"Life's just a bunch of accidents, connected by one perfect end."
― Daniel C. Tomas
.
Warning : Please brace yourself. Just, please.
.
Seoul, dua setengah tahun kemudian.
.
"Excited?" Luhan membenarkan posisi duduknya di kursi berbalut velvet warna merah itu. Tangannya menenangkan punggung sahabatnya yang terlihat tegang.
"As fuck." Jawab lelaki di sebelahnya singkat.
Kyungsoo memukul-mukul pahanya sendiri karena rasa gugup yang menyeruak mengambil alih semua bagian dalam otaknya. Ia melirik tirai di atas panggung yang masih tertutup.
Kyungsoo menarik nafas panjang, sambil terus berdoa semoga pertunjukan kali ini berjalan lancar.
Black Swan adalah tema yang Jongin angkat sebagai pertunjukan solo perdananya. Tertera di tiket berwarna keemasan bersama dengan nama 'KAI', sebuah stage-name yang Kyungsoo pilih sendiri untuk Jongin.
Ia melihat ke arah teman-temannya yang duduk di deretan bangku yang sama.
"It will be perfect, Soo. Calm down." Baekhyun mengusap punggung tangan Kyungsoo dan ia hanya mampu mengangguk kaku.
Tao dan Kris terlihat bercakap-cakap, sambil sesekali melihat cincin berbentuk naga di jari manis mereka.
Itu adalah hal paling mengejutkan, Kyungsoo harus akui. Ia tidak menyangka dari semua teman-temannya, ternyata Tao dan Kris adalah yang pertama bertunangan. Kyungsoo mengira Chanyeol akan berinisiatif paling awal. Mengingat ia seperti lovesick puppy jika sedang bersama Baekhyun. Namun, lelaki itu ternyata menunggu Baekhyun menyelesaikan studinya yang tertunda. Baekhyun mengambil Manajemen Bisnis sebagai jurusan yang ia pilih setelah ayahnya kembali menaruh kepercayaan padanya.
Terlalu banyak cerita yang terjadi dalam kurun waktu dua setengah tahun itu. Luhan duduk sendiri di sebelahnya, berusaha menyembunyikan kegugupannya sendiri. Jongin memilih Sehun sebagai partner dalam beberapa tarian yang akan ia bawakan nanti. Setelah banyak pengingkaran yang Luhan lakukan, Kyungsoo lega akhirnya lelaki itu punya jawaban tegas ketika ada yang bertanya siapa Sehun; "Ksatria-ku. Dia adalah ksatria-ku."
Pertunjukan itu dimulai lima menit lagi yang terasa seperti satu dekade bagi Kyungsoo. Waktu bersamanya dengan Jongin dapat dihitung dengan jari dalam sebulan terakhir ini.
Itu terlalu sedikit untuk memenuhi dosis Jongin hariannya; tiga senyuman, dua tawa, dan satu ciuman.
Namun dengan kesibukan Jongin yang mulai menyamai miliknya, jadwal mereka banyak berbenturan. Ada kalanya ketika Jongin pulang, Kyungsoo sudah tertidur pulas. Atau sebaliknya ketika Kyungsoo pulang ia melihat Jongin yang kelelahan dan hanya ingin segera istirahat.
Tapi hampir tidak pernah ada pertengkaran hebat di antara mereka. Karena mereka tahu, mereka sama-sama punya perasaan yang dalam untuk satu sama lain. Kyungsoo merasa hidupnya berubah luar biasa sejak bertemu Jongin. Selama dua setengah tahun hubungan mereka, ia telah melihat banyak sekali versi Jongin yang membuatnya lebih jatuh cinta.
Ada versi manis Jongin, seperti yang ia perlihatkan ketika mereka resmi tinggal bersama di rumah lama Jongin. Kyungsoo yang pertama mempunyai ide itu. Karena ia merasa, rumah itu lebih memiliki banyak kenangan dibanding rumah Kyungsoo. Jongin menyetujuinya. Mereka akhirnya mulai merenovasi rumah itu sesuai dengan keinginan mereka. Kyungsoo memilih warna biru untuk cat kamar utama.
Ketika Jongin menanyakan alasannya, Kyungsoo dengan riang menjawab, "Itu adalah warna langit. Dalam bahasa inggris, sky punya rima yang sama dengan Kai. It suits you the most."
Lelaki di depannya tersenyum malu-malu.
Lalu hari berikutnya, Jongin membalas Kyungsoo dengan membawa banyak bibit bunga Chrysanthemum warna ungu dan putih. Kali ini, giliran Kyungsoo yang bertanya kepada Jongin.
Sambil menyerahkan sekop kecil dan sarung tangan berkebun, Jongin tersenyum. "Chrysant ungu mengingatkanku dengan ibuku. Ayahku dulu juga menanamnya di sini. Ungu berarti doa agar seseorang lekas sembuh."
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Dan yang putih?"
Jongin menatapnya dengan sorot mata lembut, "Itu mengingatkanku padamu."
Ketika Kyungsoo menanyakan apa arti warna putih di bunga itu. Jongin hanya bersemu tanpa menjawab.
Hingga malamnya, Kyungsoo menemukan arti Chrysant putih dalam tiga kata yang cukup membuatnya lupa cara bernafas; Kesetiaan, Kejujuran, Ketulusan.
Setelah itu, Kyungsoo mencium versi manis Jongin banyak-banyak sampai ia tertidur.
Ada juga versi kekanakan Jongin yang membuat kepalanya pusing. Seperti saat ia membeli dua tiket ke Jepang untuk merayakan hari ulang tahun mereka.
Lelaki itu langsung memberengut menatap Kyungsoo. "Aku tidak suka kamu terus memberiku sesuatu ketika karirku masih belum stabil. Aku juga ingin membalasnya."
Kyungsoo mendesah, ia memperhatikan Jongin yang tidak mau duduk di sebelahnya. "Sweetheart, kamu tahu aku tidak pernah mempermasalahkan ini."
Ekspresi Jongin tidak berubah, "Aku tahu. Tapi aku tetap tidak suka."
Kyungsoo memijat pelipisnya pelan. "Kamu ingin aku membatalkannya?"
"No!" lelaki itu menyahut cepat, "Aku hanya tidak suka. Bukan berarti aku tidak mau."
Kyungsoo ingin berteriak 'SO WHAT THE DAMN HELL DO YOU WANT EXACTLY?' saat itu juga. Namun, Jongin yang ada di depannya sekarang—dengan bibir mengerucut, rambut yang jatuh asal-asalan, dan pandangan yang tidak beralih dari kakinya justru memancing tawanya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Jongin gusar.
"You're just ridiculous. Ridiculously cute and annoying at the same time."
"Ugh, i hate you."
"No, you love me."
Jongin memutar bola matanya, lalu berjalan mendekat ke arah Kyungsoo dan memeluknya erat.
"I hate you because i love you so much." Ucap Jongin yang masih memperhatikan tiket di tangannya. "Lagipula, berapa yang kamu habiskan untuk trip ini?"
"Hanya setengah dari gaji bulananku." Jawab Kyungsoo.
"Rich bastard." Gerutu Jongin di dadanya.
"Atau mungkin pangeran kaya yang tampan?" goda Kyungsoo sambil tertawa.
"It's more like a Sugar daddy."
"Hey!" Kyungsoo menarik tubuhnya menjauh. "Don't call me with that name, young man!"
Jongin terkikik geli karena kemenangannya. Kyungsoo memberikan satu pukulan keras ke versi kekanakan Jongin.
Belum lagi versi posesif Jongin yang sering muncul tiba-tiba, bahkan pada sebuah pesta. Hal itu terjadi ketika Kyungsoo mengajak Jongin untuk menghadiri pesta tahunan di Black Pearl. Seorang Chef dari cabang Black Pearl mendekatinya, ia menanyakan beberapa pertanyaan basa-basi mengenai bidang kuliner. Namun mata Jongin tidak pernah lepas dari Chef itu, layaknya elang yang mengincar mangsa dalam diam.
Dan serangan Jongin akhirnya dimulai ketika Chef itu menanyakan, "So, Mister Do, saya sangat menikmati percakapan dengan anda. Mungkin kita bisa melanjutkannya sambil makan malam lain kali?"
Jongin segera berdiri dari kursi di belakang Kyungsoo, melingkarkan lengannya erat-erat ke pinggang lelaki itu, lalu mengecup pipi Kyungsoo. "I'm sorry, tapi sepertinya kekasihku punya kesibukan lain yang lebih penting. Right, prince charming?"
Kyungsoo hanya bisa bersemu dengan senyum canggung ketika Chef itu mengutarakan maaf hingga akhirnya berlalu.
Jongin menarik dagu Kyungsoo hingga tatapan lelaki itu bertemu dengannya. "You. Me. Restroom. Now."
Kyungsoo menelan ludah ketika melihat Jongin yang berjalan keluar dari venue utama pesta itu.
Ini tidak akan berakhir baik. Desah Kyungsoo dalam hati.
"Bagaimana bisa kamu meneruskan pembicaraan dengan lelaki genit seperti tadi?" Serang Jongin begitu Kyungsoo menyusulnya masuk ke salah satu restroom.
"Aku hanya bersikap sopan, Jongin."
Jongin menghimpitnya ke dinding marmer yang dingin di belakangnya.
"Oh, Kyungsoo." Lelaki di depannya berdecak frustasi, "Apa kamu tidak lihat ia seperti ingin menelanjangimu, lalu menyetubuhimu sampai otakmu keluar?"
"Kamu bersikap berlebihan." Kyungsoo menjawab dengan suara parau, karena ia belum pernah melihat Jongin semarah ini.
Mendengar nada suara Kyungsoo yang berubah, Jongin menghela nafas.
"No, baby, no." Lelaki itu mengusap pipi Kyungsoo, "Aku khawatir. Apakah kamu sadar aku hampir gila memperhatikan banyaknya lelaki yang ingin memilikimu?" Jongin menjilat bibir lalu melanjutkan, "Aku takut waktu latihanku belakangan ini menyita kebersamaan kita. Dan dengan para lelaki itu yang mengetahui orientasimu, bagaimana bisa aku mengatasi ketakutanku?"
Kyungsoo segera menangkupkan kedua tangannya ke rahang Jongin. Di antara stall-stall restroom dengan cahaya yang redup, ia mencium bibir Jongin dalam.
"So, let them know," bisik Kyungsoo ke telinga versi posesif lelaki itu, "that Do Kyungsoo is property of Kim Jongin."
Entah bagaimanapun, dari semua versi Jongin yang masih banyak lagi, ada satu hal yang paling tidak bisa Kyungsoo hindari.
The Sex God Version.
Karena versi manis Jongin tetap diikuti dengan, "Such a beauty. Kamu bahkan terlihat menarik dengan noda lumpur di bajumu."
Lalu Jongin melepas sarung tangan Kyungsoo. Memberikan ciuman sambil membimbingnya ke balik pohon besar di pekarangan rumah mereka. Bunga-bunga Chrysant yang masih setengah tertanam menjadi saksi, ketika Kyungsoo meneriakkan nama Jongin begitu keras. Ia bahkan tidak peduli jika tetangga di sekitar rumah itu mendengarnya. Karena Jongin menghujamnya dengan lembut namun tepat sasaran.
Jongin mencium bagian belakang leher sampai punggungnya sambil terus bergerak dan mengutarakan, "You are so perfect, baby."
Kyungsoo tercekat ketika akhirnya melihat noda lumpur di bajunya bercampur dengan noda yang lain.
Dan versi kekanakan Jongin membiarkan Kyungsoo untuk menikmati pengalaman pertamanya berada di atas. Jongin meyakinkan Kyungsoo bahwa bertukar posisi adalah wajar dalam sebuah hubungan. Jongin juga ingin tahu peran mana yang lebih memuaskan Kyungsoo. Karena ia akhirnya berusaha mengalah setelah selalu mengambil alih permainan mereka. Ia tidak peduli berada di bawah atau di atas, selama itu semua bersama Kyungsoo.
Untuk menghilangkan kegugupan Kyungsoo, Jongin terus melemparkan kata-kata yang membangkitkan gairah lelaki itu.
"Come on, daddy. Fuck me."
Dan usaha Jongin berhasil. Kyungsoo ikut larut hingga akhirnya membalas Jongin.
"You want daddy to fuck you, huh?"
"Yes, daddy please, please. I need you."
Lalu Kyungsoo menggigit leher Jongin ketika seluruh miliknya berada di dalam lelaki itu. Ia mulai bergerak dengan ritme yang membuat Jongin terus melepaskan desahan dari bibirnya.
"Kamu menyukainya?" tanya Kyungsoo ketika ia sedikit melambatkan hujamannya.
"Oh, goddamn it, Soo. Jangan menggodaku."
"Siapa yang mengajarimu berkata kotor? Bukankah anak nakal harus mendapat hukuman?"
Kyungsoo terhenyak dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Lelaki di bawahnya menyeringai.
"Punish me, daddy. Punish me deep and hard."
Sambil meredam rasa malunya, Kyungsoo memulai gerakannya sesuai apa yang Jongin mau. Mereka berdua berakhir dengan cairan lengket dan peluh di antara tubuh mereka.
Jongin membelai rambut Kyungsoo yang masih berada di dadanya.
"So, daddy kink, huh?" sindir Jongin yang setengah tertawa.
Kyungsoo mengeluarkan lenguhan panjang. "Oh, God. Jangan pernah bicarakan ini lagi."
"Kenapa? Jika kamu menyukainya, kita bisa terus melakukan ini."
Kyungsoo mendongak menatap Jongin, "Sungguh?"
Lelaki itu mengangguk.
"Tapi aku akan lebih menyukainya jika kamu yang mendominasi."
Tanpa aba-aba, Jongin dengan cepat menukar posisi mereka.
"So, Kyungsoo," Jongin memberikan senyum yang membuat tubuhnya merinding, "who's your daddy?"
Bibir Kyungsoo mengering, ia ingat apa yang Jongin lakukan setelah itu merupakan permainan terbaik yang pernah terjadi di hidupnya.
Namun versi posesif Jongin akan diikuti dengan sesuatu yang lebih berbahaya. Lelaki itu berusaha untuk meninggalkan banyak jejak kemerahan di leher Kyungsoo. Jongin mengangkat Kyungsoo ke atas meja wastafel restroom itu. Kyungsoo melingkarkan kakinya di pinggang Jongin selagi lelaki itu sibuk membuka kancing celananya.
"Jongin, kamu belum mengunci pintu."
Lelaki itu menyeringai, "Lalu apa yang menjadi masalahmu?"
Kyungsoo membelalak, "Seseorang bisa masuk dan-"
Jongin mengunci bibir Kyungsoo dengan bibirnya. "Kamu terlalu banyak bicara." Ia kembali menghisap leher Kyungsoo, "Lagipula, kamu tahu bagaimana cara mengusir mereka."
Wajah Kyungsoo terasa panas mengetahui apa yang dipikirkan Jongin saat ini. Lelaki itu memberi seringai tipis ke arahnya, sebelum memasukkan miliknya ke dalam Kyungsoo. Ia menarik kaki Kyungsoo ke atas meja wastafel itu dan melenguh dengan apa yang dilihatnya.
"You're so fucking adorable. Aku tidak heran kenapa lelaki-lelaki itu ingin memasukimu."
Kyungsoo menancapkan kuku-kukunya ke bahu Jongin saat lelaki itu mulai bergerak.
"Scream, baby. Scream my name. Buat mereka tahu kita sedang sibuk di dalam sini."
Kyungsoo yang lepas kendali segera meneriakkan nama Jongin berkali-kali.
"That's right, baby. Biarkan siapapun tahu bahwa aku memilkimu."
Jongin mempercepat tempo gerakannya. Bibirnya masih belum berhenti menandai bagian-bagian tubuh Kyungsoo sambil terus berbisik 'mine' dalam tiap hisapannya.
Lelaki itu menyerang titik kenikmatan Kyungsoo dengan cepat dan dalam hingga ia mengeluarkan sesenggukan yang meminta Jongin untuk menyentuh miliknya.
"Tidak boleh ada siapapun yang melihatmu memohon untuk dipuaskan seperti ini selain aku." Ucap Jongin yang hanya melingkarkan tangannya di milik Kyungsoo. Menghasilkan sengal putus asa dari bibir lelaki itu.
"Whose your body belong to, baby? Tell me."
Diantara pikirannya yang berteriak minta dikeluarkan, Kyungsoo sebisa mungkin menjawab, "Y-yours, Jongin. Yo-yours."
Lelaki itu tersenyum, "Good boy." Jongin akhirnya memompa milik Kyungsoo dengan cepat. Kyungsoo mencapai puncaknya dengan teriakan menggema yang mungkin membuat seseorang di luar sana mendengarnya.
Ketika Jongin menyusulnya tidak lama kemudian, ia mencium kening Kyungsoo lembut.
"Mungkin kamu benar, aku minta maaf karena telah berlebihan."
Kyungsoo mendesah sambil memeluk lelaki itu. "Aku hanya mencintaimu. Aku bersumpah aku hanya mencintaimu."
Saat mereka kembali ke venue utama pesta itu, Kyungsoo tidak ambil pusing untuk menyembunyikan banyak tanda merah di lehernya.
Ketika seseorang menanyakannya, ia bahkan dengan santai menjawab, "My boyfriend gave me this. Ia sedikit posesif akhir-akhir ini."
Kyungsoo tergelak melihat Jongin yang berdiri di sebelahnya memerah dengan tatapan terkejut.
Sorot cahaya lampu yang menerangi panggung itu mengantarkan Kyungsoo kembali dari lamunannya. Ia menggenggam tangan Luhan erat ketika tirai panggung itu mulai terbuka.
Di sana, di tengah panggung itu, sesosok lelaki berpakaian serba hitam, serta rambut keperakan yang ditata sedikit berantakan menyambutnya.
Iringan musik dengan tuts piano mengalun lembut membungkam semua perhatian penonton di dalam gedung itu. Jongin mulai mengayunkan tubuhnya dengan gemulai yang membuat setiap orang terkesima.
Rasa bangga menjalar di dalam tubuh Kyungsoo. Ia tidak melepaskan pandangannya sekalipun, ketika lelaki itu melompat memutar kaki-kakinya seperti seorang ballerino.
Mata Jongin bertemu dengan matanya yang berada di kursi paling depan. Jongin tersenyum kecil seperti sedang mengisyaratkan rasa terima kasih karena telah mendukungnya selama ini.
Dan untuk beratus-ratus kalinya, Do Kyungsoo kembali menemukan alasan kenapa ia jatuh cinta dengan Kim Jongin.
Para pekerja otak di dalam kepalanya menyimpan semua alasan itu rapat-rapat dalam brankas besi tebal yang tidak satupun orang bisa menyentuhnya.
Mereka berkumpul di salah satu kafe dengan cahaya temaram setelah pertunjukan itu selesai. Jongin menarik nafas lega ketika semua orang yang duduk di meja itu memuji penampilannya dan Sehun malam ini.
Baekhyun yang berseberangan dengannya terus menirukan salah satu tarian Jongin yang berjudul 'Deep Breath' dan berhasil membuat tawa yang menggema di ruang terbuka itu.
Beberapa pasang mata gadis di meja lain menatapnya sambil berbisik yang membuat lelaki di sebelahnya memasang muka masam sedari tadi.
"I hate your fangirl." Gerutu Kyungsoo sambil memainkan garpu di tangannya.
Jongin tersenyum lalu menarik lelaki itu mendekat, "Don't be. Bukankah sudah kukatakan jelas-jelas bahwa aku telah memiliki pasangan saat sedang wawancara kemarin?"
Lelaki di sebelahnya geming seperti tidak mendengar apapaun. Mimik wajah Kyungsoo makin masam ketika tiga gadis mendekat ke meja mereka. Jongin mendesah, ia bahkan tidak tahu popularitasnya yang masih seumur jagung telah menghasilkan banyak penggemar.
"Kai oppa, bolehkah kami meminta foto bersama?"
Ia melirik ke arah Kyungsoo yang dengan berat hati mengangguk.
Jongin bangkit dari kursinya dan membuat ketiga gadis itu memekik kegirangan. Setelah beberapa kali mengambil gambar, ketiga gadis itu memandang puas ke layar handphone-nya. Mereka kembali berbisik yang membuat Jongin penasaran tentang apa yang gadis-gadis itu bicarakan. Melihat ekspresi Jongin, salah satu gadis mendekatinya.
"Oppa, apakah yang duduk di sebelahmu adalah kekasih yang kamu bicarakan kemarin?"
Jongin tersenyum, "Ya. Kalian ingin berkenalan dengannya?"
Mereka mengangguk cepat.
Jongin menarik pergelangan tangan Kyungsoo pelan. Mata lelaki itu membesar ketika Jongin meraih bahunya.
"This is Do Kyungsoo, my boyfriend."
Dengan kikuk, Kyungsoo mengulurkan tangannya dan mendapatkan tiga nama dari gadis-gadis di depannya.
"Oppa, he's so handsome." Komentar gadis yang berambut panjang.
"Ya, kalian terlihat sangat serasi." Sahut gadis lainnya.
Jongin mengucapkan terimakasih lalu meminta izin untuk kembali melanjutkan makan malamnya. Gadis-gadis itu segera meminta maaf karena telah mengganggu sebelum akhirnya berlalu.
Jongin memperhatikan rona merah di pipi Kyungsoo. Lelaki itu berusaha menyembunyikan senyum yang tergambar di bibirnya.
"So, kamu masih membenci mereka?" tanya Jongin dengan nada mencibir.
"Well, selama semua fangirl-mu mengatakan aku tampan aku rasa itu tidak masalah."
Ketika mereka kembali duduk, meja itu ramai dengan topik mengenai Kris dan Tao.
"Apa kami melewatkan sesuatu?"
Chanyeol dengan cepat menjawab, "Ya! Kami sedang bertaruh siapa yang akan menyusul Kris dan Tao setelah ini."
"Yang pasti bukan aku dan Luhan. Dia masih sibuk merintis pastry barunya."
Luhan menoleh dengan cepat ke arah Sehun, "Kamu berencana untuk menikahiku?"
Lelaki di sebelahnya memandang Luhan dengan tatapan kosong, "K-kamu... tidak mau?"
"Ah, kamu pasti lupa siapa yang punya andil untuk melamar di hubungan ini."
"It's me." Ucap mereka bersamaan.
Sehun tercekat, "My deer Luhan, bagaimana bisa aku membiarkan seseorang yang melompat hampir satu meter ketika bertemu laba-laba melamarku?"
"Oh Se-Booty-Hun, beraninya kamu membawa kelemahanku ke dalam masalah ini."
"Lagipula kamu tahu siapa yang selalu berada di bawah ketika kita sedang melakukannya."
Pipi Luhan langsung memerah dan mulutnya menganga lebar.
"Guys, come on. Kalian bisa teruskan ini setelah kalian pulang." Potong Chanyeol cepat.
"Kurasa itu juga bukan aku dan Chanyeol." Sambung Baekhyun kembali ke topik yang sebelumnya mereka bicarakan.
Semua mata di meja itu tertuju pada Jongin yang sedang memakan condiment-nya.
"What?" tanya Jongin heran dengan mulut penuh.
Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Forget it, guys. Si bodoh ini hanya peduli dengan perut dan karirnya."
Jongin menegakkan posisi duduknya. "Oh, kalian membicarakan sesuatu tadi?"
Tao mendengus, "Well, kamu hanya perlu menungggu, Soo. Mungkin sekitar..." Ia memperhatikan Jongin yang tidak bisa diam di tempatnya karena pesanan mereka tak kunjung datang. "Seabad lagi."
Kyungsoo menatap lelaki di sebelahnya dengan pandangan putus asa. Apa benar Jongin sama sekali tidak memikirkan sesuatu yang lebih serius daripada ini?
Namun ketika melihat Jongin yang bersorak saat pelayan mengantarkan pesanan mereka, Kyungsoo mendesah panjang.
"Ya, aku rasa seabad lagi." Ujar Kyungsoo membenarkan pernyataan Tao.
Ia memilin tangkai gelas wine-nya, mencoba mengalihkan berbagai bayangan tentang masa depan antara ia dan Jongin.
Kyungsoo tidak menyadari Jongin dan Chanyeol yang saling bertukar pandang lalu terkikik dengan senyum licik.
Ini adalah hari yang aneh untuk Kyungsoo. Pagi tadi, Jongin meminjam mobilnya yang membuat Kyungsoo harus pulang mengendarai bus saat ini. Ia berniat mampir ke 3.6.5 dengan Luhan, namun lelaki itu mengatakan dia mempunyai rencana lain yang membuatnya harus segera pergi. Saat di 3.6.5 ia tidak menemukan Kris maupun Tao. Baekhyun juga sama sekali tidak mengangkat telepon darinya. Ia mendengus saat pintu bus terbuka di halte tujuannya. Kyungsoo berjalan dengan gontai. Ia membuka handphone dan tidak menerima pesan apapun dari kekasihnya. Dahi Kyungsoo mengernyit. Jongin tidak pernah melewatkan seharipun tanpa memenuhi kotak pesannya. Lelaki itu selalu mengganggu Kyungsoo kapanpun ia punya waktu.
Seperti misalnya kemarin, Jongin mengirimkan sebuah 'I love you, prince Soo. Have a great day ahead' di pagi hari, 'Apa kamu sudah makan siang?' diikuti dengan apa yang Jongin makan untuk siang itu di jam satu, dan 'Drive safe! Semoga kamu tidak terlalu lelah karena kamu butuh energi untuk sesuatu yang lain ketika sampai di rumah nanti ;)' sesaat setelah ia pulang kerja.
Dengan kecewa Kyungsoo memasukkan handphone-nya kembali ke saku. Tiba-tiba, ia melihat beberapa anak kecil mendekatinya.
"Oppa, ini untukmu!" Pekik salah satu anak perempuan berkuncir kuda sambil menyerahkan satu bunga Chrysant warna putih.
Anak-anak yang lain segera melakukan hal yang sama. Sebelum Kyungsoo sempat bertanya, mereka berlari dengan cepat sambil terkikik geli.
Di salah satu tangkai dari kedelapan bunga Chrysant itu, terdapat sticky notes dengan tulisan tangan yang berantakan.
.
Hello, adorable prince :)
.
Kyungsoo tersenyum, ia menggenggam bunga itu lalu kembali melangkahkan kakinya. Namun, ia terkejut ketika mendapati Kris berada tidak jauh darinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kyungsoo cepat.
Lelaki itu hanya diam sambil menyerahkan tujuh bunga Chrysant ke tangan Kyungsoo. Sebuah sticky notes kembali tertempel di tangkai bunga itu.
.
Do you like them? Guess who's prettier than these flowers!
.
Ia menatap Kris meminta penjelasan, namun Kris justru mendorongnya untuk melangkah lebih lanjut.
Kali ini, ia disambut oleh Tao. Lelaki itu menyerahkan enam bunga Chrysant yang ia sembunyikan di punggungnya.
.
It's you :)
.
Tanpa bertanya apapun, ia segera mendekat ke arah Luhan yang sudah menunggunya. Luhan kembali memberinya lima bunga yang sama.
.
Setelah berbagi tiap menit denganmu, aku menyadari kamu punya berbagai profesi dalam kota di kepalaku.
.
Kyungsoo membuka pagar depan rumahnya dan menemukan Baekhyun yang mengenakan topi polisi. Empat tangkai bunga Chrysant di tangan lelaki itu, kini berpindah ke tangan Kyungsoo.
.
A Police
Karena kamu mengatur dengan baik kekacauan di dalam sana.
.
Ia kembali berjalan dan mendapati Chanyeol dengan jas snelli panjang. Ia menyerahkan tiga tangkai bunga ke Kyungsoo.
.
A Doctor
Karena kamu mengobati apapun yang membuatku terluka.
.
Kyungsoo tertawa, karena yang ia lihat selanjutnya adalah Sehun yang memakai seragam bercorak hijau keabu-abuan.
"Oh my God, kenapa kamu mau melakukan ini?" tanya Kyungsoo di tengah tawanya.
Sehun mengangkat alis, "Kamu tahu dia punya cara yang menyebalkan untuk membujuk seseorang."
Lelaki itu mengulurkan dua tangkai bunga Chrysant ke Kyungsoo. Ia kembali membaca notes yang tertera di situ.
.
An Army
Karena kamu adalah pertahanan paling kuat yang membuatku bisa terus berdiri.
.
Kyungsoo merasakan matanya mulai panas saat ini.
"Go get him, Hyung." Ujar Sehun sambil membimbing Kyungsoo ke ruang tengah.
Di ruangan itu, ia melihat Jongin yang mengenakan jas rapi sedang tersenyum kepadanya. Lelaki itu mengambil langkah pelan, lalu menyerahkan satu bunga Chrysant terakhir ke Kyungsoo.
"Cheesy, cheesy, cheesy." Ucap Kyungsoo dengan bibir yang tidak berhenti tertarik ke atas.
"Ah, benarkah? Tapi senyummu mengatakan sebaliknya." Jawab Jongin tenang.
"Jadi dalam rangka apa semua ini? Bukankah ulang tahun kita masih lama?"
Jongin menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian mata Kyungsoo, "Apa kamu tidak ingin untuk tahun berikutnya kita merayakan sesuatu yang lain?"
Dahi Kyungsoo berkerut, "Maksudmu?"
"Aku menemui kedua orangtuamu lusa kemarin." Jongin mengisyaratkan Kyungsoo untuk membaca sticky notes yang tertempel di tangkai bunga Chrysant terakhirnya.
.
A Mayor
Karena kamu punya hak sepenuhnya atas apapun yang akan terjadi padaku sekarang, nanti, dan selama yang kamu mau.
.
Ketika selesai membacanya, Kyungsoo melihat Jongin sudah berlutut di hadapannya.
"Prince, my adorable prince. Satu hari tanpa adanya dirimu, maka duniaku berubah kaku dan membosankan. Karena kamu adalah porosnya. Kamu yang menggerakkan tiap rotasi di dalam sana."
Jongin meraih salah satu tangan Kyungsoo yang mulai gemetar.
"I will never love anyone else as much as i love you. I want to make you mine and only mine in the rest of my lifetime. So, Do Kyungsoo,"
Lelaki itu membuka kotak beludru berwarna biru tua yang sedari tadi ia genggam. Sebuah cincin dengan ornamen sederhana langsung menyambut Kyungsoo. Ia menutup mulut dengan tangannya merasakan seluruh tubuhnya merinding karena bahagia.
Kyungsoo merasa bisa mati saat ini juga.
"Will you please, marry me?"
Nada Jongin begitu lembut saat mengucapkan itu. Kyungsoo berurai air mata. Ia mengatur nafasnya ketika Jongin tersenyum penuh kasih menunggu jawabannya.
"Y-yes." Kyungsoo melihat mata Jongin berbinar penuh kelegaan dan ia merasa apapun di sekitarnya tidak lagi berarti. "A thousand times yes, Jongin."
Jongin berdiri, menyejajarkan matanya dengan Kyungsoo lalu meraih jari manis Kyungsoo.
"Thankyou... thankyou, baby. I will never ever let you down."
Bibir Jongin tidak berhenti tersungging. Ia menatap lelaki di hadapannya. Mata Kyungsoo sedikit bengkak karena menangis, lelaki itu terus menggigit bibir merahnya, dan pandangannya saat ini telah menghanyutkan semua kerumitan jalan takdir yang Jongin tempuh.
Kyungsoo adalah jawaban dari semua pintanya.
Kyungsoo melihat cincin yang kini melingkar di jari manisnya, ia mengenggam kuat tangkai-tangkai bunga Chrysant di tangannya. Jongin masih menatapnya malu-malu dengan wajah memerah dan itu membuat Kyungsoo ikut bersemu.
"I love you." Kyungsoo berbisik dengan suara serak. "I love you so much, Kim Jongin."
Lelaki itu tersenyum, ia menarik rahang Kyungsoo mendekat, "And i love you the most, Do Kyungsoo."
Lalu satu kecupan mendarat di bibir Kyungsoo. Bibir Jongin terasa seperti harapan dan masa depan. Kyungsoo tidak bisa lagi meminta sesuatu yang lebih dari ini.
Beberapa pasang mata yang lain menatap mereka dengan berkaca-kaca.
"Apakah kita harus memberi tahu mereka kalau kita masih di sini?" Bisik Baekhyun sambil menahan tangisnya.
"Aku rasa lebih baik kita pergi diam-diam." Jawab Luhan cepat.
"Ugh, ya kita lebih baik pergi sekarang." Balas Kris yang melihat Jongin mulai melumat bibir Kyungsoo dengan lembut.
Mereka mengendap diam-diam menuju pintu depan. Dengan senyum yang masih belum hilang, Sehun mengirimkan doa kepada pasangan itu sebelum akhirnya menutup pintu dengan sangat pelan.
Kyungsoo melepaskan tautan di bibir mereka, "Apa kamu sadar mereka memperhatikan kita sejak tadi?"
Jongin tersenyum, "Ya, aku sengaja menciummu agar mereka pergi."
Kyungsoo memukul dada Jongin, "You're unbeliveable, Kim Jongin."
"Bukankah karena itu kamu mencintaiku," Jongin mengambil jeda sejenak untuk mengagumi seseorang dalam pelukannya, "Kim Kyungsoo?"
Kyungsoo mengeratkan pelukan mereka. "Itu terdengar sempurna."
Jongin mengecup puncak kepala Kyungsoo lalu menambahkan, "Segala sesuatu tentang dirimu akan selalu sempurna."
Karena Kyungsoo telah melalui jembatan besar untuk masuk ke gerbang kotanya, lalu masuk ke jalan tol tanpa perlu banyak usaha. Kyungsoo melewati banyak gang, jalan, sebelum sampai ke daerah pinggiran, pusat kota sampai ke ibu kotanya. Kyungsoo bahkan membuat tanaman di taman kotanya kembali bersemi. Dan setelah melintas jalan layang yang panjang, lelaki itu sampai.
Bridge, gate, highways, streets, alleys, suburban, urban, capital, central park, flyover, and here.
Mayor's Hall.
Jantung pemerintahan di dalam kepalanya. Kyungsoo telah menjadi penguasa tertinggi yang bisa mempengaruhi bagaimana kehidupannya kelak. Mereka berdua akhirnya menandatangani diplomasi resmi untuk saling mengatur maupun merombak semua distrik dalam kepala mereka.
Dan Jongin meyakini bahwa setelah ini, semuanya akan baik-baik saja.
Ya, semuanya akan baik-baik saja.
END OF PART 11 : MAYOR'S HALL
...
...
...
So, basically, this is the end of my story.
OH, MY GOD! Aku minta maaf nggak ngasih warning apapun di chapter sebelumnya. Dan aku berharap ini nggak bakal jadi masalah buat kalian :'(
Karena aku kurang bisa berkutat sama ide cerita yang terlalu panjang. So... yeah... Semoga kalian nggak kecewa.
Kalian bisa baca bagian epilogue di chapter berikutnya.
KAISOO FTW!
-RedSherr88-
