Part 2
~Yunho POV~
DEG DEG
Apakah ini hari sialku? Aigooo!
Kenapa sampai aku lupa kalau appaku masuk hari ini, kulihat Jaejoong bingung dengan ini semua. Kenapa sampai ketahuan appa pasti dia mengira ini beneran apalagi dia tersenyum sambil pergi meninggalkan kami, mati aku!
"Junsu, bisakah aku meminjam dia sebentar?" tanyaku pada Junsu sambil enunjuk Jaejoong yang sedari diam mungkin masih shock apalagi sampai appaku tahu.
TOK … TOK … TOk …
Aku masuk di ruangan appaku yang sudah menungguku, tapi tunggu ada sosok orang lain yang ada di situ .
"EOMMA!" teriakku kaget sekali kenapa eomma ku bisa di sini. "sedang apa eomma di sini?" tanyaku lagi.
"Jadi selama ini kamu nggak mau eomma jodohkan karena ini? kenapa nggak bilang dari dulu? Jadi eomma kan gak susah-susah nyariin kamu jodoh apalagi eomma sempet bilang kamu.."
"kamu apa eomma?" potong Yunho yang elihat gelagat aneh dari eommanya yang cantik (Jung Heechul).
"Kamu.. kamu Gay?" katanya membuat Jaejoong yang tadi diam kini dia menahan tawanya. "Kenapa kamu nggak kenalkan dia sama kami? Tadi appa bilang kalian sudah pacaran dan mengenal sejak satu tahun yang lalu. Dan tadi apa? bertunangan?"
"Ehhh,, emmm itu eomma… ehh .. aku..aku.." haduhh kenapa jadi gugup begini aku, mereka pasti salah paham terhadap ku.
"Ehmm.. besok malam akan eomma umumkan pertunangan kalian, karena kalian sibuk maka acaranya akan di adakan di gedung ini saja".
"MWO!" teriak kami barengan, kenapa jadi begini pikirku.
"Nak, dimana orang tuamu kami akan mebicarakannya pada orangtuamu" kata eommaku membuat Jaejoong tersentak kaget. "Jaejoong.." panggil eomaku lagi.
" Ehhh.. itu..itu eommaku sudah meninggal ahjumma. Sekarang aku hanya tinggal sendiri saja."
"Ohh..mianhae Joongi-a, kalau begitu mulai sekarang kamu panggil kami eomma dan appa saja seperti Yunho memanggil kami, dan mulai sekarang kamu adalah menantu kami. Kalian sekarang pulang dan siap-siap buat besok malam," sahut eommaku sambil menyuruhku pergi mengantarkan Jaejoong.
"Ta..tapi .. kami .. kami .. itu .. kami tidak ada hub.."
"Ah.. ne eomma, kami permisi dulu ya? Kami masih banyak kerjaan, iya kan chagi?" potongku langsung sebelum Jaejoong melanjutkan ucapannya dan aku segera membawanya keluar ruangan tersebut dengan perjuangan yang berat karena dia terus memberontak.
Aku berjalan bersama Jaejoong menuju Parkiran, ntah apa yang sedang ia pikirkan tapi sekarang yang jadi beban pikiranku adalah aku akan menikah dengan wanita yang tidak aku cintai dan itu semua karena kebodohanku.
"Puas! Kamu telah melakukan ini semua?" katanya saat di dalam mobil.
"Yakk! Aku juga nggak ingin terjadi! Aku Cuma mau ngerjain kamu di depan temanmu saja, mana ku tahu akan jadi seperti ini!" teriakku kesal dengan ucapannya.
"Ini semua salahmu Jung Yunho PABOOOO !"
"Terserah!" kataku ketus. "Sekarang kamu harus ikut aku!"
"Shireo!" tolaknya dan akan segera pergi tapi aku langsung mencengkra tangannya kuat.
"Tidak ada penolakan!" kataku dan langsung menyeretnya ke mobil.
Sebelum mengantarnya ke rumahnya, aku mengajaknya ke butik yang diperintahkan oleh eommaku, katanya kami di suruh kesana untuk memilih pakaian yang akan kami kenakan ketika pertunangan besok malam sekaligus untuk merancang gau pernikahannya sekalian. Setelah semuanya selesai aku langsung mengantarnya pulang. Dia masih tampak cemberut dan kesal dengan kejadian hari ini.
—o0o—
Sesuai perintah eomma mulai sekarang aku harus antar jemput Jaejoong dan setelah pertunangan nanti malam kami harus tinggal bersama di apartement baru yang telah dibeli oleh orang tuaku untuk ku dan calon istriku kelak. Kami sempat mengalami perdebatan hanya karena ini semua, awalnya dia tidak setuju tapi setelah di bujuk eomma akhirnya dia mengalah.
Malam ini aku dan Jaejoong resmi bertunangan dan semua orang di RS ini sudah mengetahuinya. Ahh sial benar, ini benar-benar senjata makan tuan batinku. Aku tidak pernah berfikir akan bertunangan dan menikah dengan orang selain Boa, dia adalah orang yang telah membuatku menutup hatiku untuk yeoja-yeoja yang tertarik padaku. Sampai sekarangpun aku masih menginginkan dan mengharapkannya menjadi pendamping hidupku. Lamunanku tersadar ketika eoma dan appaku menghampiriku.
"Sayang, mulai malam ini pertunangan kalian telah resmi dan 2 bulan lagi kami ingin pernikahan kalian dilaksanakan," kata eommaku
"MWO!" kataku dan Jaejoong bebarengan, bagaimana ini bisa terjadi?
"Yakk! Tidak bisakah kalian diam! Kami hanya ingin cepat menggendong cucu dan Jaejoong sayang, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama Yunho, eomma tidak mau mendengarkan penolakan sedikitpun." Kata eomma tegas.
"Tapi.. i..itu.. pa..pakaianku masih di rumah dan…"
"Aku sudah memindahkan semuanya tadi saat kalian berangkat jadi kalian tinggal pindah saja ke apartement itu, ingat tidak ada penolakan" kata oemmaku tegas.
"Ne?" balasku dan Jaejoong hanya mengangguk karena tidak bisa membantah omongan eomma dan appaku.
Setelah pesta usai aku langsung membawa Jaejoong pulang ke apartement kami, untung saja kami hari ini tidak ada jadwal apapun. Dan mulai hari ini aku harus antar jemput kemanapun Jaejoong pergi karena kata eomma sekali saja aku dan dia tidak bersama akan ketahuan karena eomma dan appa telah menyuruh anak buahnya untuk mengintai kami.
Kini sudah hampir dua bulan mereka tinggal bersama dan seminggu lagi mereka akan menikah. Mereka tidak perlu susah-suah menyiapkan persiapan pernikahan karena semuanya udah disiapkan oleh orangtuanya Yunho. Mereka hanya tinggal datang dan langsung melakukan prosesinya saja, bahkan bulan madupun sudah disiapkan jauh-jauh hari.
"Yunhossi bisakah kita mampir ke supermarket dulu? Kebutuhan rumah telah habis dan aku harus belanja dulu," tanyanya saat sedang diperjalanan.
"Hmm .." jawabku singkat. "Tapi, bisakah mulai sekarang kau memanggilku oppa, chagi ayau yeobo saja?" tanyaku dan sontak dia langsung membelalakkan matanya karena terkejut. Dia hanya diam saja dan tidak menjawab apa-apa.
"Jangan salah paham, aku hanya ingin mereka semua tidak menganggap bahwa kita hanya main-main saja itu bisa membuat orang tuaku sedih dan jatuh sakit."jelasku dan dia mengangguk paham.
"Baiklah.. oop..oppa .." katanya masih belum terbisa dengan panggilan itu.
"Gomawo, dan mulai sekarang aku akan memanggilmu chagi,"sahutku membuat pipinya sedikit merah merona karena malu. Dalam hati aku sangat ingin tertawa puas melihat itu semua.
Kami berhenti di sebuah supermarket untuk membeli kebutuhan kami, setelah memilih semua yang dibutuhkan kami segera pergi kekasir.
"Biar aku yang membayar," kataku saat melihat Jaejoong ingin mengeluarkan dompet.
"Kalian pasangan suami istri yang serasi," kata ahjumma penjaga kasir itu pada kami. "Semoga kalian bahagia."
"Ghamsahamida ahjummonim," kata kami bebarengan.
Setelah membayarnya kami kembali kemobil dan langsung pulang menuju rumah kami.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Hari ini aku dan Yunho oppa sudah resmi menikah dan sekarang aku sudah sah jadi istrinya. Rencananya aku dan dia akan bulan madu ke paris tapi karena jadwal dia yang padat dan tidak mungkin ditinggalkan makanya bulan madu kami di batalkan. Aku memang senang mendengar kalau bulan madu kami dibatalkan tapi tidak dengan eommonim yang kelihatan sekali sangat sedih.
"Yunho-a, apa tidak bisa tugasmu itu diundur atau diahlihkan?" tanya eomma pada Yunho dengan raut wajah sedih.
"Mianhae eomma, aku tidak bisa melakukannya karena aku tidak bisa membatalkannya. Dulu kan aku pernah bilang kalau bulan-bulan ini aku sibuk tapi eomma tetap saja memaksa agar aku menikah di bulan-bulan ini." sahutnya cepat.
Apa dia tidak melihat wajah sedih eommanya? Kenapa dia dengan gampang menjawab pertanyaan eommanya itu? Dasar setan ! batinku.
"Huft, baiklah tapi kalian harus janji akan segera memberikan kami cucu, kami akan menargetkan 2 bulan kedepan ini!" sahut eommanya. Sontak aku langsung merasa seperti kejatuhan durian dari angkasa berpuluh-puluh kilo. Cucu? Bagaimana mungkin kami akan memberikannya cucu jika kami saja tidak saling mencintai.
"Baiklah aku janji." Katanya enteng dan dengan seketika wajah eommanya berubah menjadi senang.
Setelah acara ini selesai kami berpamitan pada orang tua Yunho oppa untuk kembali ke rumah yang sudah kami tinggali sejak 3 bulan yang lalu. Aku masih kesal dengan ucapannya tadi yang dengan entengnya mengumbar janji pada eomanya.
"Yakk! Apa maksudmu tadi Jung Yunho? Kenapa kamu suka sekali mengumbar janji?" teriakku kesal karena ulahnya tadi.
"Aku tidak mengumbar janji, aku memang akan memberikan benihku di rahimmu agar kau bisa memberikan cucu buat eommaku," jawabnya enteng.
"Mwo! Yak! Emangnya aku mau? Seenaknya saja kamu berulah tanpa ijinku?"
"Jangan teriak-teriak seperti orang gila. Kau itu sekarang sudah jadi istriku jadi otomatis kamu harus melahirkan anak buat orang tuaku sebanyak yang mereka inginkan dan satu lagi semua yang aku katakan adalah perintah dan tidak ada penolakan Jung Jaejoong!" jawabnya enteng. Aku ternganga mendengarnya memangnya aku sapi, aku bukan sapi dan juga bukan boneka. Perintah! Huahhhh menyebalkannnn!
Sampai di rumah aku lansung menuju kamar yang biasa aku tempat dan JRENGGGG! Semua barang-barangku tidak ada.
"HUAAAAAAA! MALINGGG!" terikku panic.
"Yakkk! Bisa diam tidakkkk!" balas teriaknya. "Kenapa teriak-teriak? Ini bukan hutan ini rumah!"
"Aku tahu ini rumah, kan yang bilang hutan kamu! Rumahnya kerampokan, barangku semuanya hilang," aduku padanya dengan tampang yang memelas.
PLETAAKKK
"Hyaaa! Apho! kenapa malah menjitakku?" tanyaku kesal.
"Apa kamu lupa kalu kita sudah resmi suami istri hah?" tanyanya membuatku semakin bingung.
"Apa hubungannya dengan hilangnya semua barangku?" dan otomatis aku kena jitakannya lagi. PLETAKK
"Huft, kita sudah resmi jadi eomma sudah memindahkan barang-barang kita di kamar utama karena mulai malam ini kita tidur bersama," sahutnya singkat.
"MWOOO! Shirooo!" kataku kaget, OMO tidur bersama? Tuhan tolong aku .. lindungi aku Tuhan .. kataku dalam hati.
"Terserah, paling-paling nanti kamu yang dimarahi eomma karena tidak tidur sekamar.. hahaha" katanya sambil tertawa terbahak dan meninggalkan aku yang masih shock di lantai bawah.
Huaaaaa… kenapa aku tinggal dengan orang gilaaaaaaa? Teriakku dalam hati. Kakiku mulai melangkah kekamar yang akan kami tempati berdua, aku membuka knop pintu kamar kami dan JREEEENGGG kamarnya sangat indah dan aku suka sekali. Aku melihat isi kamarku disana kulihat ada tiga pintu dan itu membuatku penasaran.
"Yunho oppa, pintu itu buat apa saja?" tanyaku sambil menunjuk ketiga pintu tersebut.
"Mollaseo, liat aja sendiri." Sahutnya dingin dan singkat dan aku langsung mebuka tiga pintu tersebut. Ternya pintu sebelah kiri adalah pintu kamar mandi, terus pintu sebelah kanan yang lebar ada pintu khusus untuk pakaia dan yang lainnya dan pintu sebelahnya adalah .. OMO! Ini…. batinku..
"Oppa, i..i..ini.. ka..kamar baby.." kataku terbata dan Yunho oppa langsung berdiri dan berjalan kearahku.
"Eomma berarti sudah mempersiapkan semuanya.. dasar eomma," katanya. Jadi ini semua ulah dari keluarga Yunho oppa?
—o0o—
~Yunho POV~
Ternyata hari sudah pagi dan matahari sudah mulai muncul dan kulihat yeoja yang sudah sah jadi istriku kemarin sudah tidak ada didalam kamar lagi. Aku bangun dan siap-siap untuk berangkat ke hospital seperti biasa. Setelah selesai semua kulihat yeoja itu sedang mempersiapkan breakfast buat kami berdua dan dia juga sudah siap untuk berangkat ke hospital.
"Pagi," sapaku padanya dan membuatnya langsung menoleh padaku.
"Pagi, oppa udah siap? Kajja makan dulu aku sudah masak buat sarapan kita," katanya dan menyuruhku duduk di kursi ruang makan. "Changkman oppa," Tambahnya sambil mendekat padaku dan ini semakin dekat. "Nah, begini kan sudah rapi." Katanya senang setelah merapikan dasiku.
"Kajja, nanti telat kalau nggak cepat" ajakku setelah selesai makan.
"Annio, oppa duluan saja aku mau membereskan semuanya dulu, nanti aku naik bus saja ke rumah sakitnya." Katanya. Dia padahal sudah dari tadi pagi bangun untuk membersihkan rumah, mencuci baju dan menyiapkan semuanya. Yah memang dia tidak mau mempunyai pembantu katanya itu semua adalah tugas istri untuk melakukan semuanya jadi tidak memerlukan pembantu sama sekali.
"Selesaikan dulu saja, aku tunggu di mobil," kataku.
"Oppa, duluan saja nanti oppa telat," tambahnya.
"Dan nanti aku akan di marahi oleh appa karena telah meninggalkanmu sendiri?" kilahku sambil mengambil tas yang ada di sofa tengah tadi. "Aku tunggu di luar, cepat selesaikan." Kataku sambil menuju garasi mobil untuk menyiapkan mobil.
"Kajja oppa." Katanya setelah selesai embersihkan peralatan makan dan kami segera masuk kemobil.
Sampai di rumah sakit kami turun di Parkiran dan hampir semua mata memandang kami dengan tatapan yang bermacam-macam. Dan disana aku juga melihat mobil appa yang baru saja Parkir, aku menggandeng tangan Jaejoong ke tempat appa untuk menyapanya agar tidak curiga.
"Pagi appa," sapa kami bersamaan.
"Pagi, apa tidur kalian nyenyak semalam?" tanya appa dan itu sudah bisa kutebak apa yang akan ditanyakannya.
"Hmm, seperti apa yang appa lihat sekarang" kataku dan sontak kulihat semburat merah di pipi Jaejoong.
"Eonni, untung eonni sudah datang. Ada pasien yang susah sekali diatur dari kemarin malam dan kami sangat kualahan eonni." Kata salah satu residence perawat yang tiba-tiba menghampiri kami setelah membungkukkan badan tanda menghormati kami.
"Baiklah, aku akan kesana." Katanya kemudian melihat kearahku dan appa. "Oppa, aku duluan ada yang harus segera aku urus dulu." Katanya padaku.
"Hmm, hati-hati chagi, jangan terlalu lelah," kataku dan aku langsung memberikan kecupan dibibir dan dahinya dan sontak itu membuatnya tertegun. Hahaha aku puas telah menjahilinya.
"N.. ne .. appa ak..aku masuk duluan," Katanya sambil membugkukkan badannya pada appa. "Kajja Chae-a." dan dia berjalan mendahului kami untuk segera keruangannya.
"Apa kamu sekarang senang sudah menikah?"tanya appaku tapi aku tetap tidak menjawabnya. "Aku harap kalian segera memberikan kabar bahagia tentang adanya keluarga baru yang akan hadir, eommamu sudah ingin segera menggendongnya." Tambah appaku dan akupun mengangguk.
"Tenang saja appa, aku dan Jaejoong akan segera memberikan kalian jagoan yang tampan yang sangat kalian inginkan sejak lama." Timpalku menenangkan appaku.
"Jagoan?" tanya appaku yang sudah tau apa maksudku tadi.
"Hahaha.. benar, memang tidak salah kamu menjadi dokter kandungan, appa bangga padamu. Hahaha dan akan lebih bangga kalau itu segera terwujud. Ingat batasmu dua bulan Jung Yunho," kata appaku sambil tertawa renyah dan bahagia.
Aku masuk keruanganku dan tidak sengaja aku melihat ada keributan disana. Tunggu itu Jaejoong, ada apa sebenarnya. Aku berjalan kearah kerumunan itu dan bertanya pada salah satu perawat di sana.
"Ada apa ini?" tanyaku pada salah satu residence perawat yang sedang melihatnya.
"Eo.. eoh.. ini Yunho uisa, pasien itu marah-marah karena katanya salah satu dokter itu salah melihat jenis kelaminnya. Kata pasiennya jenis kelamin bayinya laki-laki tapi saat di periksa jenis kelaminnya perempuan jadi pasien itu mengamuk dan sekarang baru di tangani oleh Jaejoong ganhosa (perawat)." Jelas residence tersebut gugup. Aku langsung mendekat dan menghampiri mereka.
"Joesonghabnida, eotteohge dangsin-eul doul su issneunga? yeogi nae sanbu-ingwa ..( maaf, ada yang bisa saya bantu? saya dokter kandungan di sini)" tanyaku pelan pada pasien tersebut. "ada apa?" tanyaku pada Jaejoong.
"Neo, sanbu ingwa?" tanyanya dan aku hanya mengangguk. "dokter dan perawat itu salah memeriksa saya, mereka bilang anak yang dalam kandungan saya perepuan padahal kemarin katanya laki-laki, kan nggak mungkin berubah kan dokter?" tanyanya padaku, jelas saja aku mengangguk, dari pada membuat keramaian mending aku ajak keruanganku saja biar aku periksa ulang.
"Apakah anda bisa ikut saya keruangan saya, biar saya priksa kembali," tanyaku dan dia hanya mengangguk, kulihat suaminya juga hanya diam saja dasar suami gila mana ada suami yang diam saja melihat istrinya bertengkar dengan perawat pula. "Yang lain bisa langsung lanjutkan memeriksa pasien lainnya biar ini kami yang urus. Jaejoong, kamu ikut keruanganku sebentar." Kataku dan itu membuat hampir semua orang disana melihat kami tapi saat aku tatap mereka satu persatu mereka akhirnya bubar juga, pasti akan ada gossip heboh lagi setelah kejadian ini.
Aku, Jaejoong dan pasien itu berjalan kearah ruanganku, setelah sampai aku memeriksa kondisi pasien dan janinnya. Tapi yang dilakukan dokter tadi emang benar kalau janinnya itu berjenis kelamin perempuan, pasti ada yang nggak beres pikirku.
"Bagaimana uisanim?" tanyanya padaku setelah duduk kembali ke kursi praktekku.
"Sebelumnya apa saya boleh tahu anda periksa dimana saat mengetahui jika janin anda berjenis kelamin laki-laki, karena dari pemeriksaan tadi janin anda itu perempuan." Jawabku dan kedua orang itu hanya saling pandang.
"Kemarin ibu saya dari tempat ***** dan mengatakan kalau janin saya laki-laki dok," katanya dan itu membuatku dan Jaejoong menahan tawa.
"Nyonya Lee, kalau periksa kandungan itu sebaiknya di tabib atau di rumah sakit saja, sepertinya anda dibohongi olehnya ny. Lee, Jadi sekarang anda sudah tahu kan kalau yang benar jenis kelamin janin anda perempuan?" tanyaku lagi siapa tahu dia masih menyangkal.
"Ye uisanim, maaf tadi saya telah membuat keributan, kalau begitu saya permisi dan terimaksih uisanim." Katanya dan langsung pergi meninggalkan ruanganku.
HAHAHA
Aku lihat Jaejoong sudah tidak bisa menahan ketawa lagi dan akhirnya dia tertawa mengingat kejadian barusan aku pun juga ikut tertawa bersama,, BRUKKK gara-gara kami tertawa terbahak-bahak Jaejoong oleng hampir jatuh membentur meja kerjaku untung aku langsung menyeret tangannya kearahku sehingga dia tidak membentur meja itu tapi dia jatuh di tubuhku dan tawa kami terhenti karena ada yang mendadak datang.
"dr. Jung Yunho.. bisa an… oh maaf kalau appa mengganggu kalian tapi kalau membuatkan cucu appa sebaiknya ke ruang itu sehingga tidak kelihatan orang yang akan masuk." Kata appaku membuat Jaejoong langsung bangun dan menatap malu. Aku mengikuti Jaejoong dan bangun dari posisi semula.
"Anieo appa, tadi appa hanya salah lihat." Sangkal Jaejoong cepat
"hahaha… sudahlah chagi tidak usah malu sama appa." Kata appa menggoda Jaejoong.
"Appa ke sini ada apa?" tanyaku emecahkan kecanggungan itu.
"ohh ya appa hanya mau minta penjelasan kenapa tadi ada rebut-ribut diluar?" tanya orang itu yang tanpa ketuk pintu langsung masuk dan membuatku dan Jaejoong langsung diam membeku.
"Eh, anieo appa, tadi hanya ada salah paham saja," jawabku.
"Eoh, tadi diluar ada yang sedang berbisik-bisik katanya dokter Yunho mengajak istrinya masuk ruangan praktek saat memeriksa kandungan agar istrinya itu tidak cemburu." Kata appaku dan sepertinya ide untuk menjahilinya muncul kembali.
"Ne, appa.. appa tahu sendiri kan kalau Jaejoong itu cemburuan sekali, iyakan chagi?" tanyaku sambil merangkulnya.
"MWO!" katanya terkejut dengan ucapanku dan itu membuatnya langsung melihatku seakan mau menerkamku hidup-hidup.
"Anieo appa, Yunho oppa bohong, aku tadi hany.." aku langsung segera mengecup bibirnya pelan di depan appa dan membuatnya malu dan segera menunduk.
"Appa, saya permisi dulu masih ada pasien yang mau di periksa," katanya langsung ngeloyor pergi aja.
"Chagi, kenapa tak berpamitan padaku?" godaku saat dia hendak membuka knop pintu ruanganku itu, aku tersenyum senang melihatnya memerah seperti itu.
"Sepertinya, appa dan eommamu benar-benar akan segera jadi kakek dan nenek.. hahaha" kata appaku yang juga langsung pergi meninggalkan ruanganku.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Aku berjalan keluar dari ruangan itu, dasar namja gilaa! Batinku kesal. Dia itu selalu saja embuatku frustasi dan hampir seperti orang gila, awas saja dia pasti akan ku balas huft!
"Ny. Jung Yunho, sedang apa kau disini? rindu pada suamimu ya?" ledek yeoja yang datang menghampiriku dari belakang.
"Yakk! Kau sama saja dengannya bikin aku stress, dan siapa juga yang merindukannya? Aku tidak pernah merindukannya." Jawabku kesal dengan pertanyaan sahabatku itu, Junsu hmm Kim Junsu.
"Eh tadi siang aku denger gossip katanya kamu diajak suamimu keruangannya hanya untuk menemaninya memeriksa kandungan pasien biar kamu gak cemburu ya?" tanyanya sontak aku langsung membelalakan mata mendengar ucapannya dan itu seperti yang di ucapkan sama appa tadi sewaktu aku diruangan suamiku. Jangan bilang dari tadi mereka mengamatiku karena hal tadi. "Heii.. jangan ngelamun, kalau merindukannya hampiri saja, jangan cemburuan, dia kan dokter kandungan otomatis itu adalah tanggungjawabnya." Tambahnya membuatku langsung memberikannya death glare padanya.
"Yakk! Kim Junsu! Siapa juga yang cemburu hah? Dan ingat aku juga tidak merindukannya! Jangan kau membuatku bertambah frustasi Kim Junsu!" kataku kesal.
"Ah gak seru!" timpalnya, apa dia bilang? Seru? Kim Junsu matilah kau! "Apa kau sudah memeriksa pasien-pasienmu?" tanyanya padaku.
"Hmm, aku sudah memeriksanya dari tadi dan sekarang aku harus memeriksa tugas para residence," kataku lemas. "Kamu sekarang mau apa? Bukannya sekarang kamu juga ikut memeriksa mereka? Mereka kan juga tanggung jawabmu?" tanyaku.
"Siapa bilang mereka bukan tanggung jawabku? Makanya aku kesini mencarimu untuk segera menyelesaikan tugas ini agar cepat selesai. Jangan cemberut begitu sebentar lagi juga ketemu dengan suami mu itu." Katanya lagi dan hampir saja aku mau menjitaknya tapi tiba-tiba ada yang datang.
"Joesonghabnida, apa anda mengenal dr. Jung Yunho bagian kandungan?" tanyanya pada kami yang ada di sini.
"Iya kami mengenalnya, ada yang bisa kami bantu?" tanyaku.
"Saya ingin bertemu dengannya, apa sekarang dia ada?" tanyanya lagi.
"Oh, dr. Yunho ada tapi sepertinya sedang memeriksa pasien, kalau tidak keberatan anda bisa menunggunya di sana." Kataku
"Ohh.. Ne, gamsahabnida." Ucapnya dan berlalu pergi.
"Mau apa dia bertemu dengan suamimu?" tanya Junsu padaku.
"Mollayo." Jawabku pendek masih sedikit kesal dan dalam moodku yang kurang baik sambil mengetik sebuah pesan untuk Yunho oppa.
To : oppa pervert
Oppa, tadi ada yeoja yang mencarimu dia sedang menunggumu di ruang tunggu dekat ruanganmu.
From : oppa pervert
Nugu?
To : oppa pervert
Mollayo oppa, aku lupa menanyakan namanya tadi :p
From : oppa pervert
Chagi … nanti malam kita buatkan eomma dan appa cucu ya? Mereka sudah menuntutku?
To : oppa pervert
Mwoo? Shireo! Jangan harap oppa bisa menyentuhku! Dasar Pervert!
From : oppa pervert
Yakk! Kau mengataiku pervert? Aku hanya ingin mengabulkan keinginan eomma, bukankah kau juga ingin membuat eomma bahagia?
To : oppa pervert
Shireo! Shireo! Shireo! :p
From : oppa pervert
Kita lihat saja nanti malam siapa yang akan menang hahaha
To : oppa pervert
Terserahlah ! oppa nanti tunggu di ruangan oppa saja ne? aku nanti yang ke sana saja.
From : oppa pervert
Ohh .. arraseo ..
To : oppa pervert
Ne, Yunho-ssi hahahaha
From : oppa pervert
Yakkk! Panggil aku oppa! Oppa! Arraseo!
Hahaha aku tertawa membaca sms Yunho oppa, eh tapi tunggu! Kenapa aku jadi senang begini saat bersama Yunho oppa, jangan bilang kalau aku sudah … ahhh andwe .. andwe .. andwe ! jeritku dalam hati. Tiba-tiba lamunanku buyar saat ada yang menepukku dari belakang.
"Heii, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Junsu.
"Eoh.. Ehh,, annio aku hanya sedikit teringat kejadian tadi pagi yang pasiennya ngamuk tadi hehehe." Kilahku pada Junsu.
Aku dan Junsu berjalan menuju ruang pertemuan untuk memeriksa semua tugas residence yang sudah menjadi tanggung jawabku dan Junsu. Tapi saat di jalan aku tak sengaja berpapasan dengan Yunho oppa yang akan menuju ruangan itu juga. Setelah kami memeriksa tugas-tugas itu kami langsung kembali ke ruangan kami dan akan melakukan persiapan untuk operan jaga hari ini.
"Chagi, " panggilnya sambil memelukku tiba-tiba dan membuatku dan Junsu berhenti seketika. "Chagi, katanya tadi ada yang mencariku? Mana? Jangan bilang kamu cuma mau membohongiku agar kamu bisa menemuiku?" tanyanya lagi membuatku hampir pingsan mendengar ocehannya yang tidak jelas itu.
"Siapa yang bohong? Tadi benar ada yang nyari, iya kan Su?" tanyaku pada Junsu untuk mendapatkan dukungannya dan Junsu hanya mengangguk.
"Benar oppa, tadi ada yang mencari oppa, wajahnya cantik sekali aku saja sampai iri melihatnya. Sayang aku lupa menanyakan namanya." Timpal Junsu. Ya Junsu mulai memanggil oppa pada Yunho oppa setelah kami resmi menikah karena dia adalah sahabat dekatku.
"Ehmm.. apa aku mengganggu?" tanya namja pervert yang baru datang itu.
"Ania oppa." Jawabku cepat sambil melepaskan pelukan namja gila tadi.
"Oppa," panggil Junsu yang langsung menghampirinya. "Oppa kenapa baru datang?" tanyanya lagi.
"Ah mian, aku tadi ada praktek jadi aku menyelesaikan praktekku dulu." Jawabnya.
"Yoochun oppa, dari tadi calon anaemu itu mengerjaiku terus." Aduku padanya. Yoochun oppa ini adalah sahabat Yunho oppa dan sekaligus calon nampyeonnya Junsu, dia bekerja di bagian pediatric rumah sakit ini juga, dulu aku juga bekerja sebagai perawat di bangsal anak juga.
Hahaha tawa mereka bersama sambil berjalan kearah ruangan nampyeonku itu. Aku dan Junsu hendak pergi tapi sesaat kami melihat sosok yeoja yang tadi mencari nampyeonku itu.
"Oppa, Yunho oppa," teriakku agak kesal karena dia tidak mendengarkanku sama sekali sambil menarik baju kebesarannya. "Yakk ! Oppa!." Kataku kesal dan dia menoleh dengan wajah innoncentnya.
"Mwo!" katanya dingin padaku, dia memang selalu berubah-ubah sifatnya saat denganku dan itu sangat menyebalkan sekali. "MWO!" tanyanya lagi.
"I..itu.. oppa.. yeoja yang mencari oppa." Kataku terbata-bata karena terkejut dengan teriakan Yunho oppa. Yunho oppa dan yang lain langsung mencari kearah telunjukku menuju.
"Ah ya benar, yeoja itu yang mencarimu oppa," tambah Junsu mengiyakan pertanyaanku. "Oppa, dia sangat cantik kan?" tanya Junsu pada Yoochun oppa.
"Boa," gumam Yoochun oppa.
"Ne? siapa oppa? Oppa mengenalnya?" tanyaku pada Yoochun oppa
"Ehh .. i..tu .. Anni .. aku sekarang harus kembali keruanganku, aku pergi dulu ya?" kata Yoochun oppa pada kami dan langsung bergegas pergi. Aku melihat ekspresi Yoochun oppa curiga dan ditambah pula dengan Yunho oppa yang sedari tadi tidak ngomong apa-apa. Akhirnya aku pustuskan untuk pergi saja sama Junsu toh dari tadi oppa tidak menggubrisku sama sekali.
Saat akau sedang di ners station aku melihat yeoja tadi mencium oppa, apa dia yeoja yang selama ini sangat di cintai oppa? Dan kenapa hatiku ini alah menjadi sakit setelah melihatnya? Apa aku sedang cemburu sekarang? Tidak-tidak boleh itu, seharusnya aku bahagia melihat Yunho oppa bersama yeoja yang selama ini dia cintai dan ingat Jaejoong-ah kamu hanya Istri yang dinikahi karena kebodohannya. Ayolah Jaejoong ! kataku dalam hati mencoba untuk menyemangati diriku sendiri.
Setelah melihat itu semua akhirnya kuputuskan untuk pulang lebih dulu dan tidak mengganggu acara mereka, mungkin mereka sedang ingin mengungkapkan rasa Rindu mereka yang sempat terpendam karena jarak dan waktu.
—o0o—
~Yunho POV~
"Boa?" gumamku saat hendak masuk ke ruang praktekku, apa aku sedang bermimpi? Batinku.
Tapi tiba-tiba yeoja itu menghampiriku dan langsung menciumku dan BINGO itu benar Boa. Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat ini setelah dia kembali. Apa aku harus marah, senah atau bagaimana kau jadi bingung.
"Oppa, kenapa hanya diam menatapku? Apa kamu tidak senang dengan kembalinya aku?" tanyanya padaku.
"Oh mian, aku hanya kaget saja. Ayo masuk keruanganku saja," Ajakku karena ku lihat banyak pasang mata yang sedang mengawasi kami intens.
Aku menyilahkannya masuk dan duduk, kutatap lekat-lekat wajahnya untuk memastikan bahwa itu benar Boa, orang yang selama ini aku cintai dan aku tunggu kedatangannya.
"Kemana saja kamu? Kenapa baru muncul?" tanyaku dingin karena aku teringat dengan kepergianya yang tiba-tiba.
"Mian oppa.. Mian .."
"Wae? Wae? Apa salahku padamu Boa? Apa aku menyakitimu hah? Kenapa kamu melakukan hal sekejam itu padaku ? Hah?"
"Oppa, mian.."
"Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku? Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa tak mengabariku?"
"Mian oppa, aku dulu pergi karena punya alasan kuat oppa, aku terkena kanker lambung oppa dan aku berobat ke luar negeri selama 4 tahun ini, aku benar-benar tidak berniat meninggalkan oppa tapi keadaan yang memaksaku seperti ini, mianhae oppa .. mian .." jelasnya panjang lebar sambil terisak.
Aku memeluk kuat yeoja itu, betapa aku merindukannya, aku benar-benar eRindukan yeoja itu.
Mian, aku sudah membentakmu tadi tanpa mendengarkan penjelasanmu dulu."
"Gwenchana oppa, aku yang salah karena meninggalkan oppa tanpa memberitahu oppa."
"Sekarang aku antar kamu pulang, tidak baik pulang sendirian." Kataku sambil beranjak beridiri.
Aku pergi meninggalkan rumah sakit dan pergi mengantarkan Boa kerumahnya. Sampai dirumah dia melarangku pulang dia memintaku untuk menemaninya sampai dia tertidur dan akupun menurutinya.
"Oppa, apa kau mencintaiku?" tanyanya
"Ne, chagi, aku sangat mencintaimu." Jawabku pelan sambil mengelus rambutku.
"Oppa, jangan pernah meninggalkanku ne? aku tidak bisa hidup tanpa oppa, aku berjuang untuk sembuh demi oppa."
"Ne, oppa tidak akan meninggalkanmu." Kataku pelan. "Bagaimana sekarang kondisimu?" tanyaku emastikan kesehatannya sekarang.
"Aku sekarang sudah sehat oppa, tinggal melanjutkan terapi-terapi lain sampai aku dinyatakan sembuh total." Sahutnya senang.
"Hmm.. sekarang barbieku sebaiknya tidur ne, kamu pasti lelah dan kamu harus menjaga kesehatanmu." Nasihatku dan dia akhirnya tertidur juga, aku langsung membuka hpku yang sedari tadi bergetar terus. Jaejoong? Batinku.
Ternyata dia sedari tadi menghubungiku, tapi tidak aku balas sama sekali dan saat hendak menghubunginya hpku lowbath dan akhirnya mati mana aku tidak membawa charger lagi! Rutukku dalam hati.
Setelah melihat Boa tertidur aku langsung kemobil dan melengsat pulang ke rumah, sampai di rumah aku melihat Jaejoong yang tertidur di ruang TV, apa mungkin dia menungguku semalaman? Tanyaku dalam hati. Ku gendong dia menuju kamar kami dan kurebahkan dirinya dan dia hanya menggeliat kecil.
Pagi
"Pagi oppa, oppa sudah bangun? Maaf semalam aku ketiduran" katanya pelan sabil menyiapkan breakfast setiap hari.
"Ne, mian semalam aku tidak bisa menghubungi mu kembali, hpku lowbat," sahutku pelan
"Ne, gwenchana oppa," Katanya. "Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu? Tapi oppa jangan marah padaku." Tanyanya agak ragu.
"Ne, tanyalah aku tak akan marah."
"Yakso?" tanyanya meyakinkan ucapanku dan aku hanya mengangguk pelan. "Oppa, sebenarnya yeo…yeoja kemarin itu siapa? Apa dia yeoja yang sangat kamu cintai itu?" tanyanya sontak membuatku mendadak susah menelan.
"Hmm, dia Boa, yeoja yang dulu pernah aku ceritakan itu. Dia sudah kembali setelah 4 tahun aku menunggunya dan aku sangat bahagia." Shutku antusias tanpa memandang wajah yeoja di depanku saat ini.
"Wahhh, Chukaeyo oppa, aku ikut senang," katanya sambil menepuk-nepuk tangannya seperti anak kecil saja.
—o0o—
Sudah tiga bulan ini aku menjalin hubungan dengan Boa secara terang-terangan di depan Jaejoong, yah sekarang Boa tahu kalau aku sudah mempunyai istri karena kebodohanku waktu itu dan dia pertama kalinya tahu saat dia sedang berbelanja di salon dan bertemu dengan eommaku. Eommaku yang tidak suka padanya karena pernah meninggalkanku selama 4 tahun itu mengatakan untuk tidak mendekatiku lagi karena aku telah mempunyai istri. Sejak itu Boa marah padaku karena aku tidak jujur tapi setelah aku menjelaskan semuanya dia baru tenang dan memaafkanku dan dia juga sudah seJaeg berteu dengan Jaejoong baik di rumah maupun di Rumah sakit karena aku sudah menceritakan semuanya padanya. Dan sejak saat itu pula aku tidak pernah memanggil Jaejoong dengan sebutan Chagi lagi kecuali kalau di depan orang tuaku.
Pagi ini saat aku berangkat ke rumah sakit, appa menyuruhku keruanganya dan menyampaikan pesan dari eomma.
"Yunho, appa menyuruhmu kesini karena eommamu meminta sesuatu padamu. Eomma menyuruhmu dan Jaejoong untuk makan malam bersama nanti malam dan kalian harus datang nanti malam." Kata appaku dan aku tidak mungkin menolaknya karena eommaku pasti akan marah besar padaku.
"Ne appa, aku dan Jaejoong akan datang kesana," jawabku dan aku langsung keluar ruangan appaku setelah aku membungkukkan badanku sedikit.
Setelah malam tiba aku dan Jaejoong tiba dirumah eomma dan kami makan bersama. Setelah makan kami menuju ruang keluarga dan kami mengobrol bersama.
"Jaejoong-ah .. apa belum ada tanda-tanda kamu sudah hamil? Eomma sangat ingin cepat-cepat menggendonya. Kalian sudah melakukannya bukan?" tanya eommaku pada Jaejoong dan Jaejoong hanya bisa diam mungkin tak tahu apa yang harus ia jawab.
"Eomma, kami sedang sibuk sekali dan kami tidak mungkin memberikan kalian cucu secepatnya," kataku membantu Jaejoong menjawab pertanyaan eomma.
"Tapi kan kalian sudah janji pada eomma akan memberikan jagoan segera mungkin, jangan bilang kalian belum melakukannya?" selidik oemma dan BINGO eomma menjawab 100% benar.
"Mianhae eomma, aku belum siap menjadi eomma, aku takut jika aku tidak bisa menjadi eomma yang baik buat anakku kelak," jawabnya dan emma langsung sedih seketika.
"Jadi benar kalian belum melakukannya selama ini?" tanya eommaku lagi dan kami hanya bisa diam. "Baik, kalau begitu kalian lusa harus berangkat ke jeju untuk bulan madu kalian yang sempat tertunda, eomma sudah menyiapkan semuanya dan kali ini eomma harus melakukannya kalau sampai eomma tahu kalian tidak melakukannya maka kalian harus siap-siap datang kepemakaman eomma." Kata eomma menantang kami dan itu membuat kami semua yang ada di siti hanya tercengang bingung apa yang harus kami lakukan.
"EOMMA!" kataku agak keras dan membuyarkan keheningan malam itu.
"Oppa," panggil Jaejoong pelan sambil menarikku duduk lagi. "Ne eomma, kami akan melakukannya sesuai keinginan eomma jadi eomma jangan ngomong seperti itu lagi." Tambahnya membuatku melototinya.
Aku langsung pergi dari ruangan itu menuju kamarku yang terletak dilantai dua, aku sangat kesal dengan kejadian ini. ku dengar langkahseseorang mendekati pintu kaar ini dan membukanya. Kulihat Jaejoong masuk kekamarku dan duduk disampingku.
"Mianhae oppa aku membuat oppa marah, aku hanya nggak mau melihat eomma marah dan sedih seperti tadi" jelasnya padaku.
"Tapi kamu tidak perlu menjanjikan hal seperti itukan pada eomma? Aku tidak mungkin melakukannya karna kamu tahu sendiri aku mencintai orang lain kan?" kataku ketus dan dia mulai terisak.
"Mian oppa .. Mianhae, aku tahu oppa mencintai Boa tapi tak bisakah oppa melakukannya? Aku rela oppa asalkan eomma tidak sedih seperti tadi, aku sangat tahu rasanya kehilangan eomma oppa. Jadi tolong pertimbangkan semuanya itu." Katanya dan dia langsung membaJaegkan tubuhnya disampingku, tidur membelakangiku. Aku langsung menarik tangannya dan menindihnya, dia sontak kaget dengan appa yang baru saja aku lakukan.
"Baiklah kalau itu maumu, kita akan melakukannya malam ini, dan ingat aku tidak akan berhenti walaupun kamu memintanya." Jawabku dan langsung membekap mulutnya dengan bibirku. Kucium bibirnya kasar dan mendalam. Kurasakan dia mulai mengikuti permainanku, semakin dalam aku menciuminya sampai hampir habis pasokan oksigen kami. Setelah aku puas dengan bibirnya aku turun membuat kissmark di seluruh tubuhnya, dia mendesah dan memegang erat punggungku saat kami bercinta. "Hmmpphhh..." Jaejoong berusaha untuk meredam suara desahannya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Jangan ditahan Bitch! Biarkan saja! Aku ingin mendengar suaramu," bisik Yunho. Sekejap kemudian dia melanjutkan aksinya di dada Jaejoong.
Jaejoong berteriak saat Yunho mengelus lengannya dan mulai memasukkan penis besarnya ke dalam vagina Jaejoong.
"Hiks..hiks..hiks appo… appo oppa !"
"Ini kan yang kamu mau? Aku tak akan pernah berhenti meskipun kamu memintanya! Ini semua kemauanmu bukan?" ucap Yunho memberhentikan gerakan pinggulnya dan menatap mata Jaejoong tajam.
Jaejoong mengambil napas dengan perlahan. Dia membuka matanya dan menatap mata Yunho, "Aku... baik-baik saja."
"Aku akan segera membuatmu hamil! Kau tenang saja Bitch!," ucap Yunho menatap tubuh Jaejoong yang dipenuhi keringat dan leleha air mata.
Perlahan Yunho mulai bergerak dengan sangat kasarnya tanpa melihat kondisi jaejoong saat ini. Dia bisa merasakan cairan hangat yang keluar dari lubang kewanitaan Jaejoong. Dia tahu kalau itu adalah darah Jaejoong. Tapi dia tidak berhenti. Dia tetap bergerak kasar dan liar.
Setelah beberapa kali gerakan, Jaejoong mulai bisa merasakan kenikmatan. Dan tiba-tiba mulutnya sudah mengeluarkan desahan, "Hmmmmpphh~"
Yunho tersenyum saat mendengar desahan Jaejoong. Itu berarti Jaejoong menikmatinya juga. Dia mulai menaikkan kecepatannya.
"Aaaaaahh... Uuhhhhh~" Jaejoong mengerang dengan kuat saat merasakan sensasi percintaan mereka. Pikirannya mendadak kosong. Dia tidak bisa memikirkan apapun saat merasakannya. Segala beban yang diarasakan tiba-tiba menghilang karena perlakuan Yunho. Cairan kewanitaanya mengalir tidak terkontrol, dan hal itu makin membuat mudah Yunho untuk bergerak semakin cepat didalamnya. Yang langsung membuatnya mengerang-erang dengan kuat.
"Oppa~" ucap Jaejoong lirih sambil memegang bahu suaminya erat-erat karena dia merasa akan orgasme.
"Bitch! Kau menikmatinya hah?" ucap Yunho dengan makin mempercepat gerakannya. Jaejoong merasa terbang dibuatnya.
Dengan pikiran yang susah diajak kompromi, Jaejoong memaksakan otaknya untuk berpikir kata apa yang akan digunakannya untuk menahan sakit hatinya dengan ucapan Yunho barusan. Dia sungguh bingung sekarang. "Oppa?" tanya Jaejoong ditengah2 desahannya. Tiba-tiba Jaejoong berteriak nikmat karena sudah mencapai orgasmenya, "AAAHH~ hikss … hikss .. cukup oppa.. hiks cukup.. appoyo!"
"Wae? Kau menikmatinya bukan," ucap Yunho setelah menunggu hingga Jaejoong menyelesaikan orgasmenya, lalu menyambung, "Berhenti? Jangan harap! Kamu yang meminta jadi kamu yang harus memuaskan adik kecilku ini sampai puas!." Yunho langsung makin mempercepat gerakannya, karena merasa akan orgasme juga.
Jaejoong merasa terkejut karena Yunho menganggapnya sebagai bitch saja yang tak ada harganya saa sekali. Dia sangat berharap kalau nantinya ia akan segera hamil dan bayinya dapat meluluhkan hati Yunho kelak. "Oppaah~"
"Jae, aku, aku... AAAHH~" desah Yunho dan sekejap kemudian dia ambruk diatas tubuh Jaejoong yang merasa seperti bantal saat ditimpa Yunho. Tapi sebentar kemudian Yunho langsung menggulingkan badannya kearah samping dan memeluk tubuh istrinya erat.
Setelah kami bercinta aku langsung tidur disebelahnya, kulihat dia masih terisak mungkin karena perlakuanku tadi yang kasar.
"Kamu puaskan sekarang? Aku sudah mengeluarkan banyak sperma di rahimmu, dan aku yakin kamu akan segera hamil karena ini adalah masa suburmu bukan bitch!?" tanyaku tapi dia hanya diam dan terisak tanpa membalas ucapanku dan sampai akhirnya kami tertidur.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Pagi
Aku bangun dari tidurku dan kurasakan nyeri dibagian sensitifku, aku ingat sealam Yunho oppa melakukannya dengan kasar. Aku hampir tidak bisa berjalan karena ini baru pertama kalinya bagiku. Aku langsung masuk kamar mandi dan aku menangis karena kejadian yang tak terduga semalam apalagi panggilan yang diucapkan Yunho pada ku "Bitch!" sehina itukah aku dimatamu oppa?. Aku berjalan pelan saat hendak turun ke meja makan setelah selesai madi dan menyiapkan pakaian yang akan digunakan Yunho oppa. Setelah semua berkumpul kami makan bersama dalam hening dan Yunho oppa masih dingin terhadapku. Setelah selesai makan kami berangkat ke rumah sakit tapi aku langsung minta turun di halte ketika mau berangkat.
"Oppa, nanti tolong turunkan aku di halte depan, aku harus membeli kebutuhan rumah dulu dan sebaiknya oppa berangkat dulu sebelum telat," kataku dan dia hanya diam saja.
Sampai di halte yang kumaksud dia meghentikan mobilnya dan segera aku turun dari sana.
"Gomawo oppa," kataku sambil menutup pintu mobil itu dan dia hanya diam dan langsung melesat pergi.
—o0o—
