~JaejoongPOV~
Sudah hampir seminggu aku di rumah sakit dan tidak melakukan apa-apa, aku sangat bosan sekali disini dan sekarang nampyeonku itu sedang memeriksa keliling pasienya setelah itu dia ada pertemuan dengan residence kami dan kemungkinan dia baru menemaniku lagi di sini waktu makan siang atau ketika istirahat. Huft! Menyebalkan sekali dan kenapa aku sangat merindukannya dan ingin sekali di manjanya. "Ahh mending aku pergi melhat-lihat pasien dulu mumpung Yunho oppa tidak ada" gumamku sendiri dan segera mengganti baju pasienku dengan paju kerjaku yang untung saja belum di bawa pulang olehnya. Setelah selesai aku keluarr ruanganku dan menuju ruang jaga di sana.
"Jaejoong nuna, pagi " sapa salah satu residence ku.
"Pagi Jongjin-ah, bagaimana? Apa kau sudah memeriksa pasien hari ini?"
"Ne nuna, tapi ini ada pasien yang baru saja melahirkan tapi anaknya meninggal dan kondisi ibunya saat ini sangat depresi, kami bingung menanganinya karena ibu itu marah-marah dan terus menyalahkan kami karena tidak memberikan persetujuannya padahal kami sudah memberikannya, sekarang saya mau kesana untuk melihatkan bukti ini kepada ibu itu dan keluarganya."
"Sekarang keluarganya dimana? Akan nuna temani kalian menjelaskan, panggil temanmu sekarang." Dia mengangguk dan segera memanggil temannya setelah itu kai pergi menemui keluarga pasien di ruangannya.
"Itu nuna keluarganya," kata Jongjin
"Eonni, apa harus kita? Aku takut eonni, keluarganya itu galak sekali." Adu Sora padaku dan aku langsung memberinya senyuman.
"Gwenchanayo, ini tugas kita, mereka seperti itu karena belum bisa terima dengan kehilangannya dan tugas itu untuk memberikan dukungan pada keluarganya terutama ibu itu agar bisa menerima dan bisa tetap semangat menjalani hidupnya." Jelasku pada ke dua residenceku itu.
"Ne eonni/nuna." Kata mereka bebarengan.
"Joesonghabnida, eotteohge dangsin-eul doul su issneunga? Naega Jaejoong imnida, saya kepala perawat bangsal ini." Kataku sambil mengenalkan diri pada keluarga pasien yang ada di luar ruangan itu dan kulihat kedua residenceku itu agak takut.
"Ah kebetulan kalau begitu! Anda sebagai kepala perawat di sini kenapa tidak bisa mengajarkan hal yang baik pada anggota anda, apa anda tahu anggota anda itu melakukan tindakan tanpa persetujuan kami sampai keponakan saya meninggal dan sepupu saya setres?"
"Maaf, tapi kami sudah meminta persetujuan dari salah satu keluarga anda, kami juga mempunyai lembar persetujuannya, jika anda masih tidak percaya. Kondisi sepupu anda saat itu sedang dalam kondisi kritis dan harus segera dilakukan tindakan dan kami minta persetujuan dari keluarga pasien dan kemarin suami dari pasien menandatangani surat persetujuan itu." Jelasku penuh sabar.
"Mwo? Suami? Yak agashi, dia itu sudah bercerai dengan suaminya jadi tidak mungkin dia menandatanganinya, pasti kalian sedang mengada-ada dengan keadaan ini."
"Annimida tuan, kalau anda tidak percaya akan saya berikan buktinya saat ini juga jadi anda bisa percaya," kataku dan langsung mencarikan bukti itu tapi tiba-tiba ada yang mendorongku keras sampai aku mebentur dinding belakangku dan saat aku mau berdiri ada yang membantuku untuk berdiri dan aku kenal tangan itu milik siapa. Yunho oppa, Omo! Dia melihatku bekerja dan kurasakan tatapannya sangat tajam dan penuh kekesalan, itu pasti karena aku sudah melanggar perintahnya agar tidak bekerja lagi. Aku berdiri dan saat itu juga aku melihat sosok pemilik rumah sakit dibelakangnya bersama Junsu dan Yoochun oppa. "Appa." Gumamku pelan dan nyaris tak terdengar dan aku yakin sekarang habislah riwayatku ditangan nampyeonku itu.
—o0o—
~Yunho POV~
Sehabis memeriksa pasien aku langsung keruangan appa karena ada yang harus dibicarakan tentang pasien yang akan dipindahkan ke rumah sakit ini dan kami membahasnya di ruangan appa bersama Yoochun hyung dan juga Junsu. Saat rapat aku meminta appa untuk tidak lama agar aku bisa melihat kondisi anaeku di ruangan inapnya.
"Appa, aku pergi keruangan Jongie dulu ya? Aku nggak tenang melihatnya sendirian di sana, aku takut kalau dia kesepian dan pergi tanpa bilang-bilang."
"Appa juga mau melihat menantuku, kalian mau ikut tidak?" tanya appaku pada Yoochun hyung sama Junsu dan mereka hanya mengangguk setuju. "Kajja." Timpalnya.
Kami berjalan kearah ruangan Jaejoong tapi sampai di ruang perawat aku melihat ereka sedang mencari sesuatu sampai tergesa-gesa. Junsu yang melihatnya langsung turun tangan dan kami hanya melihatnya sebentar.
"Ada apa ini? kenapa kalian panic sekali? Apa ada masalah?" tanya Junsu pada residence yang sedang berjaga di sana.
"Junsu eonni, kami sedang mencari bukti yang dibutuhkan oleh Jaejoong eonni pada keluarga pasien yang kemarin anaknya meninggal itu."
"Mwo? Pasien Ny. Jiyeon? Haizt, kenapa kalian biarkan dia yang menanganinya? Kalian tahukan kalau Jaejoong masih dalam pemulihan?" kata Junsu kesal pada residencenya itu dan sempat aku dengar nama Jaejoong di sebut dan itu membuatku semakin khawatir dan aku putuskan untuk mendekati mereka.
"Wae?" tanyaku pada Junsu.
"Sepertinya Jaejoong menangani kasus wanita yang habis kehilangan bayinya kemarin. Wanita itu sangat temperamental, kalau terjadi sesuatu bagaimana? Jaejoong kan masih dalam masa pemulihan oppa." Katanya dan itu membuatku marah karena istriku sendiri melanggar kata-kataku agar tidak bekerja terlebih dahulu.
"Dengan siapa dia kesana?" tanyaku pada perawat itu.
"Mana Inform concernt nya yang asli?" timpal Junsu dan residence itu memberikannya langsung pada Junsu.
"Jaejoong eonni bersama dengan Jongjin oppa dan Sora." Katanya dan kami langsung pergi ke ruangan itu, sampai disana aku melihat Jaejoong yang sedang mencoba untuk menjelaskan semuanya tapi tiba-tiba wanita yang namanya Jiyeon itu mendorong Jaejoong sampai membentur dinding belakangnya, dia mencoba bangun sambil memegang perutnya sedangkan 2 residence itu masih menahan wanita itu agar tidak berbuat lebih sedangkan keluarganya masih tampak memahami isi dari surat persetujuan itu. Aku sudah frustasi melihatnya seperti ini dan aku menghampirinya dan di susul oleh Appa dan yang lainnya di belakangku. Aku langsung memberikan tanganku untuk membantunya berdiri dan sepertinya dia kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba dihadapannya. Aku langsung membantunya berdiri dan menatapnya tajam dan dia hanya menundukkan wajahnya.
"Aku akan membawanya kembali keruangan, apa kau bisa menanganinya Junsu?" tanyaku pada Junsu dan dia hanya mengangguk karena mungkin juga masih shock dengan ucapan ku barusan.
"Oppa," rajuknya tapi aku langsung menatapnya tajam dan dia langsung diam.
"Kamu bawa saja Jaejoong kembali kekamarnya di sini biar appa, Junsu dan Yoochun yang menyelesaikannya." Kata appa sambil tersenyum kepada kami dan aku hanya mengangguk dan langsung membawanya kekamarnya.
Aku membantunya berbaring setelah dia ganti pakaiannya, aku masih menatapnya kesal dengan ulahhya yang berani menentang laranganku itu. Dia terus saja menatapku dengan takut-takut karena aku masih menatapnya dengan tajam tanpa bicara sedikitpun, aku masih duduk di sofa sambil memainkan hpku yang ntah apa yang aku lakukan dengan hpku itu.
"Op..oppa," panggilnya padaku dan aku hanya melihatnya sekilas. "Oppa, mianhae. A.. aku tadi hanya merasa bosan sendiri jadi aku membantu mereka." Jelasnya.
"Oppa," panggilnya lagi padaku dengan suara yang sedikit lemah dan dia menyingkirkan selimutnya hendak turun menghampiriku.
"Jangan turun dari sana." Kataku masih dingin dan segera menghampirinya, dia hanya menurut dan naik kembali ke kasurnya, aku menarik kursi dan mendekatinya untuk duduk disebelahnya.
"Mianhae oppa, apa oppa marah?" tanyanya padaku.
"Yakk! Apa tadi aku mengijinkanmu keluar? Apa aku mengijinkanmu bekerja? Hah? Apa kamu tidak bisa menahan keinginanmu sementara waktu sampai kamu pulih benar? Apa kamu mau membunuh uri aegy?" kataku kesal dan membentaknya keras, aku memang tidak bermaksud seperti itu tapi emosiku sudah tidak bisa di tahan kali ini, kulihat dia hanya menunduk dan tangannya mencengkram kuat selimut itu. Dia hanya diam tak mampu menjawabku dan itu mungkin karena bentakanku tadi. "Kau itu sedang hamil.. HAMIL Jaejoong-a, apa kau tidak bisa sedikit saja diam di sini dan menuruti semua yang ku katakan HAH! Pikirkan itu semua, aku harus kembali memeriksa pasien. Jangan membuatku kerepotan lagi dengan ulahmu yang serampangan itu!" Kataku ketus dan langsung meninggalkannya di rungan ini sendiri karena aku baru saja mendapatkan emergency call.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Aku takut melihat Yunho oppa yang marah, dia membentakku dan menyalahkanku dengan kejadian tadi. Aku tahu memang aku yang salah tapi apa dia harus marah seperti itu sama aku, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan janinku tapi aku hanya ingin membantu recidenceku menanganinya. Aku juga merasa bosan di sini, aku tidak boleh pulang, apa aku harus selalu disini sendiri? Pikirku. Aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi dan aku sudah mengecewakan Yunho oppa, pasti dia marah dan tidak mau melihatku lagi. Buktinya ini sudah jam 10 malam tapi oppa tak menemuiku juga padahal setiap hari oppa pasti akan datang menemuiku sebelum jam 8 meskipun dia ada tugas lagi dan ini tidak. Dari pada aku kesepian aku mending pulang saja kerumahku, batinku.
"Akhh.." kurasakan nyeri lagi saat berdiri tapi aku harus bisa menahannya, aku membereskan semua bajuku dan segera berganti baju karena aku yakin oppa juga tidak akan datang. Aku berjalan ke luar rumah sakit dengan tertatih-tatih karena rasa sakit yang masih kurasakan sampai saat ini. aku tahu sakit ini pasti susah untuk hilang karena tidak ada Yunho oppa yang melakukan kebiasaannya itu. Sampai di luar rumah sakit aku langsung menghentikan salah satu taksi dan menaiki taksi itu untuk mengantarkanku ke rumahku bukan rumah kami. Sampai di rumahku aku masuk dan berbaring sebentar karena nyeri itu masih sangat kurasakan, ponselpun sengaja aku matikan dari tadi, password appartemnetpun sudah aku ganti dan lampu-lampu apartementkupun sengaja tidak aku nyalakan dan sampai sekarang aku masih belum siap bertemu dengan Yunho oppa. Badanku benar-benar lemas susah untuk digerakkan, nyeri di perutkupun semakin keras dan aku hanya menangis merasakan nyeri hebat itu.
Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur, aku mendengar ada yang mengetuk-ngetuk pintu tapi aku tak hiraukan karna ku yakin itu pasti Yunho oppa, aku berharap setelah ini dia tidak mencariku lagi untuk seentara waktu. Aku merasakan mual-mual dan aku bahkan susah untuk berdiri, aku benar-benar sudah tidak kuat lagi dan akhirnya aku putuskan untuk minum obat tidur saja hanya untuk melem ini saja pasti tidak apa-apa.
pagi
Aku bangun jam 8 pagi dan itu semua pasti karena pengaruh obat tidur semalam, perutku memang sudah berkurang nyerinya tapi tidak untuk mualnya karena pagi ini aku juga merasakan mual-mual padahal aku belum makan apa-apa. Aku juga belum bisa beranjak dari tempat tidur ini dan aku hanya berbaring tapi karena aku sudah tidak kuat untuk muntah akhirnya aku merangkak dari tempat tidurku sampai kamar mandi sampai wastafel tapi entah kenapa aku bisa jadi jatuh saat berdiri memuntahkan semuanya, kurasakan nyeri yang hebat di daerah perutku dan sepertinya aku merasakan ada cairan yang keluar dari bawah sana tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya gelap yang bisa aku lihat karena suarapun tidak ada yang aku dengar.
'Tuhan tolong selamatkan janinku, semoga janinku baik-baik saja. Aku mohon Tuhan..'
Rumah sakit
Aku perlahan membuka mataku tapi yang terakhir aku ingat aku berada di wastafel rumah tapi sekarang kenapa aku ada di rumah sakit ini? aku bingung dan mencoba untuk melihat sekelilingku tapi aku tidak bisa karena semua badanku terasa sakit dan infuspun masih menancap di punggung tanganku.
—o0o—
~Yunho POV~
Setelah memeriksa pasien aku hendak menemui istriku di ruangannya tapi tiba-tiba ada panggilan darurat yang mengharuskanku untuk menangani pasien tersebut malam ini. Setelah aku menangani pasien tersebut aku melihat jam tanganku dan ternyata ini sudah hampir jam 11 dan aku belum melihatnya setelah kejadian siang tadi. Aku melangkahkan kakiku ke ruangan rawatnya dengan harapan dia bisa tersenyum dan memahami semua yang aku ungkapkan tadi tapi sampai di sana aku malah dibuatnya terkejut. Dia sudah tidak ada di kamarnya dan itu membuatku cemas, barang-barangnya pun sudah tidak ada. Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak bisa sedangkan aku mencoba untuk menelepon rumah tapi tidak ada juga yang mengangkat dan itu membuatku semakin khawatir. Aku langsung melajukan mobilku ke rumahnya yang dulu tapi aku mencoba masuk tapi tidak bisa karena paswordnya sudah diganti dan aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku mencoba untuk mengedor-gedor lagi pintunya tapi tetap saja tidak di buka. Akhirnya aku putuskan untuk kembali kerumah sakit dulu dan membiarkannya untuk menenangkan terlebih dahulu dan aku akan kembali lagi esok hari. Aku kembali ke rumah sakit dengan gontai dan perasaan khawatir, akupun mengemudikan mobilku dengan ugal-ugalan di jalan karena tidak bisa konsentrasi.
Pagi
Semalaman aku sudah tidak bisa tidur karena terus mengkhawatirkannya, perasaanku benar-benar tak karuan. Aku melajukan mobilku ke apartementnya dan ku masukkan password baru yang ku dapat dari Junsu semalam dan titt .. titt .. titt .. pintunya terbuka. Aku masuk kerumah itu dan mencarinya ke seluruh ruang. Aku melihat tasnya dan beberapa pakaian yang masih diletakkan di atas meja, tidak seperti Jaejoong saja yang sembarangan menaruh barang-barangnya. Aku langsung menuju kamar tapi aku tak melihat ada satu orangpun tapi kenapa aku mendengar suara air menyala? Aku langsung kearah suara tersebut dan tak kusangka aku melihat kejadian yang sangat tidak ingin aku lihat.
"Yeobo, yeobo bangunlah. Yeobo bangunlah yeobo." Panggilku tapi dia tak kunjung sadarkan diri. Aku langsung mengangkatnya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit, pikiranku kini kacau aku tidak mau terjadi sesuatu dengan mereka, ini semua pasti kesalahanku. Sampai di rumah sakit aku membawanya ke UGD disana sudah ada Junsu yang tadi sepat aku hubungi. Kondisinya saat ini benar-benar sangat lemah dan dia sempat mengalami pendarahan juga. Setelah aku melakukan tindakan aku langsung memindahkannya ke ruangan inapnya dan kini aku pindahkan ke ruangan yang dekat dengan ruangan kerjaku agar aku bisa terus memantaunya.
Orang tuaku segera datang ke rumah sakit setelah mendengar kalau Jaejoong masuk rumah sakit karena pendarahan, mereka semua kaget dan segera ke sini. Appaku langsung memintaku untuk mengabil cuti sampai istriku itu benar-benar pulih dan pulang dari rumah sakit. Aku menerima saran appaku itu dan segera mengurusnya agar aku konsentrasi hanya mengurus istriku saja.
"Yeobo-ya, kau sudah bangun? Apa yang kau rasakan sekarang?" tanyaku pelan saat dia mulai membuka mata.
"Dimana aku sekarang? Kenapa aku di infus lagi? Bukankah aku ada di rumahku tadi?" tanyanya saat dia bangun.
"Tadi pagi kamu pendarahan dan aku membawamu ke rumah sakit. Apa yang kau rasakan sekarang? Apa masih ada yang sakit?" tanyaku pelan.
"Eoh, anieo, nan gwenchanayo. Oppa tidak keliling? Ini kan waktunya oppa memeriksa pasien oppa." Katanya saat mencoba untuk duduk dan aku membantunya duduk.
"Anni, oppa sementara waktu mengambil cuti sampai kamu sembuh." Jelasku padanya.
"Andweyo oppa, nan jongmal gwenchanayo, oppa tak perlu sampai mengambil cuti hanya untuk menjagaku nan jongmal jongmal gwenchana." Sahutnya dan itu membuatku sangat merasa bersalah.
"Chagi-ya. Neo gwenchanayo? Eodi apho?" tanya eommaku yang baru datang setelah mengambil beberapa pakaian dari rumahku.
"Mianhae eomma, aku tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk eomma." Katanya dengan memaksakan senyuman.
"Mwo? Anieo, kamu menantu kami yang sangat baik dan kebanggaan kami, terimakasih telah menjadi eomma dari calon cucu-cucu eomma, kamu telah menjaganya dengan baik." Kata eommaku dan ku lihat Jaejoong masih diam dan mencoba menahan tangisnya.
"Chagi, eomma sama appa hanya sebentar di sini soalnya eomma harus menemani appamu ke pertemuan kepala rumah sakit di Jeju, tapi nanti eomma akan kembali lagi."
"Mian eomma sudah merepotkan eomma," katanya lagi dan eomma hanya mengangguk sambil tersenyum dan memeluk Jaejoong.
"Bersabarlah dengan sikap istrimu, ingat dia sedang hamil dan butuh lebih perhatian darimu. Jangan banyak membebankan pikirannya itu tidak baik bagi keduanya." Kata appaku saat menpuk tanganku sambil tersenyum.
"Kami pergi dulu, kalian baik-baik ya? Terutama kamu chagi." Kata appaku kepada aku dan Jaejoong dan mereka pergi keluar dari ruangan kami.
Sekarang hanya tinggal kami berdua saja yang ada di sini dalam keheningan, dia tidak mau berbicara sedikitpun dan hanya melihat kearah jendela. Aku melangkahh kearahnya dan membawakan nampan yang berisi makan malamnya yang belum ia sentuh karena dia baru bangun. Aku duduk di pinggiran ranjangnya dan menaruh makanannya di meja makan untuk pasien itu.
"Yeobo kamu makan dulu ne? dari kemarin kamu belum makan kan?" bujukku tapi dia menggeleng tidak mau. Aku tidak mungkin membiarkannya untuk tidak makan apapun karena kondisinya masih sangat lemah. "Kalau kamu mau makan dan kondisi kamu sudah baik besok kita akan pulang." Bujukku lagi dan semoga ini berhasil.
"Jongmalyo?" tanyanya meyakinkanku dan ku rasa cara ini memang berhasil, aku mengangguk untuk mengiyakannya.
"Kajja, buka mulutmu," kata ku sambil menyuapkannya bubur itu ke dalam mulutnya tapi dia langsung mengambil sendok itu dari tanganku.
"Gwenchana, aku bisa makan sendiri." Katanya datar dan dia mulai menyuapkan makanan itu kemulut.
Baru beberapa suap makanan yang masuk dia tiba-tiba langsung membekap mulutnya segera berlari ke kamar mandi, aku membantunya memijit tengkuknya dan aku mengambilkannya air hangat dan setelah itu aku membantunya berbaring.
"Apa masih mual?" tanyaku dan dia hanya menggeleng, aku yakin dia masih merasa mual tapi dia tidak mau bilang, saat aku mau melakukan kebiasaanku saat dia mual atau sakit dia menolaknya.
"Nanen gwenchana, aku mau istirahat saja." Katanya dan menghadap kearah yang berlawanan denganku meskipun begitu aku masih bisa tahu kalau tangannya sedari tadi membekap mulutnya terus mencoba untuk tidak muntah lagi. Aku tahu dia pasti marah denganku dengan kejadian kemarin siang dan mungkin aku memang sudah keterlaluan dengannya sampai dia lebih memilih merasakan mual dan sakit dari pada aku yang membantunya mengurangi rasa itu.
siang
"Oppa, bukankah kemarin kamu berjanji kita akan pulang hari ini?" tanya padaku, aku sebenarnya belum mengijinkannya pulang tapi harus bagaimana lagi kalu sudah seperti ini.
"Hmm, baiklah kita pulang hari ini, kamu tunggu di sini dulu biar aku ambil vitaminmu dulu," kataku dan langsung pergi keluar kamar itu dan mengambil vitaminnya di apotik. Setelah kembali dari apotik aku langsung menghampirinya di kamar dan dia sudah menyiapkan semuanya tanpa minta bantuan padaku. Di dalam mobil ketika di perjalanan pulang kami hanya diam tanpa ada yang membuka suara.
"Apa kamu sedang menginginkan sesuatu? Malhebwa?" kataku memecah keheningan mala mini di dalam mobil tapi dia hanya menggeleng. "Tidak baik menahan keinginan di saat sedang hamil itu bisa mempengaruhi kondisi janinnya." Kataku lagi mencoba membujuknya.
"Ehmm .. i..itu.. mmm…"
"Katakan saja,"
"ak..aku ingin makan jja.. jja.. jjajangmyeon." Katnya pelan sambil menunduk dan mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Arraseo, kajja. Kita akan mampir makan jjajangmyeon dulu di kedai langgananku." Ajakku dan segera menuju ke kedai tersebut sebelum pulang kerumah.
Sampai disana kami memesan 2 jjajangmyeon, 1 ice cream dan 1 puding. Aku melihat nafsu makan istriku ini sangat besar tapi itu tak masalah bagiku yang terpenting saat ini adalah kondisi anak dan istriku sehat-sehat saja.
"Kalau makan hati-hati, masa sampai belepotan kayak gini?" kataku pelan sambil mengusap sisa ice cream yang ada di sudut bibirnya dan dia hanya tersenyum sambil melanjutkan makan ice creamnya.
—o0o—
~Jaejoong POV~
home
Sampai di rumah aku langsung meletakkan semua barang-barangku dan berbaring karena memang tubuhku masih lemas dan aku juga masih merasakan nyeri. Aku melihat nampyeonku itu keluar dari kamar mandi dan berjalan ke tempat tidur kami, dia duduk di sebelahku dengan kepalanya yang di tempel di dinding. Aku masih teringat kata-katanya bahwa aku ini sangat merepotkan dan mulai saat itu aku berfikir aku harus berusaha untuk melakukan semuanya sendiri.
"Oppa, istirahatlah, dan oppa tidak perlu untuk mengambil cuti, di sana masih banyak yang membutuhkan oppa." Kataku sambil membenahi letak tidurku dan dia hanya menoleh padaku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Shireo! Oppa akan tetap mengambil cuti untuk menemanimu di rumah." Katanya sambil menatap mataku. "Sekarang kamu istirahatlah, aku akan menemanimu istirahat, jangan sampai kamu kelelahan karena kasihan uri aegy."
'Oppa, kau tahu .. tatapanmu itu membuatku merasa nyaman tapi kenapa hatiku masih belum bisa tenang?' batinku. Aku langsung memejamkan mataku dan tidur membelakanginya tapi dia tiba-tiba menarikku ke dekapannya. Aku tak bisa menolaknya karena dia terlalu kuat untuk aku lawan, aku hanya menurutinya saja dan akhirnya kami tidur bersama.
Ku buka mataku perlahan, entah kenapa aku tidak bisa tidur nyenyak, ini baru jam 4 pagi tapi aku sudah bangun dan tidak bisa tidur lagi. Aku melihat nampyeonku yang masih tidur drngan tangannya yang masih berada di atas perutku. Aku pelan-pelan memindahkan tangannya dan beranjak keluar kamar untuk memasakkan sarapan paginya. Saat sedang memasak tiba-tiba perutku terasa sakit sekali dan itu membuatku susah untuk memasak. Aku meremas kuat perutku dan menghentikan acara memasakku sebentar. Setelah mendengar panggilan Yunho oppa aku langsung melanjutkan kegiatan memasakku meskipun perutku masih nyeri karena aku tak mau mengganggunya lagi. Ku rasakan ada yang memelukku dari belakang dan aku tahu itu siapa.
"Oppa, aku sedang masak. Oppa mandi dan tunggu di meja saja dulu." Kataku pelan dan dia hanya mengeratkan pelukannya.
"Jangan mengacuhkan seperti itu," bisiknya di depan telingaku membuatku geli. "Aku tidak suka di acuhkan apalagi sama anaeku sendiri."
"Anieo oppa, aku tidak pernah mengacuhkan oppa," sangkalku padanya. "Oppa tunggulah di sana saja." Kataku sambil melepas pelukannya dan dia langsung berjalan kembali ke kamar dengan wajah kesal akibat tolakanku.
Ku lihat Yunho oppa sudah menunggu di ruang TV tapi dia sudah mandi kali ini, aku menghampirinya setelah aku selesai memasak dan menatanya di meja makan.
"Oppa, makanlah dulu, sarapan sudah siap." Ajakku pada nampyeonku itu dan dia langsung berjalan kearah meja makan. Kami hanya makan dalam diam tapi tiba-tiba suara telepon rumah berdering, aku hendak mengangkatnya tapi dia melarangku mengangkatnya.
"Kamu makan saja, aku yang akan mengangkatnya." Katanya sambil berjalan kearah telepon yang ada di ruang TV tersebut.
"Appa menyuruh kita kerumah siang ini sebelum appa dan eomma pergi ke Canada untuk pertemuan pemilik rumah sakit." Katanya setelah kembali dari mengangkat telepon tadi. Aku hanya mengangguk saja dan melanjutkan makanku.
—o0o—
~Yunho POV~
Setelah sarapan pagi aku menunggu anaeku yang sedang berganti pakaian di kamar karena pagi ni kami harus ke rumah orang tuaku katanya ada yang ingin dibicarakan denganku. Setelah anaeku siap kami langsung berangkat.
"Oppa, kajja." Ajaknya, aku melihatnya yang turun dari tangga dengan baju hamilnya yang besar sangat cantik bahkan tambah cantik dan menggoda meskipun sedang hamil besar. Aku menggandeng tangannya keluar rumah, kami menepuh hanya 30 menit saja untuk kerumah orang tuaku. Sampai di sana aku langsung masuk dan mencari orang tuaku. Sampai di ruang tamu aku kaget melihat Yoochun hyung dan Junsu yang sudah duduk di sana.
"Hyung, kenapa ke sini?" tanyaku bingung.
"Duduk dulu, apa kamu nggak kasihan sama istrimu yang sedang hamil besar?" tanya appaku yang muncul dari belakangku dan aku langsung membantu Jaejoong duduk karena dia sedikit kesulitan duduknya semenjak perutnya semakin besar.
"Sebenarnya ada apa ini appa?" tanyaku masih bingung.
"Appa akan mendelegasikan kau, Yoochun dan Junsu ke Jepang selama 2 minggu untuk memantau rumah sakit cabang kita yang ada di sana dan .."
"Changkamanyo appa, aku nggak mungkin pergi karena kondisi Jaejoong yang belum pulih, aku nggak mau meninggalkannya." Tolakku langsung memotong perkataan appaku.
"Oppa gwenchanayo, oppa pergi saja, aku bisa di rumah sendiri kok." Kata Jaejoong padaku.
"Shiero!" tolakku.
"Oppa," bujuknya lagi sambil mengguncang-guncangkan tanganku tapi aku tetap menggeleng tidak setuju dan sekilas aku melihat appa dan orang-oarang disana terkekeh melihat kami.
"Makanya dengerin appa sampai selesai. Appa juga tidak mau menantu dan calon cucu kesayangan appa hanya sendirian saja di rumah. Appa juga menyuruhmu untuk mengajak anaemu itu kesana sekalian kamu mengajak anaemu itu jalan-jalan agar kondisinya cepat pulih." Kata appaku dan aku langsung mengangguk senang.
"Animida appa, aku di rumah saja." Tolaknya dan aku hanya menatapnya kesal dengan tolakannya itu.
"Jaejoong, bukannya kamu dulu pernah ingin ke Tokyo tower kalau kamu ke Jepang? Kenapa kamu menolaknya? Kita kan sekalian jalan-jalan. Apa kamu tega membiarkanku sendirian dengan dua orang lelaki?" Bujuk Junsu pada Jaejoong dan dia hanya menganguk setuju dan aku langsung menatap Junsu mengucapkan terimakasih dengan menggunakan bahasa tubuh saja dan dia membalasnya dengan senyuman.
"Baiklah kalau semua setuju, kalian akan berangkat besok lusa jadi persiapkan diri kalaian, nanti kalian akan tinggal di appartement appa dulu saat appa dan eomma kesana. Nanti appa akan menghubungi pelayan yang ada di sana." Tabah appaku.
"Oppa, aku kebelakang dulu membantu eomma," kata Jaejoong sebelum meninggalkanku di ruang keluarga bersama Yoochun hyung dan appa karena Junsu juga ikut ke belakang dengan Jaejoong dan eomma.
"Jangan terlalu lelah, tidak baik untuk kondisimu dan aegy." Kataku dan dia hanya tersenyum padaku saja.
Setelah dari rumah eomma kami pulang dan Jaejoong langsung mempersiapkan semuanya bahkan dengan sangat rapih padahal aku lihat dia sangat kelelahan saat membantu eomma tadi.
"Istirahatlah, ini nanti saja." Kataku pelan sambil melingkarkan tanganku ke pingganggnya.
"Sebentar oppa, ini juga mau selesai, oppa jangan khawatir, aku tidak merasa lelah. Oppa istirahat duluan saja kalau sudah selesai nanti akan aku segera menyusul oppa untuk istirahat." Sahutnya sambil mengecupkan sebuah kecupan singkat di bibirku. Akhirnya aku pergi ke kamarku untuk mandi dan bersiap-siap tidur. Setelah sekitar 30 menit aku mandi, aku melihatnya datang menghampiriku dan membawakan piamaku, setelah selesai berganti baju aku segera menghempirinya dan merebahkan tubuhku di kasur kami dan disampingnya.
Lusa (hari-H)
Hari ini kami berangkat ke Jepang untuk melihat cabang yang ada di sana bersama Yoochun hyung, Junsu dan tentu saja anaeku. Kami segera nai ke pesawat karena sebentar lagi pesawatnya akan take off dan kami harus segera naik, aku dan istriku duduk di sayap kanan sedangkan Yoochun hyung duduk di sayap kiri dengan Junsu. Saat pesawat hendak terbang aku menggenggam erat tangan Jaejoong karena aku khawatir kalau dia mengalami kontraksi saat di pesawat. Saat pesawat sudah di atas aku merasakan Jaejoong yang mulai mencengkram tanganku kuat, aku menghadapkan wajahku tepat dihadapannya dan tanganku yang satu aku gunakan untuk mengelus pelan perut anaeku itu dan dia sudah sedikit tenang. Aku terus mengelus perutnya sampai dia tertidur dan meletakkan kepalanya dibahuku.
"Ada apa? Gwenchana?" tanya Yoochun hyung khawatir melihat Jaejoong yang tertidur di bahuku dan aku hanya memberikan isyarat kalau dia sudah tidak apa-apa. Setelah itu Yoochun hyung dan Junsu kembali tidur dan aku juga ikut tertidur setelah mengecup dahi anaeku sebentar.
Setelah penerbangan yang memakan waktu 3 jam ini akhirnya kami sampai ke bandara Haneda di Tokyo, aku langsung membangunkan anaeku pelan yang masih tertidur setelah bangun kami turun dari pesawat dan segera mencari taxi agar kami bisa langsung ke apartement dan istirahat. Sampai di apartemen yang appaku sebutkan kami langsung masuk dan di dalamnya ada 3 kamar tapi yang satu kamar belum sempat dibersihkan jadi kami tidur berpasangan tapi itu tak masalah bagi kami berempat. Aku mengeluarkan barang-barang bawaan kami dari bagasi taxi tersebut ke dalam rumah tapi tiba-tiba ada yang mengambil barang bawaan kami.
"Kamu pindahkan istrimu dulu sepertinya dia sudah kelelahan, kasihan dia kan sedang hamil sekarang." Kata Yoochun hyung padaku dan aku langsung masuk ke dalam rumah dan di sana aku melihat istriku yang tertidur di sofa kamar tamu. Aku menghampirinya dan menyingkarkan anak rambutnya, dia sedikit menggeliat tapi tidak bangun mungkin benar dia pasti sangat kelelahan. Aku menggendongnya dan memindahkannya ke kamar kami biar bisa lebih nyenyak dan nyaman tidurnya. Setelah membaringkannya aku kembali keluar dan melanjutkan untuk beres-beres pakaian kami masing-masing. Setelah selesai beres-beres aku dan yang lainnya pergi ke kamar kami masing-masing untuk beristirahat.
—o0o—
