Let's waste time,
Chasing cars,
Around our heads
— Snow Patrol - Chasing Cars
.
Warning : Please watch your step while reading this chapter *naughty wink*
"Go away. I hate you." Adalah kalimat pertama yang menyambut Jongin saat Sehun akhirnya-setelah puluhan kali ia memencet bel membuka pintu apartemennya.
"C'mon, Hoonie. Aku membawa six pack beer, beberapa pak rokok, dan film yang mungkin akan kamu sukai."
Sehun melipat tangannya di dada lalu mendengus, "Kamu pikir aku semudah itu dibujuk?"
Jongin tersenyum lebar, "Aku juga membawa bubble tea dari cafe favoritmu."
Sehun menelan ludah melihat minuman berwarna hijau dengan bola-bola tapioka di dasarnya. Namun ia berusaha untuk tidak mengalah karena sikap Jongin kemarin masih membuatnya marah.
"Still no."
Jongin berdecak, "Oh, baiklah." Ia menarik seseorang di sampingnya-yang tidak bisa Sehun lihat karena tadinya terhalang dinding, "Aku juga membawa Head Chef Black Pearl dan beberapa bahan makan malam yang spesial untukmu."
Sehun melihat ke arah Kyungsoo yang tersenyum kikuk ke arahnya. Ia menghela nafas panjang.
Kim Jongin benar-benar orang paling menyebalkan di seluruh dunia.
"Well, walaupun kamu pasti lebih ingin bertemu Sous Chef Black Pearl daripada Kyungsoo."
Mata Sehun membelalak saat mendengar itu, "Kamu memberitahunya?"
Kyungsoo hanya tersenyum tipis sambil menggumamkan kata maaf.
"So, kamu mengijinkan kami masuk atau tidak? Kakiku mulai pegal." Ujar Jongin sambil menggerak-gerakkan salah satu kakinya untuk meyakinkan Sehun.
Lelaki itu memutar bola matanya lalu memberi isyarat dengan kepala yang menyuruh mereka masuk. Jongin segera menyerobot cepat dan duduk di sofa ruang tengah Sehun. Kyungsoo mendelik ke arah Jongin karena sifat kekanak-kanakannya.
"It's okay, Hyung. Aku sudah terbiasa dengan tingkahnya."
Dahi Jongin berkerut, "Kenapa kamu memanggilnya hyung?"
"Because he's older than us, you dumbass." Sahut Sehun sambil membantu membawa kantong yang digenggam Kyungsoo.
"You're older than me and you let me dominated you in bed?"
Sehun terdiam di tempatnya. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Pipi Kyungsoo langsung memanas saat itu juga, "Ya-Yah, Kim Jongin! Jaga mulutmu."
Jongin berdiri untuk menyentil hidung Kyungsoo sambil tertawa karena berhasil membuat Kyungsoo bersemu, "Ah, aku tahu kenapa dulu aku selalu ingin mendominasimu."
Wajah Kyungsoo mencapai titik didih tertinggi ketika mendengarnya.
"Lanjutkan pembicaraan ini ketika kalian di rumah, aku tidak ingin mendengar lebih lanjut." Gerutu Sehun kesal.
Kyungsoo melemparkan tatapan mematikan ke arahnya sedangkan Jongin hanya tergelak geli.
"Hey, Sehun." Kyungsoo menyeringai, "Apa kepalan tanganmu tidak gatal untuk mendarat di wajah Jongin setelah semua yang ia lakukan?"
Sehun menghentikan langkahnya yang sudah setengah jalan menuju ke dapur. Ia menoleh ke arah Kyungsoo dan Jongin yang memasang muka terkejut.
"Seriously, i give you permission." Sambung Kyungsoo.
Tanpa pikir panjang, Sehun segera berjalan mendekat ke Jongin. Ia menggertakkan jari-jari tangannya sambil tersenyum jahat, "Oh, with pleasure, Hyung."
Jongin menatap Kyungsoo dengan tidak percaya, "Baby, why are-"
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Jongin merasakan darah mengalir dari hidungnya karena Sehun sudah memukulnya duluan.
Kyungsoo dan Sehun bertukaran pandangan puas ketika Jongin mengumpat sambil berlari ke arah kamar mandi.
"Oke, ummm..." Kyungsoo memainkan bibir mencoba memikirkan satu pertanyaan di kepalanya, "aku ingin tahu tiga hal yang kamu sukai dari Chanyeol."
Baekhyun menarik nafas panjang sebelum matanya beralih ke lelaki bertelinga besar di sebelahnya. Ia tersenyum ketika Chanyeol melingkarkan tangan ke bahunya.
"Number one, i love how sweet he is! Mungkin aku sudah mengidap penyakit diabetes sekarang. Dia membangunkanku dengan ciuman, menghiburku saat hariku sedang buruk dan memelukku sampai aku tertidur."
Chanyeol tersenyum malu-malu mendengar pernyataan Baekhyun. Ia mencubit pipi lelaki di sampingnya dengan gemas. Baekhyun makin mendekatkan badannya ke lelaki itu.
"Number two, aku suka senyumnya."
Jongin berdehem pelan mengingat bagaimana senyum yang dimaksud Baekhyun telah berhasil mengusir beberapa pelanggan Machine. Kyungsoo menyikut perut Jongin keras sebelum Baekhyun menyadari ia sedang menyindirnya.
"Number three, i love the way he treats me in bed. He's so damn good. Kamu tahu? kami mulai mencoba beberapa fanta-"
Dengan gerakan cepat Chanyeol segera menutup mulut Baekhyun dengan tangannya, "Tidak perlu terlalu detail, Bacon! HAHAHAHA." Ia tertawa panik ketika melihat tatapan horor Kyungsoo ke arah kekasihnya.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, "Why? Aku sedang memujimu di depan mereka."
Chanyeol menggigit bagian dalam pipinya, mencoba mencari alasan agar Baekhyun tidak marah. "Karena... karena aku ingin menyimpan rahasia itu untuk kita berdua."
Alis Baekhyun mengerut saat memandang Chanyeol. Lelaki di depannya berusaha tersenyum untuk meyakinkannya.
"Aku takut Jongin mencuri ide kita, Sweet Bacon."
"You're a terrible liar." Sahut Baekhyun datar.
"Sudah kubilang, kan? Truth or Dare bukanlah permainan yang menyenangkan." Bisik Jongin ke telinga Kyungsoo.
Lelaki itu segera mencubit pahanya, "Shut up."
"Don't be mad, Bacon. Please." Rengek Chanyeol saat Baekhyun masih enggan menatapnya.
Jongin membuang nafas panjang. Kyungsoo menyarankan untuk meminta maaf ke Chanyeol dengan mengadakan double date-selain karena ia ingin mengenalkan Jongin pada Baekhyun. Mereka berempat duduk di sebuah tikar berpola kotak-kotak warna biru putih, dengan keranjang anyaman yang berisi berbagai macam roti, selai, jus, beberapa gulung sushi, serta makanan kecil lainnya. Kyungsoo memilih sebuah taman dengan banyak pohon Pinus yang rimbun. Ia mendesah melihat Chanyeol yang masih membujuk Baekhyun untuk tidak marah padanya.
Jika bukan karena ingin meminta maaf pada Chanyeol mungkin ia tidak akan mengatakan kalimat ini, "Dia benar, Baekhyun. Aku bisa saja mencurinya. Karena kami biasanya hanya melakukan sesuatu yang kasual saat di ranjang. Right," Jongin mengerling ke arah Kyungsoo, "baby?"
Kyungsoo membelalak dengan wajah yang merah, "Oh, my God. Bisakah tidak membicarakan hal-hal seperti ini? Aku merasa kamu tidak berhenti mempermalukanku dari kemarin."
Baekhyun tergelak seperti mengetahui sesuatu, "Kapan terakhir kalian melakukannya?"
"Sebulan yang lalu, mungkin?" jawab Jongin tanpa pikir panjang, mengabaikan wajah Kyungsoo yang lebih memerah.
"Poor you," Chanyeol menepuk-nepuk bahu Jongin pelan. Matanya beralih ke Baekhyun yang masih menghindarinya, "aku bahkan tidak bisa membayangkan sebulan tanpa sentuhanmu."
"Benarkah?" tanya Baekhyun.
"Oh, aku bersumpah demi laci di meja kamarku yang mulai terisi penuh dengan eyeliner milikmu, Bacon."
Baekhyun yang sudah luluh langsung tersenyum dan memeluk lengan Chanyeol kuat. "I'm the luckiest man alive."
"I love you, Bacon."
"I love you more, Porkie."
Chanyeol mencium bibir Baekhyun lalu memagutnya lembut. Ia menarik wajah Baekhyun untuk memperdalam ciuman mereka.
"Oh, guys, please get a room!" teriak Kyungsoo.
Baekhyun melirik sebal ke arah Kyungsoo dan Jongin, "Dan kamu mengatakannya saat kamu berada di posisi seperti itu sepanjang piknik kita?"
Kyungsoo segera melemparkan tatapan marah ke Jongin.
"What?" Lelaki itu berpura-pura bodoh seperti tidak ada sesuatu yang salah dengan posisi mereka. "Kamu pikir aku akan melepaskanmu dari pangkuanku hanya karena ucapan pasangan babi ini?"
"HEY!" seru Chanyeol dan Baekhyun bersamaan.
Jongin berakhir dengan luka cakar di lengan kirinya dan hidungnya yang kembali berdarah hari itu.
Jongin meletakkan ice pack di hidungnya yang memar. Ia melihat Kyungsoo yang mendekat ke arahnya dengan kotak obat di tangannya. Lelaki itu tersenyum melihat Jongin yang kesakitan.
"Kamu sepertinya senang sekali melihatku seperti ini." Gerutu Jongin.
Kyungsoo menyeka luka cakar di lengan Jongin menggunakan allkohol.
Jongin merintih, "Ugh, aku harap Baekhyun memotong kukunya lebih sering lagi."
"Ini karena kamu bertingkah menyebalkan." Jawab Kyungsoo datar.
"Apakah di daftar itu masih ada seseorang yang harus aku mintai maaf lagi?" tanya Jongin.
Ia mulai berpikir untuk mengabaikan saja ide konyol ini. Dua pukulan di hidung dalam dua hari dari Sehun dan Chanyeol membuatnya membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kyungsoo memberi plaster ke luka Jongin lalu menciumnya lembut. "Kamu sudah sampai di orang terakhir."
"Oh, ya?" raut muka Jongin berubah cerah, "Who's the last person, prince?"
"Do Kyungsoo." Jawab lelaki itu singkat.
Jongin mengedip-ngedipkan matanya karena bingung, "Y-You?"
"Oh, kamu pikir kamu tidak mempunyai kesalahan apapun padaku?"
Jongin merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Kyungsoo, "Aku akan melakukan apapun untukmu, prince. Selama permintaan itu bukan untuk meninju wajahku. Aku rasa hidungku sudah mati rasa saat ini."
Kyungsoo tergelak, "Ah, sayang sekali. Baiklah aku akan menunggumu sembuh terlebih dahulu."
"What?! Kamu benar-benar ingin memukulku?"
"Oh, jadi Sehun dan Chanyeol boleh memukulmu tapi aku tidak?"
"B-but, Soo... Kamu lelaki paling lembut yang pernah aku kenal, aku bahkan mengiramu seorang malaikat kemar-"
"Enough with the sweet talk, young boy. Itu tidak akan mempan."
"Please... anything but that, Soo. Please."
"Anything?"
"Ya, anything."
Saat melihat alis Kyungsoo yang naik ke atas karena ketertarikan, entah kenapa Jongin sedikit menyesali ucapannya.
"Oke. Umm, yang pertama-"
"Tunggu, pertama? Ada berapa permintaan yang kamu inginkan kali ini?"
Kyungsoo langsung memberengut, "Hanya dua. Berhentilah bersikap menyebalkan sesaat, atau aku akan menambahnya."
Jongin kembali bersandar di kursinya dengan pasrah dan mulut tertutup.
"Baiklah, yang pertama. Aku ingin kamu mengambil Monggu lagi."
Entah kenapa, Kyungsoo merindukan anjing kecil itu. Saat Jongin bercerita ia memberikan Monggu ke tetangganya di hari buruknya kemarin, Kyungsoo merasa sedih. Belum lagi, Jongin menambahkan bahwa Monggu berkali-kali mengejarnya kembali saat ia ingin pergi meninggalkannya.
Namun yang paling membuatnya sangat menyayangi anak anjing itu adalah karena Monggu merupakan alasan awal Jongin bisa duduk bersamanya saat ini.
"Oke, aku akan mengambilnya besok." Jawab Jongin cepat.
"Dan yang kedua," Kyungsoo meraih tangan Jongin lalu menatapnya tepat di mata, "aku ingin melihatmu menari. Sekarang."
Ada hening yang terlalu sunyi untuk Kyungsoo setelah ia mengatakan kalimat itu. Ia melihat Jongin yang menarik nafas panjang seolah sebuah beban berat sedang menggelayut di bahunya.
"Soo..." Ucap Jongin, "aku minta maaf. Tapi aku sudah lama tidak melakukannya. Aku bahkan tidak yakin saat ini aku masih bisa menari."
"Tapi kamu sudah berjanji akan melakukan apapun untukku."
Jongin mengalihkan pandangannya. Ia menumpukan kedua siku di lututnya sambil mendesah panjang.
Kyungsoo meraih kedua pipi lelaki itu, "Jongin, please. Saat Sehun menceritakan bagaimana kamu menari, aku selalu merasa ada sesuatu yang membuatnya begitu kagum denganmu. Aku ingin merasakan hal yang sama."
Setelah perang yang cukup lama dalam kepalanya-dan pekerja otaknya yang panik mencari berbagai gerakan yang dulu ia pelajari ia akhirnya mengalah.
"Fine. Tapi jangan salahkan aku jika yang nantinya kamu lihat tidak sesuai dengan ekspektasimu. Aku akan melakukan gerakan ringan saja."
Kyungsoo mengangguk riang. Ia melihat Jongin yang berdiri dan melakukan beberapa pemanasan. Hatinya melompat-lompat karena bahagia.
"Pilih sebuah lagu." Perintah Jongin.
Kyungsoo segera membuka handphone-nya dan memilih salah satu lagu berjudul 'Love, Love, Love'.
Saat lagu itu mulai bermain, Jongin menatap Kyungsoo dalam. Seperti sebuah stage act awal. Lelaki itu mengayun-ngayunkan tangannya karena gugup.
"Sekali lagi aku ingatkan, jangan kecewa jika ini tidak sama dengan apa yang kamu bayangkan."
"It's fine." Jawab Kyungsoo. "Aku sudah tahu banyak hal mengagumkan yang lain di dirimu."
Ketika lagu itu menginjak reff, Jongin baru melakukan gerakan pertamanya. Dan dalam sekejap, kegugupannya hilang. Seakan persendiannya telah menghafal setiap gerakan yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Ia bahkan bisa merasakan rangsangan-rangsangan itu merambat sampai ke ujung jarinya.
Kyungsoo yang lupa cara bernafas tidak berhenti tersungging saat melihat apa yang ada di hadapnnya. Jongin punya gerakan yang lembut namun bisa berubah tajam pada saat-saat tertentu. Ekspresinya terlihat berbeda dari Jongin yang biasa Kyungsoo kenal. Ia melihat Jongin menyeringai kecil pada beberapa gerakan lalu kembali serius dalam waktu yang singkat. Kyungsoo adalah orang awam dalam dunia seni, ia tahu betul itu. Akan tetapi, untuk mengatakan Jongin memang mempunyai bakat, ia merasa itu tidak dibutuhkan keahlian khusus.
Because he's a natural.
Jongin mengakhiri tariannya dengan senyum yang menggoda hingga membuat Kyungsoo terpaku di tempatnya.
Lelaki di depannya menggaruk-garuk bagian belakang lehernya, "So, how was it?"
It's perfect.
You are beautiful.
Apakah mungkin seorang gadis bisa hamil hanya dengan melihatmu menari?
Namun ia menelan pertanyaan bodoh itu dalam-dalam dan mengatakan hal yang lebih memalukan, "It's like you have more hips than i do."
Jongin tergelak. Ia mengulurkan salah satu tangannya ke arah Kyungsoo, "Kemarilah."
Begitu Kyungsoo mengenggamnya, Jongin menarik lelaki itu ke dadanya.
"Kembalilah menari." Cetus Kyungsoo, "Kamu luar biasa, Jongin. Jangan menyia-nyiakan kemampuanmu."
Jongin menelusuri wajah lelaki di depannya dan mengecup kening Kyungsoo lama. Menyalurkan kejutan-kejutan listrik kecil ke seluruh nadi lelaki itu.
"Aku akan mempertimbangkannya." Jawab Jongin.
Ia menatap Kyungsoo lagi, sebelum mencium pipinya lalu turun ke bibirnya. Jongin mencoba menghafal tekstur bibir Kyungsoo dalam ingatannya. Memahat lekat-lekat bagaimana rasa laut di bibir itu menghanyutkan akal sehatnya. Saat Jongin menarik ciumannya, Kyungsoo hampir tidak bisa melihat langsung ke mata lelaki itu. Detak dalam dadanya berubah tidak beraturan dan bulu di tengkuknya mulai berdiri. Ia menerka-nerka apa mungkin Jongin baru saja mengirimkan satu senyawa ke dalam tubuhnya?
"It's love." Ujar Jongin seperti dapat membaca pikiran Kyungsoo. "Kamu merasakannya?"
Dengan muka tersipu, Kyungsoo mengangguk pelan. Ia melepaskan genggaman Jongin, lalu melingkarkan lengannya ke leher Jongin. Kaki mereka masih bergerak-gerak kecil mengikuti irama musik pelan di ruangan itu. Kyungsoo menyandarkan kepalanya ke dada Jongin. Ia bisa merasakan debaran jantung Jongin berkebalikan dengan musik yang diputar saat ini.
"Kyungsoo?" bisik Jongin di telinganya.
"Hmm?"
"Aku baru menyadari sedikitnya hal yang aku tahu tentangmu."
Kyungsoo mendongak memandang Jongin, "Aku juga ingin tahu lebih banyak tentangmu, Jongin."
"Baiklah," Jongin menyandarkan dagunya ke kepala Kyungsoo, "bagaimana kalau kita mulai dari yang sederhana? Tanggal berapa kamu lahir?"
"12 Januari 1993."
Jongin mendorong Kyungsoo menjauh dengan mimik tidak percaya, "Benarkah? Aku lahir tanggal 14 Januari 1994."
Mereka berdua tergelak bersamaan, "Kita bisa merayakan ulang tahun kita bersama pada tanggal 13 Januari nanti." Sahut Kyungsoo antusias.
"Ya! Aku akan memasak untukmu. Dan kamu bisa memilih wine favoritmu. Kita bisa bertukar peran untuk sesaat."
Namun, Kyungsoo tidak menjawab. Ia hanya menatap Jongin dengan mata berkaca-kaca.
"Baby, kenapa kamu menangis? Apa kamu sedang membayangkan aku yang nantinya akan mengacaukan dapurmu? Baiklah, kita bisa melupakan ide-"
"No, stupid!" potong Kyungsoo cepat.
Ia tertawa sesaat menyadari kepolosan Jongin yang hanya muncul kadang-kadang. Tanpa mengucapkan apapun, Kyungsoo mengecup bibir Jongin cepat.
Lelaki di depannya terdiam mencoba menelaah apa yang baru saja terjadi.
"I love you, Jongin."
"I love you too, baby Soo."
Kyungsoo menampar pipi Jongin sambil mengerucutkan bibirnya, "Aku sudah bilang panggilan itu membuatku merasa seperti wanita."
Jongin tergelak sebelum menanamkan satu ciuman dalam ke bibir Kyungsoo. Saat Kyungsoo membalas ciuman Jongin, suasana berubah menjadi sedikit tegang. Jongin melumat bibir lelaki di depannya dengan lembut. Tangan Kyungsoo mencengkram rambutnya saat lidah Jongin mulai menjelajah ke dalam mulutnya. Dengan perlahan, mereka berjalan mundur mencoba meraih sisi tempat tidur. Kyungsoo mengeluarkan nafas panjang saat ia merasakan Jongin telah berada di atasnya. Jongin dan sisi maskulinnya tidak pernah mengijinkan Kyungsoo untuk mengambil alih apapun saat berurusan dengan hal ini. Ia selalu berusaha untuk mengurung Kyungsoo di kedua lengannya dan menghimpit kedua pahanya hingga Kyungsoo tidak bisa bergerak.
Tapi Kyungsoo menyukainya. Karena dari sudut pandang itu ia bisa melihat rambut blond Jongin jatuh ke dahi, atau bagaimana tangan Jongin berkelana menyentuh bagian-bagian tubuhnya. Namun, yang paling menarik adalah bagaimana tatapan Jongin tidak lepas dari matanya walaupun bibir lelaki itu sudah jauh turun ke bawah.
"May I?" tanya Jongin dengan suara yang memburu karena ciuman mereka.
Kyungsoo yang tidak mengerti hanya memasang muka bingung.
"I want to make love to you, Soo."
Ada api gairah yang terpancar dari mata Jongin saat mengatakannya. Tapi itu bukan sesuatu yang ingin menerkam Kyungsoo seperti saat mereka melakukan ini sebelumnya.
"Y-Ya..." Jawab Kyungsoo pendek karena terlalu malu.
Lelaki di atasnya tersenyum. Ia mengusap pipi Kyungsoo lalu menghujaninya dengan ciuman di wajah.
Tidak ada hisapan atau cengkraman yang Kyungsoo rasakan saat ini. Jongin hanya mencium, menjilat, dan meraup banyak-banyak aroma tubuh Kyungsoo ke hidungnya. Dimulai dari leher, ke dada, turun sampai ke pinggang, lalu sengaja melewatkan sesuatu di bawah perut Kyungsoo hanya untuk mencium bagian dalam pahanya.
"You're so soft, prince. Bahkan tidak ada wanita yang bisa mengalahkanmu."
Ini telah menjadi candu bagi Jongin.
Disaat kota dalam kepalanya sedang dalam pola terburuk, sentuhan Kyungsoo membuat itu semua kembali teratur. Kyungsoo adalah obat paling mujarab untuk semua penyakitnya. Ia telah melewati banyak kesedihan, keputusasaan, luka, rasa lelah dan terkhianati. Namun saat mata obsidian itu menatapnya dengan penuh kasih, hukum gravitasi pun tidak berlaku untuknya.
Desahan Kyungsoo memecah keheningan ruangan itu saat bibir Jongin-akhirnya menyentuh miliknya. Lelaki itu menanamkan banyak ciuman, mencoba menggoda Kyungsoo sejenak sebelum membawa milik Kyungsoo masuk ke dalam mulutnya.
Kyungsoo melenguh. Ia mencengkram bantalnya kuat merasakan lidah Jongin yang mulai bermain dengan miliknya.
"You know," Jongin berkata di tengah mulutnya yang masih sibuk, "aku bisa melakukan ini sepanjang malam jika kamu mau."
Itu bukan ide yang buruk menurut Kyungsoo. Namun ia tidak bisa mengucapkan apapun saat ini. Tidak ketika Jongin mempercepat gerakannya dengan hisapan yang membuat Kyungsoo larut dalam kenikmatan. Kyungsoo merasakan gejolak yang memaksa keluar dari dalam tubuhnya, akan tetapi Jongin justru berhenti.
Ia tertawa melihat Kyungsoo yang menatapnya berang.
"Jangan marah. Aku ingin kamu puas karena milikku. Bukan sesuatu yang lain."
Kyungsoo kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal tanpa memprotes apapun. Jongin mencium kening Kyungsoo, sambil mengambil lube yang ia sudah tau persis dimana tempatnya.
Kyungsoo menanti dengan sabar ketika jari Jongin mulai masuk ke dalamnya.
Satu, dan ia menjerit kesakitan. Sudah cukup lama ia tidak melakukan ini. Hal itu masih menimbulkan rasa sakit seperti terbakar di dalam sana.
Dua, ia mencengkram lengan Jongin kuat dan lelaki itu mengecup, menenangkannya.
Tiga, Kyungsoo terengah. Ia perlahan merasakan kesakitannya mulai terambil alih dengan rasa nikmat.
Saat mengamati Jongin yang melumuri miliknya sendiri dengan lube, Kyungsoo tiba-tiba teringat sesuatu.
"Jongin..." Ia menelan ludahnya, "ketika aku mengulummu waktu itu... apak-apakah aku melakukannya dengan baik?"
Jongin tersenyum sambil memposisikan dirinya di antara kaki Kyungsoo. "You did it so darn good, Soo." Ia memainkan ujung miliknya di antara kedua paha Kyungsoo, "Now, would you mind to say the magic word?"
Kyungsoo membalas senyum Jongin sebelum akhirnya berkata, "Make love to me, Jongin."
Dan Jongin benar-benar melakukannya.
Gerakan itu dimulai dengan lambat dan pelan. Jongin melihat Kyungsoo memejamkan mata tiap kali ia bergerak. Jongin mendesah merasakan kehangatan di bagian bawah tubuhnya. Ia hampir lupa diri ketika melihat miliknya keluar masuk ke dalam Kyungsoo. Namun kedua mata Kyungsoo kembali menenangkannya. Mereka berciuman di antara pinggul yang beradu dan memberikan kenikmatan di antara keduanya. Jongin mempercepat hujamannya secara bertahap ketika Kyungsoo mulai ikut bergerak sendiri di bawahnya.
Setiap desahan Kyungsoo menyenandungkan musik ke telinganya. Ia segera mencari sudut tertentu dan berhasil merubah desahan itu menjadi 'Yes, right there', 'Oh, God' dan banyak 'Ah, Jongin'. Jongin tersenyum puas, ia menikmati bagaimana sensasi miliknya yang menggesek bagian dalam Kyungsoo.
"Jongin, aku hampir-" Kyungsoo memejamkan matanya kuat saat Jongin akhirnya menghujam ke dalamnya dengan ritme yang memabukkan.
"Come, baby." Ucap Jongin yang merasakan gejolak dalam dirinya sendiri makin dekat. "Come for me."
Kyungsoo mencengkram lengan Jongin ketika ia mencapai puncaknya. Hal itu makin memacu gairah Jongin karena Kyungsoo keluar saat ia belum menyentuh milik lelaki itu.
Kyungsoo menggigit bibir merasakan Jongin masih belum melambatkan gerakannya.
"Oh, aku sangat merindukan ini." Jongin memegang kuat pinggang Kyungsoo, menghujamkan miliknya lebih dalam, lebih cepat, dan lebih keras lagi. Jongin merasa pandangannya kabur untuk sesaat ketika ia akhirnya melepaskan semua yang ia tahan ke dalam Kyungsoo.
Ia merebahkan kepalanya ke dada Kyungsoo, dan entah untuk alasan apa mereka berdua tertawa keras.
Kyungsoo menyeka peluh yang membasahi kening Jongin. Tubuh mereka lengket dengan cairan namun mereka tidak peduli. Mereka berpelukan erat seakan setiap detik saat ini adalah yang paling berarti. Jongin menggulingkan badannya ke samping Kyungsoo sambil masih terus tertawa. Mereka saling menggelitik satu sama lain. Menyeka sisa-sisa cairan yang masih tersisa, sambil mencuri cium diam-diam.
Jongin menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih telanjang. Ia menempelkan keningnya ke kening Kyungsoo. Matanya mulai berat, namun ia masih ingin melihat Kyungsoo tersenyum.
Maka sebelum tertidur, ia melakukan usaha terakhirnya.
"Hey, prince," Jongin menatap Kyungsoo dalam, "you're my earth, air, water, fire."
Lalu, ia melihat Kyungsoo memberikan senyum yang membuat seluruh aktivitas dalam otaknya lumpuh sesaat.
Dibutuhkan banyak keberanian bagi Jongin untuk menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Ia menelan ludah saat melihat tempat di mana ia dulu menghabiskan waktunya paling banyak. Dengan tangan yang sedikit berkeringat, Jongin memberanikan diri masuk.
Ia melongok ke salah satu ruangan dan melihat seseorang berambut coklat tua sedang menggerakkan tubuhnya mengikuti irama tertentu.
Orang itu segera menoleh ketika melihat pantulan wajah Jongin di salah satu kaca.
"Aku harap aku punya pistol untuk menembak kepalamu saat ini." Sapa lelaki itu dengan nada yang membuat suasana di sekitarnya berubah menakutkan.
Jongin menarik nafas panjang. Kyungsoo jelas melupakan seseorang di daftar yang kemarin ia buat. Dan orang di depannya saat ini, mungkin seharusnya menempati prioritas yang paling tinggi.
Zhang Yixing.
Lelaki ini boleh saja punya persona manis seperti unicorn yang biasa anak kecil mimpikan dalam tidurnya. Dengan lesung di kedua pipi serta mata teduh, ia menyihir penampilannya menjadi lelaki diam yang misterius. Namun yang Jongin lupakan adalah setiap unicorn mempunyai tanduk.
Dan ia yakin, jika tanduk milik Yixing kasat mata, mungkin saat ini benda itu sudah menancap kuat di tenggorokan Jongin.
"Hyung, errr... apa kabar?"
Yixing tidak menjawab. Ia mematikan music player di dekatnya dan duduk bersila di lantai kayu ruangan itu. Dengan ragu-ragu, Jongin melangkah masuk. Ia duduk sedikit jauh dari Yixing namun cukup untuk mendengar desahan panjang lelaki itu.
"Aku dengar ayahmu meninggal." Tutur Yixing akhirnya.
Jongin menunduk tiap kali seseorang menyinggung soal ayahnya. "Yeah. Aku baru saja mengunjungi makamnya."
"I'm sorry for your loss. You alright, now?"
Jongin tersenyum lalu memandang Yixing, "Ya. Aku merasa sudah sangat baik sekarang."
Dan dalam sesaat, Jongin dapat menangkap perubahan wajah Yixing saat itu.
"Good. Karena aku tidak segan untuk membunuhmu hari ini."
Yixing bangkit dari duduknya lalu dengan cepat mencekik leher Jongin. "YOU SON OF A BITCH! PERTUNJUKAN TERAKHIRKU HAMPIR GAGAL KARENA KAMU MENGHILANG."
"I-i'm s..orry, Hyung." Ucap Jongin setengah mati karena jari-jari Yixing mencengkram lehernya kuat.
"You fucking should be! Bagaimana bisa kamu tiba-tiba datang dengan wajah tanpa beban?!"
Jongin merutuk ketika merasakan udara dalam paru-parunya mulai menipis.
Kenapa pula semua orang seperti ingin membunuhnya?
Melihat muka Jongin yang mulai memerah Yixing akhirnya melepaskan tangannya. Jongin berbaring di lantai itu sambil memasukkan udara banyak-banyak ke dadanya.
Yixing yang memasang mimik marah membuang pandangannya dari lelaki itu. "Lagipula apa yang kamu lakukan di sini?" Pekik lelaki itu tanpa melihat Jongin.
Jongin menarik nafas panjang, "Aku rasa aku ingin menari lagi." Jawabnya sepelan mungkin.
"OH MY GOD!"
Yixing memukul wajah Jongin keras. Jongin berguling di lantai ruang latihan itu sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Lagi.
Pekerja otak dalam kepalanya seperti sedang mengenakan kostum bola sekarang dan berteriak riang, 'Congrats, Kim Jongin! You've scored a hat-trick!'
Jongin mengutuk. Kekacauan yang ia buat ternyata tidak sesederhana di pikirannya. Ia menyesal selalu menuruti keinginannya sendiri tanpa memikirkan dampak buruknya bagi orang lain. Dan entah kenapa, itu membuatnya rela mendapat pukulan lebih banyak lagi jika memang itu akan menghilangkan rasa bersalahnya.
"Kamu pikir aku akan menerimamu lagi? Hell no, Jongin!"
"But, Hyung... aku berjanji tidak akan berulah kali ini."
"Kamu pikir aku percaya padamu?"
"Kamu boleh benar-benar membunuhku jika aku berbohong kali ini."
Yixing berdecak kesal. Ia mau tidak mau mengakui bahwa Jongin adalah salah satu dari murid terbaiknya. Ia juga tidak bisa terus-terusan meminta Sehun menjadi sorotan utama di tiap pertunjukan.
"Dengan apa?" tanya Yixing tiba-tiba.
Jongin mengerjap dengan tatapan kosong, "I'm sorry, what?"
"Aku boleh membunuhmu dengan senjata apa jika kamu menghilang lagi?"
Jongin bergidik ngeri. Ia tidak tahu Yixing benar-benar seserius ini menanggapi ucapannya. "Err... pistol? Pisau?"
Lelaki di depannya menggeleng, "Aku ingin sesuatu yang bisa membunuhmu pelan-pelan."
Jongin menoleh cepat, "WHAT THE HECK ARE YOU TALKING ABOUT, HYUNG? HAHAHAHA." Ujar Jongin sambil memaksakan tawanya.
Ia merasa keringat dingin mengalir di tengkuknya ketika Yixing hanya menjawab dengan kalimat singkat, "Aku serius."
Jongin berusaha menenangkan dirinya saat Yixing melanjutkan, "Bagaimana dengan racun? Ah, mungkin tambang? Jadi kamu bisa mati sesak nafas. Atau aku akan mengurungmu di suatu ruangan sampai kamu mati kelaparan."
Jongin segera mempertimbangkan untuk membawa Yixing ke Psikiater saat itu juga.
Tapi karena ia telah membulatkan tekadnya untuk tidak megacau kali ini, ia akhirnya menyetujui apapun konsekuensi yang akan diterimanya.
"Mungkin pilihan terakhir." Cetus Jongin, "Kamu tahu bagaimana rakusnya aku dengan makanan. Apa kamu ingat saat pulang latihan kamu sering mentraktirku dua mangkuk ramen?"
Yixing tersenyum saat mengingat itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa hubungannya dengan Jongin bukan hanya sebatas murid dan pelatih. Ia mulai membalas kalimat Jongin dengan berbagai memori yang lain. Yixing menemukan dirinya tertawa saat Jongin menyebutkan ia pernah lupa menutup resleting celananya di salah satu pertunjukan.
"Dan Sehun melihatku dengan tatapan dude-zip-your-pants-or-i-will-shove-your-freaking-junk-off." Papar Jongin dalam tawanya.
Ketika tawa mereka mereda, Yixing kembali memasang mimik serius, "Kenapa tiba-tiba kamu ingin kembali?"
Jongin mengingat malam sebelumnya ketika ia menari di depan Kyungsoo. Ia ingat tentang perasaan membuncah yang menyenangkan kembali mengisi dadanya seiring dengan gerakan tubuhnya. Dan ia ingat sebuah bibir yang tidak berhenti tersenyum sampai ia selesai menari. Seluruh alasan itu lebih dari cukup untuk membuatnya kembali kesini.
Namun ia hanya memberikan sebuah jawaban singkat ke Yixing. "Stuff." Ia menaikkan sudut bibirnya, "A lot of stuffs."
Dan itu ternyata bisa membuat Yixing melihat keseriusan Jongin kali ini lewat matanya.
Jongin pulang dengan hidung yang memar dan Monggu di tangannya-yang ternyata cukup menguras energi untuk mengambilnya kembali setelah berbagai bujukan seperti; 'Monggu, are you mad with daddy?', 'Oh, baiklah, aku minta maaf. Bisakah kamu berhenti mengiggitku?', 'C'mere, aku akan memberi makan lebih banyak dari biasanya'.
Begitu Kyungsoo melihat Jongin yang kembali terluka, ia tercekat, "Oh, God."
Kyungsoo segera berlari mengambil First Aid Kit-nya.
"Ini adalah pelajaran untukmu Kim Jongin, jangan pernah bermain-main lagi dengan perasaan orang lain." Sungut Kyungsso marah.
Namun hal itu tidak membuat Jongin gusar karena ia lebih dari bahagia untuk mengatakan, "Aku akan menari lagi."
Mata Kyungsoo membulat menatapnya akan tetapi sebuah senyum terlukis di wajah lelaki itu tidak lama kemudian. "Benarkah? Aku kira kamu masih mempertimbangkannya." Pekik Kyungsoo gembira.
Jongin menggeleng pelan, ia menyelami mata Kyungsoo dengan lama dan dalam, "Aku rasa, aku sudah menemukan alasanku untuk menari lagi."
END OF PART 10 : FLYOVER
It's been a super hectic week for me ;A;
Mungkin buat yang udah baca drabble aku, kalian bakal nemuin beberapa kesamaan sama chapter ini. Karena emang awalnya kepikiran bikin drabble itu pas lagi ngerjain chapter ini. Hehehe :p (kalian bisa baca itu di tab stories aku kalo kalian tertarik)
So, di sini aku mau memunculkan Jongin yang mulai bangkit lagi dari keterpurukan. Dan sekalian mau ngaku, aku ternyata nggak begitu jago dengan adegan-adegan NC. Hahahaha. Jadi maaf banget kalo NC-nya terkesan biasa ajah XD
BTW, CAN YOU BELIEVE THAT MY BABY NINI FINALLY HAD AN INSTAGRAM ACCOUNT? I'M SO PSYCHED ABOUT THIS. Oh, sorry i'm going to stop now.
Oke, jangan lupa saran, kritik serta review-nya lagi, yah! I LOVE YOU ALL!
KAISOO FTW!
-RedSherr88-
