"Positive Jae-ah, cukhae kamu akan menjadi eomma sebentar lagi." Kata Yoochun oppa setelah melihatnya.

"Eothokae Junsu-a? aku takut?" isakku dipelukannya.

"Sebaiknya kamu memberi tahu Yunho sekarang biar dia bisa memeriksa kondisimu lebih jauh," usul Yoochun oppa.

"Anieo, kalian berjanjilah untuk tidak memberitahukan hal ini pada Yunho oppa, aku mohon." Mohonku pada mereka.

"Tapi kamu harus memeriksakan kondisimu Jongie," sahut Junsu membujukku dan aku hanya tetap menggelengkan kuat kepalaku.

"Arraseo, tapi kamu harus periksakan kandunganmu ke dokter kandungan. Kalau kamu tak mau Yunho tau kamu priksa ketempat temanku saja kami akan menemaniu sekarang." Kata Yoochun oppa yang langsung segera mengganti baju kebesarannya dengan mantel dan kami langsung bersiap-siap ketempat teman Yoochun oppa. Kami berjalan ke kawasan Apgeujung dan memeriksakan kandunganku. Kata dokter disana usia kandunganku sudah satu bulan dan aku harus lebih berhati-hati kandunganku sangat lemah dan aku terlalu banyak pikiran. Setelah aku periksa kami pulang dan aku diantarkan pulang oleh meeka. Dipertengahan perjalanan Junsu memelukku terus agar tetap tenang.

"Apa kamu yakin kamu tidak mau memberitahukan kabar baik ini pada Yunho dan keluarganya?" tanya Yoochun oppa tiba-tiba dan aku langsung berpikir betapa senangnya eomma setelah mendengar kabar itu tapi kalau aku memberitahu eomma pasti dia akan member tahu Yunho oppa atas kondisiku.

"Anieo oppa, aku belum siap memberitahunya apalagi kondisi kandunganku masih sangat lemah aku takut aku memberikan harapan palsu pada mereka misalnya saja janinku tiba-tiba keguguran." Kataku dan Junsu malah ikut menangis sambil erat memelukku. Setelah sampai rumah aku langsung pulang dan disana kudapati Boa sedang ada di rumah kami. Aku tidak ingin menyapa mereka karena aku ingin langsung kekamar dan menenangkan hatiku terlebih dahulu.

Setelah beberepa lama ku mendengar knop pintu itu dibuka secara perlahan dan aku mendengar ada langkah kaki yang mendekat.

"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang?"tanyanya dingin padaku.

"Aku dari rumah sakit, wae?" kataku ketus, aku sedang emosi dan dia hanya menambah emosiku saja.

"Gotjimal! Dari rumah sakit kamu bilang? Tadi kamu pulang jam 9 kamu bilang dari rumah sakit?" katanya ketus dan agak berteriak.

"Wae? Aku memang dari rumah sakit kalau tidak percaya tanya Yoochun oppa dan Junsu merekalah yang mengantarku pulang barusan. Sudahlah aku lelah aku mau istirahat!" kataku langsung membalikkan badanku dan membelakanginya.

Aku terbangun tiba-tiba karena menginginkan sesutau dan tak mungkin aku membangunkannya. Aku mengambil mantelku dan pergi keluar untuk mencari tteokbokki, mungkin aku sedang ngidam untuk makan tteokbokki malam ini. aku berjalan agak jauh karena penjual tteokbokki yang diseberang jalan sudah tutup jadi aku harus mencarinya agak jauh lagi.

"Mianhae baby-a, eomma belum bisa meberitahukan kehadiranmu pada appa. Jeongmal eomma mianhae. Meskipun begitu tumbuhlah kau diperut eomma dengan sehat, eomma akan terus menjagamu." Kataku sambil mengelus perutku yang masih rata itu.

Setelah aku mendapatkannya aku langsung membawa bungkusan itu pulang.

"Dari mana saja kamu tengah malam begini?" tanyanya tiba-tiba yang membuatku kaget karena nggak menyangka dia akan bangun.

"Aku lapar jadi aku mencari tteokbokki di luar. Wae?" jawabku tak kalah ketus.

"MWO? Bukankah kamu bisa memasak? Kenapa harus pergi keluar mencari makanan?" desaknya.

"Sudahlah jangan ganggu dan urusi aku, aku bilang aku lapar dan aku sedang tidak selera untuk masak!" kataku sambil pergi mennggalkannya di ruang tamu. Aku asih bisa mendengarnya ,marah-marah dan membanting pintu kamar.

2 bulan kemudian

Aku sudah pergi menemui kepala perawat bulan lalu dan dia tetap tidak mau memindahkanku kebangsal lain karena aku sangat dibutuhkan disini jadi aku tidak bisa meminta pindah lagi. Kini usia kandunganku sudah jalan 3 bulan dan perutku mulai membesar meskipun aku tutupi dengan pakaianku yang agak besar.

"Pagi," sapaku pada Junsu dan Yoochun oppa yang baru saja datang.

"Pagi," jawab mereka bersamaan dan mereka langsung tertuju pada perutku yang sudah mulai membesar itu.

"Bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Yoochun oppa.

"Aku? Aku baik-baik saja, aegy yang ada diperutku pun sehat hehehe." Balasku

"Gotjimal, semalam saat temanku bertemu denganku dia mengatakanku kalau kondisi kandunganmu masih lemah dan kamu kelelahan. Kenapa kamu tidak mengambil cuti saja?" tanya Yoochun oppa tiba-tiba sambil diangguki oleh Junsu.

"Apa kamu belum bilang ke Yunho oppa tentang kehamilanmu? Apa oppa tidak curiga melihat perutmu mulai membesar?" tanya Junsu.

"Anieo, aku tidak bisa cuti. Aku belum siap memberitahunya kalian tahukan kandunganku masih lemah hehehe," kataku masih mencoba untuk tetap tertawa. "Sebenarnya Yunho oppa sempat curiga kenapa badanku agak berisi dan makanku agak bertambah banyak tapi aku bilang saja karena aku sedang menangani residene yang banyak dan menguras tenagaku jadi aku sering makan banyak dan aku juga sering lembur padahal aku pulang ke apartementku yang dulu." Jawabku pada mereka berdua yang hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir.

"Tapi bagaimanpun kan Yunho tetap harus tahu karena dia itu appanya." Timpal Yoochun oppa dan aku hanya mengangguk saja sembari tersenyum kecil.

"Meskipun begitu aku tak yakin kalau yunho oppa mau menerimanya. Apa lagi dia sekarang sedang bahagia dengan kekasihnya." Curhatku dengan tetap mencoba tersenyum.

"Jangan bilang begitu Jongie, oppa yakin Yunho akan menganggap anak itu, dia adalah appanya dan dia harus tahu."

"Chunie oppa benar jongie-ah, apa kamu ingat ahjuma sangat mengharapkan cucu segera apa kamu tetap yak mau member tahu mereka?" timpal Junsu.

"Aku tak tahu lagi, aku tak tau oppa , Sui. Aku takut .. hikks…hikss.. aku takut.." tangisku akhirnya pecah juga setelah beberapa lama aku coba untuk menahannya.

"Tenanglah jae, jangan banyak pikiran ingat kondisimu. Kamu tak perlu takut karena kami ada di sini bersamamu. Hmmm?" kata Chunie oppa menenangkanku.

Aku menangis sesunggukan di bahu Junsu yang sedang memelukku.

—o0o—

~Jaejoong POV~

Aku berjalan untuk memeriksa kondisi pasienku, hari ini memang cukup banyak pasiennya yang sedang antri apalagi sekarang aku diberikan tugas untuk membimbing residence yang sedang bertugas disini juga. Apalagi akhir-akhir ini aku sering merasakan nyeri yang sangat pada bagian perutku, apakah ini karena kandunganku yang lemah? Aku berharap Tuhan tidak mengambilnya.

Setelah aku memeriksa kondisi pasien dan memeriksa tugas residence ku, aku langsung duduk di ruang perawat entah kenapa sejak tadi pagi perutku terasa sakit tapi kali ini sakitnya terasa sangat kuat dan kasar dan hapir aku ingin jatuh karena tak bisa menahannya.

"Jae nuna, gwenchanayo?" tanya salah satu residenceku yang kebetulan saja lewat dan melihatku meringis kesakitan pada bagian perutku. Rasa sakit itu tak mampu membuatku untuk hanya sekedar menjawab anieo ataupun ye. Kepalaku kini tiba-tiba ikut sakit dan keringat mengucur. Entah sejak kapan aku sudah tidak merasakan apa-apa yang ada hanya gelap dan sekilas hanya terdengar suara Junsu dan Yoochun oppa yang memanggilku.

—o0o—

~ Yoochun POV~

Aku sedang menikmati makan siangku di cafeteria bawah rumah sakit ini bersama calon anaeku Kim Junsu. Iya kami hanya makan berdua karena Jae tidak mau ikut katanya sedang ada urusan yang harus diselesaikan. Setelah menunggu makanan datang kami langsung melahapnya, tapi baru dua suap sudah ada yang mengganggu istirahat kami. Namja itu adalah salah satu residence bimbingan Junsu dan Jongie tapi kenapa dia mencari Junsu saat ini bukannya nanti saja setelah istirahat.

"Junsu nuna .. nuna .." panggilnya dengan ngos-ngosan mungkin karena habis berlari mencari Junsu. "Nuna ..Nu..nuna a..ada yang ga..wat .." katanya terbata-bata.

"Nde?" sahut Junsu bingung dengan ucapan anak itu seperti halnya aku yang juga bingung. "Katakan yang jelas jangan membuatku bingung Hoon." Tanya Junsu.

"Ga..gawat nunua, Jae nuna sakit dari tadi memegang perutnya terus, makanya aku diminta Yonghwa-ssi untuk mencari nuna." Sahutnya sepertinya masih mencoba mengatur nafasnya.

Aku dan Junsu yang mendengar nama Jae di sebut sakit kami langsung berlari keruang perawatan diasana. Sampai disana kami melihat Jae yang sudah merintih kesakitan dan banyak keringat yang mengucur. Kami mendekatinya dan tiba-tiba saja dia tidak sadarkan diri. Aku langsung membawanya ke ruangan khusus dan meminta dokter kandungan untuk memeriksa kondisinya.

"Yoochun-ssi, Junsu-ssi, kemana Yunho-ssi? Apa dia belum tahu istrinya sakit? Dia harus tahu kondisinya sekarang karena keadaan keduanya sangat lemah. Jika dia terus seperti ini maka dia akan kehilangan janinnya atau bahkan keduanya tidak bisa diselamatkan. Jadi sebaiknya kondisi Jae-ssi harus dijaga dengan baik dan tidak melakukan sesuatu yang memperburuk kondisinya." Kata Shin salah satu dokter kandungan juga di rumah sakit ini. dan setelah menjelaskan semuanya Shin langsung pergi meninggalkan kami semua.

Setelah kepergiannya aku melihat Junsu yang terus khawatir dengan kondisi sahabatnya. Dia menatapku seraya memohon bantuanku dan aku tahu apa yang dia minta, dia minta agar aku memberitahu Yunho tentang keadaan sahabatnya itu tapi aku tidak mungkin memberitahunya dengan langsung aku harus mencari cara agar dia bisa tahu dan menebak sendiri kondisi istrinya itu sekarang. Setelah beberapa kali berfikir aku sudah menemukan caranya dan aku yakin ini pasti bisa berhasil. Di satu sisi aku lihat Jae yang sudah mulai membuka mata. Dia menatap sekelilingnya saat ini dan dia mencoba untuk bangun dari tidurnya.

"Aku dimana?" tanya Jae bingung dengan keberadaannya sekarang.

"Kamu masih dirumah sakit, kamu jangan bergerak dulu karena kondisimu masih belum pulih benar," kata Junsu menenangkan sahabatnya itu dan aku hanya melihatnya dari sofa. "Istirahatlah dulu kami ada disini untuk menemanimu." Tambahnya.

"Sekarang jam berapa?" tanya Jae tiba-tiba. Dan aku hanya menunjukkannya dengan gerakan tanganku saja dan itu membuatnya terkejut. "Mwo? Jam 8 malam? Aku harus segera pulang Junsu-ah, aku belum menyiapkan makan malam dan keperluan untuk Yunho oppa, pasti dia kebingungan sekarang. Aku harus pulang apa lagi dia sekarang jaga malam." Katanya sambil mencoba untuk melepaskan jaru infuse itu dari tangannya. Aku dan Junsu langsung berdiri mencoba untuk mengentikannya karena dia sangat keras kepala dan kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya kami putuskan untuk mengantarkannya pulang karena kondisinya yang masih belum baik.

Sampai di rumah Jae kami hendak turun untuk mengantarkannya masuk tapi dia tiba-tiba menyuruh kami untuk langsung kembali saja ke rumah sakit karena dia tahu kalau sekarang aku jaga malam. Kami memandang wajah Jae yang masih pucat itu apalagi udara di luar sangat dingin sekali.

"Junsu-ah, oppa gomawoyo Kalian kembalilah ke rumah sakit sekarang, pasti banyak pasien yang sedang menunggu diperiksa kalian," katanya tapi itu tidak membuat Junsu beranjak dari tempat berdirinya, kulihat wajah khawatirnya terhadap kondisi kesehatan sahabatnya itu. "Percayalah, aku dan aegy ku sangat kuat jadi kalian cepatlah ke rumah sakit." Tambahnya mencoba untuk meyakinkan kami kalau dia baik. Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa emenuhi permintaanya.

Diperjalan dari rumah Yunho aku masih melihat tatapan kekhawatiran dari calon anaeku itu, dia masih terlihat dia dan kepalanya menunduk. Ku usap pelan kepalanya agar merasa lebih tenang dan dia menoleh menyambut usapan tanganku itu.

"Oppa, aku masih khawatir dengan kondisi Jae, kita harus tetap kasih tahu Yunho oppa tentang kondisinya sekarang. Tapi kita tak mungkin mengatakan langsung karena kita sudah janji pada Jae, aku tidak mau dia membenciku karena kita memberitahukannya pada Yunho oppa. Ottokhae oppa?" tanyanya menghadapku dengan air mata yang mengalir dan itu membuatku merasa sakit.

"Chagi, tenanglah," bujukku untuk menenangkannya. " Kita akan membuat Yunho tahu kalau dia akan menjadi appa dan termasuk keluarganya juga tapi dia akan mencari tahu sendiri kondisinya. Aku sudah pikirkan bagaimana caranya jadi kamu tenang saja. Rencananya kita akan mulai malam ini karena Yunho juga akan jaga malam ini. tapi kamu juga harus membantuku untuk menjalankan rencana ini." kataku dan dia mengangguk setuju, perasaannya pun mulai agak tenang setelah mendengar aku mempunyai cara agar sahabatnya itu bahagia.

"Jinjayo oppa?" tanyanya tidak percaya dan aku hanya mengangguk pelan dan dia tiba-tiba mencium pipiku sekilas karena senang. Dan aku sangat senang melihatnya bahagia lagi. "Gomawo oppa, saranghae ."

"Nado saranghae chagi-ah." Jawabku dan langsung focus kembali untuk menyetir lagi.

—o0o—