~Jaejoong POV~

Sudah beberapa hari ini kami berdiaman dan Yunho oppa tetap dingin terhadapku. Sampai di Jeju saat inipun dia masih bersikap acuh dan dingin padaku dan itu membuatku kesal, hatiku sangat sakit didiamkan seperti ini terus olehnya, aku sudah mulai mencintainya dan aku mulai cemburu ketika dia selalu bersama Jessica.

#Eomma side

"Apa kalian sudah merencanakan tugas yang aku berikan tadi?"

"Ne, nyonya tadi saya sudah menyampurkan obat perangsang dan penyubur kandungan keminuman tuan muda Yunho dan Nyonya muda," sahut salah satu suruhanku.

"Bagus, kalian sudah bekerja keras kali ini."

Room

Saat makan siang ada pelayan yang datang ke kamar kami dan membawakan pesanan kami, kami makan dengan diam tanpa sepatah katapun. Setelah kami selesai makan, aku duduk di tepian ranjang sedangkan oppa sedang ada di kamar mandi. Kami memang hanya sehari di sini karena oppa tidak mau berlama-lama karena pasiennya sangat banyak dan tidak bisa di tinggalkan.

Setelah beberapa menit aku duduk di tepi ranjang aku merasakan panas yang sangat di dalam tubuhku saat aku hendak berganti baju karena mau keluar mencari udara segar. Akhirnya karena merasa terlalu panas aku langsung mengganti bajuku dengan baju tipis yang entah sejak kapan ada didalam almari itu, aku tarsus mendinginkan ac nya ke yang lebih dingin tapi tetap saja masih panas.

Kulihat Yunho oppa selesai dari kamar mandi hanya memakai boxernya saja. Dia tiba-tiba menghampiriku, menciumku kasar dan menindihku.

"Sepertinya kita harus melakukannya lagi, karena aku yakin makanan dan minuman kita tadi telah dicampur dengan obat perangsang dan ku yakin itu pasti ulah eomma." Katanya dan langsung menciumku dan meberikan kiss mark diseluruh inchi tubuhku.

"Op..oppa.. kau mau apa?" Jaejoong tergagap, ia menelan ludahnya gugup karena kini jarak wajahnya dan wajah Yunho sangat dekat.

"Menurutmu?" Yunho balik bertanya, mata musangnya yang sayu dan seringai di bibirnya membuat Jaejoong makin gugup.

Cup

Mata bulat Jaejoong semakin membulat. apa ini? Yunho oppa menciumku?

Yunho mulai melumat bibir merah Jaejoong, matanya terpejam menikmati rasa manis bibir cherry itu. Jaejoong yang masih shock hanya diam. Ia tak merespon ciuman Yunho.

BUAGHH

Jaejoong mendorong tubuh Yunho hingga ciumannya terlepas.

"Oppa, weiresseyo?" napas Jaejoong sedikit memburu.

"Wae? Bukankah ini yang kau mau?" Yunho menyeringai.

"A..apa maksudmu?"

"Aku tahu Jae, kau menyukaiku kan?"

Jaejoong membulatkan matanya (lagi).

"Kau pikir aku tak tahu hmm?" Yunho mengusap pelan pipi Jaejoong. "Aku tahu Jae-ah, kau diam-diam selalu memperhatikanku 'kan? Aku juga tahu kau sangat cemburu saat aku berdekatan dengan Boa kan hahaha"

"A..apa?" Namja cantik itu semakin tergagap. Yunho menarik tangan Jaejoong hingga kini tubuh Jaejoong menindihnya. Jaejoong masih membatu.

Perlahan Yunho menempelkan bibir hatinya ke bibir cherry Jaejoong, namja tampan itu melumat lembut bibir Jaejoong. Jaejoong diam tak tahu harus apa, ia ingin sekali menolak karena ia tahu siapa Yunho, tapi hatinya berkata lain. Namja cantik itu menginginkannya. Bolehkah ia egois?

Jaejoong mulai mengikuti permainan Yunho. Ia balas melumat bibir hati Yunho. Yunho membalikan tubuh Jaejoong dan menindihnya tanpa melepaskan ciumannya.

"Mmmckkpp..." Lidah mereka saling beradu. Yunho memasukan tangan kanannya kedalam kemeja Jaejoong. Ia meraba dada montok Jaejoong yang sedikit kenyal itu. Ternyata nipple istri cantiknya itu sudah mengeras. Dibukanya kancing kemeja Jaejoong dan dilemparkannya sembarang. Ia melahap benda merah itu dan menjilatinya, kemudian ia mengigit lembut nipple kanan Jaejoong, sedangkan nipple kirinya dipelintir.

"Ahhh...Yunnhh...ahhhh… " Jaejoong mendesah, matanya terpejam. Kelihatannya yeoja cantik itu mulai menikmati permainan itu eoh?

Ciuman Yunho mulai turun ke perut rata jaejoong, lidahnya menyapu tiap jengkal perut namja cantik itu. Ia membuka rok mini Jaejoong. Dirabanya vagina merah muda yang menggairahkan itu. Lalu diturunkannya celana dan underwear istrinya itu, dan kini tampaklah tubuh indah tanpa cacat di depan mata musangnya. Ia sendiri melepaskan seluruh pakaiannya, hingga kini keduanya sama-sama naked.

Yunho melebarkan kedua kaki indah Jaejoong, kembali diciumnya bibir cherry itu. Jaejoong yang terlihat pasrah membuat namja tampan itu semakin bernafsu. Entahlah, mungkin "obat" itu menjadi penyebab ia melakukan 'itu' pada Jaejoong.

Yunho menggoyang-goyangkan kejantanannya yang sudah mengeras, kemudian digesek-gesekan di bibir vagina merah muda Jaejoong. Tanpa pemanasan yang lebih, dengan sangat kasar Yunho mulai memasukan kejantanannya.

"Ahhh... " Jaejoong menjerit pelan, sepertinya ia kesakitan meskipun ini bukan yang pertama kalinya tapi ini sangat menyakitkan karena yunho melakukannya lagi dengan kasar. Tapi Yunho tak mengindahkannya meskipun saat ini istri cantiknya itu sedang menangis. Ia terus mendorong kejantanannya di vagina jaejoong. Sempit. Itulah yang dirasakan namja tampan itu. Tapi ia tak mau menyerah. Didorong kembali kejantanannya dengan kasar dan tanpa ampun.

"Ouugghh Jae...hmmm" rancaunya saat junior big sizenya tertanam sempurna di vagina merah muda itu. Yunho mulai menggerakan pinggulnya perlahan. Tapi karena sensasi vagina sempit Jaejoong, Yunho menggerakan pinggulnya dengan cepat dan sedikit kasar.

"Ahhh... Yun pelan-pelan, sakiiitt.." Jaejoong meringis sakit. Yunho malah mempercepat gerakannya ketika melihat jaejoong merintih menahan sakit.

"Ahhh.." Desah Jaejoong saat kejantanan Yunho menyentuh sweet spotnya.

"Hhhmmm ougghh..Jae..." diciumnya kembali bibir merah Jaejoong, seluruh batang kejantanannya tenggelam, nikmat serasa dipijat-pijat oleh vagina sempit itu. Yunho semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Keringat menetes membasahi tubuh mereka. Suara desahan merekapun semakin keras. Yunho menindih dan memeluk Jaejoong sambil menjilati telinga Jaejoong.

"Ouughh Yuunnhh..ahh.." Pelukan Jaejoong makin erat, ia meremas pantat Yunho, paha namja cantik itu makin erat menjepit pinggangnya. Gerakan pinggul namja tampan itupun semakin cepat. Sampai akhirnya mereka berhasil mencapai puncaknya.

" Hahh.. Hoshh.." Deru nafas keduanya bersahutan.

Tubuhku menegang lagi dan kurasakan dia telah mengeluarkan spermanya lagi di dalam tubuhku. Dan kali ini karena obat perangsang kami bercinta hampir 12 jam tanpa henti.

Saat bangun kurasakan lagi nyeri dibagian organ intimku, walaupun tak sesakit waktu yang pertama kali tetap saja terasa sakit. Aku abngun dan bersiap-siap untuk kembali ke seoul, setelah mandi dan bersiap-siap aku mulai membangunkan oppa yang masih tertidur.

"Oppa, ireonayo, ini sudah pagi." Panggilku mencoba membangunkannya.

Kali ini dia langsung bangun dan bersiap, didalam perjalanan sampai rumah kami pun dia hanya diam dan cuek saja tanpa memperdulikan kalau ada orang yang berada disampingnya sekarang.

—o0o—

3 bulan setelah kejadian itu oppa semaki dingin dan acuh padaku, sekarang dia semakin terang-terangan membawa yeojanya kerumah, makan ataupun pergi. Dia sudah benar-benar tak menghiraukan ku lagi sama sekali dan kurasa kesabaranku sudah mulai habis, hatiku sangat terasa sakit akibat ulahnya yang kejam dan menyakitkan itu.

Aku mulai mengemasi sebagian kecil barang-barangku untuk kupindahkan ke apartemenku yang dulu, aku akan tinggal disana kadang-kadang atau bahkan selamanya. Setelah selesai berkemas aku langsung membawa semua barangku keluar rumah menuju halte untuk kembali kerumahku. Setelah sampai apartementku ku bersihkan appartement peninggalan keluargaku yang sudah lama tak berpenghuni, tapi tiba-tiba saja kepalaku pusing dan mual aku pikir ini mungkin hanya masuk angin saja, dan setelah semuanya selesai aku kembali kerumah sore ini rasanya aku ingin istirahat yang lama.

Sampai di rumah aku tidak melihat ada orang dirumah jadi bisa kupastikan rumah ini sekarang sedang tidak berpenghuni, pasti Yunho oppa sedang bersama Boa dan itu hal yang sudah biasa terjadi. Aku langsung segera pergi kekamar untuk merebahkan diri karena badanku terasa amat sakit, kepalaku pusing dan perutku sedari tadi hanya terasa mual.

"Apa kamu sedang sakit?" tanya namja yang ada di sebelahku. OMO! Sejak kapan dia pulang? Aku bangkit dari tidurku dan mencoba berdiri walaupun agak sulit.

"Eoh, annia.. aku hanya sedang masuk angin saja nanti juga sembuh. Oppa sudah makan belum? Kalau belum akan kusiapkan sekarang sebelum aku berangkat ke rumah sakit. Maaf aku tadi lupa menyiapkannya" kataku masih sambil menyiapkan pakaian yang akan aku gunakan.

"Tidak usah, aku tadi sudah makan. Kalau sedang kurang sehat mending jangan masuk dulu, istirahat saja dirumah nanti bisa minta ijin kan?" usulnya.

"Anieo, aku harus masuk karena ada beberapa urusan yang harus aku urus secepatnya. Kalau begitu aku siap-siap dulu, istirahatlah." Sahutku saat berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi aku bersiap-siap dan berangkat.

Aku segera mencari Junsu dan memintanya untuk menemaniku bertemu dengan kepala perawat. Aku ingin mengajukan kepindahanku kebagian lain karena aku tidak bisa sebidang lagi dengan Yunho oppa, hatiku sudah sungguh teramat sakit dengan kelakuannya.

"Su, ayo ikut aku sebentar," ajakku pada Junsu saat aku enemukannya sedang membereskan alat yang barusan dipakainya untuk memeriksa pasien.

"Wae? Kenapa kamu kelihatan pucat sekali?" tanyanya.

"Anieo, nan gwenchanaeyo. Kajja temani aku bentar." Ajakku langsung menyeret tangannya pergi sebelum dia bertanya lagi. Sampai di depan ruangan kepala perawat aku bertanya pada sekretaris kepala perawat itu.

"Chogieyo, apa Kang gahosa ada?" tanyaku padanya.

"Eoh, Kang gahosa sedang pergi ke daegu selama 1 bulan jadi beliau tidak bisa ditemui saat ini," kata perawat tersebut.

"Ne, ganghsahamida." Ucapku dan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut. Saat mau menuju ruangan perawat Junsu mendadak menghentikan langkahku.

"Mwo?" tanyanya tiba-tiba.

"Mwo? Mwoga?" tanyaku bingung.

"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku Jung Jaejoong?" tanyanya, mungkin dia curiga kenapa aku tiba-tiba menemui kepala perawat itu tapi aku hanya diam saja saat dia menanyakan itu semua. "ikut aku!" katanya langsung menarikku ke cafeteria di bawah. "kalau ada masalah ceritakan padaku jangan dipendam sendiri, kenapa kau tiba-tiba ingin menemuinya? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" selidiknya.

"Anieo Junsu-ah, aku tidak menyembunyikan apapun darimu." Sangkalku

"Gotjimal Jae-ah, aku tahu kau dan aku yakin kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Tebaknya menyudutkanku. Aku tak bisa membohonginya lagi dan aku juga sudah tidak bisa memendamnya lagi. Akhirnya aku ceritakan semuanya padanya sejak pertama kali aku bertemu sampai saat ini. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menangis, aku enangis dan dia memelukku untuk menenagkanku.

"Ada apa ini?" tanya seorang namja yang baru datang dan menghampiri kami.

"Eoh, annieo Yoochun oppa." Selaku padanya yang langsung duduk di depan kami.

"Hahaha .. Gotjimal, kamu pasti sakit hati melihat Boa sama suamimu kan?" tanyanya dan dia tepat sekali dengan pertanyaanya. "Dari dulu aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi Jae, jadi kalau ada masalah kamu jangan sungkan menceritakannya padaku atau Junsu. Kami berdua juga sahabatmu, kalau sedang sedih bagilah kesedihanmu itu pada kami siapa tahu kami bisa membantumu eskipun hanya sedikit." Katanya yang diangguki oleh Junsu.

Aku sudah merasa tenang setelah membagi kesedihanku dengan Junsu dan Yoochun oppa, mereka mendukungku dan menasehatiku agar aku tetap bersama Yunho oppa. Kami hendak berdiri dari kursi yang kami duduki tiba-tiba aku merasa pusing dan mual tadi menyerangku kembali, untung saja Junsu dan Yoochun oppa langsung memegangiku kalau tidak aku pasti sudah jatuh dan itu pasti memalukan sekali pikirku dalam hati.

"Jae-ah Gwaenchana?" tanya Junsu cemas dan aku hanya meberikan anggukan saja karena rasa mual itu belum hilang juga.

"Jae-a, apa menstruasimu teratur?" tanyanya membuatku malu saja dan aku berfikir ulang memang sudah dua bulan ini aku tidak menstruasi dan aku sudah pernah mengalaminya jadi mungkin karena banyak pikiran saja pikirku.

"Eoh .. i.. itu aku sudah telat 1 bulan ini tapi aku sudah pernah mengalaminya mungkin karena aku sedang banyak fikiran saja makanya datang bulanku telat." Jaawabku.

"Apa kamu sudah kedokter? Jangan-jangan kamu hamil?" kata Yoochun oppa membuatku dan Junsu kaget. "Apa sebaiknya kamu periksakan kondisimu itu pada Yunho? Siapa tahu kamu benar-benar hamil?" usul oppa dan aku langsung menggeleng kuat.

"Anieo oppa, jangan beritahu Yunho oppa." Mohonku padanya.

"Bagaimana kalau kamu testpack aja biar tahu kau hamil atau nggak, kamu tunggu di ruangan Yoochun oppa biar aku ambilkan testpect di sana, kajja" ajaknya dan aku tak bisa menolaknya karena dia langsung pergi mengambil testpec sedangkan Yoochun oppa selalu ada disampingku sehingga aku tidak bisa menghindar lagi.

"Igo," kata Junsu sambil memberikan testpec tersebut padaku, aku langsung mengambilnya dan pergi kekamar mandi untuk melihatnya. Junsu tidak aku biarkan ikut masuk kedalam karena aku sangat malu. Setelah aku menggunakan aku menunggunya sebentar dan setelah beberapa menit aku melihatnya lagi dan hasilnya itu membuatku terkejut. Aku langsung menangis seketika setelah melihatnya, mungkin karena suara tangisanku keras sehingga membuat Junsu dan Yoochun oppa langsung masuk kekamar andi ruangannya.

"Waegurae? Gwaenchanaeyo?" tanya mereka berdua membuatku langsung menangis di pelukan Junsu. Yoochun oppa langsung mengambil hasil testpecku yang terjatuh akibat terkejutnya aku melihat hasilnya itu.

"Positive Jae-ah, cukhae kamu akan menjadi eomma sebentar lagi." Kata Yoochun oppa setelah melihatnya.

"Eothokae Junsu-a? aku takut?" isakku dipelukannya.