EPILOGUE
Kyungsoo menggerutu di sepanjang perjalanan pulang. Ia memakirkan mobil ke garasi rumahnya dengan gusar. Beberapa kritikus makanan yang tadi siang datang tiba-tiba, membuatnya was-was apa yang akan dituliskan oleh mereka mengenai Black Pearl. Ia membanting pintu mobilnya keras. Seluruh badannya menjerit meminta istirahat karena banyaknya permintaan para kritikus itu. Yang ia inginkan begitu nanti membuka pintu rumah, hanyalah berendam dalam air hangat, membaca buku favoritnya, dan mungkin sedikit menyesap anggur putih.
Akan tetapi semua keinginan itu sirna karena saat ia masuk, Kyungsoo melihat beberapa buku bertebaran di lantai, crayon yang sudah patah ujungnya, dinding yang penuh dengan gambar beruang dan pororo, serta seorang anak kecil yang mengembangkan sayap—iya, itu benar-benar sayap dan berteriak, "Appa, Appa! Look i'm a chicken!"
Kyungsoo memijat pelipisnya pelan sambil membungkuk ke anak lelaki itu. "My little champ, Kim Taeoh, where's your daddy?"
Taeoh terkikik sambil menunjuk ke arah kamar utama.
"Appa ingin bicara dengan daddy sebentar, bagaimana jika kamu bermain lagi?"
Taeoh memberengut lalu menggeleng. "Taeoh mau main sama Appa!"
Kyungsoo menarik nafas panjang, "Appa akan menyusulmu. Appa janji tidak akan lama."
Taeoh mengerucutkan bibirnya, "Janji?" anak itu mengulurkan kelingking kecilnya ke arah Kyungsoo.
"Janji." Kyungsoo melingkarkan kelingkingnya sebelum mengecup kening Taeoh.
Ia mengusap kepala Taeoh sebentar lalu berjalan ke arah kamar utama sambil menahan makiannya dalam hati.
"Oh, kamu sudah pulang?" Jongin berkutat dengan lembar-lembar kertas yang merupakan desain ilustrasi pertunjukan selanjutnya.
Kyungsoo menutup pintu kamar itu yang membuat Jongin menoleh cepat.
"Apa seseorang sedang ingin dilayani sekarang?" Goda Jongin dengan senyum nakal.
Kyungsoo berdesis lalu memukul lengan lelaki itu.
"Aku sudah katakan berkali-kali jangan lagi memberikan kostum yang aneh-aneh pada anak kita."
"But, Soo... He looks so cute!"
Kyungsoo mengiggit bagian dalam pipinya, ia harusnya tidak menyetujui ide ini dari awal. Hal itu bermula ketika mereka sedang berjalan di salah satu pusat perbelanjaan. Jongin melihat kostum pororo yang punya ukuran sama dengan Taeoh. Mereka akhirnya membeli dan menikmati bagaimana menggemaskannya anak mereka dalam kostum penguin itu. Namun, Jongin tidak berhenti sampai di situ. Ia mulai membawa banyak kostum lain setelahnya. Crong di hari berikutnya, Rilakkuma lusa kemudian, lalu Godzilla, Snoopy, Winnie the Pooh, bahkan Tao ikut memberinya kostum panda yang sama dengan anaknya dan Kris.
Taeoh yang sudah terbiasa memakai kostum-kostum itu mulai enggan memakai pakaian biasa. Ia akan berteriak protes 'Taeoh mau jadi beruang hari ini!' ketika Kyungsoo hanya membawakannya kaus lengan panjang.
Dan itu membuat Kyungsoo frustasi.
Kyungsoo segera menarik lengan Jongin lalu membuka pintu kamar itu. Di ruang tengah mereka, Taeoh sedang mengepak-ngepakkan sayapnya seperti berusaha terbang melewati Monggu yang sudah tidak selincah dulu.
"Kamu lihat? Dia bahkan bertingkah seperti ayam sungguhan." Sungut Kyungsoo.
Jongin ingin menyanggah ketika Taeoh menggerakkan kakinya seakan sedang mencakar tanah. Ia menelan ludah. Di belakangnya, Kyungsoo memberikan tatapan yang mengancam.
"Fine. Aku akan berhenti memberikannya kostum."
Merasa puas dengan jawaban Jongin, Kyungsoo melangkah keluar lalu menggendong Taeoh ke dadanya.
"Hello, little champ. Apa daddy sudah memberimu makan?"
Anak itu menggeleng sambil terkikik. Tangan kecilnya bermain-main di pipi Kyungsoo. Kyungsoo mendelik ke arah Jongin, namun lelaki itu hanya menunduk dan tidak berani memandangnya.
"Jadi, apa yang kalian inginkan untuk makan malam hari ini?"
"Chicken!" Sorak Jongin dan Taeoh bersamaan.
Kyungsoo mendesah, saat mengadopsi Taeoh ia berpikir anak ini hanya punya kemiripan fisik dengan Jongin. Namun ternyata, takdir memintanya untuk berhadapan dengan dua Jongin sekaligus dalam hidupnya.
Ulang dan garis bawah, Dua Jongin.
What a great life. Keluh Kyungsoo dalam hati.
Akan tetapi, ia selalu ingat mengapa dua Jongin ini membuatnya betah berlama-lama di rumah.
Karena setelah menghabiskan makan malam mereka, Taeoh akan duduk di sebelah rak piring sambil memperhatikan Jongin yang membersihkan semua cucian malam itu. Lalu setelahnya, mereka akan memeluk Kyungsoo, mengecup kedua pipinya—Jongin di kiri, Taeoh di kanan sambil berteriak riang, "Terimakasih makan malamnya, Appa!"
Jongin dan Kyungsoo mengatur kesibukannya sedemikian rupa sehingga mereka masih tetap bisa berkumpul di malam hari. Menjadi pasangan Kim Jongin sekaligus Kai bukan sesuatu yang mudah awalnya untuk Kyungsoo. Ia sering mendapat tatapan sinis dari para penggemar Jongin karena telah membuat Jongin menikah di usia muda.
Ada hari di mana Jongin harus memeluk Kyungsoo, meyakinkan bahwa itu hanya sebagian dari penggemarnya saja, dan kenyataan jika Jongin akan selalu ada di samping Kyungsoo.
Ia mendapat keyakinan Kyungsoo sepenuhnya saat suatu malam Jongin mengutarakan dengan nada ringan, "Apa kamu tidak merasa rumah ini butuh tambahan penghuni lain?"
Lalu hadirlah Taeoh. Sejak adanya Taeoh dalam hidup mereka, Kyungsoo seperti melupakan tentang semua masalah sebelumnya.
Jongin sering menemukan dirinya tersenyum ketika Kyungsoo mengatakan, 'Dia benar-benar mirip sepertimu' sampai lama-kelamaan itu berubah menjadi, 'Kenapa dia harus benar-benar mirip sepertimu?'.
Namun Jongin tahu Kyungsoo bahagia. Ia tahu mereka lebih dari bahagia.
Saat tiba waktu tidur, Kyungsoo memeluk Jongin mendekat. Ia memandang Jongin yang sedari tadi tidak bicara. "Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Jongin mengangguk sambil melingkarkan lengannya ke batang tubuh lelaki itu, "Ya," Ia menatap Kyungsoo dalam diam, bersyukur berkali-kali sebuah kejadian sederhana ternyata memimpinnya sampai bertemu dengan lelaki yang luar biasa, "Aku berpikir, kenapa kamu begitu mengagumkan?"
Kyungsoo tersipu. Bertahun-tahun bersama lelaki ini dan Jongin masih bisa membuatnya tersipu.
"You are being cheesy again."
Jongin tersenyum, ia mencium bibir Kyungsoo, membuat jari lelaki itu mengerut di samping bajunya, lalu mulai membawa ciuman mereka lebih dalam lagi.
"Kapan terakhir kali aku membuatmu berteriak saat kita sedang bercinta?" tanya Jongin yang masih enggan melepaskan bibirnya.
"Entah." Jawab Kyungsoo dengan nafas yang tidak teratur.
Tepat ketika Jongin menindih Kyungsoo, suara rengekan datang dari luar pintu kamar. Mereka tertawa bersamaan. Jongin segera berlari keluar lalu menggendong anak lelakinya ke atas tempat tidur mereka sambil mencoba menghentikan tangisnya.
"Aku rasa dia bermimpi buruk." Ucap Kyungsoo saat melihat Taeoh yang akhirnya kembali tertidur di pelukan Jongin.
Ia menarik selimut sampai ke dada anak lelaki itu lalu mengecup keningnya lama.
Jongin merasakan getaran yang merangkak di tengkuknya ketika melihat itu.
"Hey, baby."
"Hmmm?"
"Apa kamu tidak merasa rumah ini butuh tambahan penghuni lagi?"
"Oh, jangan memulai percakapan ini lagi." Desis Kyungsoo. Namun tidak berapa lama kemudian, setelah ia merasakan hangat nafas Taeoh di ujung jarinya, ia menambahkan, "Tapi, mungkin anak perempuan akan membuat kita lengkap."
Raut muka Jongin berubah cerah membayangkan ada kaki-kaki kecil anak perempuan yang berlarian di rumah mereka. Ia berencana untuk memberikan kostum peri atau mungkin Cinderella tanpa sepengetahuan Kyungsoo.
Ketika Kyungsoo menguap lebar, Jongin segera memanjangkan lengannya untuk mendekap Kyungsoo dengan Taeoh di antara mereka.
"Good night, prince."
"Good night, sweetheart."
Jongin merasakan dua pasang lengan yang begitu nyaman, begitu sempurna menyentuh tubuhnya. Semesta tidak pernah mengacaukan segalanya sejak ia kembali bersama Kyungsoo. Sejak ia mengaku jatuh cinta. Sejak ia punya keyakinan bahwa tiap jalan punya akhir yang indah.
Pernyataan ayahnya benar.
Dan Jongin berjanji suatu hari nanti, ia akan mengatakan itu ke anak lelaki yang sedang melingkar di dadanya—dan anak perempuan yang baru saja mereka bicarakan;
"Ketika nanti dunia mulai kejam, jatuh cintalah."
CONCATENATE : THE END
I HOPE I DIDN'T RUIN THIS STORY. Please guys, tell me what you think :')
Oiya ada beberapa orang yang review sebelumnya kayanya langsung lompat ke chapter ini tanpa baca yang chapter 11 karena aku langsung update 2 chapter sekaligus. Jangan kelewatan yang chapter 11 nya yah :D
So, ini adalah cerita paling panjang yang pernah aku bikin, dan berkat dukungan kalian aku bisa nyelesaiin cerita ini. *ciumin satu-satu*
Pengennya sih bales review satu-satu, sumpah. Tapi tugas kuliah lagi banyak-banyaknya, euy. *sunda-nya keluar*
Secara garis besarnya, terimakasih yang ikut cemburu sama karena Jongin sweet banget sama Kyungsoo, terimakasih buat yang ikut bete pas mereka lagi berantem, terimakasih yang terus setia review karena nunggu selipan dari pair lain (serius, aku awalnya cuma mau jadiin slight jadi maaf banget kalo dikit), terimakasih buat yang ngerekomendasiin FF ini ke temennya, terimakasih buat yang bikin hashtag pen name aku dan di tag ke IG-nya Kai (I STILL CANNOT BELIEVE YOU REALLY DID THAT!), terimakasih buat yang terus dukung dan ikut larut dalam tiap chapter-nya. Intinya, terimakasih buat semua yang udah review FF ini mulai dari chapter awal sampai akhir, atau mungkin di tengah chapter, atau mungkin baru chapter kemarin. It's okay! Karena semua review berharga buat aku, aku jadi tahu ternyata ada yang baca FF ini dari semua tanggapan kalian, hehehe.
Buat yang nemu FF ini setelah tamat, please tetep review, yah!
AND I'M MORE THAN HAPPY TO ANNOUNCE THAT THE SIDE STORY WILL BE... *drumroll* HunHan : Knight in Shinning Armor
Please look forward for it! XD Semoga aja tugas kuliahnya segera bersahabat biar cepet bisa publish, hehehe~
Oke, semoga kita bertemu lagi di FF yang lain, yah:))))) I LOVE YOU SO MUCH!
KAISOO FTW!
-RedSherr88-
