"Every living being is an engine geared to the wheelwork of the universe. Though seemingly affected only by it's immediate surrounding, the sphere of external influence extends to infinite distance."

.

- Nikola Tesla


"RIGHT IN YOUR FACE, BITCHES!" sorak Luhan saat akhirnya Kyungsoo mengakui apa yang terjadi di rumah Jongin.

Mereka langsung menginterogasi Kyungsoo selama hampir tiga puluh menit karena Kyungsoo datang mengenakan sweater turtleneck yang jarang ia pakai.

Kedua lelaki yang lain langsung memberi Kyungsoo tatapan heran.

"What the hell, Soo. Aku kira kamu akan sedikit mempersulitnya." Ucap Tao yang dengan malas mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

"Oh, Tuhan aku membenci ini. Aku pikir aku bisa membeli eyeliner baru." Tambah Baekhyun.

Kyungsoo memutar bola matanya, "lalu kalian menyalahkan aku untuk ini? Kalian sendiri yang membuat taruhan konyol itu."

Luhan merebut uang di tangan Baekhyun dan Tao dengan paksa hingga kedua lelaki itu mengeluarkan desisan panjang.

"Tiga hari, Do Kyungsoo. Kamu mau melakukannya dengan Jongin hanya setelah tiga hari kencan pertama. Gosh, Kim Jongin is really something."

"Hey! Beri Kyungsoo sedikit hormat, Baek. Aku yakin dia juga tidak menduga akan secepat itu." Pekik Luhan sambil mengipas-ngipaskan uang itu ke wajahnya.

"HE'S JUST TOO DAMN HOT, OKAY? NOW PLEASE, CUT IT OUT." Seru Kyungsoo.

Ia menutupi kedua wajahnya saat menyadari mudahnya Jongin menjatuhkan pertahanannya. Kyungsoo mengutuk Jongin yang bisa bersikap manis dan memperlakukannya seperti pangeran lalu berubah menjadi serigala yang menerkamnya hanya dalam sekejap. Wajahnya tiba-tiba panas saat ingatannya kembali memutar adegan-adegan itu.

"Apakah dia memuaskan? Oh, posisi apa yang kalian gunakan? Apa-"

"Ugh, for God's sake!" sela Kyungsoo sambil memberi tatapan tajam ke Baekhyun, "Bisakah kita tidak membicarakan ini?"

"He's right, Baek. Shut up! Kamu telah bertindak tidak sopan dengan customer coffee shop ini. Aku akan memanggil manajermu." Canda Tao.

Baekhyun merengut lalu mencubit paha Tao sampai lelaki itu menjerit.

"Ngomong-Ngomong soal manajer, Kris mencuri pandang ke arahmu sedari tadi." Bisik Luhan sambil memperhatikan Kris yang mondar-mandir di dekat french press.

Tao tidak berbalik untuk melihatnya langsung. Ia justru menambahkan satu sachet gula ke dalam kopinya, "Kalian akan mengira Kris adalah seorang lelaki cool yang misterius. But in fact, he's just a dork."

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan padanya? Dia benar-benar bertingkah aneh akhir-akhir ini." Tanya Baekhyun penasaran.

"Itu hanya sihir dari cheesy pick up lines dan beberapa trik kuno lainnya."

"Kamu seperti sedang berbicara soal ilmu hitam sekarang." sahut Kyungsoo.

Tao tertawa saat mendengarnya.

"Lalu apa hubungan kalian saat ini?" kali ini, Luhan yang mulai penasaran.

"Tidak ada. Aku hanya berhasil mengajaknya kencan. He's a tough one. Tapi entahlah, kita lihat saja nanti."

Tao akhirnya berbalik lalu tersenyum ke arah Kris. Lelaki itu justru terkejut saat melihatnya. Dengan terburu-buru, Kris berjalan masuk ke ruangannya. Salah satu jarinya terantuk kaki meja karena ia setengah berlari.

Baekhyun, Kyungsoo, dan Luhan hanya berkedip-kedip dalam diam.

"Sekarang aku yakin kamu memang benar-benar menggunakan ilmu hitam." Cetus Kyungsoo setelah apa yang dilihatnya barusan.

Tao berdecak sambil mengayunkan tangan di depan wajahnya, "Itu bukan ilmu hitam. Kalian hanya butuh merayu lalu menjadi tak acuh pada waktu yang tepat. Tarik lalu ulur. Cengkram lalu lepaskan. It drive someone nuts."

Mereka menatap ruangan Kris. Tirai ruangan itu sedikit terbuka. Samar-samar mereka bisa melihat salah satu mata Kris yang mengintip dari balik sana.

"See? He's a dork."

Kyungsoo belum sempat menanggapi saat tiba-tiba Luhan menarik kerah sweater-nya dengan paksa. Mata Kyungsoo melebar karena terkejut. Tapi tiga pasang mata lainnya lebih lebar dari miliknya saat melihat leher Kyungsoo.

"Geez, Soo. Itu lebih mirip seperti alergi daripada kissmark." Ungkap Tao yang masih memperhatikan leher Kyungsoo dengan takjub.

Kyungsoo segera menaikkan kerah bajunya kembali.

"Berapa kali kamu melakukannya dengan Jongin?" Kyungsoo hampir mengatakan satu kali sebelum Baekhyun kembali menginterupsi, "And don't play dumb with me young man, tidak mungkin kamu hanya melakukannya sekali."

Kyungsoo menghela nafas panjang. Dia benci teman-temannya yang kadang terlalu mengerti dirinya.

"Empat. Aku melakukannya empat kali." Jawab Kyungsoo dengan suara sekecil mungkin.

Ada hening sejenak yang membuat Kyungsoo merasa ia ingin dikubur hidup-hidup saat itu juga.

Luhan menepuk bahunya pelan. Kyungsoo hampir mengira Luhan ingin membuatnya merasa lebih baik ketika lelaki itu akhirnya berseru, "Wow, congratulations Do Kyungsoo you're officially a slut!"

Sore itu, ia segera menambahkan sesuatu dalam daftar peraturan baru di kotanya.

Hal yang terlarang dilakukan untuk seluruh pekerja otak kota Do Kyungsoo :

1. Mempercayai bahwa Luhan bisa bersikap baik di waktu yang tepat

2. Membiarkan Kim Jongin masuk saat ia sedang mandi. Dengan alasan apapun, terutama 'aku hanya ingin menggosok punggungmu'


Sepulang kerja hari ini, Kyungsoo menemani Luhan ke salah satu toko alat tulis. Lelaki itu bilang, ia ingin membeli banyak kertas origami. Kyungsoo sama sekali tidak mengerti kenapa Luhan tiba-tiba tertarik dengan seni melipat kertas dari Jepang itu. Tapi ia tetap menerima ajakan Luhan.

Kyungsoo mulai meninggalkan jadwal di distriknya yang dulu. Ia sudah jarang menonton Pororo atau mentaati waktu tidurnya yang harus di bawah jam sebelas malam. Entah kenapa, Kyungsoo justru merasa bebas. Ia bisa mencoba lebih banyak hal yang dulu ia hindari. Beberapa kotak di Departemen Paranoidnya juga mulai hancur satu demi satu.

Dan sekarang, ia membiarkan satu pengendara yang tidak kenal istirahat lalu lalang di kotanya.

Handphone-nya berdering, menampilkan satu nama yang baru saja ia pikirkan. Kyungsoo tersenyum sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.

"Halo."

"Halo, prince. Aku minta maaf baru menelponmu, tadi pagi aku menjenguk ayahku."

"Oh, apakah beliau membaik?"

Jongin mengeluarkan desahan panjang dari balik speaker-nya.

"No."

Kyungsoo menggigit bibirnya. Rasanya, ia ingin segera berlari dari toko itu lalu memeluk Jongin kuat-kuat.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Ia mendengar Jongin memaksakan tawanya lalu berkata, "Aku selalu dalam kondisi baik, tenanglah. Umm… so, what's baby Soo doing right now?"

Kyungsoo menjatuhkan beberapa buku di rak depannya ketika mendengar Jongin mengatakan itu. Ia segera membungkuk meminta maaf pada salah satu karyawan toko yang melihatnya dengan dahi berkerut.

"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Kyungsoo marah.

Tawa Jongin menggema.

"Kenapa? Itu terdengar cute. Dan kamu memang cute. Aku rasa itu cocok untukmu."

Karyawan toko itu membantunya mengembalikan buku yang ia jatuhkan kembali ke rak. Kyungsoo hanya tersenyum dengan mimik bersalah.

"It's NOT cute and I'm not cute either. Mungkin adorable atau gorgeous. Tapi bukan cute. Dan kamu selalu bilang setiap nama panggilan cocok untukku."

"Oh, tapi memang semua nama panggilan cocok untukmu. Prince, baby, squishy, sweetpea. Or… mine."

Kyungsoo tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk beberapa kali dan melihat Luhan yang menghampirinya karena khawatir. Luhan menepuk-nepuk punggung Kyungsoo. Samar-samar, ia mendengar seorang lelaki yang tertawa dari handphone Kyungsoo. Luhan langsung tersenyum lalu berbisik kepada Kyungsoo untuk menunggunya di luar.

"Soo? Kamu baik-baik saja?" tanya Jongin setelah Kyungsoo cukup lama terdiam.

"Y-Ya. Aku baik-baik saja." Kyungsoo menarik nafas panjang, "Errr, Jongin… did you say 'mine' earlier?"

Ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Jongin menjawab, "Ya, i did say that. Ada yang salah dengan itu?"

"Tidak. Hanya… kita belum membicarakan soal ini."

"Oh. Apakah aku harus menyatakannya lebih dulu dengan bunga dan coklat sambil berlutut di hadapanmu?"

"NO!" sergah Kyungsoo cepat, "Dan ada apa dengan seleramu? Oh astaga, bunga dan coklat? Kenapa kamu selalu memperlakukanku seperti gadis remaja?"

"Karena kamu cute."

"I AM. NOT. CUTE." Kyungsoo memutar bola matanya. Ia membenarkan posisi shawl-nya ketika udara luar membuat bulu romanya berdiri.

"But, you are. Your cuteness is killing me sometimes."

"Ugh, aku membencimu."

"God. Aku ingin melihat wajahmu saat kamu seperti ini. Apa tidak ada versi kecil dirimu yang bisa kubawa kemana-mana?"

"Kamu benar-benar menyebalkan." Maki Kyungsoo.

Namun, yang ia lakukan berkebalikan dengan apa yang ia ucapkan. Kyungsoo hampir memeluk salah satu tiang nama jalan untuk meredam tawanya mati-matian.

"Hey, kita belum meneruskan pembicaraan kita sebelumnya. Apa kamu tidak suka saat aku merasa memilikimu?"

Kali ini, Kyungsoo benar-benar memeluk tiang itu. Dia mengatur nafasnya beberapa kali.

"Well... aku menyukainya. But, Jongin. If i am yours, then... is that makes you mine?"

Jongin tergelak seperti Kyungsoo menanyakan sesuatu yang bodoh dan ia sendiri sudah tahu jelas jawabannya.

"Of course! I am all yours. My whole body and heart are yours, prince."

Kyungsoo melakukan lompatan kecil saat mendengar itu. Ia merasakan pipinya menghangat dan detak jantungnya berbubah tidak beraturan. Kyungsoo terpaksa berhenti ketika seorang lelaki dari kejauhan melihat ke arahnya.

"Bolehkah aku menutup teleponmu sekarang?"

"Oh. Apa kamu ada urusan lain?" tanya Jongin dengan nada kecewa.

"Tidak. Hanya saja aku sedang di luar dan kamu sepertinya tidak mau berhenti membuatku terlihat seperti orang gila."

Jongin kembali tertawa. Namun kali ini, Kyungsoo ikut tertawa bersamanya. Mungkin orang benar bahwa kebahagiaan bisa menular. Kyungsoo bahkan bisa membayangkan bagaimana wajah Jongin saat ini.

Ia benar-benar merindukan lelaki itu.

"Kiss me, first."

Atau mungkin tidak.

"Oh, God. Aku baru saja bilang padamu aku seperti orang gila dan sekarang kamu menyuruhku untuk menciummu lewat telepon? Kamu benar-benar menyebalkan."

"I'm sorry, prince. Tapi kamu benar-benar menyenangkan untuk digoda." Ujar Jongin sambil berusaha menghentikan tawanya. "Hubungi aku ketika kamu sudah di rumah. Be safe, baby."

"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu."

"Babybabybabybabybabybabybabybabybabybaby-"

Kyungsoo langsung mematikan sambungan itu. Ia masih belum berhenti tersenyum saat lelaki yang dari tadi memperhatikannya dari kejauhan kini ada di depannya.

"Kyungsoo, right?" tanya lelaki itu ragu-ragu.

Kyungsoo memperhatikan lelaki di depannya berkali-kali sebelum ingatannya kembali terkumpul.

"Ah, Mister Perfect Cre-" ia buru-buru menutup mulutnya saat menyadari apa yang hampir ia katakan. Lelaki itu menatapnya dengan kebingungan. Ia mengutuk Luhan dan mulut tanpa filter-nya diam-diam.

"Aku Sehun. Teman Jongin. Mungkin kamu tidak mengingatku." Ucap Sehun ramah sambil mengulurkan tangannya ke arah Kyungsoo.

Bagaimana bisa aku tidak mengingatmu jika Luhan selalu membawamu dalam tiap percakapan.

Namun, ia hanya menjabat tangan Sehun lalu berkata, "Kyungsoo. Dan tenanglah, aku rasa aku mengingatmu."

"Oh baguslah kalau begitu." Sehun berdehem sesaat sambil memasukkan tangan ke jaketnya. "So... bagaimana kabarmu dengan Jongin? Apa kalian baik?"

Kyungsoo menarik nafas dalam, ia tidak bisa menyembunyikan sudut bibirnya yang terus terangkat.

"Ya. Aku rasa kami dalam kondisi yang paling baik. A honeymoon phase, kalau orang biasa bilang." Jawab Kyungsoo kemudian.

Sehun mengeluarkan raut kelegaannya. "Glad to hear that. Aku juga merasakan dia benar-benar seperti orang yang berbeda setelah bertemu denganmu."

"Berbeda dalam artian baik atau buruk?"

"Entahlah. Hanya saja, dia mulai banyak bicara dan lebih terbuka. Itu tergantung bagaimana kamu menafsirkannya. Karena dia kadang bisa jadi orang yang menyebalkan saat dia membuka mulutnya."

"Yeah, aku sangat memahami maksudmu."

Mereka berdua tertawa bersamaaan. Kyungsoo mendekati salah satu vending machine lalu memasukkan beberapa koin di sana.

"So, Sehun. Darimana kamu mengenal Jongin?"

"Ah… aku mengenalnya sekitar tiga tahun lalu. Kami masuk ke akademi tari yang sama. Dia adalah salah satu murid yang paling cepat berkembang, maka dari itu aku banyak belajar darinya."

Kyungsoo menyodorkan satu gelas kopi hangat ke Sehun dan lelaki itu mengucapkan terimakasih. Mereka berdua akhirnya duduk di depan bangku toko itu.

"Apakah dia sebagus itu?" tanya Kyungsoo sambil menyeruput kopinya.

"Well, aku tidak akan mengakui ini di depan dia. Tapi, ya… aku rasa dia murid terbaik yang pernah aku tahu. Kadang, dia berlatih sampai larut malam."

Kyungsoo tiba-tiba mengingat dongeng soal Kai yang Jongin ceritakan tempo hari. Ia sekarang bisa merasakan bagaimana Jongin sangat menikmati menari.

"Oh, dan aku harap kamu tidak terganggu dengan seringnya dia pulang pagi dan bangun siang. You know… pekerjaanya sebagai waiter di Machine mungkin menyita waktu-"

"Apa yang kamu maksud?" sela Kyungsoo yang tidak bisa menahan rasa terkejutnya.

"Oh... apa dia tidak memberi tahumu?" Sehun bertanya dengan nada yang sangat hati-hati.

Kyungsoo hanya menggeleng.

Suasana canggung langsung menyelimuti mereka berdua. Kyungsoo menggenggam gelas kopinya erat-erat. Dahinya berkerut karena memikirkan sesuatu. Sehun tetap dalam posisi diam, menunggu Kyungsoo untuk bicara.

"Aku tidak mengerti kenapa dia tidak memberi tahuku, Sehun. Oh, astaga. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku mulai berprasangka buruk soal dia yang sering keluar malam."

"Kamu… bukan sedang marah soal pekerjaannya?" Sehun mengeluarkan nafas lega.

"Kenapa aku harus marah?" tanya Kyungsoo keheranan. "Aku hampir berpikir dia adalah pengedar narkoba atau pembunuh bayaran."

Sehun segera tertawa saat mendengarnya. Ia mencoba sedikit mencairkan suasana.

"Listen, Kyungsoo. Aku yakin Jongin pasti ada alasan untuk memilih diam. Berpura-puralah tidak tahu, biarkan dia langsung berbicara padamu."

Kyungsoo mengangguk. Sehun benar, Jongin pasti punya alasan untuk tidak memberitahunya saat ini. Ia lega akhirnya tahu apa pekerjaan Jongin. Kyungsoo mulai khawatir dengan banyaknya misteri di antara mereka. Mungkin Kyungsoo harus berinisiatif lebih dulu agar mereka bisa saling terbuka.

"Antrian di dalam sana benar-benar gila. Apakah aku terlalu-" Luhan mendadak diam saat melihat seseorang di samping Kyungsoo, matanya melebar, dan kalimat berikutnya yang sanggup ia ucapkan hanya, "oh."

Sehun berdiri dari samping Kyungsoo. Pandangannya tidak lepas dari Luhan saat ia mulai mendekat ke arah lelaki itu.

"Apakah aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?" tanya Sehun yang memulai percakapan.

Luhan memandang ke bawah dan memainkan tali kantong belanjaannya. Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya saat menyadari ternyata Luhan bisa kehilangan kepercayaan diri.

"Ya… waktu kamu bersama Jongin ke salah satu coffee shop, K-kurasa…"

"Ah, aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas saat itu. Mungkin sebelumnya? Di tempat lain?"

Luhan mengerucutkan bibirnya lalu menggeleng pelan.

"Apakah kamu sering membeli bubble tea?"

"N-No?" jawab Luhan yang justru mirip seperti pertanyaan.

"Apakah kamu menyukainya?"

"Entahlah. Aku belum pernah mencobanya."

Luhan memandang Sehun dengan bingung. Ia tidak tahu kenapa lelaki ini tiba-tiba membawa bubble tea ke dalam percakapan mereka.

"Kalau begitu kamu mungkin tidak tahu bubble tea shop di sekitar sini."

"Well, I'm sorry. But no, I don't know."

"Oh, oke. Kalau begitu satu pertanyaan terakhir."

"Lebih baik ini bukan soal bubble tea, karena aku benar-benar tidak tahu jawabannya." Sela Luhan. Ia semakin tidak paham dengan arah pembicaraan ini.

"Ah, ini masih soal bubble tea. Tapi aku yakin kamu tahu jawabannya."

Luhan hanya berkedip beberapa kali menunggu lelaki itu bicara.

"Jika Sabtu nanti kamu luang, bagaimana jika aku mengajakmu ke bubble tea shop yang aku tahu di sekitar sini?"

Luhan kembali berkedip dalam diam. Bibir Luhan sedikit terbuka karena terkejut dengan apa yang didengarnya. Sehun tertawa saat melihat itu. Ia mengambil pulpen dalam kantong jaketnya lalu meraih salah satu tangan Luhan.

"Baiklah, bagaimana kalu begini?" Sehun menuliskan beberapa digit angka di punggung tangan lelaki itu. "Hubungi aku jika nanti kamu sudah menemukan jawabannya," lalu ia menatap Luhan tepat di mata sambil tersenyum, "aku tunggu."

Sehun membungkuk ke arah Kyungsoo dan Luhan lalu melangkah pergi. Kyungsoo menepuk bahu Luhan yang masih melihat ke nomor di punggung tangannya.

"Is he hitting on me?" tanya Luhan dengan matanya yang masih melebar ke Kyungsoo.

Kyungsoo membuang nafas panjang, "Oh, entahlah. Yang aku dengar hanya banyak kata bubble tea dan itu membuatku lapar. Hey, let's eat Jjangmyeon!"

Kyungsoo berjalan meninggalkan Luhan yang masih terdiam di tempatnya. Luhan memegang erat kantong berisi kertas origaminya sebelum akhirnya berjalan menyusul Kyungsoo.


Jongdae sedang dalam mood yang baik untuk mengunjungi Machine hari ini. Walaupun ia memliliki beberapa bar yang lain, Jongdae mengakui bahwa Machine adalah yang paling favorit. Terlebih lagi di bar ini, ia bisa menemui kedua temannya Chanyeol dan Jongin.

Jongdae berteman sejak kecil dengan Chanyeol. Saat Chanyeol mengutarakan ia tertarik mempelajari cara menjadi bartender, Jongdae langsung menawarkannya bekerja di Machine.

Berbeda dengan Jongin, ia baru bertemu dengannya setahun lalu. Jongdae ingat saat itu Jongin datang melamar pekerjaan dengan banyak luka di wajahnya. Ia sempat meragukan Jongin karena itu. Namun, Jongin bersedia untuk tidak dibayar dalam waktu tiga hari agar Jongdae yakin dia benar-benar serius dalam pekerjaanya. Dan Jongin membuktikannya. Setelah berbagai cerita yang mereka saling tukar, Jongdae menemukan banyak kesamaan antara dia dan Jongin. Semenjak itu, ia menjadi semakin dekat dengan Jongin.

Jongdae segera berjalan ke arah Bar Area dan terkejut mendapati dua orang temannya sedang menerawang sambil sesekali tertawa.

"Dudes, are you high? Oh, astaga bukankah aku bilang hal itu dilarang saat kalian bekerja?"

Chanyeol terkikik, ia menyenggol tangan Jongin lalu mereka berdua memandang Jongdae dengan geli.

"Ah… kamu tidak akan pernah mengetahui sesuatu yang lebih memabukkan dari itu, Jongdae." Desah Chanyeol. Ia memasang pourer di beberapa botol alkohol sambil terus tersenyum.

Jongdae menggeleng-gelengkan kepala lalu duduk di sebelah Jongin. Ia menampar lengan Jongin untuk meminta penjelasan.

"It's sex, Chen. A passionate one. Bukan hanya one night stand atau pelampiasan." Papar Jongin dengan memanggil nama akrab Jongdae.

"What the damn hell?! Aku tidak tahu kalian lemah terhadap hal seperti itu."

"Aku sudah bilang, kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya." Sahut Chanyeol.

"Jadi, siapa dua orang yang sial ini?" tanya Jongdae sambil mengambil satu pak rokok dari kantong celananya.

"Baekhyun," jawab Chanyeol cepat, "kamu tidak akan percaya bagaimana mengagumkannya lelaki ini.

Jongde hanya menaikkan alisnya. Ia mengambil satu batang rokok lalu menyodorkan sisanya ke Jongin.

"And Kyungsoo. He's like an angel, Chen. He's so lovely, tender, and sweet in the best possible way." bibir Jongin tidak berhenti tersungging saat menceritakan lelaki itu.

"Whoa, whoa, whoa, calm down dude. Kamu seperti dalam pengaruh sihir sekarang." Ucap Jongdae geli.

Jongin tertawa sambil menghembuskan asap rokoknya.

Mungkin Jongdae benar.

Mungkin ia sedang berada dalam sihir Kyungsoo saat ini.

Ketika ia menjenguk ayahnya pagi tadi, ia bahkan tidak bisa berhenti membicarakan Kyungsoo. Jongin menceritakan bagaimana luar biasanya lelaki itu- walaupun kadang sering melalukakan tindakan bodoh. Ia bisa melihat ayahnya yang berusaha tersenyum saat mendengarnya. Jongin tau ayahnya bahagia melihat Jongin yang seperti tadi.

Dulu, ayahnya sering khawatir saat Jongin datang namun hanya diam sepanjang pagi.

Jadi hari ini ia memeluk ayahnya kuat lalu meyakinkan ayahnya bahwa ia baik-baik saja. Jongin juga berkata ia merindukan percakapan tengah malam mereka.

"Bukankah lucu bagaimana sesuatu bisa berdifusi dalam kerja otakmu lebih parah dari Methampethamine?" tutur Chanyeol tiba-tiba.

Jongin mengangguk menyutujuinya. Saat ini, ia merasa dalam kotanya Kyungsoo ada dimana-mana. Seperti poster buronan teroris yang paling dicari polisi.

"Dan lebih parahnya, kamu tidak tahu tombol mana yang bisa menghentikan itu semua." Tambah Jongin.

Jongdae memandang mereka dengan bingung, "Tunggu… kalian sedang berbicara soal seks atau orangnya?"

Tanpa berpikir panjang, Chanyeol dan Jongin menjawab bersamaan, "Both."

Mendengar itu, Jongdae langsung memutar bola matanya, "Oh, Tuhan. Kalian benar-benar berada dalam tahap jatuh cinta yang paling menjijikan."


Jongin mengunjungi apartmen Kyungsoo pada pukul empat pagi hari Sabtu itu. Perbedaan jam kerjanya dengan orang biasa membuat lelaki itu hanya bisa mengunjungi Kyungsoo pada saat Kyungsoo tidak bekerja. Dalam hati, Jongin kadang mengira-ngira apa pekerjaan Kyungsoo. Mungkin ia akan menanyakannya suatu hari nanti.

Oh, betapa ia benci menjadi pengecut yang selalu sembunyi karena ketidaksempurnaan hidupnya. Namun, ia juga belum siap menerima reaksi Kyungsoo. Lelaki itu bisa saja meninggalkannya saat mengetahui dia hanya seorang pelayan berpenghasilan kecil yang masih harus merawat ayahnya. Ia belum punya masa depan yang manis untuk dijanjikan ke Kyungsoo, tapi ia masih ingin mengusahakannya.

Kyungsoo membuka pintu apartemen itu dengan muka mengantuk dan beberapa rambut yang berdiri asal-asalan. Akan tetapi, lelaki itu segera tersenyum dan memeluk Jongin begitu ia melihatnya.

"Did my adorable prince miss me?" tanya Jongin sambil mencium rambut Kyungsoo.

"Soooooooooo damn much. You have no idea how terrible it was." Jawab Kyungsoo dengan suara manja.

"I missed you too. Tapi bolehkah aku masuk sekarang?"

Kyungsoo segera melepaskan pelukannya begitu menyadari mereka masih di depan pintu apartemennya. Jongin terkikik geli.

"Bisakah kamu berhenti bersikap menggemaskan? Itu membuatku ingin memasukkanmu ke kantongku, agar aku bisa melihatmu kapanpun aku mau."

Mereka akhirnya duduk di tempat tidur Kyungsoo. Jongin melingkarkan lengannya ke bahu lelaki itu.

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya sambil bersandar di pundak Jongin.

"Kita baru bertemu dan kamu sudah bersikap menyebalkan." gerutu Kyungsoo.

"Tapi kamu tetap merindukanku."

"Ya, sialnya aku tetap merindukanmu."

Jongin menempelkan keningnya ke pelipis Kyungsoo sebelum menarik dagu Kyungsoo dan mendaratkan kecupan di bibirnya.

Kyungsoo langsung tersipu. Matanya membulat, pipinya berubah merah muda, dan ia kehilangan kata-kata. Jongin tersenyum. Ia menatap Kyungsoo dalam-dalam sambil mengusap pipi lelaki itu dengan ibu jarinya.

"You are beautiful, Soo. You really, are."

Kyungsoo memutar bola matanya walaupun jantungnya sudah berubah menjadi taman trampolin dengan banyak gajah yang melompat-lompat.

"Always so cheesy."

Jongin tergelak lalu mengerutkan alisnya.

"I'm not cheesy."

"Oh, kata lelaki yang menyimpan kontakku dengan nama 'Prince Soo' dan banyak tanda hati setelahnya."

"Hey, darimana kamu mengetahuinya?"

"Kamu pikir saat kamu tidur aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh padamu? Ah, mungkin kamu tidak sadar aku punya banyak dendam denganmu."

Jongin menarik Kyungsoo ke posisi tidur lalu menggelitik pinggang lelaki itu.

"Oh, ya? Coba katakan apalagi yang kamu lakukan padaku saat aku tertidur."

Kyungsoo terus tertawa dan membolak-balikkan badannya tanpa bisa menjawab. Ia hampir meneteskan air mata saat akhirnya dengan susah payah meminta Jongin untuk berhenti. Ketika Kyungsoo membuka mata, ia melihat Jongin yang sedang tersenyum sudah berada di atasnya. Ruangan itu berubah hening sejenak. Kyungsoo bahkan bisa mendengar serangga dan suara angin malam dari luar jendela kamarnya.

"Aku benar-benar menyukaimu." Bisik Jongin sambil terus menatapnya.

Kyungsoo meraih tengkuk Jongin lalu menempatkan bibir atasnya di antara kedua bibir lelaki itu.

"Aku lebih menyukaimu." Balas Kyungsoo tanpa melepaskan ciumannya.

Jongin tidak menjawab, ia membawa ciuman mereka lebih dalam lagi sebelum akhirnya satu per satu pakaian mereka mulai berserakan di lantai.

Setiap desahan, sentuhan, serta gerakan mereka pagi itu berseling dengan senyum, tawa, dan puluhan kata rindu.

Jongin menemukan satu arti kebahagiaan baru di dalam Kyungsoo.

Dan ia berdoa semoga perhitungan semesta untuk menjatuhkannya kali ini meleset.

Satu kali saja.


END OF CHAPTER 6 : SUBURBAN


Because mini Do Kyungsoo is the dream! Am i rite, people? Kayanya nggak cuma Jongin aja yang pengen punya ;w;

Sengaja update cepet because i love you, guys! Dan review yang bertambah bikin aku jadi makin semangat nulis.

Ketawa terus baca review kalian soal adegan Jongin sama Kyungsoo kemarin, hahahahaha. Btw, beberapa dari kalian ada yang salah persepsi *gantung diri karena jadi penulis gagal* yang ngeliat mereka pas di dapur itu Monggu bukan Sehun. Jongin minta maaf ke Sehun karena dia pernah janji sama Sehun nggak bakal 'begitu' di depan Monggu. Waa, maafin bikin bingung~

Oke, terimakasih buat yang (masih) mau baca. Semoga kalian belum bosen sama cerita aku, ya.

Jangan lupa kritik, saran sama review-nya lagi biar chapter depan cepet keluar XD

Oiya, karena chapter kemarin udah kebanyakan NC, chapter ini sebenernya aku bikin buat jadi lompatan kecil aja sebelum lanjut ke yang berikutnya.

p.s : oh, and maybe because i won't be nice anymore after this chapter. *evil smirk*

KAISOO FTW!

-RedSHerr88-

*Special thanks to Aria F yang udah nemuin kesalahan penulisan di chapter ini *smooch*