~Jaejoong POV~

Aku langsung pergi meninggalkan ruangan Yunho oppa, dia sudah keterlaluan. Aku tidak masalah jika yang dia hina itu aku tapi aku tidak terima kalau yang dia hina itu anakku aku tak akan terima itu, aku tak terima dengan hinaannya itu terhadap anakku yang bahkan belum keluar itu. Aku pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah, sampai di rumah aku hanya duduk di ruang bayi yang sudah sejak dulu dibuatkan oleh mertuaku itu, aku menangis merasakan sakit yang amat di hatiku ini.

"Aegi-ya, maafkan eomma karena tidak bisa meyakinkan appamu bahwa kau itu anaknya, mian aegy-ya tapi eomma janji eomma akan melindungi dan menjagamu meski tanpa appa di sampingmu. Tumbuhlah sehat nak kamu di dalam sana. Eomma kan tetap bekerja keras dan melindungimu sekuat tenaga." Kataku sambil mengelus pelan perutku itu.

Sejak kejadian itu hubunganku dengan Yunho oppa semakin buruk, aku tetap menjalankan peranku sebagai seorang istri yaitu menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dan sebagainya tapi kami sekarang tidak pernah bertegur sapa dan akupun jarang pergi dengannya lagi. Seandainya bukan karena bayi yang sedang aku kandung ini aku pasti akan menyerah tapi kini aku harus bertahan dengan kondisi yang seperti ini. Setelah kepergiannya yang tidak mengatakan dan bahkan berpamitan padaku sama sekali, aku menaruh sebuah map coklat di atas meja samping tidur kami, aku segera membereskan semua pakaianku dan menempelkan semua note yang harus aku tulis untuk Yunho oppa di kulkas dan tempat strategis lainnya. Aku mengangkat semua barang-barangku kedalam koper dan membawanya ke dalam taxi menuju rumahku yang dulu dan sebelumnya aku juga sudah membersihkan rumah dan menyipkan makanan yang sudah aku taruh di almari es agar Yunho oppa bisa langsung memakannya setelah dipanaskan sebentar. sampai di rumah aku juga segera membuat surat pengunduran diriku dari rumah sakit itu karena setelah ini aku akan pindah ke rumah nenek yang ada di busan dan aku berencana untuk menetap, bekerja dan tinggal disana.

Aku bangun dari tidurku yang hanya sebentar itu dan aku bersiap-siap untuk menemui temanku yang akan membantuku untuk mengurus pemberhentianku dari rumah sakit yang saat ini sebagai tempat kerjaku. Baru selesai mandi kini sudah ada yang mengetuk-ngetuk rumahku dengan kasar, aku segera membuka pintu rumahku sebelum mereka menghancurkannya.

"Op..oppa," kataku kaget melihat sosok namja yang ada didepanku. "Apa yang sedang oppa lakukan di sini? Apa oppa mau mengantarkan surat cerai tadi? Kalau iya mana surat itu dan akan aku berikan ke pengacaraku sekarang juga sehingga urusan perceraian kita segera di urus. Oppa tenang saja di sana sudah aku tulis bahwa aku tidak membutuhkan apapun dari oppa baik harta atau apapun bahkan pengakuan anakku karena sudah sejak awal aku beritahukan kalau anak ini tidak mempunyai appa!" kataku ketus.

Dia langsung menarikku kedalam rumahku dengan kasar, dia mendudukkanku ke atas sofa dan menatapku tajam.

"Begitu inginkah kamu bercerai denganku?" tanyanya tajam

"Ne, saat ini aku sangat ingin segera oppa ceraikan dan aku bisa hidup dengan anakku sendiri. Dan aku juga akan keluar dari rumah sakit oppa jadi oppa tidak perlu khawatir untuk melihatku lagi karena aku juga akan pergi dari sini!" Jawabku tak kalah ketus.

"Tapi sayang, aku tidak akan pernah menceraikan kamu! Sekarang kemasi barang-barang kamu dan kita pulang." Katanya agak mengurangi nada emosinya.

"Shireo! Aku tak mau pulang kesana karena di sinilah rumahku! Dan aku juga akan meninggalkan kota ini jadi sebaiknya oppa pergi dari sini karena sebentar lagi taxi yang menjemputku akan segera datang dan aku harus segera menurunkan barang-barangku!" tolakku.

"Baiklah kalau kamu tak mau pulang malam ini!" katanya sambil berjalan kearah pintu rumahku, aku kira dia akan pulang tapi ternyata dia mengunci pintu dan menyimpan kunci pintu itu.

"Apa yang kau lakukan Yunho-ssi? Tolong kembalikan kunci itu karena aku harus pergi malam ini!"

"Bukankah kamu tidak mau pulang? Jadi untuk malam ini kita menginap di sini tapi besok kita harus pulang ke rumah kita."

"Shireo!" tolakku tapi dia langsung mengangkatku kekamar dan membaringkanku di sana dia juga mengunci pintu kamarku sehingga aku tidak bisa keluar.

Dia kemudian mengajakku ke kamar dan menciumku dengan lembut, entah ada setan apa yang sedang menghampiriku sekarang karena aku tidak bisa menolaknya dan kami berakhir dengan malam yang tidak terduga.

BRUK

"Akhh" Jaejoong meringis saat tubuhnya terhempas ke kasur.

Yunho menindih tubuh namja hamil itu, menghiraukan rintihan yang keluar dari bibir Jaejoong. Tangannya berusaha membuka baju yang Jaejoong kenakan, bibirnya juga berusaha mencium paksa bibir Jaejoong. Namun namja cantik itu berontak.

"Yunho-ssi.. waeire...seyo...?" Jaejoong terus saja meronta membuat Yunho menghentikan kegiatannya.

"Diamlah Bitch dan nikmati saja!" tatap tajam Yunho. Nafas keduanya pun beradu saling bersahutan.

Buagh!Jaejoong mendorong tubuh Yunho hingga namja tampan itu terduduk.

"Serendah itukah aku di matamu?"

"Bukankah yang ku lihat tadi memang seperti itu? Mau berhubungan tanpa cinta dengan orang asing? Apa jangan-jangan kau mau berhubungan denganku dan hamil karena ingin mendapatkan hartaku saja"

Jaejoong mendelik tajam. Ingin sekali ia memukul Yunho saat itu juga jika saja ia tak ingat statusnya.

"Kau setega itukah menilaiku? Bitch! Matrealistis? Terus apalagi?" Hardik Jaejoong dengan kilat mata yang memancarkan kemarahan.

Bruk!

Yunho kembali mendorong dan menindih tubuh Jaejoong, kali ini ia berhasil menyentuh bibir cherry itu.

"Mmpphh..." Mulut Jaejoong masih terkatup. Kepalanya menggeleng mencoba menolak serangan bibir Yunho.

"Yunmpph..."

Tak mengindahkan rontaan Jaejoong, Yunho terus mengeksplor mulut Jaejoong dengan lidahnya. Tangan Yunho mencengkram kedua tangan Jaejoong, kakinya juga mengunci kaki Jaejoong agar istrinya itu tak bisa melawan serangannya.

"Eunghh..." erang Jaejoong ketika leher jenjangnya digigit. "Geuman..."

"Wae? Kau tak mau melayaniku eum? Apa kau sudah bosan? Ingat Jae, kau istriku! Jadi kau tak bias untuk tidak melayaniku!" klaim Yunho seduktif. Yunho menjilati daun telinga Jaejoong, membuat namja cantik itu mendesah tertahan.

"Jangan ditahan Jae.. Mendesahlah... Aku merindukan desahanmu.." bisik Yunho seksi.

Jaejoong tak membalas ucapan Yunho. Namja cantik itu menutup erat matanya seolah enggan untuk melayani Yunho.

"Tatap aku Jae! Tatap mataku jika kita sedang bercinta!" bentak Yunho.

"Bercinta? Apa kau tahu apa itu bercinta?" Entah sejak kapan butiran bening itu mengalir. Jaejoong menangis. Padahal saat menjalankan pekerjaannya dulu pun ia tak pernah menangis. Suka tidak suka ia akan tetap melakukannya sebaik mungkin, termasuk pada Yunho, ia tak pernah menolak saat namja tampan itu meminta kehangatan tubuhnya. Tapi sekarang... Jaejoong menangis.

"Hentikan ku bilang!... Akh!"

"Uri Jaejoongie banyak bicara ne.." Yunho merobek t-shirt yang dipakai Jaejoong. Kemudian namja tampan itu langsung menjilati nipple merah muda Jaejoong. Tangan kanannya turun ke bawah mengelus vagina yang masih tertutupi celana dalam itu.

"Geumanhae... Jebal..."

"Tidak!" Isakan Jaejoong yang meminta berhenti pun tak diindahkannya. Namja tampan itu seolah lupa jika orang yang tengah digagahinya itu tengah berbadan dua. Ia bak kerasukan setan , malam itu Yunho bermain sangat kasar.

—o0o—

~Yunho POV~

Aku berbaring di sebelahnya setelah melakukan kegiatan suami istri, aku melihatnya yang sedikit lelah setelah aktivitas kami, entah mengapa aku bisa melakukannya. Aku memulai berbicara untuk memecahkan keheningan pada malam ini.

"Sudah sejak kapan kau mengetahuinya?" tanyaku membuka suara.

"Bukan urusanmu!" Katanya masih dengan ketus.

"Kamu juga tidak bilang kalau kandunganmu lemah dan kalau begitu saat aku tanya kenapa nafsu makanmu banyak jawaban itu bohong?" tanyaku agak dengan nada tinggi. "Mulai besok aku minta kau untuk mengambil cuti dan jangan bekerja lagi, aku akan bilang ke appa sekarang!" kataku yang hendak mengambil telephonku untuk menghubungi appaku.

"Apa hakmu melarangku ini itu? Aku sudah bilang ini bukan urusanmu! Apapun yang akan aku lakukan aku tidak perlu pendapat dan ijinmu Yunho-ssi! Jadi jangan ikut campur."

"Aku berhak karena aku suamimu." Kataku tak kalah ketus.

"Aku sudah tidak punya suami bahkan aku tak ingat kalau aku sudah punya suami, dan sebaiknya anda pulang saja Yunho-ssi anggap saja tadi hadiah dari seorang Bitch!" katanya tajam sambil berjalan kearah kamar mandi tapi aku langsung mencengkram tangannya dan memeluknya.

"Mian, mian, aku salah seharusnya aku tidak berkata kasar seperti itu padamu. Aku mohon kembalilah ke rumah, dan jangan panggil aku Yunho-ssi lagi dan turuti semua kataku. Jeballl?" kataku sambil mengeratkan pelukanku dan dia hanya menangis. "Uljimayo."

"Jahat! Kau jahat oppa.. jahat! Kenapa kau tega menyakitiku?" katanya sambil menangis dan memukul dadaku dan aku hanya bisa mengusap rambutnya pelan agar dia tenang.

Setelah dia agak tenang dia tetap menelusupkan kepalanya ke dadaku agar tetap merasanyaman dan tenang.

"Mulai besok kamu cuti ya?" kataku setelah dia sedikit tenang dan menyandarkan kepalanya di dadaku.

"Chankaman oppa! Jebal oppa, biarkan aku tetap bekerja aku pasti akan kebosanan kalau hanya di rumah saja. Jebal .. jebalyo oppa. Aku juga sudah tahu kok kalau kandunganku lemah jadi tidak memberitahu oppa karena aku takut kalau aku tidak bisa menjaganya dan itu akan mengecewakan oppa kalau aku sampai memberitahu oppa dalam keadaan seperti ini." Bujuknya dengan puppy eyesnya membuatku merasa tidak tega juga.

"Baiklah tapi mulai sekarang jadwal kamu kerja mulai sekarang harus sama denganku dan setelah usia kandunganmu 6 bulan kamu juga harus berhenti dan juga jika aku melihat kondisimu yang masih kurang baik aku juga akan meminta appa untuk menyuruh kamu keluar atau cuti dari rumah sakit." Kataku membuat negosiasi dengannya. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja meskipun wajahnya masih kesal dan tertekuk kecil. "Jangan menampangkan wajah kesal seperti itu, kamu tahu sendirikan ini bukan permintaan tapi perintah yang harus dilakukan, sekarang kemarilah."

"Ne, oppa." Sahutnya sambil berjalan kearah mejaku setelah membenahi dirinya. Aku langsung memeluknya dan berjongkok mensejajarkan kepalaku dengan perutnya yang agak besar itu.

"Aegy-ah, maafkan appa karena baru bisa menyapamu. Appa tidak tahu kalau kamu sudah hadir didalam perut eomma mu, maafkan appa karena appa sempat menuduhmu, kamu mau maafkan appa kan? Appa sangat menyayangimu." Sapaku pada bayiku dan aku akhiri dengan mencium perutnya sekilas. "Mulai sekarang aku akan mencoba mencintaimu dan aku akan menjaga kalian berdua dan sebaiknya kau juga belajar untuk mencintaiku juga." Tambahku dan segera mengajaknya pulang karena hari ini aku dan dia tidak ada tugas ke rumah sakit hari ini.

—o0o—

~Jaejoong POV~

"Aegy-ah, maafkan appa karena baru bisa menyapamu. Appa tidak tahu kalau kamu sudah hadir didalam perut eomma mu, maafkan appa karena sempat menuduhmu, kamu mau maafkan appa kan? Appa sangat menyayangimu." Sapanya pada bayiku dan dia tiba-tiba mencium perutku sekilas. "Mulai sekarang aku akan mencoba mencintaimu dan aku akan menjaga kalian berdua dan sebaiknya kau juga belajar untuk mencintaiku juga." Tambahnya dan segera mengajakku pulang karena hari ini aku dan dia tidak ada tugas ke rumah sakit hari ini.

Oppa tahukah kamu kalau aku sebenarnya sudah mencintai kamu jauh-jauh hari? Tapi terimakasih kamu telah mau mencoba untuk mencintaiku.

Setelah kebingunganku yang sedari tadi menyeruak dipikiranku kini sudah terlewati, ternyata dia sudah tahu kalau aku hamil jadi dia tadi pergi memastikan tentang kandunganku, tapi kenapa dia curiga? Dari mana dia tahu semuanya? Apa Dongwoon oppa dan Chaerin yang sudah memberitahunya? Gumamku pelan saat di mobil.

Hoeeek. . . Hoeeek. . .

Yunho terbangun saat mendengar suara berisik Jaejoong dikamar mandi. Dengan terpaksa ia bangun untuk melihat keadaan gadis itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Yunho oppa diambang pintu kamar mandi.

Jaejoong membasuh mulutnya kemudian menggeleng pelan. "Duduklah, ku buatkan teh hangat!"

"Gwenchana oppa, oppa tidur saja aku tidak apa-apa. Ini sudah sering aku alami jadi oppa jangan khawatir, mian telah mengganggu tidur oppa."

"Duduklah, aku tidak kerepotan dan ini memang tugasku. Akan kubuatkan teh dulu agar mualmu hilang." Katanya sambil mendudukanku disofa, tak lama kemudian Yunho oppa datang dengan secangkir teh hangat.

"Minumlah. . ." kata Yunho oppa sambil berlutut didepan Jaejoong.

Jaejoong menyesap teh hangat itu kemudian memberikannya lagi pada Yunho oppa. "Masih mual?"
Jaejoong mengangguk pelan, tiba-tiba tangannya membekap mulutnya agar tidak muntah.
"Keringatmu banyak sekali," kata Yunho oppa, kemudian ia meraih tissue di meja samping sofa.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Yunho oppa bingung saat aku mengendus-endus tubuhnya.

"Baumu enak,"

"Yaak kau pikir aku ini makanan?"

"Diamlah!" sahut Jaejoong sambil tetap mengendus-endus tubuh Yunho oppa.

"Apa itu bisa menghilangkan mualmu?"

"Mm. . ." Jaejoong mengangguk, Yunho oppa mendesah pelan kemudian duduk membelakangi Jaejoong.

"Baiklah, kau boleh memelukku. . ."

"Gomawo. . ." seru Jaejoong senang dan langsung memeluk leher Yunho oppa dari belakang dan menghirup aroma tubuh Yunho oppa sementara Yunho oppa mengeluh dalam hati agar jantungnya berdetak tenang.

"Hei, mualmu sudah hilang belum?" tanya Yunho oppa setelah cukup lama "aku pegal seperti ini terus!" keluh Yunho oppa tapi tidak ada jawaban dari gadis itu. Yang terdengar hanyalah suara hembusan nafas yang teratur.

Yunho oppa tersenyum tipis "Dasar bodoh!" Kemudian dilepaskannya pelukan gadis itu pelan-pelan dan menggendongnya kekamar.

—o0o—