~Yunho POV~
Aku sudah siap-siap untuk berangkat ke rumah sakit karena mala mini aku harus jai dokter jaga lagi, memang semakin hari kerjaanku banyak dan aku sering jaga malam juga. Kulirik jam dan ternyata ini sudah jam Sembilan dan istriku itu belum pulang juga. Tunggu, kenapa perasaanku jadi khawatir seperti ini? kenapa hatiku jadi tak karuan? Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Jangan-jangan … ANDWEEE! Itu pasti tidak benar dan mungkin ini efek karena aku sudah lama tidak bertemu dengan kekasihku Boa, batinku dalam hati dengan perubahan sikapku itu. Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka sehingga membuyarkan lamunan yang sedari tadi aku sangkal. Ternyata dia baru saja pulang, dari mana saja dia baru pulang? Dan kulihat wajahnya pcat sekali. OMO! Apa dia sedang sakit? Gumamku saat aku hanya sekilas melihatnya.
"Oppa sudah mau berangkat?" katanya saat masuk rumah kami dan aku hanya memberikan anggukan saja. "Minhae oppa aku pulang telat, tadi aku harus menyelesaikan tugasku dulu. Apa oppa sudah makan? Kalau belum akan ku siapkan makan malam dulu sebelum oppa berangkat." Katanya sambil berjalan kearah dapur. Saat mau ke dapur entah pikiran apa yang sedang bersarang di otakku ini sampai aku menahan pergelangan tangannya dan kenapa hatiku kini semakin berdebar kencang? Ada apa ini?
"Gwenchana, aku sudah makan. Aku berangkat dulu, kalau sakit itu minum obat, jangan sampai nanti merepotkanku" kataku mencoba sedingin mungkin agar rasa khawatirku itu bisa tertutupi.
"Ne oppa, berhati-hatilah dijalan." Katanya mengantarkanku sampai di depan rumah kami. Aku langsung memacu mobilku ke rumah sakit.
Setelah setengah jam perjalanan dari rumahku yang baru sampai rumah sakit ini aku langsung di interogasi oleh Junsu yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Yunho oppa, apa yang sudah kau lakukan pada Jae?" tanyanya penasaran dan itu jelas membuatku bingung, emang apa yang sudah aku lakukan? Batinku.
"MWO?" Tanyaku agak keras karena terkejut.
"Haizzz! Oppa, apa oppa akan segera menjadi appa? Kenapa perut Jae kelihatan sudah membesar? Apa Jae sedang hamil?" tanyanya dan itu membuatku semakin bingung. Jae hamill? Tapi kenapa aku tidak tahu.
"Mollayo, kamu dengar dari siapa kalau Jae hamil?" tannyaku agar aku mendapatkan jawabanku itu.
"Aku tidak tahu oppa, makanya aku bertanya pada oppa. Sudah beberapa hari ini aku melihat perut Jae yang sedikit besar dan kemarin dia merasa mual dan makannya itu lho oppa, banyak banget." Sahut Junsu dan aku hanya menggeleng saja karena aku benar-benar tidak tahu.
"Jongmalyo? Nanti akan aku lihat. Tapi kalau hamil masa tidak ngasih tahu aku?" gumamku sendiri. "Ya sudah aku keruanganku ya? Karena ada beberapa pasien yang akan melahirkan malam ini." Pamitku dan langsung segera keruanganku.
Baru masuk ruanganku aku tiba-tiba terkejut dengan kehadiran appaku yang langsung masuk dan mengagetkanku.
"Yunho, apa Jae sedang hamil?" tanya appaku tiba-tiba. Ada apa ini? kenapa hari ini ada yang mengira Jae hamil? Apa jangan-jangan dia benar hamil sekarang? Batinku.
"Mwo? Appa tahu dari mana kalau Jae hamil?"
"Yakk! Appa hanya mengiranya soalnya kemarin aku sempat lihat menantu appa itu perutnya agak besar jadi appa kira dia sedang hamil," sahutnya dengan penuh harap kalau kabar itu benar. "Appa dan eomma sudah ingin sekali mendapatkan cucu." Tambahnya dan langsung pergi dari ruanganku tanpa pamit dan kini wajahnya tertekuk kecewa.
Sejak pertanyaan mereka tentang Jae yang hamil membuatku kepikiran tentang perkataan mereka, apa benar ini semua? Ya tuhan apa yang sebenarnya terjadi ini? lamunanku seketika hilang ketika ada yang masuk ke ruangan ku.
"Oppa, aku merindukanmu." Kata yeoja yang baru masuk itu dan langsung memelukku.
"Boa, kenapa malam-malam ke sini? Ada apa? Apa kau sakit?" tanyaku padanya sambil melepaskan pelukannya itu.
"Oppa, apa kau tak merindukan kekasihmu ini? padahal aku sangat merindukanmu." Katanya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oppa juga sangat merindukanmu chagi," jawabku tapi kenapa hatiku ini tidak merasakan sesuatu yang seperti dulu? Kenapa aku merasakan perasaanku padanya mulai hilang dan sekarang yang ada dipikiranku hanya dia sekarang.
"Oppa!" katanya keras dengan wajah yang kesal. "Kenapa oppa sekarang cuek padaku? Apa oppa sudah tidak menyayangiku lagi?" rajuknya manja.
"Aniya, oppa hanya sedang banyak pikiran saja. Sekarang kamu pulang saja chagi, ini sudah malam tidak baik wanita pulang sendirian dan maaf aku tidak bisa mengantarkanmu pulang karena paienku banyak malam ini, tidak apa-apakan?" kilahku padanya karena pikiranku memang sedang tidak au diganggu saat ini.
"Ne, gwenchanayo oppa, aku akan pulang sekarang. Besok aku akan menghubungi oppa. Sharanghae oppa, daghh." Katanya dan langsung segera meninggalkan ruanganku.
Setelah kepergian Boa aku terpikir dengan yang mereka katakana tentang perut Jae yang agak membesar, apa benar Jae sedang hamil? Huft sebaiknya aku pastikan itu sendiri agar tidak terus-terusan kepikiran tentangnya lagi. Setelah memerikasa beberapa pasien akhirnya aku putuskan untuk pulang dan mencari tahu sendiri kebenarannya, apa benar dia sedang hamil atau tidak.
Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan ku lihat istriku hanya berbalut gaun tidur saja dan dia sangat terlihat menggoda dan ini membuat jantungku berdebar kencang. Aku melihat perutnya dan sedikit merabanya dan benar kata mereka kalau perutnya semakin besar tapi apa ini? kenapa ada seperti tonjolan di bagian perutnya, aku raba agak dalam untuk memastikannya dan dia untungnya hanya menggeliat pelan saja dan tidur lagi. Aku harus memastikan kebenaran itu besok pagi gumamku.
—o0o—
Sinar matahari menyeruak masuk kedalam kamar kami, ku lihat dia sudah tidak ada disapingku lagi, aku berjalan keluar untuk mencarinya tapi ternyata dia sedang di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Aku langsung mendekatinya dan sontak dia kaget melihatku tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Omo .. oppa semalam pulang jam berapa? Bukannya oppa ada jaga malam?" tanyanya masih dengan terkejut.
"Kamu bersiap-siaplah, kita ke rumah sakit bersama sekarang." Kataku menyuruhnya bersiap-siap.
"Mwo?" katanya kaget. " Anieo oppa, aku hari ini tidak masuk, hari ini aku libur." Tolaknya.
"Pokoknya kamu harus ikut, sekarang juga ganti pakaianmu itu. Aku akan siap-siap dulu." Kataku langsung pergi meninggalkannya di dapur dan kulihat sekilas dia masih bingung dengan tindakanku itu.
Setelah siap kami langsung masuk mobil dan pergi ke rumah sakit, di dalam mobil kami hanya diam dengan pikiran kami masing-masing, aku dengan pikiranku tentangnya dan yang diomongkan oleh orang-orang tentang kabar itu sedangkan dia juga dengan pikirannya yang entah apa yang sedang dia pikirkan.
Sampai rumah sakit aku langsung menggenggam tangannya menuju ruanganku dan dia kaget dengan tindakanku itu. Dia sepat melepaskan tanganku tapi tetap aku pegang erat tangannya.
"Oppa, kita mau kemana sebenarnya? Apa yang mau oppa lakukan?" tanyanya padaku saat sampai didepan ruanganku dan aku langsung membawanya masuk ke ruanganku.
"Berbaringlah." Kataku sambil menyiapkan peralatan untuk memeriksa apakah dugaanku semalam benar.
"Memangnya kenapa oppa? Apa yang ingin oppa lakukan?" tanyanya cemas.
"Berbaring dan jangan menolak!" sentakku sambil menatapnya tajam
"Shireo oppa! Aku nggak mau, aku mau pulang." Katanya dan hendak mau turun dari tempat tidur itu tapi aku langsung menatapnya tajam.
"Wae? Kenapa nggak mau? Apa ada yang kamu sembunyiin dariku?"
"Anieo oppa, ak.. ak..aku hanya sedang banyak urusan di luar sana jadi aku harus segera pergi sekarang. Jebal oppa, aku benar-benar ada acara sekarang dan itu penting."
"Sekarang katakan padaku sudah berapa bulan usia kandunganmu itu? Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang kandunganmu itu?" tanyaku dengan nada suara yang tinggi dan membuatnya ketakutan dan menangis.
"Maksud oppa?" tanyanya mencoba untuk mengelak pertanyaan itu.
"Jawab saja, kamu tidak bisa menyembuyikannya lagi saat ini atau aku akan memaksamu mengatakannya dengan caraku sendiri?" katanya membuatku takut dan memutuskan untuk memberitahu tentang kehamilanku.
"Mianhae oppa, aku bukannya tidak mau memberitahumu tapi aku benar-benar belum tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahumu." Katanya masih dengan terisak.
"Sudahlah, sekarang kamu berbaring saja biar aku periksa uri aegy dan ini bukan permintaan tapi ini perintah dan aku tidak suka dengan penolakan!" kataku tegas dan dia mulai menuruti semua keinginanku. Aku mulai memeriksanya dan ku lihat kondisi kandungannya sangat lemah, detak jantung janinnya sangat lemah bahkan hampir tak terdengar, sudah sejak kapan dia mengetahui tentang kehamilannya? Kenapa dia tidak memberitahuku dan orang tuaku? Batinku sambil terus melihat monitor di depanku.
"Usia kandunganmu sudah 3 bulan, sejak kapan kau menyembunyikannya dariku? Siapa appa janin yang ada dikandunganmu? Apa hari ini kamu bilang sedang punya urusan kamu ingin pergi menemui appa janin itu?" Kataku ketus dan sinis dengannya.
Plakkkkkk
"Aku bukan wanita murahan yang rela menjual diriku pada orang lain! Aku wanita baik-baik yang hanya memberikan kesuciannya hanya pada nampyeonnya saja. Jadi jangan pernah katakan itu lagi!" katanya lagi dengan isakan.
"Gotjimal, sudah lama kita tidak berhubungan jadi tidak mungkin dia aegyku, katakan siapa appa dari bayi itu! Karena aku tak akan percaya kalau dia itu darah dagingku. Apa kamu menggunakan anak itu hanya untuk mendapatkan warisan dari keluargaku? Jangan harap!" tandasku tak kalah sinis.
"Apa oppa benar-benar menganggapku wanita murahan, matrealitis yang menggunakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan kemewahan bahkan dengan menjual dirinya?"
"Siapa saja pasti akan berpikir seperti itu jadi jangan sok alim dan tidak bersalah! Cepat katakan siapa Appa bayi itu sekarang, Bitch!"
"Bitch? Apa oppa hanya menganggapku Bitch saja oppa? Apa oppa benar-benar tetap tidak menganggap anak ini anak oppa?"
"Ne? aku yakin dia pasti bukan darah dagingku! Kamu pasti menjual dirimu di luar sana!"
"Aku sudah bosan bicara dengan oppa! Terserah apa pikiran oppa sekarang! Karena apapun yang aku ucapkan oppa pasti tak akan pernah percaya" katanya ketus.
"Hahaha.. jangan pikir aku bodoh yang percaya begitu saja dengan ucapanmu itu. Aku tak akan pernah membatalkan perjanjian kita hanya demi bayi yang tak jelas siapa appanya!"
"Cukup! Cukup oppa! Oppa boleh menghinaku tapi jangan pernah menghina aegyku ini, dia tak tahu apa-apa dan dia masih kecil bahkan diapun belum lahir sama sekali!" katanya semakin meneteskan air matanya. "Oppa tenang saja kalau masalah tentang perjanjian yang kita buat dulu sebelum nikah, masalah perjanjian itu aku akan tetap mematuhinya, setelah kontrak itu selesai kami akan pergi dari kehidupan oppa untuk selamanya dan tidak akan pernah muncul lagi dihadapan oppa. Bahkan sekarangpun aku bersedia oppa ceraikan aku malah dengan senang hati! Masalah bayi ini aku yakinkan dia tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi, aku akan membesarkannya sendiri dan oppa juga tidak perlu mengakuinya! Mulai sekarang dan detik ini Anakku Tidak Punya Appa dan tidak butuh appanya. Ingat itu oppa! Anakku tidak punya appa! Dan oppa juga bisa bilang ke orang tua oppa kalau oppa ingin menceraikanku karena aku tengah mengandung anak namja lain!" katanya dan langsung meninggalkan ruanganku ini dengan masih menangis.
—o0o—
