tidak ada tempat berteduh.

Jongin menaruh kantong belanjaannya lalu segera mengambil handuk. Kyungsoo tertawa saat Jongin mengalungkan handuk itu ke lehernya.

"Aku sudah lama tidak bermain hujan." jawab Kyungsoo saat Jongin menanyakan penyebabnya.

Jongin tergelak, ia heran kenapa Kyungsoo mudah sekali bahagia dengan hal sederhana. Jongin memutuskan untuk mengeringkan rambut Kyungsoo saat ia melihat lelaki itu tidak berniat menghentikan tawanya. Kyungsoo menceritakan pertama kali ia bermain hujan.

Namun, Jongin sudah tidak mendengarkan.

Ia melihat bibir merah Kyungsoo yang terus bergerak dan menampilkan bentuk hati di sela-selanya. Pikirannya melayang jauh dimana bibir itu tidak sedang bicara namun melingkar di benda dalam celananya.

Jongin berdehem mencoba menghapuskan pikirannya sendiri.

Akan tetapi saat Kyungsoo menyentuh pinggangnya, para pekerja otaknya menarik bayangan itu masuk kembali.

Jongin segera menarik diri jauh-jauh, mengalihkan apa yang ada di dalam kepalanya.

"Umm Soo, kamu tidak keberatan memakai bajuku dulu?" tanya Jongin sambil membuka kausnya dan berjalan ke kamar.

Tawa Kyungsoo terhenti. Tanpa sadar, ia menjatuhkan belanjaan yang sedari tadi masih ia genggam.

Menyadari suasana yang berubah hening, Jongin yang baru sampai di pintu kamar langsung memandang Kyungsoo.

"Kamu baik-baik saja?"

Kyungsoo menelan ludahnya dengan susah payah saat Jongin berjalan mendekatinya. Ia melihat dada bidang Jongin yang basah, lengannya yang kekar dan abs-nya yang terbentuk sempurna. Setiap Jongin berjalan selangkah, Kyungsoo mengambil langkah mundur.

"Hey ada apa?"

Kyungsoo mencengkram bagian depan kemejanya sendiri dengan kuat. Tiba-tiba, ia merasa malu dengan tubuhnya.

"Soo?" Jongin akhirnya menghentikan langkahnya. Ia menatap Kyungsoo bingung.

Kyungsoo menggigit bibirnya beberapa kali sebelum berani menatap Jongin.

"Just... i don't know that your body," Kyungsoo menarik nafas panjang dan menurunkan volume suaranya sampai menjadi sebuah cicitan, "is so tempting."

Jongin mematung. Ada kilatan yang berbeda di matanya saat mendengar Kyungsoo mengatakan itu.

"Jangan. Katakan. Itu. Lagi." pandangan Jongin berubah tajam.

"Tapi itu benar, Jongin. Kamu... menarik."

Kyungsoo mengutuk dirinya dan berharap ada banjir besar menghanyutkannya sekarang juga.

Tentara pertahanan di kota Jongin langsung ambruk hanya dengan kalimat itu. Dengan setengah berlari, ia segera mengangkat tubuh Kyungsoo ke pelukannya. Kyungsoo melingkarkan kakinya ke batang tubuh Jongin. Tangannya berpegang erat ke leher belakang lelaki itu. Ia sedikit berjengit saat punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Pandangan mereka bertemu. Kyungsoo dapat melihat nafsu yang menggebu dari mata Jongin saat ini.

"Kamu tidak tahu apa yang kamu ucapkan, Soo."

Jongin mencium bibir Kyungsoo, memagutnya lembut sebelum akhirnya ciuman itu berubah menjadi tidak beraturan. Lidah mereka saling beradu, mengecap rasa manis satu sama lain. Tidak seperti kemarin, Jongin tidak bisa berhenti kali ini. Semua perlawanan terhadap gairahnya lepas begitu saja.

"Stop me. Please... please stop me." Jongin memohon di sela-sela ciuman mereka.

Namun, Kyungsoo justru beralih ke leher Jongin dan menghisapnya pelan. Jongin mengerang. Ia kembali menangkap bibir Kyungsoo dan melumatnya. Dengan posisi yang sama, ia segera membawa Kyungsoo ke ruang tidurnya.

Jongin duduk di pinggir tempat tidur dengan Kyungsoo di pangkuannya. Bibirnya kini berkelana ke leher Kyungsoo, meninggalkan banyak jejak kemerahan di kulit putihnya. Kyungsoo mendesah membisikkan namanya dan kewarasan Jongin jatuh di titik terendah. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Kyungsoo satu per satu. Saat Jongin berhasil melepaskan kemeja itu, ia segera merebahkan Kyungsoo di tempat tidur. Dengan gerakan cepat, Jongin membuka celana jeans Kyungsoo hingga ia benar-benar telanjang.

Jongin terpaku melihatnya.

Semua yang ada di imajinya, tidak sebanding dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Rambut berantakan Kyungsoo yang masih basah, bibir merahnya yang bengkak karena ciuman, rona di pipinya yang belum hilang sejak tadi dan Kyungsoo menutupi beberapa bagian tubuhnya karena malu.

Celana Jongin mendadak terlalu sempit.

"Aku tidak punya postur yang menarik sepertimu." ujar Kyungsoo dengan suara parau.

Jongin tersenyum. Ia menarik pergelangan tangan Kyungsoo perlahan, lalu menahannya di atas kepala Kyungsoo.

"You-" ia mencium leher Kyungsoo, "have no idea-" lalu menghisapnya kuat, "how adorable-" bibirnya turun ke dada, "you are like this." dan menjilat puting Kyungsoo dengan ujung lidahnya.

Kyungsoo melenguh, ia merasakan sesuatu membasahi celananya.

Lidah Jongin berkelana menggali rasa di tiap inchi tubuh Kyungsoo. Ia menemukan candu yang lebih memabukkan dari semua batang rokoknya selama ini. Kyungsoo menggigit bibirnya kuat-kuat saat Jongin sampai di bawah perutnya. Ia merasa oksigen di ruangan itu hilang ketika Jongin menjilati pre-cum yang keluar dari miliknya.

Jongin mengulumnya lembut. Lalu dengan gerakan pelan, ia merasakan semua miliknya ada di dalam mulut Jongin.

"J-Jongin, oh..."

Ia mencengkram rambut Jongin ketika lelaki itu mulai menghisap miliknya. Lidah Jongin tidak juga berhenti bermain. Kyungsoo kembali berteriak saat Jongin menggigit kecil ujung kepala miliknya. Ia bisa merasakan seringai Jongin dari bawah sana. Jongin mulai mengulum milik Kyungsoo keluar masuk mulutnya. Kyungsoo terpejam merasakan kenikmatan yang menguasainya saat ini. Lalu tiap desahan 'ah, ah, ah' dari bibir Kyungsoo mulai seirama dengan gerakan Jongin. Tidak lama kemudian, Kyungsoo merasakan sesuatu mendesak keluar dari dalam dirinya.

"Ah, Jongin..."

Jongin tahu Kyungsoo sudah dekat, ia makin mempercepat gerakannya. Punggung Kyungsoo melengkung sebelum akhirnya Jongin merasakan cairan Kyungsoo memenuhi mulutnya. Ia menghisap semua cairan itu tanpa tersisa, mengabaikan Kyungsoo yang membelalak saat melihatnya. Jongin menyeringai. Ia memanjat tubuh Kyungsoo lalu mencium keningnya. Kyungsoo kembali terpejam menikmati sisa dari ejakulasi terakhirnya.

"Kamu ingin melanjutkan ini?" tanya Jongin setelah melihat peluh yang membasahi dahi Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk, ia membuka matanya lalu mencium bibir Jongin.

Jongin meraih botol lube yang masih setengah terisi di salah satu laci mejanya. Ia mengoleskan lube itu ke jarinya sendiri.

"Apa kamu pernah melakukannya?"

Kyungsoo menggeleng sambil mengatur nafasnya. Jongin berhenti sesaat, ia memandang Kyungsoo dengan tatapan bimbang.

"Kamu yakin ingin melakukan ini denganku?"

Kyungsoo tidak menjawab, ia hanya meraih kancing celana Jongin lalu membukanya dalam sekali sentakan. Kyungsoo kembali menelan ludahnya saat melihat milik Jongin ada di hadapannya. Sebelum Kyungsoo sempat melakukan apapun, Jongin kembali menindihnya. Kyungsoo mendesah saat miliknya bersentuhan dengan milik Jongin.

"Jawab aku, Do Kyungsoo. Beritahu aku kalau kamu memang ingin melakukan ini denganku." Jongin menahan lengan Kyungsoo dengan tangannya, memastikan pandangan lelaki itu tidak beralih ke manapun.

"I want this. I want you, Jongin."

"Oh, damn it."

Jongin menciumi leher Kyungsoo saat ia mulai memasukkan salah satu jarinya. Kyungsoo merasakan sesuatu terbakar di dalam sana, ia mencakar punggung Jongin. Tangan Jongin yang bebas membelai rambut Kyungsoo, mengusap keringat yang memenuhi pelipisnya.

"Relax, prince. Katakan jika kamu mau berhenti." Jongin menghujani Kyungsoo dengan ciuman sambil terus menggerakkan jarinya keluar masuk.

Saat Kyungsoo mulai melemaskan persendiannya, Jongin memasukkan satu jari lagi. Setiap desahan dari bibir Kyungsoo membuat Jongin bergetar. Ia ingin segera menghujamkan miliknya, lalu menyetubuhi Kyungsoo dengan cepat dan keras. Namun Jongin menahannya. Ia ingin Kyungsoo menikmati pengalaman pertamanya.

Saat jari ketiga Jongin sudah keluar masuk, nafas Kyungsoo mulai teratur. Jongin segera memposisikan dirinya di antara kedua paha Kyungsoo. Ia mengoleskan lube ke miliknya sendiri. Lelaki di bawahnya mencengkram lengannya kuat saat Jongin mulai memasukkan miliknya perlahan. Jongin mendesah menikmati kehangatan yang sedikit demi sedikit menyelimuti bagian bawahnya.

Ia menggigit leher Kyungsoo saat semua miliknya telah masuk. Jongin merasakan dinding Kyungsoo menjepitnya kuat. Kyungsoo menahan sakit yang ia rasakan, kukunya mencakar-cakar sisi tempat tidur. Jongin mengecup kening Kyungsoo, mencoba menenangkan lelaki itu.

"Tell me when you're ready. Jangan terburu-buru. Aku bisa menunggu."

Kyungsoo yang masih terpejam mengangguk sambil mengatur nafasnya. Dirinya terasa penuh terisi oleh Jongin. Saat ia membuka mata, ia melihat lelaki di atasnya tidak kalah kacau dengannya. Rambut blond-nya berantakan, matanya setengah terpejam, dan peluh membasahi kulit tan nya. Seluruh tubuh Kyungsoo panas karena Jongin terlihat lebih menggoda saat ini. Ia merasakan miliknya kembali tegak.

Jongin terkejut saat mengetahuinya.

"You are a bad, bad boy, Soo." ujar Jongin setengah tertawa.

"Move, Jongin. Oh, please move." perintah Kyungsoo saat merasa dirinya mulai beradaptasi.

Jongin menegakkan punggungnya. Ia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Jongin tidak bisa lagi menahan desahannya, Kyungsoo benar-benar menjepit miliknya kuat.

"Oh, God."

Jongin menggigit bibirnya, matanya terpejam menikmati tiap tusukannya sendiri. Kyungsoo memegang headboard tempat tidur Jongin kuat. Setiap gerakan Jongin membuatnya melayang. Desahan mereka beradu dalam ruangan itu. Saat Jongin mempercepat gerakannya, Kyungsoo meneriakkan namanya berkali-kali seperti mantra. Jongin merasakan getaran di tulang punggungnya ketika mengetahui rasa namanya di lidah Kyungsoo.

Ia mengangkat kedua kaki Kyungsoo ke bahunya, lalu menghujamkan miliknya dengan berbagai sudut.

"Ah, Jongin!"

Kyungsoo merasakan pandangannya hampir kabur saat Jongin menusuk satu titik dalam dirinya.

"What the hell was that?" tanyanya dalam hati.

Namun, ia melihat Jongin yang menyeringai dan terus menyerang satu titik itu tanpa ampun. Kyungsoo mulai meracau merasakan tubuhnya tidak henti diberi kenikmatan.

"Don't hold back. Oh, please fuck me all you want."

Jongin tidak menahan dirinya kali ini, ia mempercepat tempo gerakannya yang membuat dirinya sendiri larut dalam kenikmatan. Ia mendesahkan nama Kyungsoo di tiap tusukannya. Jongin meraih milik Kyungsoo dan mulai memompanya cepat saat lelaki itu hampir terisak.

Kyungsoo mencengkram lengan Jongin kuat. Nama Jongin menggema memenuhi ruangan itu saat Kyungsoo klimaks untuk yang kedua kalinya.

Jongin menjilat sisa cairan Kyungsoo yang ada di jarinya. Ia kembali mendesah saat mengecap rasa Kyungsoo yang menggelitik lidahnya.

"Oh, Soo. Semua yang ada di dirimu membuatku gila."

Gerakan Jongin berubah liar dan kasar. Suara serak Kyungsoo masih melafalkan namanya membuat Jongin merasakan gejolak di bawah perutnya. Ia menggigit bibir bawah Kyungsoo saat merasakan suatu ledakan menghentikan semua kerja otaknya. Jongin mencapai puncaknya di dalam Kyungsoo.

Ia memeluk Kyungsoo erat sebelum akhirnya mencabut miliknya lalu berguling di samping Kyungsoo. Mereka berdua terengah-engah merasakan tiap persendian yang masih berdenyut.

Kyungsoo mencium sudut bibir lelaki itu sambil tersenyum.

Jongin menyatukan kening mereka, merasakan tiap nafas, menikmati setiap detik yang berlalu.

"Hungry?" cetus Kyungsoo yang merasakan seluruh energi di dalam tubuhnya terkuras.

"Starving." Sambil tersenyum, Jongin meraih tangan Kyungsoo lalu membantunya berdiri.


Jongin melihat Kyungsoo yang masih tertidur saat ia kembali dari Machine. Ia sudah meninggalkan pesan untuk lelaki itu. Namun, sepertinya Kyungsoo belum terbangun sedari tadi. Sekujur tubuhnya terasa lelah hari ini. Mulai dari kurang tidur, kehujanan, sampai karena 'permainan'-nya dengan Kyungsoo sore tadi-dan setelahnya, saat mereka sedang mandi.

Jongin melepas bajunya, lalu dengan malas menaruhnya ke keranjang cucian. Ia ingat Kyungsoo yang memarahinya hanya karena hal kecil itu. Atau saat Jongin tidak segera membawa piring kotor ke tempat cuci piring. Atau karena ia tidak membuang puntung rokoknya di asbak.

Atau mungkin semua kebiasaan buruk Jongin.

Kyungsoo hampir selalu ada alasan untuk memarahinya.

Tapi tidak masalah. Selama itu Kyungsoo, ia tidak masalah.

Jongin berbalik dan melihat Kyungsoo yang terbangun sambil menggosok matanya. Ia segera tersenyum lalu naik ke atas tempat tidur. Jongin memeluk Kyungsoo dari belakang dan membenamkan kepalanya ke leher Kyungsoo.

"Apa kamu keluar tadi?" tanya Kyungsoo dengan suara yang masih parau.

"Ya. Aku ada urusan sebentar." Jongin mengeratkan pelukannya, lalu berbisik "kamu ingin tidur lagi?"

Kyungsoo menoleh memandang Jongin.

"Apa kamu akan pergi lagi?"

Jongin mengcecup pipi Kyungsoo beberapa kali.

"Tidak. Aku akan memelukmu sampai pagi."

Bibir Kyungsoo langsung tersungging mendengarnya.

"Sounds great."

Jongin melepaskan pelukannya lalu menarik Kyungsoo untuk berbaring di sebelahnya. Kyungsoo meletakkan kepalanya di lengan Jongin. Ia memainkan jarinya di atas dada telanjang lelaki itu.

"Ceritakan aku dongeng tidur." pinta Kyungsoo.

Jongin tergelak. Ia mengusap rambut Kyungsoo lalu mendekatkan pipinya ke kepala Kyungsoo.

"Baiklah. Umm... oh, dahulu kala, ada kurcaci kecil yang suka menari."

"Siapa nama kurcaci itu?" potong Kyungsoo.

Jongin mengedarkan pandangannya. Ia melihat botol rum kosong bertuliskan 'Kilo Kai'.

"Kai. Namanya Kai."

"Apakah dia tampan?"

"Ya. Dia sangat tampan. Dia adalah yang paling tampan di antara semua kurcaci."

"Kurasa dia juga menyebalkan." ucap Kyungsoo sambil tertawa.

Kyungsoo merasa sosok kurcaci kecil ini hanya perumpamaan untuk Jongin.

"Oh, tidak. Dia tampan, baik hati dan suka berbagi."

"Aku tidak percaya."

Jongin memandang Kyungsoo dengan wajah terganggu.

"Hey, bukankah aku yang sedang bercerita di sini?"

Kyungsoo tergelak. Ia mengusap dada Jongin dan membiarkan lelaki itu kembali bercerita.

"Oke... Um, jadi dahulu kala ada kurcaci kecil bernama Kai yang suka menari. Ia suka menari di mana saja dan kapan saja. Saat hujan datang, saat terik matahari musim panas membakar, saat salju sedang turun, saat ia sedih maupun saat ia sedang bahagia. Ia merasa menari adalah bagian dari hidupnya."

Jongin menarik selimut sejenak untuk menutupi tubuh mereka berdua. Kyungsoo masih terjaga menanti Jongin untuk melanjutkan.

"Suatu hari... di musim kemarau yang kering, ibunya meninggal. Kehidupan Kai berubah berantakan setelah itu. Ia tidak lagi berkebun atau bertambang bersama para kurcaci lain. Bahkan, ia jarang pulang ke rumah. Terkadang saat ia kembali, wajahnya penuh luka. Kai bahkan sering memaksa tubuhnya untuk menari sampai cedera. Ayahnya mengetahui itu, maka ia mulai menemani Kai lebih sering. Kai sedikit melupakan kesedihannya."

Jongin menghela nafas sejenak. Kyungsoo bisa melihat mata Jongin yang memerah. Ia memeluk Jongin lebih erat, mencoba mengusir apapun yang membuat lelaki itu merasa sedih.

"Tapi, semesta sepertinya berencana lain. Kai menemukan ayahnya tertusuk duri tanaman beracun saat ia sedang di kebun. Ayahnya jatuh sakit. Kai terus menangis saat mengetahuinya. Sejak itu, ia berhenti menari. Walaupun sahabat Kai, Hoonie selalu mengajaknya ikut menari untuk menyambut hujan atau musim semi. Tapi, Kai mulai benci dengan semua yang ada di dunia."

Jongin menggosok ujung matanya yang mulai berair. Saat Kyungsoo melihat itu, ia merasakan matanya ikut panas.

"Kai mulai sering berburu binatang-binatang buas. Itu hanya salah satu alasan Kai agar binatang itu bisa menghajarnya. Ia ingin melupakan rasa sakit yang terus mengganggu hatinya. Kai lebih memilih rasa sakit itu dialihkan ke raganya."

Jongin memainkan ujung rambut Kyungsoo dengan jarinya.

"Tapi kamu tahu apa yang lucu? Semesta suka sekali mempermainkannya."

Jongin tersenyum dengan senyum paling menyedihkan yang pernah Kyungsoo lihat.

"Ia bertemu dengan peri hutan yang tinggal di bunga Chrysant. Peri itu begitu cantik, baik, dan punya hati yang lembut. Tanpa peri itu sadari, ia meringankan beban Kai saat ia berada di titik terendahnya." Jongin menggigit bibirnya, "tapi... walaupun peri itu selalu ada di sampingnya sekarang, Kai menunggu kapan semesta akan menjatuhkannya lagi."

Jongin menunduk lalu membuang nafas panjang. Ada hening sejenak menyelimuti ruangan itu. Kyungsoo mendongak melihat Jongin yang menerawang dengan tatapan kosong. Hal itu membuat hati Kyungsoo berdenyut sakit. Ia ingin bisa menawarkan apapun rasa sakit di dalam diri Jongin.

Kyungsoo telah jatuh ke lelaki itu lebih parah daripada yang ia tahu.

"Kurasa peri itu tidak akan meninggalkannya." ucap Kyungsoo dengan suara yang bergetar.

Ia meraih tangan Jongin, lalu mencium punggung tangannya berkali-kali.

"Kai juga berharap begitu."

Jongin mengenggam erat tangan Kyungsoo sambil merapalkan mantra agar suatu sihir membuat keinginannya menjadi nyata.

"Hey, Jongin."

"Hmm?"

"Apa peri itu membuat Kai bahagia?"

Jongin melihat lelaki di depannya, menyelami matanya seperti sebuah samudera. Lalu menemukan dirinya tenggelam lebih dalam lagi.

"Ya... dia membuatnya bahagia." Jongin tersenyum, "sangat bahagia."

Jongin membenamkan kepalanya di dada Kyungsoo, ia tidur begitu nyenyak dini hari itu.


Kyungsoo memutuskan untuk memandikan Monggu saat ia bangun terlalu pagi. Ia mengecup kening Jongin pelan lalu berjinjit keluar dari kamar itu.

Monggu benar-benar membenci air. Dia berkali-kali mencoba lari saat Kyungsoo membasuh tubuhnya.

"Kamu tidak boleh malas seperti majikanmu." kata Kyungsoo sambil menggosok Monggu dengan shampoo.

Ia mulai menyikat bulu-bulu Monggu dan anjing itu menggeram ke arahnya. Kyungsoo tertawa lalu menyikatnya lebih kerasa lagi.

"Aku minta maaf. Tapi ini demi kebaikanmu sendiri, Monggu."

Kyungsoo baru menemukan hari cutinya ternyata bisa semenyenangkan ini. Biasanya ia hanya akan tinggal di apartemen, membersihkan ulang setiap bagian yang memang sudah bersih. Walaupun pagi ini, ia menemukan rasa janggal saat bangun di tempat tidur yang bukan miliknya.

Kyungsoo tidak pernah menginap di manapun.

Seluruh distrik di kepalanya tahu betul itu. Tidak saat Baekhyun membujuknya, tidak juga saat Luhan berjanji akan membuat malam menginapnya menyenangkan, tidak juga saat terakhir ia berkunjung ke rumah Tao.

Semua yang menyangkut Jongin terasa baru baginya, namun Kyungsoo menikmati itu. Sedikit demi sedikit Kyungsoo mulai tahu rahasia Jongin. Dan ia menunggu untuk tahu lebih banyak lagi.

"There you go."

Kyungsoo segera mengambil handuk dan hair dryer untuk mengeringkan Monggu.

Setelah selesai, Kyungsoo menuju ke dapur dan membongkar belanjaan yang belum sempat ia rapikan. Kyungsoo memisahkan barang-barang itu sesuai jenis, seperti yang biasa ia lakukan di apartemennya. Setiap kali ia berjalan, Kyungsoo merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Wajahnya selalu berubah panas ketika Distrik Ingatannya memutar kejadian kemarin. Ia segera beranjak mengambil tea pot dan menyeduh teh untuk mengalihkan pikiran itu.

Jongin terbangun karena suara berisik dari dapurnya. Ia bangkit dari tempat tidur dengan mata yang masih mengantuk. Saat melihat Kyungsoo mengenakan kausnya yang kebesaran, rasa kantuk Jongin mendadak hilang. Ia memandang Kyungsoo yang sedang menakar gula ke dalam tea pot dengan posisi membelakanginya. Dalam diam, Jongin menyulut rokok di tangannya.

"Good morning, prince."

"Good morning, lazy ass." balas Kyungsoo tanpa melihat ke arah Jongin.

"Apa yang menyibukkanmu sepagi ini?" tanya Jongin sambil menyandarkan bagian samping tubuhnya ke pintu dapur. Ia meniupkan asap rokok keluar dari paru-parunya.

"Aku sedang membu- Oh, my God! Kenapa kamu tidak memakai baju?" pekik Kyungsoo saat menemukan Jongin hanya mengenakan celana pendek.

Lelaki itu justru menatapnya heran.

"Bukankah saat kita tidur aku juga seperti ini?"

Jongin meneguk segelas air putih lalu kembali menghisap rokoknya.

"Well, y-yeah. Aku bisa menerimanya karena kita hanya tidur." ujar Kyungsoo sambil merebut rokok di antara bibir Jongin dan segera mematikannya.

"Lalu apa yang membuatmu tidak bisa menerimanya sekarang? Aku memang tidak pernah memakai baju saat di rumah."

Kyungsoo mencoba membuang pandangannya dari Jongin sebelum wajahnya memerah. Jongin menyeringai saat memperhatikan Kyungsoo yang berubah salah tingkah. Ia menangkap pinggang Kyungsoo lalu mengangkatnya ke meja pantry. Mata Kyungsoo membesar saat Jongin menempatkan tubuhnya di antara paha Kyungsoo.

"Lagipula, bukankah kamu sudah melihat semuanya kemarin?"

Tatapan Jongin seperti membakar Kyungsoo saat itu. Ia merasakan wajahnya merah sampai ke ujung telinga. Kyungsoo mendapati Jongin kembali menyeringai ke arahnya.

"Oh, i swear that smirk will give me a heart attack someday!" rutuk Kyungsoo.

Jongin tertawa mendengarnya.

Ia makin merapatkan tubuhnya ke Kyungsoo lalu berbisik, "you look so fucking sexy in my shirt. Bolehkah aku mengulang kejadian kemarin?"

Sebelum Kyungsoo merespon, Jongin sudah mengunci bibirnya dengan ciuman. Ia melumat bibir Kyungsoo dengan liar. Saat Kyungsoo membuka mulutnya, lidah Jongin memaksa masuk. Menjilati bagian lidah Kyungsoo sampai ke langit-langit mulutnya. Kyungsoo mengeluarkan desahan panjang. Ia melingkarkan kakinya ke pinggang Jongin. Jarinya menelusuri dada bidang lelaki itu.

Jongin menarik bibirnya lalu menatap Kyungsoo tajam. Ia memasukkan kedua jarinya ke mulut Kyungsoo.

"Suck."

Tanpa mengucapkan apapun, Kyungsoo menuruti perintah Jongin. Bibir Jongin kini mulai menghisap leher Kyungsoo dan menambahkan bercak kemerahan di sana. Dengan tangannya yang bebas, ia menarik celana Kyungsoo. Jongin mendesah melihat Kyungsoo yang sudah tegak karenanya. Ia mengulum milik Kyungsoo sambil menghisapnya kuat. Kyungsoo menggigit jari Jongin yang ada di dalam mulutnya.

Ketika Jongin mulai menggerakkan kepalanya naik turun, Kyungsoo hanya bisa mendesah pasrah. Ia menikmati kehangatan mulut Jongin yang memanjakan miliknya.

Jongin menarik tubuh Kyungsoo, mencari sesuatu di antara kedua pahanya. Kyungsoo membelalak saat Jongin mendekatkan lidahnya ke bawah sana.

"What the hell are y- Oh..."

Kyungsoo tidak lagi bisa bicara ketika Jongin menjilati bagian bawah tubuhnya dengan gerakan memutar.

Ia terus menusukkan lidahnya berkali-kali masuk ke dalam Kyungsoo, mengumpulkan lebih banyak desahan Kyungsoo ke telinganya. Setelah puas, Jongin menarik jarinya dari mulut Kyungsoo.

"Apa kita tidak butuh lube?" tanya Kyungsoo saat melihat Jongin tetap di posisinya.

Sudut bibir Jongin terangkat.

"Kamu masih longgar karena kemarin."

Lalu Jongin menghujamkan dua jarinya langsung ke bagian bawah Kyungsoo. Suara jeritan memenuhi dapur itu seketika.

"Fuck you, Kim Jongin!"

"Oh, but it looks like i'm the one who's fucking you right now."

Ia memasukkan jari ketiganya dan mulai bergerak di dalam Kyungsoo. Tanpa menunggu lama, Jongin segera memasukkan miliknya perlahan. Ketika ia mulai bergerak, Kyungsoo mencengkram tengkuk Jongin. Melihat wajah Kyungsoo yang setengah terpejam, Jongin merasakan gairah di dalam dirinya meledak-ledak. Ia ingin Kyungsoo meneriakkan namanya lebih keras pagi ini.

"I'm gonna fuck you so hard, you won't remember your own name."

Tangan Jongin meraih pinggang Kyungsoo lalu menusuk satu titik kenikmatannya. Jongin tidak memulainya dengan lambat kali ini, ia langsung menghujamkan miliknya dengan gerakan keras dan tajam.

Erangan Kyungsoo lebih gila daripada kemarin.

"Oh, J-Jongin. Ah..."

Jongin meraih rahang Kyungsoo lalu menggigit bibir bawahnya. Ia puas melihat tangan Kyungsoo yang mulai menyambar apa saja yang ada di dekatnya.

"You like it rough and dirty, don't you?" bisik Jongin di telinga Kyungsoo dengan suara parau.

Kyungsoo tidak bisa menjawab. Ia terus mendesah menikmati setiap gerakan Jongin di dalamnya. Kyungsoo ingin mengenggam miliknya sendiri dan mulai memompanya. Namun Jongin menepis tangannya. Kyungsoo hampir terisak merasakan seluruh tubuhnya berubah sensitif. Jongin mempercepat ritmenya sambil terus menusuknya di titik yang sama. Kyungsoo lupa segalanya.

Ia hanya mampu meneriakkan nama Jongin berkali-kali. Menerima setiap sentakan di tubuhnya.

"Siapa namamu?"

"J-Jongin. Ah, ah, ah Jongin."

Jongin menarik miliknya lalu menghujamkannya masuk kembali dengan kasar. Kewarasan Kyungsoo hampir hilang merasakan miliknya yang terus berdenyut. Ia sudah tidak tahan lagi.

"Siapa?"

"Jongin. Oh, please Jongin. Please." Kyungsoo memohon dengan sedikit terisak.

Mendengar itu, Jongin mulai memompa milik Kyungsoo. Hanya dalam beberapa detik, Kyungsoo menumpahkan semua cairan ke perutnya.

Gerakan Jongin berubah tidak beraturan sebelum ia akhirnya juga mencapai klimaks.

Jongin mencium bibir Kyungsoo lembut. Nafas Kyungsoo masih memburu karena ejakulasinya. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi mata Kyungsoo, menghujani lelaki itu dengan ciuman lalu perlahan melepaskan miliknya. Jongin melihat ke sekeliling dan baru menyadari kekacauan yang mereka buat. Ia mendesah membayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membereskan itu semua.

Saat ia melihat ke arah pintu dapur, tubuh Jongin mendadak membeku.

Sepasang mata dari makhluk kecil yang sedang duduk di sana seperti sedang menghakiminya dalam diam.

.

.

"Oh... Crap."

To : Yehet Bitch

I'm sorry.

From : Yehet Bitch

OH, MY GOD! YOU DID IT IN FRONT OF MONGGU, DIDN'T YOU?!

I KNEW IT! I KNEW IT!

YOU ARE A HEARTLESS JACKASS, NINNIE!


END OF PART 6 : ALLEYS


GEEZ, WHAT DID I DO WITH MY LIFE? *gantung diri*

Maaf kalo mengecewakan kalian dengan (tetep) ngeluarin NC di chapter ini *salahin message valentine-nya MCM* dan maaf juga kalo nggak sesuai harapan T,T

Astaga, pemaparan aku soal perkejaan mereka agak ngebingungin ya? Waaa, maafkan penulisanku yang buruk sampe bikin kalian bingung. Oke aku jelasin sekalian aja di sini ya, hehehe.

1. Jongdae : Pemilik bar Machine

2. Jongin : Waiter/Pelayan Bar di Machine

3. Chanyeol : Bartender di Machine

4. Junmyeon : Head Chef (Kepala Chef) di restoran seafood Black Pearl

5. Kyungsoo : Sous Chef 1 (Wakil Kepala Chef 1) di Black Pearl

6. Minseok : Sous Chef 2 (Wakil Kepala Chef 2) di Black Pearl

7. Luhan : Chef de Partie (Bawahannya Kyungsoo) di Balck Pearl

8. Kris : Manajer coffee shop 3.6.5

9. Baekhyun : Waiter di 3.6.5

10. Tao : Fashion Stylist

11. Sehun : Masih sekolah di akademi tari (lembaga informal)

12. Yixing : Pelatihnya Sehun sama Jongin

Jadi, waktu Kyungsoo ke 3.6.5 dia cuma nongkrong aja. Pas dia nyebutin Kris sebagai manajer itu maksudnya manajer 3.6.5, bukan manajernya dia XD

Sumpah aku ngakak melulu tiap kali baca komen kalian yang soal uke-uke. Aku aja nggak nyadar mereka aku jadiin satu di sini, hahaha.

Oiya, sabar aja buat pairing lain nanti nyelip-nyelip kok penjelasannya~

Dan sedikit spoiler seberat-beratnya konflik mereka nggak bakal ada karakter yang mati di sini. *aku nya juga nggak tega*

Akhir kata, please review lagi! Sepanjang-panjangnya juga nggak masalah, aku suka banget baca review, pujian, dan semua dukungan dari kalian :'D *ketjup satu-satu*

KAISOO FTW!

-RedSherr88-