Love when you can, cry when you have to,
Be who you must, that's a part of the plan
Await your arrival with simple survival,
And one day we'll all understand
— Dan Fogelberg - Part Of The Plan
It is the same gloomy Tuesday for Jongin.
Seperti sebuah Déjà vu, ia kembali pada titik dimana dunia yang dipijaknya tak lagi berharga.
Kenapa semesta harus memilih hari yang sama?
Apa ini sebuah ejekan baginya?
Jongin memandang langit yang berwarna abu-abu gelap. Ia tertawa karena menyadari mungkin itu simpati dari alam untuk dirinya. Tapi, ia tidak butuh simpati. Ia tidak butuh kata-kata belasungkawa yang makin menyayat hati. Satu-satunya yang ia inginkan adalah ayahnya kembali.
Semuanya berlangsung cepat seperti kilatan petir di kepalanya. Jongin masih ingat berlari di lorong rumah sakit seperti orang gila saat sebuah panggilan darurat menghancurkan paginya. Ia masih ingat bagaimana ia berlutut memohon agar dokter menyelamatkan nyawa ayahnya. Ia masih ingat rasa getir di dalam doanya yang merapalkan sebuah permintaan tanpa henti.
Namun, semuanya sia-sia saat Elektrokardiograf yang terhubung dengan nadi ayahnya menampilkan garis lurus.
Jongin merasa sebagian jiwanya ikut melayang entah kemana saat itu.
Ia benci melihat batu nisan dengan warna yang terlalu pucat di dekat kakinya. Jongin ingin mencampurkan semua warna dalam nisan itu, agar seluruh dunia tahu seseorang yang terkubur di dalam sana adalah pelukis hidupnya.
Bibi Jongin mendekat mencoba menenangkannya. Mungkin dengan sedikit bertanya-tanya mengapa ia tidak melihat satu tetespun air mata di pipi Jongin.
"Kamu bisa tinggal denganku untuk sementara."
Jongin mendengus. Kalimat itu terdengar seperti lelucon baginya. Bukankah selama ini dia juga bisa mengurus dirinya sendiri?
"It's fine. I'm okay."
No. He's not.
Ia bahkan tidak ingin pulang ke rumahnya saat ini. Ketika orang-orang di pemakaman itu menghampirinya untuk menyampaikan rasa duka, Jongin menolak dengan halus. Ia justru ingin semua orang-yang bahkan hanya beberapa saja yang ia kenal segera menghilang dari sini.
Bibinya menarik bahu Jongin saat gemuruh guntur mulai memekakan telinga, pertanda hujan akan segera turun.
"Aku ingin bersama ayahku sebentar lagi." Ujarnya datar.
Wanita itu menghela nafas lalu meninggalkannya dengan berat hati.
Jongin duduk di samping batu nisan ayahnya. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini kenyataan. Sebuah kenyataan lain yang ternyata lebih menghancurkannya dari kematian ibunya.
"Appa. What should i do now?" tanya Jongin dengan sungguh-sungguh.
Karena ia benar-benar tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan dengan hidupnya.
Jongin mulai meracau mengenai kesialan takdir yang tidak henti menghampirinya.
Kenapa jalan yang ia lalui begitu rumit? Kenapa setiap pekerja di otaknya sekarang seperti enggan bekerja lagi? Untuk apa ia sebenarnya dilahirkan?
Ia bercakap di sana sampai petang menjemput. Setelah mengucapkan selamat tinggal ke ayahnya berkali-kali, Jongin akhirnya memutuskan untuk beranjak.
Ia terdiam menatap jalan di depannya. Jongin tidak tahu harus kemana saat ini. Ia tidak ingin pulang ke rumah. Ia juga tidak ingin mengunjungi bibinya karena wanita itu pasti menceritakan banyak kenangan tentang ayahnya.
Tiba-tiba, ia merasakan handphone-nya bergetar. Jongin segera mengangkat teleopon itu saat melihat siapa yang menghubunginya.
"KIM JONGIN!" suara teriakan Sehun langsung memenuhi telinganya. "Kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu sebesar ini dan baru mengatakannya setelah kejadian yang lebih besar terjadi." Lalu Sehun melanjutkannya dengan rentetan kalimat tentang Jongin yang tidak pernah menghargainya sebagai sahabat.
"I'm sorry, Sehun." Jawab Jongin singkat.
Sehun menarik nafas panjang. Ia mengontrol emosi dalam dirinya yang sudah meledak-ledak ketika mendengar suara serak Jongin.
"No. I'm sorry. Aku seharusnya tahu ini bukan situasi yang tepat untuk marah. Dan aku juga minta maaf tidak bisa hadir ke pemakaman ayahmu. Aku sedang di Jeju saat ini. You okay, buddy?"
"Yeah."
Telinga Sehun dapat menangkap suara klakson panjang dan beberapa orang berteriak "apa kamu mau mati?" dari dalam speaker-nya. Ia mendadak diliputi rasa was-was.
"Hey, Jongin where are you?" tanyanya cepat.
Ada jeda sejenak sebelum Jongin menjawab, "I don't know."
"Kamu tidak sedang merencankan sesuatu yang bodoh, kan?"
Jongin tergelak, "Like what? Bunuh diri? It doesn't matter anymore, Sehun. Bukankah semua orang juga akan mati?"
"Jangan berkata hal-hal aneh seperti itu, Jongin." Ucap Sehun sambil menekankan tiap kata dalam kalimatnya.
"Aku kadang berpikir bagaimana rasanya mati. Apakah itu menyakitkan? Atau justru terasa damai karena dunia ternyata bukan tempat terbaik untuk tinggal?"
"Yah, Kim Jongin! Kamu benar-benar membuatku gila!"
Sehun menepuk pundak Luhan, dan menuliskan beberapa kata di secarik kertas dengan tergesa.
'Call Kyungsoo, ask him to find Jongin. Aku rasa dia ingin bunuh diri.'
Mata Luhan membelalak saat membacanya. Ia segera mencari handphone di saku jaketnya.
"Oke, Jongin. Aku akan bertanya sekali lagi. Ada. Di mana. Kamu. Sekarang?"
Tapi Jongin tidak menjawab pertanyaan Sehun, lelaki itu justru tertawa sambil berteriak, "It's raining, Sehun. Bukankan itu seperti ironi? Semesta sedang menyediakan suasana yang tepat agar aku segera mengakhiri hidupku saat ini."
"OH MY GOD, STOP IT! INI TIDAK LUCU, JONGIN!"
"Ah, handphone-ku mulai basah. Aku harus menutup teleponmu sekarang. Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal bodoh."
"Aku tidak percaya padamu!"
"Yeah. Aku juga tidak mempercayai diriku sendiri. I'm hanging up, now. Enjoy your trip, buddy."
"Wait, Jongin! Jongin! Oh, holy shit!"
Sehun berteriak frustasi saat sambungan itu telah terputus. Ia kembali menghubungi Jongin walaupun ia yakin lelaki itu tidak akan mengangkat teleponnya.
Kyungsoo memandang layar handphone-nya yang menyala dan menampilkan nama Luhan.
"Yah Xi Luhan! Kamu sebaiknya punya alasan bagus kenapa kamu menghilang tanpa-"
"Do Kyungsoo, listen!" potong Luhan cepat. "First of all, aku sedang berada di Jeju Island karena Sehun menculikku." Luhan dapat mendengar Kyungsoo yang ingin berteriak protes, "No. Don't talk, this is urgent. Aku akan menjelaskannya secara singkat. Ayah Jongin meninggal dan Sehun merasa Jongin akan melakukan tindakan bodoh setelah percakapan terakhir mereka. Kamu harus menemukannya, Soo. Jongin tidak mengangkat teleponnya lagi."
Kyungsoo bisa merasakan degup jantungnya sendiri merambat sampai ke telinga saat mendengar itu.
"Ayah Jongin?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Ya. Aku serius, Soo. Sehun sangat khawatir saat ini."
Genggaman Kyungsoo ke handphone-nya melemah.
Seperti sebuah garis, titik-titik antara semua perubahan Jongin mulai terhubung di kepalanya.
Tentu saja semua itu mengenai ayah Jongin. Kenapa Kyungsoo tidak bisa menebaknya?
Ia segera menyambar mantel dan payungnya dengan cepat. Pikirannya berubah kacau, ia bahkan tidak tau harus kemana untuk mencari Jongin. Rasa cemas merangkak menguasai tubuhnya saat ini.
Please, God. Biarkan aku berpikir jernih di mana aku harus mencarinya.
Kyungsoo memakai sepatunya dengan terburu-buru. Ia berdecak karena hal itu menjadi sulit dilakukan ketika tangannya bergetar hebat seperti ini. Ia hampir terjatuh saat salah satu tali sepatunya ternyata belum terikat sempurna. Walau hubungan mereka berlangsung singkat, ia sudah tahu hampir semua sifat buruk Jongin. Dan entah kenapa, Kyungsoo merasa Jongin benar-benar akan menyakiti dirinya sendiri kali ini.
Namun, ketika ia membuka pintu depan rumahnya, semua sendi dalam tubuhnya seperti luluh.
Ia melihat Jongin berdiri di luar pagar dalam keadaan basah kuyup.
Rasa lega menyeruak ke dalam hatinya. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menghampiri Jongin.
Saat menyadari Kyungsoo ada di hadapannya, tatapan Jongin berubah sendu. Kyungsoo bisa merasakan kesedihan Jongin saat ini. Dengan perlahan, ia mendekatkan tubuhnya ke Jongin. Saat sorot mata Jongin mulai melemah memancarkan keptusaasaan yang mendalam, ia tidak lagi bisa menahan untuk memeluk Jongin saat itu juga. Semua rasa marahnya seperti terhapus oleh hujan yang membasahi tubuhnya.
Selama Jongin di sini, ia tidak masalah. Mereka bisa memperbaiki apapun yang telah terjadi kemarin.
Jongin membalas pelukan Kyungsoo lebih erat. "Aku minta maaf. Aku tidak tahu harus kemana lagi."
Ia membenamkan kepalanya ke cerukan leher Kyungsoo. Mencium aroma khas lelaki itu yang membuat hatinya sedikit tenang.
"It's okay. You can be here, you can be with me." You can be mine, i'll protect you with everything that i have.
"I'm sorry, Soo. I'm so screw up. I'm sorry."
"It's okay, Jongin. It's okay. Semua orang melakukan kesalahan, itu yang membuat kita menjadi manusia."
Namun Jongin tidak berhenti, ia terus membisikkan kata maaf ke telinganya.
Kyungsoo memejamkan matanya sambil mengusap punggung lelaki itu, meyakinkan bahwa ia tidak mempemasalahkan apapun lagi.
Karena untuk Jongin-dan hanya untuk Jongin memaafkan bukanlah perkara yang sulit.
Kyungsoo mendesah saat melihat makanan yang telah ia siapkan untuk Jongin pagi tadi masih utuh seperti semula. Ini adalah hari ketiga Jongin tidak makan apapun. Lelaki itu hanya meminum air putih atau menyulut rokoknya sepanjang hari. Ia terus mengurung diri dalam kamar tamu dan itu membuat Kyungsoo frustasi.
"Jongin, Kenapa kamu tidak makan lagi? Kamu benar-benar akan jatuh sakit jika terus seperti ini." Ucap Kyungsoo dari depan pintu kamar tamu itu.
"Aku tidak lapar, Soo." Jawab Jongin dari dalam kamar.
Kyungsoo yang berubah gusar segera membuka pintu kamar itu. Ia melihat Jongin yang meringkuk di tempat tidurnya sambil melamun. Kyungsoo menarik lengan Jongin dan membawanya ke dapur.
"Kamu tahu bagaimana aku memasaknya?"
Kyungsoo melipat tangan di dadanya. Sebisa mungkin melempar tatapan marah ke Jongin.
"Aku bangun lebih awal pagi ini hanya untuk berpikir makanan apa yang bisa membangkitkan seleramu. Apa kamu tidak sadar semua bahan makanan yang aku olah kali ini merupakan sesuatu yang kamu sukai?" Ia menarik nafas sejenak, "Aku bahkan berjalan tiga blok dari sini hanya untuk mendapatkan that damn broccoli yang biasanya membuatmu makan hampir tiga mangkuk."
"M'sorry." gumam Jongin sambil menunduk.
Kyungsoo membuang nafas panjang, "Apology accepted. Now," Kyungsoo menarik kursi di dekat Jongin. Dan memaksa Jongin duduk di kursi itu. "will you please eat your goddamn food?" tanya Kyungsoo setelah mengambil satu mangkuk nasi untuk Jongin.
"Kamu tidak makan?" Jongin memandang Kyungsoo yang tidak duduk di sebelahnya.
"Aku sedang tidak ingin makan."
Jongin mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu aku juga tidak ingin makan."
Kyungsoo mendesis kesal, "Oh, astaga..." Ia merebut sumpit milik Jongin dan mengambil salah satu ayam dengan potongan paling besar. "C'mon big spoiled boy, open your mouth. Here comes the train, chugga-chugga choo-choo!"
Kyungsoo mendelik ke arah Jongin hingga dengan ragu-ragu akhirnya Jongin membuka mulutnya.
"Good! Do you like it?"
Jongin mengangguk kaku. Ia mengunyah makanan di mulutnya dengan sangat pelan.
Kyungsoo memperhatikan Jongin yang-akhirnya mulai menyumpit nasi ke dalam mulutnya.
"Makanlah yang banyak. Kalau bisa, aku tidak mau ada satupun yang tersisa saat aku selesai mandi nanti."
Jongin menahan tangan Kyungsoo yang sudah ingin beranjak.
"Apa aku merepotkanmu?" tanyanya dengan nada pelan.
Kyungsoo segera menggeleng cepat, "No. Aku seperti ini bukan karena aku marah. Aku khawatir denganmu Jongin."
"You must be an angel." Bisik Jongin selirih mungkin, berharap suaranya tertelan oleh udara.
Namun, Kyungsoo mematung di tempatnya. Jongin dapat membaca ekspresi Kyungsoo dan menyimpulkan lelaki itu mendengar apa yang ia ucapkan.
Ia memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya, "Aku rasa, ibuku kesepian di sana. Maka dari itu ia meminta Tuhan untuk mengambil ayahku." Jongin memainkan sumpit di tangannya, "Tetapi, sepertinya, ibuku juga tidak mau aku sendiri."
"Mungkin... ia sengaja mengirimkanmu untuk menemaniku." Sambungnya.
Mata Kyungsoo melebar. Ia tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Ada ledakan-ledakan kecil kebahagiaan memancar dari dalam dadanya.
"I missed you so much, Soo. Tidak ada satu haripun tanpa kamu melintas di kepalaku."
Kyungsoo tetap diam di posisinya, menikmati setiap kata rindu Jongin yang membakar habis kerinduannya sendiri. Mereka membiarkan hening mengambil alih sejenak.
"I missed you too, Jongin."
Kyungsoo merasakan hatinya meleleh saat akhirnya sebuah senyum yang ia nantikan tergambar di bibir Jongin. Ia membawa kepala Jongin ke dadanya dan tangan lelaki itu mencengkram erat ujung bajunya.
Sore itu, Kyungsoo mendengar tangisan Jongin yang meraung-raung untuk pertama kalinya.
"Apa kamu pernah berpikir kenapa manusia dilahirkan?" tanya Jongin.
Mereka sedang duduk di sofa ruang tengah Kyungsoo. Menonton salah satu TV series dengan selingan iklan yang terlalu banyak.
Dahi lelaki itu mengernyit, menimbang-nimbang jawaban dari pertanyaan Jongin. "Entahlah, aku rasa setiap individu punya misinya sendiri-sendiri. Seperti sebuah task timeline yang ditandai checklist warna merah jika kamu sudah melakukannya. Lalu ketika itu selesai, maka hidupmu juga ikut selesai."
Kyungsoo menatap Jongin. Entah kenapa saat ini, ia merasakan jarak beberapa centi di antara mereka terasa sangat jauh.
"Aku bahkan tidak tahu tujuan Tuhan melahirkanku." Sahut Jongin dengan nada datar.
Kyungsoo menulusuri wajah Jongin. Ia dapat melihat pipi Jongin yang makin tirus dari hari ke hari. Kesedihan itu belum hilang, Kyungsoo bisa menebaknya. Ia terus menahan kekhawatiran melihat Jongin hancur perlahan tepat di depan matanya.
"Mungkin, salah satunya untuk bertemu denganku."
Jongin membalas pandangan Kyungsoo dengan mimik heran.
Kyungsoo tersenyum ke arahnya, "Kamu tahu? Aku akan selamanya menjadi Sous Chef jika kamu-Kim Jongin tidak merubah laju kepalanya yang terlalu monoton." Lanjut Kyungsoo.
"Apa semudah itu misiku?"
"Oh, kamu pikir itu misi yang mudah? Di dalam sini, " Kyungsoo menunjuk kepalanya, "ada barisan tentara yang selalu menolak perubahan pola dalam hal apapun."
"Lalu bagaimana aku bisa melewati tentara itu?"
"Karena kamu berhasil membuatku jatuh cinta."
Kyungsoo memainkan jarinya di garis rahang Jongin. Mencoba menyalurkan kekagumannya kepada lelaki itu. "Dengar, Jongin. Aku, Do Kyungsoo, berterimakasih karena semesta memilih kamu untuk masuk ke dalam kepalaku." Jongin terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Karena kamu telah mengacaukan semua sistem di dalam sana dengan cara yang paling aku sukai."
Hati Jongin menghangat. Ia memandang lelaki di hadapannya. Bagaimana ia-ternyata sangat, sangat, merindukan tiap kata, sentuhan, dan rasa peduli yang Kyungsoo berikan.
"I'm a total idiot, Soo. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa berpikiran bahwa aku tidak membutuhkanmu."
Bibir Kyungsoo mendadak kering. Karena sampai saat ini, ia terus bersabar menanti Jongin mengucapkan bagaimana perasaan Jongin terhadapnya sekarang. Kyungsoo melihat mata Jongin yang mulai berkaca-kaca. Ia menarik nafas dalam saat ia merasakan Jongin menularkan rasa terharu itu.
"Bolehkah aku tidur denganmu malam ini?" Suara parau Jongin akhirnya memecah kebisuan di antara mereka.
Kyungsoo tersenyum lalu mengangguk dengan gerakan pelan. "Of course you can. "
Saat waktu menunjukkan pukul 10 malam, Kyungsoo merasakan kepala Jongin ada di dadanya, tangan Jongin melingkar erat di pinggangnya, dan hangat nafas Jongin membebaskan seluruh beban yang ia tahan berminggu-minggu ini.
"Apa kamu pernah berpikir untuk meninggalkanku?" tanya Jongin sambil terus membawa tubuh Kyungsoo lebih dekat.
Kyungsoo memainkan rambut Jongin sambil tertawa, "Never."
"Why?"
"Oh, haruskah aku mengatakannya berkali-kali? Aku jatuh cinta padamu, Jongin." Kyungsoo mulai terbiasa dengan kalimat itu, dan ia mulai ketagihan untuk mengucapkannya karena itu terasa menyenangkan di lidahnya.
Jongin mendongak menatap Kyungsoo dengan bibir yang mengerucut, "Setelah semua yang aku lakukan padamu kemarin?"
Kyungsoo menarik tubuhnya dalam posisi duduk. Ia berusaha untuk tidak tertawa melihat Jongin yang berubah manja akhir-akhir ini.
"Itu tidak merubah apapun, Jongin. Percayalah. Kamu satu-satunya orang yang bebas berkeliaran di kepalaku kapanpun kamu mau. Aku telah memberimu akses penuh."
Jongin tertawa, dan betapa Kyungsoo bahagia bisa kembali mendengar suara tawa itu lagi memenuhi telinganya.
"Cheesy. Darimana kamu belajar kalimat-kalimat seperti itu?"
Kyungsoo mencubit lengan Jongin keras, "Yah! Apa kamu tidak tahu mengucapkan sesuatu seperti itu membutuhkan banyak keberanian untukku?" Ia melihat Jongin yang mengelus lengannya yang memerah. "Itu mungkin mudah bagimu, karena kamu sudah terbiasa merayu."
Dahi Jongin mengernyit mendengar pernyataan itu, "Aku tidak pernah merayu. Kamu pikir selama ini aku merayumu?"
"Uh-uh." Jawab Kyungsoo singkat.
Jongin tergelak geli, "Aku tidak perlu merayumu, karena kalimat biasapun mudah membuatmu bersemu."
"Ugh, i hate you!" seru Kyungsoo yang menutupi mukanya yang memerah.
Jongin menarik tangan Kyungsoo dari wajah lelaki itu, "Ah, bukankah kamu baru saja berkata kamu mencintaiku?"
Kyungsoo mendengus, "Ya, itu tadi. Sekarang aku membencimu."
"Too bad." Jongin mengunci mata Kyungsoo, membiarkan lelaki itu mencari apa yang ia ingin utarakan selama ini, "Because I love you too."
Udara di sekitar Kyungsoo seperti berhenti mengalir saat ini. Ia masih menatap Jongin yang tidak mengalihkan pandangannya.
"Kyungsoo…" Jongin mendekap tubuh Kyungsoo, lalu berbisik "Malam itu, saat kamu menyatakan cinta padaku, apa kamu masih ingin mendengar jawabanku?"
Dengan gerakan pelan, Kyungsoo mencoba menganggukkan kepalanya.
"Ya… aku melihatnya, Soo. Dan itu membuatku ketakutan. Aku takut kamu juga dapat menemukan sesuatu yang sama dalam mataku. Karena aku sudah tidak bisa menahannya saat itu."
Ia melepaskan pelukannya dan meraih bahu Kyungsoo yang masih memasang ekspresi terkejut di wajahnya.
"I love you, Kyungsoo. Aku mencintai keteraturan di dalam dirimu, aku mencintai cara marahmu karena mempedulikanku, aku mencintai bagaimana kamu tersipu saat aku mengatakan betapa mengagumkannya dirimu. Aku mencintai semua yang ada di kamu."
Kyungsoo menggigit bibirnya. Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan bisa membuat kepala seseorang mendadak pusing.
"I'm sorry for being such a coward. Aku minta maaf telah membuatmu menangis. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi." Jongin menarik nafas, "Ketika ayahku meninggal, aku terus berpikir aku tidak bisa mengatasi lebih banyak kehilangan lagi. Aku benar-benar bertekad untuk membunuh diriku sendiri."
Kyungsoo tercekat membayangkan apa yang baru saja diucapkan Jongin. Ia menggenggam tangan Jongin erat, bersyukur kenyataan menyodorkannya hal yang berbeda.
"Aku berjalan dan terus berjalan dengan pikiran kosong yang tanpa sadar membawaku ke depan rumahmu. Saat aku melihatmu aku berpikir," Jongin menunduk menghindari tatapan Kyungsoo, ia merasakan matanya berubah panas, "mungkin menatapmu sejenak tidak akan masalah, mungkin itu sebagai sebuah hadiah yang sepadan sebelum aku mengakhiri hidupku, tapi…" Ia merasakan air mata mulai membuat pandangannya berkabut, "tapi… saat kamu memelukku, I lost it. Aku membuang pikiran bodoh itu jauh-jauh, karena aku masih ingin-dan terus melihatmu, merasakanmu, atau mendengarmu lebih lama lagi."
"Aku minta maaf karena aku mungkin bukan lelaki yang ada dalam mimpimu. Tapi aku akan mencobanya, jika kamu mengijinkanku."
Jongin terengah setelah semua pernyataan yang ia ucapkan. Ia melihat Kyungsoo yang sudah berlinang air mata. Sorot mata Jongin berubah melembut saat ia menghapus air mata di pipi Kyungsoo.
"Pernahkah aku berkata bahwa kamu menarik?" tanya Kyungsoo dengan suara serak.
Dengan sedikit tercengang, Jongin mengangguk.
"Aku ingin mengambilnya kembali." Kyungsoo merapatkan tubuhnya ke Jongin, mencari di mana ia bisa menyalurkan berbagai perasaan yang ada di hatinya ke lelaki itu.
"You're perfect, Jongin. I mean it with all of my heart."
Jongin mendekap tubuh Kyungsoo erat. Merasakan tangisnya yang mulai pecah saat ini.
"Jangan pernah berpikir kamu rendah hanya karena status sosial, Jongin. Di mataku, kamu punya tahta yang paling tinggi."
Jongin menanamkan banyak kecupan ke wajah Kyungsoo, ke dahinya, ke pipinya, ke hidungnya, "I love you, Soo." lalu ke bibirnya berkali-kali, "Truly, madly deeply, do."
Mereka berakhir dengan percakapan panjang sepanjang malam. Menceritakan hal-hal yang mereka lewatkan selama mereka berpisah. Jongin mengucapkan banyak kata cinta ke Kyungsoo dan Kyungsoo membalasnya lebih banyak lagi.
Hari itu hujan gerimis mewarnai langit pagi di luar jendela. Kyungsoo menarik selimut ke dadanya dan tanpa sadar memeluk lelaki di sebelahnya dengan lebih erat. Sebuah cuaca sempurna untuk menghabiskan waktu bermalas-malasan di tempat tidur. Jongin membuka matanya lebih dulu. Ia melihat Kyungsoo yang melingkarkan tangan ke pinggangnya. Kepala Kyungsoo berada di dadanya dan ujung rambut lelaki itu menggelitik hidung Jongin. Ia mengusap kepala Kyungsoo lalu mengecupnya berkali-kali.
Jongin sudah lama tidak merasakan pagi seindah ini.
Ia melirik ke arah jam beker di samping tempat tidur Kyungsoo dan berubah panik saat jam itu menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Soo... baby..."
Jongin menggoyangkan tubuh Kyungsoo pelan. Lelaki itu hanya menggumam dengan nada terganggu.
"Prince, ini sudah jam sepuluh. Apa kamu tidak bekerja?"
Kyungsoo membalikkan badannya memunggungi Jongin, mencari posisi yang lebih nyaman untuk kembali tidur. "Luhan menggantikanku untuk hari ini."
Setelah membolak-balikkan badannya dan tidak juga menemukan posisi yang tepat, Kyungsoo mendengus kesal. Ia memperhatikan Jongin yang merasa bersalah telah mengganggu istirahatnya.
"That friend of yours-Oh Sehun, telah menculik Sous Chef-ku selama tiga hari."
Jongin membelalak saat mendengar itu, "Sehun? That Yehet Bitch? Aku bahkan tidak tahu jika dia sudah punya hubungan dengan seseorang."
"Mereka belum berpacaran. Luhan selalu menghindari hal-hal yang serius." Kyungsoo menggosok matanya yang masih mengantuk, "Lagipula, mungkin kamu lupa bagaimana caramu menjauhkan dirimu dengan semua orang kemarin. "
Jongin menunduk menyadari menyadari buruknya sesuatu yang telah ia lakukan. Kyungsoo yang menangkap raut perubahan wajah Jongin segera menarik lelaki itu mendekat.
"Hey, don't be guilty. Kamu masih bisa meluruskannya."
"Yeah. Aku harus meluruskannya."
"Good! Karena kamu punya daftar yang panjang untuk itu." Kyungsoo mengambil sebuah kertas dan spidol dari laci di samping tempat tidurnya. "Bagaimana jika kita memulainya dari Sehun?" Saran Kyungsoo.
Ia menuliskan nama Sehun besar-besar di kertas itu.
"Tentu saja kita harus memulainya dari dia." Jongin tergelak, "That asshat maybe want to kill me with his bare hands."
Kyungsoo tertawa karena menyetujui pernyataan Jongin. Walaupun saat terakhir menelponnya, Sehun menanyakan banyak hal basa-basi untuk menutupi bahwa ia hanya ingin tahu keadaan Jongin. Saat Kyungsoo kembali menoleh ke arah Jongin, dahi lelaki itu justru berkerut seperti berusaha keras mengingat sesuatu.
"Hey, Soo. Which one is Luhan again?"
Kyungsoo berdecak, "Astaga. Kamu pernah bertemu dengannya saat ke 3.6.5."
"Aaah... aku rasa aku mengingatnya." Sahut Jongin pura-pura karena terlalu malu mengatakan bahwa satu-satunya yang ia lihat saat itu hanyalah Kyungsoo.
Bukankah memang tidak ada siapapun selain Kyungsoo waktu itu?
Mata Kyungsoo memincing memandangnya, "Benarkah? Coba katakan bagaimana Luhan di ingatanmu?"
Shit.
"Well... Aku ingat dia punya sepasang mata, satu hidung, dan dua telinga-"
"Oh, aku harus benar-benar mengenalkan teman-temanku padamu secara formal." Sela Kyungsoo cepat.
Jongin tergelak, ia memeluk Kyungsoo mendekat lalu berbisik pelan di telinga lelaki itu-dengan senyum yang paling lebar "By the way, good morning prince charming."
Kyungsoo mengecup kening Jongin lembut-dengan senyum yang tidak kalah lebarnya, "Good morning too, sweetheart."
END OF PART 9 : CENTRAL PARK
I'M SO SORRY, GUYS!
Tadi aku kelupaan pencet upload chapter yang belum aku edit. Nah, sekarang baru selesai ngeditnya. Maafkanlah daku~ *sob*
Oke, jadi gimana nih tanggapan kalian soal chapter ini? Walaupun aku sedih sih harus matiin karakter ayahnya Jongin *berlutut depan Mr. Kim*
Makasih banyak buat yang review, kyaaa seneng banget baca review chapter kemarin karena kalian ikutan kebawa sama cerita ini, ehehehe.
Oiya sedikit spoiler, di chapter depan bakalan ada ChanBaek! Walaupun mungkin aku bakalan update agak lama (mungkin loh, ya) karena ada midterm exam dan lagi nge-organize salah satu event. Tapi semangat sih ada terus kalo kalian terus review kaya gini, hehehe.
Ditunggu lagi tanggapan kalian soal chapter ini, semoga kalian nggak bosen sama jalan ceritanya. I LOVE YOU SO, SO, SO MUCH! *ketjup*
KAISOO FTW!
-RedSherr88-
