~Jaejoong POV~
Aku hari ini hanya berada diruangan nampyeonku saja entah mengapa aku sangat malas untuk memeriksa pasienku, jadi aku bilang padanya untuk tidak ikut dan dia mengijinkanku tapi sekarang aku malah bosan sendirian saja di sini dan aku tiba-tiba merindukan oppa dan ingin segera memeluknya. Aku bingung kenapa akhir-akhir ini aku begitu manja dengannya sampai aku kesal kalau ditinggalnya meski hanya satu jam tidak seperti biasanya, atau mungkin ini bawaan baby yang didalam kandunganku saja aku juga tidak tahu tapi itu yang aku rasakan saat ini. karena bosan di ruangan ini sendirian akhirnya ku putuskan untuk mencari nampyeonku yang sedang memeriksa pasien akarena aku ingin segera memeluknya dan bermanja-manja dengannya saat ini juga.
Aku berkeliling rumah sakit mencari nampyeonku tapi langkahku terhenti saat penasaran apa yang sedang dilihat orang-orang tersebut. Ternyata aku melihat seorang wanita yang sedang diatap rumah sakit sedang mencoba untuk bunuh diri, tapi tunggu aku seperti mengenal orang itu. OMO! Itu Boa! Apa yang terjadi? Kenapa dia ada diatas? Apa yang dilakukannya? Karena penasaran aku berlari ke atas tanpa memperdulikan teriakan Junsu dan yang lainnya yang mengingatkanku untuk tidak berlari karena aku sedang hamil, tapi aku tak peduli karena aku penasaran, aku takut jika itu ada hubungannya dengan Yunho oppa. Aku langsung menyusulnya dan aku sadar Junsu terus berada di belakangku ikut mengejarku, sampai diatas aku melihat Yoochun oppa dan Yunho oppa yang sedang berdiri disana, Yunho oppa sedang mencoba untuk berbicara dengannya, dan aku tidak berani untuk masuk keatap itu aku hanya berdiri di depan pintu itu sambil memegangi perut buncitku yang agak sakit mungkin karena berlari dan disampingku sudah ada Junsu. Aku sengaja memperhatikan mereka dari sini dan Yoochun oppa sadar dengan kehadiranku dan hendak menghampiriku tapi aku memberikan isyarat untuk tetap diam disana jangan sampai ada yang sadar kalau aku ada di sini sekarang. Aku mendengar apa yang mereka sedang bicarakan, Boa yang menangispun aku mendengarnya walaupun aku merasa sakit tapi aku harus tetap tahu apa yang seharusnya terjadi saat ini.
"Oppa, jebal.. jangan tinggal kan aku, aku sangat mencintaimu oppa. Oppa sudah berjanji untuk bersamaku selamanya tapi kenapa oppa mengingkarinya?" tanyanya pada Yunho oppa dan itu membuatku sakit dan ingin meneteskan air mata. Junsu mengeratkan pelukannya padaku agar aku tetap tenang.
"Mianhae Boa-ssi,oppa tidak bermaksud melakukan ini, tapi oppa .."
"Oppa, gotjimal! Oppa jelas-jelas masih mencintaiku kan? Kenapa oppa ingin berpisah? Kalau masalah aegy yang dikandungnya, aku sudah pernah bilang kalau aku akan menerimanya dan aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri jadi oppa tidak perlu berpisah denganku!" kata Boa dan itu membuatku benar-benar sakit dan tidak kuat untuk menahan tangis ini lagi, Yoochun oppa mengalihkan tatapannya padaku yang terus dipeluk Junsu yang entah kapan dia sudah ikut menangis denganku. "Kalau oppa masih tetap ingin meninggalkanku lebih baik aku mati!"
"Boa! Oppa minta kamu jangan melakukan hal seperti itu! Apa kau tahu banyak orang yang ingin hidup tapi kau malah ingin mati HAH!" bentak Yunho oppa. "Jujur, oppa memang masih mencintaimu tapi oppa sekarang lebih mencintai istri dan anak oppa, jadi kamu mengertilah dengan ini semua. Masih banyak namja diluar sana yang akan mencintaimu dengan sangat besar jadi oppa minta kamu mengerti." Katanya lagi.
"Andwee! I just love you oppa, I can't love with other man, I just love you and you must now it!" teriaknya lagi. "Oppa! Oppa tahukan kenapa aku bisa sembuh dari penyakit sialan itu? Aku bertahan untuk sembuh karena oppa, hanya oppa apa itu kurang? Oppa hanya kasihan kan sama yeoja sialan itu yang sedang hamil makanya oppa tidak mau meninggalkannya yang sedang hamil anak oppa kan? " tanyanya lagi. Aku semakin kalut kebenaran apa lagi ini aku sudah tidak kuat aku menghapus air mataku dan mencoba berdiri dan menghampiri mereka dan tatapan Yoochun oppa beralih padaku yang mencoba untuk berdiri dan menghampiri mereka.
"Oppa, Geumenhae," kataku menengahi mereka semua dan sontak mereka langsung melihat kearahku semua. Tatapan Yunho oppa dan Boa langsung kearahku. "Oppa, sebaiknya oppa kembali ke Boa saja, aku tahu oppa masih menyukai Boa dan kalian masih saling mencintai satu sama lain sampai saat ini, di sini aku hanya sebagai pihak ketiga diantara hubungan kalian. Aku tidak keberatan kalau oppa mau kembali dengannya." Kataku pelan dan Yunho oppa langsung mendekatiku dengan wajah yang mengisyaratkan rasa kesal dan marah atas ucapanku barusan.
"Shireo! Yak Jung Jaejoong, apa yang barusan kau katakan hah? Jangan pernah berharap seperti itu karena aku tak akan melepaskanmu!" katanya di depan wajahku.
"Kau, wanita murahan! Berani-beraninya kau merusak hubunganku dengan Yunho oppa, sejak kehadiranmu Yunho oppa sudah berubah terhadapku! You really a bitch!" katanya meneriaki dan menghinaku. Tiba-tiba Boa datang menghampiriku dengan wajah murkanya dan dia langsung mendorongku sampai jatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhku. Aku jatuh terpental kebelakang dan kurasakan nyeri yang sangat dibagian perutku.
Akhhh .. akhh .. akhhh ..
"Yeobo-ya gwenchana?" tanyanya padaku dan aku hanya meringis kesakitan di bagian perutku dan setelah itu aku tidak melihat bahkan mendengar apapun lagi.
Aku merasakan nyeri dibagian kepala dan perutku, aku berusaha untuk membuka mata dan bangun dari tempat tidurku, kulihat Yunho oppa ada di sebelahku menungguku. Apa kau lelah oppa? Batinku saat melihat wajah kusutnya itu. Ku usap pucuk kepalanya dan dia menggeliat pelan.
"Yeobo, kau sudah bangun? Apa ada yang sakit eum? Malhebwa." Tanyanya panic.
"Anieo oppa, nan gwanchana, apa oppa menungguku? Kenapa oppa tidak pulang? Oppa pasti kelelahan menjagaku terus." Kataku sambil mengeratkan pelukan kami.
"Bagaimana aku bisa pulang ketika istri dan anakku terbaring di rumah sakit karena kesalahanku? Mianhae yeobo, ini semua salahku seharusnya aku tak berhubungan lagi dengan Boa ketika aku sudah menikahimu." Sahutnya dan aku merasakan ada air yang menetes dan ku lihat ternyata itu adalah air mata. Omo! Oppa menangis.
"Oppa, kau menangis? Ini bukan salah oppa jadi jangan merasa bersalah, arra?" kataku agar dia tenang.
"Semenjak aku SD sampai sekarang baru kali ini aku menangis dan itu semua karenamu," Katanya dan aku hanya tertawa mendengar jawaban darinya itu. "Wae? Kenapa tertawa? Ini tidak lucu Jung Jaejoong." Katanya memasang wajah cemberut dan aku langsung mengecup bibirnya itu dan dia alah tidak melepaskan ciumannya itu.
"Oppa, kamu tak malu pada uri aegy karena menangis? Cengeng sekali kau oppa.. hahaha" ledekku dan dia hanya diam, omo apa dia marah? Pikirku.
Awwww .. akhh.. akhh ..
"Waegurae? Eodi apho?" tanyanya cemas dan itu membuatku mendapatkan ide untuk mengerjainya sekarang.
"Oppa, uri aegy menendang terus .. apho oppa manhi apho.. " aduku padanya dan dia langsung mencium bibirku sambil mengelus perutku seperti biasanya.
"Aegi-ah, apa kau marah pada appa? Appa mianhae ne? jangan marah lagi sama appa ne? appa sayang sama kamu dan eomma, appa janji tak akan menyakiti eomma dan kamu lagi jadi kamu jangan menendang-nendang perut eomma lagi ne?" katanya didepan peutku sambil mengelusnya pelan, aku sangat bahagia saat seperti ini.
"Ne appa, aegy akan baik-baik saja di perut eomma." Kataku menirukan suara khas anak kecil.
"Oppa, ayo pulang. Kenapa kita masih disini? Aku bosan di sini terus oppa, aku kangen rumah .. " tanyaku padanya saat dia kembali menghadapku kembali.
"Shireo! Kamu tidak aku ijinkan pulang sebelum kamu sembuh total dan aku tidak mau dimarahi eomma lagi karena hal ini!" tolaknya mentah-mentah.
"Mwo? Eomma marah sama oppa? Kenapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu alasannya.
"Wae? Apa kau senang aku dimarahin eomma? Eomma tahu kalau kamu masuk rumah sakit jadi dia marah-marah karena aku tidak bisa menjagamu. Wae? Jangan tertawa." Katanya pura-pura ngambek.
"Tapi aku ingin pulang sekarang oppa? Ayolah my honey, my nampyeonku, yeobo, ya ya ya?" rayuku tapi tetap aja dia menolak keinginanku itu.
"Shireo! Apa kau mau nampyeonmu yang tampan ini akan dimarahi eomma lagi huh? Kamu tidak kasihan sama aku?"
"Huft, arraseo oppa tapi ajak aku jalan-jalan sekarang, aku bosan disini terus eoh?" pintaku.
"Baiklah, kajja." Ajaknya dan mengabil kursi roda untuk aku naiki tapi aku langsung menahan tangannya saat mau mengambil kursi roda itu.
"Wae? Katanya mau jalan-jalan tapi kenapa menarik tanganku eoh?" tanyanya bingung.
"Oppa, aku mau gendong aja ya?" pintaku.
"Mwo? Kenapa kau tiba-tiba minta gendong?"
"Jadi oppa tak mau? Ya sudah aku minta tolong residence ku aja pasti banyak yang mau menemaniku jalan." Ancamku dan ku yakin ini berhasil karena dia sangat cemburu dengan residence tingkat 2 itu hahaha batinku.
"Andwee! Kajja, kalau bukan karena uri aegi dan ancamanmu pasti langsung aku tinggal disini kamu." Katanya dan itu membuatku semakin ingin tertawa.
—o0o—
~Yunho POV~
taman RS
"Jja, kita duduk di sini yah?" kataku sambil mendudukannya di salah satu bangku taman rumah sakit ini.
"Oppa." Panggilnya saat kami sedang duduk santai dan aku menoleh padanya. "Oppa, poppo" katanya manja, tidak biasanya dia minta di cium dulan tapi aku alah senang dan sku segera menyambar bibir mungilnya itu.
"Oppa, apa oppa masih mencintai Boa?" tanyanya dan itu membuatku semakin bersalah padanya.
"Apa oppa boleh jujur yeobo?" tanyaku padanya dan dia hanya mengangguk. "Jujur oppa masih mencintainya tapi itu hanya sisa dari cinta yang dulu, mulai saat ini sampai kita tidak di dunia sekalipun cinta oppa hanya untukmu dan uri aegy kita arra?" sahutku dan dia hanya tersenyum malu mendengar jawabanku tadi.
"Gomawo oppa, neomu saranghae oppa." Sahutnya sambil memelukku tiba-tiba.
"Nado saranghae yeobo," sahutku juga. "Changkamanyo? Siapa residence yang berani-beraninya menyatakan cinta pada istriku? Hah?" tanyaku penasaran dan dia mendadak gelagapan mendengar pertanyaanku.
"Eoh.. i.. itu.. akhh tidak penting oppa. Oppa aku mau ice cream itu yang rasa vanilla oppa biliin ya?" rayunya menghindari pertanyyanku.
"Yakk Jung Jaejoong neo! Jawab pertanyaanku dulu!" kataku di buat kesal dengan tingkahnya itu.
"Oppa tapi aku sangat ingin ice cream itu sekarang, ayolah oppa," rengeknya manja. "Kalau oppa tidak mau membelikannya sekarang aku tak mau oppa menyentuhku lagi mulai saat ini sampai kapanpun meskipun uri aegi udah lahir!" katanya lagi mulai mengambek.
"Arraseo, oppa akan belikan ice cream itu sekarang tapi kamu harus janji pada oppa kalau kau sudah pulang kau harus memanjakanku, otthe?" tanyaku mencoba bernegosiasi dengannya dan dia menyanggupinya.
Aku membeli ice cream rasa vanilla yang di pesannya itu dan aku membawakannya kesana tapi tiba-tiba dia menolak karena ingin rasa yang lain dan ini sudah ke 5 kalinya dia berganti rasa sehingga membuatku kesal, akhirnya aku putuskan untuk membeli ice cream dengan berbeda rasa dan mebawa kehadapannya.
"Igo," kataku sambil menyerahkan ice creanya itu dan dia hanya menatapku kaget. "Wae? Apa kau mau rasa lain yeobo? Semua rasa yang ada disana sudah di sini semua, kajja makan." Kataku agak menahan kesal tapi dia hanya dia saja.
"Oppa michoseo! Oppa membeli semuanya? Buat apa oppa? Aku sudah tidak mau lagi, oppa makan saja." Katanya tanpa rasa bersalah.
"MWO! Yakk Jung Jaejoong! Apa maumu sebenarnya hah?" tanyaku dengan agak meninggikan suaraku.
"Hiks..hiks.. mianhae oppa, aku juga tidak tahu kenapa aku seperti itu, aku hanya tidak bisa menahan keinginanku saja oppa." Katanya dalam isakan tangisnya.
"Oppa mianhae ne, oppa tak bermaksud memarahimu, oppa hanya heran saja dengan tingkahmu yang manja akhir-akhir ini, mianhae ne? kajja sekarang kita kembali kekamar, tidak baik terlalu lama di luar kasihan uri aegi kita." Kataku dan menggendongnya sambil membawa semua ice cream itu kekamar rawatnya lagi.
Sampai di kamar rawatnya aku kaget karena disana sudah berkumpul beberapa orang dengan wajah khawatirnya. Oh matjha, kami lupa membawa ponsel kami dan mereka pasti kebingungan mencari kami. Aku langsung membaringkan Jongie dikasurnya dan ice cream itu sudah dibawakan oleh Junsu saat aku mau membaringkan anaeku itu ke kasur.
"Bisa kalian jelaskan dari mana saja kalian?" tanya eommaku pada kami.
"Mianhae eomma, kami dari taman di bawah, Jongie bosan dan dia minta di temani ke taman jadi aku membawanya jalan-jalan ke taman lalu kalau soal ponselnya kami juga lupa untuk membawanya hehehe." Jawabku pelan.
"Mwoya ige?" tanya Junsu menunjuk ice cream yang di bawanya tadi.
"Huft! Itu ulah Jongie katanya mau ice cream tapi nyatanya tidak ada yang dimakannya sama sekali padahal aku sudah mondar-mandir membelinya." Keluhku pada mereka tapi aku langsung merasakan ada yang menjitakku.
"Apho appa," kataku pada orang yang hobi sekali menjitakku itu.
"Yakk! Kau jangan banyak mengeluh, dia sedang mengandung anakmu arro?" kata appaku tegas dan aku hanya menunduk sedangkan yang lain senang sekali melihatku di marahi mereka semua terkekeh termasuk Jongie yang sangat puas melihatku dimarahi.
"Hahaha, kau hebat nak. Kau mengerjai appamu sampai segini padahal kamu belum lahir, kami mendukungmu nak." Kata Yoochun hyung sambil tertawa puas.
"Ne samcheon, naneun neomu joha,"anya sambil menirukan gaya anak-anak dan mereka semua tertawa tapi tidak beberapa lama tiba-tiba Jongie bangun dari tempatnya dan berlari kearah wastafel dan dia muntah lagi seperti biasanya. Aku menghapirinya dan memijit tengkukknya pelan setelah dia berkumur aku berikan air hangat yang diambilkan eomma tadi dan meletakkanya di wastafel.
"Apa masih mual?" tanyaku dan dia hanya mengangguk dan seketika dia mencengkram kuat lenganku yang menahan bobotnya itu. "Apho? Eodi apho?" tanyaku dan dia hanya menenggelamkan wajahnya di dadaku sambil terus meremas tanganku yang ada diperutnya untuk menahan sakit, aku menggendong dan merebahkannya di tempat tidurnya. Aku langsung melakukan kebiasaanku saat dia mengalami rasa ini, aku mencium bibirnya agak lama sambil mengelus pelan. Tapi-tiba-tiba eomma memukul kepalaku keras karena ulahku.
"Wae? Kenapa eomma memukulku?" Tanyaku setelah melepaskan ciumanku dan masih tetap mengelus perutnya.
"Dasar kau! Kenapa kau menciumnya disaat dia kesakitan eoh?" tanyanya sarkatis pada ku dan aku memang belum memberitahu mereka kalau Jongie seperti ini biasanya dengan itu aku menenagkannya. Dan kini eomma semakin memukuliku.
"Yakk! Eomma hentikan, nanti akan aku jelaskan setelah ini." kataku kesal karena seharian ini aku sudah beberapa kali di jitaknya. Aku langsung beralih kepandangan Jongie yang masih mencengkram kuat lenganku.
"Apa perlu appa ambilkan obat untuknya?" tanya appaku khawatir.
"Anieo appa, dia tidak perlu obat, dia hanya mengalami kontraksi yang berlebihan saja karena baby sangat aktif sekali di perutnya." Jawabku membuat semuanya agar tidak cemas.
Setelah setengah jam cengkraman Jongie mengendur dan kulihat dia tidak merintih sakit lagi tapi tetap saja aku terus mengelus perutnya itu.
"Apa sudah tidak mual? Tidak sakit lagi?" tanyaku memastikan dan dia mengangguk saja karena aku yakin dia kelelahan setelah rasa sakit itu menyerangnya.
"Yakk bocah! Sekarang jelaskan tadi apa yang kau lakukan!" kata eommaku masih saja membahas yang tadi.
"Huft! Eomma dan kalian semua yang ada disini dengarkan aku baik-baik. Aku menciumnya tadi untuk mengalihkan rasa sakit dan mualnya, setiap dia mual dan sakit menyerang perutnya dia pasti merengek minta cium padaku. Apa kalian paham?" jelasku masih sambil mengusap perut buncit istriku itu.
"Apa benar yang dikatakan bocah itu chagi?" tanya eommaku masih tidak percaya dan Jongie hanya mengangguk membenarkan semua ucapanku masid di dalam dekapanku karena dia masih enggan melepaskannya.
"Aigoo! Kalian romantic sekali," cletuk Yoochun hyung membuat Jongie semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidangku.
"Pantas saja kau cepat hamil Jongie-ah." Tambah Junsu dan Jongie hanya tersenyum simpul.
Setelah semuanya pulang aku membenahi posisi tidur Jongie agar nyaman karena dia masih enggan untuk melepaskan pelukannya. Aku langsung menatap ke bawah kearah perut buncitnya itu.
"Aegi-ah, apa kau merindukan appa eum? Apa kau ingin bermain dan bermanja-manja sama appa? Kalau kamu mau melakukannya tunggu kamu lahir dulu aegi-ah nanti appa akan mengajakmu jalan-jalan dan menemanimu kemanapun kamu inginkan tapi selama masih di perut eomma kamu jangan nakal ne? kasihan eomma kalau seperti tadi terus? Arro? Kau kan jagoan appa." Kataku sambil mengelus perut buncitnya dan menciumnya.
"Oppa, aku ingin jalan-jalan."
"Hmmm.. kalau sudah pulih oppa akan mengajakmu jalan-jalan, otthae?" kataku dan dia menjawab dengan anggukan kepala dan senyumannya.
—o0o—
TBC~
