Each time that I think you go
I turn around and you're creeping in
And I let you under my skin
'Cause I love living in the sin

Boy you never told me
True love was going to hurt

— Ella Henderson - Ghost

.

.

Prenote : Paragraf bergaris miring merupakan cerita flashback. Enjoy! :)


"Appa," Jongin duduk di pinggir danau sambil memainkan kerikil di tangannya "kenapa seseorang harus memiliki batas usia?"

Ia masih mengenakan baju pemakaman lengkapnya yang sudah berantakan. Ayahnya menghela nafas lalu duduk di sebelah Jongin. Ia menarik bahu lelaki itu mendekat, mencoba mengusir kesedihan Jonginserta kesedihannya sendiri.

"Kamu ingin kita semua terus hidup, champ?"

Jongin mengerucutkan bibirnya. Dengan mata berkaca-kaca ia pun mengangguk. Ayah Jongin berusaha mencari jawaban yang tepat. Ia memandang ke arah anaknya yang sudah menginjak usia 18 tahun. Jongin sedang menapaki jenjang paling cemerlangnya. Ia baru saja memenangkan beberapa penghargaan pada bidang menari, buah dari latihan keras bertahun-tahun. Ayah Jongin tidak ingin kematian ibunya menyebabkan dampak yang terlalu buruk bagi Jongin.

"Karena ada bagian paling kompleks dalam tubuh manusia yang punya masa. Yaitu di sini," Ayah Jongin mengetukkan jarinya ke pelipis Jongin, "dan di sini." lalu ke dadanya.

Jongin menatap ayahnya, menanti penjelasan lebih lanjut.

"Otakmu punya tanggal kadaluarsa mulai dari memikirkan sampai menyimpan suatu hal. Sedangkan hatimu, dia punya rasa bosan." Tutur ayahnya, " Bayangkan jika kamu dilupakan sedangkan kamu masih ada, atau kamu sudah bosan karena telah melakukan semua hal yang ada di dunia. Hidupmu jadi tawar. Tidak berasa. Tidak berharga." Ayah Jongin berusaha tertawa, "Dan bukankah dunia berubah sempit jika semua manusia terus menambah natalitas tanpa mortalitas?"

Jongin menunduk karena menemukan kebenaran di kalimat ayahnya. "Kalau begitu aku hanya ingin Umma saja yang terus hidup."

Ayah Jongin tersenyum tipis lalu memeluk anaknya erat. "Jika begitu, semua orang akan iri padamu. Mereka akan meminta permintaan yang sama."

Jongin membalas pelukan itu lalu mulai menangis di bahu ayahnya.

"Hey, champ. Apa hidup berdua denganku begitu menyedihkan untuk dibayangkan?"

Jongin mendongak. Ia menatap ayahnya yang terlihat sedang menyembunyikan dukanya sendiri.

"Tidak, Appa. Hanya-"

"Kalau begitu berhentilah menangis. Kamu masih punya Appa."

"Ya. Aku masih punya Appa."

Namun ayahnya tau, mereka sama-sama tahu, bahwa Jongin tidak bisa melupakan kesedihannya semudah itu.


Beberapa minggu setelah itu, ayah Jongin menemukan anaknya dengan cedera di ankle kanan. Jongin kesulitan untuk berjalan ke meja makan sendiri. Saat ayahnya menanyakan apa penyebabnya, Jongin hanya bilang itu merupakan kecelakaan biasa saat ia berlatih. Namun, kebiasaan itu menjadi makin sering. Tidak hanya itu, Jongin juga mulai melarikan diri dari rumah. Hingga suatu saat ketika Jongin akhirnya pulang-setelah tiga hari menghilang dan hanya meninggalkan pesan singkat ia melihat lebam kebiruan di dada serta pipi kanan Jongin. Ayahnya mencium sesuatu yang janggal. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk berusaha lebih lama menghabiskan waktu di rumah.

"Apa kamu terlibat cinta segitiga?" tanyanya dengan nada bercanda.

Jongin tergelak. "Oh, ayolah Appa aku tidak sebodoh itu."

"Saat kamu menghilang, dua orang lelaki datang kesini menanyakanmu secara bergantian. Apa kamu sedang menjadi playboy sekarang?"

"No! Itu Sehun dan Yixing, teman dan pelatihku dari akademi tari."

Ayahnya hanya mengangkat bahu, "Baiklah. Entah itu benar atau tidak, Appa akan membiarkanmu karena kamu masih muda. Orientasi seksualmu yang melenceng sudah cukup merepotkanku."

"Tenanglah, Appa. Aku tidak ada hubungan spesial yang serius dengan siapapun. Lagipula aku masih ingin bermain-main."

"Ah, lalu kapan kamu akan berhenti?"

"Entah. Bagaimana aku tahu kapan harus berhenti?"

"Saat kamu menemukan seseorang yang bisa mengobrak-abrik isi kepalamu hanya lewat mata."

Jongin tertawa dengan nada geli. "Konyol."

"Oh, kamu memang akan bertindak konyol saat itu terjadi."

Ayah Jongin melihat anaknya yang masih tersenyum. Jongin adalah anak yang sulit diatur, ia tahu betul kesamaan watak yang mereka miliki. Namun ayahnya juga tahu, bahwa Jongin mempunyai hati yang lembut seperti ibunya. Ia terus berdoa semoga siapapun yang menjadi pasangan Jongin nantinya dapat mencintai kedua sisi Jongin tanpa mengeluh. Karena itu yang telah dilakukan ibu Jongin kepada anak mereka dan dirinya sendiri selama lebih dari dua puluh tahun ini.

Tidak ada perasaan yang lebih hangat daripada tahu bahwa kita mempunyai seseorang untuk dicintai dan yang mencintai.

"Hey, champ. Dengarkan Appa baik-baik." Jongin mengalihkan mata ke ayahnya yang sedang tersenyum. Pandangan ayahnya berubah lembut saat menatapnya. Dan kalimat yang ayahnya ucapkan berikutnya, merupakan kalimat yang tertanam paling dalam di ingatan Jongin.

"Ketika nanti dunia mulai kejam, jatuh cintalah."


Universe is a bitch.

Jongin tidak ingat kapan terakhir ia makan. Atau berapa jam dalam sehari ia tidur. Karena biaya rumah sakit yang meledak, ia akhirnya juga mengambil pekerjaan pada shift pagi. Saat ini, Jongin merasakan rasa mual naik dari perut ke kerongkongannya. Ia memegang bakinya erat-erat. Luka baru yang ditimbulkan akibat tindakan nekatnya kemarin malammelempar kaleng bir kosong pada dua lelaki yang sedang berjalan santai juga menyebabkan seluruh badannya nyeri. Keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya, namun ia tetap memaksakan untuk berjalan.

"Oh, my God. You're pale as crap."

Chanyeol buru-buru keluar dari meja bartender dan menangkap tubuh Jongin. Ia bisa merasakan suhu badan Jongin yang jauh di atas normal.

"I'm okay. Don't mind me."

"Berhentilah bersikap keras kepala. Kamu harus pulang."

"I'm okay, Chanyeol." Dengan seluruh tenaga yang ada Jongin melepaskan genggaman Chanyeol. "Just... don't give a shit."

Chanyeol yang kehilangan kesabaran segera menarik Jongin ke sofa yang paling dekat.

"That's it young man! I'm calling Sehun to pick you up."

Jongin menarik nafas dalam-dalam. Matanya terasa panas dan paru-parunya seperti kehabisan udara.

Ini tidak berhasil.

Usahanya untuk lari dari siapapun kali ini tidak semudah yang ia bayangkan.

Saat ia merasakan lengan Sehun membantunya berdiri, Jongin tidak lagi punya cukup energi untuk memberontak.

"Aku sudah tidak bisa berkata apapun kali ini, Jongin. Kamu benar-benar melampaui batas."

Lelaki itu membaringkan Jongin ke tempat tidur saat mereka sampai di rumahnya. Jongin menutup mata dengan lengannya. Ia hanya menyeringai tipis.

"Aku ingin membongkar kepalamu dan mencari tahu kabel mana yang membuat jalan pikiranmu sekacau ini."

Sehun memperhatikan nafas Jongin yang tidak teratur. Ia mendesah melihat keadaan Jongin yang seperti itu. "Aku akan memanggil Kyungsoo."

Mendengarnya, Jongin langsung menarik tangan Sehun. "Jangan. Kumohon jangan."

Jongin mencoba duduk di tempat tidurnya, mengabaikan kepalanya yang terus berdenyut. "Aku hanya butuh istirahat. Pergilah."

"Kamu benar-benar tidak ingin menceritakan apapun padaku?"

"Sehun, kenapa pula kamu harus peduli? Kamu tidak berhutang apapun padaku. Just go."

Lelaki itu bangkit dari sisi Jongin, ia menahan amarah yang sudah naik sampai ke ubun-ubunnya.

"Itu bernama simpati, Jongin. Dan kata yang kamu ucapkan setelah kamu mendapat bantuan adalah terimakasih." Sehun menarik nafas sejenak, "Tapi jika memang itu maumu. Baiklah. Aku pergi sekarang."

Jongin menatap punggung Sehun yang menjauh. Ia kembali merebahkan dirinya dalam posisi melingkar. Semua di sekitarnya terasa berputar. Jongin mencoba melupakan semua masalah yang ada di kepalanya saat ini. Dalam heningnya ruangan itu, ia menggumamkan sebuah lagu yang biasa Kyungsoo nyanyikan di percakapan telepon mereka sampai ia tertidur.

And the soles of your shoes are all worn down
The time for sleep is now
It's nothing to cry about
'Cause we'll hold each other soon
In the blackest of rooms

Malam itu, Jongin tidak bisa menghindari rasa rindunya ke Kyungsoo.


"Hey, red hottie."

"Shut up, Lu. Ini sudah lebih dari seminggu dan kamu belum juga mengganti leluconmu."

Luhan tergelak. Ia mengikuti Kyungsoo yang sedang mengecek pengadaan bahan baku di storage Black Pearl.

"Itu karena kamu belum memberi tahuku setan mana yang merasuki otakmu sampai kamu berbuat senekat ini."

Luhan harus mengakui, penampilan baru Kyungsoo membuat hampir seluruh Chef di tempat itu tidak berhenti membicarakannya. Bukan dalam artian buruk, justru semua Chef menyadari bahwa Kyungsoo punya paras yang mungkin bisa menembus industri hiburan Korea.

"Tidak bisakah kamu melihat aku sedang sibuk sekarang?" tukas Kyungsoo datar.

Luhan mengerucutkan bibirnya. Ia memperhatikan Kyungsoo yang masih dalam pengaruh mood buruk. Tidak hanya saat bekerja, bahkan ketika Kyungsoo berkumpul bersama Luhan, Baekhyun ataupun Tao, lelaki itu menjadi jarang bicara. Luhan mengambil kesimpulan bahwa Kyungsoo masih belum menyelesaikan masalahnya dengan Jongin.

Tiba-tiba, hal itu mengingatkan Luhan akan sesuatu "Oh, Sehun bilang Jongin sedang demam." Luhan memperhatikan punggung Kyungsoo yang menegak, "Ia bahkan hampir ambruk saat sedang di Machine."

Kyungsoo menghentikan pekerjaannya. Ia memainkan pulpen di tangannya, menahan mati-matian rasa penasaran di dalam kepalanya. "So?"

"Entahlah. Aku kira kamu hanya butuh tau." Jawab Luhan ringan.

Dengan pikiran yang mendadak kalut, Kyungsoo kembali menghitung beberapa persediaan yang tadi ia lewatkan. "Dia menyuruhku untuk tidak peduli."

"Ah, lalu kamu menelannya mentah-mentah." Luhan berdiri di depan Kyungsoo agar lelaki itu mau menatapnya. "Kalian harus menyelesaikan masalah ini baik-baik, Soo. Aku bicara sebagai Hyung-mu, well walaupun kamu tidak pernah mengakui itu."

Kyungsoo mendorong bahu Luhan pelan lalu berjalan melewatinya. "Lu, kamu mengacaukan konsentrasiku. Bisakah kamu merekap kembali menu baru yang Minseok kerjakan kemarin?"

Luhan berdesis mendengar jawaban Kyungsoo. Ia hanya mengangkat bahu dan meninggalkan Kyungsoo yang masih berkeliling.

Namun, kepergian Luhan tidak mengembalikan konsentrasinya. Kepala Kyungsoo telah terdistraksi secara sempurna. Ia terus memikirkan tindakan bodoh apa yang Jongin lakukan sampai jatuh sakit. Kyungsoo berkali-kali meyakinkan dirinya untuk tidak peduli. Akan tetapi, bayangan Jongin terus menariknya kembali.

"Oh, shit! You're the stupidest person alive, Do Kyungsoo. Stupid, idiot, and brainless."

Ia mengutuk kebodohannya tanpa henti saat tangannya meraih kunci mobil di saku celananya.


Dengan langkah goyahdan pikiran heran Jongin membuka pintu depan rumahnya. Ia tidak tahu siapa yang akan mengunjunginya selain Sehun saat ini. Rasa penasarannya makin bertambah ketika ia menemukan seorang kurir berseragam sedang berdiri di sana.

"Pesanan untuk Kim Jongin."

Jongin mengerutkan dahinya, "Maaf, saya rasa saya tidak memesan apapun."

"Oh, ini semua sudah dibayar dan saya diminta untuk memastikan anda akan menerimanya."

Jongin hanya mengucapkan terimakasih sambil meraih kantong dari kurir itu. Ia segera membuka kantong yang ternyata berisi semangkuk bubur, sup yang masih hangat, obat penurun demam, dan sebuah pesan dengan tulisan tangan yang sedikit bengkok.

DON'T THINK. JUST EAT. PLEASE.

Jongin menarik kursi meja makannya sambil terus membaca pesan itu berulang-ulang. Ia jelas tahu siapa pengirimnya. Hatinya tiba-tiba diliputi rasa bersalah.

Jongin tidak seharusnya bersikap kasar.

Karena ia tidak marah dengan Kyungsoo.

Ia marah terhadap dirinya sendiri.


"Hey, gorgeous."

Seorang wanita dengan rambut sebahu mendekati Jongin. Ia mengenakan riasan tipis, atasan berwarna pastel, serta rok selutut dengan warna senada yang membungkus kulit putihnya.

"Kamu sedang berbicara padaku?" tanya Jongin heran.

Wanita itu tergelak dengan nada geli, "Ya. Apa kamu lihat seseorang yang lebih menarik di sekitar sini selain kamu sekarang?"

Jongin tidak menjawab. Ia hanya melemparkan tatapan bingung ke arah wanita itu. Setelah beristirahat selama dua hari, Jongin akhirnya kembali bekerja malam itu. Ia merasakan kesehatannya sudah membaik walaupun beberapa luka di wajahnya masih meninggalkan bekas. Ia tidak mengerti kenapa wanita itu bisa tertarik padanya saat lebam di pipi dan mata kanannya belum hilang.

"Aku sering melihatmu. Tapi aku tidak berani untuk memulai percakapan."

Jongin tertawa sinis, "Kamu tidak berani memulai percakapan dengan pelayan bar?"

Wanita itu mengangguk, "Tentu saja tidak jika pelayan itu semenarik kamu."

"Look." Jongin membuang nafas panjang. "Aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan atau bermain-main saat ini. Aku punya kesibukan lain yang lebih menghasilkan."

Wanita itu berjalan mendekati Jongin, "Bagaimana jika bermain-main denganku membuatmu punya penghasilan?"

"Apa yang kamu maksud?"

"Kamu tahu jelas apa yang aku maksud." Bisik wanita itu di telinganya.

Jongin mendengus, ia bergerak menjauh tanpa mengucapkan apapun ke wanita itu. Namun, ia teringat beberapa tagihan rumah sakit yang menunggu untuk dibayar. Ia berdecak karena frustasi. Jongin akhirnya kembali berbalik dan melihat wanita itu masih memandangnya.

"Berapa yang bisa kamu berikan?"

Wanita itu tertawa menyadari kemenangannya, "Money isn't my issue, honey. Sebut dan kamu akan dapatkan jika itu masih masuk akal."

"Baiklah, aku selesai bekerja dua jam lagi. Bisakah kamu menunggu, errr..."

"Jinri."

"Oke, Jinri. Bisakah kamu menunggu?"

Jongin dapat melihat kepuasan di mata wanita itu saat ia menjawab, "Tentu. Apapun untukmu, gorgeous."


Kyungsoo tidak mengerti apa yang membuatnya menjadi pusat perhatian di Machine malam itu. Dan ia sedang tidak ingin memikirkan beberapa wanita yang melirik ke arahnya dengan senyum genit. Satu-satunya yang ada di kepala Kyungsoo saat ini adalah kecemburuan yang membabi buta.

"Wow. Apa warna rambut barumu terinspirasi olehku?" kelakar Chanyeol yang mencoba mencairkan suasana. Chanyeol bisa menebak bahwa Baekhyun pasti memberi tahu Kyungsoo mengenai kejadian yang ia lihat kemarin malam.

Kyungsoo hanya tersenyum pendek. Dadanya penuh gemuruh dan ia menjadi sulit berpikir.

"Kamu ingin memesan sesuatu?" tanya Chanyeol kembali saat usahanya tidak berhasil.

"Mungkin nanti, Chanyeol. Aku sedang tidak tertarik dengan apapun sekarang."

Di tengah keramaian dan cahaya yang redup, Jongin dapat menangkap seseorang berambut merah sedang bercakap dengan Chanyeol. Kepalanya hampir terantuk saat lelaki berambut merah itu menoleh menampakkan wajahnya. Dengan sedikit terburu-buru, ia mendekat untuk memastikan pandangannya tidak salah.

Dan ia berhenti bernafas saat mata Kyungsoo bertemu dengan matanya.

Rasa rindu yang menjalar seperti menghancurkan tulang kaki Jongin. Lelaki yang sedang menatapnya tampak lebih tegas dengan penampilan itu. Ia mengenakan sweater hitam berlengan panjang yang tampak kontras dengan warna rambutnya. Bibir Kyungsoo menampilkan garis tipis yang tidak pernah Jongin lihat sebelumnya. Ia bahkan bisa menangkap kilat kemarahan dalam mata Kyungsoo sekarang.

"Ah, Mister Do. Apa yang membawa anda kesini hari ini?" tanya Jongin saat ia mengambil salah satu pesanan dari meja bartender. Jongin berusaha menyembunyikan rindu yang berdentum dalam dadanya saat lengan mereka tidak sengaja bersentuhan.

"Get drunk." Jawab Kyungsoo singkat.

Jongin mengangkat alisnya sambil tertawa, "Aku bahkan tidak melihat gelas alkohol di depanmu."

"Oh, aku baru saja ingin memulainya." Kyungsoo menyeringai sinis, "Chanyeol, Scotch. Double. Neat."

Merasakan ketegangan di antara Kyungsoo dan Jongin, Chanyeol tidak menjawab apapun. Ia segera menyodorkan rock glass berisi pesanan Kyungsoo.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari Jongin, Kyungsoo meminumnya dalam beberapa kali teguk. Ia mengabaikan rasa terbakar di kerongkongannya karena mata Jongin yang melebar dalam keterkejutan membuatnya puas.

"More." Perintah Kyungsoo. Ia kembali melakukan skenario yang sama saat Chanyeol menyodorkan gelas kedua.

"Mo-"

Jongin merebut gelas dari tangan Kyungsoo lalu menatap lelaki itu tajam, "Apa kamu sadar apa yang sedang kamu lakukan?"

"Oh tentu, the real Kim Jongin. I'm the real Do Kyungsoo. Seseorang tidak peduli soal resiko sebelum melakukan sesuatu. Bukankah menyenangkan saat aku tidak peduli dengan apapun termasuk dirimu?"

Jongin tahu ia tidak berhak marah saat Kyungsoo mengatakan itu. Karena itu memang yang ia inginkan.

"Enjoy your night, then." Tutup Jongin sambil berlalu. Ia meredam rasa khawatirnya ketika melirik Kyungsoo yang kembali meneguk Scotch-nya.

Kyungsoo terus memesan minuman yang sama walaupun Chanyeol sudah memperingatkannya untuk berhenti. Meski berpura-pura tak acuh, Jongin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo sekalipun. Ia melihat mata lelaki itu mulai memerah dan genggaman di rock glass-nya makin melemah.

Saat Chanyeol meneriakkan last call dari meja bartender, Kyungsoo sudah sepenuhnya mabuk.

"Aku akan memanggil taksi. Dia tidak boleh menyetir sendiri pada kondisi seperti ini." Desah Chanyeol cemas ketika Jongin mendekat.

Jongin memperhatikan Kyungsoo yang menyandarkan kepalanya di meja. Ia menggigit bibir menyadari banyaknya kemungkinan buruk jika Kyungsoo pulang dengan taksi.

"Tidak perlu, Chanyeol. Aku akan mengantarkannya."

Chanyeol hanya mengeluarkan nafas panjang. Ia akhirnya membantu Jongin mengangkat Kyungsoo ke mobilnya.

"Thanks, Yeol." Ucap Jongin. Ia buru-buru membuka pintu mobil Kyungsoo saat menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Chanyeol tersenyum lebar, "It's okay, Jongin. Jangan mau kalah dengan alter ego-mu. Kamu tahu mana yang lebih baik."

Seperti tidak mendengar apapun, Jongin menyalakan mobil Kyungsoo tanpa menjawab.


Jongin berusaha mencari kunci rumah Kyungsoo di kantong celana lelaki itu. Kyungsoo terkikik geli, ia menggumamkan beberapa kalimat umpatan yang tidak terdengar jelas.

Jongin membuka pintu depan rumah Kyungsoo dan menuntun lelaki itu berjalan masuk. Kyungsoo segera merebahkan dirinya di tempat tidur begitu mereka berada di kamar. Jongin duduk di tepi tempat tidur itu lalu melepas sepatu Kyungsoo. Ia dapat merasakan mata Kyungsoo yang tidak lepas dari dirinya.

"Get some sleep." Bisik Jongin sambil mengacak rambut Kyungsoo.

Namun dengan seluruh tenaga yang ada, Kyungsoo menarik ujung baju Jongin. Lelaki itu berbalik dalam diam melihat Kyungsoo yang telah memasang tatapan tajam. Tiba-tiba, Kyungsoo berdiri lalu mencium bibir Jongin kasar. Tangannya menangkup rahang Jongin kuat agar lelaki itu tidak melepaskan ciumannya. Tetapi, Jongin justru membalas ciuman Kyungsoo dengan sama kasarnya.

Jari Kyungsoo berkelana meraba dada, pinggang sampai punggung Jongin sebelum bibirnya turun ke leher.

Jongin mendesah. Ia ingin menghentikan ini. Tapi semua bagian tubuhnya merindukan Kyungsoo. Lelaki itu telah mengelabuhi seluruh pekerja otaknya dan berhasil menemukan celah di benteng pertahanannya. Tangan Kyungsoo kini bekerja membuka celana jeans Jongin. Ia mendorong Jongin ke tempat tidur lalu berlutut di hadapan Jongin.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jongin panik saat Kyungsoo berhasil membuka seluruh celananya.

Lelaki itu tidak menjawab. Mata Jongin membesar saat bibir Kyungsoo mulai menyentuh miliknya.

"Soo. Stop."

Jongin mendorong bahu Kyungsoo untuk menjauh. Namun lelaki itu menepis tangannya. Ia mulai memasukkan milik Jongin ke dalam mulutnya.

Jongin melenguh merasakan tubuhnya berubah lemas karena gairah. Ia mendesahkan nama Kyungsoo saat lelaki itu mulai memainkan lidahnya. Jongin mencengkram sisi tempat tidur itu, menikmati tiap gerakan Kyungsoo yang membuatnya bergetar.

Sambil terus mengulum milik Jongin, Kyungsoo mendaratkan pandangannya ke lelaki itu, mencoba meraup banyak-banyak ekspresi kenikmatan di wajah Jongin.

"Kyungsoo, please stop."

Akan tetapi gerakan Kyungsoo makin liar. Jongin kembali mendesah saat melihat bibir lelaki di antara kedua kakinya berubah merah. Ini adalah pertama kali Kyungsoo melakukannya selama hubungan mereka. Biasanya, Jongin selalu mengambil alih dan hampir tidak mengijinkan Kyungsoo melakukan apapun.

And damn, he's really good at it.

Jongin menatap miliknya sendiri yang masih keluar masuk dari mulut Kyungsoo. Lelaki itu tidak membuang pandangannya sekalipun dari Jongin. Semua sistem otak Jongin seperti berhenti bekerja ketika ia merasakan sesuatu mendesak keluar.

"Soo... lepaskan sekarang juga."

Kyungsoo tetap geming, ia menghisap milik Jongin kuat-kuat, memainkan lidahnya dalam gerakan memutar di ujung milik Jongin. Dan terus melakukannya hingga Jongin menggaungkan namanya ke seluruh ruangan itu. Kyungsoo merasakan rasa hangat memenuhi mulutnya. Ia segera menelan semua cairan Jongin lalu menjilati sisa-sisa cairan yang tersisa.

Dengan kaki yang masih lemas karena pengaruh alkohol, Kyungsoo mencoba berdiri. Ia kembali merasakan kemarahan yang mendorongnya datang ke Machinedan berani melakukan tindakan nekat barusan. Kyungsoo melebarkan kakinya di pangkuan Jongin, ia menggigit bibir lelaki itu kuat sampai Jongin mengerang kesakitan.

"Kamu pergi bersama wanita." Bisik Kyungsoo lirih.

Jongin tercekat ketika mengetahui alasan dibalik kemarahan Kyungsoo.

"Chanyeol melihatmu pergi bersama wanita." Lanjut Kyungsoo sambil menanamkan ciuman di dagu Jongin, lalu ke garis rahangnya. Jongin belum sempat menjawab saat lidah Kyungsoo bermain di ujung bibirnya.

"Apa kamu sudah melupakanku?"

Kyungsoo membuka kancing kemeja Jongin dengan tergesa. Ia menggigit bibir karena merasakan suaranya yang mulai parau.

"Apa wanita itu bisa memasak makanan kesukaanmu?"

Jongin menegakkan punggungnya. Ia harus membuat Kyungsoo berhenti sebelum akal sehatnya sendiri kalah dengan nafsu. Jongin tidak ingin mengambil kesempatan saat Kyungsoo berada dalam kondisi seperti ini. Namun, Kyungsoo justru menghisap leher Jongin kuat-kuat.

"Oh, Soo."

Kyungsoo tersenyum pahit, "Apa wanita itu juga membuatmu meneriakkan namanya berkali-kali saat kalian sedang bercinta?"

Jongin merasakan bibir Kyungsoo kembali memagut bibirnya dengan kasar. Tetapi, ciuman itu berubah menjadi basah. Terlalu basah untuk sebuah ciuman yang seharusnya. Jongin segera menarik dirinya menjauh dan melihat lelaki itu telah berurai air mata.

"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Jongin?" tanya Kyungsoo yang mulai sesenggukan.

Hati Jongin berdenyut sakit saat melihat apa yang ada di hadapannya.

No.

This is bad.

Please don't cry.

"Apa aku terlalu mudah untuk ditinggalkan?" tanya lelaki itu lagi di tengah tangisnya.

No.

Please. Fucking. Don't.

Pertahanan Jongin runtuh ketika Kyungsoo terisak di dadanya. Lelaki itu berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama sambil menarik kerah kemeja Jongin.

Ia kalah.

Jongin jelas tahu ia kalah dalam usaha apapun untuk melawan Kyungsoo.

Ia meraih kedua pergelangan tangan Kyungsoo dengan cepat ketika lelaki itu mulai menjerit.

"Soo, get a grip. Look at me." Jongin berusaha menangkap mata Kyungsoo walaupun lelaki itu terus menunduk.

"Baby, prince, please, please, look at me."

Saat mendengarnya, bara dalam dada Kyungsoo meredup. Ia menarik nafas panjang, mencoba menghentikan tangisnya, lalu menatap Jongin.

"Aku tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu, aku bersumpah." Jongin menghapus air mata yang tersisa pipi Kyungsoo. "Aku memang hampir melakukan tindakan bodoh. Tapi semua yang ada di kepalaku hanya kamu, Soo."

Kyungsoo masih memandang Jongin, menanti lelaki itu mengucapkan lebih banyak kata yang membuatnya tahu bahwa ia masih punya arti.

"Aku minta maaf bersikap kasar padamu. Itu hanya perlawanan agar kamu menjauh. Pada kenyataannya, semua kesalahan ada di aku. Satu-satunya yang membuatku marah padamu adalah karena kamu terlalu sempurna untuk seseorang sepertiku."

Kyungsoo tidak bisa menahan air matanya lagi.

Ia kembali menemukan Jongin yang dulu.

Ia kembali menemukan Jongin yang mengganggunya tengah malam karena rindu. Jongin yang terus membisikkan kata pujian ke telinganya. Jongin yang berhasil mengalahkan rasa kantuknya hanya lewat telepon.

Ia kembali menemukan Jongin yang membuatnya jatuh cinta.

Kyungsoo membenamkan wajahnya ke dada lelaki itu dan memukul Jongin berkali-kali.

"I'm in love with you, you stupid jerk." Sebuah perasaan lega membanjiri dada Kyungsoo saat ia akhirnya berhasil mengungkapkan itu. "I'm desperately in love with you, it hurts."

Jongin menghela nafas, ia memeluk lelaki di pangkuannya lalu mengecup puncak kepala Kyungsoo. "Soo, aku tidak pantas untukmu."

Kyungsoo segera mendongak, "Kenapa kamu yang menentukan siapa yang pantas untukku? Aku lebih mengetahui diriku sendiri."

"Baby," Jongin meraih kedua tangan Kyungsoo lalu mencium punggung tangannya. "i am such a mess. Aku mohon, kamu harus membuka matamu untuk seseorang yang lebih baik dariku."

Kyungsoo segera menarik tangannya lalu memandang Jongin marah, "Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya jika aku sudah menemukan semuanya di kamu?"

Ia menangkup rahang Jongin, berharap lelaki itu dapat menyelami matanya, "Jongin, dengar. Aku mencintai kekacauanmu, aku mencintai sisi manismu, aku mencintai bagaimanapun adanya kamu. Apakah kamu tidak melihatnya?"

Mereka bertatapan lama dalam hening. Jongin menguatkan dirinya, berpura-pura kalimat itu tidak mempengaruhi percepatan detak jantungnya. Seluruh pertahanannya telah luluh lantak saat ini.

"Aku harus pergi."

Ia mengangkat Kyungsoo perlahan dari pangkuannya lalu berjalan menjauh. Kyungsoo menunduk memandang kepalan tangannya yang memutih karena ia mencengkram celananya terlalu kuat.

"Jika kamu pergi sekarang, berarti kamu tidak merasakan hal yang sama denganku."

Kyungsoo mendengar sebuah nafas berat yang seperti ingin bicara. Namun, ia harus kembali menelan kekecewaan ketika pintu kamar itu ditutup.


"Hei, Soojung. Apa kamu masih ingat dengan Jongin?"

Wanita berambut panjang di sebelah Jinri segera menoleh cepat, "The super hot waiter yang kamu incar sedari dulu?"

Jinri mengangguk. "Ya. Aku hampir mendapatkannya kemarin."

"Benarkah? Lalu kenapa itu hanya menjadi hampir?"

"Kamu tidak akan percaya alasannya." Jinri tertawa mengingat kejadian dua malam lalu.

Jinri mendekatkan badannya ke Jongin saat mereka sampai di mobil. Ia sudah menunggu ini sejak lama. Jinri menyesal kenapa ia tidak memulai percakapan dengan Jongin dari dulu. Tanpa pikir panjang, ia mencium bibir lelaki itu. Lalu dengan gerakan perlahan, ia mulai memagutnya lembut. Jongin membalas tidak lama kemudian. Jinri meraih tengkuk Jongin untuk memperdalam ciuman mereka. Namun, tiba-tiba Jongin mendorongnya menjauh.

"Jinri aku minta maaf." Jinri dapat mendengar nafas Jongin yang memburu. "Tapi aku ternyata tidak bisa melakukan ini. Aku benar-benar minta maaf telah membuang-buang waktumu."

Ia bersandar di kursinya sambil memperhatikan Jongin yang tampak bersalah. Jongin terus menunduk tanpa berani menatapnya. Entah kenapa, Jinri justru ingin tersenyum walaupun ia merasa sedikit kecewa. Ia tidak tahu jika Jongin ternyata memiliki sisi manis dibalik sosok yang selalu terlihat kuat.

"Tidak apa-apa, Jongin. Mungkin aku memang kurang menarik bagimu. Lagip-"

"No!" potong Jongin cepat, "Kamu menarik. Sungguh, aku tidak bohong. Bukan itu yang menjadi masalahku."

Dahi Jinri berkerut, "Lalu?"

Jongin mengehela nafas panjang, "Saat ini, di kepalaku, ada seseorang yang enggan memberikan sedikit ruangpun untuk kamu. Atau mungkin siapapun."

Jinri mendengarkan dalam diam.

"Entahlah..." Jongin berhenti sejenak lalu tersenyum seperti orang bodoh. "Itu mungkin terdengar konyol. Tapi aku rasa, aku hanya sedang jatuh cinta."

"Oh, Tuhan." Desah Jinri tidak percaya. "Mendengarmu berkata seperti seseorang itu lebih berharga dari apapun membuatku langsung patah hati."

Jongin menggumamkan kata maaf sekali lagi.

Namun Jinri tetap tersenyum, "Tapi jika itu alasanmu, aku tidak bisa mengganggu." Ia berdesis sambil mengerucutkan bibirnya, "Aish, wanita itu sangat beruntung bisa membuatmu jatuh, Jongin."

Jongin tertawa saat mendengarnya."Kamu salah. Aku rasa, justru aku yang beruntung bisa diberikan kesempatan untuk jatuh cinta padanya."

"Oh, kamu melakukannya lagi. Jangan membuatku terlalu patah hati dengan kata-kata manismu." Sahut Jinri dengan nada bercanda.

"Ah, baiklah. Aku akan mengatakan sesuatu yang sedikit mengurangi rasa patah hatimu."

Jinri menoleh ke arah Jongin dengan penasaran, "Apa?"

"Ada alasan lain kenapa aku tidak tertarik padamu. Karena seseorang yang aku maksud adalah lelaki."


END OF PART 8 : CAPITAL


*sebar cinta ke kolom review*

Aku bener-bener suka baca review kalian, hahaha. Itu ningkatin mood banget di tengah tugas kuliah yang padet akhir-akhir ini.

Iya bener banget! Siapa sih yang nggak suka sama rambut merahnya Kyungsoo yang di undercut kaya pas di Growl era? Aku bener-bener nggak sabar nunggu mereka comeback. Apalagi karena udah jarang liat Kaisoo barengan :(

Aku nggak bakal stop FF ini di tengah jalan kok, kalo review kalian nyemangatin terus kaya gini. Hehehehe.

So, gimana menurut kalian soal chapter ini? Masihkah pada cekat-cekit hatinya, gemes, jengkel, nyesek atau tetep mau kitik-kitik pake samurai? Aku bahagia deh bikin kalian bisa ikut larut di tulisanku. Maafin kalo scene NC-nya cuma begitu doang. Sabar, nanti pasti ada lagi :p (BUNUH AJA AUTHOR MESUM INI, GUYS)

Aku belum bisa mastiin berapa chapter lagi sebelum menuju tamat. Eh, apa kalian udah mau buru-buru tamat?

Btw, jangan lupa kritik, saran dan review-nya lagi because i love your appreciation so damn much!

KAISOO FTW!

-RedSherr88-