~Jaejoong POV~
Setelah dari tempat kerja aku pulang bersama Yunho oppa, kami hanya diam tanpa bicara di mobil tapi keheningan tiba-tiba hilang saat Yunho oppa mengakakku berbicara dulu.
"Kamu kenapa yeobo? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya mungkin dia mendengarkanku.
"Yeo..yeobo?" tanyaku kaget setelah aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yunho oppa.
"Wae? Mulai sekarang dan seterusnya aku akan memanggilmu yeobo. Kamu mau kan? Dan apa yang tadi sedang kamu gumamkan?" tanyanya kembali membuatku sadar dari kekagumanku.
"Eoh .. Ne, oppa aku mau. Aku hanya penasaran dari mana oppa tahu kalau aku sedang hamil." Jawabku pelan dan itu membuatnya terkekeh pelan mendengar ucapanku yang polos.
"Hahaha, semalam waktu dirumah sakit banyak yang ngomongin kenapa perut kamu kelihatan semakin besar dan mereka menanyakannya padaku apa kamu hamil, makanya aku penasaran jadi aku kemarin malam pulang untuk melihatnya dan …"
"MWO! Ke..kemarin malam oppa melihat dan memegang perutku?" tanyaku memotong perkataannya.
"Wae? Apa kau malu? Aku kan suamimu dan aku juga sudah pernah melihat semuanya dan malam itu aku hanya mau memastikannya dan itu benar kan?" sahutnya dan itu langsung membuatku seperti kepiting rebus yang sudah malu dengan kata-katanya barusan. "Neomu yeopo, kamu kelihatan sangat cantik ketika sedang malu seperti kepiting rebus itu.. hahaha." ledeknya.
"Oppa!" teriakku kesal karena dia selalu saja menggodaku. Di perjalanan dia terus mengelus perutku dan saat itu kurasakan nyaman dan bahagia dan entah sejak kapan aku mulai tertidur karena aku baru tahu kalau kami sudah sampai rumah kami.
"Oppa, apa kita sudah sampai?" tanyaku dan dia hanya mengangguk dan tersenyum padaku. "Mianhae oppa aku malah ketiduran."
"Anieo, oppa malah senang kalau kamu istirahat agar aegy yang ada di dalam kandunganmu itu tidak lelah. Kajja kita masuk dan kamu istirahat di kamar." Ajaknya sambil mengandeng tanganku masuk kedalam rumah.
SURPRISEE! Kata mereka serentak saat kami embuka pintu rumah kami dan itu membuat aku dan Yunho oppa kaget, sejak kapan mereka masuk kerumah dan apa ini?
"Eomma, appa, Chunie oppa, Sui-a! Omo! Kalian ada apa kesini?" tanyaku bingung.
"Chukae chagi-ah, eomma senang mendengar tentang kehamilanmu itu, eomma dan appa akan segera menjadi halmoni dan harabeoji." Kata eomma senang tapi tunggu dia tahu dari siapa? Aku melihat Yunho oppa dia hanya menggelengkan kepala tanda bahwa dia tidak memberitahukannya, jangan-jangan .. aku langsung mengalihkan pandanganku pada dua orang itu dan dibalas dengan kekehan kecil dari mereka.
"Gomawoyo eomma, appa, mian aku belu memberitahukannya pada kalian." Kataku meminta maff karena menyembunyikan calon cucunya dari mereka.
"Cheonma, tapi kalau kemarin appamu tidak sengaja mendengar pembicaraan Junsu dengan Yoochun tentang kehamilanmu, apa kamu masih tetap mau menyembunyikannya dari kami?" tanya eomma.
"Anieo eomma, aku bukannya tidak mau memberitahukan pada kalian, hanya saja .."
"Sudahlah eomma, yang penting eomma dan appa sudah tahu kan? Dia belum memberitahukannya karena kondisi kandungannya yang masih lemah sampai sekarang." Potong Yunho oppa membantuku member alasan sambil memelukku.
"Mwo? Kandungannya lemah? Kalau begitu mulai sekarang kamu berhenti dulu bekerja, iya kan appa?" kata eommaku dan aku langsung melihat kearah suamiku agar dia membantuku, aku tidak mau hanya berdiam diri saja di rumah, aku menunjukkan puppy eyesku pada suamiku itu.
"Tadi aku sudah bilang eomma tapi dia tetap memaksa jadi dari pada dia marah dan ngambek dia tetap aku ijinkan bekerja tapi jadwalnya akan aku sesuaikan dengan jadwalku dan dia akan bekerja di ruanganku saja jadi dia masih dalam pengawasanku dan dia juga akan berhenti kalau kandungannya sudah berusia 6 bulan atau jika dia sampai dirawat dia harus segera berhenti." Sahut Yunho dan itu membuatku kaget karena ternyata itu rencana oppa mengijinkan aku tetap bekerja tapi hanya diruangannya? Tapi nggak apa-apalah yang penting dia mengijinkannya.
"Iya, appa setuju dengan kalian tapi ingat chagi, kamu juga harus menjaga kondisi kandunganmu itu." Kata Appa padaku memberikan nasihatnya,
"Ne appa." Sahutku dengan mengumbar senyum
"Ajussi tenang saja, kami akan ikut membantu menjaganya, dan kami tidak akan membiarkannya kenapa-napa dan tidak di dekati oleh residence yang mengejar-ngejarnya." Kata Junsu.
"Mwo?" kata Yunho oppa menatapku meminta jawaban atas perkataan Junsu barusan dan aku hanya bisa meneguk ludah saja.
"Oppa, kamu tahu nggak kalau kemarin ada namja yang menyatakan cinta padanya, ternyata residencenya itu banyak yang menyukainya termasuk residence namjamu oppa." Tambahnya dan itu membuat yang lain tertawa tapi tidak bagi Yunho oppa yang terus melihatku meminta jawabanku.
"Hahaha, kamu sekarang harus berhati-hati nak, istrimu ternyata banyak yang menyukainya apalagi residence yang masih imut-imut itu." Kata Appa tertawa meledek Yunho oppa dan aku rasa tanduk Yunho oppa sudah mulai keluar.
"Tenang saja Appa, tak akan ku biarkan dia didekati namja lain karena dia hanya mencintaiku dan yang berani mendekatinya maka namja itu harus bersiap-siap untuk menghadapiku! Iyakan yeobo?" katanya memasang wajah tenang tapi mematikan sehingga membuatku hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataannya.
Kami melakukan pesta kecil-kecilan untuk menyambut baby yang masih berusia 4 bulan yang ada dikandunganku ini. Aku melihat semua orang merasa senang termasuk Yunho oppa yang dibuktikan dengan terus didekatku dan mengelus perutku dan itu membuatku merasa nyaman bersamanya.
pagi
Hoekk .. hoekk ..hoekk ..
Aku langsung berlari kearah wastafel, entah kenapa aku jadi mual-mual begini padahal dari dulu aku tidak pernah mual sama sekali. Aku merasakan ada tangan yang meijit tengkukku dan menyodorkan segelas air hangat untukku.
"Masih mual?" tanyanya padaku.
"Nggak oppa, udah mendingan kok. Tapi akhir-akhir ini aku sering banget mualnya."
"Gwenchana, itu memang wajar buat ibu hamil seperti kamu, ya sudah sekarang kita kembali kekamar," ajaknya tapi aku hanya diam tak beranjak dari tempatku entah kenapa aku pingin sekali dia menciumku dan menggendongku kekamar kami. "Wae?" tanyanya lagi.
"Anieo oppa," elakku sambil menggelengkan kepalaku tapi dia mulai mendekat dan menatapku penuh pertanyaan.
"Wae? Kalau kamu menginginkan sesuatu katakan jangan di tahan, itu nggak baik untuk uri aegy." Katanya dan aku jadii merasa tkut kalau terjadi sesuatu dengan baby ku.
"Oppa, a.. a.. aku ingin op.. oppa me.. me.. men..ci…um..ku, mengelus perutku da..dan menggendongku kekamar.. Tapi kalau oppa keberatan aku juga nggak apa-apa." Kataku mengungkapkan semua kenginanku.
"Tidak mungkin oppa keberatan melakukan itu yeobo. Tapi kenapa sekarang kamu semakin manja?" tanyanya sabil menciumku dan menggendongku ke tempat tidur.
"Mollayo oppa, mungkin ini keinginan uri aegy." Jawabku dan dia meletakkanku di ranjang dan segera mengelus perutku perlahan dan menciumku berulang-ulang kali meskipun aku mengatakan untuk berhenti dan mualku tiba-tiba hilag begitu saja.
Setelah aku mendapatkan keinginanku itu aku langsung beranjak bangun dari tempat tidurku untuk membuatkan sarapan pagi untuk kami.
"Oppa, sudah bangun? Oppa mandilah dulu setelah itu oppa makan sudah aku siapkan di meja makan," kataku padanya yang sudah bangun dan menghampriku di dapur. Tiba-tiba saja dia memelukku dan mencum tengkukku entah kenapa sejak aku hamil dia selalu melakukan kebiasaan aneh itu. "Oppa, lepaskan dulu, oppa harus berangkat dan aku harus menyelesakan cucianku, setelah itu kita bisa sarapan dan berangkat kerja hari ini." kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya.
"Andwe! Kamu harus istirahat, kamu jangan melakukan pekerjaan itu, aku akan minta eomma untuk memberikan salah satu pembantunya untuk mengurus rumah kita." Katanya membuatku terkejut. Aku tidak setuju dengan usulnya itu.
"Mwo? Anieo oppa, aku nggak mau! Aku mau semua urusan rumah aku yang ngurus, dari memasak, mencuci bahkan membersihkan rumah sekaligus, aku nggak mau semua itu dilakukan pembantu. Aku ini istrimu oppa dan aku akan melakukannya sebisa dan semampuku oppa, aku mohon." Tolakku sambil memberikan penjelasan padanya.
"Tapi, kandunganmu akan semakin besar yeobo, apa kamu tidak kasihan sama uri aegy yang ada di dalam perutmu hah?" tanyanya tapi aku tetap menggeleng tanda tak setuju. "Araseo, tapi nanti kalau terjadi sesuatu kamu harus mematuhi apa yang menjadi keputusanku. Arra?" tanyanya mengambil jalan tengah dan aku mengangguk menyetujui usulnya itu.
Yunho oppa langsung beranjak dari dapur dan pergi kekamar untuk bersiap-siap sedangkan aku kembali melakukan tugasku sebagai istri yang baik. Setelah selesai semua dan sarapan kami langsung berangkat ke rumah sakit karena mulai hari ini aku bekerja sesuai jadwal oppa dan di ruangan oppa. Dulu aku sempat menolaknya tapi Yunho oppa langsung mengancamku dengan tidak diperbolehkannya aku bekeja dan itu pasti sangat menyakitkanku. Sampai diuah sakit kai langsung keruangannya dan segera elihat laporan pasien yang harus diperiksanya pagi ini, selain itu oppa juga ada jadwal untuk pasien yang mau periksa atau hanya sekedar checkup saja. Entah mengapa sejak hamil aku selalu merasa marah ketika nampyeonku itu memeriksa pasiennya padahal itu adalah tugasnya atau mungkin ini Cuma bawaan janin yang diperutku ini. setelah memeriksa medical report dari pasien-pasiennya aku langsung mengikuti oppa untuk memeriksa ereka, sebenarnya dia melarangku ikut karena takut aku kecapaian tapi aku memasang wajah kesal dan akhirnya dia mengijinkanku ikut.
—o0o—
~Yunho POV~
Setelah selesai memeriksa pasienku aku mengajak anaeku untuk makan di luar tapi dia tidak mau dan terpaksa kami hanya memesan makanan yang diantarkan ke ruanganku. Ku lihat dia sangat kelelahan dengan beban yang ada diperutnya, aku sudah melarangnya untuk ikut pemeriksaan keliling tapi apa boleh buat dia merengek ingin ikut dan aku tidak tega melihatnya seperti itu. Sedari tadi aku sadar dia merasa kesal saat aku memeriksa pasien-pasienku meskipun dia tidak bilang padaku dan aku harus ekstra sabar karena ibu hamil seperti dia itu sangat sensitive sekali dan itu yang biasa dikeluhkan oleh hampir semua calon appa. Setelah makanan pesanan kami datang aku memangginya yang sedang berbaring di kasur periksa itu, dia duduk dan membuka makanannya, tapi baru satu suap masuk dia langsung mual-mual dan itu yang membuatku ekstra sabar karena aku harus membujuknya unuk tetap makan walaupun hanya sedikit.
Hoekk ..Hoekk ..Hoekk ..
Dia langsung berlari kearah kamar mandi dan aku menyusulnya dari belakang, aku pijat tengkuknya pelan dan menyodorkan air yang aku bawa tadi.
"Gwenchana?" tanyaku setelah mengembalikan gelas tadi dan mendudukkannya di sofa ruanganku, dia hanya diam dan memandangku dan aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku mencium bibirnya pelan sambil mengelus perut buncitnya itu perlahan, dan hal itu sudah hal yang biasa kami lakukan kalau dia sedang mual atau merasa sakit diperutnya karena setelah aku melakukannya mual atau sakit yang menyerang perutnya biasanya akan menghilang perlahan.
"Oppa, kenapa oppa suka sekali meraba tubuh pasien oppa?"
"Mwo?" tanyaku kaget, ada apa dengannya? Dia perawat seharusnya dia tahu tentang tugasku dan istilah untuk meraba tubuh pasien kurang cocok karena aku melakukannya memang untuk melihat kondisi pasien. "Maksudmu apa yeobo? Aku hanya memeriksa mereka seperti biasa saja tadi dan itu di depan kamu juga kan? Oppa kan tidak mungkin macam-macam." Kataku meyakinkannya
"Jongmalyo? Hanya untuk memeriksa mereka? Apa oppa setiap hari melakukan ini?" katanya merajuk dan itu membuatku kehabisan kata-kata karena dia semakin manja.
"Yeobo, percayalah aku tidak melakukan lebih, aku kan dokter kandungan jadi ini kan memang sudah tugasku." Jawabku dan dia hanya mengangguk lalu mengeratan pelukannya karena dia sepertinya mual lagi.
malam hari
Setelah mandi aku mencari keberadaan Jongie yang dari tadi aku tidak melihatnya, sejak dia selesai mandi aku sudah tidak menemukannya di kamar makanya aku keluar untuk mencarinya. Aku berjalan ke ruang TV tapi tetap tidak menemukannya sampai aku mencium bau harum makanan dan setelah itu aku bisa menebak kemana saja anaeku berada.
"Yeobo-ya, kamu sedang masak apa? Baunya harum sekali." Tanyaku saat mendekatinya di dapur, dia menoleh dan memberikanku senyum.
"Sup Gingseng kesukaanmu oppa," sahutnya dan itu membuatku melihatnya heran, apa dia mau aku serang malam ini? Pikirku. "Wae oppa? Apa oppa tidak suka?" tanyanya membuyarkan pikiranku.
"Anieo, tapi apa kamu mau aku serang malam ini?" godaku dan dia hanya memukul pelan lenganku yang sedari tadi melingkar diperutnya yang buncit.
"Apa oppa tega menyerang wanita yang sedang hamil hmm?" tanyanya balik.
"Wae? Kenapa tidak? Ingat, aku itu dokter kandungan jadi aku tahu kapan dan posisi apa yang tidak berbahaya saat melakukan hubungan dengan pasangannya yang sedang hamil. Bahkan melakukan hubungan saat hamil itu malah bagus apa lagi usia kandunganmu sudah hampir 5 bulan." Godaku dan dia hanya menampakkan keterkejutannya.
"Oppa, apa oppa serius akan menyerangku?" tanyanya polos dan itu membuatku semakin ingin mengerjainya saja tapi aku tak tega melihatnya kebingungan.
"Hahaha, anieo aku tak akan melakukannya tanpa ijinmu tapi lain kali kalau kamu tidak mau di serang tiba-tiba jangan masakan sup gingseng itu, arra?" tanyaku dan dia hanya mengangguk saja dan kembali menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai ku bantu dia untuk menyiapkan semuanya ke meja makan dan aku membantunya duduk untuk akan bersama.
Hoekk ..Hoekk ..Hoekk ...
Seperti biasa saat dia akan makan pasti bawaannya mual da pasti dia tak mau makan lagi karena dia akan muntah lagi.
"Miahae oppa, aku pasti menggaggu selera makanmu malam ini." katanya setelah memuntahkan seua isi perutnya dan aku membantunya berbaring di kasur kami.
"Gwenchana, yang penting itu kamu dan uri aegy, apa kamu masih mual yeobo?" tanyaku dan dia hanya megangguk pelan seperti orang tidak punya tenaga saja dan aku langsung mencium bibirnya dan mengusap pelan perutnya. "Otthokae?"
"Hmm.. sudah lebih baik oppa, mualnya sudah tidak ku rasakan lagi. Gomawo dan mian kalau sudah merepotkan oppa."
"Gwenchanayo, oppa tidak merasa di repotkan, oppa malah berterimakasih karena kamu telah memberikan aegy padaku." Kataku dan langsung mencium bibirnya lagi, tapi ciuan yang aku berikan ini agak lama karena aku sangat merindukannya. Setelah dia tidur aku kembali ke dapur untuk membersihkan semuanya karena aku tak tega dia melakukan semua pekerjaannya sendiri. Setelah selesai semua aku kembali kekamar dan tidur di sampingnya sambil terus mengusap perut buncitnya itu karena kalau tidak dia akan gelisah dalam tidurnya.
Baru beberapa jam aku tertidur aku terbangun karena orang yang selalu tidur di sebelahku tiba-tiba saja tidak ada, aku mencarinya keluar tapi aku juga tidak melihatnya sampai aku mendengar suara rintihan di kamar calon aegyku, aku melangkahkan kakiku kesana dan aku melihat orang yang sedang aku cari meringkuk, mengerang kesakitan di dalam sana.
"Yeobo-ya gwenchana? Eoddi apho?" tanyaku sambil menariknya kedalam pelukanku, aku sangat khawatir melihatnya meringkuk di kamar baby kami.
"Hiks..hiks.. oppa apho .. hiks .. perutku apho .. hiks .. hiks .. uri aegy menendang keras terus oppa, apho, manhi apho," rintihnya masih dengan menangis. Aku langsung menggendongnya dan merebahkannya di kasur dan aku langsung mencium bibirnya agak lama sambil mengelus-elus perutnya dengan harapan agar baby tenang kembali dan tidak menendang keras perut eommanya lagi. Setelah beberapa saat akhirnya istriku itu tidur kembali masih dengan memelukku dan kepalanya ada di dadaku.
~Yunho POV~
pagi 1 bulan kemudian
"Oppa, ireonayo .. ini sudah pagi, apa oppa tidak mau berangkat? Kalau tidak aku akan berangkat sendiri." Ucapnya membuatku langsung bangun dan mengecup pelan bibir merah mudanya itu.
"Morning kiss yeobo," Kataku setelah menciumnya. "Kamu sekarang istirahat saja di rumah, aku tidak mau kejadian yang kemarin-kemarin terulang lagi." Pintaku padanya.
"Oppa tenang saja, itu sudah biasa aku alami oppa. Aku mau berangkat dan aku nggak mau hanya di rumah saja."
"Mwo? Kamu sering mengalaminya dan kamu tidak memberitahuku?"
"Eoh.. a .. an .. anieo oppa .. ak..aku.."
"Awas saja kalau kamu sampai mengulanginya lagi. Aro?" kataku agak tinggi agar dia menurut padaku, dan dia hanya mengangguk dan kembali bersiap-siap. Aku mengelus perutnya seperti biasa yang semakin besar karena usia kandungannya sudah memasuki 5 bulan lebih dan menuju kamar mandi untuk siap-siap dan mandi.
Aku keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh istriku itu dan dia membantuku memakaikan dasi seperti biasa dan kami langsung menuju meja makan untuk makan pagi seperti biasa, karena dia mengharuskanku untuk sarapan terlebih dulu sebelum berangkat kerja atau melakukan aktivitas apapun. Setelah selesai makan kami langsung siap-siap berangkat dan sebelum berangkat aku melihat dandanan anaeku itu terlebih dulu.
"Jangan pakai high heels itu lagi, itu nggak baik untuk kandunganmu. Pakai yang ini saja, igo." Cegahku saat dia siap berangkat dengan memakai high heels itu sambil menyerahkan sepatu flat yang warnanya senada dengan bajunya itu.
"Shireo! Aku mau pakai sepatu ini saja! Shireo! Shiero!" katanya dan langsung pergi meninggalkanku keluar rumah dan menuju ke mobil, aku tahu semenjak dia hamil tingkahnya selalu manja dan sering membuatku kualahan dengan sikapnya itu. Tapi aku tetap bersabar karena dia sedang mengandung darah dagingku, aku hanya pasrah tapi tetap membawa sepatu yang aku sarankan untuknya ke mobil siapa tahu saat dia ku bujuk lagi dia mau menggantinya dengan sepatu yang flat ini. Aku mengunci rumah dan langsung menghampirinya yang sudah ada di dalam mobil.
"Yeobo, ayolah, kamu kan sedang hamil, nggak baik wanita hamil memakai high heels kalau kau jatuh bagaimana?" bujukku dengan sedikit sabar agar dia mau mengganti sepatunya itu, karena jujur saja aku nggak tega melihatnya membawa perut yang sudah buncit itu menggunakan high heels.
"Jadi oppa menyumpahiku jatuh? Oppa jahat! Oppa tega menyumpahiku jatuh!" Omo! Apa yang diucapkannya tadi, aku nggak mungkin menginginkan itu terjadi padanya.
"Mwo! Anieo, siapa yang menyumpahimu jatuh hah? Aku kan hanya mencegah agar tidak terjadi kejadian seperti itu!" kataku agak keras dan kulihat ada wajah sendu terlihat di wajah cantiknya itu, apa aku sudah menyinggungnya? Pikirku. "Mianhae yeobo, bukannya aku ingin membentakmu aku hanya tak habis pikir dengan semua yang kamu tuduhkan barusan padaku. Aku nggak mungkin menyumpahimu jatuh apalagi di situ sedang ada uri aegy yang sedang tumbuh," Kataku sambil menunjuk perut buncitnya yang sedari tadi dia usap. Tapi dia tidak bergeming sama sekali, ada apa dengannya dan kulihat ada peluh diwajahnya. "Yeobo-ya, weire? Apho? Eodi appho?" tanyaku bingung melihatnya seperti itu.
"Oppa, hehh .. hehh .. apho, uri aegy nendang terus." Adunya padaku sambil tetap mengelus perutnya aku langsung mencium bibirnya dan ikut mengelus perutnya yang buncit itu.
"Kita kembali kedalam ne? kita nggak usah berangkat dulu." Bujukku tapi dia menggeleng dan tetap mau berangkat.
"Anieo, kita berangkat saja, sakitnya sudah mulai hilang dan mualnya juga sudah hilang oppa, kita berangkat saja." Katanya meyakinkanku.
"Jongmalyo?" tanyaku masih sedikit ragu dan dia hanya mengangguk saja. Aku langsung menjalankan mobilku kerumah sakit tapi tangan kananku tidak berhenti untuk mengelus perutnya itu, akhir-akhir ini baby memang terlalu aktif menendang eomanya.
"Oppa berhenti!" teriaknya mengejutkanku dan akhirnya aku berhenti dengan wajah shockku untung dibelakang kami tidak ada kendaraan lain. "Oppa, belikan aku ice cream, aku mau yang rasa vanilla yang besar oppa." Katanya sambil menunjuk toko ice cream di sana, aku nggak habis piker dengan nyidamnya itu dia menginginkan hal yang aneh-aneh saja misalnya hari ini dia menginginkan ice cream pada musim dingin seperti ini. "Oppa, ayolah.. aku ingin sekali, kalau oppa tak mau membelikannya aku mau beli sendiri." Katanya langsung melepaskan tanganku dan hendak beranjak keluar mobil tapi tanganku dengan sigap menahan tangannya agar tidak pergi.
"Arraseo, oppa akan membelikannya tapi kamu diam disini saja, arro?" dan dia menganggukk paham, aku keluar dari mobil dan membelikannya ice cream sesuai keinginannya. Aku kembali ke mobil setelah mendapatkan ice cream itu. "Igo, tapi kamu jangan banyak-banyak makannya kamu nanti bisa sakit, ini musim dingin." Kataku sebelum memberikan ice cream itu dan dia menerimanya dengan mata berbinar senang. Dia memakan ice creamnya sangat cepat dan belepotan, aku mengelap sisa ice crea yang berceceran dibagian mulutnya dan kembali mengusap perutnya pelan lagi.
"Gomawo." Katanya senang dan menyuapkan sendok demi sendok ice cream itu kemulutnya.
"Jangan dihabiskan," kataku saat melihatnya menyuapkan ice cream itu ke mulutnya. "Yeobo, berhentilah makan ice cream itu, kamu sudah banyak makan ice cream itu, nanti kamu sakit." Kataku dan mencoba untuk mengambil ice crea itu tapi saat kotak itu sudah ditanganku dia tersenyum jahil aku lihat ke isi kotak itu dan ternyata .. huft isinya kosong dia menghabiskan semua isinya pantas saja dia tidak menolak saat aku memintanya. Dan dia hanya tertawa melihatku kesal dengan ulahnya itu yang susah untuk dibilangi.
Sampai di rumah sakit kami langsung menuju ruanganku dan memeriksa rekam medic pasienku seperti biasa. Setelah selesai kami berkumpul di ruang pertemuan berama dengan semua residence dan disana kulihat banyak residence namja yang memperhatikan istriku dan itu otomatis membuatku kesal.
"Chagi, sepertinya disini ada yang sedang terbakar api." Kata Yoochun hyung yang jelas-jelas sedang menyindirnya itu.
"Ne, lihatkan oppa, Jongie itu banyak sekali yang suka bahkan beberapa bulan yang lalu ada yang menyatakan cintanya pada Jongie." Tambah Junsu yang ikut menimpali calon nampyeonnya itu dan itu membuatku mendengus kesal.
"Jongmalyo? Namja eodi?" tanya Yoochun hyung.
"khoba, beberapa dari namja imut itu oppa, apa oppa tahu kalau Jongie sangat suka dengan namja imut? Dia sangat suka oppa."
"Hmm, aku tahu chagi, dulu sewaktu dia bekerja di bangsalku dia sangat di sukai teman-temanku." Timpalnya membuatku tampak frustasi. Kutatap wajah anaeku yang dikerubungi oleh para residence namja itu dan aku memberikan death glareku padanya tapi dia hanya tersenyum manis. Aigoo! Apa yang harus aku lakukan? Akhirnya aku menyelesaikan pertemuan ini dan segera membawa istriku keluar dari sini.
"Ekhem, yeobo kajja kembali keruanganku, kamu sedang hamil jangan sampai terlalu lelah." Kataku menghampirinya dan memberikan tanganku untuk membantunya bangun, dia hanya cengo sedangkan ada dua kekehan meledek dari kursi sebelah melihat tingkahku itu. Sedangkan residence-residence itu hanya kaget menganga dengan ucapanku barusan, mungkin karena belum tahu kalau aku suami yeoja yang selalu dikaguminya atau karena kehamilannya. Terserah tapi aku tak peduli yang penting aku bisa menghalangi istriku di ambil oleh namja lain. Aku membawanya pergi dari ruangan itu dan kembali keruanganku dan settelah itu Yoochun hyung dan Junsu juga menyusulku.
"Hahahahaha," tawa mereka berdua membuatku kesal. "Kau cemburu?" tanya hyung padaku saat Junsu berhasil mengamit tangan Jongie menuju keruanganku terlebih dahulu.
"Anieo!" elakku cepat.
"Wah padahal yang aku omongkan tadi benar, istrimu itu banyak yang menyukainya bahkan ada namja yang terang-terangan melamarnya dulu." Katanya memanasiku tapi tetap aku hiraukan walaupun sebenarnya aku sudah sangat kesal mendengarnya. "Hahaha, nikmati saja perasaanmu itu, kami kembali dulu " katanya sambil tersenyum padaku dan menjemput Junsu di ruanganku. Aku masuk ruanganku dan melihatnya duduk di sofa ruanganku itu.
"Apa kau lelah?" tanyaku padanya saat melihatnya mengatur nafasnya.
"Apa oppa mau berkeliling sekarang?" tanyanya saat aku membereskan peralatan yang akan aku bawa untuk memeriksa pasien-pasienku itu, aku menghampirinya, mengecup bibirnya dan mengelus perutnya lagi.
"Wae?" tanyaku bingung. "Apa uri aegy menendang kasar lagi?" tanyaku memastikan.
"Hm, tadi dia menendangku saat hendak duduk, tapi sekarang sudah tidak kerasa lagi."
"Aegy-ah, ini appa, kamu sehat-sehatlah di dalam perut eommamu, jangan nakal dan membuat eommamu kesakitan. Appa akan selalu menjagamu dan eommamu, cepatlah keluar dan menjadi jagoan kebanggaan appa dan eomma, appa akan menunggumu keluar, Saranghae Aegy-ah." Kataku sambil terus mengusap perut buncitnya itu dan dia hanya membalasku dengan senyuman.
"Oppa, aku tidak ikut oppa keliling ya? Aku di sini saja, aku nggak kuat jalan lagi," rengeknya dan itu membuatku tidak tega meninggalkannya sendirian disini.
"Apa mau oppa temani yeobo?" tanyaku cemas dan dia menggeleng cepat menolakku untuk menenmaninya.
"Anieo oppa, aku istirahat saja di sini, oppa periksalah pasien oppa, aku nggak apa-apa." Katanya pelan dan ku bantu dia berbaring ke tempat tidur yang di sebelah meja agar dia beristirahat selama aku memeriksa pasien, aku menciumnya lagi dan meninggalkannya di ruanganku dan menutup tirai penyekat itu. Aku ke ruang jaga perawat dan memberitahu perawat itu untuk tidak membiarkan orang masuk keruanganku sebelum aku kembali karena aku ingin istriku tidak terganggu istirahatnya dan mereka paham akan semua itu.
—o0o—
