"Maybe I'm too busy being yours to fall for somebody new
Now I've thought it through."
.
— Arctic Monkeys - Do I Wanna Know
Suasana temaram dengan cahaya kuning keemasan berpadu jingga menyelimuti Black Pearl malam itu. Seluruh pekerja Black Pearl berkumpul di satu meja panjang dengan gelas-gelas bertangkai tinggi. Sajian dari berbagai olahan makanan laut berjejer rapi di atas kain satin warna hitam. Buket Mawar Putih serta lilin bergagng panjang di sela-selanya makin menambah hangat suasana. Beberapa orang saling bercakap sambil menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka. Tempat itu masih ramai karena mereka merayakan pesta kecil untuk melepas Kim Junmyeon ke cabang baru Black Pearl.
"Jadi, bagaimana kencan terakhirmu dengan Sehun?" bisik Kyungsoo dengan volume sekecil mungkin.
Luhan mencondongkan badannya ke telinga Kyungsoo, "Oh, i hate how perfect he is."
Kyungsoo menahan tawanya.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa dia sempurna sejak pertama melihatnya?"
"Well, kamu tahu aku hanya suka bermain mata. Aku tidak mencari hubungan yang serius." Ujar Luhan sambil memotong Grilled Salmon Steak di piringnya dengan kasar.
"Kamu harus mencobanya dulu, Lu. Aku rasa Sehun orang yang baik."
"Oh, kamu tidak perlu mengatakannya. Dan kamu harus tau hal yang lebih penting dari itu."
Kyungsoo mengambil serbet dan mengusapkannya ke bibir saat piringnya telah kosong, "Apa?"
"When i said his ass is nice, i was wrong." Luhan mengangkat salah satu garpu di tangannya ke udara, lalu memincingkan matanya ke Kyungsoo, "It's not just nice, it's magnificent."
Kyungsoo berdesis panik karena itu bukan kata yang pantas untuk diucapkan di jamuan makan malam seperti ini. Beruntungnya, tidak ada yang mendengar Luhan saat itu.
Dentingan gelas segera menghentikan percakapan mereka. Kim Junmyeon berdiri dari kursinya lalu tersenyum lebar. Ia mengangkat gelas champagne-nya ke udara. Junmyeon memandang ke tiap wajah di ruangan itu yang sudah menjadi rekannya selama lebih dari dua tahun ini. Ia mengungkapkan berbagai kesan, pesan serta banyak ucapan terimakasih atas segala kerja keras mereka. Ia juga menyampaikan harapan semoga pembukaan cabang restoran mereka yang baru dapat membuat nama Black Pearl makin dikenal.
Saat merasa telah sampai di kalimat akhir, Junmyeon menarik nafas panjang, "And lastly," matanya beralih ke Kyungsoo yang mendadak gugup, "to Do Kyungsoo the new Head Chef of Black Pearl, let's cheers!"
Kyungsoo langsung tersenyum, ia menggumamkan terimakasih berkali-kali di tengah sorakan orang-orang yang menyahut, "Cheers!"
"Oh, akhirnya kamu resmi menjadi Head Chef. I'm so proud of you, Soo!" Luhan mendesah sambil memeluk Kyungsoo.
Kyungsoo membalas pelukan Luhan erat. Ia menghembuskan nafas panjang, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
Pertemuannya dengan Junmyeon lima hari yang lalu mengantarkan mereka pada pembicaraan serius soal pergantian jabatan. Semenjak itu, Kyungsoo disibukkan dengan banyak riset kerja dengan Junmyeon mengenai standar makanan, inspeksi lebih mendalam soal operasional dapur hingga storage, sampai memenuhi berbagai wawancara majalah bisnis. Setelah cukup puas membekali Kyungsoo dengan berbagai administrasi dan manajemen Black Pearl, hari ini Junmyeon akhirnya secara resmi menyerahkan posisinya.
Dalam beberapa hari terakhir, Kyungsoo merasakan bepergian dengan bus tidak lagi nyaman. Ia selalu selalu pulang larut malam dan harus pergi lebih pagi demi menyesuaikan jadwal barunya. Setelah menimbang cukup lama, ia akhirnya bertekad untuk membeli kendaraan pribadi. Tiga hari lalu, ia bahkan memutuskan untuk pindah ke rumah yang dulu ia beli sebagai investasi. Kyungsoo menyalahkan akses garasi di apartemen lamanya yang sulit hingga ia harus melakukan itu.
Ini adalah langkah paling besar yang pernah diambil Kyungsoo dalam hidupnya.
Dan itu telah merusak semua pola kerja di kepalanya.
Ia mendesah panjang, Kyungsoo hampir tidak menemukan waktu pribadi karena kesibukannya belakangan ini. Saat melihat wajah Jongin dan dirinya sendiri di wallpaper handphone-nya, ia merasakan rasa rindu merambat memenuhi dadanya. Itu adalah foto yang mereka ambil saat di Festival Seni, dengan latar belakang panggung terang dan Jongin yang mendekatkan pipinya ke rambut Kyungsoo sambil tersenyum. Ia belum sempat bertemu dengan Jongin sampai hari ini. Ia juga belum memberi tahu lelaki itu soal kenaikan jabatannya. Kyungsoo berencana untuk mengatakannya langsung dari mata ke mata daripada hanya lewat telepon. Menurutnya, ini termasuk berita besar. Mengingat mereka masih belum berbagi banyak soal kehidupan pribadi.
Kyungsoo beranjak dari kursinya untuk membalas pelukan dari para Chef lain yang mengucapkan turut berbahagia.
"Selamat, Soo. Aku harap kita bisa bekerjasama lebih baik lagi setelah ini." Ujar Minseok yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Aku rasa tidak ada yang perlu aku khawatirkan selama kamu adalah Sous Chef-ku, Seok."
Minseok hanya tersenyum. Ia menuangkan champagne ke gelas Kyungsoo lalu ke gelasnya sendiri.
"By the way, Soo. Aku masih belum tahu siapa yang kamu tunjuk untuk menjadi partner-ku nantinya."
Saat mendengar itu, hanya ada satu nama yang muncul di kepala Kyungsoo. Ia segera memanggil orang itu untuk mendekat ke mereka.
Minseok kembali tersenyum saat melihatnya, "Oh, silly me. Tentu saja, tidak ada yang lebih capable dari dia untuk menempati posisi itu."
"I know, right? Aku juga tidak bisa berpikir siapapun lagi selain dia."
"Oh, God. Aku rasa aku akan sangat merindukan Junmyeon dan lelucon garingnya." Kata Luhan yang sekarang sudah merangkul pundak Kyungsoo.
"Yeah, he's really good at it." Kyungsoo melihat ke arah Junmyeon yang sedang bercakap-cakap dengan beberapa Chef de Partie lain.
Ia meletakkan gelas di tangannya lalu memegang kedua bahu Luhan, "Hey, Lu. Jika Minseok menjadi rekan kerjamu mulai sekarang, apa kamu keberatan?"
Mulut Luhan menganga lebar. Ia melempar pandangan ke Kyungsoo dan Minseok secara bergantian.
"YOU DID NOT JUST SAY THAT OUT OF NOWHERE." Pekik lelaki itu menahan rasa terkejutnya
"But, i did." Jawab Kyungsoo cepat.
Luhan masih belum bicara dan Minseok sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Ini bukan karena kamu adalah sahabatku, Lu. Tapi murni karena kerja kerasmu."
Luhan menutup mulut dengan kedua tangannya sambil bergumam, "Oh, my God Soo. Thankyou."
Ia memeluk Kyungsoo lalu berteriak, "You are really my favorite slut!"
Kyungsoo mengeluarkan nafas panjang saat melihat Minseok yang tersedak champagne-nya. Sebelum resmi bekerja, Luhan sudah mempunyai satu pekerjaan rumah untuk dipelajari.
Mengontrol apa saja yang harus keluar dari mulutnya.
Jongin memandang handphone-nya dengan gembira saat menemukan pesan Kyungsoo yang memintanya datang ke suatu alamat. Beberapa hari ini, Kyungsoo jarang menghubunginya. Ia bahkan memarahi Jongin di telepon terakhir mereka.
"Tidak bisakah kamu menghubungiku kembali nanti?"
"But, i really miss you prince. Apa kamu tidak merindukanku?"
"It's 2 freaking o'clock in the morning, damn it. Orang-orang mencoba tidur pada jam ini, Jongin."
Well, mungkin itu memang murni kesalahannya.
Jongin segera mengambil jaket lalu mengunci pintu rumahnya. Ia kembali melihat alamat yang dikirimkan Kyungsoo. Dahinya berkerut. Tempat yang ia tuju tidak berada di sekitar apartemen Kyungsoo. Ia menduga apa lelaki itu ingin menemuinya di sebuah kafe karena alamat itu menuju ke pusat kota.
"Hey, look! It's Do Kyungsoo. Bukankah dia benar-benar tampan?"
Langkah Jongin terhenti ketika segerombolan gadis berseragam terkikik saat mengatakan itu. Ia menatap ke sekitarnya tapi tidak menemukan sosok Kyungsoo di manapun. Lagipula, bagaimana gadis-gadis remaja ini bisa mengenal Kyungsoo?
"Aku pernah bertemu dengannya sekali saat ke Black Pearl. Dia menanyakan pendapatku tentang makanannya dengan nada yang sangat lembut. Oh, dia benar-benar lelaki impian."
Dada Jongin mendadak bergejolak ketika mendengar kata 'Black Pearl'. Ia tahu bahwa Black Pearl merupakan salah satu restoran seafood mewah yang terkenal. Para pekerja di sana dipilih dengan sangat selektif melalui proses yang panjang. Ia mencuri pandang ke gadis-gadis yang saling berebut untuk melihat ke majalah di tangan salah satu teman mereka.
Jongin menggigit bagian dalam pipinya sambil melihat ke rak kios majalah di dekatnya. Ia tercekat ketika matanya menangkap wajah Kyungsoo ada di salah satu sampul majalah bisnis dengan beberapa lelaki lain berjas mahal. Dibawah huruf besar yang dicetak dengan tinta merah tebal yang seperti mengejeknya; "Top 5 Inspirational Young Man of This Month."
Dengan gerakan cepat, Jongin segera membeli satu majalah dan menemukan bahwa Kyungsoo menempati posisi Chef tertinggi di restoran mewah itu.
Ia tertawa getir.
Semesta benar-benar meninju Jongin keras tepat di wajah. Ia seakan sedang menyadarkan Jongin dengan siapa ia berurusan dan siapa yang lebih berkuasa. Jongin sudah terbiasa orang-orang terdekatnya meninggalkannya. Namun kali ini, caranya lebih licik. Semesta mengadu domba Jongin dengan harga dirinya sendiri. Seperti benar-benar tahu topik paling sensitif untuk menjatuhkannya.
Saat itu juga, Jongin merasa dirinya menjadi sangat, sangat, sangat rendah di mata Kyungsoo.
Ia menengadah ke langit lalu tersenyum kecut, menantang siapapun yang ada dibalik semua ini.
"Well done, universe. You've made me a complete fool."
Rasa marahnya makin meluap ketika Jongin tiba di sebuah rumah besar berpagar tinggi dan bukan kafe seperti yang dipikirkannya. Ia memandang sinis ke rumah yang mempunyai pilar besar dengan lantai marmer mengkilap itu.
Saat Kyungsoo membuka pagar dan menariknya masuk, ia bahkan tidak bisa tersenyum. Semua benda dalam rumah itu makin memperburuk emosinya.
Hey, aku home theater dengan layar 42 inch yang tidak akan sanggup kamu beli dengan gaji setahun.
Hey, aku piano klasik yang mungkin sama harganya dengan satu organ tubuhmu.
Hey, aku sofa kulit asli yang akan membuatmu alergi saat mendudukinya.
Kyungsoo menangkap sikap Jongin yang berbeda dari biasanya. Ia berbalik menghadap lelaki itu dan menjelaskan kalau ia baru saja berpindah rumah. Tapi Jongin sepertinya tidak mendengarkan. Lelaki itu mengenggam kuat majalah di tangannya seakan ingin meremukkannya.
"You're the Head Chef of Black Pearl?" tanya Jongin dengan suara tipis yang menyengat.
Kyungsoo belum sempat menjawab saat lelaki itu berteriak, "You're the Head Chef of Black Pearl!"
"Y-Yes, yes i am. Ada apa Jongin? Kamu terli-"
Jongin melempar majalah di tangannya ke lantai. Melihat itu, Kyungsoo segera mengambil langkah mundur.
"Oh, Tuhan aku tidak percaya ini!" suara Jongin makin meninggi dan Kyungsoo hanya bisa mematung karena terkejut.
"Apa kamu tahu apa pekerjaanku?"
Kyungsoo menelan ludahnya lalu perlahan meraih bahu Jongin.
"Hey, calm down. Okay? Aku sudah tahu. Sehun memberi tahuku."
Mata Jongin yang merah menatapnya lurus.
"Oh, lalu kamu berpura-pura polos seperti itu tidak menganggumu dan menertawakanku dari belakang?"
Kyungsoo tercekat. Ia berusaha mengatur nafas untuk menahan amarahnya. Kyungsoo tidak mengerti mengapa Jongin bisa menuduhnya dengan alasan yang tidak jelas.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
"Karena itu adalah cara kerja semesta terhadapku. Okay? Dia mengirimkan sesuatu yang aku anggap berharga lalu mengambilnya dengan cara yang paling brengsek."
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Oh astaga, aku bersumpah Jongin."
"Itu mudah bagimu karena kamu tidak sedang dalam posisiku. Kamu tidak harus berperang dengan harga dirimu sendiri."
"Then don't! Apakah kamu merasa hubungan kita kemarin berdasarkan hal itu?" Kyungsoo tidak lagi bisa menjaga suaranya. Seluruh tubuhnya lelah karena jadwal kerja yang padat dan ini bukan sesuatu yang ia harapkan terjadi.
"But, who the fuck am i kidding, Soo?! Tuhan? Takdir?" Jongin menarik nafas sejenak, "Aku merasa kita hidup di dunia yang sangat bertolak belakang. Dimana aku adalah Liliput dan kamu Gulliver, atau Yin dan Yang, Setan dan Malaikat, The Beast-" Jongin memandang Kyungsoo, mencoba meresapi keindahan lelaki itu dalam nadinya, "and The Beauty."
Kyungsoo menggigit bibirnya. Ia merasakan air matanya bisa jatuh kapanpun saat ini.
"Oh... aku pikir kamu adalah kurcaci dan aku peri bunga Chrysant-mu." Bisik Kyungsoo lirih dengan suara yang mulai parau.
Saat mendengar itu, kota dalam kepala Jongin berubah riuh. Semua pekerja otaknya menyalakan sirine yang meraung-raung dengan warna merah menyala. Mereka berhamburan keluar dari distriknya masing-masing. Membuat kemacetan panjang di lalu lintas kotanya, menghancurkan berbagai departemen yang telah dirombaknya.
Seperti sebuah fungsi reset, kerja di distriknya kembali seperti semula.
Ia tidak ingin menyelesaikan masalah.
Ia hanya ingin lari sejauh mungkin dari Kyungsoo saat ini.
"Mungkin aku salah." Jongin melangkah mundur menjauhi Kyungsoo, "Mungkin peri itu hanya lebah yang dikirim untuk menyengatku."
Dengan itu, Jongin menutup pintu depan rumah Kyungsoo dan berlalu.
"You look like shit." Ucap Baekhyun saat mengantarkan cangkir Espresso kedua ke meja Kyungsoo.
Lelaki itu hanya mendengus. Ini adalah hari keempat Jongin tidak menghubunginya. Dan itu membuatnya frustasi. Baekhyun akhirnya duduk bersama Kyungsoo di meja itu. Ia menggenggam tangan Kyungsoo untuk menenangkannya.
"Aku tidak mengerti apa yang salah dengan otaknya." Keluh Kyungsoo.
Ia memainkan kunci Mini Cooper barunya sambil terus berpikir soal pertengkaran terakhirnya dengan Jongin.
"Hey, tenanglah Soo. Mungkin dia hanya perlu waktu untuk sendiri."
Baekhyun mendesah saat melihat Kyungsoo yang masih terus menunduk. Ia segera menggeser posisi duduknya lalu merangkul bahu lelaki itu.
"Kamu tahu? Saat pertama kali aku melihat temanku datang kesini, aku merasa sangat malu. Aku bahkan memohon pada Kris agar aku tidak perlu melayani mereka."
Kyungsoo akhirnya mendongakkan kepalanya lalu menatap Baekhyun.
"Sebagian orang punya pikiran yang berlebihan soal pangkat, Soo. Mungkin Jongin merasakan itu. Mungkin dia memikirkan bagaimana jika nanti kamu terbebani dengan pekerjaannya."
"Tapi aku merasa itu tidak mengangguku, Baek."
"Bukankah sudah kubilang? Hanya sebagian orang yang berpikiran seperti itu, kamu bukan salah satunya. Tapi Jongin termasuk di dalamnya."
Kyungsoo meneguk kopi dalam cangkirnya. Ia merasakan pahit memenuhi pangkal lidahnya. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang ada dirasakan hatinya sekarang.
"Aku akan meminta Chanyeol untuk mengawasi Jongin selama ia belum menghubungimu. Okay?"
Kyungsoo mengangguk lemah dan mengucapkan terimakasih.
Dari kejauhan, Baekhyun melihat Tao yang terburu-buru masuk lalu menghampiri mereka.
"You okay, Soo?" tanya Tao sambil mengacak rambut Kyungsoo.
Lelaki itu hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Tao.
"Kamu beruntung, aku baru pulang dari salah satu sesi pemotretan bertema coklat."
Tao membuka paper bag-nya, lalu menyodorkan satu kotak coklat ke Kyungsoo.
"Eat these bitches, Soo. Itu asli dari Belgia. Dan yang paling spesial, ada Whisky di dalamnya."
Kyungsoo terpaksa tersenyum ke arah Tao. Ia membuka kotak coklat itu lalu memakan salah satunya. Kyungsoo membuang nafas saat rasa coklat berpadu Whisky lumer di lidahnya. Ia mengakui, itu sedikit melepaskan beban dalam pikirannya.
"Thanks, Tao."
"C'mon. Give me a hug, you big crying baby." Ujar Tao sambil melebarkan lengannya.
Kyungsoo segera memeluk Tao erat. Ia merasa beruntung ada teman-temannya yang menghiburnya saat ini. Walaupun pikirannya masih enggan menjauh dari Jongin, paling tidak dengan kehadiran mereka Kyungsoo sedikit merasa lebih nyaman.
Mereka bertiga sedang menikmati kotak coklat yang lain saat Kris tiba-tiba meraih pergelangan tangan Tao. Wajahnya menampakkan rasa marah dan tatapannya berubah tajam.
"Apa kamu sengaja menghindariku?" tanya Kris dengan nada tinggi.
Padangan tiga lelaki itu langsung beralih ke Kris. Tao berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia mencoba menjawab pertanyaan Kris walaupun dengan suara tergagap. Akan tetapi, Kris yang tidak sabar langsung menarik Tao dari meja itu menuju ke ruangannya.
Baekhyun dan Kyungsoo berkedip-kedip dengan tatapan kosong.
"Apakah kamu melihat kamera tersembunyi?" tanya Baekhyun.
Kyungsoo hanya menggeleng kaku.
"Kalau begitu ini bukan semacam prank di program televisi, kan?"
"Tidak. Kurasa tidak."
Mereka berdua kembali mengunyah pelan coklat di mulutnya dalam diam.
Jongin berderap cepat di lorong rumah sakit itu dengan gelisah. Ia segera menuju salah satu ruangan dokter yang biasa menangani ayahnya.
"Oh, Mister Kim. Please, have a seat." Sapa dokter itu ramah.
Dengan canggung, Jongin mengambil salah satu kursi. Tangannya tidak berhenti mencakar pahanya sendiri. Ia merasa panggilan darurat dari dokter itu akan membawa berita buruk baginya. Dokter itu memulai dengan menanyakan kabarnya saat ini.
Oh, i'm fine! Universe is laughing their asses off in front of me, right now. Thankyou for asking.
Lalu percakapan basa-basi tentang bagaimana kehidupan pribadinya.
Well don't you see i'm a total wreck at this point?
"Bisakah kita berbicara langsung ke intinya?" potong Jongin cepat sambil memaksakan senyumnya.
Dokter itu mendesah panjang.
"Baiklah, Mister Kim. Saya dengan berat hati mengatakan, ayah anda ada di dalam fase yang paling kritis. Lebih dari 85% nefron dalam ginjalnya tidak lagi berfungsi. Anda harus mengeluarkan biaya lebih karena-"
Jongin tidak bisa mendengarkan lebih banyak lagi. Seluruh tubuhnya terasa bergetar. Sebuah gunung berapi seperti sedang meledak di dalam kotanya sekarang. Ia merasakan semua emosinya bercampur menjadi satu. Jongin tidak tahu lagi harus marah, sedih, kecewa atau pasrah.
Ini bukan lagi lelucon untuknya.
Ini perang.
Semesta sedang mengajaknya berperang.
This is it.
Jika memang ini caranya, Jongin akan menurutinya.
Ia mengerahkan seluruh pekerja otaknya untuk membangun benteng pertahanan yang tinggi. Tidak ada satupun yang boleh melintas ke dalam kotanya mulai sekarang. Ia memasang meriam banyak-banyak, menutup semua bandara ataupun dermaga. Menghilangkan akses untuk siapapun masuk kesana.
Tidak untuk Monggu, Sehun, Jongdae, ataupun Chanyeol.
Tidak juga untuk Kyungsoo.
Tidak untuk siapapun.
Selain ayahnya, tidak ada apapun yang bisa menjadi senjata semesta untuk menghancurkannya.
Ia segera meraih jaketnya ketika dokter itu selesai bicara. Jongin tidak mengunjungi kamar ayahnya hari itu. Ia tidak ingin ayahnya melihat Jongin pada keadaan terburuknya. Ia berjalan di sepanjang trotoar dengan pandangan kosong dan kepala penuh. Pikirannya terus berkelana mencari kesalahan mana yang membuat hidupnya menjadi seperti sekarang. Jongin sengaja menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Ia sudah tidak mau memikirkan siapapun saat ini, ia ingin menjadi egois.
"Hey! Di mana matamu?!" teriak salah satu lelaki saat Jongin membuatnya terjatuh.
Jongin berbalik lalu menyeringai ke arahnya. Ia melihat kedua teman lainnya membantu lelaki itu untuk berdiri.
"Harusnya kamu menanyakan itu ke dirimu sendiri, dickhead."
Lelaki itu menggeram sambil berjalan cepat menghampiri Jongin. "You son of a bi-"
Satu pukulan mendarat di rahang kiri Jongin. Ia mengusap bibirnya yang berdarah lalu kembali menyeringai. Orang-orang yang lewat di sekitar mereka langsung berlari menghindar.
"That's all? Oh, come on!" Jongin tertawa mengejek, "Kamu bahkan tidak menaruh tenaga di pukulanmu."
Kali ini, kedua teman lelaki itu ikut menghajarnya. Ia merasakan kepalan-kepalan tangan itu di wajahnya, dadanya, sampai perutnya. Jongin terbahak menikmati setiap pukulan yang dilayangkan padanya. Ia berharap rasa sakit di tubuhnya bisa mengalahkan serta mengalihkan beban yang sedang menggantung di dalam dadanya.
Saat Jongin datang malam itu ke Machine, Chanyeol membuang nafas panjang. Ia mengambil handphone-nya lalu mengirimkan satu pesan ke Baekhyun.
To : Sweet Bacon
He's not doing well tonight.
Aku rasa dia membiarkan tubuhnya menjadi sak tinju untuk seseorang. Atau mungkin malah beberapa.
Jari Kyungsoo berputar pada gelas mocktail di depannya. Ia memutuskan untuk pergi ke Machine ketika Baekhyun menyampaikan pesan Chanyeol kepadanya. Kyungsoo tidak bisa mengingkari bahwa ia khawatir. Ia ingin melihat seberapa parah luka Jongin dan memastikan lelaki itu tetap dalam kondisi baik. Ia mengedarkan pandangannya ke tiap penjuru Machine namun tidak melihat Jongin di manapun. Kyungsoo membenarkan posisi duduknya saat Chanyeol mendekatinya dari balik meja bartender.
"Kamu baik-baik saja, Soo?" tanya Chanyeol. Ada nada cemas yang menggantung di suaranya, "Dia bahkan tidak mau berbicara padaku."
Kyungsoo berusaha tersenyum ke arah Chanyeol walaupun matanya terus mencari Jongin. Saat hampir putus asa, ia menangkap sesosok lelaki dalam balutan kemeja hitam sedang menyulut rokoknya.
Tulang punggung Kyungsoo berubah lemas saat melihat lelaki itu.
Luka di wajah Jongin lebih parah dari saat ia pertama bertemu dengannya. Ia bahkan bisa menangkap cara berjalan Jongin yang limbung. Kyungsoo menggigit bibirnya kuat. Ia mengalihkan pandangan saat Jongin menatapnya. Kyungsoo berpura-pura mengabaikan Jongin yang berjalan ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jongin saat sudah berada di sampingnya.
Kyungsoo menunduk. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Seluruh bagian hatinya sakit dipenuhi rasa rindu dan kecemasan yang meluap. Mengetahui kondisi Jongin yang seperti ini sama sekali tidak membantunya. Ia berusaha kuat untuk tidak memeluk lelaki itu, menciumi semua bagian tubuhnya, lalu meluruskan apapun yang menjadi masalah mereka saat ini.
Akan tetapi, Jongin sepertinya tidak ambil pusing soal apapun dibalik diamnya Kyungsoo saat ia berkata, "Apa kamu ingin melihat bagaimana seorang pelayan bekerja Mister Do?"
Oh. Enough of this shit.
Kyungsoo memukul meja bartender itu keras. Walaupun suara pukulannya tenggelam dengan Summer milik Calvin Harris yang sedang diputar.
"Aku khawatir. Okay? Tidak bisakah kamu bersikap sedikit lebih menghargai seseorang yang menaruh peduli padamu? Kamu bahkan tidak berbicara ke Chanyeol atau Sehun."
Jongin tergelak. Ia menampilkan seringai di bibirnya sebelum menjawab, "Aku bisa hidup sendiri. Itu adalah keahlian terbaikku."
Untuk kedua kalinya, Kyungsoo kembali tidak mengenali Jongin.
Ia tidak tahu siapa lelaki dengan mata merah yang sedang memandangnya. Ia tidak tahu siapa lelaki dengan seringai sarkastik di hadapannya.
Itu bukan mata yang sama saat Jongin mengucapkan kata manis setelah mengecup keningnya. Itu bukan senyum yang sama saat Jongin melihatnya melakukan tindakan bodoh.
"Who the fuck are you?" tanya Kyungsoo dengan nada sinis.
Ia bisa melihat kilat keterkejutan di mata Jongin saat ini. Namun, kilatan itu hanya bertahan sesaat.
"Ah... maybe i'm the real Kim Jongin. Mungkin seseorang yang kamu kenal kemarin hanya anak ingusan bodoh yang merasa hidupnya akan berubah baik-baik saja."
Kyungsoo menarik lengan Jongin.
"Listen, the real Kim. Jong. In. Kamu lebih baik ikut denganku. Luka itu tidak akan cepat sembuh jika kamu hanya membiarkannya saja."
Jongin menepis tangan Kyungsoo kasar.
"Aku sudah bilang aku tidak butuh siapapun."
Kyungsoo menggigit lidahnya agar tangisnya tidak pecah. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu menatap Jongin dengan tatapan sendu.
"Aku harap kamu masih mempunyai painkiller yang kuberikan padamu waktu itu."
Dengan setengah berlari, Kyungsoo mencari jalan keluar dari Machine.
"Just leave me alone for fuck's sake!" teriak Jongin marah ketika melihat punggung Kyungsoo yang makin menjauh.
Ia marah karena Kyungsoo masih peduli padanya.
Ia marah karena Kyungsoo masih bisa meretakkan benteng pertahanannya.
Ia marah karena tatapan terakhir Kyungsoo menyisakan perih di hatinya.
Ini benar-benar hari yang buruk untuk Kyungsoo. Pekerjaannya hari ini kacau, kepalanya terus-terusan nyeri. Beberapa Kitchen Assistants-nya menaruh simpati dan menyuruhnya segera istirahat. Kyungsoo ingat siang tadi ia bahkan kehilangan konsentrasi saat Minseok menjelaskan mengenai daftar menu yang baru. Ia sudah mencoba menguatkan pikirannya agar tetap fokus namun Minseok sepertinya tahu ada yang tidak beres. Minseok memandangnya khawatir, lelaki itu mengira jabatan barunyalah yang membuatnya terlihat seperti itu.
"Aku bisa menggantikanmu dulu, Soo. Kamu tahu itu sudah tugasku. Pergilah ke pantai atau gunung. Atau jika kamu tidak punya waktu, mungkin kamu bisa melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sebagian orang bilang itu bisa membuat perasaan membaik."
Kyungsoo hanya bisa tersenyum lalu berterimakasih ke Minseok.
Ia memegang kuat-kuat kemudi mobilnya karena pandangannya mulai kabur. Hujan hari itu dan air yang menggenang di matanya memperburuk penglihatannya.
Ia benci ingatannya yang terus memutar soal Jongin.
Kyungsoo tidak mengerti kenapa setelah semua yang terjadi, ia masih terus merindukan lelaki itu. Para pekerja otaknya seperti enggan menghapus Jongin dari kotanya. Ia merasakan Jongin masih memenuhi semua distriknya. Seperti penjajah yang tidak ingin pergi lalu mengklaim semua kepemilikan di dalam sana dan tanpa segan melebarkan kekuasaan karena para pekerjanya juga tidak berusaha melawan.
Stupid minions.
Kyungsoo menyalakan radionya keras-keras. Ia ingin semua yang ada di kepalanya teralihkan sekarang.
.
Have you no idea that you're in deep?
I dreamt about you nearly every night this week
How many secrets can you keep?
'Cause there's this tune I found that makes me think of you somehow and I play it on repeat
Until I fall asleep
Spilling drinks on my settee
.
"Oh, damn it!" Kyungsoo meninju radionya kuat.
Ia memandang radionya yang tetap geming dan terus melantunkan lagu yang seakan mengejeknya. Kyungsoo segera membelokkan mobilnya ke pinggir jalan saat air matanya mulai turun. Ia membenturkan kepalanya berkali-kali ke kemudi mobil itu.
.
Crawling back to you
.
Ever thought of calling when you've had a few?
'Cause I always do
Maybe I'm too busy being yours to fall for somebody new
Now I've thought it through
.
"Of course! I'm all yours. My whole body and heart are yours, prince."
Bullshit.
Lalu kenapa hanya dia yang merasakan sakit saat ini?
Kyungsoo menarik nafas panjang mencoba memasukan udara ke paru-parunya yang mulai sesak. Semua yang ada di sekitarnya terasa mengganggu saat ini. Ia tidak suka suara radionya yang sekarang terlalu keras. Atau betapa lelah tubuhnya entah karena pekerjaan, amarah, mungkin juga rindu. Atau gravitasi yang membuat pening di kepalanya makin menjadi.
Atau air mata yang merubah suaranya menjadi sesenggukan.
It hurts. A lot.
Perasaan tidak diinginkan oleh seseorang yang paling kamu pedulikan ternyata meremukkanmu pelan-pelan.
Mungkin Jongin benar.
Mungkin ia hanya butuh untuk tidak peduli lagi.
Lagipula, bukankah Jongin sendiri yang memintanya langsung kemarin?
"Just leave me alone for fuck's sake!"
Kata-kata itu menusuk telinga Kyungsoo lebih parah dari jarum manapun.
Ia mendongakkan kepalanya lalu melihat ke sekeliling. Kyungsoo memakirkan mobilnya dengan layak setelah menemukan restroom di dekat tempatnya berhenti. Ia segera menghapus air matanya dan melangkah keluar dari mobilnya. Namun, sebelum ia masuk ke restroom untuk membasuh wajahnya, satu tempat yang lain menarik matanya.
Ia tiba-tiba teringat saran Minseok siang tadi. Kyungsoo harus mengakui itu bukan ide yang buruk. Namun jika Kyungsoo ingin melakukan sesuatu yang berbeda, itu berarti ia harus mengubah sesuatu dari dirinya sendiri. Karena ia terlalu terencana. Seluruh hidupnya hanya seperti roda putar yang terlihat bergerak namun tidak berpindah.
Setelah menarik nafas beberapa kali, ia akhirnya memutuskan masuk ke tempat itu. Seorang wanita dengan rambut Pixie Cut segera menyambutnya.
"Good evening, mister. Apa yang bisa saya bantu untuk anda hari ini?" tanya wanita itu ramah.
Kyungsoo tersenyum kikuk, "Aku rasa aku ingin memotong rambutku."
"Oh, baiklah." Wanita itu membimbingnya untuk duduk di salah satu kursi. "Apa anda sudah memutuskan modelnya?"
Dalam kesehariannya yang biasa, Kyungsoo akan mengatakan Regular Short Cut. Namun tidak untuk kali ini. Saat ia memang ingin melakukan sesuatu yang berbeda untuk pertama kalinya, ia lebih baik tidak tanggung-tanggung.
"Ya. Undercut." Kyungsoo menarik nafas panjang lalu melanjutkan, "Dan aku rasa aku juga ingin mewarnainya."
Wanita itu mengangkat alisnya.
"Anda yakin? Saya rasa Jet Black sudah sangat cocok dengan anda." Saran wanita itu sambil mengambil beberapa peralatan di belakangnya.
"Ya. Aku yakin."
Setelah beberapa kali kembali meyakinkan Kyungsoo dan tidak berhasil, wanita itu akhirnya bertanya soal warna apa yang Kyungsoo inginkan.
Tanpa berpikir panjang, Kyungsoo menjawab, "Red."
Raut muka wanita itu berubah terkejut. Seakan menanyakan apakah Kyungsoo sedang bercanda atau tidak. Akan tetapi, kalimat terakhir Jongin dan semua beban masalahnya dalam beberapa hari terakhir seperti telah menumpulkan kewarasan Kyungsoo.
Oh, persetan dengan resiko.
Ia sudah tidak peduli dengan apapun saat ini.
Kyungsoo menatap pantulan matanya sendiri di cermin depannya lalu dengan tegas kembali menjawab, "Deep Red."
END OF CHAPTER 7 : URBAN
This chapter was supported by Arctic Monkeys. I really love their songs!
Sooo... dari sini Jongin balik lagi ke dark side-nya tapi lebih parah karena dia udah nggak ngandelin Sehun atau siapapun buat jadi tempat lari.
Emm, terus soal NC part. Sebagian bilang suruh ngebanyakin, sebagian bilang engga usah ada NC-nya. Aku jadi bingung, hahahaha. Tapi aku minta maaf banget, karena dari awal rate-nya udah M nanti pasti ada lagi adegan mature-nya. But i'm totally cool kalo kalian skip bagian itu. Serius :D
Di sini aku juga coba ngimbangin antara cerita sama bagian *ehem* nya, biar dapet aja sih feel-nya hahaha. Semoga kalian bersabar nunggunya yah :)
Terimakasih buat semua review, saran dan kritiknya. Aku nggak bosen-bosen ngingetin kalian buat ngasih tau aku gimana pendapat kalian soal cerita ini. Karena timbal balik adalah yang paling penting buat penulis, ehehehe.
Dan untuk pairing yang lain, kalian emang sengaja aku bikin penasaran. MUAHAHAHA. *ketawa jahat* Tenang aja, sidestory udah menunggu untuk salah satu pairing begitu cerita ini selesai. (Karena emang niat awalnya cuma slight! aja, cuma ternyata menarik buat diangkat dan kalian juga tertarik. Hahaha)
Oh iya, jadi gimana konfliknya? Ada yang udah nebak nggak sebelumnya kalau konfliknya ternyata soal ini? Udah ada yang kepikiran buat bunuh Sherr karena bikin Jongin jadi kaya gini?
BTW, KALIAN SENYUM SENYUM JUGA NGGAK DI CHAPTER INI? HEHEHEHE.
And feel free to ask me anything via PM, guys. *smooch*
KAISOO FTW!
-RedSherr88-
*to Nandita : Halo, soal Black Pearl sama 3.6.5 udah dijelasin yah di Author's Note Chapter 5. Please mind to check it. XOXO :)
