~Jaejoong POV~
Aku menggeliat membuka mataku dan aku menemukan nampyeonku yang masih tertidur di sebelahku, aku melihat jam yang ada di sampingku dan aku melihat ini sudah jam 7.30 malam pantas saja perutku sudah minta di isi, aku sudah terlalu lama tidur ternyata. Aku bangkit dari tidurku dan hendak turun dari kasurku untuk menyiapkan makan malam tapi tiba-tiba ada yang menarik tanganku.
"Mau kemana? Di sini saja." Katanya masih sambil memejamkan mata sambil mengunci tubuhku.
"Oppa, kami lapar. Aku mau membuat makanan untuk kita semua." Kataku dan dia tak kunjung juga melepaskan pelukannya.
"Andwee! Kau istirahat saja nanti kita makan malam diluar bersama-sama. Di sini kamu jangan pernah masak, arraseo?" katanya padaku dan aku hanya mengangguk menyetujuinya.
"Oppa, tapi aku sangat lapar sekarang, aegy juga butuh makan sekarang." Rengekku dan membuatnya langsung bangun sempurna dan menjajarkan kepalanya pada perutku.
"Ne, kalau gitu ayo siap-siap kita akan pergi makan sekarang. Aegy-ah kau sangat manja yah? Atau hanya eomamu saja yang ingin di manjakan appa eohh?" Setelah kami siap-siap kami segera pergi ke restaurant bersama dan makan malam bersama.
Restaurant
Kami berempat duduk di meja dekat taman bunga yang indah jadi kami bisa melihatnya dari tempat ini, ternyata Yunho oppa sudah menyiapkan semuanya. Kami menunggu pesanan kami yang belum datang juga padahal aku sudah lapar. Tapi tiba-tiba perutku mual lagi saat menunggu pesanan kami, aku langsung membekap mulutku.
"Waegurae yeobo? Apa kau mual lagi? Apa ada yang sakit?" tanya cemas dan aku hanya menggeleng dan terus berlari menuju toilet. Sampai di toilet aku memutahkan semua isi perutku tapi seperti biasa yang keluar hanya cairan biasa saja.
Setelah selesai aku keluar dari toilet dan di sana sudah ada Yunho oppa yang menungguku dan kulihat kekhawatiran dari wajanhnya.
"Gwenchana?" tanya Yunho oppa padaku dan aku hanya memberikan senyuman kecilku dan mengangguk pelan, Yunho oppa kemudian membantuku kembali kemeja makan. Saat di restaurant aku nggak sengaja menabrak seorang namja tinggi putih.
"I'm sorry," kataku pelan karena tak sengaja menabraknya sambil membungkuk sedikit dengan bahasa inggris karena aku memang tidak terlalu paham dengan bahasa Jepang.
"Don't worry miss," katanya. "Jaejoong?" panggilnya saat aku menengadahkan kepalaku. "Apa kau masih ingat denganku?" tanyanya lagi. Aku mencoba berpikir untuk mengingat siapa namja di depanku ini.
"Ryu chan.." seruku dan segera memeluknya erat. "Long time no see you, I'm so miss you. What are you doing in here?" tanyaku setelah melepaskan pelukanku. Dia adalah Ryousuke sahabatku sejak aku SMP, dulu dia dan aku tinggal di London tapi sejak kuliah kami berpisah karena aku kembali melanjutkan ke Korea karena orang tuaku sudah meninggal. Dialah temanku pertama kali saat aku masuk di SMP dulu dan kami selalu pergi bersama.
"I live in here baby, are you forget if I from Japan?" tanyanya dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum senang karena sudah lama aku tak melihatnya tapi kini aku melihatnya. "Baby, who he is? Your boyfriend?" tanyanya kemudian dan aku melihat namja di sebelahku yang mungkin sekarang sedang kesal karena tidak sengaja aku lupakan sebelum Ryu mengingatkannya.
"No, I'm not her boyfriend.." katanya dan itu membuatku membelalakkan matanya karena dia menyangkal hubungan kami. "But I'm her husband. Hello my name is Jung Yunho you can call me Yunho." Kata Yunho oppa tegas sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Aku sangat senang ternyata oppa sekarang sudah membuka hatinya untuk aku.
—o0o—
~Yunho POV~
Aku sangat kesal melihat keakraban istriku itu dengan namja itu, bahkan anaeku itu dengan senang hati memeluk namja itu di depanku tanpa menghiraukan aku kalau aku ada di sini. Spertinya mereka ulai sadar dengan kehadiranku yang sedari tadi hanya dianggap seperti kambing cengo saja.
"Baby, who he is? Your boyfriend?" tanyanya pada anaeku dan itu membuatku semakin kesal, siapa yang menyuruhnya memanggil baby pada anaeku itu.
"No, I'm not her boy friend.." kataku kesal sebelum Jaejoong menjawab pertanyaan namja gila di depanku itu. "I'm her husband." Kataku tegas sambil mengalungkan lenganku dibahunya dan ku lihat namja itu sangat terkejut dengan ucapanku.
"Really? Are you merried now? Why?" tanyanya tidak percaya dan sepertinya tidak rela dia menikah dengan namja lain.
"I'm sorry, I didn't invite you in my wedding because I don't know where your live since I leave in Korea." Kata istriku pelan sambil menunduk sedih.
"Gwenchana baby, arraseo." Katanya sambil memeluk istriku, ternyata dia bisa bahasa korea juga. Aku sangat kesal melihatnya seperti ini.
Drrrtt … drrtttt… drrrrttt…
Ada satu pesan sms yang masuk ke dalam hpku, aku melihatnya dan ini dari Yoochun hyung, pasti mereka mengkhawatirkan kami karena kami lama meninggalkannya di meja makan, aku langsung membalasnya.
"Ekhem.." aku berdehem agar mereka sadar kalau di sini masih ada aku. "Yeobo, kajja kembali ke meja, pesanan sudah datang dan kamu harus segera akan katanya lapar. Ingat ada aegy yang sedang di rahimmu." Kataku tegas agar namja itu tahu kalau wanita yang di depannya dan dipeluknya tadi sudah punya nampyeon dan sebentar lagi akan jadi eomma.
"Are you pregnant?" tanyanya dan hanya di angguki oleh istriku itu. Aku segera menggandengnya dan ingin membawanya pergi dari orang ini.
"Oppa" rengeknya tak mau aku ajak pergi tapi aku langsung memberikan tatapan untuk tidak menolakku karena ini perintah dan dia hanya diam saja dan aku tidak tega melihatnya.
"Baby, you must dinner right now ok? You not alone again, you'll have a baby so you must keep your health ok. We can meet again and now I must leave because I have meeting with my clien." Katanya masih dengan mesranya dan istriku memandangnya dengan penuh harap. "I'm promise baby, this is my number and you can call me. See you next time baby." Katanya kemudia pergi setelah mencium dahi istriku dan itu semakin membuatku kesal dan ingin marah.
"Kajja oppa," kata anaeku mengajakku kembali ke meja makan tapi aku masih kesal dan berjalan duluan ke meja makan kami.
"Oppa, tunggu aku, jangan cepat-cepat jalannya." Katanya lagi sambil berlari kecil karena mengejarku.
"Jangan berlari," kataku saat melihatnya agak kesusahan jalan.
"Habisnya oppa meninggalkanku." Katanya sambil mengkerucutkan bibirnya dan saat itu aku langsung saja menyambar bibirnya yang ranum itu.
Sampai di meja makan kami makan bersama dalam diam karena aku malas berbicara gara-gara namja tadi yang seenaknya saja memeluk dan mencium istriku. Baru beberapa suap aku mendengar Jaejoong melenguh kesakitan dan itu membuat kami menghentikan aktivitas kami.
Akhh.. Akhh.. Akhh..
"Yeobo-ya, gwenchana? Eodi appo?" tanyaku khawatir.
"Oppa, appo hikss .. appo .." katanya merintih kesakitan, aku langung memandang Yoochun hyung dan dia emberikanku isyarat untuk mengajak pulang duluan Jaejoong. Aku langsung menggendong dan membawa Jaejoong pulang ke apartement. Sepanjang perjalanan dia melenguh kesakitan terus dan itu membuatku tidak tega melihatnya, aku mengusap peluh di dahinya dan mengusap-usap perutnya. Sampai di Apartement langsung aku baringkan di tempat tidur kami, aku elepaskan mantel kami dan aku ikut naik ke kasur dan mengelus pelan perut Jaejoong sambil menciumnya. Aku mensejajarkan kepalaku dengan perut Jaejoong dan mencoba untuk bicara dengan baby kami.
"Aegy-ya, ini appa. Kamu jangan terlalu keras nendang perut eomma ne? eomma sangat kesakitan kasihan eomma. Kalau kamu menginginkan sesuatu bilang ke eomma jangan menendangnya seperti itu. Arra? Appa sayang kamu aegy-ya." Kataku pelan mencoba berbicara dengan aegyku yang masih di dalam perutnya. Kulihat dia sudah mulai tertidur tapi usapanku belum aku hentikn agar dia tidak bangun.
Setelah Jaejoong tidur aku keluar dan membicarakan hal yang harus kami lakukan besok untuk pemantauan di rumah sakit cabang itu. Aku, Yoochun hyung dan Junsu berdiskusi sambil melihat-lihat laporan yang sudah ada di ruang tamu. Ternyata di sana sangatlah kurang dari memuaskan untuk pelayanannya terutama di bagian oncology dan pediatric. Kami bertiga mengidentifikasinya sampai jam 1 pagi, Junsu sudah tidur duluan 2 jam yang lalu dan kini tinggal aku dan Yoochun hyung aja disini.
"Hais.. sudah-sudah ayo kita tidur dulu, kita bisa lanjutkan besok lagi, kasihan juga Jaejoong kamu tinggal sendirian, kalau dia mencarimu bagaimana?" kata hyungku mengajak untuk istirahat sebentar.
"Huft, aku juga lelah memeriksa semua laporan ini. Kajja hyung!" ajakku sambil berdiri dari temapt duduk kami. Aku langsung pergi kekamar dan melihat kondisi anaeku sebentar setelah itu aku membenarkan letak selimutnya dan segera berganti pakaian untuk beristirahat.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar kami, aku membuka mataku tapi aku merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutku sehingga terasa agak sulit untuk bangun apalagi perutku sudah mulai membesar. Aku menyingkirkan tangan itu pelan-pelan dan beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri.
"Oppa irreona.. ini sudah pagi, bukannya oppa akan pergi kerumah sakit untuk memantau perkembangan di sana?" kataku mengguncang-guncangkan bahunya pelan.
"Hmm.. sebentar lagi yeobo." Katanya sambil menarikku kedalam pelukannya lagi. "Kajja temani aku tidur sebentar lagi." Ajaknya.
"Shireo!" tolakku " Oppa ayo bangun, apa kamu tak merasa malu pada aegy, dia sudah bangun sejak tadi, masa oppa kalah sama aegy." Kataku sambil mengusap-usap pipinya.
"Hmm.. Jongmalyo? Aegy sudah bangun? Apa tadi dia menendang lagi?" tanyanya padaku sambil duduk bersila di kasur sambil menyentuh perutku.
"Hmmm… tadi dia sudah menendangku."
"Aegy-ah, kenapa kamu sudah bangun? Kan kasian eomma kalau kamu menendang perutnya terus. Tenanglah di dalam sana." Katanya sambil mengusap perutku.
"Kajja oppa, oppa mandi dulu akan aku siapkan pakaiannya. Kasihan Yoochun oppa dan Junsu menunggu oppa terlalu lama." Ajakku.
"Yeobo, aku tidak ikut saja ya? Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di sini, kalau kamu kenapa-napa bagaimana?" tanyanya khawatir.
"Haizzz.. tenang saja oppa, aku hari ini akan pergi dengan Ryu chan, jadi oppa jangan khawatir."
"Mwo? Andweee! Kamu tidak boleh pergi dengannya. Batalkan acara kalian dan aku akan menemanimu jalan-jalan." Katanya kaget setelah mendengar kalau aku akan pergi dengan Ryu.
"Shireo! Pokoknya aku akan tetap pergi dengan Ryu chan, oppa jangan seperti anak kecil. Pokoknya aku akan tetap pergi dengannya, sebentar lagi dia akan datang menjemputku." Kataku kesal dan turun terlebih dahulu untuk menunggu Ryu menjemputku.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Aku menuruni tangga menuju ruang tamu dengan perasaan kesal, bagaimana tidak? Anaeku dengan sukarela dan tanpa ijinku berencana untuk pergi dengan namja yang semalam kami temui di restaurant itu. Namja yang membuatku kesal dan marah, yang seenaknya memanggil baby pada anaeku. Ake melihat wajah anaeku yang sedang tersenyum sambil menunggu kedatangan namja gila itu.
"Yeobo, kkajima," bujukku setelah duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangannya. "Hari ini aku saja yang menemanimu pergi otthe?"
"Shireo! Aku sudah berjanji dengan Ryu chan oppa, oppa kan juga harus ke rumah sakit sekarang." Katanya lagi menolakku.
"Ayolah yeobo, aku tidak suka namja itu dekat-dekat denganmu apalagi dia memanggilmu baby, itu membuatku kesal yeobo."
"Oppa, dia hanya sahabatku saja oppa."
"Andwee! Kamu tidak boleh pergi!"
"Shireo! Shireo! Aku hanya mau pergi dengannya. Oppa jangan seperti itu, Ryu chan hanya sahabatku dan dia sejak dulu memang sudah memanggilku seperti itu jadi oppa jangan merajuk lagi karena aku akan tetap pergi." Katanya lagi agak ketus.
Setelah beberapa saat menunggu aku mendengar suara mobil yang datang dan ternyata itu orang yang sedang di tunggu oleh namja tersebut.
"Oppa, Ryu chan sudah datang, aku pergi dulu ya oppa?" katanya sambil berlari kearah namja gila itu setelah mendaratkan kecupan singkatnya di bibirku.
"Yakk, jangan berlari!" seruku masih sedikit kesal. Aku mengantarnya sampai luar dan aku melihatnya berpelukan dengan namja itu membua darahku mendidih. Setelah kepergiannya aku masuk ke dalam dan bersiap-siap untuk berangkat kerumah sakit bersama yang lain.
Aku dan yang lain memantau keadaan rumah sakit disini, ternyata banyak pasien yang datang dan membutuhkan pertolongan. Aku dan Junsu melihat keadaan di bagian kandungan sedangkan Yoochun hyung di pediatric. Kami memang berpencar agar bisa memantaunya dengan cepat.
Sudah hampir setengah hari kami memantau dan sekarang kami duduk di cafeteria untuk membahas sekalian makan siang tapi tiba-tiba saja perasaanku tidak enak dan aku tiba-tiba memikirkan Jaejoong dan kandungannya.
Belum habis pikiranku tentang Jaejoong kini tiba-tiba hanphoneku bordering, tidak ada nama kontak yang uncul hanya ada nomornya saja. Saat aku mengangkatnya aku sangat terkejut medengar penuturan orang diseberang sana dan itu membuatku untuk segera menuju tempat yang ia sebutkan tadi.
—o0o—
~Jaejoong POV~
Hari ini aku berencana untuk pergi dengan sahabatku Ryu, aku sudah sangat merindukannya sudah laa kami tidak bertemu. Sebenarnya Jinko oppa tidak mengijinkan tapi tetap saja aku ingin pergi, aku tak mau tinggal sendirian di apartement apalagi aku juga ingin ngobrol dengan Ryu seperti dulu.
Aku duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Ryu untuk menjemputku, disebelahku juga Yunho oppa sudah berkumpul disampingku, aku tak tega melihatnya ceberut kesal karena aku tidak menurutinya tapi aku tetap kekeuh pergi. Tak lama setelah itu terdengar suara mobil datang dan aku yakin itu pasti Ryu, aku langsung berlari ke luar ruangan menuju ke Ryu setelah berpaitan kepada yang lain.
"Oppa, aku berangkat" kataku sambil mengecup bibirnya pelan dan aku berlari keuar.
"Yeobo, jangan lari." Teriaknya saat melihatku berlari.
Hari ini Ryu mengajakku jalan-jalan ke Taman dan mengajakku untuk menemui seseorang yang penting katanya dan aku menurutinya. Kami menuju café untuk menunggu orang yang dikatakan Ryu tadi.
"Jaejoong-ah." Panggil seseorang dibelakangku, aku seperti mengenal suara itu, aku langsung membalikkan badanku kebelakang karena sudah penasaran. Setelah tahu siapa yang dibelakangku aku langsung memeluknya, senang? Itu yang saat ini aku rasakan. Aku bertemu dengan sosok orang yang penting bagi aku dan Ryu.
"Hyebin?" pekikku tak tertahankan. "Kenapa kau bisa kesini? Aku sangat merindukanmu." Kataku menghambur dipelukannya.
"Ayo, kalian duduk dulu, tidak baik kalau hanya berdiri saja." Kata Ryu menengahi kami.
"Hyebin-ya, ayo ceritakan kenapa kamu bisa disini dan Ryu kenapa bisa tahu kamu disini?" tanyaku penasaran. Hyebin langsung melihat kea rah Ryu dan itu membuatku curiga pasti banyak yang sudah tidak aku ketahui. "Yakk.. kenapa kalian saling pandang terus?"
"Hahaha, Jaejoong-ah, sebenarnya kami sedang bulan madu dan kami sudah menikah 2 bulan lalu." Kata Ryu menyahut pertanyaan ku.
"MWO?" kataku kaget. "Bukannya kamu kesini karena pkerjaan? Katanya kamu bertemu dengan klienmu?"
"Iya memang, tapi kami sekalian bekerja, lusa kami akan pindah ke seoul dan menetap disana."
"Jongmalyo?" tanyaku meyakinkan perkataannya dan mereka hanya mengangguk saja. "Kalau begitu kalian harus sering engunjungiku dan pergi bersaaku, arra?" kataku masih memeluk manja pada Hyebin.
"Ne, aku akan sering mengunjungimu. Oh .. Jaejoong-ya, kata Ryu kamu sedang hamil?"
"Ne, aku sedang hamil dan sekarang kandunganku sudah berusia 5 bulan."
"Kapan kamu mengenalkan suamimu itu?" tanya Jaejoong padaku.
"Honey, sebaiknya kamu tidak bertemu dengannya," kata Ryu chan dan itu membuatku mendelik kearahnya.
"Wae?" tanya kami serentak.
"Hahaha, kau tahu honey, suaminya itu pecemburu sekali, kemarin saat aku bertemu dengan Jaejoong seakan udara di sana itu panas sekali apalagi saat Jaejoong memelukku dan aku memanggilnya baby seperti dulu, dia seakan mau menelanku hidup-hidup untung saja aku harus segera menemui klienku, kalau tidak aku pastikan kalau kau sudah kehilangan suami tampanmu ini." Tuturnya dan sontak membuat Hyebin tertawa terbahak-bahak.
"Ryu chan, itu kan karena oppa sayang sama aku." Belaku.
"hahaha, Ryu, kamu jahat sekali masih memanggilnya baby dihadapan suaminya. Aku ingin sekali melihat wajah suamimu itu baby." Timpalnya.
Kami mengobrol sangat lama di café ini sambil menikmati makanan yang ada disini, kami melepas rindu setelah tidak bertemu lama dan banyak cerita yang tidak aku ketahui. Aku memegang erat tangan Hyebin saat aku merasakan ada sesuatu yang menendang keras di perutku.
"Baby, kenapa?" tanya Hyebin khawatir dan Ryu pun langsung mendekat juga kearahku ikut khawatir.
"Sa…sakitt..per..perutku sa..sakitt".
"Ryu, tolong mintakan air hangat dan hubungi suami Jaejoong sekarang juga," kata Hyebin dan dia langsung menyuruh apa yang diminta Hyebin. Setelah beberapa menit aku melihat orang yang sangat aku rindukan datang dengan perasaan khawatir meskipun aku sudah sedikit enakan.
"Yeobo, waegurae?" tanyanya padaku.
"Oppa, dia menendang keras terus, appo oppa, appo," rintihku dan dia langsung menghadap keperutku dan mengelus perutku pelan.
"Anakku sayang, ini appa, appa yeogiso. Tenanglah di dalam sayang, appa sudah disini di sampingmu dan eommamu, kau jangan khwatir lagi, appa akan menjagamu. Sekarang tenanglah sayang," katanya masih dengan mengelus perutku pelan.
"Bagaimana? Apa sudah enakan?" tanyanya padaku dan aku hanya mengangguk. "Yakk! Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanyanya kesal pada Ryu yang sudah bisa diluapkan kekesalannya sejak tadi.
"Anieo hyung, aku tak melakukan apa-apa pada baby," kata Ryu dan itu membuatku, Hyebin, Junsu dan Yoochun oppa menahan tawa.
"Kenapa kamu sering sekali memanggilnya baby?"
"Hyung, i..itu.. Yakk kalian berdua bantuin aku!" teriaknya pada kami berdua.
"Yakk! Siapa yang menyuruhmu membentak istriku?" kata nampyeonku kesal melihatku di teriyaki oleh Ryu chan padahal itu sudah kebiasaan kami bertiga dari dulu.
"Oppa, sudahlah jangan marah-marah seperti itu, kamu mau anakmu ini tuli sebelum lahir gara-gara mendengarmu marah-marah?" dia hanya menggeleng-geleng dan tetap menatap tajam Ryu.
"Sudahlah Yunho, dengarkan dulu apa yang mau dikatakan Ryu, kalian belum berkenalan secara resmi kan?" kata Yoochun oppa menengahinya sabil terkekeh keil.
"Iya hyung, dengerin aku dulu bahkan kita belum berkenalan hyung sudah marah-marah." Katanya sambil mendekat ke arah Yunho oppa. "Hyung jangan cemburu dulu, dengerin aku dulu."
"Mwo? Cemburu? Siapa yang cemburu?" elak Yunho oppa dan itu membuat kami semakin ingin tertawa.
Hahahaha … tawa mereka semua.
"Hyung pasti sudah tahu namaku kan? Tapi hyung belum tahu statusku dan hubunganku dengan baby kan? Aku sudah menikah hyung dengan yeoja yang berada disebelah Junsu-ssi."
"Mwoo? Kalian sudah saling kenal?"
"Oppa dengerin dulu kata-kata Ryu chan," sela Junsu tiba-tiba.
"Ne, kami sudah saling kenal ketika aku mengantar istriku ke rumah sakit untuk mengurus surat kepindahannya ke seoul, ini istriku namanya Hyebin, Kang Hyebin. Aku dan Hyebin selalu memanggil istrimu itu dengan baby dan itu susah untuk dihilangkan."
"Annyeonghaseyo, jonaen Kang Hyebin imnida, bangapshemida." Kata Hyebin memperkenalkan diri.
"Oppa, dia juga seorang dokter bagian oncology dan dia akan pindah ke rumah sakit appa lusa dan sekarang mereka sedang bulan madu sekalian mengurus kepindahannya." Jelasku pada Yunho oppa.
"Mianhae aku sudah salah paham." Sesal Yunho oppa.
"Gwenchana hyung, aku paham kalau hyung cemburu melihat baby dekat denganku karena aku memang tampan." Goda Ryu dan sontak membuat kami semua tertawa beda denga Yunho oppa yang malu karena dikerjai oleh Ryu.
"MWO? Aku tidak cemburu. Cihh? Tampan? Aku lebih tampan darimu." Balas Yunho oppa masih sambil mengelus perutku pelan.
Dan disini kami bercanda tawa bahagia, menumbuhkan persahabatan yang luas dengan gelak tawa bahagia di lengkapi dengan Yunho oppa yang selalu di goda oleh Ryu chan seua tertawa lepas bahagia.
—o0o—
